Anda di halaman 1dari 7

Migren merupakan gangguan nyeri kepala berulang, serangan berlangsung selama 4-

72 jam dengan karakteristik khas: berlokasi unilateral, nyeri berdenyut (pulsating), intensitas

sedang atau berat, diperberat oleh aktivitas fisik rutin, dan berhubungan dengan mual

dan/atau fotofobia serta fonofobia.

Migrain pada wanita terjadi 3 kali lebih sering dari pada pria, migraine bisa

dikatakan merupakan penyakit kronis yang paling umum terjadi pada wanita. Prevalensi

migraine adalah 18% lebih sering terjadi pada wanita dan 6% terjadi pada pria, awitan

sering terjadi di usia belasan dengan prevalensi puncak pada usia 35-45 tahun. Pemicu

serangan migren akut bersifat multifaktorial, meliputi faktor hormonal (menstruasi, ovulasi,

kontrasepsi oral, penggantian hormon), diet (MSG, alkohol, daging glutamat, aspartam,

cokelat, keju yang sudah lama/basi, tidak makan, puasa, minuman mengandung kafein),

psikologis (stres, kondisi setelah stres/liburan akhir minggu, cemas, takut, depresi),

lingkungan fisik (cahaya menyilaukan, cahaya terang, stimulasi visual, sinar berpendar/

berpijar, bau yang kuat, perubahan cuaca, suara bising, ketinggian, mandi keramas), faktor

yang berkaitan dengan tidur (kurang tidur, terlalu banyak tidur), faktor yang berkaitan

dengan obat-obatan (atenolol, kafein, simetidin, danazol, diklofenak, estrogen, H2-receptor

blockers, histamin, hidralazin, indometasin, nifedipin, nitrofurantoin, nitrogliserin, etinil

estradiol, ranitidin, reserpin), dan faktor lainnya (trauma kepala, latihan fisik, kelelahan ).

Penanganan migraine sebaiknya dilakukan secara holistic yaitu mengenali dan

menghindari faktor pencetus migraine dan melakukan pengobatan. Pengobatan migrain dapat

dilakukan dengan berbagai cara antara lain pengobatan dengan obat anti nyeri (analgetik)

yang berfungsi mengurangi rasa sakit dan dikonsumsi saat timbul serangan migrain,

pengobatan dengan obat pencegahan (preventif) yang berfungsi untuk mengurangi frekuensi

atau mencegah terjadinya migraine sehingga frekuensi migrain berkurang dengan dikonsumsi

secara teratur/dikonsumsi setiap hari. Tidak perlu resep obat dokter bila serangan migren
jarang- jarang dan dengan mudah dihilangkan dengan tidur. Jenis obat yang digunakan pada

kasus di atas adalah golongan NSAID (non-steroidal anti- inflammatory drugs) yaitu Ibu

Profen . Mekanisme kerja obat ini melalui inhibisi sintesa prostaglandin dan menghambat

siklooksigenase-I (COX I) dan siklooksogenase-II (COX II). Namun tidak seperti aspirin

hambatan yang diakibatkan olehnya bersifat reversible. Dalam pengobatan dengan ibuprofen,

terjadi penurunan pelepasan mediator dari granulosit, basofil, dan sel mast. Terjadi penurunan

kepekaan terhadap bradikinin dan histamine, mempengaruhi produksi limfokin dan limfosit

T, melawan vasodilatasi dan menghambat agregasi platelet.

Untuk mencegah serangan migrain, pasien akan disarankan untuk menghindari faktor

pencetus yaitu stress/kecemasan, kurang tidur atau terlalu banyak tidur, kelelahan,

mengkonsumsi obat-obat hormonal (misalnya Pil KB atau obat-obat pengganti estrogen),

diet dengan menghindari makanan seperti MSG, beberapa minuman beralkohol, keju, coklat

dan aspartame. Diet dilakukan selama 1 bulan. Apabila setelah 1 bulan gejala tidak membaik,

berarti modifikasi diet tidak bermanfaat. Apabila makanan menjadi pencetus gejala, maka

jenis makanan tersebut harus di identifikasi dengan cara menambahkan satu jenis makanan

sampai gejala muncul . sebaiknya dibuat dari makanan selama mengidentifikasi makanan apa

yang menjadi pencetus migrain, karena beberapa jenis makanan dapat langsung menimbulkan

gejala (mis. MSG), sementara makanan lain baru menimbulkan gejala setelah 1 hari (coklat,

keju).

Dari segi aspek psikososial keluarga, diperlukan keluarga untuk selalu memotivasi

pasien dengan cara membawa pasien utnuk kontrol kesehatan secara rutin di pelayanan

kesehatan terdekat, mengkonsumsi obat secara rutin, memberikan semangat kepada pasien

dan pihak keluarga bahwa penyakit yang diderita bisa membaik jika pasien dan keluarga

berperan aktif dalam pengobatan dan selalu bersabar untuk kesembuhan, tak lupa juga

memberikan konseling mengenai gaya hidup yang sehat dan menghindari factor pencetus,
selalu menjaga pola makan, menjaga kebersihan tempat tinggal dan lingkungan rumah. Untuk

itu penanggulangan penyakit Migrain itu sendiri tidak cukup dengan pengobatan (kuratif)

dan rehabilitative akan tetapi diperlukan juga promotif dan pencegahan secara aktif

(preventif) sehingga memerlukan dukungan dari semua pihak dan peran aktif dari

masyarakat, terutama adalah pihak keluarga.


LAMPIRAN

Lampiran 1. Rumah Pasien Tampak Depan

Lampiran 2. Halaman Rumah Pasien

Lampiran 3. Jamban di Rumah Pasien


Lampiran 4.Gambar Rumah Pasien Tampak Dalam

Lampiran 5. Kunjungan 1. Mewawancarai Pasien


Lampiran 6. Kunjungan 2. Memberi Penyuluhan

Lampiran 7. Kunjungan 2. Melakukan Pemeriksaan Fisik


Lampiran 8. Kunjungan 3. Evaluasi