Anda di halaman 1dari 7

LO Skenario 2 Blok 7

“ Ada Apa dengan Dewi ? “

NAMA : Wira Amaz Gahari


STAMBUK : N 101 14 011
KELOMPOK : 5 (Lima)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2015
Soal

1. Dampak Negatif saat bayi menerima ASI hanya 3 bulan ! Apakah aman saat bayi diberikan
makanan lain tapi belum usianya mengonsumsi makanan tambahan ? dan bagaimana dampak
terhadap pertumbuhan dan perkembangannya?

2. Bagaimana perkembangan normal anak sampai umur 1 tahun menurut denver test ?

3. Apa yang dimaksud dengan penyakit bawaan?

4. Dampak hipoksia terhadap bayi baru lahir !

Jawab

1. Dampak negative yang didapatkan bayi yang tidak menerima ASI eksklusif yaitu asupan gizi
dan nutrisi yang diterimanya kurang, walaupun ditutupi dengan asupan gizi dan nutrisi dari susu
formula, hal ini dikarenakan setiap ASI dibuat untuk disesuaikan dengan kebutuhan bayi nya,
ASI dari setiap ibu berbeda, dikarenakan kebutuhan nutrisi dari setiap bayi berbeda, oleh karena
itu, ketika ASI yang diberikan belum tercukupi, kebutuhan gizi dan nutrisi dari anak juga tidak
sesuai, sehingga akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Makanan pendamping sebelum usia
6 bulan dianjurkan untuk tidak diberikan terlebih dahulu dikarenakan nantinya dapat
mengganggu pemberian ASI eksklusif, karena tanpa makanan pendamping pun, dalam usia 6
bulan kebawah, ASI telah mencukupi kebutuhan gizi dari bayi sehingga makanan pendamping
tidak diperlukan. Pertumbuhan dan perkembangan yang dimaksudkan akan terganggu tadi
seperti mempengaruhi kecerdasan anak, tinggi badan anak, dan berat badan anak (obesitas),
makanan pendamping sebelum usia 6 bulan juga dapat menyebabkan pencernaan bayi
bermasalah (diare, susah BAB, dll), makanan pendamping instan juga biasanya mengandung
bahan pengawet kimia yang dapat menyebabkan efek samping bagi tumbuh kembang bayi. Oleh
karena itu diharapkan, dengan pemberian ASI eksklusif manfaat yang didapat dari ASI akan
lebih optimal.

Widjani.2013.ASI Eksklusif Untuk Tumbuh Kembangnya.Erlangga:Jakarta

2. Pada denver II test, anak dengan usia 1 tahun sudah dapat melakukan banyak hal,
sebagaimana terlampir dalam tabel, dan dalam kasus ini dewi mengalami keterlambatan dalam
perkembangannya.

Untuk penilaian dalam denver II test sendiri yaitu :


Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan
melakukan tugas (No Opportunity = NO).
Untuk interpretasi dalam denver II test sendiri yaitu :

Interpretasi dari nilai Denver II

Advanced
Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang
dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)
Normal
Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara
persentil ke-25 dan ke-75
Caution
Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau
diantara persentil ke-75 dan ke-90
Delay
Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis; penolakan
ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan untuk menolak
mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu

Interpretasi tes
Normal
Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan
Suspect
Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan
Untestable
Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih
dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90%

Sitaresmi, Memi Nei. 2015. Skills Training Manual Book Reproductive Health.Skill Laboratory Faculty
of Medicine UGM : Yogyakarta

3. Penyakit bawaan (genetik)

Secara umum, penyakit genetik ini dibawa oleh gen yang memiliki sifat resesif. Dan akan
muncul pada suatu penyakit atau cacat pada keadaan resesif homozigot.

Pada individu dengan keadaan gen yang heterozigot tidak menampakkan kelainan atau penyakit
apapun. Kondisi demikian disebut dengan pembawa sifat (carrier).
Individu yang memiliki sifat carrier ini walaupun menampakkan fenotipe normal, namun bisa
mewariskan sifat negatif pada generasi berikutnya. Pada dasarnya, penyakit bawaan ini ada yang
diturunkan melalui kromosom kelamin atau kromosom tubuh.

Contohnya : Hemofili, Albino, dan lain lain

Kelainan bawaan (Kelainan congenital)

Kelainan bawaan atau kelainan kongenital atau cacat bawaan adalah kelainan dalam
pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan
bawaan dapat dikenali sebelum kelahiran, pada saat kelahiran atau beberapa tahun kemudian
setelah kelahiran. Kelainan bawaan dapat disebabkan oleh keabnormalan genetika, sebab-sebab
alamiah atau faktor-faktor lainnya yang tidak diketahui.

Contohnya : Sindroma Down

Gregory.SL.2006.Overview of Birth Defects.Merck Manual Home Health Handbook

4. DAMPAK HIPOKSIA PERINATAL

Berdasarkan waktunya, jejas yang ditimbulkan oleh kejadian hipoksik iskemik dibagi menjadi
dua yaitu akut dan berkelanjutan. Kerusakan otak yang disebabkan oleh fase akut contohnya
terjadinya ruptur uterus, sering diikuti dengan adanya bradikardia, dan jejas otak yang
ditimbulkan lebih ke arah bagian tengah otak. Sebaliknya jejas otak yang disebabkan proses yang
berkelanjutan akan disertai terdeteksinya perlambatan denyut jantung janin (contohnya
insufisiensi plasenta) lebih banyak menyebabkan jejas otak pada daerah wathershed zone.
Gangguan perkembangan lebih lanjut yang disebabkan oleh jejas akut antara lain cerebral palsy,
athetoid, spastik kuadriplegia, mikrosefal, gangguan kognitif. Kerusakan pada watershed akan
menyebabkan berbagai gangguan kognitif, kerusakan penglihatan. Lamanya waktu terjadinya
hipoksia serta tingkat keparahan gangguan neurologisnya sangat berpengaruh menentukan
dampak hipoksia tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Robertson pada tahun
2002 dengan membandingkan tingkat kemampuan motorik dan kognitif anak usia sekolah
didapatkan anak dengan riwayat HIE stadium 3 memiliki gangguan neurodevelopmental yang
parah dibandingkan dengan HIE stadium 1 dan 2. Hubungan hipoksia, kerusakan otak dan tipe
disabilitas Waktu kejadian Area jejas otak Gangguan disabilitas Acute, near total Sedang
Gangglia basalis Thalamus Atetoid atau CP distonik, gangguan kognitif ringan Berat Korteks
serebral, basal gangglia, thalamus Spastik quadriplegia, mikrosefal, gangguan penglihatan
kortikal Prolong, partial Sedang Area “watershed” Variasi gangguan kognitif, spastik
quadriplegia Berat Patologi kortikal ekstensif Gangguan kognitif berat, mikrosefal, gangguan
kortikal Sumber : Robertson,dkk25 Palsi serebral / cerebral palsy (CP) merupakan dampak
jangka panjang yang seringkali dikhawatirkan terjadi. Gangguan ini merupakan kerusakan
permanen non progresif pada otak yang terjadi sebelum, selama atau setelah lahir, namun
intervensi dini dapat meminimalisasi kelainan neurologis pada penderita CP. Diduga kerusakan
terjadi pada daerah gangglia basalis, thalamus dan area perirolandik akibat hipoksia perinatal
berperan pada terjadinya CP di masa yang akan datang. Palsi serebral / cerebral palsy (CP) tipe
diskinetik lebih sering terlihat pada asfiksia acute near total, pada pemeriksaan magnetic
resonance imagine (MRI) akan terlihat gambaran substansia alba pada korteks perirolandik.
Berdasarkan penelitian Barnet pada tahun 2004 dengan menggunakan Griffith Mental
Development Scales didapatkan anak dengan ensefalopati neonatal sedang berisiko menjadi CP
pada 12 bulan berikutnya dengan persentase 23–82%.30 Disfungsi motorik pada penderita CP
bisa disebabkan primer karena lesi otak yang terjadi, berupa gangguan tonus otot, keseimbangan,
kekuatan otot, dan sensasi, sekunder berupa kontraktur dan deformitas, serta tersier berupa
mekanisme adaptif dan respons terhadap gangguan primer dan sekunder. Anak dengan gangguan
ensefalopati neonatal yang terdiagnosis CP pada usia 12 bulan memiliki prognosis
neurodevelopmental yang buruk, sedangkan pada riwayat ensefalopati neonatal ringan, rata-rata
anak memiliki kemampuan sama dengan teman sebayanya yang lahir tanpa riwayat asfiksia.
Pencegahan atau penanganan yang tepat pada masalah-masalah yang menyertai CP akan
meningkatkan kualitas hidup penderita CP dan keluarganya. Dampak lain yang seringkali
menyertai adalah gangguan kognitif dan tingkah laku seringkali diakibatkan oleh ensefalopati
neonatal. Gangguan kognitif dapat terjadi akibat jejas substansia alba, thalamus, dan gangglia
basalis.9 Gangguan kemampuan kognitif yang seringkali terdeteksi pertama kali adalah
keterlambatan membaca dan berhitung serta mulai tampak pada usia sekolah. Struktur ini terkait
dengan fungsi kognitif seperti ingatan dan perhatian yang merupakan patogenesis terjadinya
gangguan attention deficit hyperactive disorder (ADHD), autisme dan skizofrenia. Berdasarkan
penelitian Badawi, dkk anak dengan riwayat ensefalopati neonatal sedang sampai berat memiliki
risiko berkembang menjadi gangguan tingkah laku autisme. Hal yang memperberat gangguan
neurodevelopmental pada anak dengan riwayat hipoksia adalah adanya gangguan fungsi indra
antara lain penglihatan dan pendengaran. Beberapa hal yang perlu terus dipantau pada anak yang
memiliki risiko hipoksia perinatal antara lain adanya sensori hearing loss pada tahun pertama
serta gangguan penglihatan akibat jejas pada korteks lateral oksipitoparietal bilateral yang
mempengaruhi penglihatan. Tatalaksana yang tepat dengan monitoring ketat akan mencegah
terjadinya kasus ambliopia sekunder di masa yang akan datang dan mengoptimalkan penglihatan.
Hipoksia menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi sel rambut dalam yang dapat mengakibatkan
perubahan pada neuron pendengaran. Menurut satu teori pelepasan spontan pada neuron
pendengaran merupakan hasil dari pelepasan spontan transmiter oleh sel rambut. Dengan adanya
rangsangan suara akan menyebabkan depolarisasi dari sel rambut yang akan mengakibatkan
peningkatan pelepasan transmiter kimia dan loncatan saraf. Pada hipoksia akan terjadi
hiperpolarisasi dari sel rambut yang akan mengakibatkan penurunan jumlah transmiter yang
dilepaskan dan berakibat penurunan dari aktivitas saraf. Dalam penelitian histopatologi tulang
temporal, lesi koklea telah diamati pada bayi dengan asfiksia berat. Hal ini didukung dengan
fakta bahwa amplitudo, masa laten, dan interval gelombang interpeak semua terpengaruh yang
menunjukkan terjadinya kerusakan. Kejadian HIE yang disertai hipertensi pulmonal memberikan
risiko lebih tinggi untuk keterjadian tuli sensorineural, oleh karena itu penting untuk dilakukan
skrining awal pendengaran.

Hansen AR, Soul JS. Perinatal asphyxia and hypoxic ischemic encephalopathy. In: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Hansen AR, Stark AR, editors. Manual of Neonatal Care. 7. Philadelphia:
Lippincott Williams and Witkins; 2012. p. 721-6