Anda di halaman 1dari 6

LOGBOOK RUANG PBRT

DISUSUN OLEH:

CAHYA TRI UTAMI

P1337420919052

Disahkan Oleh

Pembimbing Klinik

( Nur Hidayah, Skep., Ns)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2019
Senin, 30 Desember 2019 09.00

Pada hari ini saya memulai stase keperawatan anak di Ruang PBRT RSUP dr. Kariadi
Semarang. Ruang PBRT merupakan ruang bayi beresiko tinggi dan saya berjaga di Tim C
atau ruang bayi dengan infeksi. Saya melakukan observasi pada bayi Ny. A akan dilakukan
pemeriksaan kultur. Pemeriksaan kultur dilakukan pada tangan kanan dan kiri menggunakan
botol kultur dengan contoh sampel darah 1-3 cc. Pengambilan darah dilakukan menggunakan
needle wings yang disambungkan dengan spuit.
Dalam pengambilan darah menggunakan injeksi needle wings alat yang dibutuhkan
yaitu :
1. Wing needles no 23
2. Spuit 3 cc
3. Alkohol Swab
4. Hepafix
5. Tabung lab kultur untuk pediatrik
Langkah yang dilakukan yaitu :
6. Mempersiapkan alat wing needles yang telah disambungkan dengan spuit 3 cc,
hepafix yang telah digunakan dan label kultur yang sudah diberi label identitas
7. Cuci tangan dan posisikan bayi dengan nyaman
8. Pilih vena yang besar, terlihat jelas dan lurus
9. Lakukan fiksasi dan bendung dengan tourniquet maupun dibantu oleh rekan
10. Injeksikan needle wings, saat terlihat darah sedikit diujung jarum lalu tarik spuit pelan
pelan hingga sampel darah terpenuhi
11. Lalu tarik needle dan tarik spuit untuk mengambil sampel darah yang ada di selang
12. Tutup bekas tusukan menggunakan alkohol swab dan hepafix
13. Posisikan bayi kembali dengan nyaman dan hangat
14. Selanjutnya masukan sampel darah ke tabung lab kultur sesuai kebutuhan.
15. Cuci tangan
Masalah yang dapat muncul yaitu pencarian vena yang sulit ditemukan yang terkadang
menyakiti bayi. Langkah yang dapat dilakukan yaitu pengalaman dan mempelajari dalam
pencarian vena bayi yang besar dan lurus. Selanjutnya tidak memakasakan saat terjadi
bengkak pada lokasi penusukan. Selain itu, masalah yang muncul yaitu dalam penarikan
jarum spuit saat pengambilan sampel darah harus hati-hati dan pelan-pelan agar mendapatkan
sampel darah yang cukup. Jika tidak pelan, maka sampel darah tidak cukup dan jarum spuit
bisa terlepas. Jika sampel darah tidak cukup maka dilakukan penusukan ulang yang dapat
menyakiti bayi. Sehingga dibutuhkan perasaan dan melihat laju sampel darah, saat lancar
maka dilakukan penarikan, jika sampel darah tidak muncul kembali maka posisikan needle
dan dilakukan pemompaan yang tidak menyakiti bayi dan tidak dilakukan terus menerus.
Pengambilan sampel darah telah dilakukan pada bayi Ny.A dengan pengambilan
sampel darah 2 kali. Pada penusukan pertama didaptkan 0.5 cc dan kedua yaitu 3 cc. Respon
klien yaitu menangis. Tidak ada masalah yang dihadapi.
Selasa, 31 Desember 2019 12.30
Pada hari ini saya melakukan observasi pada bayi Ny. I dengan diagnosa medis
BBLSR. Bayi lahir pada hari ini dan datang ke ruang BBRT dan di advicekan untuk
dilakukan pemasangan OGT (Oral Gastric Tube) karena bayi belum siap memenuhi
nutrisinya secara mandiri. Tujuan dilakukan pemasangan OGT karena untuk mengeluarkan
udara pada perut agar tidak terjasi kembung karena bayi belum siap mendapatkan nutrisi.
PROSEDUR PEMASANGAN OGT PADA NEONATUS
1. Atur pasien dengan posisi supinasi
2. Pasang handuk pada dada pasien, letakan tissue wajah
3. Pasang perlak, pengalas disamping telinga pasien
4. Bersihkan area sekitar mulut mengguanakan tissue
5. Pasang stotoskop pada telinga
6. Gunakan sarung tangan steril
7. Siapkan selang OGT no 8 karena bayi belum bisa menetek dan memenuhi nutrisinya
secara mandiri
8. Ukur panjang selang yang akan dimasukan :
Ukur jarak dari tepi mulut kedaun telinga bawah dan bawah prosesus xiphoideus sternum
9. Beri tanda pada panjang selang yang sudah diukur
10. Memasukkan selang sepanjang mulut, Jika terasa agak tertahan putarlah selang dan
jangan dipaksakan untuk masuk
11. Jangan memaksakan selang untuk masuk. Jika ada hambatan atau pasien tersedak,
sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi selang di belakang
tenggorokan/nasofaring dengan menggunakan tongue spatel dan senter
12. Periksa letak selang dengan :
a. Memasang spuit pada ujung OGT, memasang bagian diafragma stotoskop pada perut
di kuadran kiri atas pasien (lambung) kemudian suntikan 2-4 cc udara bersama
dengan auskultasi abdomen
b.Aspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung
13. Viksasi selang OGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung
14. Evaluasi setelah terpasang OGT
Masalah yang mungkin terjadi saat dilakukan pemasangan OGT adalah salah masuk ke
ruang paru-paru yang dapat menyebabkan tersedak dan terjadi sianosis hingga kematian.
Sehingga dalam melakukan pemasangan OGT dilakukan penngecekan menggunakan
stetoskop agar lebih valid. Tidak menggunakan tangan, sehingga menghindari resiko yang
dapat menciderai bayi.
Hasil yang didapatkan yaitu bayi terpasang OGT menggunakan selang no , dilakukan
fiksasi di tengah dagu klien. OGT dialirkan terbuka dan ujung OGT di beri plastik. Dalam
pemasangan tidak ada masalah dan hambatan yang ditemukan.
Rabu dan Kamis , 2-3 Januari 2019

Saya melakukan tindakan pemberian nutrisi pada klien dengan BBLSR. Diit diberikan
setiap 3 jam sekali. Pada klien saya Bayi Ny.I mendapatkan diit ASI SGM 2ccx 8. Langkah
yang dilakukan dalam pemberian nutrisi pada neonatus menggunakan OGT no. 8 yaitu :
PEMBERIAN DIET VIA OGT
1. Memasang spuit 20 cc, 30 cc, atau 50 cc pada pangkal pipa/sonde (sebelumnya pipa
dijepit dulu dengan klem)
2. Buka klem penjepit perlahan-lahan
3. Tuangkan/masukkan cairan selanjutnya secara terus menerus sebelum spuit kosong
4. Masukkan obat sebelum makanan habis (bila ada)
5. Bila makanan habis sonde dibilas dengan air matang sampai bersih kemudian sonde
diklem.
6. Tutup pangkal sonde dengan kasa steril
7. Bila sonde dipasang permanen fiksasi dengan plester
8. Bayi dirapikan dan diselimuti dengan baik
9. Evaluasi tindakan : Makanan dan minuman dapat masuk dan tidak terjadi aspirasi
Masalah yang dapat terjadi yaitu cairan susu tidak dapat turun karena terhalang oleh
udara maupun posisi yang tida pas. Sehingga langkah yang dapat dilakukan yaitu memastika
tidak ada udara dalam selang, selanjutnya pastikan posisi tegak lurus agar meningkatkan
gravitasi sehingga susu mudah turun, selain itu tutup tabung menggunakan penutup maupun
menggunakan tangan agar susu mudah turun. Selain itu perhatikan respon klien,apakah ada
aspirasi dan pastikan diit masuk semua sesuai advice.
Saya melakukan pemberian nutrisi pada bayi Ny.I pada pukul 21.00, pukul 00.00, pukul
03.00 dan pukul 06.00. Tidak terjadi muntah setelah diberikan diit pada klien.
Kamis- Jumat 2-3 Januari 2019
Saya melakukan observasi pemasangan infus pada bayi Ny. I (2) dikarenakan infus yang
diPakai terlepas. Pemasangan infus dilakukan oleh senior dengan prosedur sebagai berikut:

1. Cuci tangan
2. Dekatkan alat
3. Atur posisi pasien / berbaring
4. Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang infus dan gantungkan
pada standar infus
5. Menentukan area vena yang akan ditusuk
6. Pasang alas
7. Lakukan pembendungan
8. Pakai sarung tangan
9. Desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
10. Tusukan IV catheter no 24 ke vena dengan jarum menghadap ke jantung
11. Pastikan jarum IV masuk ke vena
12. Sambungkan jarum IV dengan selang infus
13. Lakukan fiksasi ujung jarum IV ditempat insersi
14. Tutup area insersi dengan kasa kering kemudian plester
15. Atur tetesan infus sesuai program medis
16. Lepas sarung tangan
17. Pasang label pelaksanaan tindakan yang berisi : nama pelaksana, tanggal dan jam
pelaksanaan

Masalah yang sering dihadapi dalah pencarian vena yang sulit sehingga sering
mengakibatkan bayi nyeri dan tidak nyaman. Sehingga langkah yang dilakukan yaitu,
tusukan abocath saat benar-benar mantap dengan vena yang besar dan lurus serta terlihat.
Minimalisir untuk mencoba jika tidak yakin. Hindari penusukan jika sudah bengkak. Selain
itu distraksi bayi agar nyeri berkurang dan pastikan bayi dalam posisi yang aman dan
nyaman.
Infus pada bayi Ny. I terpasang dengan fiksasi menggunakan kasa gulung di tangan kanan
dengan cairan infus d10%.
Sabtu, 4 Januari 2019
Aktivitas : Membantu melakukan personal hygiene dan timbang berat badan bayi
Refleksi :
Di Ruang PBRT RSUP Dr. Kariadi Semarang, saya membantu perawat melakukan
personal hygiene dan timbang berat badan bayi di tim A. Sebelum melakukan tindakan
tersebut, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Untuk penggantian linen yang disiapkan
adalah linen putih sebagai alas/sprei, 1 pasang nesting sebagai alas tidur bayi, underpad
sebagai pengalas nesting, 1 kain gedong bayi sebagai pelapis nesting, 1 kain lurik sebagai
pengganti bantal bayi, dan 1 box kosong untuk tempat linen kotor. Kemudian untuk personal
hygiene yang disiapkan berupa 1 pampers sesuai ukuran bayi, minyak telon bayi, tisu basah
untuk membersihkan tubuh bayi terutama pada bagian lipatan, dan plastik kuning infeksius
sebagai tempat sampah. Sedangkan untuk menimbang disiapkan alat timbangan bayi digital.
Prosedur pertama yang dilakukan adalah menggunakan APD berupa handscoon dan
apron terlebih dahulu, serta menyiapkan peralatan. Setelah itu menyiapkan bayi dengan cara
melepas sementara kabel-kabel bed side monitor dan alat yang lain sekaligus melepas
pampers kotor, pindahkan bayi ke alat timbangan bayi digital, membersihkan linen kotor dan
menggantinya dengan yang bersih. Bila hasil timbangan sudah muncul dan dicatat, tekan
tombol power, kemudian membersihkan tubuh bayi menggunakan tisu basah, mengoleskan
minyak telon pada tubuh bayi, dan memakaikan pampers yang baru. Kemudian pindahkan
bayi ke dalam inkubator semula, pasang kembali alat dan kabel-kabel bedside monitor, tutup
inkubator dan pastikan inkubator sudah terkunci. Lepas APD yang dipakai, dan siapkan untuk
bayi yang selanjutnya.
Masalah yang dapat muncul yaitu terjadinya resiko infeksi pada bayi dari bayi 1 ke
bayi yang lain. Maka untuk mencegah hal tersebut terjadi adalah penggunaan prinsip 1 APD
untuk 1 klien dan penerapan 5 momen tepat cuci tangan.