Anda di halaman 1dari 18

BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

MOMENTUM LINEAR
DAN IMPULS 6
5
BAB 6 MOMENTUM LINEAR DAN IMPULS
4
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa mampu dan kompeten mengenai:
1. Pengertian tentang Momentum.
2. Pengertian tentang Impuls.
3. Gaya Impulsif.
4. Tumbukan 1 dan 2 Dimensi.
5. Hukum Kekekalan Momentum Linear.

“Begitu kamu berhenti belajar, kamu akan mulai sekarat”


Albert Einstein

84
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

6.1 Pendahuluan
Dua hal yang telah kita pelajari dalam memecahkan persoalan dinamika yaitu
dengan konsep gaya dan konsep energi. Persoalan yang terlalu rumit jika dipecahkan
dengan konsep gaya, dapat diselesaikan lebih mudah dengan konsep energi karena kita
hanya bekerja dalam besaran-besaran skalar. Dengan konsep energi, kerugiannya yaitu
kita kehilangan informasi tentang arah. Diperkenalkanlah konsep tentang impuls
sebagai perubahan momentum karena impuls dan besaran momentum adalah besaran
vektor, maka informasi tentang arah dapat dipertahankan.
Untuk menentukan momentum total suatu benda, harus dilihat dari arah
masing-masing komponen momentumnya. Menentukan resultan
www.flaticon.com
momentum harus menggunakan konsep vektor yaitu jika searah
dijumlahkan, jika berlawanan arah menjadi selisih atau dikurangkan.
Secara matematis, momentum (tepatnya momentum linear) dapat ditulis sebagai
berikut: 𝓅⃑ = m 𝓋
⃑⃑⃑
Keterangan:
𝓅⃑ = Momentum (kg.m/s)
m = Massa (kg)
𝓋
⃑⃑⃑ = Kecepatan (m/s)
www.flaticon.com

6.2 Hukum Newton dalam Bentuk Impuls dan Momentum

Gambar 6.1 Peta Konsep Momentum Linear dan Impuls

85
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Dalam bentuk impuls dan momentum, rumusan Hukum Newton II telah


diketahui. Jika gaya diketahui sebagai fungsi waktu, dapat dituliskan dalam bentuk
integral:

atau, dapat juga dituliskan sebagai berikut:

Keterangan:

Didefinisikan besaran vektor impuls, yaitu:

Ruas kiri dikenal sebagai momentum linear, yaitu massa dikali kecepatan:

Persamaan (besaran vektor):

Ekuivalen dengan usaha sama dengan perubahan energi (besaran skalar):


Kelebihan adalah persamaan vektor, jadi memiliki arah. Dalam komponen sumbu x,y,z
adalah:

Momentum sebelum tumbukan:

Momentum sesudah tumbukan:

86
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Contoh 6.1
www.flaticon.com
Sebuah benda bermassa 10 kg mengalami percepatan 3 m/s2 akibat gaya luar
sebesar 80 N. Jika momentum awal benda 40 kg.m/s, tentukanlah:
a. Momentum setelah 2 titik;
b. Impuls gaya selama 2 detik tersebut.

Penyelesaian
Momentum benda
m = 10 kg; a = 3 m/s2 ; Po = 40 kg.m/s; P = mv; Po = mvo; vo = Po/m
vo = 40/10 = 4 m/s
www.flaticon.com

Selanjutnya, hitung kecepatan benda dalam 2 detik menggunakan rumus GLBB:


vt = vo + at
vt = 4 + 3(2)
vt = 10 m/s
Maka, momentum setelah 2 titik:
Pt = mvt
Pt = 10(10)
www.flaticon.com
Pt = 100 kg.m/s

b. Impuls gaya yang dialami benda


Diketahui: Po = 40 kg.m/s
Pt = 100 kg.m/s
I = ΔP = Pt – Po
I = 100 – 40
I = 60 kg.m/s
6.3 Gaya Impulsif
Gaya yang bekerja pada benda dalam selang waktu yang sangat
singkat. Secara matematis, impuls merupakan hasil kali gaya dengan
www.flaticon.com
selang waktu.

87
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Contoh 6.2
Bola softball dilempar dengan kecepatan u = 10 ms-1 dalam arah sumbu
x. Setelah dipukul oleh gaya F, bola berbelok arah pada arah sumbu y dengan
www.flaticon.com kecepatan ν = 10 ms-1. Jika massa bola m = 200 g dan waktu tumbukan antara
pemukul dan bola Δt = 0,1 detik, bersifat lenting sempurna. Tentukan arah
dan besar F!
Penyelesaian
Berdasarkan rumus berikut:

www.flaticon.com

benda berbelok arah setelah dipukul, dalam arah dua dimensi:

Arah komponen x,

sesudah
dipukul

Sebelum dipukul

F
Arah komponen y,

Gambar 6.2 Bola sebelum dan sesudah


dipukul dalam arah dua dimensi

Sehingga, diperoleh rumusan berikut ini:

88
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Besar F adalah:

Sudut antara sumbu x+ dan F adalah:

Gambar 6.3 Sudut yang dibentuk


gaya F terhadap sumbu x Positf

6.4 Hukum Kekebalan Momentum Linear


Konsep kekekalan momentum sangat penting pada keadaan tertentu karena
momentum merupakan besaran yang kekal. Pada pertengahan abad ke-17, tidak lama
sebelum masa Newton, telah diketahui bahwa jumlah vektor momentum dari dua benda
yang bertumbukkan tetap konstan. Jika tidak ada gaya eksternal (luar) atau resultan
gaya luar sama dengan nol, 𝐹⃑ℓ = 0, maka:

Jadi, momentum total sistem tetap, dikenal sebagai Hukum Kekekalan


Momentum Linear, atau jumlah momentum sebelum tumbukan sama dengan jumlah
momentum sesudah tumbukan.

6.5 Tumbukan
Dalam setiap proses tumbukan, selalu berlaku Hukum Kekekalan Momentum
karena gaya-gaya yang bekerja bersifat implusif dan jauh lebih besar daripada gaya-
gaya luar. Jika dua buah benda (atau lebih) bertumbukkan, dikenal 3 jenis tum-bukan,
yakni:
6.5.1 Tumbukan Lenting Sempurna (e = 1)
Tumbukan lenting sempurna (elastik) terjadi di antara atom-atom, inti
atom, dan partikel-partikel lain yang seukuran dengan atom atau lebih kecil
www.flaticon.com

89
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

lagi. Dua buah benda dikatakan mengalami tumbukan lenting sempurna jika
pada tumbukan itu tidak terjadi kehilangan energi kinetik.
Jadi, energi kinetik total kedua benda sebelum dan sesudah tumbukan adalah
tetap. Oleh karena itu, pada tumbukan lenting sempurna berlaku Hukum Kekekalan
Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik.

Gambar 6.4 Tumbukan Lenting Sempurna antara Dua Benda

Kedua benda setelah bertumbukkan bergerak berlawanan arah memenuhi nilai


koefisien restitusi e = 1.
Jumlah momentum sesudah tumbukan:

p  m v
f f f  m1  v1   m 2 v 2
f f

Energi kinetik setelah tumbukan (Kf):


1 1
f  m1v12  m 2 v 22
2 2
Pada tumbukan lenting sempurna, jika tidak ada perubahan energi potensial (ΔU = 0),
maka energi kinetik sebelum tumbukan sama dengan energi kinetik sesudah tumbukan.

m1u1  m2u2 i  mf 1v1  m2 v2


1 2 1 2 1 2 1 2

2 2 2 2
Hukum kekekalan momentum berlaku: m1u1  m2 u2  m1v1  m2 v2

6.5.2 Tumbukan Lenting Sebagian, 0 < e < 1


Kebanyakan benda-benda yang ada di alam mengalami tumbukan
lenting sebagian, energi kinetik berkurang selama tumbukan. Oleh karena itu,
www.flaticon.com

Hukum Kekekalan Energi Mekanik tidak berlaku.


Besarnya kecepatan relatif juga berkurang dengan suatu faktor tertentu yang
disebut koefisien restitusi. Bila koefisien restitusi dinyatakan dengan huruf e, maka
derajat berkurangnya kecepatan relatif benda setelah tumbukan dirumuskan sebagai
berikut:

90
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Nilai restitusi berkisar antara 0 dan 1 (0 ≤ e ≤ 1). Untuk tumbukan lenting


sempurna, nilai e = 1. Untuk tumbukan tidak lenting, nilai e = 0, sedangkan untuk
tumbukan lenting sebagian, mempunyai nilai e antara 0 dan 1 (0 < e < 1). Misalnya,
sebuah bola tenis dilepas dari ketinggian h1 di atas lantai. Setelah menumbuk lantai
bola akan terpental setinggi h2, nilai h2 selalu lebih kecil dari h1.

Gambar 6.5 Tumbukan lenting sebagian

Coba kita perhatikan gambar diatas mengenai skema tumbukan lenting


sebagian, kecepatan bola sesaat sebelum tumbukan adalah v1 dan sesaat setelah
tumbukan v’1. Berdasarkan persamaan gerak jatuh bebas, besar kecepatan bola
memenuhi persamaan: 𝓋1 = −√2gh Untuk kecepatan lantai sebelum dan sesudah
tumbukan sama dengan nol (v2 = v’2 = 0). Jika arah ke benda diberi harga negatif, maka
akan diper-oleh persamaan 𝓋2 = √2gh1 sebagai berikut: Persamaan
di atas dapat digunakan untuk menyatakan tumbukan lenting sebagian karena h ≠ h1
6.5.3 Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali, e = 0
Pada tumbukan jenis ini, kecepatan benda-benda sesudah tumbukan
sama besar (benda yang bertumbukkan saling melekat). Misalnya, tumbukan
antara anak panah dengan sebuah target. Setelah terjadinya tumbukan, anak
panah mengeram dalam target. Secara matematis, dapat ditulis sebagai
berikut:
m1u1 + m2u2 = m1v1 + m2v2
Jika v1 = v2 = v, maka berlaku :
m1u1 + m2u2 = (m1 + m2) v

91
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

(Gambar 6.6. Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali Dua Benda)

Contoh tumbukan tidak lenting sama sekali adalah ayunan balistik.


Ayunan balistik merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk
www.flaticon.com mengukur benda yang bergerak dengan kecepatan cukup besar, misalnya
kecepatan peluru, atau peluru menembus benda seberapa jauh benda
tersebut bisa terangkat. Jika m, adalah massa peluru, dan M massa balok.
Prinsip kerja ayunan balistik berdasarkan hal-hal berikut:
1. Hukum kekekalan momentum nya adalah ;
mu1 + Mu2 = (m + M) v
mu1 + 0 = (m\ + M) v
m
𝓋 = (m+M) u1 Gambar 6.7 Skema Ayunan Balistik

m 2
Kuadratkan 𝓋 2 = ((m+M) u1 )

2. Hukum Kekekalan Energi Mekanik, adalah energi kinetik berubah menjadi energi
potensial
½ (m + M)(v)2= (m + M) gh
𝓋 2 = 2gh
Jika persamaan pertama disubstitusikan ke dalam persamaan kedua, maka
diketahui kecepat-an peluru sebelum bersarang dalam balok.

Jadi, kecepatan peluru sebelum tumbukan adalah :

Contoh 6.3
Perhatikan ilustrasi pada Gambar 6.7 diatas, peluru massa m = 10 g
ditembakan pada balok kayu yang terikat pada tali M = 5 kg. Jika ketinggian
www.flaticon.com

92
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

peluru dan balok sejauh h = 6 cm, berapakah kecepatan sesaat sebelum


peluru menembus balok? (g = 10 ms-2)
Penyelesaian
Berlaku Hukum Kekekalan Momentum:
 
 pi   p f
i f
www.flaticon.com

m u1  M u2  mv1  Mv2  m  M v 1


0
Energi kinetik berubah menjadi energi potensial:
1
m  M  v 2  m  M g h
2
v2  2 g h 2
Persamaan (1) dikuadratkan sehingga diperoleh:
mu 2  m  M 2 v 2
(mu) 2
v2 
(m  M ) 2
kemudian diperoleh:
(m u ) 2
2 gh 
(m  M ) 2
(m  M )
u  2 gh
m
(5,01) m
u  2(10)(6x10 2 )  548,8
(0,01) s

6.6 Tumbukan dalam 2 Dimensi


Jika tumbukan tumbukan benda dalam dua dimensi, terjadi dalam
suatu bidang datar(x,y), momentum diselesaikan dalam arah arah x dan
www.flaticon.com
y.

93
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Hukum Kekekalan Momentum Linear:

Jika terdapat dua benda yang bertumbukan, maka:

Penulisan dalam 2 dimensi:

𝓋
⃑⃑⃑1 = 𝓋1𝓍 𝒾̂ + 𝓋1𝓎 𝒿̂
𝓋
⃑⃑⃑2 = 𝓋2𝓍 𝒾̂ + 𝓋2𝓎 𝒿̂
Hukum kekekalan momentum dalam komponen x:
𝑚1 𝓊1𝓍 + 𝑚2 𝓊1𝓍 = 𝑚1 𝓋1𝓍 + 𝑚2 𝓋1𝓍
dan komponen y:
𝑚1 𝓊1𝓎 + 𝑚2 𝓊1𝓎 = 𝑚1 𝓋1𝓎 + 𝑚2 𝓋1𝓎
Energi kinetik sebelum tumbukan:

Perkalian titik dua buah vektor menghasilkan besaran skalar, sehingga, energi
kinetik sebelum tumbukan :

Dengan cara yang sama, energi kinetik sesudah tumbukan (Kf):

94
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Contoh 6.4
Perhatikan Gambar 6.8 dibawah ini, dimana terdapat sebuah truk m1 =
7,5 ton bergerak dengan kecepatan u1 = 5 ms-1 dalam arah sumbu x+,
www.flaticon.com bertabrakan dengan mobil m2 = 1,5 ton yang bergerak dengan kecepatan u2
= 20 ms-1 mem-bentuk sudut 30° dalam arah yang berlawanan (lihat
gambar). Jika sesudah bertabrakan kedua mobil bergerak bersama,
tentukan:

Gambar 6.8 Posisi Tampak atas Truk dan sedan sebulum tabrakan

a. Besar dan arah kecepatan kedua mobil setelah bertabrakan;


b. Sudut kedua mobil setelah berta-brakan dengan sumbu x+;
c. Energi kinetik sebelum bertabrakan (Ki);
d. Energi kinetik sesudah bertabrakan (Kf);
e. Energi yang “hilang” ΔK = Ki – Kf.
Penyelesaian
a. Dilihat dari gambar, sebelum bertabrakan, kecepatan truk (u1):

www.flaticon.com

Kecepatan mobil sedan (u2):

95
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Sesudah bertabrakan, kedua mobil bergerak bersama sesuai Hukum Kekekalan


Momentum: (v1  v2  v)

Maka, dalam komponen dalam komponen arah x,

www.flaticon.com

Dalam komponen dalam komponen arah y,

Kecepatan kedua kendaraan dalam posisi menyatu setelah bertabrakan

Besarnya adalah :

b. Sudut setelah bertabrakan dengan sumbu x positif:

c. Energi kinetik sebelum tabrakan:

d. Energi kinetik sesudah tabrakan:

www.flaticon.com

96
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

d. Energi kinetik yang hilang:

Contoh 6.5

www.flaticon.com Gambar 6.9 Tumbukan bola billiard yang


membentuk sudut, dua dimensi

Perhatikan ilustrasi pada Gambar 6.9, nampak sebuah bola billiard m


= 0,5 kg bergerak di atas bidang datar licin arah sumbu x+ dengan
kecepatan u = 10 ms-1, menumbuk bola lain identik yang diam. Jika
tumbukan bersifat lenting sempurna, bola kedua sesudah tumbukan
bergerak membentuk sudut tan  = 0,75. Tentukan dan tunjukkan:
a. Sudut yang dibentuk oleh bola pertama;
b. Besar dan arah kecepatan kedua bola;
c. Besar energi kinetik sebelum dan sesudah tumbukan.

Penyelesaian
a. Sudut yang dibentuk oleh bola pertama berlaku Hukum Kekekalan
Momentum dalam 2 dimensi dituliskan:
 
www.flaticon.com
p  p
i
i
f
f

Untuk dua benda yang bertumbukan:


   
m1u1  m2u 2  m1v1  m2 v2
atau,
m1 (u1x iˆ  u1 y ˆj )  m 2 (u ˆ ˆ
2x i  u 2 y j )
 
0 0 0

 m1 ( v1x iˆ  v1 y ˆj )  m 2 (v 2x iˆ  v2 y ˆj )

97
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Dari Gambar 6.9 diasumsikan bahwa benda kedua membentuk sudut 


terhadap sumbu x+ sehingga diperoleh tiga parameter yang belum diketahui, yaitu ,
v1, dan v2. Diperlukan tiga buah persamaan karena: m1  m2  m  0.25 kg
Persamaan dalam arah x,
u1x  v1x  v2x
10  v1 cos   v2 cos
Benda Persamaan dalam arah y,
u1 y  v1 y  v2 y
4
10  v1 cos   v2 (1)
5
www.flaticon.com
0  v1 sin   v2 sin 

Dapat dituliskan kembali:


3
0  v1 sin   v2
5
5
v2  v1 sin  (2)
3
Karena tumbukan bersifat lenting sempurna, berlaku energi kinetik sebelum tumbukan
sama dengan energi kinetik sesudah tumbukan.

Κi  Κ f
1 1 1
m1u12  m1v12  m2 v22
2 2 2

u12  v12  v22


www.flaticon.com
102  v12  v22 (3)
Dari persamaan (2),
5
v2  v1 sin 
3
Kuadratkan persamaan (1), lalu ditambah kuadrat v1:
2
5
v    v12sin 2 α  10 2
2
1 (4)
3
www.flaticon.com

98
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Dari persamaan (1), dalam arah sumbu x:


4
10  v1 cos   v2
5
45 45
 v1cos
10  v1cos α 10  (5)  v1 sinα (5)
 v1αsinα
5  3 5  3
www.flaticon.com

Kuadratkan persamaan (5):


4
10 2  ( v1cos α  v1 sin α ) 2
3
Diketahui dari persamaan (4):
 4 4
2

10 2  v12  cos2 α    2 cos α sin α    sin α 
2
 3 3
 
Dari persamaan berikut:
 2 4 4
2


10  v cos α    2 cos α sin α    sin 2 α 
2 2
 1
3 3 
 
www.flaticon.com
dan berikut:
  5 2 
10 2  v12 1    sin 2 α 
  3 
 
diperoleh:
2
5
v    v12sin 2 α  10 2
2
1
 3
2 2
5 4 4
1    sin 2 α  cos 2 α    2 cos α sin α    sin α
2

3  
3  
3

25 2 8 16
1 sin α  cos2 α    cos α sin α  sin 2 α
9   3  9
2
1sin 

25 2 9 8 16
1 sin α  1  sin 2     cos α sin α  sin 2 α
9 9  3 9
8
2 sin 2 α  cos α sin α
3
8
2sinα  cos α
3 www.flaticon.com

99
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Atau dapat dituliskan


www.flaticon.com
sin α 4
tan α  
cos α 3
Maka, diperoleh:
4 3
sin α  dan cos α 
5 5

b. Besar dan arah kecepatan bola pertama dan kedua:


Dari persamaan (2),
5
v2  v1 sin 
3
5 4
v2  v1  
3 5
4
v 2  v1 (6)
3
4
Substitusikan persamaan (6), v 2  v1 ke persamaan (1):
3
4
10  v1 cos   v 2
5
3 4 4
10  v1      v1
5 5 3
Besar kecepatan benda pertama:
v1 = 6 ms-1
Besar kecepatan benda kedua:
v 2  8 ms 1
Vektor arah kecepatan benda I:

v1  v1 cos α î  v1 sin α ĵ
 3 4
v1  6  î  6  ĵ
5 5

v1  3,6 î  4,8 ĵ
Besar kecepatan benda ke satu ; v1 = √(3,6)2 + (−4,8)2 = 6 ms −1

100
BAB 6 MOMENMTUM LINEAR DAN IMPULS

Vektor arah kecepatan benda II:


⃑⃑2 = v2 cos θ 𝒾̂ + v2 sin θ 𝒿̂
v
 4 3
v2  8   iˆ  8   ˆj
5 5

v 2  6,4 î  4,8 ĵ

Besar kecepatan benda ke dua ; v2 = √(6,4)2 + (4,8)2 = 8 ms−1

c. Besar energi kinetik sebelum(K0) dan sesudah tumbukan (Kf):


1 1 1 1
K 0 = 2 m1 u12 + 2 m2 ⏟
u22 = 2 (2) (10)2 = 25 J
=0
1 1 1 1
K f = m1 v12 + m2 v22 = ( ) [(6)2 +(8)2 ] = 25 J
www.flaticon.com 2 2 2 2
(Terbukti, Energi Kinetik sebelum tumbukan sama dengan Energi Kinetik Sesudah
Tumbukan)

101