Anda di halaman 1dari 9

Gangguan Somatisasi

Nn. FR; 22 thn; 160cm; 56kg

OS datang dengan keluhan seluruh bagian perut terasa sakit, OS mengeluhkan sering sakit-
sakitan sudah sejak 3 tahun yang lalu. Dan keluhan ini belum menghilang sampai sekarang. OS
juga merasakan sakit perut seperti ditusuk-tusuk, perut terasa kembung, mual, dan muntah.
BAB tidak lancar. OS juga mengeluhkan sakit kepala, pegal-pegal pada badan, sakit pada bagian
mata, batuk, dan sakit tenggorokan. OS mengatakan keluhan tersebut sering muncul saat
mendekati ujian dan saat banyak tugas di kampus. Tetapi sehari-hari keluhan juga timbul.

OS mengatakan sering berobat apabila keluhannya datang. Keluhan ini muncul saat OS pertama
kali masuk kuliah dan tidak tinggal bersama orang tua.

OS menyangkal pernah mendengar suara-suara yang membisikinya dan orang lain tidak
mendengarnya. OS menyangkal pernah melihat adanya penampakan atau bayangan yang hanya
dilihat oleh OS. OS juga tidak pernah merasakan menghidu bau-bauan yang hanya dihidu oleh
dirinya sedangkan lingkungan sekitarnya tidak menghidu bau yang dikeluhkan OS. OS
mengatakan tidak merasakan halusinasi pada indera pengecapannya. OS juga mengungkapkan
tidak pernah merasakan disekujur tubuhnya seperti ada yang meraba atau merayapi.

OS tidak pernah merasa bahwa dia bukan dirinya dan tidak pernah merasa seolah-olah rumah
OS menjadi lebih besar atau lebih kecil daripada biasanya. OS menyangkal adanya rasa sedih
berlebihan, kehilangan minat, dan rasa mudah lelah. OS juga menyangkal adanya rasa gembira
berlebihan, aktivitas fisik mental yang berlebihan. OS menyangkal ada sesuatu yang masuk ke
dalam dirinya, menyangkal ada sesuatu pikiran yang masuk ke dalam kepalanya, OS menyangkal
bahwa pembawa acara televisi membicarakannya atau mengajaknya berbicara, menyangkal
merasa pikirannya ditarik keluar, dan OS juga menyangkal bahwa ada sesuatu kekuatan yang
mengendalikan ataupun mempengaruhi OS.

OS mengatakan bahwa sejak 3 tahun OS masuk perguruan tinggi dan tidak tinggal bersama
orang tua lagi, keluhan ini baru di dapat. OS pernah memeriksakan sakitnya ini ke dokter
spesialis penyakit dalam kemudian dilakukan pemeriksaan rontgen dan laboratorium dan
hasilnya masih normal. OS hanya diberikan obat dan di suruh rawat jalan. Tetapi apabila OS
hendak mendekati ujian dan praktikum, keluhan ini sering dialami OS.

OS merasa lelah untuk berobat karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh. OS meredakan


keluhannya ini dengan istirahat, tiduran, memakai selimut, dan meminum obat-obatan
penghilang rasa nyeri namun keluhannya tidak menghilang.

OS merupakan anak ke 3 dari 3 bersaudara. Saudara kandung OS masih hidup semua. OS masih
memiliki sanak saudara di Manado tetapi tidak terlalu dekat. Orang tua OS berada di Jakarta dan
jarang bertemu. OS hanya dekat dengan pacar dan teman-teman kuliahnya saja.
OS merupakan seorang mahasiswi dan belum menikah. OS tinggal di kost yang dekat dengan
kampus OS. OS saat ini belum bekerja dan mendapatkan uang bulanan dari orang tua OS. Tetapi
OS mengatakan uang yang diberikan tersebut sering kurang. Apalagi dengan kebutuhan kuliah
OS yang cukup banyak.

Aktivitas OS saat ini sudah tidak seperti dulu. OS mengatakan sering mudah lelah.

OS tidak pernah mengalami riwayat trauma sampai geger otak sehingga kemungkinan besar
tidak ada gangguan mental organik. OS bukan seorang perokok ataupun pengguna obat-obatan
terlarang (NAPZA) dan alkohol. OS mengaku dilahirkan secara normal, tanpa ada cacat bawaan.
OS pada masa kanak-kanak sampai remaja tidak mengalami gangguan perkembangan dan
pertumbuhan. OS tidak menutup diri dengan terhadap anggota keluarga dan lingkungan
sekitarnya. OS dapat bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungannya dan mempunyai banyak
teman. Penilaian terhadap waktu, tempat, dan personal baik. Selama wawancara berlangsung
OS cenderung untuk terbuka terhadap semua pertanyaan.

RPD : Tidak ada riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya, riw. Penyakit jantung,
diabetes, darah tinggi, penyakit ginjal, penyakit hati disangkal.
Riw. Kelarga : Pasien memiliki riwayat keluarga hipertensi (ayah)
Riw. Alergi : (-)
Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum : Sedang Kesadaran : Compos Mentis

Tanda-tanda vital : Tekanan darah = 110/80 mmHg ; Nadi = 80x/m ; Respirasi = 20x/m ; Sb = 36ºC

Kepala : Konjungtiva anemis -/-; Sklera Ikterik -/-

Thorax : Cor Bj I-II Reguler, Bising (-)

Pulmo : Sp. Vesikuler, Rh-/-, Wh-/-

Abdomen : Datar, lemas, BU (+) Normal, NTE (-), turgor kulit kembali normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 3 detik, edema tungkai (-)

Status Mental :

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan

• Perempuan berusia 21 tahun, penampilan pasien tampak sesuai dengan usianya, berpakaian
rapi, ekspresi tenamg, perawatan diri baik, dan warna kulit sawo matang.
2. Kesadaran umum: Compos mentis

3. Kontak psikis: dapat dilakukan pasien dan cukup wajar.

4. Perilaku dan aktivitas psikomotor

• a.cara berjalan: baik

• b. aktifitas psikomotor: pasien kooperatif, selama wawancara kontak mata baik, pasien duduk
tenang, tidak ada gerakan involunter, dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan cukup
jelas.

5. Pembicaraan

• a.kuantitas: baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dokter dan dapat mengungkapkan isi
hatinya dengan jelas.

• b. kualitas: bicara spontan, volume bicara cukup, artikulasi jelas, dan pembicaraan terarah dan
dapat dimengerti.

6. Sikap terhadap pemeriksa: pasien kooperatif

B. Keadaan Afektif

1. Mood: eutym

2. Afek: ekspresi afektif luas

3. Keserasian: mood dan afek serasi

4. Empati: pemeriksa dapat merasakan perasaan pasien saat ini.

C. Fungsi intelektual/ kognitif

Taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan.

1. Taraf pendidikan

Pasien mengaku pernah menempuh pendidikan sampai kelas 3 SMA dan sekarang sedang kuliah
di perguruan tinggi. Prestasi pasien selama menempuh pendidikan baik-baik saja.

2.Pengetahuan umum

Pengetahuan pasien baik, pasien dapat menjawab dengan tepat ketika diberikan pertanyaan
seputar presiden Indonesi saat ini dan presiden Indonesia pertama.

2. Daya konsentrasi
Daya konsentrasi baik, pasien dapat megikuti wawancara denga dengan baik dari awal sampai
akhir selesai. Pasien juga dapat menyebutkan pengurangan dengan benar. Pengurangan 100-7 yaitu 93
dan dilakukan pengurangan 7 sampai 5 kali (86,79,72, dan 65).

3. Orientasi

a. Waktu: baik, pasien dapat mengetahui tanggal saat dilakukan wawancara yaitu hari kamis
tanggal 3 april 2014. Waktu sore hari.

b. Tempat: baik. Baik mengetahui tempat dilakukan wawancara.

c. Orang: baik, pasien mengetahui pemeriksa adalah dokter muda.

d. Situasi: baik, pasien mengetahui bahwa dirinya sedang berkonsultasi dan wawancara.

5. Sikap terhadap pemeriksa

Pasien bersikap kooperatif

 B. Alam Perasaan ( Emosi )

1. Mood : Euthym

2. Afek : Luas

 C. Gangguan Persepsi

 Pasien tidak mengalami gangguan persepsi

 D. Fungsi Intelektual

1. Intelegensi dan kemampuan informasi

 Taraf pendidikan sesuai dengan tingkat pendidikan

2. Orientasi

a. Waktu : Baik

b. Tempat : Baik.

c. Orang : Baik

3. Daya ingat

Jangka panjang : Baik

Jangka sedang : Baik

Jangka pendek : Baik


Segera : Baik

4. Konsentrasi dan perhatian  Baik

E. Proses Fikir

1. Arus Fikir

a. Produktivitas: Cukup

b. Kontinuitas : Koheren

c. Hendaya Berbahasa : Tidak terganggu

2. Isi Fikir

a. Preokupasi: Tidak ada

b. Waham : Tidak ada

F. Pengendalian impuls: Baik

G. Daya nilai

1. Daya nilai sosial : Baik

2. Uji daya nilai : Baik

3. Penilaian realita : Baik

H. Tilikan

Derajat 5. pasien menyadari dirinya sakit dan gejala-gejala yang dideritanya atau
kegagalan dirinya dalam penyesuaian sosial disebabkan oleh perasaan irasionalnya atau
gangguan sendiri, tanpa menerapkan pengetahuan hal ini untuk masa yang akan dating.

I. Taraf Dapat Dipercaya

Dapat dipercaya

Tx :

Omeprazole 1x20mg

Ibuprofen 3x400mg (p.r.n)

Vit. B-Complex 2x1 tablet

KIE:
 Dianjurkan pasien untuk berobat ke dokter psikiatri

 Mengisi waktu luang dengan berbagai aktivitas untuk mengurangi


keluhan-keluhan tersebut

 Melakukan pekerjaan yang membuat hati senang agar tidak selalu


memikirkan masalah

 Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa

 Selalu menjaga kesehatan

 Edukasi terhadap keluarga supaya lebih memperhatikan kesehatan dan


keadaan pasien

ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA merupakan infeksi yang
berawal dari saluran pernapasan hidung, tenggorokan, laring, trakea, bronchi dan alveoli. Maka
pengertian ISPA dapat dikatakan sebagai penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu
bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Untuk mendapatkan pengertian ISPA secara menyeluruh dapat dilakukan dengan mengkaitkan
hal penting dari penyakit ini, yaitu infeksi akut dan saluran pernapasan. Infeksi akut yang selama
ini kita kenal adalah suatu serangan vektor penyakit (virus, bakteri, parasit, jamur, dll) selama 14
hari lebih dan jika dibiarkan dapat menjadi kronis, sedangkan saluran pernapasan seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya adalah organ-organ yang terlibat dalam pernapasan.
Penyakit ISPA sangat erat kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh seseorang. Pada sebagian
besar kasus ISPA, mereka yang terinfeksi adalah anak-anak dikarenakan sistem kekebalan tubuh
yang mereka punya menurun atau memang masih rendah dibandingkan orang dewasa, itulah
yang menyebabkan angka prevalensi dan gejala ISPA sangat tinggi bagi anak-anak dan balita.
Serangan di saluran pernapasan pada masa bayi dan anak bisa menimbulkan kecacatan hingga
dewasa. Kematian dari penyakit ISPA yang dapat ditimbulkan cukup tinggi (20-30%),
dan perlu dicatat bahwa penyakit ISPA merupakan masalah kesehatan tidak boleh diabaikan
karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang tinggi dengan rasio 1 diantara 4 bayi. Jadi
kita dapat memperkirakan episode ISPA dapat terjadi 3-6 kasus kematian setiap tahun. Angka
tersebut dibuktikan pada kunjungan pasien ke puskesmas yang cukup tinggi untuk penyakit ISPA
terutama pada usia balita.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui udara pernapasan yang mengandung kuman yang dihirup
orang sehat lewat saluran pernapasan. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin,
udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran
pernapasannya. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus,
sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
ISPA yang tidak ditangani secara lanjut apalagi dianggap sepele dapat berkembang menjadi
pneumonia (khususnya menyerang anak kecil dan balita apabila terdapat zat gizi yang kurang
dan ditambah dengan keadaan lingkungan yang tidak bersih).
Permasalahan di Keluarga Masyarakat maupun Kasus
Promosi mengenai Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak perlu
dilakukan karena :
1. Semakin tingginya jumlah penderita ISPA pada anak, dibuktikan pada kunjungan pasien
ke puskesmas yang cukup tinggi untuk penyakit ISPA terutama pada usia balita.
2. Semakin tingginya angka kematian anak dan bayi yang disebabkan karena ISPA, dengan
rasio 1 diantara 4 anak.
3. Kurangnya pemahaman orang tua mengenai ISPA, terutama mengenai bahaya dan
komplikasinya jika tidak ditatalaksana dengan baik
4. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai penularan dan factor resiko penularan
ISPA yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan dan kebersihan perseorangan (PHBS)

Tujuan penyuluhan mengenai Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak di Puskesmas adalah:
1. Tercapainya pemahaman mengenai penyebab, gejala, penatalaksanaan awal, bahaya,
komplikasi dan pencegahan ISPA sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian anak yang diakibatkan oleh ISPA
2. Terbentuknya agen kesehatan oleh para ibu yang telah mendapatkan penyuluhan
mengenai ISPA, sehingga dapat membantu menyebarluaskan informasi mengenai ISPA
kepada lingkungan sekitar terutama keluarga, sehingga membantu upaya promosi
kesehatan
3. Tercapainya lingkungan yang sehat dan tercapainya PHBS sehingga menurunkan
penularan dan faktor resiko ISPA

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi (Metode Peyuluhan, Menetapkan Prioritas


Masalah dan Intervensi)
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan mengenai kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut
yang sering diderita anak-anak, dan dalam upaya mempromosikan mengenai ISPA pada anak
termasuk untuk meningkatkan kewaspadaan para ibu, maka kami memilih “METODE
PENYULUHAN” dalam perencanaan dan pemilihan intervensi. Termasuk di dalamnya
informasi tentang penyebab ISPA, gejala ISPA, penanganan awal yang bisa dilakukan orang tua
jika anak mengalami ISPA dan upaya pencegahan ISPA. Kegiatan penyuluhan disertai dengan
sesi tanya jawab, baik oleh presentator (untuk menilai pemahaman para masyarakat pada
umumnya setelah dilaksanakannya penyuluhan) maupun oleh para ibu (untuk menanyakan hal-
hal yang dirasa belum jelas).

Pelaksanaan (Proses Intervensi)


Penyuluhan ini dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Kakaskasen, Kota
Tomohon pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 2019. Penyuluhan ini diikuti oleh masyarakat
termasuk ibu-ibu yang ada di wilayah kesehatan Puskesmas Kakaskasen.

Monitoring dan Evaluasi Termasuk di Dalamnya Pengambilan Kesimpulan


A. Kegiatan
Penyuluhan/promosi kesehatan mengenai Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Anak
B. Waktu
Rabu, 16 Oktober 2019
C. Sasaran
Masyarakat wilayah kesehatan Puskesmas Kakaskasen terutama bu-ibu yang memiliki
balita di wilayah kesehatan Puskesmas Kakaskasen
D. Monitoring
 Masyarakat terutama para ibu dapat mengerti mengenai penyebab ISPA,
gejala ISPA, dapat memberikan penatalaksanaan awal jika anak mengalami
ISPA, serta dapat mengerti bahaya dan komplikasinya
 Masyarakat terutama para ibu dapat menjelaskan mengenai penyebab ISPA,
gejala ISPA, penatalaksanaan awal ISPA dan bahaya serta komplikasi ISPA
 Masyarakat terutama para ibu dapat menggalakkan pencegahan ISPA bagi diri
sendiri, keluarga terutama anak, maupun di lingkungan sekitar
 Menurunnya jumlah kasus ISPA pada anak
E. Evaluasi
Masyarakat terutama para ibu dapat memahami mengenai penyebab, gejala,
penatalaksanaan awal, bahaya, komplikasi, pencegahan ISPA. Sebagian besar ibu yang
hadir dalam penyuluhan ini aktif dalam mengajukan pertanyaan, terutama mengenai
penatalaksanaan ISPA yang dapat dilakukan di rumah sebelum dibawa ke tenaga
kesehatan. Secara keseluruhan kegiatan penyuluhan ini berjalan dengan lancar. Namun
perlu dilakukan evaluasi berkala untuk menilai ulang pemahaman para ibu mengenai
Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Anak..

Ny. MM; 83 thn; 155cm; 48kg

Sepsis e.c pneumonia; anemia e.c chronic disease

Pasien diantar oleh keluarga dengan keluhan demam sejak 5 hari yang lalu. Pasien tirah
baring lama sejak ± 1 bulan. Nafsu makan menurun (+). Batuk berlendir sejak 2 minggu
yang lalu disertai sesak. Menurut keluarga, OS mengalami penurunan berat badan karena
nafsu makan berkurang. Keringat malam dan riwayat batuk darah disangkal.
Beberapa hari terakhir ini OS bicara tidak nyambung.
BAB/BAK dalam batas normal.
RPD : Riw.Stroke 1 thn lalu, Hipertensi (+)
Riw. Alergi : (-)

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan umum : Sedang Kesadaran : Compos Mentis

GCS : E3 M6 V4

Tanda-tanda vital : Tekanan darah = 90/60 mmHg ; Nadi = 897x/m ; Respirasi = 24x/m ; Sb = 38ºC ; SpO2
93%

Kepala : Konjungtiva anemis -/-; Sklera Ikterik -/-

Thorax : Cor Bj I-II Reguler, Bising (-)

Pulmo : Sp. Vesikuler, Rh+/+, Wh-/-


Abdomen : Datar, lemas, BU (+) Normal, NTE (-), turgor kulit kembali normal

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 3 detik, edema tungkai (-)

GDS 191mg/dl
Leukosit : 30.870
Hb : 6.9
Trombosit : 108.000
Tx :
- O2 2-4 liter/menit (kalau perlu)
- IVFD NaCL 0,9% loading 250-500cc
- Inj Ceftazidime 3x1 gr iv

KIE :
- Observasi GCS; tanda-tanda vital
- X Foto Thoraks
- Ur, Cr, Na, K, Cl, SGOT, SGPT
- EKG
- Takar Urine, balans cairan