Anda di halaman 1dari 27

MASALAH POKOK PEREKONOMIAN INDONESIA

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :

NAMA NAMA KELOMPOK 8 :


1. ANDREAS SIAHAAN
2. DIVANY AERY LOVIANT
3. ILMA LIANA
4. ILYAS NUR RAMADAN DAMANIK
5. KLARA TAMBA
6. VERNANDA VENTURINI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI BINA KARYA T.A


2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang masalah
pokok perekonomian Indonesia ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita dalam mengetahui masalah pokok perekonomian Indonesia. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Tebing Tinggi, 24 November 2019

Page | 2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1. LATAR BELAKANG 1
2. RUMUSAN MASALAH 1
3. TUJUAN MASALAH 1
BAB II PEMBAHASAN 2
1. MASALAH POKOK PEREKONOMIAN 2
2. PENGANGGURAN 3
3. INFLASI 12
BAB III PENUTUP 18
1. KESIMPULAN 18

Page | 3
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sebuah Negara tidak akan pernah bisa lepas dari berbagai macam permasalahan
yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara – negara yang
memiliki jumlah penduduk yang tinggi seperti Indonesia. Masalah ketenagakerjaan,
pengangguran, kenaikan harga (inflasi) dan kemiskinan di Indonesia sudah menjadi
masalah pokok bangsa ini dan membutuhkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan
masalah tersebut agar tidak menghambat langkah Negara Indonesia untuk menjadi
negara yang lebih maju.
Dalam indikator ekonomi makro ada tiga hal terutama yang menjadi pokok
permasalahan ekonomi makro. Pertama adalah masalah pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi dapat dikategorikan baik jika angka pertumbuhan positif dan
bukannya negatif. Kedua adalah masalah inflasi. Inflasi adalah indikator pergerakan
harga-harga barang dan jasa secara umum, yang secara bersamaan juga berkaitan
dengan kemampuan daya beli. Masalah ketiga adalah pengangguran. Memang masalah
pengangguran telah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-
negara berkembang seperti di Indonesia.Dua indikator kinerja perekonomian yang
terus-menerus diamati adalah inflasi dan pengangguran. Bagaimana kedua ukuran
kinerja perekonomian ini dapat saling berkaitan.

2. Rumusan Masalah
1) Penyebab masalah pokok perekonomian di Indonesia.
2) Apa yang dimaksud dengan pengangguran dan inflasi?
3) Bagaimana dampak Pengangguran dan Inflasi terhadap perekonomian Indonesia?

3. Tujuan Makalah
1) Memahami konsep Pengangguran & Inflasi
2) Mempelajari hubungan antara Pengangguran & Inflasi
3) Mengetahui kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengendalikan
Inflasi dan menurunkan Pengangguran.

Page | 4
BAB II
PEMBAHASAN

A. MASALAH POKOK PEREKONOMIAN


Indonesia menggunakan system perekonomian kerakyatan, jadi semua
kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak diatur dan
dikendalikan oleh pemerintah. Semua hal yang berhubungan dengan kebijakan dan
kelangsungan hidup masyarakat Indonesia di atur oleh kebijakan-kebijakan dan
peraturan pemerintah.
Tanda-tanda perekonomian dimulai mengalami penurunan diawali pada tahun 1997
dimana pada masa itulah terjadi krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya
berkisaran pada level 4,7 persen, sangat rendah disbandingkan tahun sebelumnya 7,8
persen. Kondisi keamanan yang belum kondusif juga mempengaruhi iklim investasi di
Indonesia, yang menambah kesulitan dinegeri ini.
Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas kegiatan ekonomi yang berdampak pada
penerimaan negara serta pertumbuhan ekonominya. Adanya peningkatan pertumbuhan
ekonomi yang diharapkan akan menjanjikan harapan bagi perbaikan kondisi ekonomi
dimasa mendatang.
Bagi Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka harapan
meningkatnya pendapatan nasional (GNP), pendapatan persaingan kapita akan
semakin meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga akan berada pada tingkat
wajar dan semakin bergairahnya modal bagi dalam negeri maupun luar negeri,
Namun semua itu terwujud apabila kondisi keamanan dalam negeri benar-
benar telah kondusif. Kebijakan pemerintah saat ini didalam pemberantasan terorisme,
serta pembrantasan korupsi sangat turut membantu bagi pemulihan perekonomian.
Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indicator makro ekonomi
menggambarkan kinerja perekonomian suatu negara akan menjadi prioritas utama bila
ingin menunjukan kepada pihak lain bahwa aktivitas ekonomi sedang berlangsung
dengan baik pada negaranya.
Selama tiga tahun dari 2005, 2006, dan 2007 perekonomian Indonesia tumbuh
cukup signifikan (rata-rata diatas 6%), menjadikan Indonesia saat ini secara ekonomi
cukup dipertimbangkan oleh perekonomian dunia. Hal ini dapat dilihat dengan
diundangnya Indonesia ke pertemuan kelompopk 8-plus (G8plus) di Kyoto Jepang
pada bulan Juli 2008 bersama beberapa negara yang disebut BRIICS (Brasil, Rusia,
India, Indonesia, Dan South Africa)
Page | 5
Pada tahun 2008 pendapatan per kapita Indonesia sudah melewati US$ 2.000,
bahkan pada tahun 2009, GDP Indonesia ditetapkan diatas angka 5.000 triliun rupiah
atau setara dengan US$ 555 miliyar. Angka-angka ini cukup mendukung estimasi
bahwa pada tahun 2015 Indonesia sudah menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia
dengan GDP diatas US$ 1 Triliun. Namun masih banyak hambatan yang dihadapi oleh
perekonomian Indonesia untuk menuju kesana, misalnya; kondisi infrastruktur
perekonomian ( seperti jalan, jembatan, pelabuhan, dan listrik), tingginya angka
pengangguran (kisaran 9%), tingginya inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya
harga energi dunia (sudah menyentuh 11,,%), belum optimalnya kedatangan FDI ke
Indonesia, belum optimalnya peranan APBN sebagai stimulus ekonomi (belum
ekspansif).

Beberapa permasalahanekonomi Indonesia.


Beberapa permasalahan ekonomi Indonesia yang masih muncul saat ini
dijadikan fokus program ekonomi 2008-2009 yang tertuang dalam inpres Nomor 5
tahun 2008 yang memuat berbagai kebijakan ekonomi yang menjadi target pemerintah
yang dapat dikelompokkan ke dalam 8 bidang yaitu:
a. Investasi
b. Ekonomi makro dan keuangan
c. Ketahanan energi
d. Sumber daya alam, lingkungan dan pertanian
e. Pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)
f. Pelaksanaan komitmen masyarakat ekonomi ASEAN
g. Infrastuktur
h. Ketenagalerjaan dan ketransmigrasian.
Dari sekian banyak masalah perekonomian yang dapat terwujud target pemerintah diatas
dapat dikelompokkan menjadi masalah yang paling pokok karena dampaknya yang meluas
yaitu tentang permasalahan Ketenagakerjaan yang melingkupi tingginya jumlah
pengangguran dan tingginya tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia merupakan hal yang
mendasari semua permasalahan-permasalahan social di Indonesia.

B. PENGANGGURAN
Masalah pengangguran di Indonesia masih menjadi masalah ekonomi utama yang sampai saat
ini belum bisa diatasi. Sampai tahun 2008, tingkat pengangguran terbuka masih berada pada
kisaran 9% dari jumlah Angkatan kerja berada pada kisaran 9 juta orang. Sebagaimana kita
Page | 6
ketahui, bahwa terjadi perubahan perekonomian paska krisis dari usaha yang padat karya ke
usaha yang lebih padat modal. Akibatnya pertumbuhan tenaga kerja yang ada sejak tahun
1998 s/d 2004 terakumulasi dalam meningkatnya angka pengangguran. Dilain sisi,
pertumbuhan tingkat tenaga kerja ini tidak di ikuti dengan pertumbuhan usaha (investasi)
yang dapat menyerap keberadannya. Akibatnya terjadi peeningkatan jumlah pengangguran di
Indonesia yang pada puncaknya tahun 2004 mencapai tingkat 10% atau sekitar 11 juta orang.
Definisi dan pengertian Pengangguran adalah orang yang masuk dalam Angkatan
kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya.
Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa sekolah
smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal
tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
Beberapa pengertian yang berhubungan dengan ketenagakerjaan yaitu:
1. Tenaga kerja (man power)
Adalah penduduk dalam usaha kerja (berusia 15-64) atau jumlah seluruh penduduk dalam
suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga
mereka, dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut.
2. Angkatan Kerja ( labour fource)
Adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat atau berusaha untuk terlibat
dalam kegiatan produktif yaitu produksi baran dan jasa.
3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (labour force participation rate)
Adalah menggambarkan jumlah Angkatan kerja dalam suatu kelompok umum sebagai
persentase penduduk dalam kelompok umur tersebut.
4. Tingkat Pengangguran (unemployment rate)
Adalah angka yang menunjukan beberapa dari jumlah Angkatan kerja yang sedang aktif
mencari pekerjaan. Pengertiaan menganggur disini adalah aktif mencari pekerjaan.
5. Pengangguran Terbuka (open unemployment)
Adalah bagian dari Angkatan kerja yang sekarang ini tidak bekerja dan sedang aktif mencari
pekerjaan.
6. Setengah Menganggur (underemployment)
Adalah perbedaan antara jumlah pekerjaan yang betul dikerjakan seseorang dsalam
pekerjaannya dengan jumlah pekerjaan yang secara normal mampu dan ingin dikerjakan.
7. Setengah Menganggur yang kentara (visible underemployment)
Adalah jika seseorang bekerja tidak tetap (part time) diluar keinginanya sendiri, atau bekerja
dalam waktu yang lebih pendek dari biasanya.

Page | 7
8. Setengah menganggur yang tidak kentara (intime), tetapi pekerjaanya itu dianggap tidak
mencukupi karena pendapatannya yang (visible underemployment)
Adalah jika seseorang bekerja secara penuh (full) terlalu rendah atau pekerjaan tersebut tidak
memungkinkan ia untuk menggembangkan seluruh keahliannya.
9. Pengangguran Tidak Kentara (disguised unemployment)
Dalam Angkatan kerja mereka dimasukkan dalam kegiatan bekerja, tetapi sebetulnya mereka
adalah penganggur jika dilihat dari segi produktivitasnya.
10. Pengangguran Friksional
Adalah pengangguran yang terjadi akibat pindahnya seseorang dari suatu pekerjaan ke
pekerjaan yang lain, dan akibatnya harus mempunyai tenggang waktu dan berstatus sebagai
penganggur sebelum mendapatkan pekerjaan tersebut.
11. Pengangguran structural
Adalah pengangguran yang disebabkan karena ketidak cocokan antara struktur para pencari
kerja, sehubungan dengan keterampilan, bidang keahlian, maupun daerah lokasinya dengan
struktur permintaan tenaga kerja yang belum terisi.

Jenis pengangguran menurut waktu lama kerja


Seseorang dapat dapat dianggap bekerja penuh apabila dia bekerja 39-48 jam per
minggu. Pengangguran jika dilihat dari tolak ukur berdasarkan lama waktu kerja maka dapat
dikelompokkan menjadi 3 kelompok:
a. Pengangguran terbuka
Yaitu tenaga kerja yang betul-betul tidak mempunyai pekerjaan, meskipun mereka sedang
mencari pekerjaan.
b. Setengah menganggur
Yaitu tenaga kerja yang bekerja kuran dari 35 jam dari seminggu
c. Pengangguran terselubung
Yaitu tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimum karena tidak memperoleh pekerjaan
yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Jenis pengangguran menurut penyebabnya


Pengangguran jika dilihat dari penyebabnya maka dapat digolongkan sebagai berikut:
a) Pengangguran structural
Yaitu pengangguran terjadi karena ketidak cocokan antara keterampilan ketenaga
kerjaan yang dibutuhkan dan keterampilan tenaga kerja yang tersedia.

Page | 8
b) Pengangguran Siklika
Yaitu pengangguran terjadi karena naik turunnya aktivitas atau karena perekonomian
suatu negara
c) Pengangguran musiman
Yaitu pengangguran terjadi karena perubahan permintaan terhadap tenaga kerja yang
sifatnya berkala.
d) Pengangguran Friksional
Yaitu pengangguran terjadi karena pergantian pekerjaan atau pergeseran tenaga kerja
e) Pengangguran konjungtural (CycleUnemployment) pengangguran yang diakibatkan
oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus.
f) Pengangguran teknologi. Adalah pengangguran yang terjadi karena mulai
digunakanya teknologi untuk mrnggantikan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh
manusia. Ini akibat kemampuan dan keahlian yang kurang mampu menyesuaikan
dengan harapan perusahaan.
g) Pengangguran siklus, pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan
perekonomian (karena terjadinya resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh
kurangnya permintaan masyarakat (aggregate demand). Pengangguran juga dapat
dibedakan atas pengangguran sukarela (voluntaryunemployment) dan duka lara
(involuntary unemployment), pengangguran sukarela adalah pengangguran yang
menganggur untuk sementara waktu karena ingin mencari pekerjaan lainnya yang
lebih baik. Sedangkan pengangguran dukalara adalah pengangguran yang menganggur
karena sudah berusaha mencari pekerjaan namun belum berhasil mendapatkan kerja.

A Dampak Negatif Pengangguran Terhadap Lingkungan Sosial


Masalah ketenaga kerjaan di Indonesia sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup
memprihatinkan, antara lain ditandai oleh jumlah pengangguran dan setengah pengangguran
yang besar, pendapatan relatif rendah dan kurang merata.
Berikut ini adalah kerugian-kerugian sebagaimana ditimbulkan oleh pengangguran:
1. Menurunnya tingkat produktifitas
2. Turunnya penerimaan negara
3. Tidak meratanya distribusi pendapatan nasional
4. Peningkatan biaya social

Page | 9
Dampak Negatif Pengangguran Terhadap Kegiatan Perekonomian
1. Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat maksimalkan tingkat
kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan
pendapatan nasional real (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah dari pada
pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran
yang dicapai oleh, masyarakat pun akan lebih rendah.
2. Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sector pajak
berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan
kwgiatan perekonomian menurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun.
Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan
berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menerus menurun.
3. Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran
akan menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan
terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak
merangsang kalangan investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian
industry baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan
ekonomi pun tidak akan terpacu.

Cara-cara Mengatasi Pengangguran


Cara paling utama untuk mengatasi pengangguran adalah melakukan perluasan kesempatan
kerja. Sejumlah upaya dapat dilakukan untuk mengatasi pengangguran. Meskipun demikian,
upaya itu juga berbeda-beda tergantung pada jenis pengangguran itu. Berikut ini cara
mengatasi pengangguran yaitu:
1. Peningkatan mobilitas tenaga kerja modal
2. Pengelolaan permintaan masyarakat
3. Penyediaan informasi tentang kebutuhan tenaga kerja
4. Program Pendidikan dan pelatihan kerja
5. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri
6. Wiraswasta

Rumus menghitung Tingkat Pengangguran


Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari
presentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah Angkatan kerja.
Tingkat Pengangguran = Jumlah yang menganggur / Jumlah Angkatan Kerja x 100%

Page | 10
Kebijakan-kebijakan Pengangguran
Adanya bermacam-macam pengangguran membutuhkan cara-cara mengatasinya yang
disesuaikan dengan jenis pengangguran yang terjadi, yaitu:
a) Mengatasi Pengangguran Struktural untuk mengatasi pengangguran jenis ini,
cara yang digunakan adalah:
1. Peningkatan mobilitas dan tenaga kerja.
2. Segera memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sector yang
kelebihan ke tempat dan sector ekonomi yang kekurangan.
3. Mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk mengisi formasi kesempatan (lowongan)
kerja yang kosong, dan
4. Segera mendirikan industry padat karya diwilayah yang mengalami pengangguran.
b) Cara Mengatasi Pengangguran Friksional Untuk mengatasi pengangguran
secara umum antara lain dapat digunakan cara-cara tersebut:
1. Perluasaan kesematan kerja dengan cara mendirikan industry-industri baru,
terutama yang bersifat padat karya.
2. Deregulasi dan Debirokratisasi diberbagai bidang industri untuk merangsang
timbulnya investasi baru.
3. Menggalakan pengembangan sector informal, seperti home industry.
4. Menggalakan program transmigrasi untuk menyerap tenaga kerja di sector agraris
dan sector formal lainnya pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah,
seperti pembanguna jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dan lain-lain sehingga
bisa menyerap tenaga kerja secara langsung maupun untuk merangsang investasi
baru dari kalangan swasta.
c) Cara Mengatasi Pengangguran Musiman
Jenis pengangguran ini bisa diatasi dengan cara :
1. Pemberian informasi yang cepat jika ada lowongan kerja dissector lain, dan
2. Melakukan pelatihan dibidang keterampilan lain untuk memanfaatkan waktu
ketika menunggu musim tertentu.
d) Cara mengatasi Pengangguran Siklus. Untuk mengatasi pengangguran jenis ini
adalah:
1. Mengarahkan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa, dan
2. Meningkatkan daya beli masyakat

Page | 11
KETENAGA KERJAAN DAN PERMASALAHANNYA
Permasalahan ketenaga kerjaan dan pengangguran setiap tahunnya semakin
meningkat. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, mulai dari peningkatan lapangan
pekerjaan sampai pada perlindungan tenaga kerja.
Angkatan kerja adalah jumlah penduduk yang terdapat dalam suatu perekonomian
pada suatu waktu tertentu, yaitu semua orang yang mampu dan bersedia bekerja setiap tahun,
ribuan bahkan jutaan masyarakat untuk bersaing untuk dapat ambil bagian bursa tenaga kerja.
Masalah kontemporer ketenaga kerjaan Indonesia saat ini menurut analisis dari
beberapa factor, yaitu:
1. Lapangan pekerjaan semakin sedikit
2. Tingginya jumlah pengangguran
3. Rendahnya tingkat pndidikan
4. Minimnya perlindungan hokum
5. Upah kurang layak
6. Eksternal factor (seperti krisis global)
7. Tidak memiliki kreaktifitas dan inovasi-inovasi.

Keadaan Angkatan Kerja Dan Keadaan Kesempatan Kerja

Masalah pengangguran dan setengah pengangguran tersebut diatas adalah salah


satunya dipengaruhi oleh besarnya Angkatan kerja. Angkatan kerja di Indonesia pada tahun
2002 sebesar 100,8 juta orang. Mereka ini didominasi oleh angkata kerja usia bersekolah
sebanyak 20,7 juta. Pada sisi lain, 45,33 juta orang hanya berpendidikan SD kebawah, ini
berarti bahwa Angkatan kerja di Indonesia kualitasnya masih rendah, dan keadaan lain juga
mempengaruhi pengangguran dan setengah pengangguran tersebut adalah keadaan
kesempatan kerja. Ciri lain dari kesempatan kerja Indonesia adalah dominasinya lulusan
SLTP kebawah, ini menunjukan bahwa kesempatan kerja yang tersedia adalah bagi golongan
berpendidikan rendah.
Seluruh gambar diatas menunjukan gambar bahwa kesempatan lapangan kerja di
Indonesia mempunyai persyaratan kerja yang rendah dan memberikan imbalan yang kurang
kayak. Implikasinya adalah produktivitas tenaga kerja rendah.

Hukum Ketenaga Kerjaan

Page | 12
Dalam pasal 1 ayat 1 undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan,
menyebutkan bahwa “Ketenaga kerjaan adalah hal yang berhubungan dengan tenaga kerja
pada waktu sebelumnya, selama dan sesudah masa kerja”.
Jadi, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hukum ketenaga kerjaan adalah
semua peraturan hukum yang berkaitan dengan tenaga kerja, baik sebelum bekerja, selama
atau dalam hubungan kerja dan sesudah hubungan kerja.
Peraturan hukum yang berkaitan dengan hukum ketenaga kerjaan yang sebelum
hubungan kerja (pra employment) adalah bidang hukum yang berkenaan dengan kegiatan
mempersiapkan calon tenaga kerja sehingga memiliki keterampilan yang cukup untuk
memasuki dunia kerja, termasuk upaya memperoleh lowongan pekerjaan baik didalam
maupun diluar negeri dan mekanisme yang harus dilalui tenaga-tenaga kerja sebelum
mendapatkan pekerjaan.
Peraturan hokum yang berkaitan dengan hukum ketenaga kerjaan selama hubungan
atau masa kerja timbul karena adanya perjanjian kerja. Perjanjian kerja adalah seseuatu
perjanjian dimana pekerja menyatakan kesanggupan untuk bekerja pada pilah perusahaan atau
majikan dengan menerima upah dan majikan menyatakan kesanggupannya untuk
mempekerjakan pekerja. Dalam hubungan kerja diatur hukum yang berkaitan dengan :
1. Norma kerja, antara lain meliputi waktu kerja, istirahat
2. Pekerja anak
3. Pengawasan perburuhan
4. Perselisihan perburuhan
5. Perlindungan upah, pemerintah menetapkan upah minimum berdasarkan kebutuhan
masyarakat hidup layak dengan memperhatikan produktivitas dan ekonomi.
Peraturan hukum setelah hubungan kerja maksudnya adalah peraturan hukum yang
berkaitan dengan tenaga kerja pada saat pernah kerja, termasuk pada saat pemutusan
hubungan kerja dan hak-hak akibat terjadinya PHK tersebut. Pasal 153 ayat (1) UU Nomor
13/2003 menyebutkan bahwa pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja
dengan alasan antara lain:
a. Berhalangan masuk kerja, karena sakit menurut keterangan dokter selama waktu
tidak melampaui 12 bulan secara terus-menerus.
b. Pekerja atau buruh menjalankan ibadah yang diperhatikan agamanya.
c. Pekerja atau buruh menikah.
d. Pekerja/buruh mengadukan pengusaha kepada yang berwajib mengenai perbuatan
pengusaha yang tindak pidana kejahatan.

Page | 13
Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan dengan alasan sebagaimana dimaksud diatas
setelah batal demi hokum dan pengusaha wajib memperkerjakan kembali pekerja atau buruh
tersebut. Dalam literatur dikenal ada beberapa jenis PHK yaitu:
1. PHK oleh majikan/pengusaha
2. PHK oleh buruh/pekerja
3. PHK demi hukum
4. PHK oleh pengadilan

Bila mana terjadi PHK, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan atau uang
penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.
1. Buruh atau pekerja
2. Pengusaha
3. Organisasi pekerja atau buruh
4. Organisasi pengusaha
5. Pemerintah

KESEMPATAN KERJA DAN KEGUNAAN


a. Kesempatan kerja
Hal yang diharapkan kesempatan kerja seimbang dengan Angkatan kerja tetapi hal ini
tidak terwujud. Beberapa teori tentang “Dapatkah kesempatan kerja menampung
seluruh Angkatan kerja?
1. Menurut kaum klasik, jika terjadi pengangguran dalam suatu negara, itu berarti
penawaran tenaga kerja lebih besar dari pada permintaan tenaga kerja.
2. Keynes, penggunaan tenaga kerja secara penuh jarang sekali terjadi.
b. kegunaan
indicator ini bermanfaat sebagai wacana bagi pengambil kebijakan di tingkat nasional
maupun daerah dalam pembuatan rencana ketenaga kerjaan di wilayahnya. Disamping
itu, indicator ini digunakan untuk mengetahui beberapa banyak tenaga kerja atau
penduduk usia kerja potensial yang dapat memproduksi barang dan jasa. Namun
indicator ini hanya menghasilkan jumlah penduduk yang bisa bekerja sehingga kurang
tepat untuk digunakan sebagai dasar perencanaan.

PERANAN TENAGA KERJA


Tenaga kerja memegang peran yang sangat penting dalam roda perekonomian suatu
negara karena:
Page | 14
1. Tenaga kerja merupakan salah satu factor produksi
2. Sumber Daya Alam
3. Kewiraswastaan

Tenaga kerja juga penting dilihat dari segi kesejahteraan masyarkat. Adapun masalah
yang ditimbulkan dari banyak nya tenaga kerja:
1. Masalah-masalah perluasaan kesempatan kerja
2. Pendidikan yang dimiliki Angkatan kerja
3. Pengangguran

C. INFLASI
Inflasi dan perekonomian Indonesia sangat saling berkaitan. Apabila tingkat inflasi tinggi,
sudah dipastikan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dimana akan melambatnya laju
pertumbuhan ekonomi.
Tingkat inflasi di Malaysia dan Thailand senantiasa lebih rendah. Inflasi di Indonesia
tinggi sekali dizaman Presiden Soekarno, karena kebijakan fiscal dan moneter sama sekali
tidak prudent (“kalua perlu uang, cetak saja”). Di zaman Soeharto, pemerintah berusaha
menekan inflasi, akan tetapi tidak bisa dibawah 10 persen setahun rata-rata, karena bank Bank
Indonesia masih punya misi ganda, antara lain sebagai agent of development, yang bisa
mengucurkan kredit likuiditas tanpa batas. Baru dizaman reformasi, mulai di zaman Presiden
Habibie maka fungsi Bank Indonesia mengutamakan penjagaan nilai rupiah. Tetapi karena
sejarah dan karena inflationary expectations masyarakat (yang bertolak ke belakang, artinya
bercermin kepada sejarah) maka “inflasi inti” masih lebih besar dari pada 5 persen setahun.
Data pertumbuhan ekonomi dari inflasi Bank Sentral Republik Indonesia inflasi
merupakan salah satu masalah ekonomi yang banyak mendapatkan perhatian para pemikir
ekonomi. Pengertian inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menarik secara
umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi.
Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus menerus juga perlu diingat, karena kenaikan
harga karena musiman, menjelang hari-hari besar atau yang terjadi sekali saja, dan tidak
mempunyai pengaruh lanjutan tidak disebut inflasi.
Jika sebagian dari harga barang diatur pemerintah, maka harga-harga yang dicatat oleh
Biro Statistik mungkin tidak menunjukan kenaikan apapun karena yang dicatat adalah harga
“resmi” pemerintah. Tetapi kenyataan yang terjadi ada kecenderungan bagi harga-harga untuk
terus menaik. Dalam hal ini inflasi sebetulnya ada, tetapi tidak diperlihatkan. Keadaan ini
Page | 15
disebut “suppressed inflation” atau “infla-si yang ditutupi”, yang pada suatu waktu akan
terlihat karena harga-harga resmi makin tidak relevan dalam kenyataan.

A. MACAM INFLASI
Berdasarkan para tingkat inflasi dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
a. Inflasi ringan (di bawah 10% setahun)
b. Inflasi sedang (antara 10% - 30% setahun)
c. Inflasi berat (antara 30% - 100% setahun)
d. Hiperinflasi (diatas 100% setahun)

1. Berdasarkan asal dari inflasi


a. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation)
Inflasi dari dalam negeri timbul misalnya karena deficit anggaran belanja yang di
biayai dengan pencetakan uang baru, panenan gagal dan sebagainya.
b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)
Inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga
(yaitu:inflasi) di luar negeri atau di negara-negara langganan berdagang kita. Bila
harga barang-barang ekspor seperti kopi teh minyak kelapa sawit naik, maka
indeks biaya hidup akan naik pula sebab barang-barang tersebut langsung masuk
dalam daftar barang-barang yang tercakup dalam indeks harga.
Bila harga barang-barang ekspor (seperti, kayu, karet, timah, dan sebagainya)
naik, maka biaya produksi dari barang-barang yang menggunakan barang-barang
tersebut dalam proses produksinya (perumahan, sepatu, kaleng, dan sebagainya)
akan naik, dan harganya akan naik pula (cost inflation)
Kenaikan harga barang-barang ekspor berarti kenaikan penghasilan eksportir.
Kenaikan penghasilan ini akan dibelanjakan untuk membeli barang-barang, baik
dari dalam negeri maupun luar negeri. Bila jumlah barang yang tersedia di pasar
tidak bertambah, akibatnya harga-harga barang lain akan naik pula (demand
inflation).
2. Berdasarkan penyebab dari inflasi
Berdasarkan penyebabnya inflasi dapat digolongkan kedalam dua garis besar yaitu :
a. Deman inflation/inflasi permintaan
Inflasi ini timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai macam barang
terlalu kuat.
Page | 16
b. Cost inflation/inflasi penawaran
inflasi ini timbul karena kenaikan biaya produksi atau berkurangnya penawaran
agregatif. Inflasi permintaan ini disebabkan oleh permintaan masyarakat akan
barang-barang (aggregate demand) bertambah mislanya, karena bertambahnya
pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang, atau kenaikan
permintaan luar negeri akan barang-barang ekspor, atau bertambahnya
pengeluaran investasi swasta karena kredit yang murah, maka kurva aggregate
demand bergeser dari D1 ke D2. Akibatnya tingkat harga umum naik dari H1 ke
H2.
Inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi, yaitu karena kenaikan
harga sarana produksi yang didatangkan dari luar negeri, atau karena kenaikan
bahan bakar minyak maka kurva penawaran masyarakat (aggregate supply)
bergeser dari S1 ke S2 perbedaan dari kedua macam inflasi ini adalah:
1. Perbedaan dalam hal akibat dari kedua macam inflasi tersebut, dari segi volume
output, karena dari segi harga output tidak berbeda. Dalam kasus demand inflation,
biasanya ada kecenderungan outpunya (GDP real) menaik Bersama-sama dengan
kenaikan harga umum. Besar kecilnya kenaikan output ini tergantung pada elastisitas
kurva aggregate supplay, semakin mendekati output maksimum semakin tidak elastis
kurva tersebut.
Sebaliknya dalam kasus cost inflation biasanya kenaikan harga-harga Bersama dengan
penerunan omzet penjualan barang (kelesuan usaha).
2. Perbedaan dalam hal urutan dari kenaikan harga.
Dalam demand inflation kenaikan harga barang-barang (output) mendahului
kenaikan harga barang-barang input dan harga-harga factor produksi (upah dan
sebagainya)
Sedangkan dalam cost inflation kenaikan harga barang-barang input dan harga-
harga factor produk mendahului kenaikan harga barang-barang akhir (outpu).
Terdapat 3 kemungkinan keadaan:
a. Keadaan pertama, apabila masyarakat tidak (atau belum) mengharapkan harga-harga
unuk naik pada bulan mendatang.
Dalam hal ini, sebagian besar dari penambahan jumlah uang yang beredar akan
diterima masyarakat untuk menambah likwiditasnya (yaitu, memperbesar pos Kas
dalam buku neraca para anggota masyarakat). Ini berarti sebagian besar dari kenaikan
jumlah uang tersebut tidak dibelanjakan untuk pembelian barang. Sehungga tidak aka

Page | 17
nada kenaikan permintaan yang berarti akan barang-barang, jadi tidak ada harga
kenaikan barang-barang.
Dalam keadaan seperti ini kenaikan jumlah uang beredar sebesar 10% diikuti
oleh kenaikan harga-harga sebesar, misalnya 1%. Keadaan ini biasa dijumpai pada
waktu inflasi masih baru mulai dan masyarakat masih belum sadar bahwa inflasi
sedang berlangsung.
b. Keadaan kedua adalah dimana masyarakat atas dasar pengalaman di bulan-bulan
sebelumnya mulai sadar adanya inflasi.
Penambahan jumlah uang yang beredar oleh masyarakat untuk membeli barang-
barang (memperbesar pos aktiva barang-barang didalam neraca).
Kenaikan harga (inflasi) adalah suatu pajak atas saldo kas masyarakat, karena uang
semakin tidak berharga. Dan orang-orang berusaha menghindari pajak ini dengan
mengubah saldo kasnya menjadi barang. Sehingga permintaan akan barang-barang
melonjak, akibatnya harga barang-barang tersebut juga mengalami kenaikkan.
Pada keadaan ini kenaikan jumlah uang sebesar, misalnya 10% akan diikuti
dengan kenaikan harga barang mungkin sebesar 10% pula.
c. Keadaan Ketiga adalah tahap Hiperinflasi
Orang-orang sudah kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata uang. Keadaan
ini ditandai oleh makin cepatnya peredaran uang (velocity of circulation yang
menaik). Uang yang beredar sebesar misalnya 20% akan mengakibatkan kenaikan
harga lebih besar dari 20%.

B. Teori Keynes
Menurut teori ini, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas
kemampuan ekonominya. Proses inflasi menurut pandangan ini adalah proses
perebutan bagian rezeki di antar kelompok-kelompok social yang menginginkan
bagian yang lebih besar dari pada yang bisa disediakan oleh banyak masyarakat.
Proses perebutan ini diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan masyarakat
akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (timbulnya
inflationary gap).
C. Teori Strukturalis
Teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara Amerika Latin.
Teori ini memberi tekanan pada ketegaran (rigidities) dari struktur perekonomian yang
sedang berkembang. Karena inflasi dikaitkan dengan factor-faktor structural dari

Page | 18
perekonomian (factor-faktor ini hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka
Panjang) maka teori ini disebut juga teori inflasi jangka Panjang.

Macam-macam Dampak Inflasi


Dampak inflasi terhadap perekonomian yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada
tingkat kemakmuran masyarakat, berikut ini dampak negatif dari inflasi:
1. Terhadap distribusi pendapatan ada pihak-pihak yang dirugikan, diantaranya:
a. Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti;
pegawai negeri. Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp.
60.000.000 setahun dan laju inflasi 10%. Bila penghasilan Amir tidak
mengalami perubahan, maka ia akan mengalami penerunan pendapatan real
sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000
b. Kerugian akan dialami bagi mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk
uang tunai.
c. Kerugian akan dialami para dikreditur, bila bunga pinjaman yang diberikan
lebih rendah dari inflasi.
Di lain pihak ada yang diuntungkan dengan adanya inflasi:
a. Orang yang presentase pendapatannya melebihi presentase kenaikan inflasi
b. Mereka yang dimiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi dalam
bentuk barang atau emas.

2. Dampak terhadap efisiensi, berpengaruh pada:


a. Proses produksi dalam pengangguran factor produksi menjadi tidak efesiensi
pada saat terjadi inflasi.
b. Perubahan daya beli masyarakat yang berdampak terhadap struktur permintaan
masyarakat terhadap beberapa jenis barang.

3. Dampak inflasi terhadap output (hasil produksi):


a. Inflasi bisa menyebabkan kenaikan produksi. Biasanya dalam keadaan inflasi
kenaikan harga barang akan mendahului kenaikan gaji, hal ini yang
menguntungkan produsen
b. Bila laju inflasi terlalu tinggi akan berakibat turunnya jumlah hasil produksi,
dikarenakan nilai real uang akan turun dan masyarakat tidak senang memiliki
uang tunai, akibatnya pertukaran dilakukan antara barang dengan barang.
4. Dampak inflasi terhadap pengangguran
Page | 19
Suatu negara yang berusaha menghentikan laju inflasi yang tinggi, berarti pada
saat yang sama akan menciptakan pengangguran. Untuk melihat laju inflasi dengan
tingkat pengangguran, dapat diperlihatkan dalam kurva Philips. Kurva Philip adalah
kurva yang menggambarkan hubungan negative antara inflasi dan pengangguran.
a. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka tingkat pengangguran semakin rendah
b. Semakin rendah tingkat inflasi, maka tingkat pengangguran semakin tinggi
c. Pada titik E, tingkat inflasi nol dan pengangguran ada tingkat penggunaan
tenaga kerja penuh (full employment)
d. Pada titik A, tingkat inflasi negatif (deflationary gap), tingkat pengangguran
lebih tinggi
e. Pada titik B, tingkat inflasi positif (inflationary gap), tingkat pengangguran
lebih rendah

Beberapa hal yang berhubungan dengan inflasi:


a. DEFLASI, daya beli uang yang mengalami peningkatan, karena jumlah uang
yang beredar relatif lebih sedikit jumlah barang dan jasa yang tersedia. Tujuan
dari devaluasi adalah untuk meningkat ekspor barang, neraca pembayaran
menjadi surplus.
b. DEFRESIASI, penurunan nilai tukar mata uang terhadap mata uang asing yang
terjadi di pasar uang.
c. APRESIASI, kenaikan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang asing
yang terjadi di pasar uang.
d. INFLASI TERBUKA, keadaan dimana harga-harga bergerak tak terkendali,
serta terdapat kelebihan permintaan terhadap barang.
e. SANERING, pemotongan nilai mata uang yang dilakukan oleh pemerintah
f. REVALUASI, kebijakan pemerintah untuk menaikan nilai mata uang dalam
negeri terhadap valuta asing
g. DEALUASI, kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang dalam
negeri terhadap valuta asing dengan sengaja. Deflasi dapat diatasi dengan cara
pemerintah menambah pembelanjaan, masyarakat menambah pengeluaran.

Page | 20
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Jadi, semakin banyak kita
memiliki harapan, semakin banyak pula harapan yang mungkin tidak terkabul. Hal
inilah yang menimbulkan masalah ekonomi yaitu kebutuhan manusia tidak ada
batasnya sedangkan alat pemuas kebutuhan sangat terbatas. Setiap orang memiliki
kebutuhan yang berbeda-beda dan selalu mengalami perkembangan baik banyaknya
maupun besarnya. Untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut perlu adanya alat
pemuas kebutuhan baik barang maupun jasa. Barang dan jasa juga mengalami
kelangkaan karena jumlahnya yang sangat sedikit dak tidak sebanding dengan
kebutuhan manusia itu sendiri.
Permasalahan pokok ekonomi saat ini yaitu berkaitan dengan kosumsi, produksi dan
distribusi. Pokok masalahnya adalah bagaimana kehidupan ekonomi berjalan terus
menerus dengan sumber daya alam yang semakin berkurang, sementara pertambahan
penduduk dan kebutuhan masyarakat terus meningkat.

Page | 21
DAFTAR PUSTAKA

http://ilmuekonomi123.blogspot.com/2017/03/masalah-pokok-perekonomian-
indonesia.html
Wiryani, Saripuspita. 2013. Masalah Pokok Perekonomian
Indonesia https://saripuspitawiryani.wordpress.com/2013/07/09/artikel-masalah-
pokok-perekonomian-indonesia/.
Sasrawan, Hedi. 2013. 13 Permasalahan Ekonomi di
Indonesia https://hedisasrawan.blogspot.co.id/2013/02/permasalahan-ekonomi-di-
indonesia.html.
-Noberti, Suwenti. 2015. Makalah Permasalahan Pokok
Ekonomi http://nobertisuwenti27.blogspot.co.id/2015/06/makalah-permasalahan-
pokok-ekonomi.html.

Page | 22
FORMAT REVIEW JURNAL
Nama/NIM 1. Andreas Siahaan (18110458)
2. Divany Aery Loviant (18110315)
3. Ilma Liana (18110037)
4. Ilyas Nur Ramadhan Damanik (
5. Klara Tamba (
6. Vernanda Venturini (18110443)
Tanggal 25 November 2019
Topik Menganalisis Masalah Kemiskinan Dan Pengangguran Di
Indonesia Serta Beberapa Negara ASEAN.

REVIEW JURNAL 1
Penulis Purwanto
Tahun Mei 2005
Judul Menanggulangi Masalah Kemiskinan Dan Pengangguran
Di Indonesia Dalam Perspektif Ekonomi
Jurnal Jurnal Ekonomi & Pendidikan
Vol & Halaman Volume 2 Nomor 3

Landasan Teori Kemiskinan yang melanda perekonomian Indonesia tahun


1997/1998 yang berkepanjangan sampai sekarang telah
berpengaruh terhadap kondisi makro ekonomi secara
signifikan, khususnya terhadap tingkat kesejahteraan
rakyat Indonesia. Pengaruh ini belum bisa teratasi, lebih
diperparah lagi dengan datangnya bencana alam besar
berupa gempa bumi dan gelombang tsunami pada tanggal
26 Desember 2004 yang lalu. Penyesuaian harga/kenaikan
harga semakin memperbesar insiden kemiskinan terutama
akibat kenaikan drastis harga-harga kebutuhan pokok dan
komoditi lainnya. Sedangkan pendapatan masyarakat
rendah sementara harga-harga melambung akibatnya daya
Page | 23
beli masyarakat terseokseok. Secara makro situasi ini juga
dirasakan oleh pelaku-pelaku bisnis, perusahaan banyak
yang jatuh (bangkrut).
Metode Subyek Pengukuran batas kemiskinan menurut perhitungan Biro
Pusat Statistik (BPS) batas kemiskinan dihitung dari
besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita per bulan
untuk memenuhi kebutuhan hidup (sandang, pangan dan
papan). Kebutuhan makan digunakan ukuran/standar 2100
kalori per hari. Ekuivalensinya menurut BPS sama dengan
pendapatan sekitar Rp350.000,00 per bulan untuk warga
perkotaan dan pendapatan sebesar Rp240.000,00 per bulan
untuk warga pedesaan. Sedangkan perhitungan batas
kemiskinan berdasarkan batasan dari BKKBN
mengumumkan angka kemiskinan dari data keluarga yang
diklasifikasikan menjadi keluarga pra sejahtera dan
keluarga sejahtera I, keduanya harus dikategorikan
sebagai keluarga miskin.
Manipulasi/Rekayasa Berikut ini gambaran menggeliatnya pertumbuhan
Indonesia mulai tahun 1999 menurut Mini Riandini
sebagai berikut. “Meskipun tidak lancar, kegiatan ekonomi
mulai berjalan kembali di tahun 1999 hasilnya mulai
menunjukkan pertumbuhan yang positif, sebesar 0,79%. Di
tahun 2000 inflasi turun menjadi 2,01% dan kurs menguat
pada nilai Rp7.100,00. Kegiatan ekonomi mulai bergerak
lebih cepat, laju pertumbuhan ekonomi menjadi 4,90%. .....
mulai tahun 2001 – 2002 diakui laju pertumbuhan
ekonomi Indonesia mengalami penurunan, namun
penurunan ini disebabkan oleh berbagai kebijakan
pemerintah yang terkait dengan program pengurangan
subsidi di berbagai komoditi misalnya migas, tarif dasar
listrik dan telepon. Pertumbuhan ekonomi pada semester
pertama tahun 2003 bergerak sekitar 3,62% dan
diharapkan pada akhir semester dua pertumbuhan ekonomi
masih bisa dipertahankan pada level 4% seperti
pertumbuhan tahun sebelumnya”.
Instrumen Peneliti tidak menggunakan sebuah metode penelitian
karena peniliti hanya dengan menggunakan sebuah
gambaran dari tingkat kemiskinan dalam pertahun.
Hasil Pada tahun 2003 - 2004 ini memang bila dilihat dari data
BPS, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia belum dapat
mencapai angka 6% dan baru mencapai 3,6%. Tetapi
angka kemiskinan semakin membesar dan benar-benar
belum dapat dipulihkan. Hal ini kita menyadari bahwa
konsentrasi pemerintah baru menggarap infrastruktur
(kebijakan makro). Permasalahan lama belum tuntas masih
diperburuk timbulnya bencana alam gempa bumi di
wilayah Aceh dan Sumatera Utara dengan kekuatan 8,9
S.R. dengan gelombang Tsunaminya semakin
memperburuk keadaan. Tetapi semua ini bukan berarti
bahwa iklim ekonomi di Indonesia sangat buruk untuk
investasi, penciptaan kesempatan kerja dan ataupun
bentukbentuk lain seperti menumbuhkembangkan jiwa
Page | 24
wiraswasta dan lain-lain. Terkait dengan masalah ini para
pemikir ekonomi, khususnya ekonom Indonesia untuk
segera melakukan perubahan/reformasi ekonomi dan
secara maksimal menyumbangkan pendapatnya kepada
pemerintah untuk meminimumkan kesalahan yang telah
terjadi bertahun-tahun sebelum ini. Sekiranya penerapan
Teori Ekonomi Neoklasik Barat tidak saja tidak tepat bagi
negeri ini, tetapi justru telah menjerumuskan ekonomi kita.
Pemikiranpemikiran ekonomi liberal yang materialistik,
egois, dan serakah, kini sangat dominan mengalahkan
pemikiranpemikiran moralistik dan kekeluargaan.
Kekuatan Kelemahan Kekuatan Jurnal :
Peneliti memberikan gambaran yang cukup jelas dalam
tingkat pertumbuhan perekonomian di Indonesia.
Kelemahan Jurnal :
Peneliti tidak menggunakan sebuah metode penelitian serta
bagaimana cara pengambilannya sehingga pembaca sulit
untuk memahami dan menghitung jumlah tingkat
pengangguran yang ada di Indonesia.

REVIEW JURNAL 2
Nama/NIM 1. Andreas Siahaan ( 18110458 )
2. Divany Aery Loviant ( 18110315 )
3. Ilma Liana ( 18110037 )
4. Ilyas Nur Ramadhan Damanik (
5. Klara Tamba (
6. Vernanda Venturini (18110443)
Tanggal 25 November 2019
Topik Menganalisis Masalah Kemiskinan Dan Pengangguran Di
Indonesia Serta Beberapa Negara ASEAN.

Penulis Tafeta Febryani


Sri Kusreni
Tahun Juni 2017
Judul Determinan Pertumbuhan Ekonomi di 4 Negara ASEAN
Jurnal Jurnal Ilmu Ekonomi Terapan
Vol.& Halaman 02(1): 10-20 ISSN 2541-1470

Landasan Teori Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang sangat


penting untuk menilai kinerja suatu perekeonomian
terutama untuk menganalisis hasil dari proses
pembangunan ekonomi di suatu negara ataupun wilayah.
Perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila
produksi barang dan jasa meningkat dari tahun
sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh
mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan
tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat dalam
periode tertentu yang bisa menggambarkan bahwa
perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang
Page | 25
dengan baik. Di setiap negara berkembang pasti ingin
melakukan pembangunan di segala bidang dan diharapkan
dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dapat
menjadi negara maju, serta dapat mewujudkan tujuan
untuk memakmurkan masyarakat dan meratakan
pembagian pendapatan dalam rangka mewujudkan
keadilan. Kawasan ASEAN terdapat 4 negara berkembang
yang mendominasi yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina dan
Thaliand di karenakan di 4 negara tersebut mengikuti
model pembangunan ekonomi yang berorientasi ekspor
seperti yang dijalankan oleh negara Hongkong, Singapura,
Korea Selatan dan Taiwan dan menjadi sasaran para
investor asing yang dapat membantu pertumbuhan
ekonomi di negara-negara tersebut. Di ke 4 negara ini
masing-masing negara berpendapatan rendah hingga
menengah dan sedang merintis untuk menjadi negara
industri baru yang dapat berpontensi menjadi negara maju.
Persamaan pada 4 negara ini mendapakan julukan sebagai
negara agraris dengan sumber daya alam yang melimpah di
masing-masing negara dan memiliki pertumbuhan
penduduk terpesat di kawasan ASEAN yang seharusnya
bisa dimanfaatkan agar bisa membantu pertumbuhan
ekonomi yang lebih baik karena tersedianya jumlah
angkatan kerja yang tinggi, akan tetapi di setiap negara
khususnya di negara berkembang mempunyai
permasalahan pengangguran yang tinggi. Suplai tenaga
kerja terlalu banyak dan tidak diimbangi dengan
penyediaan lapangan kerja.
Metode Subyek Variabel – variabel ini terbagi atas dua jenis variabel yaitu
variabel bebas (Independent variable) dan variabel terikat
(Dependent variable). Dalam penelitian ini, variabel bebas
(Independent variable) yang digunakan adalah
pertumbuhan penduduk, pengangguran dan inflasi
sedangkan variabel terikat (Dependent variable) yang
digunakan adalah pertumbuhan ekonomi di Indonesia,
Malaysia, Filipina, dan Thailand pada tahun 2003 – 2013.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data
yang diperoleh dari Bank dunia melalui World
development indicators (WDI). Penelitian ini
menggunakan data panel yaitu data gabungan dari time
series dan cross section. Data panel dapat diestimasi
dengan tiga metode yaitu, Pooled Least Square (PLS),
Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model
(REM). Penentuan metode yang paling tepat untuk
digunakan dalam model, dapat dilakukan pengujian
pemilihan model terbaik.

Manipulasi/rekayasa Berdasarkan Tabel , dapat diketahui hasil regresi data panel


dengan menggunakan metode Fixed Effect Model (FEM)
pada variabel bebas terhadap variabel terikatnya dengan
signifikansi di level 5% sehingga dapat disimpulkan
variabel pertumbuhan penduduk dan pengangguran
Page | 26
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
dan hanya variabel inflasi berpengaruh tidak signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi di 4 negara ASEAN secara
parsial.

Instrumen Growthit = α + β1 POPit + β2 UNEMPit + β3 INFit + eit


............................................(1)
Dimana:
Growthit = Pertumbuhan Ekonomi (dalam %)
α = Konstanta
POPit = Pertumbuhan Penduduk (dalam %)
UNEMPit = Pengangguran (dalam %)
INFit = Inflasi (dalam %)
β1, β2, β3 = Koefisien regersi variabel bebas
eit = Error term
Hasil Metode estimasi yang digunakan dalam dalam hasil
pengolahan data dengan regresi data panel adalah Pooled
Least Square (PLS), Fixed Effect Model (FEM), dan
Random Effect Model (REM). Penelitian ini menggunakan
satu variabel dependent yaitu pertumbuhan ekonomi dan
tiga variabel independen yaitu pertumbuhan penduduk,
pengangguran dan inflasi.
Kesimpulan : Berdasarkan analisis teori yang telah
dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan uji F-statistik menunjukkan bahwa variabel
pertumbuhan penduduk, pengangguran dan inflasi
berpengaruh signifikan dan terhadap pertumbuhan
ekonomi di 4 negara ASEAN pada tahun 2003-2013.
2. Berdasarkan hasil uji t-statistik menunjukkan bahwa
variabel pertumbuhan penduduk dan pengangguran
berpengaruh negatif dan signifikan di 4 negara ASEAN
pada tahun 20032013, sedangkan inflasi tidak berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di 4 negara
ASEAN pada tahun 2003-2013.
Kekuatan Kelemahan

Page | 27