Anda di halaman 1dari 6

A.

MEKANISME CUCI DARAH

Pada hemodialisis darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan diedarkan


dalam sebuah mesin di luar tubuh, sehingga cara ini memerlukan jalan keluar-masuk
aliran darah. Untuk itu dibuat jalur buatan di antara pembuluh arteri dan vena atau
disebut fistula arteriovenosa melalui pembedahan. Lalu dengan selang darah dari
fistula, darah dialirkan dan dipompa ke dalam mesin dialisis. Untuk mencegah
pembekuan darah selama proses pencucian, maka diberikan obat antibeku yaitu
Heparin. Sebenarnya proses pencucian darah dilakukan oleh tabung di luar mesin
yang bernama dialiser. Di dalam dialiser, terjadi proses pencucian, mirip dengan
yang berlangsung di dalam ginjal. Pada dialiser terdapat 2 kompartemen serta
sebuah selaput di tengahnya. Mesin digunakan sebagai pencatat dan pengontrol
aliran darah, suhu, dan tekanan.

Aliran darah masuk ke salah satu kompartemen dialiser. Pada kompartemen


lainnya dialirkan dialisat, yaitu suatu cairan yang memiliki komposisi kimia
menyerupai cairan tubuh normal. Kedua kompartemen dipisahkan oleh selaput
semipermeabel yang mencegah dialisat mengalir secara berlawanan arah. Zat-zat
sampah, zat racun, dan air yang ada dalam darah dapat berpindah melalui selaput
semipermeabel menuju dialisat. Itu karena, selama penyaringan darah, terjadi
peristiwa difusi dan ultrafiltrasi. Ukuran molekul sel-sel dan protein darah lebih besar
dari zat sampah dan racun, sehingga tidak ikut menembus selaput semipermeabel.
Darah yang telah tersaring menjadi bersih dan dikembalikan ke dalam tubuh
penderita. Dialisat yang menjadi kotor karena mengandung zat racun dan sampah,
lalu dialirkan keluar ke penampungan dialisat.

Difusi adalah peristiwa berpindahnya suatu zat dalam campuran, dari bagian
pekat ke bagian yang lebih encer. Difusi dapat terjadi bila ada perbedaan kadar zat
terlarut dalam darah dan dalam dialisat. Dialisat berisi komponen seperti larutan
garam dan glukosa yang dibutuhkan tubuh. Jika tubuh kekurangan zat tersebut saat
proses hemodialisis, maka difusi zat-zat tersebut akan terjadi dari dialisat ke darah.
Ultrafiltrasi merupakan proses berpindahnya air dan zat terlarut karena perbedaan
tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat. Tekanan darah yang lebih tinggi dari
dialisat memaksa air melewati selaput semipermeabel. Air mempunyai molekul
sangat kecil sehingga pergerakan air melewati selaput diikuti juga oleh zat sampah
dengan molekul kecil.
Kedua peristiwa tersebut terjadi secara bersamaan. Setelah proses penyaringan
dalam dialiser selesai, maka akan didapatkan darah yang bersih. Darah itu kemudian
akan dialirkan kembali ke dalam tubuh. Rata-rata tiap orang memerlukan waktu 9
hingga 12 jam dalam seminggu untuk menyaring seluruh darah dalam tubuh. Tapi
biasanya akan dibagi menjadi tiga kali pertemuan selama seminggu, jadi 3 - 5 jam
tiap penyaringan. Tapi hal ini tergantung juga pada tingkat kerusakan ginjalnya.

B. PENYEBAB CUCI DARAH

Salah satu masalah ginjal yang paling sering dialami adalah gagal ginjal. Bila
anda mengalami gagal ginjal, produk racun serta cairan berlebih akan terjebak dan
tidak dapat dikeluarkan dari tubuh anda. Ada 2 tipe gagal ginjal, yaitu akut dan
kronis. Pada gagal ginjal akut, yang perlu diperhatikan adalah menghilangkan
penyebabnya agar ginjal kembali berfungsi dengan baik. Pada gagal ginjal kronis,
berarti ginjal tidak dapat bekerja secara sempurna yang sudah berlangsung lama,
dapat disebabkan karena beberapa penyakit dasar, dengan gejala-gejala tertentu.

Ginjal harus selalu terjaga dari kondisi yang bisa menyebabkan kerusakan
ginjal, seperti darah tinggi (hipertensi), kencing manis (diabetes mellitus), batu
ginjal/saluran kemih, kekurangan cairan berat, obat-obatan yang merusak ginjal, dan
lain sebagainya. Pada pasien dengan kekurangan cairan yang berat maka akan terjadi
penurunan aliran darah ke ginjal. Hal ini menyebabkan ginjal menjadi tidak maksimal
dalam menyaring dan mengeluarkan racun ginjal sehingga akhirnya terjadi
peningkatan ureum dan kreatinin, kemudian diputuskan oleh dokter untuk cuci
darah.

C. CARA MENGHINDARI CUCI DARAH

1. Menjaga kesehatan ginjal


Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan ginjal, yaitu:
Minum air putih dalam jumlah yang cukup, setidaknya 8-10 gelas per hari.
Kemudian sebisa mungkin batasi konsumsi alkohol dan minuman bersoda.
Berhenti merokok. Merokok dan terpapar asap rokok dapat merusak fungsi
berbagai organ dalam tubuh, termasuk ginjal. Tidur dengan cukup. Mencukupi
istirahat dengan tidur 6-8 jam sehari diperlukan agar tubuh dan organ di
dalamnya termasuk ginjal tetap sehat. Jaga agar berat badan tetap ideal. Salah
satunya dengan olahraga atau melakukan aktivitas fisik dengan rutin.
Hindari mengonsumsi obat-obatan di luar dari anjuran dan pengawasan dokter,
terlebih bila obat tersebut dikonsumsi dalam dosis besar atau dalam jangka
panjang.
2. Lakukan pemeriksaan rutin jika memiliki penyakit tertentu.
Hipertensi dan diabetes merupakan penyakit yang sering menyebabkan
komplikasi berupa penyakit ginjal. Jika Anda memiliki penyakit-penyakit tersebut,
Anda dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter, guna memantau
perkembangan kedua penyakit ini dan mencegah penyakit ginjal. Selain itu, saat
mengalami hipertensi dan diabetes, pembatasan jumlah konsumsi makanan yang
mengandung gula dan garam sangat disarankan.
3. Batasi makanan tertentu
Saat seseorang sudah mulai mengalami penurunan fungsi ginjal, untuk mencegah
semakin memburuknya fungsi ginjal, beberapa pilihan makanan berikut
sebaiknya dibatasi:
 Makanan kalengan.
 Ikan asin.
 Alpukat.
 Nasi merah.
 Pisang.
 Produk susu atau yang olahan susu, seperti keju dan yoghurt.
 Daging olahan.
 Roti gandum.

Selain itu, kenali gejala awal penyakit ginjal, seperti jumlah produksi urine yang
sangat sedikit, pembengkakan pada anggota gerak tubuh, dan nyeri pada
punggung bagian bawah. Mengenali berbagai gejala penyakit ginjal ini, dapat
membantu Anda mendapatkan penanganan sedini mungkin.
D. SISTEM PENGOBATAN

Gagal ginjal akut yang masih tergolong ringan bisa disembuhkan melalui
rawat jalan. Sebaliknya, pasien gagal ginjal akut yang tergolong berat harus
menjalani rawat inap. Durasi pengobatan tiap pasien tergantung dari penyebab gagal
ginjal akut dan rentang waktu pemulihan ginjal itu sendiri. Jika dapat menjalani
rawat jalan, maka dokter akan menyarankan pasien gagal ginjal akut untuk:

 Memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.


 Menghentikan obat-obatan yang dapat memicu atau memperparah gagal
ginjal akut.
 Mengobati infeksi yang mendasari terjadinya gagal ginjal akut apabila ada.
 Monitor kadar kreatinin dan elektrolit untuk melihat kesembuhan.
 Berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi atau spesialis ginjal apabila
penyebab gagal ginjal akut tidak jelas, atau apabila terdeteksi adanya
penyebab lain yang lebih serius.

Pasien gagal ginjal akut akan diminta untuk menjalani rawat inap jika mengalami
kondisi sebagai berikut:

 Penyakit yang menyebabkan gagal ginjal akut membutuhkan pengobatan


segera.
 Adanya risiko penyumbatan saluran urine.
 Kondisi pasien memburuk.
 Terdapat komplikasi.
 Pada kondisi gagal ginjal akut yang berat, pasien akan membutuhkan cuci
darah. Cuci darah yang dilakukan pada gagal ginjal akut hanya sementara
sampai fungsi ginjal kembali pulih, kecuali bila kerusakan yang terjadi pada
ginjal bersifat permanen. Beberapa keadaan pada gagal ginjal akut yang
membutuhkan penanganan dengan cuci darah di antaranya adalah
hiperkalemia, penurunan kesadaran, dan perikarditis.
E. PENCEGAHAN

 Konsumsilah makanan yang sehat. Perbanyaklah mengonsumsi buah-buahan


dan sayuran. Hindari mengonsumsi makanan yang banyak mengandung
lemak dan purin, seperti jeroan. Makanan yang tinggi purin dapat
meningkatkan kadar asam urat yang pada akhirnya dapat mengganggu fungsi
ginjal.
 Anda dapat menerapkan diet DASH yang bertujuan untuk mencegah atau
menurunkan tekanan darah bila Anda mengalami hipertensi. Diet DASH
menekankan pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol, untuk
digantikan dengan sumber protein, serat, serat vitamin dan mineral yang
lebih banyak.
 Bila Anda ingin mengonsumsi susu, keju atau produk sejenisnya, pilihlah yang
rendah lemak.
 Batasi asupan garam tidak melebihi 1 sendok teh, gula maksimal 4 sendok
makan, dan lemak maksimal 5 sendok makan.
 Hindarilah faktor-faktor yang dapat mencetuskan munculnya penyakit yang
dapat membuat Anda mudah terkena penyakit ginjal, seperti diabetes dan
hipertensi.
 Cukupi kebutuhan cairan tubuh dengan mengonsumsi cairan yang cukup.
Konsumsilah setidaknya 2 liter air per hari. Ingat, cairan tidak hanya bisa
Anda dapatkan dari minuman saja, namun juga makanan seperti sup dan
sayur serta buah-buahan segar yang mengandung banyak air.
 Bila Anda termasuk aktif berolahraga, cukupi kebutuhan cairan dalam jumlah
yang lebih banyak.
 Lakukan olahraga secara teratur. Olahraga dapat menjaga berat badan anda
stabil dan menurunkan tekanan darah anda.
 Berhati-hatilah dalam mengonsumsi obat-obatan dan suplemen. Beberapa
suplemen mengandung asam amino tinggi yang dapat mengganggu kerja
ginjal. Bila anda ingin mengonsumsi suplemen, konsumsilah sesuai aturan
pakai yang tertera pada kemasan. Pastikan pula obat-obatan yang Anda
minum aman. Terutama bila Anda meminum obat herbal apalagi yang berupa
racikan, pastikan obat tersebut terdaftar di BPOM.
 Hindari rokok karena dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah
dan meningkatkan tekanan darah anda. Tekanan darah yang meningkat
dapat menyebabkan terganggunya fungsi ginjal.
 Hindari stress dengan melakukan hal-hal yang dapat membuat Anda senang,
seperti berolahraga, melakukan yoga, mendengarkan musik atau bahkan
mengobrol dengan teman.
DAFTAR PUSTAKA

Sumber Google:

1. https://www.emc.id/id/care-plus/cuci-darah-bukanlah-hal-menakutkan
2. https://www.alodokter.com/cara-mencegah-penyakit-ginjal-dengan-langkah-
sederhana

Sumber Buku:

1. Seri Asuhan Keperawatan: Klien Gagal Ginjal Kronik Oleh Bayhakki, Tahun 2013, ISBN
9789790442818, Penerbit EGC
2. Toha, Abdul Hamid A. 2010. Ensiklopedia Biokimia & Biologi Molekuler. Universitas
Negeri Malang. Penerbit Buku Kedokteran.
3. Sudoyo, Aryo W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.