Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Perkembangan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual PesertaDidik

Dosen Pengampu:

Nurhidayah, M.Pd

Disusun oleh:

1. Chindy Yulia Permatasari Nim: 1811230051


2. RatihPurwanti Nim: 1811230048
3. Yezzie Amelia Nim: 1811230038

FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

TADRIS BAHASA INGGRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU

BENGKULU

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita hanturkan kepada Allah SWT sebab karena
limpahan rahmat serta anugerah dari-Nya kami mampu untuk menyelesaikan
makalah kami denganjudul “Perkembangan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
PesertaDidik” ini. Tanpa pertolongan-Nya tentu kami tidak akan sanggup untuk
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita hanturkan untuk junjungan nabi
agung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjuk
Allah SWT untuk kita semua, yang merupakan sebuah petunjuk yang paling benar
yakni Syariah agama Islam yang sempurna.

Selanjutnya dengan rendah hati kami meminta kritik dan saran dari
pembaca untuk makalah ini supaya selanjutnya dapat kami revisi kembali. Karena
kami menyadari makalah yang telah kami buat masih memiliki banyak
kekurangan.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-sebanyaknya kepada


setiap pihak yang telah mendukung serta membantu kami selama proses
penyelesaian makalah ini hingga rampungnya makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga makalah yang telah


kami buat dapat bermanfaat kepada setiap pembaca. Terima kasih.

Bengkulu, 30 Maret 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1


A. LatarBelakang ................................................................................................1 B.
Rumusan Masalah ........................................................................................... 1 C.
Tujuan Penulisan ............................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 2


A.TeoriPerkembanganPeserta Didik............................................................... 2
B.PerkembanganPsikoPeserta Didik....................................................................
3C. TeoriKognitif Piaget
..........................................................................................5
D.PerkembanganSosialdan Moral PesertaDidik................................................10
E.Perkembangan Spiritual Peserta Didik.............................................................. 13
F.PerkembanganBahasaPesertaDidik...................................................... 14

G.Perkembangan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual Berdasarkan Islam…....16

BAB III PENUTUP............................................................................................... 18


A. Kesimpulan .......................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 19
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalamperspektifpsikologis, pesertadidikadalahindividu yang


sedangberadadalam proses pertumbuhandanperkembangan,
baikfisikmaupunpsikismenurutfitrahnyamasing – masing.Pedidikan,
ditinjaudarisudutpsikososial (kejiwaankemasyarakatan),
adalahupayamenumbuhkembangansumberdayamanusiamelalui proses hubungan
interpersonal (hubunganantarpribadi) yang
berlangsungdalamlingkunganmasyarakat yang terorganisasi,
dalamhalinimasyarakatpendidikandankeluarga.
Sedangkandalammeresponspelajaran di kelasmisalnya,
siswabergantungpadapersepsinyaterhadap guru pengajardanteman-
temansekelasanya.

B. RumusanMasalah

1. ApaPengertianTeoriPerkembanganPesertaDidik?
2. ApasajaPerkembanganPsikoPesertaDidik?
3. ApaPengertianTeoriKognitif Piaget?
4. ApasajaPerkembanganSosialdan Moral PesertaDidik?
5. ApasajaPerkembangan Spiritual PesertaDidik?
6. BagaimanaPerkembanganBahasaPesertaDidik?

7. BagaimanaPerkembangan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
PesertaDidik?

C. Tujuan Pembahasan

1. UntukMengetahuiTeoriPerkembanganPesertaDidik?
2. UntukMengetahuiPerkembanganPsikoPesertaDidik?
3. UntukMengetahuiTeoriKognitif Piaget?
4. UntukMengetahuiPerkembanganSosialdan Moral PesertaDidik?
5. UntukMengetahuiPerkembangan Spiritual PesertaDidik?
6. UntukMengetahuiPerkembanganBahasaPesertaDidik?
7. UntukMengetahuiPerkembangan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
PesertaDidik?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori Perkembangan Peserta Didik

MenurutF.J.Monks, dkk., (2001), pengertian perkembangan menunjuk


pada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat
diulang kembali. Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri
kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap
yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi
pasti, melalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahap berikutnya, yang kian hari kian
bertambah maju, mulai dari masa pembuahan
danberakhirdengankematian.Terdapatbeberapateori yang mempunyai pengaruh
terhadap praktek-praktek pendidikan di sekolah.

1. Teori Nativisme
Menurut teori ini anak sejak lahir telah membawa sifat-sifat dan dasar-
dasar tertentu atau yang biasa dinamakan sifat-sifat pembawaan. Tokoh
utama aliran ini adalah Schopenhauer.
2. Teori Empirisme
Teori Empirisme berpendapat bahwa perkembangan itu tergantung pada
faktor lingkungan. Tokoh utama dari aliran ini adalah John Locke.
3. Teori Konvergensi
Paham Konvergensi yang dirumuskan oleh W. Stern ini berpendapat
bahwa didalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan
maupun lingkungan memainkan peranan penting. 1

Secara garis besar dapat dibedakan beberapa aspek perkembangan, yaitu:


kognitif, sosial, dan afektif yang meliputi emosi, nilai dan moral dan religi. Arden
N. Frandsen mengungkapkan beberapa hal yang mendorong seseorang untuk
belajar yaitu sebagai berikut:

1. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.
2. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk
selalu maju.

1
John W. Santrock, “Psikologipendidikan”,( Jakarta Putra Grafik: Jakarta 2017) hal.44
3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan
teman-teman.
4. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan
usaha yang baru.
5. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai
pelajaran.
6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar
(Frandsen, 2004:237)

B. PerkembanganPsikoPesertaDidik

Proses-proses perkembangan tersebut meliputi:

1. Perkembangan motor (fisik) siswa

Perkembangan motor (motor development), yakni proses perkembangan


yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan
fisik anak (motor skills). Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah
yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot juga
gerakan gerakannya, demikian pula kelenjar-kelenjar juga sekresinya
(pengeluaran cairan/getah). Secara singkat, motor dapat pula dipahami sebagai
segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan
terrhadap kegiatan organ-organ fisik.

Proses perkembangan fisik anak berlangsung kurang lebih selama dua


dekade (dua dasawarsa) sejak ia lahir. Semburan perkembangan (spurt) terjadi
pada masa anak menginjak usia remaja antara 12 atau 13 tahun hingga 21 atau 22
tahun. Pada saat perkembangan berlangsung, beberapa bagian tidak seimbang
(tidak secepat badan dan kaki ), mulai menunjukkan perkembangan yang cukup
berarti hingga bagian-bagian lainnya menjadi matang.2

Bekal apakah yang dibawa anak yang baru lahir sebagai dasar
perkembangan kehidupannya selama di dunia? Menurut Gleitman (1987) ada dua
jawaban pokok untuk pertanyaan ini, yaitu: 1) bekal kapasitas motor (jasmani);
dan 2) bekal kapasitas pancaindera (sensori).

Mula-mula seorang anak yang baru lahir hanya memiliki sedikit sekali
kendali terhadap aktivitas alat-alat jasmaninya. Setelah berusia empat bulan, bayi
itu sudah mulai mampu duduk dengan bantuan sanggaan dan dapat pula meraih
dan menggenggam benda-benda mainannya yang sering hilang dari

2
MuhibbinSyah, “Psikologipendidikan”, (PT remajarosdakaryaofset : Bandung),2018 hal
59
pandangannya. Kini ia telah memiliki “grasp reflex”, yakni gerakan otomatis
untuk menggenggam. Inilah refleks primitif (yang ada sejak dahulu kala) yang
diwariskan nenek moyangnya tanpa perlu dipelajari.

Respons otomatis yang juga dimiliki seorang bayi sebagai bekal dan dasar
perkembangannya ialah “rooting reflex” (refleks dukungan ) yakni gerakan
kepala dan mulut yang otomatis setiap kali pipinya di sentuh , kepalanya akan
berbalik atau bergerak ke arah datangnya rangsangan , lalu mulutnya terbuka dan
terus mencari hingga mencapai puting susu atau puting dot botol susu yang telah
disediakan untuknya . Dua macam refleks di atas, grasp dan rooting reflex
merupakan kapasitas jasmani yang sampai umur kurang lebih lima bulan belum
memerlukan kendali ranah kognitif karena sel-sel otaknya sendiri belum cukup
matang untuk berfungsi sebagai alat pengendali.

Bekal psikologis kedua yang dibawa anak dari Rahim ibunya ialah
kapasitas sensori. Kapasitas sensori seorang bayi lazimnya mulai berlaku
bersama-sama dengan berlakunya refleks-refleks motor tadi, bahkan terkadang
dengan kualitas yang lebih baik. Hal ini terbukti dengan adanya kemampuan
mengatur napas, penyedotan, dan tanda-tanda respons terhadap stimulus lainnya.3

Belajar keterampilan fisik (motor learning) dianggap telah terjadi dalam


diri seorang apabila ia telah memperoleh kemampuan dan keterampilan yang
melibatkan penggunaan lengan (seperti menggambar) dan tungkai (seperti berlari)
secara baik dan benar. Untuk belajar memeroleh kemampuanketerampilan
jasmani ini, ia tidak hanya cukup dengan latihan dan praktik, tetapi juga
memerlukan kegiatan perceptual learning (belajar berdasarkan pengamatan ) atau
kegiatan sensory-motor learning (belajar keterampilan indriawi-jasmani). Dalam
kenyataan sehari-hari, cukup banyak keterampilan indriawi-jasmani yang rumit
dan karenanya memerlukan upaya manipulasi (penggunaan secara cermat),
koordinasi, dan organisasi rangkaian gerakan secara tepat, umpamanya
keterampilan bermain piano.4

Motor skills (kecakapan-kecakapanjasmani) perlu dipelajari melalui


aktifitas pengajaran dan latihan langsung, bisa juga melakukan pengajaran teori-
teori pengetahuan yang bertalian dengan motor skills itu sendiri. Umpamanya

3
MuhibbinSyah, “Psikologipendidikan”, (PT remajarosdakaryaofset : Bandung),2018 hal
60
Muhibbin Syah, “Psikologipendidikan”, (PT remajarosdakaryaofset : Bandung),2018 hal
59
insight (tilikan akal) siswa yang memadai terhadap teknik dan patokan kinerja
yang di perlukan, tak dapat di pandang bernilai dan hanya ibarat orang yang
sedang senam beramai-ramai. Kecuali dua macam bekal bawaan anak seperti yang
telah penyusun kemukakan di atas, apa faktor-faktor lainnya yang mendorong
perkembangan keterampilan fisik anak selanjutnya? Ada empat macam faktor
yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga
memungkinkan campur tangan orangtua dan guru dalam mengarahkannya, yaitu:
1) pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf; 2) pertumbuhan otot-otot; 3)
perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin; dan 4) perubahan
struktur jasmani.5

C. TeoriKognitif Piaget

Jumlahdanukuransaraf otak terus bertambah setidaknya sampai usia


remaja. Beberapa penambahan ukuran otak juga disebabakan oleh myelination,
sebuah proses di mana banyak sel otak dan sistem saraf diselimuti oleh lapisan-
lapisan sel lemak yang bersekat-sekat. Ini menambah kecepatan arus informasi di
dalam sistem saraf. Myelination dalam daerah otak yang berhubungan dengan
koordinasi mata-tangan belum lengkap sampai usia empat tahun. Myelination
dalam area otak yang penting dalam memfokuskan perhatian belum lengkap
sampai akhir usia sekolah dasar (Tanner, 1978).

Aspek penting lain dari perkembangan otak disingkat sel adalah


peningkatan dramatis dalam koneksi antara neuron (sel-sel saraf) (Ramey &
Ramey, 2000). Synapse adalah gap (jarak) tipis antarneuron tempat terbentuknya
koneksi antarneuron. Para peneliti telah menemukan aspek yang menarik dari
koneksi synaptic ini. Koneksi yang dibentuk dua kali lebih banyak ketimbang
koneksi yang di pakai (Huttenlocher, dkk., 1991 ; Huttenlocher & Dabholkar,
1997). Koneksi yang digunakan akan menguat sedangkan yang tidak
dimanfaatkan akan digantikan oleh koneksi lain atau akan lenyap. Artinya, dalam
bahasa neuroscience (ilmu saraf), koneksi-koneksi yang tidak digunakan ini akan
“dipangkas” . 6

Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta


didik yang berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologis yang
berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan
lingkungannya. Istilah “cognitive” berasal dari kata cognition yang padanannya
Knowing, berarti mengetahui. Dalam artian luas, cognition(kognisi) ialah
perolehan, penataan, dan penggunaan (Neisser, 1976). Dalam perkembangan
selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain atau
wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang

5
Psikologi pendidikan Muhibbin Syah, (PT remaja rosdakaryaofset : Bandung 2018)hal64
6
John W. Santrock, “Psikologipendidikan”,( Jakarta Putra Grafik: Jakarta 2017) hal.43
berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat
di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan efeksi (perasaan)
yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972). Perkembangan kognitif
(cognitive development), yakni perkembangan fungsi intelektual atau proses
perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak

Sebagian besar psikolog terutama kognitivis (ahli psikologi kognitif)


berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung
sejak ia lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakni kapasitas
motor dan kapasitas sensori seperti yang telah penyusun uraikan, di muka,
ternyata sampai batas tertentu, juga di pengaruhi oleh aktivitas ranah kognitif.

Persoalanmengenaiusiaberapa hari,berapa minggu, atau berapa bulan


aktivitas ranah kognitif mulai memengaruhi perkembangan manusia, menurut
hemat penyusun memang sulit ditentukan. Namun, yang lebih mendekati
kepastian dan dapat dipedomani ialAh hasil-hasil riset para ahli psikolog kognitif
yang menyimpulkan bahwa aktivitas ranah kognitif manusia itu pada prinsipnya
sudah berlangsung sejak masa bayi, yakni rentang kehidupan antara 0-2 tahun.7

Hasil-hasil riset kognitif yang dilakukan selama kurun waktu sekitar 30


tahun terakhir ini menyimpulkan bahwa semua bayi manusia sudah
berkemampuan menyimpan informasi-informasi yang berasal dari penglihtan,
pendengaran, dan informasi-informasi yang di serap melalui indera-indera
lainnya. Selain itu, bayi juga berkemampuan merespons informasi-informasi
tersebut secara sistematis.

Implikasi pokok dari hasil-hasil riset kognitif di atas menurut Bower


sebagaimana yang dikutip Daehler & Bukatko (1985) ialah bahwa manusia: …
begins life as an extremely competent social organism, an extremely competent
learning organism, an extremely perceiving organism. Artinya bayi manusia
memulai kehidupannya sebagai organisme sosial (makhluk hidup bermasyarakat)
yang betul-betul berkemampuan, sebagai makhluk hidup yang betul-betul
mampu belajar, dan sebagai makhluk hidup betul-betul yang mampu memahami.

Selanjutnya, seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif


dan psikologi anak, Jean Piaget (sebut: Jin Piasye), yang hidup antara tahun 1896
sampai tahun 198, mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi
empat tahapan.

7
MuhibbinSyah, “Psikologipendidikan”, (PT remajarosdakaryaofset : Bandung),2018 hal
65
1. Tahapsensory-motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi
pada usia 0-2 tahun.
2. Tahap pre-operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi
pada usia 2-7 tahun.
3. Tahap concrete-operational, yakni terjadi pada usia 7-11tahun.

Tahapformal-operational ,yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi


pada usia 11-15 tahun (Daehler & Bukatko, 1985; Best, 1989; Anderson,
1990).8Empat tahap perkembangan kognitif menurut Piaget ini dapat dilihat dalam
tabel berikut:

Tahap Sensorimotor
Usia 0-2 tahun
Bayi bergerak dari tindakan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan
pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui
pengordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik

Tahap Pra-operasional
Usia 2-7 tahun
Anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata-
kata dan gambar-gambar ini menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis
dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik

Tahap Pra-operasional
Usia 7-11 tahun
Pada saat ini akan dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang
konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang
berbeda
Tahap Pra-operasional
Usia 11-Dewasa
Remaja berpikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik

Piaget yang lahir di Swiss itu pada mulanya bukan seorang psikolog,
melainkan seorang ahli biologi yang sejak umur 20 tahun telah terkenal di seluruh
daratan Eropa.9

Tahapan-tahapan perkembangan kognitif versi Piaget sebagaimana


tersebut di atas berdasarkan sumber-sumber dari Deahler & Bukatko (1985),
Lazerson (1985), dan Anderson (990). Namun, untuk memperlancar uraian ini,

8
fitriahartina011.blogspot.com, “Psikologiperkembanganpesertadidik”
(http://fitriahartina011.blogspot.com/2015/11/psikologi-perkembangan-
peserta-didik.html),diaksespada 31 Maret 2019 pukul 14:48
9
MuhibbinSyah, “Psikologipendidikan”, (PT remajarosdakaryaofset : Bandung),2018
hal.66
terlebih dahulu akan penyusun sajikan istilah-istilah khusus dan arti-artinya yang
berhubungan dengan proses perkembangan kognitif anak versi Piaget tersebut.

1. Sensory-motor schema (skema sensori-motor) ialah sebuah atau


serangkaian perilaku terbuka yang tersusun secara sistematis untuk
merespons lingkungan (barang,orang,keadaan,kejadian).
2. Cognitive schema (skema kognitif), ialah perilaku tertutup berupa tatanan
langkah-langkah kognitif (operations) yang berfungsi memahami hal yang
tersirat atau menyimpulkan lingkungan yang di respons.
3. Object permanance ( ketetapan benda ) yakni anggapan bahwa sebuah
benda akan tetap ada walaupun sudah ditinggalkan atau tidak dilihat lagi.
4. Assimilation (asimilasi), yakni proses aktif dalam menggunakan skema
untuk merespons lingkungan.
5. Accomodation (akomodasi), yakni penyesuaian aplikasi skema yang
cocok dengan lingkungan yang direspons.
6. Equilibrium (ekuilibrium), yakni keseimbangan antara skema yang di
gunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketetapan
akomodasi.

Piaget mengemukakan beberapa konsep dan prinsip tentang sifat-sifat


perkembangan kognitif anak, diantaranya :

1. Anak adalah pembelajar yang aktif. Anak tidak hanya mengobservasi dan
mengingat apa saja yang mereka lihat dan mendengarkan dengan pasif.
2. Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya.
Anak-anak tidak hanya mengumpulkan apa saja yang mereka pelajari dari
fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan.
3. Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan
akomodasi. Dalam menggunakan dan mengadaptasi skema mereka, ada
dua proses yang bertanggung jawab, yaitu: assimilation dan
accommodation. Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasuki
pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi
terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru.
4. Proses ekuilibrasi menunjukan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk
pemikiran yang lebih komplek. Menurut Piaget, melalui kedua proses
penyesuaian-asimilasi dan akomodasi-sistem kognisi seseorang
berkembang bertahap sehingga kadang-kadang mencapai keadaan
equilibrium, yakni keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan
pengalamannya dilingkungan.

Sekurang-kurangnyaadaduamacam kecakapan kognitif siswa yang amat


perlu dikembangkan segera khususnya oleh guru, yakni: 1) strategi belajar
memahami isi materi pelajaran; 2) strategi meyakini arti penting isi materi
pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung
dalam materi pelajaran tersebut. Tanpa mengembangkan dua macam kecakapan
kognitif ini, agaknya siswa sulit di harapkan mampu mengembangkan ranah
afektif dan psikomotornya sendiri. Strategi adalah sebuah istilah populer dalam
psikologi kognitif, yang berarti prosedur mental yang berbentuk tatanan tahapan
yang memerlukan alokasi upaya-upaya yang bersifat kognitif dan selalu di
pengaruhi oleh pilihan-pilihan kognitif atau pilihan-pilihan kebiasaan belajar
(cognitive preferences ) siswa. Pilihan kebiasaan belajar ini secara global terdiri
atas: 1) menghafal prinsip-prinsip yang terkandung dalam materi; 2)
mengaplikasikan prinsip-prinsip materi. 10

Laterilisasiadalahspesialisasifungsidalamsuatubagianotakatausuatubagianl
ainnya.Dalamindividuotak yang utuh,adaspesialisfungsidalamsatubagian
area(Gazzaniga,IVRY&Mangun,2001)

1. Pemrosesanverbal,Riset paling
ekstensifterhadapduabelahanotakadalahbahasapadaaspekbahasa,dalamkeba
nyakanindividuucapandantatabahasaberrada di
belahankiriotak,akantetapiinibukanberartibahwasemuapemrosesanbahasad
ilakukan di
belahankiri,misalnya,pemahamanaspekbahsasepertipenggunaanbahasa
yang tepatdalamkonteks yang berbeda-
beda,metafora,danhumor,jugamelibatkanbelahanotakkanan.
2. Perosesannonverbal.Belahankananbiasanyalebihdominandalampemrosesa
ninformasinonverbal,sepertipersepsiruang(spasial),pengenalanvisual,emosi
. Karenaperbedaandalamfungsiduabelahanotakinilahmakabanyak 0rang
menggunakanistilah”otakkiri”dan “otakkanan”

Proses kognitif.Dalammemahamiduniamerekasecaraaktif,anak-
anakmenggunakanskema(kerangkakoknitifataukerangkareferensi),sebuahskemaad
alahkonsepataukeragka yang eksis di dalampikiranindividu yang
dipakaiuntukmengorganisasikandanmenginterpretasikan.

Teori Piaget
tidakluputdarikritik,munculnyapertanyaantentangbeberapaarea:tentangestimasiter
hadapkompetensianak di level perkembangan yang berbeda-beda:tentangtahap-
tahapperkembangan

1. Estimasikompetensianak
2. Tahap
3. Melatihanakuntukmenalarpada level yang lebihtinggi

10
MuhibbinSyah, “Psikologipendidikan”, (PT remajarosdakaryaofset : Bandung),2018 hal
60
4. Kulturdanpendidikan

Teorivygotsky(1896-1934)
dariRusiajugapercayabahwaanakaktufdalammenyusunpengetahuanmereka,Vygots
kylahir di Rusia di tahun yang
samadengankelahiranpiaget,namunmeninggallebihmudaketimbangpiaget,yaknipa
dausia 37 tahun,baik ide piagetatauvygotskybelumdikenal di
amerika,danbarudikenalkan di amerikapadatahun 1960-an
melaluikaryaterjemahaninggrisnya,dalambeberapadekadeini,pendidikdanpsikolog
amerikatelahmenjukkanketertarikankepadapandanganvygotsky

Asumsivygotskyadatigaklaimdalamintipandanganvygotsky(1)keahlianana
kdapatdipahamiapabiladianalisisdandiinterpretasikansecara
developmental,(2)kemampuankognitifdimediasidengankata,bahasadanbentukdisk
urus,yangberfungsisebagaialatpsikologisuntukmembantudanmentransformasiaktiv
itasmental,dan(3)kemampuankognitifberasaldarirealisasisosialdandipengaruhioleh
latarbelakangsosiokultural.

1. Gunakanpendekatankonstruktivits
2. Fasilitasimerekauntukbelajar
3. Pertimbangkanpengetahuandantingkatpemikirananak
4. Gunakanpenilaianterus-menerus
5. Tingkatkankemampuanintelektualmurid
6. Jadikanruangkelasmenjadiruangeksploitasidanpenemuan

D. PerkembanganSosialdan Moral PesertaDidik

Perkembanganpsikososialsiswa, atau sebut saja perkembangan sosial


siswa, adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota
masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung
sejak masih bayi hingga akhir hayatnya. Perkembangan sosial, menurut Bruno
(1987), merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat),
yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. 11

Pendekatanterhadapperkembangansosial/moral anak dalam aliran


psikologi kognitif lebih banyak dilakukan oleh Kohlberg darpada Piaget sendiri
selaku tokoh utama psikologi ini. Namun, Kohlberg mendasarkan teori
perkembangan sosial dan moralnya pada prinsip-prinsip dasar hasil temuan
Piaget, terutama yang berkaitan dengan prinsip perkembangan moral.
Perkembangan sosial hamper dapat dipastikan juga perkembangan moral, sebab
perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah
laku sosial. Seorang ‘siswa hanya akan mampu berperilku sosial dalam situasi

11
John W. Santrock, “Psikologipendidikan”,( Jakarta Putra Grafik: Jakarta 2017) hal.47
sosial tertentu secara memadai apabila menguasai pemikiran norma perilaku
moral yang diperlukan untuk situasi sosial tersebut.

Piaget dan Kohlberg menekankan bahwa pemikirn moral seorang anak,


terutama ditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sedangkan di sisi
lain, lingkungan sosial merupakan pemasok materi mentah yang akan diolah oleh
ranah kognitif anak secara aktif. Dalam interaksi sosial dengan teman-teman
sepermainan sebagai contoh, terdapat dorongan sosial yang menantang anak
tersebut untuk mengubah orientasi moralnya.

Ada dua macam studi yang dilakukan Piaget mengenai perkembangan moral anak
dan remaja, yakni:

1. Melakukan observasi terhadpa sejumlah anak yang bermain kelereng dan


menanyai mereka tentang aturan yang mereka ikuti;
2. Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisah yang menceritakan
perbuatan salah dan benar yang dilakukan anak, lalu meninta responden
(yang terdiri atas anak dan remaja) untuk menilai kisah-kisah tersebut
berdasarkan pertimbangan moral mereka sendiri.12

Alhasil, menurut Kohlberg perkembangan sosial dan moral manusia itu


terjadi dalam tiga tingkatan besar yaitu meliputi:

1. Tingkat moralitas prakonvensional, yaitu ketika manusia berada dalam


fase perkembangan prayuwana (usia 4-10 tahun) yang belum menganggap
moral sebagai kesepakatan tradisi sosial;
2. Tingkat moralitas konvensional, yaitu ketika manusia menjelang dan
mulai memasuki fase perkembangan yuwana (usia 10-13 tahun) yang
sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial;
3. Tingkat moralitas pascakonvensional, yaitu ketika manusia telah
memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana (usia 13 tahun ke
atas ) yang memandang moral lebih dari sekedar kesepakatan tradisi
sosial.

Teoribelajarsosialadalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru


dibandingkan dengan teori –teori belajar lainnya. Salah seorang tokoh utama teori
ini adalah Albert Bandura, seorang psikolog pada Universitas Stanford Amerika
Serikat, yang olehnya banyak ahli dianggap sebagai seorang behavioris masa kini
yang moderat. Tidak seperti rekan-rekannya sesama penganut aliran
behaviorisme, Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata
refleks otomatis stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul
akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral.
12
John W. Santrock, “Psikologipendidikan”,( Jakarta Putra Grafik: Jakarta 2017) hal.49
Menurut Barlow (1985), sebagian besar upaya belajar manusia terjadi melalui
peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).13

Dalamhalini, seorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui


penyaksian cara orang atau sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah
stimulus tertentu. Berikuprosedur-prosedurbelajarsosial dan moral tersebut adalah
sebagai berikut.

1. Conditioning. Menurut prinsip-prinsip kondisioning, prosedur belajar


dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama
dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya,
yakni dengan “reward” (ganjaran/memberi hadiah atau mengganjar) dan
punishment (hukuman atau memberi hukuman).
2. Imitation. Prosedur lain yang juga penting dan menjadi bagian yang
integral dengan prosedur-prosedur belajar menurut teori social learning,
ialah proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orang tua dan guru
sayogianya memainkan peran penting sebagai model atau tokoh yang
dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa. (halaman 79)

Sesuai dengan teori komprehensif tentang perkembangan sosial yang


dikembangkan oleh Erickson, maka di dalam upaya memenuhi kebutuhan
hidupnya setiap manusia menempuh langkah yang berlainan satu dengan yang
lain. Dalam teori Erickson dinyatakan bahwa manusia (anak) hidup dalam
kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala
hal yang dibutuhkan manusia namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar
belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial
yang beraneka ragam.

Perkembangan sosial pada peserta didik ditandai dengan adanya perluasan


hubungan, di samping dengan anggota keluarga juga dengan teman sebaya,
sehingga ruang gerak hubungan sosialnya bertambah. Biasanya peserta didik
mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat pada diri
sendiri (egosentris), kepada sikap bekerja sama (koperatif) atau mau
memerhatikan kepentingan orang lain (sosiosentris). Hal ini berkaitan dengan
sikap yang ada pada peserta didik itu sendiri. Apakah dengan sikap atau emosi
yang stabil seperti bersikap respect terhadap diri sendiri dan orang lain atau
bersikap tidak baik seperti tidak mau bergaul dengan orang lain.

Dalam kerangka pendidikan, perkembangan sosial meliputi aspek-aspek


berikut ini:

13
John W. Santrock, “Psikologipendidikan”,( Jakarta Putra Grafik: Jakarta 2017) hal.450
1. Perkembangan perasaan kemasyarakatan, seperti perasaan terikat,
kecenderungan untuk berkelompok, dan kegandrungan untuk saling
mengikuti.
2. Perkembangan pengalaman kemasyarakatan dan hal-hal yang
dihasilkannya, seperti pola-pola interaksi kelompok, pengetahuan aturan-
aturan, pola-pola perilaku bermasyarakat, serta norma-norma kehidupan
berkelompok.
3. Perkembangan imajinasi kemasyarakatan serta tujuan bersama yang
tercermin dalam diri setiap individu sebagai hasil pendidikan masyarakat
yang mereka terima. Pendidikan masyarakat ini bisa tercipta melalui
partisipasi dalam pesta-pesta, upacara keagamaan, pengenalan berbagai
fenomena kelompok, atau melalui bidangekonomidanmiliter.14

E. Perkembangan Spiritual Peserta Didik

Secara etimologi religion (agama) berasal dari bahasa latin religio, yang
berarti suatu hubungan antara manusia dan Tuhan. Berbeda dengan agama,
spiritualitas lebih banyak melihat aspek dalam lubuk hati, gerakan hati nurani
pribadi, sikap personal yang bagi banyak orang merupakan misteri, karena
intimitas jiwa. “agama memang tidak sama dengan spiritualitas, namun agama
merupakan bentuk spiritualitas yang hidup dalam peradaban”, dengan
pernyataanWilliam Irwin Thompson (dalam Aliah B. Purwakania Hasan, 2006).
Agama bisa dikatakan tidak sama dengan spiritualitas, tetapi keduanya tidak bisa
dipisahkan. Agama tanpa spiritualitas adalah kering dan spiritualitas tanpa agama
lumpuh.

Dalam studi perkembangan, tema tentang spiritualitas tidak banyak


dibahas oleh para ahli psikologi. Dalam uraian akan dikemukakan perkembangan
spiritualitas yang diajukan oleh James W. Fowler: Kata spiritualitas berasal dari
bahasa inggris yaitu “spirituality”, kata dasarnya “spirit” yang berarti: “roh, jiwa,
semangat”. Kata spirit sendiri berasal dari kata latin “spiritus” yang berarti: “luas
atau dalam (breath),keteguhan hati atau keyakinan (courage), energy atau
semangat (vigor), dan kehidupan. Kata sifat spiritual berasal dari kata latin
spiritualis yang berarti “of the spirit” (kerohanian).

Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,


pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga
memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan
antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dengan lingkungan)
dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan
dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Jadi spiritual merupakan

14
John W. Santrock, “Psikologipendidikan”,( Jakarta Putra Grafik: Jakarta 2017) hal.45
kepercayaan peserta didik terhadap suatu keyakinan yang didasarkan pada adat
istiadat maupun ketuhanan.

Dewasa ini salah satu teori tentang perkembangan spiritualitas dan


kepercayaan yang banyak dijadikan acuan dalam mempelajari perkembangan
kehidupan spiritual atau agama manusia adalah stages of faith development dari
James Fowler. Fowler adalah perintis teori mengenai tahap perkembangan
kepercayaan, yang dimaksudkan untuk menunjukkan penelitian empiris dan
refleksi teoritis yang sementara ini diakui secara internasional sebagai psikolog
agama yang sangatpenting (cremers,1995).15

Konsep tentang spiritualitas dan kepercayaan yang digunakan Fowler


merujuk pada apa yang dikemukakan oleh Wilfred Cantwell Smith, bahwa
kepercayaan eksistensial merupakan kualitas pribadi, yaitu suatu orientasi
kepribadian seseorang yang menanggapi nilai dan kekuasaan tersenden, orientasi
terhadap dirinya, sesamanya dan alam semesta yang dilihat dan dipahami lewat
bentuk-bentuk tradisi kumulatif. Kepercayaan itu sendiri menurut Smith
menyatakan bersifat universal yang dimiliki bersama oleh semua umat manusia.
Artinya kepercayaan bagi manusia merupakan satu kodrat, alamiah, yang dimiliki
manusia.

Kepercayaan anak kepada Tuhan pada usia ini, bukanlah keyakinan hasil
pemikiran, akan tetapi merupakan sikap emosi yang berhubungan erat dengan
kebutuhan jiwa akan perlindungan dan kasih sayang. Oleh karena itu, dalam
mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan
penyayangnya. Jangan menonjolkan sifat yang menghukum, mengazab, atau
memberikan siksaan dengan neraka.

Sampai kira-kira usia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis,


sehingga kesadaran beragamanya hanya merupakan hasil sosialisasi orang tua,
guru, dan lingkungannya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya mash bersifat
peniruan, belum dilandasi kesadarannya.

Pada usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadaran anak akan


fungsi agama baginya, yaitu berfungsi moral dan sosial. Anak mulai dapat
menerima bahwa nilai-nilai agama lebih tinggi dari nilai-nilai pribadi atau
keluarga. Dia mulai mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau
keluarga, tetapi kepercayaan masyarakat. Berdasarkan pengertian ini, maka shalat
berjamaah, shalat Idul Fitri/Idul Adha, dan ibadah sosial (menolong fakir miskin)
sangat menarik baginya.

Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukkan nilai-nilai


agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya. Kualitas keagamaan anak sangat
15
Robert,”PerkembanganKepribadian&Keagamaan”, (Kanisius:Yogyakarta 1994), hal 23
dipengaruhi oleh proses pendidikan yang diterimanya. Berkaitan dengan hal
tersebut, pendidikan agama di sekolah dasar mempunyai peranan yang sangat
penting.16

F. PerkembanganBahasaPesertaDidik

Bahasa adalah bentuk berkomunikasu,entah itu lisan,tertulis atau


tanda,yang didasarkan pada sistem symbol.Semua bahasa manusia adalah
generatife(diciptakan).Penciptaan tidak terbatas adalah kemampuan untuk
memproduksi sejumlah kalimat tak terbatas yang bermakna dengan menggunakan
seperangkat kata dan aturan.

Untukmempempelajarifonologibahasa,anakharusmempelajarikandungan
suaranya dan urutan suara yang diperbolehkan yang sangat penting untuk
kegiatan membaca

1. Morfologi adalah aturan untuk mengkombinasikan morfem,yang


merupakan serangkaian suara yang bermakna yang merupakan kesatuan
bahasa terkecil
2. Sintaksis adalah cara kata harus dikombinasikan untuk memebentuk frasa
dan kalimat yang dapat diterima
3. Pragmatis penggunaan percakapan yang tepat

Penguasaan bahasa melewati beberapa tahap,celoteh dimulai pada usia tiga


sampai enam bulan,bayi biasanya menggunakan kata pertamanya pada usia 10
sampai 13 bulan,pada usia 24 bulan, bayi biasanya mulai memadukan dua kata
dan lebih cepat memahami arti penting dari bahasa untuk berkomunikasi,saat bayi
menginjak usia anak-anak pemahaman mereka dengan sistem aturan bahasa mulai
meningkat,yang mencakupsistem
17
(fonologi,morfologi,sintaksis,semantik,danpragmatis).

Ciri-ciri utama bahasa,pengaruhbiologis, lingkungansosial, dan,


spiritualterhadapperkembanganbahasapesertadidik:

1. Bahasa adalah bentuk komunikasi,entah itu lisan,tertulis atau tertanda


yang didasarkan pada sistem symbol.Bahasa manusia adalah

16
fitriahartina011.blogspot.com, “Psikologiperkembanganpesertadidik”
(http://fitriahartina011.blogspot.com/2015/11/psikologi-perkembangan-
peserta-didik.html),diaksespada 31 Maret 2019pukul 14:50
diciptakan,semua bahasa manusia juga punya aturan
fonologi,morfologi,sintaaksis,semantic,dan pragmatis.
2. Anak-anak secara biologis sudah disiapkan untuk belajar bahasa saat
berinteraksi dengan pengasuhnya. Bukti paling kuat untuk basis biologis
dari bahasa ini adalah bahwa anak diseluruh dunia mencapai titik utama
bahasa pada usia yang kira-kira sama meskipun ada banyak perbedaan
dalam lingkungan dan pengalaman. Akan tetapi, anak-anak tidak belajar
bahasa secara terpisah dari lingkungan sosial. Anak-anak mendapat
banyak manfaat apabila orang tua dan guru melibtkan mereka aktif dalam
percakapan, memberi pertanyaan, dan berbicara dengan mereka.
Penguasaanbahasamelaluibeberapa tahap celoteh terjadi pada iusia kira-
kira 3-6 bulan, kata pertama muncul pada usia 10-13 buln, dan
pengucapan dua kata terjadi pada usia 18-24 bulan. Saat ank melampaui
taha pengucapan dua kata ini, mereka dapat menunjukkkan bahwa mereka
menguasai beberapa aturan morfologi, kemjuan dalam fononoli, sintaksis,
semantic dan praghmatik.

G. Perkembangan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual Berdasarkan Islam

Kita sebagai umat Islam sangat perlu mempelajari psikologi


perkembangan yang Islami karena adanya perbedaan cara pandang dengan Barat,
Barat dengan prinsip sekulernya tentu tidak
mampumenjelaskanperkembanganmansusiadengankomprehensi (lengkap),
pengabaian aspek spiritualitas tentu tidak sejalan dengan kita seorang muslim,
dimana kitamerupakanciptaan Allah swt, yang memilikifitrahketuhanan.

1. Perkembangan Bio-Psiko

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah (Al-Mu’minunayat 12-14 )


ْ ُّ‫)ث ُ َّم َخلَ ْقنَا الن‬١٣( ‫ين‬
‫طفَةَ َعلَقَةً فَ َخلَ ْقنَا‬ ٍ ‫طفَةً فِي قَ َر ٍار َم ِك‬ ْ ُ‫)ث ُ َّم َجعَ ْلنَاهُ ن‬١٢( ‫ين‬ ٍ ‫ساللَ ٍة ِم ْن ِط‬
ُ ‫سانَ ِم ْن‬ َ ‫َو َل َق ْد َخ َل ْقنَا اإل ْن‬
)١٤( َ‫سنُ ْالخَا ِلقِين‬ َ ْ‫َّللاُ أَح‬َّ َ‫ارك‬ َ َ‫ام لَحْ ًما ث ُ َّم أ َ ْنشَأْنَاهُ خ َْلقًا آخ ََر فَتَب‬ َ ‫ظ‬َ ‫س ْونَا ْال ِع‬ ْ ‫ضغَةً فَ َخلَ ْقنَا ْال ُم‬
َ ‫ضغَةَ ِع‬
َ ‫ظا ًما فَ َك‬ ْ ‫ْالعَلَقَةَ ُم‬

Yang artinya sebagai berikut “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan


manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati
itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik”.18

18
www.kompasiana.com” psikologi-perkembangan-islami-fase-perkembangan-
manusia-dalam-al-quran-sejak-dalam-rahim-hingga-hingga-
2. PerkembanganSosial

Dengan tujuan yang bersifat kolektif, pendidikan Islam telah memurnikan


penghambaan murni hanya kepada Allah serta menyatukan ide dan fikiran dalam
tujuan yang sama. Dengan demikian, seluruh umat Islam akan terikat pada tauhid
yang memegang amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana difirmankan Allah ini:

ِ ‫اَّللِ ۗ َولَ ْو آ َمنَ أ َ ْه ُل ْال ِكت َا‬


‫ب‬ َّ ِ‫وف َوتَ ْن َه ْونَ َع ِن ْال ُم ْنك َِر َوتُؤْ ِمنُونَ ب‬ِ ‫اس ت َأ ْ ُم ُرونَ بِ ْال َم ْع ُر‬ ِ َّ‫ت ِللن‬ ْ ‫ُك ْنت ُ ْم َخي َْر أ ُ َّم ٍة أ ُ ْخ ِر َج‬
َ‫لَ َكانَ َخي ًْرا لَ ُه ْم ۚ ِم ْن ُه ُم ْال ُمؤْ ِمنُونَ َوأَ ْكث َ ُر ُه ُم ْالفَا ِسقُون‬

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma’ruf, dan mencegah kepada yang munkar, dan beriman kepada Allah…”
(Ali Imran: 110).19

3. Perkembangan Spiritual

1. Manusia pada mulanya adalah makhluk spiritual murni.

Manusia pada mulanya terdapat pada tempat tertinggi sebagai makhluk


spiritual murni, lalu ruh spiritual tersebut ditiupkan pada tubuh manusia.
Jadiiatidakhanya memiliki tubuh namun juga ia memiliki potensi spiritual. Hal ini
sesuai dengan firman Allah dalam Al’Ankabut Ayat 49:
َّ ‫ُور الَّذِينَ أُوتُوا ْال ِع ْل َم ۚ َو َما يَجْ َحد ُ بِآيَاتِنَا ِإ ََّّل ال‬
َ‫ظا ِل ُمون‬ ِ ‫صد‬ُ ‫بَ ْل ه َُو آيَاتٌ َبيِنَاتٌ فِي‬

Artinya: Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada
orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami
kecuali orang-orang yang zalim. (Al’Ankabut Ayat 49). 20

4. PerkembanganBahasa

Dalam surat Al-Baqarah ayat 31 Allah berfirman:

pascakematian”(https://www.kompasiana.com/navia/553a6a6f6ea834f21ad
a42ce/psikologi-perkembangan-islami-fase-perkembangan-manusia-
dalam-al-quran-sejak-dalam-rahim-hingga-hingga-pasca-
kematian?page=all),diakses pada31 Maret 2019 pukul 14:48

19
Al-Quran Mania,”Pendidikan Islam danKonsepperkembangan
sosial”,(https://alquranmulia.wordpress.com/2015/07/21/pendidikan-islam-
dan-konsep-perkembangan-sosial/),diaksespada 31 Maret2019
20
Sarjanaku.com,
“Kecerdasaanspiritual”,Ihttp://www.sarjanaku.com/2013/01/kecerdasan-
spiritual-perspektif-menurut.html), diaksespada 30 Maret 2019
ِ ‫ض ُه ْم َعلَى ْال َم َالئِ َك ِة فَقَا َل أ َ ْنبِئُونِي بِأ َ ْس َم‬
َ ‫اء َه ُؤ ََّل ِء إِ ْن ُك ْنت ُ ْم‬
(31( َ‫صا ِدقِين‬ َ ‫َو َعلَّ َم آَدَ َم ْاْل َ ْس َما َء ُكلَّ َها ث ُ َّم َع َر‬

“dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,


kemudian mengemukakannnya kepada para malaikat lalu berfirman: “sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jka kamu memang benar orang-orang yang
benar”21

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkembanganpadaasasnyaialah tahapan perubahan psiko-fisik manusia


yang progresif sejak lahirhinggaakhirhayat..Proses perkembangan di hubungkan
dengan tugas-tugasnya terdiri atas fase-fase: 1) bayi dan kank-kanak; 2) anak-
anak; 3) remaja; 4) dewasa awal; 5) setengah baya; 6) usiatua..
Kaidahumum/hukumperkembanganterdiri atas hukum-hukum: 1) konvergensi;
2) pertahanan dan pengembangan diri; 3) keperluan belajar; 4) kesatuan anggota;
5)tempo; 6) irama; 7) rekapitulasi.

Perkembanganpsiko-fisikterdiriatas: 1) perkembangan motor; 2)


perkembangankognitif; 3) perkembangansosialdan moral.Aspek-aspekfisik yang
berkembang ialah:1) sistem syaraf; 2) otot-otot; 3) fungsikelenjarendokrin; 4)
strukturjasmani.Proses perkembangankognitifmeliputi fase-fase: 1) sensori-
motor; 2) pra-operasional 3) konkret-operasional 4) formal-
operasional.Sedangkanskemakognitifadalah tatanan langkah akliah (cognitive
operations) untuk memahami dan menyimpulkan lingkungan yang di respons.

Artipentingpengembangankognitifsiswaialahuntuk: 1) mengembangkan
kecakapan kognitif; 2) mengembangkan kecakapan afektif; 3)
mengembangkankecakapanpsikomotor.Proses perkembangansosialdan moral
siswa menurut Piaget meliputi fase-fase: 1) realisme moral; 2) otonomi realisme,
danresiprositas moral. Proses perkembanganpertimbangan moral menurut teori
kognitif versi Kohlberg meliputi tiga tingkatan: 1) moralitas prakonvensional; 2)
moralitas konvensional; 3)
moralitaspascakonvensional.Prosedurpengembanganperilakusosial dan moral
menurut teori belajar sosial meliputi: 1) Conditioning; 2) imitation (peniruan)
terhadap perilaku model.
Bahasaadalahbentukberkomunikasu,entahitulisan,tertulisatautanda,yangdi
dasarkanpadasistem
symbol.Semuabahasamanusiaadalahgeneratife(diciptakan).Penciptaantidakterbata
sadalahkemampuanuntukmemproduksisejumlahkalimattakterbatas yang
bermaknadenganmenggunakanseperangkat kata danaturan. Kita sebagaiumat
Islam sangatperlumempelajaripsikologiperkembangan yang
Islamikarenaadanyaperbedaancarapandangdengan Barat, Barat
denganprinsipsekulernyatentutidakmampumenjelaskanperkembanganmansusiaden
gankomprehensi (lengkap).

DAFTAR PUSTAKA

John W. Santrock, 2017 ,Psikologipendidikan, Jakarta:Jakarta Putra Grafik

MuhibbinSyah , 2018, Psikologipendidikan, Bandung:PT remajarosdakaryaofset

Robert, 1994, PerkembanganKepribadian&Keagamaan”, :Yogyakarta:Kanisius

fitriahartina011.blogspot.com, “Psikologiperkembanganpesertadidik”
,diaksespada 31 Maret 2019 pukul 14:48

www.kompasiana.com”Perkembangan Islam”,diakses pada31 Maret 2019


pukul14:48

Al-Quran Mania,”Pendidikan Islam danKonsepperkembangansosial”,pada 31


Maret2019