Anda di halaman 1dari 19

Case Report Session

Tumor Retro Orbita

Oleh:

Gladys Olivia 1840312288


Andina Dwinanda 1840312632
Almira Rosyidika Sriwati 1820312641

Preseptor :

dr. Weni Helvinda, Sp. M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR M.DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamiin, puji dan syukur penulis ucapkan kepada


Allah SWT dan shalawat beserta salam untuk Nabi Muhammad S.A.W, berkat
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas case report session
dengan judul “Tumor Retro Orbita” yang merupakan salah satu tugas dalam
kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Dalam usaha penyelesaian tugas case report session ini, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu dr. Weni Helvinda,
Sp.M (K) selaku pembimbing dalam penyusunan tugas ini.
Kami menyadari bahwa di dalam penulisan ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis menerima semua saran dan
kritik yang membangun guna penyempurnaan tugas case report session ini. Akhir
kata, semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Padang, 3 Januari 2020

Penulis

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 1


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2


1.2 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
mengenai Endophthalmitis eksogen.

1.3 Metode Penulisan


Makalah ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang
merujuk dari berbagai literatur.

1.4 Manfaat Penulisan


Melalui penulisan makalah ini diharapkan bermanfaat untuk informasi dan
pengetahuan tentang Endophthalmitis eksogen.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 3


BAB 2
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Pasien
- Nama :G
- Jenis Kelamin : Laki-laki
- No RM : 01.07.02.74
- Usia : 60 tahun
- Alamat : Parak Lubung, Lima Puluh Koto
- Pekerjaan : Petani
- Tanggal Pemeriksaan : 31 Desember 2019
2.2 Anamnesis
Seorang pasien laki-laki berumur 60 tahun datang ke Poliklinik Mata RSUP
Dr. M. Djamil Padang tanggal 27 Desember 2019 dengan:
Keluhan Utama :
Mata kanan semakin menonjol sejak 1 bulan terakhir.

Riwayat Penyakit Sekarang :


− Mata kanan semakin menonjol sejak 1 bulan terakhir. Mata mulai menonjol sejak 2
tahun yang lalu. Kemudian mata kanan mengalami pembesaran secara perlahan.

− Awalnya pasien merasa penglihatan terganggu dan merasa ada yang mengganjal di
belakang bola matanya. Keluhan disertai dengan penglihatan mata kanan yang
berangsur-angsur menurun. Saat ini pasien megaku tidak dapat melihat dengan mata
kanan

− Nyeri pada mata kanan dirasakan sejak 1 bulan terakhir


− Riwayat trauma (-)
− Mata kanan merah ada
− Mata kanan berair ada
− Sakit kepala ada
− Pasien merupakan rujukan dari RSUD Adnan WD dengan diagnosis tumor orbita pro
biopsi.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 4


Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat tindakan operasi pada mata sebelumnya tidak ada
- Tidak ada riwayat keganasan sebelumnya
- Riwayat trauma pada mata (-)
- Riwayat penyakit mata sebelumnya (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


- Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama.

Riwayat Kebiasaan dan Sosioekonomi


- Pasien seorang petani
- Riwayat merokok sejak 35 tahun yang lalu, sehari bisa menghabiskan sebanyak 1
bungkus rokok

2.3 Pemeriksaan Fisik :


Vital Sign
- Keadaan Umum : Sakit sedang
- Kesadaran : Komposmentis
- Tekanan darah : 120/70 mmhg
- Frekuensi Nadi : 85x/menit
- Frekuensi Nafas : 20x/menit
- Suhu : 36,8℃
Kulit : teraba hangat, turgor baik
Kelenjar Getah Bening : tidak ada pembesaran KGB
Kepala : normocephal
Mata : Status oftalmologis
Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : tidak ada kelainan
Tenggorokan : tidak ada kelainan
Gigi dan Mulut : caries dentis (-)
Leher : JVP 5-2 cmH2O
Toraks : cor dan pulmo dalam batas normal

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 5


Abdomen : dalam batas normal
Punggung : dalam batas normal
Genitalia : tidak diperiksa
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik

Status Oftalmikus
STATUS
OD OS
OFTALMIKUS
Visus tanpa koreksi 0 20/25
Visus dengan koreksi - -
Refleks fundus (-) (+)
Bulu mata hitam, trikiasis Bulu mata hitam, trikiasis
Silia / supersilia tidak ada, madarosis tidak tidak ada, madarosis tidak
ada ada
Edema (+) Edema (-)
Palpebra superior Hiperemis(+) Hiperemis (-)
Massa (+), ukuran Massa (-)
30x20x10 mm
Lagoltalmus (+)
Edema (+) Edema (-)
Palpebra inferior Hiperemis(+) Hiperemis (-)
Massa (+), ukuran Massa (-)
30x20x10 mm
Lagoltalmus (+)
Secret (+) Secret (-)
Margo Palpebra
Krusta (-) Krusta (-)
Aparat lakrimalis Dalam batas normal Dalam batas normal
Kemosis (+), Hiperemis (-), Papil (-),
Konjungtiva Tarsalis Jaringan nekrotik (+)
folikel (-), sikatrik (-)
Kemosis (+), Hiperemis (-), Papil (-),
Konjungtiva Forniks Jaringan nekrotik (+)
folikel (-), sikatrik (-)
Kemosis (+), Hiperemis (-), Injeksi
Jaringan nekrotik (+)
Konjungtiva Bulbii konjungtiva (-), Injeksi
siliar (-)
Sklera Sulit dinilai Warna putih

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 6


Kornea Keratitis exposure Bening

Kamera Okuli Anterior Tidak bisa dinilai, Cukup Dalam


Jaringan nekrotik (+)
Pus (+)
Iris Tidak bisa dinilai, Coklat, rugae
Jaringan nekrotik (+) (+)
Pus (+)
Tidak bisa dinilai, Bulat, Relfleks Pupil (+),
Pupil Jaringan nekrotik (+)
diameter 3 mm,
Pus (+)
Lensa Tidak bisa dinilai, Bening
Jaringan nekrotik (+)
Pus (+)
Korpus vitreum Tidak dapat dinilai Normal (P)
Fundus :
- Media Keruh Bening
Bulat, Batas Tegas ,C/D
- Papil optikus Sulit dinilai
0,3-0,4
- Pembuluh darah
Sulit dinilai aa:vv = 2:3
aa:vv
Eksudat (-) , Perdarahan
- Retina Sulit dinilai (-
) Fovea (+)
Tekanan bulbus okuli N (+2) P Normal palpasi
Posisi bulbus okuli Infero-displacement Ortho
Gerakan bulbus okuli Terbatas ke segala arah Bebas ke segala arah

Gambar

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 7


2.4 Diagnosis Kerja : Protrusio Bulbi OD e.c. Susp. Tumor Retro Bulbal
2.5 Terapi :
- Cendo Litter ED 6 x 1 OD
- Levofloxacin ED 6 x 1 OD
- Cloramphenicol 3 x 500 mg

Rencana : Biopsi eksisi OD dalam anestesi lokal (Selasa, 31 Desember 2019)


2.7 Prognosis :
Quo ad vitam : dubia ad bonam

Quo ad sanationam : dubia ad malam

Quo ad functionam : malam

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 8


BAB 3
DISKUSI

Telah datang seorang pasien laki-laki usia 13 tahun ke poliklinik mata RSUP
Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 12 Juni 2019 dengan diagnosis endophthalmitis
dengan skleritis OD ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluhkan nyeri hilang timbul
pada mata kanan sejak ± 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku
bahwa mata kanannya tertusuk oleh lidi ketika pasien sedang bermain bersama
temannya. Kemudian pasien berobat ke bidan dan mendapatkan obat tetes mata.
Namun setelah diberikan obat, kondisi mata kanan pasien tidak membaik. Pasien
dibawa ke RSUD Bangko keesokan harinya karena penglihatan pada mata kanan
semakin lama semakin kabur. Di RSUD Bangko, dilakukan operasi pada mata
kanan pasien. Setelah dirawat selama 3 hari di RSUD Bangko, pasien kembali
untuk kontrol ke RSUD Sarolangun, kemudian pasien dirujuk ke RSUP Dr.
Mdjamil Padang untuk tatalaksana lebih lanjut.
Berdasarkan keluhan yang didapatkan dari pasien, sesuai dengan kebanyakan
kasus endophthalmitis dimana sering dijumpai adanya penurunan tajam penglihatan
yang irreversible. Penyakit pasien ini digolongkan ke dalam mata merah dengan
penurunan penglihatan mendadak. Contoh penyakit lain yang dapat menyebabkan
hal tersebut diantaranya yaitu keratitis, ulkus kornea, uveitis, dan panoftalmitis.3,5,6
Terdapat 2 faktor yang dapat menyebabkan endophthalmitis yaitu faktor endogen
dan faktor eksogen. Endophthalmitis endogen dapat disebabkan oleh agen infeksi
yang menyebar secara hematogen ke mata, sedangkan endophthalmitis eksogen
dapat disebabkan oleh trauma penetrasi (tembus), atau postoperasi mata intra-
okular.2 Pasien mengaku bahwa mata kanannya tertusuk oleh lidi ketika sedang
bermain dengan temannya. Penyebab terjadinya endophthalmitis pada pasien ini
adalah karena faktor eksogen, pasien mengaku terdapat riwayat trauma
pada mata kanan.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 9


Pasien juga memiliki riwayat operasi pada mata kanan sebelumnya, yaitu
ketika pasien dibawa ke RSUD Bangko dan langsung dilakukan operasi. Hal ini
juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya endophthalmitis pada
pasien. Endophthalmitis pasca operasi walaupun jarang terjadi, merupakan
komplikasi dari pembedahan mata yang paling berat. Kurang dari setengah pasien
yang terkena komplikasi tersebut memiliki tajam penglihatan akhir 20/40 atau
bahkan lebih baik.7
Pada pemeriksaan fisik status oftalmologis didapatkan visus OD = 0, palpebra
superior dan inferior edema, konjungtiva hiperemis, injeksi konjungtiva, injeksi
siliar, dan terdapat hipopion berukuran ± 2 mm. Hal ini sesuai dengan gejala klinis
pada penyakit endophthalmitis. Endophthalmitis merupakan inflamasi yang jarang
terjadi namun termasuk berat, terjadi peradangan pada jaringan intraokuler akibat
infeksi yang terjadi setelah trauma atau bedah, endogen akibat sepsis, yang bisa
menyebabkan hilangnya penglihatan yang irreversible jika tidak di tatalaksana
dengan cepat dan tepat. Peradangan yang terjadi berbentuk radang supuratif di
dalam rongga mata dan struktur di dalamnya, sehingga akan menyebabkan
terjadinya abses di dalam badan kaca. Adanya peradangan supuratif ini
menyebabkan pupil dan lensa pada pasien tidak dapat dinilai.2,5
Pada endophthalmitis akan terjadi infiltrasi sel-sel mononuklear, sel plasma,
leukosit polimorfonuklear, sehingga mengakibatkan timbulnya infiltrat yang
terlihat sebagai bercak warna kelabu, keruh dengan batas tidak jelas dan permukaan
tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan kemudian timbul ulkus.
Injeksi konjungtiva terjadi karena melebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva
posterior yang terjadi diakibatkan oleh infeksi pada jaringan konjungtiva.5
Injeksi siliar terjadi karena adanya fase aktif inflamasi yang terjadi pada
bagian camera okuli anterior (COA) OD pasien. Injeksi siliar merupakan suatu
keadaan dimana terjadinya pelebaran pembuluh darah perikornea (arteri siliar
anterior) yang terjadi akibat adanya peradangan pada kornea, jaringan uvea,
endophthalmitis dan panoftalmitis.5
Pada pasien ini, ditemukan sklera yang terdapat adanya nodul, sehingga
dicurigai pasien juga mengalami skleritis. Skleritis merupakan suatu keadaan yang
ditandai dengan adanya infiltrasi selular, destruksi kolagen dan remodeling

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 10


vascular. Terjadinya keadaan tersebut disebabkan karena adanya infeksi, terutama
trauma lokal yang mencetuskan terjadinya peradangan. Tanda klinis utama dari
skleritis adalah bola mata yang berwarna ungu gelap disebabkan oleh dilatasi
pleksus vaskular profunda di sklera dan episklera, bisa nodular, sektoral atau difus.
Pada pasien ini didapatkan skleritis yang nodular. 8
Pada kornea terdapat hecting sebanyak 4 buah, karena adanya riwayat operasi
pada pasien ini. Sebelum datang ke RSUP Dr. M. Djamil, pasien mendapatkan
operasi hecting kornea di RSUD Bangko dengan penjahitan sebanyak 4 buah pada
bagian superior. Berdasarkan Anamnesis dan pemeriksaan fisik bahwa pasien ini di
diagnosis sebagai endophthalmitis. Infeksi endophthalmitis dibagi menjadi 2
kelompok yaitu endopthtalmitis eksogen dan endogen. Infeksi endopthalmitis
eksogen disebabkan oleh trauma, operasi katarak, prosedur filtrasi glaukoma,
operasi penetrasi kornea, vitrectomy, injeksi intravitreal dan lain-lain sedangkan
infeksi endopthtalmitis endogen disebabkan oleh penyebaran bakteri secara
hematogen pada kondisi pasien yang bakterimia.9

Gambar 3.1 Kategori Endophthalmitis9

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 11


Melihat dari riwayat penyakit sekarang bahwa pasien ini lebih mengarah
kepada infeksi endopthalmitis eksogen karena terdapat riwayar trauma dan post
operasi di RSUD Bangko. Pada pemeriksaan fisik juga didapatkan edema pada
kornea, injeksi konjunctiva dan hipopion yang merupakan tanda khas dari
endophthalmitis (Gambar 3.2).9

Gambar 3.2 Endophthalmitis Post Operasi9

Gambar 3.3 Foto Mata Kanan Pasien dengan Endophthalmitis

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 12


Gejala yang muncul pada endopthalmitis adalah penurunan penglihatan, nyeri
dan mata merah sedangkan untuk tanda pada endophthalmitis tergantung dari
tingkat keparahannya yaitu edema kelopak mata, kemosis, injeksi dan perdarahan
konjunctiva, relative afferent pupillary defect (RAPD) sering terjadi, kabut pada
kornea, eksudat fibrin, hipopion, vitritis, inflamasi berat vitreus dan debris disertai
kehilangan dari red reflex.10 Pada EVS, 98% pasien dengan endophthalmitis akut
mengalami satu atau lebih dari empat gejala klasik, termasuk penurunan
penglihatan (93%), injeksi konjungtiva (81%), nyeri (75%) dan edema kelopak
mata (33%).9
Diferensial diagnosis dari endopthtalmitis post operasi yang mungkin adalah
sebagai berikut10,11
- Perdarahan vitreous terutama jika darah di dalam vitreous terjadi
depigmentasi.
- Uveitis pascaoperasi. Diagnosis infeksi secara pasti tidak selalu mudah. Jika
tanda-tanda peradangan ringan, percobaan terapi steroid topikal dan dilihat
perkembangannya (6-24 jam). Jika tidak ada perbaikan yang substansial,
penatalaksanaan harus mengarah kepada endophthalmitis.
- Reaksi toksik terhadap penggunaan cairan irigasi yang tidak tepat atau
terkontaminasi atau viskoelastik. Reaksi fibrinosa yang intens dengan
edema kornea dapat terjadi tanda-tanda lain endophthalmitis infeksius tidak
ada. Pengobatannya adalah dengan steroid topikal intensif dan sikloplegik.
- Pembedahan yang lama sehingga muncul komplikasi edema dan uveitis.

Pada pasien ini diberikan terapi berupa Injeksi Ceftriaxon 2 x 650 mgiv,
Levofloxacin ed/jam/OD, Asetazolamid 4 x 250 mg, Aspar K 2 x 300 mg dan
Paracetamol 3 x 500 mg. Injeksi ceftriaxon diberikan secara intravena bertujuan
sebagai terapi empirik antibiotik sebelum hasil kultur bakteri keluar..12 Pemberian
levofloxacin yang merupakan golongan fluoroquinolon telah terbukti memiliki
efektifitas terhadap bakteri Gram-positif yang lebih baik daripada ciprofloxacin.
Secara khusus, moxifloxacin telah terbukti memiliki aktivitas in vitro yang paling
kuat terhadap isolat endophthalmitis Gram-positif dan Gram-negatif dibandingkan
dengan fluoroquinolone lain.13

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 13


Gambar 3.4 Tatalaksana pada post traumatic endophthalmitis12

Tatalaksana yang dilakukan pada instalasi gawat darurat (IGD) yang


dilakukan adalah anamnesis dan pemeriksaan fisik mata lengkap terutama inspeksi
pada luka, apakah ada bekas operasi, blepharitis atau faktor lain yang menjadi faktor
predisposisi endophthalmitis. Jika hasil visus hanya pada persepsi cahaya atau lebih
berat bisa menjadi indikasi untuk vitrectomy. Kultur dan pemeriksaan pewarnaan
gram dibutuhkan untuk menentukan etiologi bakteri yang menyebabkan
endophthalmitis yang berguna dalam pemberian antibiotik. Selain itu bisa
dilakukan paracentesis pada ruang anterior dan aspirasi vitreous 0,2 ml namun tidak
selalu dilakukan.11
Profilaksis post operasi diberikan povidone iodine saat sebelum dan saat
operasi. Pada saat perioperatif diberikan antibiotik topikal spektrum luas dengan
tujuan mengurangi perkembangan bakteri akan tetapi dapat menimbulkan resistensi
antibiotik. Pertimbangkan untuk dirawat dengan tujuan observasi dari tatalaksana
yang diberikan selain itu bisa diberikan topikal steroid seperti prednisolone asetat
1% q1h dan antibiotik topikal seperti vancomycin dan tobramycin q1h dalam 24
sampai 48 jam. Lalu berikan atropin 1% t.i.d sampai q.i.d. Bisa diberikan antibiotik
sistemik seperti antibiotik intravena akan tetapi tidak rutin digunakan. Bisa
dipertimbangkan pemberian i.v flouroquinolones dalam kondisi bleb-related
endophthalmitis atau trauma. Fluroquinolones generasi 3 dan 4 bisa menembus
vitreous dan cukup dalam mencapai level terapeutik. Selain itu, bisa diberikan oral
antibiotik seperti moxifloxacin 400mg p.o q.d.11

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 14


Gambar 3.5 Antibiotik pada Endophthalmitis10

Pada pasien ini diberikan asetazolamid oral dikarenakan sudah terjadi


glaukoma sekunder akibat inflamasi yang terjadi. Ruang kamera okuli anterior yang
semakin sempit sehingga terapi antiglaucoma topikal dan/atau acetazolamide oral
diberikan untuk menurunkan TIO.14

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 15


Prognosis pada pasien ini dubia ad malam karena keadaan endophthalmitis
eksogen, terutama endophthalmitis pasca operasi tanpa penyakit sistemik, mungkin
memiliki prognosis ophthalmik yang buruk tetapi jarang akan menyebabkan
kematian. Namun, komorbiditas dengan salah satu kondisi sistemik yang dijelaskan
di atas, terutama endophthalmitis hematogen, dapat mengancam jiwa. Insiden
endophthalmitis dan faktor risikonya telah dievaluasi secara luas. Namun,
penelitian yang mengeksplorasi tingkat kematian pada pasien yang didiagnosis
dengan endophthalmitis jarang terjadi.15

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 16


BAB 4
KESIMPULAN

Telah dilaporkan pasien laki-laki usia 13 tahun ke poliklinik mata RSUP Dr.
M. Djamil Padang pada tanggal 12 Juni 2019 dengan diagnosis endophthalmitis
dengan skleritis OD ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Gejala yang muncul pada endopthalmitis adalah
penurunan penglihatan, nyeri dan mata merah sedangkan untuk tanda pada
endophthalmitis tergantung dari tingkat keparahannya. Perlu untuk menegakkan
diagnosis segera agar menjadi prognosis yang baik. Tatalaksana pada
endophthalmitis yang dapat dilakukan pengangkatan benda asing intraokular yang
tersisa, antibiotik intravitreal, vitrectomy dalam banyak kasus, dan antibiotik
topikal dan sistemik yang sering diselingi. Peranan dokter layanan primer adalah
mendiagnosis segera lalu merujuk ke faskes tingkat lanjutan agar ditatalaksana
lebih lanjut.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 17


DAFTAR PUSTAKA

1. Dave VP, Das T. Definition. Signs , and Symptoms of Endophthalmitis.


Springer Nature Singapore Pte Ltd; 2018; pp:3–8.
2. Sheu S. Endophthalmitis.Korean J Ophthalmol; 2017;31(4): pp 283–9.
3. Durand ML. Crossm Bacterial and Fungal Endophthalmitis. American Society
for Microbiology ; 2017;30(3): pp 597–613.
4. Schwartz SG, Jr HWF, Das T, Mieler WF. HHS Public Access. 2017; pp 176–
88.
5. Sidarta Ilyas SpM P dr., Yulianti SpM dr. SR. Ilmu Penyakit Mata. 5th ed.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017.
6. Mitchell L, Grimmer P. COMPLICATIONS & TREATMENT of a “ RED EYE
.” Bpj. 2013;54(54):8–21.
7. Das S, Bhende PS, Lam DSC. The Latest Updates and Management of
Endophthalmitis. Asia-Pacific J Ophthalmol. 2016;5(3):167–70.
8. Vaugan Daniel, Asbury Taylor : General Ophthalmology (Nineteen Edition).
Los Altos: Lange Medical Publication; 2018. p.89-95
9. James DA. Yanoff M, Duker JS .Ophthalmology Fourth Edition.Mosby
Elsevier.Edinburgh.United Kingdom; 2014: pp 723-25.
10. Kanski, Jack J. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach 8th Edition.
Edinburgh: Butterworth-Heinemann/Elsevier;2016:pp 288-92.
11. Gerstenblith AT,Rabinowitz MP. The Wills Eye Manual : Office and
Emergency Room , Diagnosis and Treatment of Eye Disease. Lipponcott.
Wolters Kluwer. Philadhepia. USA;2012:pp 385-89.
12. Bhagat, N., Li, X., & Zarbin, M. A.Post-traumatic Endophthalmitis.
Endophthalmitis;2016.151–70. doi:10.1007/978-3-319-29231-1_9
13. Clarke, B., Williamson, T. H., Gini, G., & Gupta, B. Management of bacterial
postoperative endophthalmitis and the role of vitrectomy. Survey of
Ophthalmology;2018:63(5), 677–93. doi:10.1016/j.survophthal.2018.02.003
14. Zagora SL, Hunyor AP, Mccluskey PJ. Bacterial Endophthalmitis. 2016;
15. Weng TH , Chang HC, Chung CH , Lin FH. et al. Epidemiology and Mortality-
Related Prognostic Factors in Endophthalmitis. Invest. Ophthalmol. Vis. Sci.
;2018:59(6):2487-2494. doi: 10.1167/iovs.18-23783.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 18