Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI MENGGUNAKAN MEDIA ANIMASI

TERHADAP PEMAHAMAN ETIKA BATUK PADA PENDERITA TB PARU

Novi Ratna Sari1, Ana Zakiyah2, Enny Virda Yuniarti3.

1
Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto
2
Dosen Keperawatan STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto
3
Dosen Keperawatan STIKes Bina Sehat PPNI Mojokerto

Email :
1
noviratna664@gmail.com
2
ana_ppni@yahoo.com

ABSTRAK
Penderita tuberculosis pada waktu batuk atau bersin dapat menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk percikan dahak, sekali penderita batuk dapat menghsilkan sekitar 3000 percikan dahak
yang mengandung kuman sebanyak 0 – 3500 mycobacterium tuberculosis sedangkan jika bersin dapat
mengeluarkan sebanyak 4500 – 1.000.000 mycobacterium tuberkulosis. Dengan demikian terjadi
perilaku yang kurang baik dikarenakan pengetahuan masyarakat masih rendah dalam mengetahui
pencegahan dan penularan tuberkulosis, sehingga semua penderita tuberculosis dengan gejala batuk
harus diberikan edukasi tentang pencegahan dan pengendalian infeksi untuk menurunkan resiko
penularan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh pemberian edukasi
menggunakan media animasi terhadap pemahaman etika batuk pada penderita TB paru di wilayah
kerja Puskesmas Mojosari. Desain penelitian ini menggunakan eksperimen dengan rancangan One
Group Pretest – Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 30 penderita TB paru di
Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto yang diambil dengan total sampling. Data diambil dengan
menggunakan kuesioner. Data yang sudah terkumpul dilakukan pengolahan data dan dilanjutkan
dengan uji statistik Wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian diketahui bahwa nilai p (0,000) < α
(0,05) artinya H0 di tolak dan H1 diterima, jadi terdapat pengaruh edukasi menggunakan media
animasi terhadap tingkat pemahaman etika batuk pada penderita TB Paru di puskesmas Mojosari
Kabupaten Mojokerto. Dengan menggunakan media animasi dapat mempermudah di terima oleh
responden karena lebih mudah menarik responden untuk melihatnya. Sehingga peningkatan tentang
pemahaman responden etika batuk pada penularan TB Paru dipengaruhi oleh faktor informasi,
pekerjaan dan usia.

Kata Kunci: pemahaman, etika batuk, media animasi, TB paru

PENDAHULUAN menjadi penyebab utama kedua kematian dari


Tuberkulosis adalah suatu penyakit penyakit infeksi setelah HIV. Salah satu tanda
menular yang disebabkan oleh kuman dan gejala TB ini adalah batuk selama 2
mycobaterium tuberculosis yang paling sering minggu dan penularan penyakit ini melalui
menyerang paru-paru. Tuberkulosis dapat udara yaitu dengan inhalasi droplet nuclei
disembuhkan dan dicegah (World Health yang mengandung bakteri mycobacterium
Organization, 2018; Kementerian Kesehatan tuberculosis. Bakteri mycobacterium
RI, 2016). TB masih menjadi masalah tuberculosis dapat menular dari individu yang
kesehatan utama tiap tahun di dunia dan satu ke individu lainnya. Penularan
tuberkulosis melalui udara hanya dapat terjadi berpotensi besar untuk menularkan ke anggota
jika ada mekanisme distribusi, seperti yang lain.
expulsion melalui batuk (Proaño, A. Et al., Pernyataan di atas pada prinsipnya
2017). perlu adanya penanggulangan tuberkulosis
Penderita tuberculosis pada waktu yang diarahkan untuk meningkatkan
batuk atau bersin dapat menyebarkan kuman pencegahan dan pemberantasan tuberkulosis
ke udara dalam bentuk percikan dahak). dengan cara memberikan informasi kepada
Individu dapat terinfeksi jika percikan dahak penderita tuberkulosis tentang pengetahuan
itu terhirup oleh individu dalam saluran yang benar dan komprehensif mengenai
pernafasan sehingga dapat menyebabkan pencegahan penularan tuberkulosis melalui
penyakit tuberkulosis. Dengan demikian pemberian edukasi berupa media animasi
terjadi perilaku yang kurang baik dikarenakan mengenai pengetahuan pencegehan dan
pengetahuan masyarakat masih rendah dalam penularan tuberkulosis, yang pada hakekatnya
mengetahui pencegahan dan penularan merupakan suatu cara untuk membantu
tuberkulosis, sehingga semua penderita individu untuk merubah perilaku yang lebih
tuberculosis dengan gejala batuk harus baik terhadap kesehatan dan kualitas hidup
diberikan edukasi tentang pencegahan dan sebagai upaya penanggulangan tuberkulosis.
pengendalian infeksi untuk menurunkan resiko Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
penularan (Pusat Data Dan Informasi Kesehatan Republik Indonesia No. 67 Tahun
Kementrian Kesehatan RI, 2015). 2016 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
Pencegahan penularan penyakit Berdasarkan masalah dari beberapa
tuberculosis dipengaruhi oleh perilaku fenomena di atas peneliti tertarik untuk
penderita, keluarga dan masayarakat. melakukan penelitian tentang “Pengaruh
Diketahui bahwa ada beberapa keadaan Pemberian Edukasi Menggunakan Media
tuberkulosis yang dapat meningkatkan resiko Animasi Terhadap Pemahaman Etika Batuk
penularan yaitu penderita tidak menerapkan Pada Penderita TB Paru Studi Di Wilayah
etika batuk dengan menutup mulut jika batuk Kerja Puskesmas Mojosari Kabupaten
atau bersin dan membung dahak tidak di Mojokerto”.
tempat terbuka (Marissa,dkk. 2014). Serta
perilaku buruk penderita tuberkulosis dalam METODE PENELITIAN
beretika batuk di karenakan pengetahuan Dalam penelitian ini, desain penelitian
masyarakat masih rendah dalam mengetahui yang di gunakan adalah eksperimen dengan
pencegahan dan penularan tuberkulosis ( rancangan One Group Pretest – Posttest
Sondak, dkk. 2016 ). Design. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas
Berdasarkan hasil studi pendahuluan Mojosari Kabupaten Mojokerto, penelitian
pada tanggal 29 januari 2019 di Puskesmas tentang Pengaruh Pemberian Edukasi
Mojosari kepada 7 penderita TB didapatkan Menggunakan Media Animasi Terhadap
hasil melalui wawancara bahwa 2 orang jika Pemahaman Etika Batuk Pada Penular TB
batuk hanya menutup mulut dengan telapak Paru Dilaksanakan Mulai bulan Desember
tangan dan tidak mencuci tangan, 3 orang jika 2019 – Mei 2019. Variabel dalam penelitian
batuk tidak menutup mulut dan hidung, dan 2 ini yaitu variabel independen dan dependen,
orang hanya menggunakan kerudungnya untuk dimana variabel independen adalah pemberian
menutup mulut, dari 7 pasien tidak ada yang edukasi menggunakan media animasi dan
menggunakan masker saat batuk. Dari data variabel dependen adalah pemahaman etika
dapat disimpulkan bahwa penderita TB di batuk pada penularan TB paru. Populasi dalam
puskesmas tersebut belum memahami tentang penelitian ini adalah penderita TB paru di
beretika batuk yang benar sehingga dapat Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto.
Sampel dalam penelitian ini penderita
tuberkulosis berjumlah 30 penderita di Hasil penelitian yang dilakukan pada
Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto. penderita tuberkulosis sebanyak 30 penderita
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini di Puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto.
adalah kuesioner. Untuk variabel independen Diketahui bahwa 30 responden didapatkan
menggunakan SAP, dan video dan variabel perubahan tingkat pemahaman penderita
dependen menggunakan kuesioner pre dan tentang etika batuk sebelum dilakukan edukasi
post test tindakan penularan TB paru. Setelah menggunakan media animasi hampir seluruh
pengumpulan data dilakukan maka dilakukan responden yang mempunyai pemahaman
pengolahan data dengan editing, coding, kurang sebanyak 29 responden (97 %) dan
scoring tabulating dan analisis data sesudah dilakukan edukasi menggunakan
menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test media animasi hampir seluruh responden yang
hasil p (0,000) < α (0,05) dengan bantuan mempunyai pemahaman cukup sebanyak 22
SPSS IBM 21. responden (73,33 %) dan yang mempunyai
pemahaman baik sebanyak 7 responden (23,33
HASIL PENELITIAN %). Dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan Pengaruh Pemberian Edukasi Menggunakan Media


Animasi Terhadap Pemahaman Etika Batuk Pada Penderita TB Paru

Pemahaman Etika Batuk


No. Kriteria Sebelum Sesudah
Pemahaman Frekuensi (F) Presentase ( % ) Frekuensi (F) Presentase ( % )
1. Baik - - 7 23,33
2. Cukup 1 3 22 73,33
3. Kurang 29 97 1 3,33
Total 30 100 30 100

Hasil uji wilcoxon signed rank test terdapat pengaruh edukasi menggunakan
menggunakan bantuan SPSS versi IBM 21 media animasi terhadap tingkat pemahaman
diketahui bahwa nilai p (0,000) < α (0,05) etika batuk pada penderita TB Paru di
artinya H0 di tolak dan H1 diterima, jadi puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto.

PEMBAHASAN kemampuan masyarakat dalam memelihara


1. Tingkat pemahaman Etika batuk pada dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu
penularan TB Paru sebelum dilakukan untuk mencapai derajat kesehatan yang
Edukasi menggunakan media animasi sempurna, baik fisik, mental dan social, maka
di Puskesmas Mojosari Kabupaten masyarakat harus mampu mengenal dan
Mojokerto mewujudkan aspirasinya, kebutuhnnya, dan
mampu mengubah atau mengatasi lingkungan.
Hasil penelitian yang disajikan pada Bentuk-bentuk alat bantu edukasi kesehatan
table 1 menunjukkan bahwa tingkat ada banyak macamnya salah satunya yaitu
pemahaman penderita tentang etika batuk media animasi. Dalam waktu yang pendek
sebelum dilakukan edukasi dengan pendidikan akan menghasilkan perubahan atau
menggunakan media animasi di Puskesmas meningkatkan pemahaman masyarakat.
Mojosari hampir seluruh responden Pemahaman seseorang akan berpengaruh
mempunyai pemahaman kurang sebanyak kepada perilaku sehingga hasil jangka
sebanyak 29 responden (97%). Edukasi menengah dari edukasi kesehatan
kesehatan adalah proses untuk meningkatkan (Notoadmojo, 2011).
Perilaku negatif pada responden kegiatan. Seseorang yang melakukan banyak
disebabkan karena responden belum mendapat aktivitas akan lebih sering berinteraksi dengan
stimulus atau objek dalam hal ini tentang orang lain dan lingkungan, interaksi ini dapat
perilaku pencegahan TB. Hal ini di perkuat meningkatkan kemungkinan terjadinya
oleh teori Notoadmojo (2011) yang penularan bakteri TB.
mengatakan bahwa setelah seseorang
mengetahui stimulus atau objek kemudian 2. Tingkat Pemahaman Etika Batuk Pada
akan mengadakan penilaian atau pendapat Penularan TB Paru Sesudah Dilakukan
terhadap apa yang diketahuinya proses Edukasi Menggunakan Media Animasi
selanjutnya adalah diharapkan ia mampu Di Puskesmas Mojosari Kabupaten
melaksanakan atau mempraktikkan apa yang Mojokerto
diketahuinya dan disikapinya. Selain itu untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan Hasil penelitian yang disajikan pada
nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat
kondisi yang kemungkinan antara lain adalah pemahaman penderita tentang etika batuk
fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga sesudah dilakukan edukasi menggunakan
diperlukan faktor dukungan (support) dari media animasi di puskesmas Mojosari hampir
pihak lain (Notoadmojo, 2011). seluruh responden mengalami peningkatan dan
Pemahaman tentang etika batuk di mempunyai pemahaman cukup sebanyak 22
pengaruhi oleh banyaknya faktor responden (73,33%) dimana pada kuesioner
mempengaruhi adalah pada pekerjaan dan post test hampir seluruh responden sudah
usia, dalam pekerjaan menunjukkan bahwa cukup memahami tentang beretika batuk yang
dari 30 responden di Puskesmas Mojosari benar. Program media animasi yang di rancang
didapatkan yang paling banyak tidak bekerja / khusus untuk keperluan edukasi perlu
IRT sebanyak 13 responden (43,3%). Jenis mendapat perhatian yang serius agar program
pekerjaan menentukan faktor resiko yang tersebut dapat memenuhi keperlun edukasi.
harus di hadapi setiap individu. Responden Perkembangan program media animasi untuk
yang memiliki perilaku dan pemahaman keperluan edukasi akhir – akhir ini sangat
mencegah yang baik kebanyakan dari menggembirakan baik secara kuantitas
responden yang memiliki pekerjaan maupun kualitas.
dibandingkan dengan yang tidak bekerja Terbentuknya suatu perilaku yang
(Menurut Jaiz Prihadi,2008). Hal ini sesuai baru, terutama pada orang dewasa dimulai
menurut Zuliana (2010) yang mengemukakan pada domain kognitif, dalm arti subyek tahu
bahwa pekerjaan akan mempengaruhi terlebih dahulu terhadap stimulus yng berupa
pemanfaatan pelayanan kesehatan, selain itu materi atau objek diluarnya. Kemudian
pekerjaan seseorang akan mencerminkan menimbulkan pemahaman bau pada subyek
sedikit banyaknya informasi yang diterima, tersebut, dan selanjutnya menimbulkan respon
diantaranya terkait informasi tentang batin dalam bentuk sikap si subyek terhadap
pelayanan kesehatan. Sedangkan untuk usia objek yang diketahui itu. Akhirnya rangsangan
menunjukkan bahwa dari 30 responden di yakni objek yang telah diketahui dan didasari
Puskesmas mojosari didapatkan hamper sepenuhnya akan menimbulkan respons lebih
sebagian Usia > 40 Tahun sebanyak 11 jauh lagi, yaitu berupa tindakan terhadap atau
responden (36,7%). Usia produktif memang sehubungan dengan stimulus yang diterima
rentan terkena infesi bakteri TB paru. Menurut oleh subjek dapat langsung menimbulkan
penelitian Ramalia, dkk. (2016) mengatakan tindakan. Artinya, seseorang dapat bertindak
tingginya kasus pada usia produktif diduga atau berprilaku baru tanpa mengetahui terlebih
disebabkan karena pada usia produktif dahulu terhadap makna stimulus yang
seseorang akan lebih sering melakukan diterimanya (Notoatmodjo, 2011). Dengan
menggunakan media animasi mempermudah TB Paru banyak berkaitan dengan masalah
penyampaian bahan pendidikan atau informasi pengetahuan dan perilaku masyarakat.
serta dapat merangsang sasaran pendidikan Hasil uji wilcoxon signed rank test
untuk menentukan pesan – pesan yang di menggunakan bantuan SPSS versi IBM 21
terima kepada orng lain. Menggunakan media diketahui bahwa nilai p ( 0,000 ) < α (0,05)
animasi juga dapat mendorong keinginan artinya H0 di tolak dan H1 diterima, jadi
orang untuk mengetahui kemudian lebih terdapat pengaruh edukasi menggunakan
mendalami dan akhirnya melakukan dalam media animasi terhadap tingkat pemahaman
kehidupan sehari-hari. etika batuk pada penderita TB Paru di
puskesmas Mojosari Kabupaten Mojokerto.
3. Analisa Pengaruh Pemberian Edukasi Faktor yang mempengaruhi keberhasilan
Menggunakan Media Animasi edukasi menggunakan animasi ini dapat dilihat
Terhadap Pemahaman Etika Batuk dari bagaimana responden memahami dan
Pada Penderita TB Paru Di Puskesmas dapat mengulangi lagi apa yang sudah di
Mojosari. edukasikan oleh peneliti. Hal ini di dapatkan
pada hasil penelitian tingkat pemahaman
Analisa data pada tabel 2 cukup sebanyak 22 responden (73,33%) terjadi
menunjukkan bahwa terdapat perubahan perubahan sebelum dan sesudah dilakukan
tingkat pemahaman penderita tentang beretika edukasi. Namun terdapat 1 responden (3,33%)
batuk yang benar sebelum dilakukan edukasi yang sudah dilakukan edukasi tetapi tidak ada
menggunakan media animasi yang mempunyai perubahan pemahaman tentang etika batuk
pemahaman kurang sebanyak 29 responden yang benar, hal tersebut dikarena usia
(97%). Sedangkan setelah dilakukan edukasi responden sudah tergolong tua yaitu berusia 62
menggunakan media animasi mempunyai tahun sehingga sulitnya menerima informasi
pemahaman cukup sebanyak 22 responden dan sudah gampang lupa. Dengan
(73,33%). Hal ini disebabkan edukasi menggunakan media animasi mempermudah
kesehatan yang diberikan telah pemahaman penyampaian bahan pendidikan/ informasi
responden tentang etika batuk pda penderita serta dapat merangsang sasaran pendidikan
TB Paru, dengan bertambahnya pemahamn untuk menentukan pesan – pesan yang di
responden ini akan mengubah tindakan dari terima kepada orng lain. Menggunakan media
responden dalam hal ini tindakan responden animasi juga dapat mendorong keinginan
dalam pemahaman etika batuk. orang untuk mengetahui kemudian lebih
Hal ini sesuai dengan teori Enjang mendalami dan akhirnya melakukan dalam
2010, semakin rendah pengetahuan penderita kehidupan sehari – hari.
atau keluarganya tentang bahaya penyakit TB
Paru untuk dirinya sendiri, keluargnya ataupun KESIMPULAN
masyarakat, maka semakin besar bahaya Dari hasil analisis dalam penelitian ini
sipenderita sebagai penularan baik di rumah menunjukkan bahwa ada pengaruh edukasi
maupun di masyarakat sekitanya. Sebalinya, menggunakan media animasi terhadap tingkat
pengetahuan yang baik tentang pencegahan pemahaman etika batuk pada penderita TB
penularan TB Paru akan menolong masyarakat Paru di puskesmas Mojosari Kabupaten
dalam menghindarinya. Untuk diperlukan Mojokerto, dengan nilai p (0,000) < α (0,05)
penyuluhan tentang TB paru karena masalah pada hasil uji wilcoxon signed rank test.
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2018).


Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur World Health Organization. (2018). Global
Tahun 2017. Surabaya : Dinas Tuberculosis Report 2018. France :
Kesehatan Provinsi Jawa Timur. World Health Organization 2018.
ISBN 978-92-4-156564-6
Direktorat Jenderal Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. (2016).

Kementerian Kesehatan RI. (2016). Data Dan


Informasi Profil Kesehatan Indonesia
2017. Jakarta : Kementerian
Kesehatan RI.

Marissa, Nelly., Nur, Abidah. (2014).


Gambaran Infeksi Mycobacterium
Tuberculosis Pada Anggota Rumah
Tangga Pasien Tb Paru (Studi Kasus
di Wilayah Kerja Puskesmas Darul
Imarah Kabupaten Aceh Besar).
Media Litbangkes, Vol. 24 No. 2, 89 –
94.

Notoadmodjo, Soekidjo. (2011).


Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta : Rieneka Cipta.

Proaño, Alvaro., Bravard, Marjory A., López,


José W., Lee, Gwenyth O., Bui,
David., Datta, Sumona., . . . Gilman,
Robert H. (2017). Dynamics of Cough
Frequency in Adults Undergoing
Treatment for Pulmonary
Tuberculosis. Clinical Infectious
Diseases. 64 (9), 1174 - 1181.

Pusat Data Dan Informasi Kementrian


Kesehatan RI, (2015). InfoDATIN
Tuberkulosis Temukan Obati Sampai
Sumbuh. ISSN: 2442-7659.

Sondak, Maykel., Porotu’o, John., Homenta,


Heriyannis. (2016). Hasil Diagnostik
Mycobacterium Tuberculosis Dari
Sputum Penderita Batuk ≥ 2 Minggun
Dengan Pewarnaan Ziehl Neelsen Di
Puskesmas Paniki Bawah, Tikala Baru
Dan Wonasa Manado. Jurnal e-
Biomedik (eBm), Vol 4, No 1.