Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan,
baik secara fisik dan mental. Sehingga, kebutuhan makanan yang
mengandung zat-zat gizi menjadi cukup besar. Peningkatan kebutuhan zat
gizi pada masa remaja berkaitan dengan percepatan pertumbuhan, dimana
zat gizi yang masuk ke dalam tubuh digunakan untuk peningkatan berat
badan dan tinggi badan yang disertai dengan meningkatnya jumlah dan
ukuran jaringan sel tubuh.1
Remaja putri termasuk golongan rawan menderita anemia, karena
remaja putri dalam masa pertumbuhan dan setiap bulan juga mengalami
menstruasi yang menyebabkan kehilangan zat besi lebih banyak
dibandingkan laki-laki. Hemoglobin (Hb) adalah parameter yang
digunakan untuk menetapkan anemia. Hemoglobin merupakan senyawa
pembawa oksigen pada sel darah merah.2
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah
hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya jumlah sel yang
dipadatkan (packed redcell volume) dalam 100 ml darah. Anemia
merupakan suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dan eritrosit lebih
rendah dari normal.3 Pada pria, hemoglobin normal adalah 14-18 gr % dan
eritrosit 4,5-5,5 jt/mm3. Sedangkan pada perempuan, hemoglobin normal
12-16 gr % dengan eritrosit 3,5-4,5 jt/mm3. Batasan usia remaja menurut
World Health Organization (WHO) adalah 12 sampai 24 tahun. Menurut
Departeman kesehatan RI (Depkes RI) adalah antara 10 sampai 19 tahun
dan belum kawin. Kadar Hb normal pada remaja putri adalah 12 gr%
sedangkan pada remaja putra 14 gr%. Anemia pada remaja adalah apabila
remaja mempunyai kadar Hb kurang dari 12% pada remaja putri dan
kurang dari 14 gr% pada remaja putra.3

1
Remaja putri merupakan kelompok yang berisiko menderita
anemia. Remaja putri adalah calon mahasiswi yang merupakan calon
pemimpin di masa datang, calon tenaga kerja yang akan menjadi tulang
punggung produktivitas nasional, serta sebagai calon ibu yang akan
melahirkan generasi penerus dan merupakan kunci perawatan anak di
masa datang. Oleh karena itu, kualitas remaja putri perlu mendapat
perhatian khusus. Remaja putri mempunyai risiko tinggi dalam menderita
anemia karena pada usia ini terjadi peningkatan kebutuhan zat besi akibat
pertumbuhan, dam menstruasi, serta seringnya remaja putri membatasi
konsumsi makan, hingga pola konsumsi yang sering menyalahi kaidah-
kaidah ilmu gizi.4
Di beberapa Negara di dunia, prevalensi anemia remaja putri
menunjukkan masalah kesehatan masyarakat, terutama negara
berkembang. Di bagian Barat Kenya, prevalensi anemia pada remaja putri
umur 12-18 tahun sebesar 21,1 % , di Morogoro Municipality, Tanzania
ditemukan prevalensi anemia pada remaja putri umur 11-17 tahun sebesar
42 %. Di India, 60-70 % remaja putri menderita anemia. Tahun 2006,
berdasarkan hasil penelitian Chang, et al, ditemukannya prevalensi anemia
pada remaja putri sebesar 28,3 %.4,5
Pada tahun 2008, berdasarkan hasil penjaringan status Hb yang
dilakukan oleh petugas Puskesmas Bogor Timur pada remaja putri kelas I
di wilayah kerja Puskesmas Bogor Timur diketahui bahwa kejadian
anemia di tingkat SMP/MTs sebesar 47,87 %. Adapun prevalensi anemia
terbesar terdapat di SMPN 18, yaitu 59,3 %. Berdasarkan kriteria WHO,
tingginya angka kejadian anemia di sekolah tersebut merupakan suatu
masalah kesehatan tingkat berat (>40 %).
Dari hasil analisis situasi tersebut, salah satu upaya perbaikan
dalam menanggulangi masalah anemia pada kehamilan yaitu
meningkatkan kepatuhan dan kedisiplinan remaja putri dalam
mengkonsumsi tablet Fe.

2
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana konsumsi tablet fe sebagai penerapan menurunkan kejadian
anemia pada remaja puteri di wilayah kerja puskesmas Suli?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsumsi tablet fe sebagai penerapan menurunkan
kejadian anemia pada remaja puteri.
1.3.2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui konsumsi tablet fe sebagai penerapan menurunkan
kejadian anemia pada remaja puteri di wilayah kerja puskesmas Suli
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan
peneliti khususnya tentang konsumsi tablet fe sebagai penerapan
menurunkan kejadian anemia pada remaja puteri di wilayah kerja
puskesmas Suli.
1.4.2. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat memberikan wawasan kepada masyarakat tentang
konsumsi tablet fe sebagai penerapan menurunkan kejadian anemia pada
remaja puteri di wilayah kerja puskesmas Suli.
1.4.3. Bagi Puskesmas Suli
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi
tenaga kesehatan di Puskesmas Suli, khususnya dalam konsumsi tablet fe
sebagai penerapan menurunkan kejadian anemia pada remaja puteri di
wilayah kerja puskesmas Suli.
1.4.4. Bagi Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku
Tengah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada Dinas
Kesehatan setempat mengenai konsumsi tablet fe sebagai penerapan

3
menurunkan kejadian anemia pada remaja puteri di wilayah kerja
puskesmas Suli
1.4.5. Bagi Penelitian Selanjutnya
Karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat menjadi referensi dan dapat
memicu penelitian lebih lanjut mengenai konsumsi tablet fe sebagai
penerapan menurunkan kejadian anemia pada remaja puteri di wilayah
kerja puskesmas Suli.

Anda mungkin juga menyukai