Anda di halaman 1dari 3

Nama : Gita Nurhakiki

Kelas : Mgt2
Nim : 170304129
Mapel : Etika Bisnis

TUGAS PERTEMUAN 12

1.BERILAH CONTOH ANALISIS ETIKA BISNIS YANG TERJADI DALAM ETIKA TEKNOLOGI
INFORMASI SAT INI SERTA TULISKAN SOLUSIMU

JAWAB : Meningkatnya jumlah interaksi manusia terhadap Teknologi Informasi Dan Komunikasi
dari waktu ke waktu,maka etika sangat di butuhkan untuk dijadikan suatu peraturan dasar dalam
pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi yang juga harus di pahami oleh masyarakat
luas. Hal ini di sebabkan karena dalam pemanfatan Tegnologi Informasi Dan Komunikasi (TIK)
dalam kehidupan sehari-hari,tidak jarang kita menemukan adanya hal-hal yang melanggar
etika,hal itu dapat kita lihat dari tindakan-tindakan sebagian masyarakat yang memanfaatkan
kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi tanpa memperhatikan etika.

Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti watak , tingkah laku seseorang,
sedangkan di dalam bahasa Inggrisnya disebut Ethic merupakan sebuah prinsip benar atau salah
yang digunakan seseorang, yang bertindak sebagai pelaku moral yang bebas untuk membuat
keputusan untuk mengarahkan perilakunya.

Salah satu penyebab pentingnya etika adalah karena etika melingkupi wilayah-wilayah yang
belum tercakup dalam wilayah hukum. Faktor etika disini menyangkut identifikasi dan
penghindaran terhadap perilaku yang salah dalam penggunaan teknologi informasi.

Untuk itu etika dipandang perlu dibentuk sebagai perilaku yang mengikat oleh pengguna
teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat tentu memberikan
dampak positif dan negative bagi penggunanya.

Etika dalam teknologi informasi diperlukan tidak dapat dipisahkan dari permasalahan-
permasalahan seputar penggunaan teknologi yang meliputi kejahatan komputer, netiket, e-
commerce, pelanggaran HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelekstual) dan tanggung jawab profesi.
Faktor penyebab pelanggaran kode etik profesi IT adalah :

 Tidak berjalannya kontrol dan pengawasan dari masyarakat

 Organisasi profesi tidak dilengkapi dengan sarana dan mekanisme bagi masyarakat untuk
menyampaikan keluhan

 Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai substansi kode etik profesi, karena


buruknya pelayanan sosialisasi
 Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari pengemban profesi IT untuk menjaga
martabat luhur profesinya

 Tidak adanya kesadaran etis dan moralitas diantara para pengemban profesi IT

Analisis
Dari kasus Albothyl ini, kita tentunya sangat prihatin atas banyaknya pasien yang
telah dirugikan. Tapi kita tidak perlu juga saling menyalahkan dan mempertanyakan
kompetensi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Berkaca dari kasus Thalidomide,
penarikan produk obat karena efek samping yang muncul meskipun produk
tersebut sudah lama beredar di pasaran sangat mungkin terjadi.
Hal ini tentunya dipengaruhi faktor sensitivitas dan reaksi setiap orang yang
berbeda terhadap suatu obat. Farmakovigilans boleh dibilang tidak hanya dilakukan
selama beberapa tahun terhadap suatu obat setelah disetujui izin edarnya,
melainkan selama produk tersebut beredar di pasaran.
Dari kasus diatas terlihat bahwa perusahaan melakukan pelanggaran etika bisnis
dilihat dari sudut pandang ekonomi yaitu perusahaan di untungkan tetapi banyak
orang yang di rugikan dan perusahaan tidak memenuhi dari prinsip dari etika bisnis
yaiu prinsip kejujuran. Perusahaan tidak terbuka dan memenuhi syarat-syarat bisnis
dan Mengenyampingkan aspek kesehatan konsumen dan membiarkan penggunaan
zat berbahaya dalam produknya. Albothyl yang beredar di pasaran saat ini
mengandung zat bernama Policresulen dengan konsentrasi 36%. Policresulen adalah
senyawa asam organik (polymolecular organic acid) yang diperoleh dari proses
kondensasi formalin (formaldehyde) dan senyawa meta-cresolsulfonic acid.
Policresulen yang diaplikasikan pada sariawan akan menyebabkan jaringan pada
sariawan menjadi mati. Itulah alasan kenapa saat albothyl digunakan pada sariawan
akan terasa sangat perih, namun kemudian rasa perih hilang dan sakit pada
sariawan pun tidak lagi terasa. Bagi Anda yang pengalaman memakai obat ini
mungkin akan menyaksikan sendiri sesaat setelah albothyl digunakan sariawan
akan menjadi berwarna putih dan kering. Jadi sebenarnya policresulen ini tidak
mengobati sariawan melainkan mematikan jaringan yang sakit atau rusak tersebut.
Ketika jaringan sariawan sudah mati, maka tubuh akan melakukan regenerasi sel-sel
baru sehingga sariawan menjadi sembuh.

Banyaknya kasus pelanggaran di dalam etika berbisnis membuat kita sadar bahwa masih banyak nya
produsen produsen nakal yang hanya memikirkan materi tanpa memikirkan dampak apa yang telah
diperbuat, pemerintah seharusnya lebih teliti terhadap pengawasan peredaran barang barang yang
beredar dan harus lolos uji seleksi. Dan untuk masyarakat kita mengajak untuk selalu peduli terhadap
apa yang di nilai kurang baik. Farmakovigilans tidak hanya dilaksanakan oleh industri farmasi tetapi juga
didukung oleh masyarakat awam dan profesional kesehatan di lapangan. Bagi masyarakat awam, jika
menemukan atau mengalami kejadian yang tidak diinginkan setelah mengkonsumsi suatu obat, bisa
menghubungi produsen dan melaporkan kejadian yang dialami (kecuali kejadian serius yang
memerlukan penanganan segera ke klinik atau rumah sakit). Biasanya produsen memiliki nomor kontak
layanan keluhan konsumen. Keluhan-keluhan ini akan ditindaklanjuti oleh bagian Farmakovigilans di
setiap perusahaan atau produsen.
Bagi profesional kesehatan lain, pelaporan ini bisa dilakukan dengan mengisi Form Kuning (Formulir
Pelaporan Efek Samping Obat) pada website e-meso.pom.go.id. Untuk kemudian dikirimkan ke Pusat
Farmakovigilans / MESO (Monitoring Efek Samping Obat) Nasional, Direktorat Pengawasan Distribusi
Produk Terapetik dan PKRT Badan POM RI.
MESO yang dilakukan di Indonesia, bekerja sama dengan WHO-Uppsala Monitoring
Center (Collaborating Center for International Drug Monitoring) yang bertujuan untuk memantau semua
efek samping obat yang dijumpai pada penggunaan obat. Hasil semua evaluasi yang terkumpul akan
digunakan sebagai materi untuk melakukan re-evaluasi atau penilaian kembali pada obat yang telah
beredar untuk selanjutnya menerapkan tindakan pengamanan yang diperlukan.