Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Keberhasilan upaya pembangunan kesehatan dapat diukur dengan


menurunnya angka kesakitan, angka kematian umum dan bayi, serta
meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH). Peningkatan UHH akan menambah
jumlah lanjut usia (lansia) yang akan berdampak pada pergeseran pola penyakit di
masyarakat dari penyakit infeksi ke penyakit degenerasi. Prevalensi penyakit
menular mengalami penurunan, sedangkan penyakit tidak menular (PTM) seperti
hipertensi cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan Data Riset Kesehatan
(RISKESDAS) tahun 2013 prevalensi hipertensi di Indonesia khususnya pada
penduduk umur 18 tahun keatas adalah 25,8%, dan mengalami peningkatan
menjadi 34,1% pada tahun 2018. Laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2012 mengungkapkan kejadian hipertensi di Jawa Tengah
sebanyak 554.771 kasus (49.1%). Prevalensi ini meningkat pada tahun 2013
(50,5%) dan menurun pada tahun 2014 menjadi 21,63%.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik
>140 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2014). Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit
kardiovaskuler yang merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia
(Vintro, 2004). Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7
kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart failure
dan 3 kali lebih besar terkena serangan jantung (WHO, 2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit hipertensi meliputi faktor yang
dapat dikontrol dan faktor yang tidak dapat dikontrol. Faktor risiko yang dapat
dikontrol meliputi obesitas, gaya hidup, dan kebiasaan tidak sehat seperti pola
makan yang tidak seimbang (Dalimartha, 2008). Pola makan merupakan faktor
yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Kandungan makronutrien maupun
mikronutrien seperti lemak dan kalium merupakan contoh zat gizi yang dapat
mempengaruhi hal tersebut. Dengan dilakukannya modifikasi atau ketepatan
2

konsumsi lemak dan kalium dapat membantu dalam pengendalian tekanan darah
(Emiria, 2012). Pada umur 40-59 tahun seseorang cenderung obesitas
dibandingkan dengan umur yang lebih muda, hal ini diduga karena kurangnya
aktivitas fisik, lambatnya metabolisme tubuh, dan frekuensi konsumsi makan
yang lebih sering (Kantachuvessiri et al, 2005). Indikator obesitas yang dikaitkan
dengan hipertensi diantaranya adalah Indeks Massa Tubuh (IMT), Lingkar
Pinggang (LiPi), dan Rasio Lingkar Pinggang terhadap Lingkar Pinggul (RLPP)
karena penimbunan lemak yang berlebih mempengaruhi perubahan nilai
antropometri pada pengukuran tersebut (Setyawati & Wirawanni, 2011).
Asupan makanan juga dapat mempengaruhi tekanan darah sistolik. Banyak
ahli yang telah melakukan penelitian mengenai mekanisme terjadinya hipertensi
dan kaitannya dengan asupan zat gizi. Meningkatnya asupan lemak dapat
meningkatkan aktifitas sistem saraf simpatetik yang akhirnya akan menyebabkan
hipertensi (Khomsan, 2010). Konsumsi pangan sumber lemak yang tinggi
terutama lemak jenuh membuat kolesterol low density lipoprotein (LDL)
meningkat yang lama-kelamaan akan tertimbun dalam tubuh dan dapat
membentuk plak di pembuluh darah. Plak tersebut akan menyumbat pembuluh
darah sehingga mempengaruhi peningkatan tekanan darah (Michael et al., 2014).
Lidiyawati dan Kartini (2014) mengemukakan bahwa konsumsi asam lemak
jenuh yang berlebihan atau ≥10% dapat cenderung meningkatkan risiko
hipertensi.
Tekanan darah dapat meningkat salah satunya karena ketidak seimbangan
kandungan kalium dan natrium dalam cairan intraseluler dan ekstraseluler.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa asupan kalium merupakan sesuatu yang
sangat penting pada hipertensi. Kalium dapat menyebabkan turunnya tekanan
darah sistolik dan diastolik. Menurut Appell (2009) asupan kalium dari makanan
dapat mengatasi kelebihan natrium karena kalium berfungsi sebagai diuretik dan
menghambat pengeluaran renin sehingga tekanan darah menjadi normal kembali.
Hasil penelitian Adrogue dan Madias (2007) menunjukkan bahwa pasien
hipertensi yang mengkonsumsi makanan tinggi kalium disertai natrium yang
3

cukup dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan yakni 3,4 mmHg pada
tekanan sistolik dan 1,9 mmHg pada tekanan diastolik.
World Health Organization (WHO, 2008) dan National Institute of Health
(1998) telah memberikan pedoman menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT)
sebagai ukuran kriteria untuk mengukur kelebihan berat badan dan obesitas (Hu et
al, 2000). Walaupun IMT dapat digunakan sebagai indikator kegemukan terkait
dengan risiko suatu penyakit namun distribusi lemak lebih baik dalam penentuan
risiko penyakit, khususnya lemak pada bagian perut dengan hipertensi dan risiko
penyakit kardiovaskuler (Foy, 2008). Oleh karena itu, untuk menentukan
kegemukan perlu digunakan indikator lain yang lebih sensitif dan spesifik. Rasio
lingkar pinggang – pinggul (RLPP) adalah salah satu metode untuk menilai
akumulasi lemak pada tubuh. Seseorang dengan lingkar pinggang yang sempit
dan lingkar panggul yang besar memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang
rendah. RLPP yang tinggi berkaitan dengan tingginya konsentrasi
malondialdehyde dan rendahnya konsentrasi enzim antioksidan (Seidell, 2001).
Malondialdehyde (MDA) merupakan senyawa yang dapat menggambarkan
aktivitas radikal bebas di dalam sel sehingga dijadikan sebagai salah satu petunjuk
terjadinya stres oksidatif akibat radikal bebas (Asni, 2009). Stres oksidatif inilah
yang menjadikan sebagai faktor penyebab kejadian penyakit kardiovaskular
(Siddiqui et al, 2009).
Meningkatnya prevalensi hipertensi di negara berkembang akibat peningkatan
kemakmuran di negara bersangkutan banyak disoroti akhir-akhir ini. Prevalensi
penyakit hipertensi di Provinsi Jawa Tengah khususnya pada penduduk umur 18
tahun keatas berdasarkan data RISKESDAS 2018 masih dalam masalah yaitu
37,57%. Sedangkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan bahwa
prevalensi penyakit hipertensi dihitung dari jumlah penduduk ≥ 15 tahun adalah
37%. Data Puskesmas Miroto pada tahun 2018 menunjukkan jumlah kasus
Hipertensi sebanyak 490 pasien (21,82%).

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan


asupan lemak dan kalium serta rasio lingkar pinggang pinggul (RLPP) dengan
4

tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi di Puskesmas Miroto Kota


Semarang.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Apakah ada hubungan asupan lemak dan kalium serta rasio lingkar pinggang
pinggul (RLPP) dengan tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan asupan lemak dan kalium serta rasio lingkar pinggang
pinggul (RLPP) dengan tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi

1.3.1 Tujuan Khusus


a. Mendeskripsikan karakteristik responden
b. Mendeskripsikan asupan lemak dan kalium serta rasio lingkar pinggang
pinggul (RLPP) responden
c. Menganalisis hubungan asupan lemak dengan tekanan darah sistolik
penderita hipertensi
d. Menganalisis hubungan asupan kalium dengan tekanan darah sistolik
penderita hipertensi
e. Menganalisis hubungan rasio lingkar pinggang pinggul (RLPP) dengan
tekanan darah sistolik penderita hipertensi

1.4 MANFAAT PENELITIAN


1.4.1 Manfaat untuk masyarakat yaitu penelitian ini diharapkan dapat menambah
wawasan pengetahuan bagi masyarakat mengenai pengaruh asupan lemak dan
kalium serta rasio lingkar pinggang pinggul terhadap tekanan darah sistolik
sehingga masyarakat bisa lebih mengontrol pola makan maupun pola
hidupnya kedepan.

1.4.2 Manfaat untuk institusi (puskesmas) yaitu penelitian ini diharapkan dapat
menambah pengetahuan bagi petugas kesehatan terutama ahli gizi setempat
sehingga memudahkan ahli gizi dalam memberikan materi konseling maupun
penyuluhan kepada pasien hipertensi sebagai rencana tindak lanjut.

1.5 KEASLIAN PENELITIAN


Tabel 1. Penelitian Pembanding
5

No Nama Judul Penelitian Tahun Variabel Penelitian Hasil Penelitian


1. Rifka Laily Analisis Hubungan 2016 Variabel bebas: Hasil uji Chi square
Mafaza, antara Lingkar Lingkar Perut, menunjukkan bahwa
Bambang Perut, Asupan Asupan Lemak, dan lingkar perut (p = 0,000)
Wirjatmadi, Lemak, dan Rasio Rasio asupan dan asupan lemak (p =
Merryana Asupan Kalsium Kalsium Magnesium 0,024) mempunyai
Adriani Magnesium dengan Variabel terikat: hubungan yang
Hipertensi Hipertensi signifikan dengan
terjadinya hipertensi,
sedangkan rasio asupan
kalsium magnesium (p
= 0,537) tidak
mempunyai hubungan
signifikan dengan
terjadinya hipertensi.
2. Inggita Asupan Protein dan 2016 Variabel bebas: Hasil analisis bivariat
Kusumastuty, Kalium Asupan Protein dan menunjukkan ada
Desty Berhubungan Kalium hubungan yang
Widyani, dengan Penurunan Variabel terikat: signifikan antara asupan
Endang Sri Tekanan Darah penurunan tekanan protein dengan tekanan
Wahyuni Pasien Hipertensi darah pasien darah sistolik (rs =
Rawat Jalan hipertensi -0,407, p=0,001) dan
tekanan darah diastolik
(rs = -0,519, p=0,000)
dengan arah korelasi
negatif. Asupan kalium
berhubungan dengan
tekanan darah sistolik
(rs= 0,518, p=0,000)
dan tekanan darah
diastolik (rs= -0,419,
p=0,000) dengan arah
korelasi negatif.
3. Estia Hubungan Rasio 2017 Variabel bebas: Rasio Hasil bivariat variabel
Mukiwanti Lingkar Pinggang Lingkar Pinggang Rasio Lingkar Pinggang
Pinggul dan Indeks Pinggul dan Indeks Pinggul dengan tekanan
Massa Tubuh Massa Tubuh darah sistolik
terhadap Tekanan Variabel terikat: menunjukkan nilai
Darah pada Middle tekanan darah pada p=0,032; r=0,386
Age (45-59 Tahun) Middle Age (45-59 sedangkan variabel
di Desa Polaman Tahun) Rasio Lingkar Pinggang
Kota Semarang Pinggul dengan tekanan
darah diastolik nilai
p=0,003; r=0,521.
Variabel Indeks Massa
Tubuh dengan tekanan
darah sistolik nilai
6

p=0,583 dan Indeks


Massa Tubuh dengan
tekanan darah diastolik
nilai p=0,703.

Berdasarkan tabel 1 yang menguraikan penelitian terdahulu, peneliti tertarik untuk


menggunakan judul Hubungan Asupan Lemak dan Kalium serta Rasio Lingkar
Pinggang Pinggul (RLPP) dengan Tekanan Darah Sistolik pada Penderita Hipertensi.
Dalam penelitian ini terdapat perbedaan variabel bebas dan variabel terikat dengan
penelitian sebelumnya. Pada penelitian sebelumnya, belum pernah ada yang
menggunakan 3 variabel bebas kombinasi antara zat gizi mikro, makro, dan
pengukuran obesitas melalui rasio lingkar pinggang pinggul yang kemudian
dihubungkan dengan variabel terikatnya (tekanan darah sistolik). Penelitian terdahulu
lebih banyak fokus terhadap asupan salah satu zat gizi saja terhadap variabel terikat.
Perbedaan selanjutnya adalah tempat penelitiannya yaitu Puskesmas di Kota
Semarang, dimana pada penelitian terdahulu belum pernah dilakukan penelitian
serupa dengan tempat Puskesmas di Kota Semarang.

Anda mungkin juga menyukai