Anda di halaman 1dari 21

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SMK NEGERI MOJOAGUNG

KOMPETENSI KEAHLIAN: KIMIA INDUSTRI

Disusun Oleh:

Ilham Pradana Putra Harahap (16030194034)

Pendidikan Kimia 2016

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

2019
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah : SMK Negeri Mojoagung


Kompetensi Keahlian : Kimia Industri
Mata Pelajaran : Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium Kimia
Kelas/Semester : X / Ganjil
Materi Pokok : Instrumentasi dan Pengukuran
Alokasi Waktu : 10 JP×45 menit (2 Pertemuan)

A. Kompetensi Inti (KI)


KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif, dan
menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan
faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan
lingkup kerja Kimia Industri pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks,
berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora
dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah,
dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
KI 4 : Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur
kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang
kerja Kimia Industri. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan
kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja. Menunjukkan
keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung. Menunjukkan
keterampilan mempersepsi, kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir,
menjadikan gerak alami dalam ranah konkret terkait dengan pengembangan dari
yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.
B. Kompetensi Dasar (KD)
3.1. Menerapkan prinsip pemilihan alat berdasarkan ketelitian pengukuran yang
dipersyaratkan.
4.1. Memilih alat ukur sesuai ketelitian yang dipersyaratkan.
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
3.1.1. Menunjukkan alat-alat ukur di laboratorium kimia.
3.1.2. Menggunakan alat ukur yang tepat berdasarkan ketelitian pengukuran yang
dipersyaratkan
4.1.1. Melakukan pengukuran menggunakan alat ukur yang sesuai dan teknik yang
tepat
4.1.2. Menyajikan hasil pengukuran menggunakan alat ukur yang sesuai dan teknik
yang tepat

D. Tujuan Pembelajaran

3.1.1.1. Melalui kegiatan diskusi dan penggalian informasi, peserta didik diharapkan
dapat menunjukkan alat-alat ukur di laboratorium kimia dengan tepat.

3.1.2.1. Melalui kegiatan diskusi dan penggalian informasi, peserta didik diharapkan
dapat menggunakan alat ukur yang tepat berdasarkan ketelitian pengukuran
yang dipersyaratkan
4.1.1.1. Melalui kegiatan praktikum, peserta didik diharapkan dapat melakukan
pengukuran menggunakan alat ukur yang sesuai dan teknik yang tepat
4.1.2.1. Melalui kegiatan praktikum, peserta didik diharapkan dapat Menyajikan hasil
pengukuran menggunakan alat ukur yang sesuai dan teknik yang tepat

E. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran Instrumentasi dan Pengukuran, meliputi:

1. Definisi
2. Standard dan satuan
3. Angka penting dan galat
4. Pembacaan alat ukur
5. Klasifikasi alat ukur
6. Klasifikasi instrumentasi
Materi pembelajaran akan diuraikan lebih lanjut pada lampiran 1

F. Metode Pembelajaran

Pendekatan : Scientific Approach 5M (Mengamati, Menanya, Mengeksplorasikan,


Mengasosiasi, Mengkomunikasikan
Model : Diskusi tipe Buzz Group (pertemuan 1) dan Direct Instruction
(pertemuan 2)
Metode : Demonstrasi, diskusi, tanya jawab

G. Media, Alat dan Sumber Belajar

a.) Media:
- Power point
- Video pembelajaran
b.) Alat :
- LCD - Termometer alkohol dan raksa
- Laptop - Hot plate
- Papan Tulis dan spidol - Pipet volume dan Pipet ukur
- pH meter - Gelas ukur
c.) Sumber belajar:
- Buku ajar peserta didik Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium Kimia SMK
Kompetensi Keahlian Kimia Industri Kelas X
- Lembar Kerja Peserta didik (LKPD)

H. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1 (5 JP x 45 menit)

Kegiatan Alokasi
Langkah Pembelajaran
Pembelajaran Waktu
Pendahuluan - Guru memberikan salam 30 menit
- Peserta didik memimpin doa
- Guru menanyakan kabar peserta didik
- Guru mengecek kehadiran peserta didik
Kegiatan Alokasi
Langkah Pembelajaran
Pembelajaran Waktu
Apersepsi
- Guru menanyakan kepada peserta didik materi
sebelumnya yang telah dipelajari
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran melalui
media power point
Motivasi
- Guru menyajikan fenomena hal-hal yang mirip di
dunia ini guna menggugah semangat belajar peserta
didik tentang instrumentasi dan pengukuran
Kegiatan Inti Fase 1 : Mengklarifikasikan maksud dan establishing set 180
- Guru membagi peserta didik menjadi 4 kelompok. menit
Masing-masing kelompok beranggotakan 4-6
peserta didik yang dibagi untuk membahas
instrumentasi dan pengukuran
- Guru menjelaskan materi mengenai instrumentasi
dan pengukuran secara garis besar (umum).
Fase 2 : Memfokuskan diskusi
- Guru menjelaskan aturan-aturan dasar dalam
pelaksanaan diskusi buzz group. Aturannya sebagai
berikut:
- Tiap-tiap kelompok membahas subtopik yang
terdapat pada materi instrumentasi dan
pengukuran
- Masing-masing anggota dalam tiap kelompok
mencari materi dari subtopik tersebut.
- Salah satu anggota dalam tiap kelompok,
bertugas untuk mencatat ide-ide anggota
kelompoknya (pencatat).
- Diakhir kegiatan diskusi, para notulen dalam
kelompok mempresentasikan hasil ide-ide
anggota kelompoknya dalam kelas besar.
Kegiatan Alokasi
Langkah Pembelajaran
Pembelajaran Waktu
- Peserta didik melakukan diskusi terhadap ide-ide
pokok tentang instrumentasi dan pengukuran.
(menanya, mengeksplorasi).
- Peserta didik menyebutkan ide-ide pokok yang
telah didiskusikan (mengkomunikasikan)
Fase 3 : Mengendalikan diskusi
- Guru memberikan LKPD kepada peserta didik
- Peserta didik mengerjakan LKPD materi
instrumentasi dan pengukuran yang telah
dibagikan. (mengasosiasi)
- Guru memantau dan memperhatikan proses diskusi
peserta didik.
- Guru mengunjungi setiap kelompok untuk
mengetahui adakah kelompok yang memerlukan
bantuan atau mengalami kesulitan untuk
memahami tugasnya.
- Guru memberikan peringatan mengenai batas
waktu dalam menyelesaikan diskusi. Setelah waktu
yang ditentukan telah selesai, hasil diskusi tiap
kelompok dikumpulkan ke guru.
- Tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil
diskusi materi instrumentasi dan pengukuran di
depan kelas. (mengkomunikasikan)
- Guru menanyakan apakah ada perbedaan pendapat
atau konsep dari kelompok lainnya
Fase 4 : Mengakhiri diskusi
- Peserta didik membuat kesimpulan dari hasil yang
sudah dipresentasikan.
- Guru mengakhiri kegiatan diskusi dan meluruskan
kesimpulan diskusi.
Kegiatan Alokasi
Langkah Pembelajaran
Pembelajaran Waktu
Fase 5 : Debriefing
- Guru mereview mengenai materi yang telah
didiskusikan bersama.

Penutup - Peserta didik diberikan kesempatan bertanya 15 menit


mengenai materi instrumentasi dan pengukuran
yang belum jelas. (menanya)
- Guru meminta peserta didik untuk mempelajari
materi selanjutnya
- Guru mengakhiri dengan mengucapkan salam
penutup.

Pertemuan 2 (5 JP x 45 menit)

Kegiatan Alokasi
Langkah Pembelajaran
Pembelajaran Waktu
Pendahuluan Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memberi motivasi 30 menit
- Guru memberi salam dan menanyakan kabar peserta
didik hari ini
- Guru mereview pengetahuan peserta didik tentang
konsep instrumentasi dan pengukuran pada minggu
sebelumnya
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
Kegiatan Inti Fase 2: Menyampaikan pengetahuan dan atau 180
keterampilan menit
- Guru menyampaikan pengetahuan langkah-langkah
penggunaan alat ukur sesuai prosedur
- Guru memberi demonstrasi penggunaan alat ukur dan
peserta didik mengamati apa yang dilakukan
Fase 3: Melakukan latihan terbimbing
- Guru meminta peserta didik menggunakan alat ukur
Kegiatan Alokasi
Langkah Pembelajaran
Pembelajaran Waktu
seperti langkah-langkah seperti yang dicontohkan guru
- Peserta didik menggunakan alat ukur dengan bimbingan
guru
Fase 4: Mengecek pemahaman peserta didik dan dan
memberi umpan balik
- Guru meminta peserta didik mempraktekkan di depan
kelas
- Guru meminta peserta didik yang lain mengecek hasil
pekerjaan peserta didik yang mengerjakan di depan kelas
- Guru memberi umpan balik kepada peserta didik

Penutup Fase 5: Evaluasi 15 menit


- Guru meminta peserta didik menyimpulkan materi
pelajaran hari ini
- Guru menyimpulkan jawaban peserta didik
- Guru memberi tugas lanjutan untuk dikerjakan di
rumah

I. Instrumen Penilaian Hasil Belajar

Aspek yang
Metode/Cara Penilaian Keterangan
Dinilai

Sikap - Peserta didik dinilai sikapnya - Pada pertemuan kali ini


selama proses pembelajaran. menggunakan metode
- Keaktifan peserta didik dalam observasi yang terlampir
bertanya dan menjawab pada pedoman penilaian.
pertanyaan guru.
Pengetahuan - Peserta didik diminta - soal-soal instrumentasi dan
mengerjakan soal-soal latihan pengukuran terlampir pada
(LKPD). LKPD.
- Peserta didik mengikuti
Aspek yang
Metode/Cara Penilaian Keterangan
Dinilai

evaluasi.
Penilaian - Peserta didik dinilai dalam - Soal-soal dan lembar
Diskusi prosesnya berdiskusi penilaian terlampir.
- Peserta didik dinilai dalam
pembagian pengerjaan tugas
selama diskusi.
- Peserta didik dinilai ketepatan
jawabannya dengan teori yang
ada.
Penilaian - Peserta didik dapat - Pada pertemuan kali ini
keterampilan menggunakan alat ukur sesuai menggunakan metode
dengan prosedur dan alat yang observasi yang terlampir
telah disediakan. pada pedoman penilaian.
Instrumen Penilaian Aspek Pengetahuan

No Soal Kunci Jawaban Skor

1 Jelaskan perbedaan Instrumentasi adalah semua piranti (kimia, listrik, 20


instrumentasi dan hidrolik, magnit, mekanik, optik, pneumatik) yang
pengukuran! digunakan untuk : menguji, mengamati,
mengukur, memantau; mengubah,
membangkitkan, mencatat, menera, memelihara,
atau mengemudikan sifat-sifat badani (fisik)
gerakan atau karakteristik lain. Sedangkan
pengukuran adalah kegiatan yang dilakukan
ilmuwan dalam menggunakan instrumen yang ada

2 Sebutkan aturan Aturan angka penting: 20


angka penting!
a. Semua angka bukan nol adalah angka
penting.
b. Angka nol yang terletak di antara dua
angka bukan nol termasuk angka penting
c. Semua angka nol yang terletak pada
deretan akhir dari angkaangka yang ditulis
di belakang koma desimal termasuk angka
penting.
d. Angka-angka nol yang digunakan hanya
untuk tempat titik desimal adalah bukan
angka penting.
e. Bilangan-bilangan puluhan, ratusan,
ribuan, dan seterusnya yang memiliki
angka-angka nol pada deretan akhir harus
dituliskan dalam notasi ilmiah agar jelas
apakah angka-angka nol tersebut adalah
angka penting atau bukan

3 Jelaskan apa yang Perbedaan hasil pengukuran panjang suatu benda 20


dimaksud dengan dengan mistar, jangka sorong dan mikrometer
No Soal Kunci Jawaban Skor

galat! sekrup adalah pada ketidakpastian (uncertainty)


pengukuran tersebut. Pengukuran dengan
mikrometer sekrup memiliki ketidakpastian yang
lebih kecil; ini menghasilkan suatu pengukuran
yang lebih akurat. Ketidakpastian juga disebut
galat (error), karena hal tersebut juga
mengindikasikan selisih maksimum yang mungkin
terjadi antara nilai terukur dan nilai sebenarnya.

4 Sebutkan macam- Macam-macam alat ukur suhu: 20


macam alat ukur
1. Termometer bulb (air raksa atau alkohol)
suhu! (minimal 3)
2. Termometer spring
3. Thermometer non-kontak
5 Jelaskan cara Pembacaan skala ukur volume pada gelas ukur 20
membaca skala ukur yaitu dengan membaca posisi paling bawah dalam
volume pada gelas meniscus cekung suatu larutan.
ukur!

Total 100
Instrumen Penilaian Aspek Keterampilan

Keterampilan

No Nama Memilih Mengoperasi Membaca Menyajikan Jumlah Nilai


alat ukur kan alat ukur skala ukur hasil skor
berdasarkan pada alat pengukuran
keperluan ukur

Keterangan Skor:
Masing-masing kolom diisi dengan kriteria Kriteria Nilai:
 4 = baik sekali A = 80-100 : baik sekali
 3 = baik B = 70-79 : baik
 2 = cukup C = 60-69 : cukup
 1 = kurang D = < 60 : kurang

Keterangan:

B = Jumlah skor yang diperoleh

N= Jumlah skor total


J. Sumber Belajar

Depdiknas. 2013. Buku Teks Bahan Ajar Siswa Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium
Kimia Kelas X Semester 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional

Depdiknas. 2013. Buku Teks Bahan Ajar Siswa Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium
Kimia Kelas X Semester 2. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional

Rahayu, Suparni S. & Purnavita, Sari. 2008. Kimia Industri untuk SMK Jilid 1. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional

Mojoagung, 29 Juli 2019

Guru Mata Pelajaran Mahasiswa PLP Unesa

Erika Anggraini, S.Si Ilham Pradana Putra Harahap

NIP. 19850115 201101 2 016 NIM. 16030194034

Mengetahui,

Kepala SMK Negeri Mojoagung

Drs. Supriyadi, M.Kes

NIP. 19620610 198710 1 004


Lampiran 1

Instrumentasi dan Pengukuran

1. Definisi
a. Instrumentasi
Semua piranti (kimia, listrik, hidrolik, magnit, mekanik, optik, pneumatik) yang
digunakan untuk : menguji, mengamati, mengukur, memantau; mengubah,
membangkitkan, mencatat, menera, memelihara, atau mengemudikan sifat-sifat
badani (fisik) gerakan atau karakteristik lain.
b. Pengukuran
Kegiatan yang dilakukan ilmuwan dalam menggunakan instrumen yang ada
2. Standard an Satuan
a. Standar
Ketika kita mengukur suatu besaran, kita selalu membandingkan-nya terhadap
suatu standard. Jika kita mengatakan panjang sebuah meja 1,5 meter, itu artinya
panjang meja tersebut 1,5 kali panjang suatu batang meteran yang panjangnya
didefinisikan sebagai 1 meter. Standard seperti itu didefinisikan sebagai satuan
(unit) besaran. Meter adalah satuan jarak, sekon satuan waktu dan sebagainya.
b. Satuan
Untuk membuat pengukuran yang akurat, kita membutuhkan satuan pengukuran
yang tidak berubah dan dapat diduplikasi oleh pengamat (pengukur) di berbagai
tempat. Sistem satuan yang digunakan oleh para ilmuwan dan insinyur di seluruh
dunia disebut “sistem metrik” yang sejak tahun 1960 disebut sebagai Sistem
Internasional (International System) atau SI (singkatan diambil dari bahasa
Perancis, Systeme International).
3. Angka Penting dan Galat
a. Angka Penting
Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran,
yang terdiri dari angka eksak dan satu angka terakhir yang ditaksir (atau diragukan).
Misal pada hasil pengukuran mistar dinyatakan dalam bilangan penting yang
mengandung 4 angka penting : 114,5 mm. Tiga angka pertama, yaitu: 1, 1, dan 4
adalah angka eksak karena dapat dibaca pada skala, sedang satu angka terakhir, yaitu
5 adalah angka taksiran karena angka ini tidak bisa dibaca pada skala, tetapi hanya
ditaksir. Bilangan penting diperoleh dari kegiatan mengukur, sedangkan bilangan
eksak diperoleh dari kegiatan membilang. Hasil perkalian atau pembagian antara
bilangan penting dengan bilangan eksak hanya boleh memiliki angka penting
sebanyak bilangan pentingnya. Angka lebih kecil dari sama dengan 4 ditiadakan
dalam pembulatan, sehingga angka sebelumnya tidak berubah. Angka lebih besar
sama dengan 5 dibulatkan ke atas, sehingga angka sebelumnya bertambah dengan
satu. Banyak angka penting dalam hasil perkalian atau pembagian bilangan-bilangan
penting sama dengan banyak angka penting dari bilangan penting yang memiliki
angka penting paling sedikit. Hasil penjumlahan atau pengurangan bilangan-bilangan
penting hanya boleh mengandung satu angka taksiran. Hasil memangkatkan atau
menarik akar suatu bilangan penting hanya boleh memiliki angka penting sebanyak
angka penting dari bilangan penting yang dipangkatkan atau ditarik akarnya.
Aturan angka penting:
1) Semua angka bukan nol adalah angka penting.
2) Angka nol yang terletak di antara dua angka bukan nol termasuk angka
penting
3) Semua angka nol yang terletak pada deretan akhir dari angkaangka yang
ditulis di belakang koma desimal termasuk angka penting.
4) Angka-angka nol yang digunakan hanya untuk tempat titik desimal adalah
bukan angka penting.
5) Bilangan-bilangan puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya yang memiliki
angka-angka nol pada deretan akhir harus dituliskan dalam notasi ilmiah
agar jelas apakah angka-angka nol tersebut adalah angka penting atau
bukan
b. Galat
Perbedaan hasil pengukuran panjang suatu benda dengan mistar, jangka
sorong dan mikrometer sekrup adalah pada ketidakpastian (uncertainty)
pengukuran tersebut. Pengukuran dengan mikrometer sekrup memiliki
ketidakpastian yang lebih kecil; ini menghasilkan suatu pengukuran yang lebih
akurat. Ketidakpastian juga disebut galat (error), karena hal tersebut juga
mengindikasikan selisih maksimum yang mungkin terjadi antara nilai terukur dan
nilai sebenarnya.
Dalam mengindikasikan akurasi nilai terukur yaitu, seberapa dekat nilai
terukur itu terhadap nilai sebenarnya dengan menuliskan bilangan diikuti simbol ±
dan bilangan kedua yang menyatakan ketidakpastian pengukuran. Misalnya
diameter sebuah silinder dituliskan 54,56 ± 0,02 mm, ini berarti nilai sebenarnya
tidak mungkin kurang dari 54,54 mm atau lebih dari 54,58 mm. Selain dengan
cara tersebut, akurasi juga dapat dinyatakan dengan galat fraksional atau galat
persen. Untuk diameter silinder seperti contoh di atas fraksi kesalahannya adalah
(0,02 mm) / (54,56 mm) atau sekitar 0,0004; persen kesalahannya sekitar 0,04%.
4. Pembacaan skala ukur

Gambar 1. Pembacaan skala ukur pada gelas ukur


Salah satu alat ukur volume yaitu gelas ukur. Gelas ukur terdiri dari berbagai
macam ukuran sesuai dengan volume yang dibutuhkan. Terdapat gelas ukur 10 mL,
gelas ukur 20 mL, gelas ukur 25 mL, gelas ukur 50 mL, dan gelas ukur 100 mL. Cara
membaca volume pada gelas ukur yaitu dengan posisi mata sejajar dengan batas
meniscus bawah volume larutan pada gelas ukur. Dengan posisi tersebut, dapat
dihasilkan pengukuran yang benar dan akurat.
5. Klasifikasi Alat Ukur
a. Alat ukur suhu
Terdapat berbagai macam alat pengukur suhu, yaitu:
1) Termometer bulb (air raksa atau alkohol)
dengan ciri kasnya sebagai berikut:
- Menggunakan gelembung besar (bulb) pada ujung bawah tempat
menampung cairan, dan tabung sempit (lubang kapiler) untuk
menekankan perubahan volume atau tempat pemuaian cairan.
- Berdasar pada prinsip suatu cairan, volumenya berubah sesuai
temperatur. Cairan yang diisikan terkadang alkohol yang berwarna
tetapi juga bisa cairan metalik yang disebut merkuri, keduanya memuai
bila dipanaskan dan menyusut bila didinginkan
- Ada nomor disepanjang tube gelas yang menjadi tanda besaran
temperatur
- Termometer bulb tidak memerlukan alat bantu, relatif murah, tidak
mudah terkontaminasi bahan kimia sehingga cocok untuk laboratorium
kimia, konduktivitas panas rendah. Akan tetapi termometer bulb
mudah pecah
- Dalam penggunaannya, bulb harus dilindungi terhadap benturan dan
menghindari pengukuran yang melebihi skala termometer.
2) Termometer spring
Menggunakan sebuah coil (pelat pipih) yang terbuat dari logam yang
sensitif terhadap panas, pada ujung spring terdapat pointer. Bila udara panas,
coil (logam) mengembang sehingga pointer bergerak naik, sedangkan bila
udara dingin logam mengkerut dan pointer bergerak turun. Secara umum
termometer ini paling rendah keakuratannya di banding termometer bulb dan
digital.
Penggunaan termometer spring harus selalu melindungi pipa kapiler
dan ujung sensor (probe) terhadap benturan/gesekan. Selain itu, pemakaiannya
tidak boleh melebihi suhu skala dan harus diletakkan di tempat yang tidak
terpengaruh getaran.
3) Termometer non-kontak atau thermometer inframerah
Termometer non-kontak atau termometer inframerah dapat mengukur
suhu tanpa kontak fisik antara termometer dan obyek di mana suhu diukur.
Termometer ditujukan pada permukaan obyek dan secara langsung
memberikan pembacaan suhu. Alat ini sangat berguna untuk pengukuran di
tungku atau suhu permukaan dan lain sebagainya. Termometer infra merah
dapat digunakan untuk mengukur suhu dimana sensor konvensional tidak
dapat digunakan atau tidak dapat menunjukkan pembacaan yang akurat.
Prinsip dasar termometer infra merah adalah bahwa semua obyek
memancarkan energi infra merah. Semakin panas suatu benda, maka
molekulnya semakin aktif dan semakin banyak energi infra merah yang
dipancarkan. Termometer infra merah terdiri dari sebuah lensa yang focus
mengumpulkan energi infra merah dari obyek ke alat pendeteks/detektor.
Detektor akan mengkonversi energi menjadi sebuah sinyal listrik, yang
menguatkan dan melemahkan dan ditampilkan dalam unit suhu setelah
dikoreksi terhadap variasi suhu ambien.
b. Alat ukur tekanan
Terdapat berbagai macam alat pengukur tekanan, yaitu:
1) Manometer
Manometer adalah alat yang digunakan secara luas pada audit energi
untuk mengukur perbedaan tekanan di dua titik yang berlawanan. Jenis
manometer tertua adalah manometer kolom cairan. Versi manometer
sederhana kolom cairan adalah bentuk pipa U (lihat Gambar 4-4) yang diisi
cairan setengahnya (biasanya berisi minyak, air atau air raksa) dimana
pengukuran dilakukan pada satu sisi pipa, sementara tekanan (yang mungkin
terjadi karena atmosfir) diterapkan pada tabung yang lainnya. Perbedaan
ketinggian cairan memperlihatkan tekanan yang diterapkan.
2) Tabung Bourdon
Tabung Bourdon merupakan alat ukur yang banyak digunakan karena
mempunyai daerah pengukuran cukup besar (0 sampai 700 atmosfir) dan
harganya cukup murah. Tabung Bourdon terbuat dari paduan logam yang
dipasang melengkung membentuk huruf C. Tabung yang berpenampang tipis
tersebut oleh pengaruh tekanan akan mengembang dan bergerak ke arah luar.
Untuk tekanan sampai 600 psi bahan tabung terbuat dari perunggu (bronze),
tekanan sampai dengan 10.000 psi terbuat dari paduan berilyum-tembaga
sedangkan untuk pengukuran tekanan 10.000 psi atau lebih digunakan baja tak
berkarat (stainlesssteel) maupun paduannya.
c. Alat ukur volume
Terdapat berbagai macam alat pengukur volume, yaitu:
1) Pipet gondok
Hanya pipet gondok yang terbuat dari gelas dan telah dikalibrasi
(volumenya) yang digunakan sebelum menggunakan pipet, kita harus yakin
bahwa ujung pipet tidak rusak/retak/patah. Untuk mengisi atau menarik cairan
kedalam pipet, gunakan alat bantu yaitu “pipette filler” “jangan sekali-kali
menghisap cairan kedalam pipet dengan mulut, demi keamanan”. Pada saat
cairan dikeluarkan, posisi pipet harus berdiri tegak, untuk membiarkan cairan
mengalir bebas. Ada durasi (lamanya) untuk mengalirkan cairan keluar pipet
yang tercantum pada pipet, hal ini harus dilakukan setelah cairan keluar dari
pipet. Cairan yang sangat kental jangan diukur dengan pipet. Pada kasus ini
volume harus ditentukan dengan ditimbang (gravimetri) dan dihitung dengan
menggunakan densitas cairan yang akan diukur.
2) Gelas ukur
Gelas ukur dikalibrasi berdasarkan cairan yang diisikan kedalam gelas
ukur. Oleh karena itu gelas ukur cocok untuk pengukuran secara kuantitatif,
terutama gelas ukur dibawah 100 mL. Hanya gelas ukur yang terbuat dari
gelas yang digunakan didalam laboratorium analisa organik. Pengukuran
volume gelas ukur dapat dilakukan dengan cara penimbangan dan dihitung
dengan menggunakan densitas cairan yang diisikan kedalamnya.
3) Labu ukur
Hanya labu ukur yang terbuat dari gelas atau plastik / PVC yang
mempunyai ketegasan sudah disertifikasi.
d. Alat Ukur Sifat Kimia
Terdapat berbagai macam alat pengukur sifat kimia, yaitu:
1) pH meter
Salah satu pengukuran yang sangat penting dalam berbagai cairan
proses (industri, farmasi, manufaktur, produksi makanan dan sebagainya)
adalah pH, yaitu pengukuran ion hidrogen dalam suatu larutan. Larutan
dengan harga pH rendah dinamakan ”asam” sedangkan yang harga pH-nya
tinggi dinamakan ”basa”. Skala pH terentang dari 0 (asam kuat) sampai 14
(basa kuat) dengan 7 adalah harga tengah mewakili air murni (netral).
pH larutan dapat diukur dengan beberapa cara. Secara kualitatif pH
dapat diperkirakan dengan kertas Lakmus (Litmus) atau suatu indikator (kertas
indikator pH). Seraca kuantitatif pengukuran pH dapat digunakan elektroda
potensiometrik. Elektroda ini memonitor perubahan voltase yang disebabkan
oleh perubahan aktifitas ion hidrogen (H+) dalam larutan. Elektroda
potensiometrik sederhana untuk tipe ini.
2) Alat ukur BOD dan COD
BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau KOB (kebutuhan oksigen
biokimiawi) adalah suatu pernyataan untuk menyatakan jumlah oksigen yang
diperlukan untuk degradasi biologis dari senyawa organik dalam suatu sampel.
Pengukuran BOD dengan sendirinya digunakan sebagai dasar untuk
mendeteksi kemampuan senyawa organik dapat didegradasi (diurai) secara
biologis dalam air. Perbedaan antara BOD dan COD (Chemical Oxygen
Demand) adalah bahwa COD menunjukkan senyawa organik yang tidak dapat
didegradasi secara biologis. Secara analitis BOD (biochemical oxygen
demand) adalah jumlah mg oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan zat
organik secara biokimiawi dalam 1 liter air selama pengeraman 5 x 24 jam
pada suhu 20℃. Sedangkan COD (chemical oxygen demand) atau KOK
(kebutuhan oksigen kimiawi) adalah jumlah (mg) oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasikan zat organik dalam 1 liter air dengan menggunakan
oksidator kalium dikromat selama 2 jam pada suhu 150℃. Pengukuran
BOD dan COD merupakan pengukuran yang penting untuk memantau kualitas
buangan limbah cair dari industri dan rumah tangga.
6. Klasifikasi instrumentasi
Instrumentasi adalah alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk
pengukuran dan pengendalian dalam suatu sistem yang lebih besar dan lebih
kompleks. Secara umum instrumentasi mempunyai 3 fungsi utama:
- sebagai alat pengukuran
- sebagai alat analisa
- sebagai alat kendali
Instrumentasi sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi survey/ statistik,
instrumentasi pengukuran suhu dan lain-lain. Instrumentasi sebagai alat analisa
banyak dijumpai di bidang kimia dan kedokteran. Sedangkan instrumentasi sebagai
alat kendali banyak ditemukan dalam bidang elektronika, industri dan pabrik-pabrik.
Sistem pengukuran, analisa dan kendali dalam instrumentasi ini bisa dilakukan secara
manual (hasilnya dibaca dan ditulis tangan), tetapi bisa juga dilakukan secara otomatis
dengan mengunakan komputer (sirkuit elektronik). Untuk jenis yang kedua ini,
instrumentasi tidak bisa dipisahkan dengan bidang elektronika dan instrumentasi itu
sendiri.
Instrumentasi sebagai alat pengukur sering kali merupakan bagian awal dari
bagian-bagian selanjutnya (bagian kendalinya), dan bisa berupa pengukur dari semua
jenis besaran fisis, kimia, mekanis, maupun besaran listrik. Beberapa contoh di
antaranya adalah pengukur: massa, waktu, panjang, luas, sudut, suhu, kelembaban,
tekanan, aliran, pH (keasaman), level, radiasi, suara, cahaya, kecepatan, torque, sifat
listrik (arus listrik, tegangan listrik, tahanan listrik), viskositas, densiti, dll.

Anda mungkin juga menyukai