Anda di halaman 1dari 37

FARMAKOLOGI

RAHMAWATI RAISING, M.FARM KLIN., APT


FARMAKOLOGI
Farmakologi berasal dari kata pharmacon (obat)
dan logos (ilmu pengetahuan). Farmakologi
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari obat
dan cara kerjanya pada sistem biologis.dengan
kata lain farmakologi adalah ilmu yang memelajari
pengetahuan obat dengan seluruh aspeknya, baik
sifat kimiawi maupun fisikanya, kegiatan fisiologi,
resorbsi, dan nasibnya dalam organisme hidup
Farmakologi terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Farmakokinetik ialah apa yang dialami obat yang
diberikan pada suatu makhluk hidup, yaitu absorbsi
(A), distribusi (D), metabolisme atau biotransformasi
(M), dan ekskresi (E);
2. Farmakodinamik merupakan pengaruh obat
terhadap sel hidup, organ atau makhluk hidup.
OBAT
Obat didefinisikan sebagai senyawa yang digunakan
untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit
atau gangguan, atau menimbulkan kondisi tertentu.
Ilmu khasiat obat ini mencakup beberapa bagian, yaitu
farmakognosi, biofarmasi, farmakokinetika, dan
farmakodinamika, toksikologi, dan farmakoterapi.
Obat-obat yang digunakan pada terapi dapat dibagi dalam empat golongan besar, yaitu obat
farmakodinamik, obat kemoterapetik, obat tradisional dan obat diagnostik.
1. Obat farmakodinamik bekerja meningkatkan atau menghambat fungsi suatu organ. Misalnya,
furosemide sebagai diuretic meningkatkan kerja ginjal dalam produksi urin atau hormone
estrogen pada dosis tertentu dapat menghambat ovulasi dari ovarium.
2. Obat kemoterapetik bekerja terhadap agen penyebab penyakit, seperti bakteri, virus, jamur atau
sel kanker. Obat ini mempunyai sebaiknya memiliki kegiatan farmakodinamika yang sekecil-
kecilnya terhadap organisme tuan rumah dan berkhasiat membunuh sebesar-besarnya terhadap
sebanyak mungkin parasite (cacing, protozoa) dan mikroorganisme (bakteri dan virus). Misalnya,
pirantel pamoat membunuh cacing pada dosis yang aman bagi manusia.
3. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral,
sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah
digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Misalnya, daun kumis kucing, minyak
ikan, ekstrak daun mengkudu, dan lain-lain.
4. Obat diagnostik merupakan obatpembantu untuk melakukan diagnosis (pengenalan penyakit).
Misalnya, dari saluran lambung usus (barium sulfat) dan saluran empedu (natrium miopanoat
dan asam iod organik lainnya).
• kita juga akan menggunakan sebutan obat paten atau spesialit dan
obat generik. Obat paten atau branded generik adalah obat milik
suatu perusahaan dengan nama khas yang dilindungi hukum,
sedangkan nama generik adalah nama resmi suatu obat yang dapat
digunakan di semua negara tanpa melanggar hak paten obat yang
bersangkutan.
Peranan Perawat dalam pemberian obat
Perawat menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan
memperhatikan 7 hal benar dalam pemberian obat, yaitu benar pasien,
obat, dosis, rute pemberian, waktu, dokumentasi dan benar dalam
informasi.
1.Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan
perumusan kebutuhan atau masalah pasien. Untuk menetapkan
kebutuhan terhadap terapi obat dan respon potensial terhadap terapi
obat, perawat mengkaji banyak faktor.
Adapun data hasil pengkajian dapat dikelompokkan ke dalam data
subyektif dan data obyektif.
a.Data subyektif
1.Riwayat kesehatan sekarang
• Perawat mengkaji tentang Gejala-gejalayang dirasakan klien.
2.Pengobatan sekarang
• Perawat mengkaji informasi tentang setiap obat, termasuk kerja, tujuan, dosis normal, rute
pemberian, efek samping, dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan pengawasan obat.
Beberapa sumber harus sering dikonsultasi untuk memperoleh keterangan yang dibutuhkan.
Perawat bertanggung jawab untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang obat yang
diberikan.
a. Dosis, rute, frekuensi, dokter yang meresepkan, jika ada
b. Pengetahuan klien mengenai obat dan efek sampingnya
c. Harapan dan persepsi klien tentang efektivitas obat
d. Kepatuhan klien terhadap aturan dan alasan ketidakpatuhan
e. Alergi dan reaksi terhadap obat
f. Obat yang dibeli sendiri
3. Riwayat kesehatan dahulu, meliputi
a.Riwayat Penyakit dahulu yang pernah diderita pasien
b.Obat yang disimpan dalam pemakaian waktu lampau
c.Obat yang dibeli sendiri /OTC
4.Sikap dan Lingkungan pasien
•Sikap pasien terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungan pada obat.
pasien seringkali tidak mengungkapkan perasaannya tentang obat,khususnya
jika pasien mengalami ketergantungan obat. Untuk mengkaji sikap pasien,
perawat perlu mengobservasi perilaku psien yang mendukung bukti
ketergantungan obat
a.Anggota keluarga
b.Kemampuan menjalankan Activity of Daily Living (ADL)
c.Pola makan, pengaruh budaya pasien
b. Data Obyektif
• Dapat diketahui dengan beberapa cara, diantaranya adalah dengan
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik dan pemeriksaan
laboratorium. Jangan lupa, anda harus memusatkan perhatian pada
gejala-gejala dan organ-organ yang kemungkinan besar terpengaruh
oleh obat.
2.Diagnosa Keperawatan
•Diagnosa keperawatan dibuat berdasarkan hasil pengkajian.
a.Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan :
1)Kurang informasi dan pengalaman
2)Keterbatasan kognitif
3)Tidak mengenal sumber informasi

b.Ketidakpatuhan terhadap terapi obat yang berhubungan dengan :


1)Sumber ekonomi yang terbatas
2)Keyakinan tentang kesehatan
3)Pengaruh budaya
c.Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan :
1)Penurunan kekuatan
2)Nyeri dan ketidaknyamanan

d.Perubahan sensori atau persepsi yang berhubungan dengan :


1) Pandangan kabur

e. Ansietas yang berhubungan dengan


1)Status kesehatan yang berubah
2)Status sosial ekonomi yang berubah
3)Pola interaksi yang berubah
f. Gangguan menelan yang berhubungan dengan :
1)Kerusakan neuromuscular
2)Iritasi rongga mulut
3)Kesadaran yang terbatas

g.Penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif yang berhubungan


dengan :
1)Terapi obat yang kompleks
2)Pengetahuan yang kurang
3. Perencanaan
•Fase perencanaan ditandai dengan penetapan lingkup tujuan, atau hasil yang
diharapkan. Lingkup tujuan yang efektif memenuhi hal berikut ini :
1)Berpusat pada pasien dan dengan jelas menyatakan perubahan yang
diharapkan.
2)Dapat diterima (pasien dan perawat)
3)Realistik dan dapat diukur
4)Dikerjakan bersama
5)Batas waktu jelas
6)Evaluasi jelas
4.Implementasi
•Implementasi meliputi tindakan keperawatan yang perlu untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penyuluhan dan pengajaran
pada fase ini merupakan tanggungjawab perawat. Dalam beberapa
ruang lingkup praktek, pemberian obat dan pengkajian efek obat juga
merupakan tanggung jawab keperawatan yang penting. Selain itu
dalam pemberian obat, perawat harus mampu mencegah resiko
kesalahan dalam pemberian obat.
CARA MENCEGAH KESALAHAN PEMBERIAN OBAT
Untuk mencegah kesalahan dalam pemberian obat kepada
pasien,perawat harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
Kewaspadaan Rasional
Baca label obat dengan teliti Banyak produk yang tersedia dalam kotak, warna, danbentuk yang sama.

Pertanyakan pemberian banyak Kebanyakan dosis terdiri dari satu atau dua tablet atau kapsul atau vial dosis tunggal.
tablet atau vial untuk dosis tunggal Interpretasi yang salah terhadap program obat dapat mengakibatkan pemberiandosis
tinggi berlebihan.

Waspadai obat-obatan Banyak nama obat terdengar sama (misalnya, digoksindandigitoksin, keflex dan keflin,
bernama sama orinase dan ornade)

Cermati angka di Beberapa obat tersedia dalam jumlah seperti dibawah ini :tablet coumadin dalam
belakang koma tablet 2,5 dan 25 mg, Thorazine dalam Spansules (sejenis kapsul) 30 dan 300 mg.
Kewaspadaan Rasional

Pertanyakan peningkatan dosisyang tiba-tiba dan Kebanyakan dosis diprogramkan secara bertahap
berlebihan supayadokter dapat memantau efek terapeutik dan
responsnya.
Ketika suatu obat baru atau obat yang tidak lazim Jika dokter tidak lazim dengan obat tersebut maka
diprogramkan, konsultasikepada sumbernya risiko pemberian dosis yang tidak akurat menjadi besar
Jangan beri obat yang diprogramkan dengan nama Banyak dokter menggunakan nama pendek atau
pendek atau singkatan tidakresmi singkatan tidak resmi untuk obat yang sering
diprogramkan. Apabila perawat atau ahli farmasi tidak
mengenal nama tersebut,obat yang diberikan atau
dikeluarkan bisa salah
Jangan berupaya atau mencobamenguraikan dan Apabila ragu, tanyakan kepada dokter. Kesempatan
mengartikan tulisan yang tidakdapat dibaca terjadinya salah interpretasi besar, kecuali jika perawat
mempertanyakan program obat yang sulit dibaca.
Kenali klien yang memiliki nama akhir sama. Juga minta Seringkali, satu dua orang klien memiliki nama akhir
klien menyebutkan nama lengkapnya. Cermati nama yang sama atau mirip. Label khusus pada kardeks atau
yangtertera pada tanda pengenal buku obat dapat memberi peringatan tentang masalah
yang potensial.
Cermati ekuivalen Saat tergesa-gesa, salah baca
ekuivalen mudah terjadi(contoh,
dibaca miligram, padahal mililiter)
KEAMANAN DALAM PEMBERIAN OBAT MELALUI INJEKSI
• Cedera akibat tusukan jarum pada perawat merupakan masalah yang signifikan
dalam institusi pelayanan kesehatan dewasa ini. Ketika perawat tanpa sengaja
menusuk dirinya sendiri dengan jarum suntik yang sebelumnya masuk dalam
jaringan tubuh klien, perawat beresiko terjangkit sekurang kurangnya 20
patogen potensial. Perawat beresiko terkena cedera akibat tusukan jarum
suntik melalui salah satu dari cara berikut ini,
1. Meleset ketika mencoba kembali menutup jarum dan menusuk tangan anda
yang sebelah.
2. Anda kembali menutup jarum dan jarum menembus tutup itu.
3. Tutup jarum yang sudah dipasang lepas
4. Mencederai diri anda sendiri saat mengumpulkan kotoran yang ternyata berisi
instrumen tajam.
EVALUASI
Beberapa langkah evaluasi untuk menentukan bahwa ada komplikasi yang
terkait dengan rute pemberian obat :
a. Mengobservasi adanya memar, implamasi, nyeri setempat atau
perdarahan di tempat injeksi.
b. Menanyakan klien tentang adanya rasa baal atau rasa kesemutan di
tempat injeksi.
c. Mengkaji adanya gangguan saluran cerna, termasuk mual, muntah, dan
diare pada klien.
d. Menginspeksi tempat IV untuk mengetahui adanya feblitis, termasuk
demam, pembengkakkan dan nyeri tekan setempat
Pengaturan obat di Indonesia
• Di Indonesia obat yang beredar dikelompokkan dalam beberapa kelompok
sebagai berikut :
1.Obat Keras
• Obat golongan ini hanya dapat dibeli dengan resep dokter. Obat golongan ini
dianggap tidak aman atau penyakit yang menjadi indikasi obat tidak mudah
didiagnosis oleh orang awam. Obat golongan ini bertanda dot merah.Contoh
obat keras adalah antibiotika, antihistaminika untuk pemakaian dalam dan
semua obat suntik.
2. Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah atau sintetis, bukan narkotika
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat
yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Contoh
zat psikotropik adalah fenobarbital, diazepam, dan amitriptilin.
3. Obat Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan. Golongan
narkotika penjualannya diawasi secara ketat untuk membatasi
penyalahgunaannya. Obat golongan ini bertanda palang merah. Contoh obat
golongan narkotika adalah kodein yang juga dapat menekan batuk.
4. Obat bebas terbatas
Obat ini dapat dibeli di apotek atau di toko obat dan harus dalam bungkusan
aslinya dan tertera penandaan, misalnya “P6 Awas obat keras, hanya untuk
bagian luar dari badan”. Obat golongan ini bertanda dot biru. Contoh obat
bebas terbatas adalah Cenfresh tetes mata.
5.Obat bebas
• Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter dalam bungkusan dari
pabrik yang membuatnya secara eceran. Obat golongan ini bertanda dot hijau. Contoh
obat bebas adalah Panadol tablet, obat batuk hitam.
6.Obat tradisional
• Yakni obat yang mengandung tanaman obat herbal. Ada 3 kategori obat tradisional di
Indonesia, yaitu:
a. Jamu, yaitu obat yang masih berbentuk simplisia.
b. Herbal terstandar, obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang
telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan
bahan bakunya telah di standardisasi.
c. Fitofarmaka, Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan
baku dan produk jadinya telah di standardisasi.
Juga dikenal obat wajib apotek, yaitu obat daftar G yang boleh
diberikan oleh apoteker pada pasien yang sebelumnya telah
mendapatkannya dari dokter, biasanya untuk penggunaan jangka
panjang dan atau kondisi tertentu.
TOKSIKOLOGI
Toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya
(efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan sistem biologik lainnya.
toksikologi dapat juga membahas penilaian kuantitatif tentang berat dan kekerapan efek
tersebut sehubungan dengan terpejannya (exposed).

Apabila zat kimia dikatakan beracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang
berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu
organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di
reseptor “tempat kerja”, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme,
paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan. Sehingga apabila
menggunakan istilah toksik atau toksisitas , maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme
biologi di mana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu
zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan mekanisme
biologi pada suatu organisme.
Racun Dalam Bahan Makanan dan Hewan
• Racun adalah zat atau senyawa yang dapat masuk ke dalam tubuh
dengan berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis
sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan,penyakit, bahkan
kematian.
• Umumnya berbagai bahan kimia yang mempunyai sifat berbahaya
atau bersifat racun, telah diketahui.
• Namun, tidak demikian halnya dengan beberapa jenis hewan dan
tumbuhan, termasuk beberapa jenis tanaman pangan yang ternyata
dapat mengandung racun alami, walaupun dengan kadar yang sangat
rendah.
• Senyawa beracun dalam makanan dapat berasal dari :
1.Senyawa beracun Alamiah
2.Senyawa Beracun Sintetis
3.Senyawa Beracun dari mikroba
1. Senyawa beracun Alamiah
• Berbagai macam bahan makanan baik hewani maupun
nabati, sering kali secara alamiah mengandung senyawa-
senyawa beracun yang dapat menimbulkan keracunan akut
pada umumnya sudah dikenal oleh masyarakat, seperti
singkong (mengandung HCN), cendawan (muskarin), jengkol
(asam jenkolat). Adapun jenis-jenis senyawa beracun
alamiah yaitu sebagai berikut:
1. Kentang
• Racun alami yang dikandung kentang termasuk dalam
golongan glikoalkaloid dengan dua macam racun utama
yaitu solanin dan chaconine. Biasanya racun yang dikandung
oleh kentang berkadar rendah dan tidak menimbulkan efek
yang merugikan bagi manusia.
• Kadar glikoalkoid yang tinggi dapat menimbulkan rasa
seperti terbakar di mulut, sakit perut, mual dan muntah.
2. Bayam
• Sayuran yang satu ini banyak dikonsumsi ibu rumah tangga
karena kandungan gizi yang melimpah. Namun, jika tidak hati-
hati bayam bisa meracuni akibat asam oksalat yang banyak
terkandung dalam bayam. Asam oksalat yang terlalu besar
dapat mengakibatkan defisiensi nutrient, terutama kalsium.
Selain itu, asam oksalat juga merupakan asam kuat sehingga
dapat mengiritasi saluran pencernaan, terutama lambung.
Asam oksalat juga berperan dalam pembentukan batu ginjal.
• Untuk menghindari pengaruh buruk akibat asam oksalat
sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung
senyawa itu terlalu banyak.
3. Singkong
• Singkong mengandung racun linamarin dan lotaustralin, yang keduanya
termasuk golongan glikosida sianogenik. Linamarin terdapat pada semua
bagian tanaman, terutama terakumulasi pada akar dan daun.
• Gejala keracunan sianida, antara lain menyempitan saluran nafas, mual,
muntah, sakit kepala, bahkan pada kasus berat dapat menimbulkan
kematian.Untuk mencegah keracunan singkong, sebelum dikonsumsi
sebaiknya singkong dicuci untuk menghilangkan tanah yang menempel,
dikupas lalu direndam dalam air bersih yang hangat selama beberapa
hari, dicuci lalu dimasak sempurna baik dibakar atau direbus
4. Jengkol dan Petai China
• Didalam biji jengkol terkandung asam jengkolat (Jen-
colid acid).
• Asam jengkolat dapat menyebabkan keracunan yang
ditandai dengan mual dan susah buang air kecil,
karena tersumbatnya saluran kencing. Racun jengkol
dapat dikurangi dengan cara perebusan, perendaman
dengan air, atau membuang mata lembaganya karena
kandungan racun terbesar ada pada bagian ini. Lain
halnya dengan petai cina (Leucaena glauca). Bahan
pangan ini mengandung mimosin, yaitu sejenis racun
yang dapat menjadikan rambut rontok karena
retrogresisi di dalam sel-sel partikel rambut.
2. Senyawa Beracun Sintetis
• Adapun beberapa contoh senyawa beracun sintetis
adalah sebagai berikut:
1. Sakarin (Saccharin)
• Sakarin adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan
sangat manis, kira-kira 550 kali lebih manis dari pada
gula biasa. Oleh karena itu ia sangat populer dipakai
sebagai bahan pengganti gula.
• Food and Drug Administation (FDA) Amerika
menganjurkan untuk membatasi penggunaan sakarin
hanya bagi para penderita kencing manis dan
obesitas. Dosisnya agar tidak melampaui 1 gram
setiap harinya.
2. Monosodium Glutamat (MSG)
• Monosodium glutamat (MSG) atau vetsin adalah penyedap masakan
dan sangat populer di kalangan para ibu rumahtangga, warung nasi
dan rumah makan.
• Pada hewaan percobaan, MSG dapat menyebabkan degenerasi dan
nekrosi sel-sel neuron, degenerasi dan nekrosis sel-sel syaraf lapisan
dalam retina, menyebabkan mutasi sel, mengakibatkan kanker kolon
dan hati, kanker ginjal, kanker otak dan merusak jaringan lemak.
3. Senyawa Beracun dari mikroba
• Terdapat banyak bakteri patogen yang membahayakan kesehatan
manusia, antara lain:
1. Escherichia coli
E. coli merupakan mikroflora alami yang terdapat pada saluran
pencernaan manusia dan hewan.
2. Staphylococcus aureus
• Staphylococcus aureus terdapat pada rongga hidung, kulit,
tenggorokan, dan saluran pencernaan manusia dan hewan
3. Salmonella
• Salmonella bersifat patogen pada manusia dan hewan
lainnya, dan dapat menyebabkan demam enterik dan
gastroentritis.
4. Shigella
• Shigella merupakan bakteri patogen di usus manusia
dan primata penyebab shigella (disentri basher).
Makanan yang sering terkontaminasi Shigella adalah
salad, sayuran segar (mentah), susu dan produk susu,
serta air yang terkontaminasi.
5. Vibrio Cholerae
• Sebagian besar genus Vibrio ditemukan di perairan air
tawar atau air laut, serta merupakan bakteri patogen
dalam budi daya ikan dan udang.
6. Clostridium botulinum
• Clostiridium botulinum merupakan bahaya utama
pada makanan kaleng karena dapat menyebabkan
keracunan botulinin. Tanda-tanda keracunan botulinin
antara lain tenggorokan kaku, mata berkunang-
kunang, dan kejang-kejang yang menyebabkan
kematian karena sukar bernapas.
7. Pseudomonas cocovenenans.
• Senyawa beracun yang dapat diproduksi oleh
Pseudomonas cocovenenans adalah toksoflavin dan
asam bongkrek.
8. Kapang dan khamir
• Kapang dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai
macam makanan dalam kondisi aw, pH, dan suhu
rendah.
• Khamir umumnya diklasifikasi berdasarkan sifat-sifat
fisiologisnya, dan tidak ada perbedaan morfologi
seperti halnya pada kapang.
Proses dan Gejala Keracunan
• Keracunan makanan biasanya terjadi karena masuknya
senyawa-senyawa beracun ke dalam tubuh. Sebagian besar
kasus, racun ikut tertelan ke dalam tubuh bersamaan
dengan makanan yang kita konsumsi. Gejala yang timbul
biasanya ditandai dengan terganggunya sistem pencernaan,
seperti mual, muntah dan kolik pada saluran pernafasan.
Pada jenis keracunan tertentu, yang di serang adalah sistem
syaraf, gejalanya adalah kejang-kejang, otot tegang. Atau
berpengaruh sebaliknya, otot-otot lemas, kurang tenaga
(parese) dan lumpuh (paralysis). Pada tingkat keracunan
kronis, penderita akan mengalami tubuh kejang, pingsan
(coma) dan berakhir dengan kematian. Kasus kematian pada
keracunan makanan biasanya karena hambatan pada
saluran pernafasan atau hambatan kerja jantung karena
fungsi jantung tidak maksimal, akibat dari senyawa toksik
yang ada pada racun bahan pangan.