Anda di halaman 1dari 59

LAPORAN LONG CASE STUDY

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA


PUSKESMAS RAWALO

VARICELLA

Disusun Oleh:
Sofia Nur Atalina
G4A017039

Pembimbing:
dr. Yenni Apriana, MPH
dr. Hendro Hardjito

KEPANITERAAN KLINIK STASE KOMPREHENSIF


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2019
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga


Long Case

Varicella

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat


Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Oleh:
Sofia Nur Atalina
G4A017039

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan:


Hari :
Tanggal : September 2019

Preseptor Lapangan Preseptor Fakultas

dr. Hendro Hardjito dr. Yenni Apriana


NIP. 197099142002121002 NIP. 197204232002122004

1
I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga : Tn. K


Alamat lengkap : Desa Rawalo, RT/RW 01/06,
Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas
Bentuk Keluarga : Nuclear family
Tabel 1.1 Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
No. Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Keterangan
1. Tn. K Kepala L 44 SMP Buruh Las
keluarga
(Ayah)
2. Ny. S Ibu P 38 SMP Ibu Rumah
Tangga
3. An. D Anak L 16 SMK Pelajar
4. An. A Anak L 6 TK Pelajar
(Pasien)
Sumber : Data Primer, September 2019
Kesimpulan :
Dari karakteristik demografi diatas, bentuk keluarga An. A adalah Nuclear
family. An. A (6 tahun) tinggal dalam satu rumah dengan ayahnya Tn. K (44
tahun) sebagai kepala keluarga, Ny. S (38 tahun) merupakan ibu pasien dan
satu orang kakak laki-laki kandung pasien An. D (16 tahun).

2
II. STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN
Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang pasien
jenis kelamin laki-laki berusia 6 tahun yang datang ke poli umum dengan
keluhan muncul benjolan melenting banyak di kulit sejak 2 hari sebelum
datang ke poli umum Puskesmas Rawalo.

B. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. A
Usia : 6 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Belum menikah
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : TK
Penghasilan/bulan :-
Alamat : Desa Rawalo, RT/RW 01/06,
Kecamatan Rawalo
Pengantar : Ibu pasien
Tanggal Periksa : 19 September 2019

C. ANAMNESIS (diambil melalui autoanamnesis)


1. Keluhan Utama
Benjolan melenting banyak di kulit

2. Keluhan Tambahan
Gatal pada benjolan melenting di kulit, benjolan mengeluarkan nanah,
demam, pusing

3
4. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli umum Puskesmas Rawalo pada hari
Kamis tanggal 19 September 2019 dengan keluhan muncul benjolan
atau lesi kulit melenting banyak di kedua tangan sejak 2 hari sebelum
datang ke poli umum Puskesmas Rawalo. Awalnya muncul benjolan
hanya satu di kulit tangan kanan, namun semakin lama benjolan
semakin banyak dan menyebar ke daerah perut, punggung, dan wajah
pasien. Pasien mengeluhkan benjolan terasa sangat gatal dan panas,
sehingga jika malam hari pasien susah tidur karena terus menggaruk
kulitnya. Ketika digaruk benjolan yang pecah akan mengeluarkan
cairan berwarna bening kekuningan dan terkadang bercampur nanah.
Sebelum muncul benjolan di kulitnya, pasien mengeluhkan
demam sejak 3 hari. Demam terus menerus baik pada siang hari
maupun malam hari namun tidak terlalu tinggi, sehingga pasien hanya
minum obat turun panas dari apotik dan tetap berangkat ke sekolah.
Pasien juga mengeluhkan pusing. Menurut ibu pasien, teman main
pasien di rumah baru saja terkena sakit cacar air.

5. Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat mengalami keluhan yang sama : disangkal
- Riwayat mondok : disangkal
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat kecelakaan : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi makanan/obat : disangkal
6. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : (+) kakak kandung
pasien, namun sudah lebih dari 10 tahun yang lalu
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat asma : disangkal

4
7. Riwayat Sosial dan Exposure
a. Community : Pasien dalam kesehariannya tinggal bersama
dengan ayah, ibu, dan satu orang kakak
kandungnya dalam satu rumah. Rumah pasien
berada di pedesaan yang cukup padat
penduduk. Penduduk di sekitar rumah pasien
bersosialisasi dengan baik.
b. Home : Rumah pasien terdiri dari 7 ruangan, yaitu 1
ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang
keluarga, 3 ruang kamar tidur, 1 ruang makan,
dan 1 ruang dapur serta 1 kamar mandi yang
terletak bersebelahan dengan dapur. Ventilasi
dan pencahayaan di masing-masing ruangan
rumah pasien masih belum cukup. Beberapa
ruangan seperti ruang tamu, ruang makan dan
dapur terdapat pencahayaan dan ventilasi yang
cukup. Namun untuk kamar tidur dan kamar
mandi tidak terdapat ventilasi serta
pencahayaan yang cukup. Selain itu kamar
tidur di rumah pasien kurang tertata rapi
sehingga terasa semakin pengap dan lembab.
Sedangkan untuk ruangan dapur terletak
bersebelahan dengan kamar mandi di sebelah
kanannya serta kandang binatang ternak
(ayam, itik, dan bebek) di sebelah kirinya. Ibu
pasien terkadang memasak menggunakan kayu
bakar. Kamar mandi di rumah pasien sudah
menggunakan jamban namun tidak berpintu,
tetapi hanya ditutup oleh korden, serta
lantainya masih tanah. Air limbah dari kamar
mandi tidak dialirkan ke selokan namun hanya
dialirkan ke kebun belakang rumah. Di sekitar

5
rumah pasien tidak terdapat selokan maupun
saluran air. Septic tank berjarak sekitar 5 meter
dari sumur bor di belakang rumah yang
menjadi sumber air. Dinding rumah pasien
terbuat dari batako dan hanya dicat tanpa
dilapisi semen kembali. Lantai rumah dari
ruang tamu sampai ke ruang makan terbuat dari
semen, namun untuk dapur dan kamar mandi
hanya lantai tanah. Pembuangan sampah di
rumah pasien biasanya dikumpulkan dahulu
menggunakan tempat sampah plastik lalu di
buang di galian tanah penampung sampah di
kebun belakang rumah. Lalu jika galian tanah
tersebut sudah penuh, biasanya sampah akan
dibakar. Saat ini kondisi rumah pasien tidak
tertata rapi dan kotor karena baru 1 bulan
selesai dibangun. Atap rumah pasien
menggunakan seng dan kayu serta tidak
menggunakan eternit. Pemukiman disekitar
rumah pasien padat, jarak antar rumah sekitar
3-4 meter, namun masih terdapat beberapa
lahan kosong yang ditanami tanaman oleh
warga sekitar.
c. Hobby : Pasien tidak memiliki kebiasaan khusus atau
rutin.
d. Occupational : Pasien merupakan seorang anak sekolah taman
kanak-kanak. Hari Senin sampai dengan Sabtu
pasien berangkat sekolah pukul 08.00 WIB dan
pulang pukul 10.00 WIB. Setelah pulang dari
sekolah biasanya pasien bermain dengan
teman-temannya di tanah lapang dan sungai di
dekat rumah pasien lalu baru pulang ke rumah

6
sore hari sekitar pukul 15.00 WIB. Kemudian
pasien mandi dan berangkat ke masjid untuk
mengaji. Lalu pulang sekitar pukul 18.00 WIB
dan menonton televisi sampai malam lalu
akhirnya tertidur.
e. Personal Habit : Pasien mengkonsumsi makanan yang dimasak
dirumah, namun pasien juga memiliki
kebiasaan jajan sembarangan saat di sekolah.
Sebelum dan sesudah makan pasien jarang
mencuci tangan. Setelah keluar dari kamar
mandi pun pasien jarang mencuci tangan
dengan sabun. Pasien jarang memotong kuku,
karena menurut ibunya, pasien tidak mau jika
akan dipotong kukunya. Di rumah, ibu pasien
mencuci peralatan memasak dan makan
menggunakan air sumur. Sumber air untuk
kebutuhan rumah tangga menggunakan air
sumur yang dimasak sampai mendidih, namun
sebelumnya tidak ditampung terlebih dahulu.
f. Diet : Pasien tidak rutin makan 3 kali sehari. Pagi hari
pasien selalu dipaksa sarapan oleh ibunya,
namun untuk makan siang biasanya pasien
sedang bermain dengan temannya sehingga
tidak makan. Pasien makan dengan nasi, sayur
dan lauk seadanya. Jarang mengonsumsi
daging dan ikan, serta tidak suka minum susu.
Sering mengkonsumsi makanan yang digoreng
dan berpenyedap rasa saat beli jajan di sekolah.
g. Drug : Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan
tertentu.

7
8. Riwayat Ekonomi
Pasien tergolong dalam keluarga ekonomi kelas menengah
kebawah. Pendapatan rata-rata keluarga pasien adalah sekitar Rp.
2.000.000,00 yang berasal dari hasil pekerjaan ayahnya. Sekitar 1
bulan yang lalu keluarga pasien mendapat bantuan dana untuk
membangun rumah, namun karena biayanya masih kurang, akhirnya
orangtua pasien berhutang di bank dan saat ini masih membayar
cicilannya.
9. Riwayat Demografi
Hubungan antara pasien dengan keluarganya dapat dikatakan
rukun dan harmonis. Hal tersebut dapat terlihat dari cara
berkomunikasi pasien dengan ibu dan kakak kandungnya yang tampak
baik. Ayah pasien yang bekerja sampai sore hari selalu menyempatkan
untuk makan malam bersama istri dan anaknya, lalu biasanya
dilanjutkan menonton televisi bersama atau hanya duduk berkumpul di
ruang keluarga sambil menemani anaknya mengerjakan tugas sekolah.
10. Riwayat Sosial
Pasien mengenal baik tetangga di sekitar rumah dan tempatnya
besekolah. Pasien sering bermain bersama temannya di sekolah dan
dengan teman sebaya di lingkungan rumahnya.
11. Anamnesis Sistemik
a. Keluhan Utama : benjolan melenting banyak di kulit
b. Kulit : benjolan melenting banyak di kulit,
terasa sangat gatal dan panas
c. Kepala : pusing
d. Mata : tidak ada keluhan
e. Hidung : tidak ada keluhan
f. Telinga : tidak ada keluhan
g. Mulut : tidak ada keluhan
h. Tenggorokan : tidak ada keluhan
i. Pernafasan : tidak ada keluhan
j. Sistem Kardiovaskuler : tidak ada keluhan

8
k. Sistem Gastrointestinal : tidak ada keluhan
l. Sistem Saraf : Demam
m. Sistem Muskuloskeletal : tidak ada keluhan
n. Sistem Genitourinaria : tidak ada keluhan
o. Ekstremitas : Atas : tidak ada keluhan
Bawah : tidak ada keluhan

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum/Kesadaran
Tampak sakit ringan, kesadaran compos mentis.
2. Tanda Vital
a. Nadi : 95 x/menit
b. Pernafasan : 20 x/menit
c. Suhu : 37,5 oC per axillar
3. Status gizi
a. BB : 20 kg
b. TB : 110 cm
c. IMT : 16.53 kg/m2
d. Kesan status gizi : status gizi baik
4. Kulit : Sianosis (-), ikterik (-), ptekie (-), lesi
multipel papul eritematosa dan vesikel regio
ekstremitas superior, abdomen, thorax posterior, fasial
5. Kepala : Bentuk mesosefal, rambut tidak mudah dicabut
6. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
7. Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), discharge (-/-)
8. Telinga : Bentuk dan ukuran normal, sekret (-/-)
9. Mulut : Bibir sianosis (-), mukosa mulut basah (+), hiperemis
(-), tremor (-)
10. Tenggorokan : Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1
11. Leher : Deviasi trakea (-), limfonodi cervicalis tidak teraba
12. Thoraks :
a. Pulmo :

9
Inspeksi : pergerakan dada kanan = kiri
Palpasi : fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+) suara tambahan RBH (-/-)
RBK (-/-) wheezing (-/-)
b. Cor :
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
batas kiri bawah : SIC V LMCS
batas kanan atas : SIC II LPSD
batas kanan bawah : SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-)
13. Abdomen
Inspeksi : datar, lesi multiple papul eritematosa dan vesikel (+)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan (+) regio umbilical, hepar dan lien tidak
teraba
14. Sistem Collumna Vertebralis
Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
15. Ektremitas : lesi multiple papul eritematosa dan vesikel (+)
Akral dingin - - Oedem - -
- - - -

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

F. DIAGNOSIS HOLISTIK
1. Aspek Personal

10
Idea
Pasien mengeluhkan muncul benjolan melenting banyak di kulit
tangan, perut, punggung dan wajah. Benjolan terasa sangat gatal dan
panas. Sebelum muncul benjolan pasien mengalami demam dan nyeri
kepala.
Concern
Pasien merasa benjolan melenting di kulit badannya sangat gatal dan
panas sehingga membuat pasien tidak nyaman dan susah tidur jika
malam hari. Ibu pasien merasa khawatir karena benjolan melenting di
kulit semakin banyak dan menyebar hampir ke seluruh tubuh. Ibu
pasien khawatir dengan rasa gatal yang terus menerus dan di seluruh
tubuh tersebut pasien menjadi terganggu aktivitasnya.
Expectacy
Pasien dan keluarga mempunyai harapan agar penyakit pasien dapat
segera sembuh dan keluhan gatal yang dirasakan pasien dapat
berkurang, sehingga pasien dapat beraktivitas dengan nyaman.
Anxiety
Pasien dan keluarganya khawatir keadaan pasien semakin memburuk.
Keluarga pasien juga khawatir jika pasien akan menularkan
penyakitnya ke orang-orang di sekitar.
2. Aspek Klinis
Diagnosis : Varisela
Gejala klinis yang muncul : Benjolan melenting banyak di kulit
pertama kali muncul di kedua tangan
kemudian semakin banyak dan
menyebar ke perut, punggung, dan
wajah. Benjolan berbentuk lenting-
lenting berwarna kemerahan dan
beberapa berisi cairan berwarna kuning
bening. Sebelumnya pasien mengalami
demam dan nyeri kepala.

11
Diagnosa banding : Variola, Herpes Simpleks
Disseminata
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
Sebelum dan sesudah makan pasien hampir tidak pernah
mencuci tangan menggunakan sabun. Setelah keluar dari kamar mandi
pun pasien jarang mencuci tangan dengan sabun. Pasien memiliki
kebiasaan jajan sembarangan.Pasien tidak makan secara rutin setiap
harinya, sehari tidak makan 3x / hari. Lauk makan yang kurang bergizi
dan tidak mengonsumsi susu.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Makanan di depan sekolah yang kurang terjaga kebersihannya.
b. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat,
ventilasi dan pencahayaan kurang, dapur yang dekat dengan
kandang binatang ternak, jarak sumber air dengan septic tank
kurang dari 10 meter. Lantai dapur dan kamar mandi masih
menggunakan lantai tanah.
c. Status sosial ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan
kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat.
d. Status ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan pasien
kurang mengonsumsi makanan yang bergizi seperti sumber protein
daging merah, ikan dan susu.
e. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai higienitas
diri sendiri, makanan dan lingkungan.
f. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai penyakit
varisella.
g. Teman main pasien sedang terkena penyakit varisella namun tetap
bermain seperti biasa setiap harinya dengan pasien.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien mulai
terganggu dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari seperti
bersekolah dan bermain dengan teman di sekitar rumahnya.

12
G. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
1. Personal Care
a. Initial Plan
Usulan pemeriksaan penunjang:
1) Pemeriksaan darah lengkap (Leukosit, Eritrosit, Hitung Jenis
Leukosit, Ht).
b. Medikamentosa
1) PO Paracetamol syrup 3x2 cth jika demam dan pusing
2) PO Biovitan multivitamin syrup 1x1 cth
3) Salep kulit Acyclovir cream dioleskan 3x sehari
c. Non Medikamentosa
1) Istirahat tirah baring di rumah
2) Diet tinggi kalori, tinggi protein, tinggi serat
3) Perbanyak minum air putih
4) Mengoleskan losio kalamin atau bedak tabur untuk mengurangi
gatal dan gesekan
5) Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas
6) Menggunakan alat mandi dan pakaian yang terpisah dari
anggota keluarga lain
d. KIE (konseling, informasi dan edukasi)
Pasien dan keluarganya perlu mendapatkan edukasi mengenai:
1) Penyebab, faktor risiko, cara penularan, tanda dan gejala serta
pengobatan varisella.
2) Penyakit varisella sebenarnya merupakan penyakit self-limiting
disease yang penyembuhannya sangat bergantung dengan daya
tahan tubuh pasien.
3) Semakin baik daya tahan tubuh pasien maka proses
penyembuhan akan lebih cepat sehingga pasien harus istirahat
cukup, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan minnum
multivitamin agar daya tahan tubuhnya baik.

13
4) Salah satu komplikasi dari varisella adalah terjadinya infeksi
sekunder, sehingga pasien harus menjaga kebersihan baik
kebersihan dirinya, tempat tinggal, dan makanan.
5) Cara penularan varisella dan cara mencegahnya terutama
penularan dengan sesama anggota keluarga dan ibu hamil.
6) Edukasi tanda-tanda komplikasi varisella seperti : demam terus
menerus, batuk, sesak napas, nyeri perut kanan atas atau perut
terasa penuh, mual, muntah, kulit kekuningan hingga
penurunan kesadaran.

2. Family Care
a. Dukungan psikologis dari keluarga lainnya.
b. Keluarga harus lebih memperhatikan kebersihan makanan yang
dikonsumsi, kebersihan tempat tinggal dan kebersihan diri pasien.
c. Anggota keluarga lain juga harus menjaga kesehatannya dengan
istirahat yang teratur dan makan makanan yang bergizi supaya
tidak tertular pasien.

3. Community Care
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat di tempat tinggal
pasien tentang :
a. Perbaikan sanitasi lingkungan
b. Peningkatan hygiene makanan dan minuman
c. Peningkatan hygiene perorangan

H. PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam

14
III. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Bentuk keluarga An. A (6 tahun) adalah nuclear family. Kepala
keluarga adalah Tn. K (44 tahun) yang merupakan Ayah pasien. Pada
keluarga ini terdapat ayah pasien (44 tahun), ibu pasien (38 tahun),
pasien (6 tahun), dan kakak kandung laki-laki pasien (16 tahun) yang
hidup bersama dalam satu rumah. Pasien merupakan anak kedua dari

15
dua bersaudara. Ayah pasien merupakan anak kedua dari enam
bersaudara. Ibu pasien merupakan anak terakhir dari empat bersaudara.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan antara pasien dengan keluarganya cukup harmonis.
Setiap hari semua anggota keluarga menyempatkan berkumpul di
rumah, biasanya setelah makan malam. Tidak ada konflik yang berat
di dalam keluarga pasien. Menurut ibu pasien, pasien dan kakak laki-
lakinya termasuk anak yang patuh dan menurut. Jika ada perbedaan
pendapat diantara mereka, biasanya akan didiskusikan bersama sampai
ada kesepakatan. Jika ada masalah yang tidak terkait dengan anak-
anak, ayah dan ibu pasien lebih sering hanya mendiskusikan masalah
berdua saja, karena mereka berpikir anak-anaknya masih belum
dewasa.
3. Fungsi Sosial
Pasien bergaul dengan baik ke tetangga di sekitar rumahnya,
karena sejak kecil pasien sudah tinggal di lingkungan tersebut. Pasien
hampir mengenal semua anak sebaya yang tinggal di sekitar rumahnya.
Pasien juga sering bermain dengan teman sebayanya. Pasien mengaku
memiliki banyak teman, dan setiap sore bersama dengan teman-teman
mengikuti TPQ di masjid dekat rumahnya.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah
kebawah. Sumber pendapatan keluarga pasien hanya berasal dari
ayahnya. Ayah pasien seorang buruh las di bengkel daerah Sokarja,
Banyumas dengan penghasilan sekitar Rp 2.000.000,00/bulan. Ibu
pasien seorang ibu rumah tangga. Orangtua pasien juga beternak
sedikit ayam, itik, dan bebek yang hasilnya bisa dijual dan menambah
pendapatan keluarga. Namun hasil dari binatang ternak tidak cukup
banyak. Saat ini pasien dan kakaknya sekolah di sekolah swasta dekat
rumah, dan berangkat serta pulang sekolah dengan berjalan kaki
sehingga tidak ada biaya transportasi. Sekitar 1 bulan yang lalu
keluarga pasien mendapat bantuan dana untuk merenovasi rumah,

16
namun ternyata dana tersebut tidak cukup sehingga terpaksa ayah
pasien berhutang di bank dan saat ini masih membayar cicilan bank
tersebut. Menurut ibu pasien, cicilan bank inilah yang dirasa
membebani ekonomi keluarga saat ini.
Dapat disimpulkan bahwa bentuk keluarga An. A adalah
nuclear family. Keluarga An. A adalah keluarga yang cukup harmonis,
berhubungan baik dengan lingkungan sekitar dan merupakan keluarga

B. FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE)


Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R
SCORE dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah
= 0. A.P.G.A.R SCORE disini akan dilakukan pada masing-masing
anggota keluarga, kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi
fisiologis keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-5 = jelek, 5-7 =
sedang, 8-10 = baik.
Adaptation
Pasien jarang menceritakan keluhannya terhadap keluarga. Akan
tetapi, ketika An. A bercerita tentang sakit yang dialaminya atau masalah
yang sedang dihadapi, keluarga An. A berusaha membantu menyelesaikan
masalahnya.
Partnership
Komunikasi terjalin satu sama lain baik dengan orang tua pasien.
Kerjasama antar anggota keluarga terjalin baik. Pasien melakukan aktivitas di
rumah dan di sekolah dengan baik. Pasien juga bermain dengan tetangga saat ada
waktu luang. Setiap ada permasalahan didiskusikan bersama dengan anggota
keluarga lainnya, komunikasi dengan anggota keluarga berjalan dengan baik.
Growth
Pasien terlihat cukup puas atas segala bentuk dukungan dan bantuan dari
keluarga untuk kegiatan atau hal-hal baru yang hendak dilakukan pasien.
Affection
Pasien merasa cukup puas dengan perhatian keluarga terhadap pasien.
Dalam hal mengekspresikan perasaan atau emosi, antar anggota keluarga

17
berusaha untuk selalu jujur. Apabila ada hal yang tidak berkenan di hati,
maka anggota keluarga akan mencoba untuk segera menyampaikan tanpa
dipendam, sehingga permasalahan dapat segera selesai.
Resolve
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari
keluarga maupun dari saudara-saudara. Pasien merasa senang apabila bisa
berkumpul di rumah walaupun hanya untuk menonton televisi atau makan
bersama. Setiap malam orangtua pasien juga menemani pasien belajar baca tulis
di ruang keluarga.

18
Tabel 3.1 Nilai APGAR dari An. A terhadap keluarga
Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R An. A Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 10, fungsi fisiologis An. A terhadap keluarga cukup sehat

Tabel 3.2 Nilai APGAR dari Ny. S terhadap keluarga


Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R Ny. S Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 5, fungsi fisiologis Ny. S terhadap keluarga cukup sehat

19
Tabel 3.3 Nilai APGAR dari Tn. K terhadap keluarga
Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R Tn. K Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 5, fungsi fisiologis Tn. A terhadap keluarga cukup sehat

Tabel 3.4 Nilai APGAR dari An. D terhadap keluarga


Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R An. D Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 10, fungsi fisiologis An. D terhadap keluarga cukup sehat

20
A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (10+5+5+10)/4 = 7.5

Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien baik


Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah
30 sehingga rata-rata A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 7.5. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam
keadaan baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)


Fungsi patologis dari keluarga An. A dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M sebagai berikut:
Tabel 3.4 Nilai SCREEM dari keluarga pasien
Sumber Patologi Ket
Social Interaksi sosial keluarga dengan tetangga dan saudara-saudara -
di sekitar rumah cukup baik.
Cultural Dalam kegiatan sehari-hari keluarga ini menggunakan -
bahasa Jawa, walaupun dicampur dengan Bahasa Indonesia.
Namun jarang mengikuti kegiatan adat ataupun
mempercayai kepercayaan-kepercayaan jawa kuno.
Religion Pemahaman agama cukup baik. Penerapan ajaran juga baik, -
hal ini dapat dilihat dari pasien dan keluarga rutin menjalankan
sholat serta pasien dan kakaknya rutin mengaji di TPQ setiap
sore.
Economic Ekonomi keluarga ini tergolong kelas menengah kebawah, +
yang bekerja di dalam keluarga hanya ayah pasien. Ibu pasien
membantu mengurus binatang ternak di rumah, namun hasil
jualan binatang ternak tidak cukup banyak. Untuk kebutuhan
primer sudah bisa terpenuhi, meski belum mampu mencukupi
kebutuhan sekunder. Saat ini keluarga pasien juga sedang
memiliki hutang di bank yang jumlahnya cukup banyak.
Education Pendidikan anggota keluarga kurang. Latar belakang +
pendidikan Ayah adalah SMP, Ibu pasien SMP, pasien saat ini
bersekolah di taman kanak-kanak. Sedangkan kakak pasien
bersekolah di SMK. Pengetahuan keluarga pasien tentang
penyakit yang diderita masih kurang.
Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga menggunakan -
pelayanan puskesmas dan menggunakan Kartu Indonesia
Sehat (KIS). Akses layanan kesehatan yang dapat
dijangkau yaitu puskesmas.

21
Keterangan :
1. Economic (+) oleh karena ekonomi keluarga pasien tergolong
menengah kebawah.
2. Education (+) oleh karena pengetahuan pasien tentang kesehatan
terutama tentang penyakitnya masih kurang.
Kesimpulan :
Keluarga An. A fungsi patologis yang ditemukan antara lain fungsi
ekonomi dan fungsi pendidikan.

22
D. FAMILY GENOGRAM

Gambar 3.1 Genogram Keluarga An. S

Keterangan :
: Perempuan

: Laki-laki
: Pasien

23
E. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

Tn. A Ny. S

An. A An. D

Gambar 3.2 Pola Interaksi Keluarga An. A


Keterangan : hubungan baik
Sumber : Data September 2019
Kesimpulan :
Hubungan antara anggota keluarga di keluarga An. A dinilai harmonis
dan saling mendukung.

24
IV. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU


KELUARGA
1. Faktor Perilaku
Pasien seminggu terakhir bermain dengan teman sebayanya yang
sedang sakit varisela. Pasien juga jajan sembarangan di depan sekolah,
jajan yang dibeli minuman dingin dan gorengan. Hampir setiap hari
sepulang sekolah sampai sore pasien bermain dengan teman-temannya
di dekat sungai sehingga tidak pernah tidur dan makan siang. Sebelum
dan sesudah makan pasien hampir tidak pernah mencuci tangan dengan
sabun. Setelah pulang dari sekolah dan keluar dari kamar mandi pun
pasien jarang mencuci tangan dengan sabun. Dengan perilaku seperti
ini daya tahan tubuh pasien kurang baik sehingga mudah terkena
infeksi.
2. Faktor Non Perilaku
Varisella merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh
infeksi virus, sehingga sangat bergantung dari proses penularan dan
daya tahan tubuh seseorang. Proses penularan dan daya tahan tubuh
dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya pola makan, pola istirahat,
kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal. Faktor pendidikan dan
ekonomi mempengaruhi kesadaran seseorang untuk mengatur pola
makan yang baik, pola istirahat yang cukup, kebersihan diri dan
lingkungan.
Pasien termasuk dalam keluarga dengan latar belakang
pendidikan yang kurang. Pendidikan terakhir ayah dan ibu pasien adalah
tamatan SMP Hal tersebut mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman
pasien mengenai kesehatan, termasuk faktor risiko, agen penyebab,
gejala klinis dan pengobatan varisella. Sebagai contoh, ibu pasien
mengetahui bahwa teman main pasien sedang terkena varisella namun
ibu pasien tidak mengetahui bahwa penyakit tersebut menular. Ibu

25
pasien juga tidak memisah alat mandi dan pakaian pasien dengan milik
anggota keluarga lain. Selain itu karena tidak mengetahui cara
mengobatinya, ibu pasien baru membawa pasien setelah 2 hari muncul
keluhan serta membiarkan pasien menggaruk sampai lenting-lenting di
kulit pecah dan muncul di tempat baru. Dengan latar belakang
pendidikan yang rendah juga menyebabkan orangtua pasien kurang
memahami pentingnya daya tahan tubuh bagi anak. Bagaimana pola
makan yang baik, pola istirahat yang cukup dan kebersihan diri serta
lingkungan tempat tinggal dapat mempengaruhi daya tahan tubuh
anak.
Kondisi ekonomi keluarga pasien menengah ke bawah
sehingga kesulitan untuk membeli makan makanan yang bergizi.
Setiap hari lauk pauk yang dikonsumsi keluarga pasien hanya
seadanya, seperti sayur mayur, tahu, tempe, dan telor. Dengan ekonomi
keluarga yang kekurangan juga keluarga pasien tidak dapat membuat
hunian yang sehat.
Pasien tinggal di rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang
masih kurang. Pada beberapa ruangan ventilasi dan pencahayaan sudah
cukup. Namun di masing-masing kamar tidak mendapat ventilasi dan
pencahayaan cukup. Bahkan ada salah satu kamar yang tidak mendapat
sinar matahari sama sekali. Sehingga kamar terasa pengap dan lembab.
Selain itu kamar tidak tertata rapi karena tidak adanya perabotan rumah
yang memadai membuat kamar semakin kurang nyaman. Dinding
rumah terbuat dari batako namun tidak dilapisi semen lagi hanya dicat
saja. Lantai rumah diplester semen namun bagian dapur dan kamar
mandi masih berlantai tanah.
Rumah pasien terdiri dari 7 ruangan, yaitu 1 ruang tamu yang
juga digunakan sebagai ruang keluarga, 3 ruang kamar tidur, 1 ruang
makan, dan 1 ruang dapur serta 1 kamar mandi yang terletak
bersebelahan dengan dapur. Tepat di sebelah dapur juga terdapat
kandang binatang ternak dan sumur. Kamar mandi sudah
menggunakan jamban, namun sangat kotor karena berlantai tanah serta

26
tidak berpintu dan berlampu. Secara umum, kondisi rumah tampak
jarang dibersihkan. Sumber air bersih yang digunakan pasien untuk
kebutuhan sehari-hari berasal dari sumur bor yang ada di belakang
rumah dan terkadang sumur bor milik tetangga. Jarak septic tank dari
sumber air hanya sekitar 3-4 meter.
Lingkungan tempat tinggal An. A daerah pemukiman padat
penduduk dengan jarak antar rumah sekitar 3-4 meter. Terdapat
beberapa lahan kosong yang ditanami oleh warga. Kebiasaan
membuang sampah di lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik,
karena warga membuang sampah di galian tanah lalu jika sudah penuh
dibakar. Beberapa lahan kosong juga digunakan untuk membuang
sampah sehingga lingkungan menjadi kotor. Tidak terdapat saluran air
atau selokan, air limbah dari kamar mandi hanya dialirkan ke kebun
belakang rumah dan dibiarkan terserap tanah. Lingkungan tempat
tinggal yang kotor ini menjadi faktor risiko berbagai penyakit yang
disebabkan oleh infeksi.

Perilaku:
- Pasienbermain dengan
teman sebayanya yang
sedang sakit varicella
Lingkungan:
- Tidak makan 3x/hari
Kondisi rumah dan
- Istirahat kurang
lingkungan rumah yang
- Sebelum dan sesudah
tidak sehat
makan pasien hampir tidak
pernah mencuci tangan
dengan sabun
- Setelah keluar dari kamar
mandi pun pasien jarang Pendidikan dan
mencuci tangan dengan pengetahuan:
sabun An. A
Rendahnya pemahaman
Varisella
pasien dan keluarga
mengenai faktor resiko,
agen penyebab, gejala
Ekonomi: klinis dan pengobatan
Termasuk keluarga kelas varisella.
menengah kebawah.

Gambar 4.1. Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga

27
Keterangan:
= Faktor Perilaku
= Faktor Non-Perilaku

B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


1. Gambaran Lingkungan
Pasien tinggal di Desa Rawalo RT 01/RW 06 Kecamatan
Rawalo, Kabupaten Banyumas. Pasien tinggal disebuah rumah dengan
jumlah penghuni 4 orang. Rumah pasien terdiri dari 7 ruangan,
yaitu 1 ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang keluarga, 3
ruang kamar tidur, 1 ruang makan, dan 1 ruang dapur serta 1 kamar
mandi yang terletak bersebelahan dengan dapur. Ventilasi dan
pencahayaan di masing-masing ruangan rumah pasien masih belum
cukup. Beberapa ruangan seperti ruang tamu, ruang makan dan dapur
terdapat pencahayaan dan ventilasi yang cukup. Namun untuk kamar
tidur dan kamar mandi tidak terdapat ventilasi serta pencahayaan yang
cukup. Selain itu kamar tidur di rumah pasien kurang tertata rapi
sehingga terasa semakin pengap dan lembab. Sedangkan untuk
ruangan dapur terletak bersebelahan dengan kamar mandi di sebelah
kanannya serta kandang binatang ternak (ayam, itik, dan bebek) di
sebelah kirinya. Ibu pasien terkadang memasak menggunakan kayu
bakar.
Kamar mandi di rumah pasien sudah menggunakan jamban
namun tidak berpintu, tetapi hanya ditutup oleh korden, serta lantainya
masih tanah. Air limbah dari kamar mandi tidak dialirkan ke selokan
namun hanya dialirkan ke kebun belakang rumah. Di sekitar rumah
pasien tidak terdapat selokan maupun saluran air. Septic tank berjarak
sekitar 5 meter dari sumur bor di belakang rumah yang menjadi sumber
air. Dinding rumah pasien terbuat dari batako dan hanya dicat tanpa
dilapisi semen kembali. Lantai rumah dari ruang tamu sampai ke ruang

28
makan terbuat dari semen, namun untuk dapur dan kamar mandi hanya
lantai tanah.
Pembuangan sampah di rumah pasien biasanya dikumpulkan
dahulu menggunakan tempat sampah plastik lalu di buang di galian
tanah penampung sampah di kebun belakang rumah. Lalu jika galian
tanah tersebut sudah penuh, biasanya sampah akan dibakar. Saat ini
kondisi rumah pasien tidak tertata rapi dan kotor karena baru 1 bulan
selesai dibangun. Atap rumah pasien menggunakan seng dan kayu
serta tidak menggunakan eternit. Pemukiman disekitar rumah pasien
padat, jarak antar rumah sekitar 3-4 meter, namun masih terdapat
beberapa lahan kosong yang ditanami tanaman oleh warga sekitar.

Kesan: kebersihan rumah dan lingkungannya belum adekuat

2. Denah Rumah

Gambar 4.2 Denah Rumah An. A

29
V. DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. MASALAH MEDIS :
Pasien jenis kelamin laki-laki usia 6 tahun dengan varisella.

B. MASALAH NONMEDIS :
1. Pasien bermain dengan teman sebayanya yang terkena varisella.
2. Pasien memiliki kebiasaan membeli jajan sembarangan di depan
sekolah.
3. Pasien memiliki kebiasaan tidak makan 3x/hari dan tidak makan
makanan yang bergizi.
4. Pasien memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun
sebelum dan setelah makan dan setelah keluar dari kamar mandi.
5. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai faktor resiko,
agen penyebab, gejala klinis dan pengobatan varisella.
6. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat, dapur
yang dekat dengan kandang binatang ternak, dan jarak sumber air
dengan septic tank kurang dari 10 meter. Pencahayaan dan ventilasi di
beberapa ruangan belum cukup. Dapur dan kamar mandi masih
berlantai tanah.
7. Pasien tergolong dalam keluarga dengan kelas ekonomi menengah
kebawah.

30
C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN

- Kebiasaan makan jajan Kebiasaan tidak mencuci


sembarangan tangan dengan sabun
- Tidak makan 3x/hari sebelum dan setelah
- Tidak makan makanan makan, setelah setelah
Kelas ekonomi
bergizi keluar dari kamar mandi.
menengah
kebawah.

An. A
Varisella
Keadaan dan kebersihan
lingkungan rumah yang
Rendahnya pemahaman tidak sehat.
Bermain dengan pasien dan keluarga
teman yang mengenai faktor resiko,
sedang terkena agen penyebab, gejala
varisella klinis, penularan dan
pengobatan varisella

Gambar 5.1 Diagram Permasalahan Pasien


D. MATRIKULASI MASALAH
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks:
Tabel 5.1 Matrikulasi Masalah
I T R Jumlah
No. Daftar Masalah
P S SB Mn Mo Ma IxTxR
1. Pengetahuan tentang
5 5 5 5 5 4 5 93,33
penyakit rendah
2. Perilaku tidak mencuci
5 4 4 3 4 5 5 60.67
tangan dengan sabun
3. Pola makan yang tidak
sehat (3x/hari dan makan 5 5 4 3 4 3 3 46.62
makanan bergizi)
4. Kondisi rumah dan
lingkungan sekitar yang 5 5 5 3 3 2 2 35.00
tidak sehat
5. Kondisi ekonomi keluarga
adalah kelas menengah 5 5 2 1 1 1 1 4.00
kebawah

31
Keterangan:
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (ketersediaan sarana)

Kriteria penilaian:
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting

E. PRIORITAS MASALAH
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah
keluarga An. A adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan tentang penyakit rendah
2. Perilaku pasien tidak mencuci tangan dengan sabun
3. Pola makan yang tidak sehat (3x/hari dan makan makanan bergizi)
4. Kondisi rumah dan lingkungan sekitar yang tidak sehat
5. Kondisi ekonomi keluarga kelas menengah kebawah
Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan pasien dan
keluarga tentang penyakit yang diderita masih rendah.

F. PENENTUAN ALTERNATIF TERPILIH


Penentuan alternatif terpilih berdasarkan Metode Rinke yang
menggunakan dua kriteria yaitu efektifitas dan efiseiensi jalan keluar.
Kriteria efektifitas terdiri dari pertimbangan mengenai besarnya masalah
yang dapat diatasi, kelanggengan selesainya masalah, dan kecepatan
penyelesaian masalah. Efisiensi dikaitkan dengan jumlah biaya yang

32
diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Skoring efisiensi jalan keluar
adalah dari sangat murah (1), hingga sangat mahal (5).
Tabel 5.2 Kriteria dan Skoring Efektivitas dan Efisiensi Jalan Keluar
C
M
I V (jumlah biaya
(besarnya
(kelanggengan (kecepatan yang diperlukan
Skor masalah
selesainya penyelesaian untuk
yang dapat
masalah) masalah) menyelesaikan
diatasi)
masalah)
1 Sangat kecil Sangat tidak Sangat lambat Sangat murah
langgeng
2 Kecil Tidak langgeng Lambat Murah
3 Cukup besar Cukup langgeng Cukup cepat Cukup murah
4 Besar Langgeng Cepat Mahal
5 Sangat besar Sangat langgeng Sangat cepat Sangat mahal

Prioritas alternatif terpilih dengan menggunakan metode Rinke adalah


sebagai berikut:

Tabel 5.3 Alternatif Terpilih


Urutan
Daftar Alternatif Jalan Efektivitas Efisiensi MxIxV
No. Prioritas
Keluar M I V C C
Masalah
1. Penyuluhan kepada pasien 3 3 3 1 27 1
dan keluarga mengenai
pengertian, penyebab,
faktor risiko, cara
penularan, tanda dan
gejala, serta penanganan
dan pencegahan varisella.
2. Pembagian leaflet 3 3 2 3 6 2
mengenai varisella dan
perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS).

Berdasarkan hasil perhitungan penentuan alternatif terpilih


menggunakan metode Rinke, didapatkan alternatif terpilih yaitu penyuluhan
kepada pasien dan keluarga mengenai pengertian, penyebab, faktor risiko, cara
penularan, tanda dan gejala, serta penanganan dan pencegahan varisella
dengan skor 27.

33
VI. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA

A. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA


1. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit varisella terutama
mengenai sumber penularan, tanda dan gejala, serta pencegahan
dengan meningkatkan daya tahan tubuh.
Tujuan Khusus
Mengubah perilaku pasien dan keluarga dalam menjaga kebersihan
dan kesehatan anggota keluarga.
2. Cara Pembinaan
Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang sudah
ditentukan bersama dengan cara memberikan penyuluhan dan edukasi
pada pasien dan keluarga. Penyuluhan dan edukasi dilakukan dalam
suasana santai serta dengan metode komunikasi dua arah. Keluarga
pasien dapat menanyakan apa yang belum diketahui tentang penyakit
varisella.
3. Materi Pembinaan
Materi utama pada penyuluhan dan edukasi kepada pasien dan
keluarga yaitu mengenai pengertian, penyebab, faktor risiko, cara
penularan, tanda dan gejala, serta penanganan dan pencegahan
varisella. Selain itu juga pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak
supaya tidak sering terkena penyakit infeksi. Materi selanjutnya berupa
penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai
salah satu upaya menjaga kesehatan anggota keluarga supaya tidak
tertular penyakit infeksius.
4. Sasaran Pembinaan
Sasaran dari pembinaan yang dilakukan adalah pasien beserta anggota
keluarga pasien yang tinggal di rumah tersebut sebanyak 3 orang.
5. Evaluasi Pembinaan

34
Evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan beberapa
pertanyaan mengenai materi yang telah disampaikan sebelumnya
kepada pasien dan keluarga. Jika pasien atau keluarganya dapat
menjawab pertanyaan, maka mereka dianggap sudah memahami
materi yang telah disampaikan sebelumnya dan dapat saling
mengingatkan antar anggota keluarga.

F. HASIL PEMBINAAN KELUARGA


Tabel 6.1. Hasil Pembinaan Keluarga
Anggota
Hari, keluarga
No Kegiatan yang dilakukan Hasil kegiatan
Tanggal yang
terlibat
1. Jumat, 20 a. Membina hubungan saling Pasien dan a. Pasien dan
September percaya dengan pasien keluarga keluarganya
2019 dan keluarga, diantaranya memiliki kondisi
perkenalan dan bercerita ekonomi yang
mengenai kehidupan kekurangan, latar
sehari-hari belakang
b. Melakukan tanya jawab pendidikan
terhadap kondisi pasien menengah ke
dan keluarga termasuk bawah, dan tidak
kondisi ekonomi, ada kepercayaan
pendidikan dan budaya yang dianut oleh
yang masih dianut pasien dan
c. Melakukan tanya jawab keluarganya selain
terhadap perilaku sehari- ajaran agama
hari pasien terkait b. Perilaku sehari-hari
kesehatannya pasien terkait
d. Mendiskusikan hubungan kesehatan belum
antar anggota keluarga sesuai dengan
dan hubungan dengan PHBS
masyarakat sekitar c. Hubungan antar
e. Memeriksa kondisi rumah anggota keluarga
dan lingkungan tempat dan hubungan sosial
tinggal pasien dengan masyarakat
sekitar baik
d. Kondisi rumah dan
lingkungan sekitar
tempat tinggal
pasien tidak sehat

35
2. Sabtu, 21 a. Menggali pengetahuan Pasien dan a. Pasien dan keluarga
September dan pemahaman pasien keluarga memahami tentang
2019 dan keluarga tentang penyakit varisella
penyakitnya b. Pasien dan keluarga
b. Memberikan penjelasan sepakat untuk
mengenai pengertian, mencoba
penyebab, faktor risiko, membiasakan diri
tanda dan gejala, cara menerapkan PHBS
penularan serta
penatalaksanaan varisella
c. Memotivasi pasien dan
keluarga untuk
memperbaiki higienitas
perorangan dengan
menerapkan PHBS
sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kesehatan
pasien dan keluarga

G. HASIL EVALUASI
1. Evaluasi Formatif
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada 4 orang yang terdiri dari,
pasien An. A, ibu pasien Ny. S, ayah pasien Tn. K dan kakak laki-laki
pasien An. D. Metode yang digunakan berupa konseling dan edukasi
tentang penyakit varisella mulai dari pengertian, penyebab, faktor
risiko, cara penularan, tanda dan gejala, penanganan dan edukasi
PHBS sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit
infeksius dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien dan keluarga.
2. Evaluasi Promotif
Sasaran konseling sebanyak 4 orang yaitu, pasien, ibu pasien,
ayah pasien, dan kakak kandung pasien. Waktu pelaksanaan kegiatan
pada Jumat 20 September 2019 dan Sabtu 21 September 2019 di rumah
pasien. Konseling berjalan dengan lancar dan pasien serta keluarga
merasa puas karena merasa lebih diperhatikan dengan adanya
kunjungan ke rumahnya untuk memberikan edukasi tentang penyakit
yang sedang diderita An. D.
3. Evaluasi Sumatif

36
Sebelum dilakukan konseling pasien dan keluarga mengaku
belum memahami penyakit yang diderita oleh An. D sehingga dengan
adanya konseling pasien merasa puas dan senang karena menjadi lebih
paham tentang penyakitnya. Keluarga pasien juga menjadi lebih paham
tentang pengaruh lingkungan yang tidak bersih dengan kesehatan
seseorang. Setelah konseling selesai, dilakukan tanya jawab dengan
peserta.

37
VII. TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer menular,
disebabkan oleh Varicella Zooster Virus (VZV), yang menyerang kulit
dan mukosa, dan ditandai dengan adanya vesikel-vesikel.15

B. ETIOLOGI
Varicella disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV).
Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus ini
meyebabkan penyakit varicella, sedangkan reaktivasi menyebabkan
herpes zoster. Varicella Zoster Virus (VZV) termasuk kelompok virus
herpes dengan ukuran diameter kira-kira 140–200 nm.1,2,6
Varicella-Zooster virus diklasifikasikan sebagai herpes virus
alfa karena kesamaannya dengan prototipe kelompok ini yaitu virus
herpes simpleks. Inti virus disebut Capsid, terdiri dari protein dan DNA
dengan rantai ganda, yaitu rantai pendek (S) dan rantai panjang (L) dan
membentuk suatu garis dengan berat molekul 100 juta yang disusun dari
162 capsomer dan sangat infeksius. Genom virus mengkode lebih dari 70
protein, termasuk protein yang merupakan sasaran imunitas dan timidin
kinase virus, yang membuat virus sensitif terhadap hambatan oleh
asiklovir dan dihubungkan dengan agen antivirus.7
VZV dapat pula menyebabkan Herpes Zoster. Kedua penyakit ini
mempunyai manifestasi klinis yang berbeda. Kontak pertama dengan
virus ini akan menyebabkan varicella, oleh karena itu varicella dikatakan
infeksi akut primer, kemudian setelah penderita varicella tersebut
sembuh, mungkin virus itu tetap ada di akar ganglia dorsal dalam bentuk
laten (tanpa ada manifestasi klinis) dan kemudian VZV diaktivasi oleh
trauma sehingga menyebabkan Herpes Zoster.4,5,7
VZV dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah
penderita varicella sehingga mudah dibiakan dalam media yang terdiri
dari fibroblast paru embrio manusia.4

38
Gambar 7.1. Struktur Virus Varicella-Zoster

C. PATOFISIOLOGI
Varicella disebabkan oleh VZV yang termasuk dalam famili virus
herpes. Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran
napas bagian atas dan orofaring (percikan ludah, sputum). Multiplikasi
virus di tempat tersebut diikuti oleh penyebaran virus dalam jumlah
sedikit melalui darah dan limfe (viremia primer). Virus VZV
dimusnahkan/ dimakan oleh sel-sel sistem retikuloendotelial, di sini
terjadi replikasi virus lebih banyak lagi (pada masa inkubasi). Selama
masa inkubasi infeksi virus dihambat sebagian oleh mekanisme
pertahanan tubuh dan respon yang timbul (imunitas nonspesifik).2,5,9
Pada sebagian besar individu replikasi virus lebih menonjol atau
lebih dominan dibandingkan imunitas tubuhnya yang belum berkembang,
sehingga dalam waktu dua minggu setelah infeksi terjadi viremia
sekunder dalam jumlah yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan panas
dan malaise, serta virus menyebar ke seluruh tubuh lewat aliran darah,
terutama ke kulit dan membrane mukosa. Lesi kulit muncul berturut-
berturut, yang menunjukkan telah memasuki siklus viremia, yang pada
penderita yang normal dihentikan setelah sekitar 3 hari oleh imunitas
humoral dan imunitas seluler VZV. Virus beredar di leukosit
mononuklear, terutama pada limfosit. Bahkan pada varicella yang tidak
disertai komplikasi, hasil viremia sekunder menunjukkan adanya
subklinis infeksi pada banyak organ selain kulit.2,9

39
Respon imun penderita menghentikan viremia dan menghambat
berlanjutnya lesi pada kulit dan organ lain. Imunitas humoral terhadap
VZV berfungsi protektif terhadap varicella. Pada orang yang terdeteksi
memiliki antibodi serum biasanya tidak selalu menjadi sakit setelah
terkena paparan eksogen. Sel mediasi imunitas untuk VZV juga
berkembang selama varicella, berlangsung selama bertahun-tahun, dan
melindungi terhadap terjadinya resiko infeksi yang berat.9
Reaktivasi pada keadaan tubuh yang lemah sebagian idiopatik
tanpa diketahui penyebabnya, sebagian simptomatik (defisiensi imun
melalui penyakit system imun, neoplasia, supresi imun).3

D. MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi penyakit ini berlangsung 14 sampai 21 hari. Masa
inkubasi dapat lebih lama pada pasien dengan defisiensi imun dan pada
pasien yang telah menerima pengobatan pasca paparan dengan produk
yang mengandung antibodi terhadap varicella.1,9
Perjalanan penyakit dibagi menjadi 2 stadium yaitu stadium
prodromal dan stadium erupsi. Stadium prodromal yaitu 24 jam sebelum
kelainan kulit timbul, terdapat gejala seperti demam, malaise, kadang-
kadang terdapat kelainan scarlatinaform atau morbiliform. Stadium
erupsi dimulai dengan terjadinya papul merah, kecil, yang berubah
menjadi vesikel yang berisi cairan jernih dan mempunyai dasar
eritematous. Permukaan vesikel tidak memperlihatkan cekungan
ditengah (unumbilicated).4
Gejala klinis mulai gejala prodromal, yakni demam yang tidak
terlalu tinggi, malaise dan nyeri kepala, kemudian disusul timbulnya
erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam
berubah menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan embun
(tear drops). Vesikel akan berubah menjadi keruh (pustul) dalam waktu
24 jam dan kemudian pecah menjadi krusta. Biasanya vesikel menjadi
kering sebelum isinya menjadi keruh. Sementara proses ini berlangsung,
dalam 3-4 hari erupsi tersebar disertai perasaan gatal. Timbul lagi vesikel-

40
vesikel yang baru di sekitar vesikula yang lama, sehingga menimbulkan
gambaran polimorfi. Stadium erupsi yang seperti ini disebut sebagai
stadium erupsi bergelombang.1,2,4

Gambar 7.2. Lesi Kulit Varisella

Penyebaran terutama di daerah badan dan kemudian menyebar


secara sentrifugal ke muka dan ekstremitas, serta dapat menyerang
selaput lendir mata, mulut, dan saluran napas bagian atas. Jika terdapat
infeksi sekunder terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional.
Penyakit ini biasanya disertai gatal.1
Pada anak kecil jarang terdapat gejala prodromal. Sementara pada
anak yang lebih besar dan dewasa, munculnya erupsi kulit didahului
gejala prodromal. Ruam yang seringkali didahului oleh demam selama 2-
3 hari, kedinginan, malaise, anoreksia, sakit kepala, nyeri punggung, dan
pada beberapa pasien dapat disertai nyeri tenggorokan dan batuk kering.9
Pada pasien yang belum mendapat vaksinasi, ruam dimulai dari
muka dan skalp, dan kemudian menyebar secara cepat ke badan dan
sedikit ke ekstremitas. Lesi baru muncul berturut-turut, dengan distribusi
terutama di bagian sentral. Ruam cenderung padat kecil-kecil di
punggung dan antara tulang belikat daripada skapula dan bokong dan
lebih banyak terdapat pada medial daripada tungkai sebelah lateral. Tidak
jarang terdapat lesi di telapak tangan dan telapak kaki, dan vesikula sering

41
muncul sebelumnya dan dalam jumlah yang lebih besar di daerah
peradangan, seperti daerah yang terkena sengatan matahari.9
Gambaran dari lesi varicella berkembang secara cepat, yaitu lebih
kurang dari 12 jam, dimana mula-mula berupa makula eritematosa yang
berkembang menjadi papul, vesikel, pustul, dan krusta. Vesikel dari
varicella berdiameter 2-3 mm, dan berbentuk elips, dengan aksis
panjangnya sejajar dengan lipatan kulit. Vesikel biasanya superfisial dan
berdinding tipis, dan dikelilingi daerah eritematosa sehingga tampak
terlihat seperti “embun di atas daun mawar”. Cairan vesikel cepat menjadi
keruh karena masuknya sel radang, sehingga mengubah vesikel menjadi
pustul. Lesi kemudian mengering, mula-mula di bagian tengah sehingga
menyebabkan umbilikasi dan kemudian menjadi krusta. Krusta akan
lepas dalam 1-3 minggu, meninggalkan bekas bekas cekung kemerahan
yang akan berangsur menghilang. Apabila terjadi superinfeksi dari
bakteri maka dapat terbentuk jaringan parut. Lesi yang telah menyembuh
dapat meninggalkan bercak hipopigmentasi yang dapat menetap selama
beberapa minggu/bulan.9,14
Vesikel juga terdapat di mukosa mulut, hidung, faring, laring,
trakea, saluran cerna, kandung kemih, dan vagina. Vesikel di mukosa ini
cepat pecah sehingga seringkali terlihat sebagai ulkus dangkal
berdiameter 2-3 mm.9,14
Gambaran khas dari varicella adalah adanya lesi yang muncul
secara simultan (terus-menerus), di setiap area kulit, dimana lesi tersebut
terus berkembang. Suatu prospective study menunjukkan rata-rata jumlah
lesi pada anak yang sehat berkisar antara 250-500. Pada kasus sekunder
karena paparan di rumah gejala klinisnya lebih berat daripada kasus
primer karena paparan di sekolah, hal ini mungkin disebabkan karena
paparan di rumah lebih intens dan lebih lama sehingga inokulasi virus
lebih banyak.5,9
Demam biasanya berlangsung selama lesi baru masih timbul, dan
tingginya demam sesuai dengan beratnya erupsi kulit. Jarang di atas
39oC, tetapi pada keadaan yang berat dengan jumlah lesi banyak dapat

42
mencapai 40,5oC. Demam yang berkepanjangan atau yang kambuh
kembali dapat disebabkan oleh infeksi sekunder bakterial atau komplikasi
lainnya. Gejala yang paling mengganggu adalah gatal yang biasanya
timbul selama stadium vesikuler.9,14
Infeksi yang timbul pada trimester pertama kehamilan dapat
menimbulkan kelainan kongenital, sedangkan infeksi yang timbul
beberapa hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varicella
kongenital pada neonatus.1
Karena kemungkinan mendapat varicella pada masa kanak-
kanak sangat besar, maka varicella jarang ditemukan pada wanita hamil
(0,7 tiap 1000 kehamilan). Diperkirakan 17% dari anak yang dilahirkan
wanita yang mendapat varicella ketika hamil akan menderita kelainan
bawaan berupa bekas luka di kulit (cutaneous scars), berat badan lahir
rendah, hypoplasia tungkai, kelumpuhan dan atrofi tungkai, kejang,
retardasi mental, korioretinitis, atrofi kortikal, katarak atau kelainan mata
lainnya. Angka kematian tinggi. Bila seorang wanita hamil mendapat
varicella dalam 21 hari sebelum ia melahirkan, maka 25% dari neonatus
yang dilahirkan akan memperlihatkan gejala varicella kongenital pada
waktu dilahirkan sampai berumur 5 hari. Biasanya varicella yang timbul
berlangsung ringan dan tidak mengakibatkan kematian. Sedangkan bila
seorang wanita hamil mendapat varicella dalam waktu 4-5 hari sebelum
melahirkan, maka neonatusnya akan memperlihatkan gejala varicella
kongenital pada umur 5-10 hari. Disini perjalanan penyakit varicella
sering berat dan menyebabkan kematian sebesar 25-30%. Mungkin ini
ada hubungannya dengan kurun waktu fetus berkontak dengan varicella
dan dialirkannya antibody itu melalui plasenta kepada fetus.4

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

43
Gambaran histopatologi yaitu vesikula terdapat dalam epidermis,
terbentuk akibat ‘degenerasi balon’, sangat sukar dibedakan dari kelainan
pada herpes zoster dan herpes simpleks.5,6
Lesi pada varicella dan herpes zoster tidak dapat dibedakan secara
histopatologi. Pada pemeriksaan menunjukkan sel raksasa berinti banyak
dan sel epitel yang mengandung badan inklusi intranuklear yang
asidofilik.9
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan percobaan Tzanck dengan
cara membuat sediaan hapus yang diwarnai, dimana bahan pemeriksaan
diambil dari kerokan dari dasar vesikel yang muncul lebih awal,
kemudian diletakkan di atas object glass, dan difiksasi dengan ethanol
atau methanol, dan diwarnai dengan pewarnaan hematoxylin-eosin,
Giemsa, Papanicolaou, atau pewarnaan Paragon. Hasilnya akan didapati
sel datia berinti banyak.1,9

Gambar 7.3 Sel raksasa berinti banyak

Di samping itu Varicella zoster virus (VZV) polymerase chain


reaction (PCR) adalah metode pilihan untuk diagnosis varicella. VZV
juga dapat diisolasi dari kultur jaringan, meskipun kurang sensitif dan
membutuhkan beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya. Bahan yang
paling sering digunakan adalah isolasi dari cairan vesikuler. VZV PCR
adalah metode pilihan untuk diagnosis klinis yang cepat. Real-time PCR
metode tersedia secara luas dan merupakan metode yang paling sensitif

44
dan spesifik dari tes yang tersedia. Hasil tersedia dalam beberapa jam.
Jika real-time PCR tidak tersedia, antibodi langsung metode (DFA) neon
dapat digunakan, meskipun kurang sensitif dibanding PCR dan
membutuhkan pengambilan spesimen yang lebih teliti.5,9
Berbagai tes serologi untuk antibodi terhadap varicella tersedia
secara komersial termasuk uji aglutinasi lateks (LA) dan sejumlah
enzyme-linked immunosorbent tes (ELISA). Saat ini tersedia metode
ELISA, dan ternyata tidak cukup sensitif untuk mampu mendeteksi
serokonversi terhadap vaksin, tetapi cukup kuat untuk mendeteksi orang
yang memiliki kerentanan terhadap VZV. ELISA sensitif dan spesifik,
sederhana untuk melakukan, dan banyak tersedia secara komersial. Di
samping itu LA juga tersedia secara sensitif, sederhana, dan cepat untuk
dilakukan. LA agak lebih sensitif dibandingkan ELISA komersial,
meskipun dapat menghasilkan hasil yang positif palsu, dan dapat
menyebabkan kegagalan untuk mengidentifikasi orang-orang yang tidak
terbukti memiliki imunitas terhadap varicella. Dimana salah satu dari tes
ini akan berguna untuk skrining kekebalan terhadap varicella.5,12

F. DIAGNOSIS
Varicella biasanya mudah didiagnosa berdasarkan gambaran
klinis yaitu penampilan dan perubahan pada karakteristik dari ruam yang
timbul, terutama apabila ada riwayat terpapar varicella 2-3 minggu
sebelumnya.9
Varicella khas ditandai dengan erupsi papulovesikuler setelah
fase prodromal ringan atau bahkan tanpa fase prodromal, dengan
disertai panas dan gejala konstitusi ringan. Gambaran lesi bergelombang,
polimorfi dengan penyebaran sentrifugal. Sering ditemukan lesi pada
membrane mukosa. Penularannya berlangsung cepat.2
Diagnosis laboratorik sama seperti pada herpes zoster yaitu
dengan pemeriksaan sediaan hapus secara Tzanck (deteksi sel raksasa
dengan banyak nucleus/inti), pemeriksaan mikroskop electron cairan

45
vesikel (deteksi virus secara langsung) dan material biopsi (kultur), dan
tes serologik (meningkatnya titer).2,3

G. TATALAKSANA
Tidak ada terapi spesifik terhadap varicella. Pengobatan bersifat
simptomatik dengan antipiretik dan analgesik. Untuk panasnya dapat
diberikan asetosal atau antipiretik lain seperti asetaminofen dan
metampiron. Untuk menghilangkan rasa gatal dapat diberikan
antihistamin oral atau sedative. Topikal diberikan bedak yang ditambah
zat anti gatal (mentol, kamfora) seperti bedak salisilat 1-2% atau lotio
kalamin untuk mencegah pecahnya vesikel secara dini serta
menghilangkan rasa gatal. Jika timbul infeksi sekunder dapat diberikan
antibiotika berupa salep dan oral. Dapat pula diberikan obat antivirus.
VZIG (varicella zoster immunoglobuline) dapat mencegah atau
meringankan varicella, diberikan intramuscular dalam 4 hari setelah
terpajan. Yang penting pada penyakit virus, umumnya adalah istirahat /
tirah baring. 1,2,4
Pengobatan secara sistemik dapat dengan memberikan antivirus.
Beberapa analog nukleosida seperti acyclovir, famciclovir, valacyclovir,
dan brivudin, dan analog pyrophosphate foskarnet terbukti efektif untuk
mengobati infeksi VZV. Acyclovir adalah suatu analog guanosin yang
secara selektif difosforilasi oleh timidin kinase VZV sehingga
terkonsentrasi pada sel yang terinfeksi. Enzim-enzim selular kemudian
mengubah acyclovir monofosfat menjadi trifosfat yang mengganggu
sintesis DNA virus dengan menghambat DNA polimerase virus. VZV
kira-kira sepuluh kali lipat kurang sensitif terhadap acyclovir
dibandingkan HSV.9
Valacyclovir dan famcyclovir, merupakan prodrug dari acyclovir
yang mempunyai bioavaibilitas oral lebih baik daripada acyclovir
sehingga kadar dalam darah lebih tinggi dan frekuensi pemberian obat
berkurang.9

46
Anti virus pada anak dengan pengobatan dini varicella dengan
pemberian acyclovir (dalam 24 jam setelah timbul ruam) pada anak
imunokompeten berusia 2-12 tahun dengan dosis 4 x 20 mg/kgBB/hari
selama 7 hari menurunkan jumlah lesi, penghentian terbentuknya lesi
yang baru, dan menurunkan timbulnya ruam, demam, dan gejala
konstitusi bila dibandingkan dengan placebo. Tetapi apabila pengobatan
dimulai lebih dari 24 jam setelah timbulnya ruam cenderung tidak efektif
lagi. Hal ini disebabkan karena varicella merupakan infeksi yang relatif
ringan pada anak-anak dan manfaat klinis dari terapi tidak terlalu bagus,
sehingga tidak memerlukan pengobatan acyclovir secara rutin. Namun
pada keadaan dimana harga obat tidak menjadi masalah, dan kalau
pengobatan bisa dimulai pada waktu yang menguntungkan (dalam 24 jam
setelah timbul ruam), dan ada kebutuhan untuk mempercepat
penyembuhan sehingga orang tua pasien dapat kembali bekerja, maka
obat antivirus dapat diberikan.6,9
Pada remaja dan dewasa, pengobatan dini varicella dengan
pemberian acyclovir dengan dosis 5 x 800 mg selama 7 hari menurunkan
jumlah lesi, penghentian terbentuknya lesi yang baru, dan menurunkan
timbulnya ruam, demam, dan gejala konstitusi bila dibandingkan dengan
placebo.9
Secara acak, pemberian placebo dan acyclovir oral yang
terkontrol pada orang dewasa muda yang sehat dengan varicella
menunjukkan bahwa pengobatan dini (dalam waktu 24 jam setelah
timbulnya ruam) dengan acyclovir oral (5x800 mg selama 7 hari) secara
signifikan mengurangi terbentuknya lesi yang baru, mengurangi luasnya
lesi yang terbentuk, dan menurunkan gejala dan demam. Dengan
demikian, pengobatan rutin dari varicella pada orang dewasa tampaknya
masuk akal. Meskipun tidak diuji, ada kemungkinan bahwa famciclovir,
yang diberikan dengan dosis 200 mg per oral setiap 8 jam, atau
valacyclovir dengan dosis 1000 mg per oral setiap 8 jam mudah dan tepat
sebagai pengganti acyclovir pada remaja normal dan dewasa.

47
Percobaan terkontrol yang dilakukan pada orang dewasa
imunokompeten dengan pneumonia varicella menunjukkan bahwa
pengobatan dini (dalam waktu 36 jam dari rumah sakit) dengan acyclovir
intravena (10mg/kgBB setiap 8 jam) dapat mengurangi demam dan
takipnea dan meningkatkan oksigenasi. Komplikasi serius lainnya dari
varicella pada orang yang imunokompeten, seperti ensefalitis,
meningoencephalitis, myelitis, dan komplikasi okular, sebaiknya diobati
dengan acyclovir intravena.9
Percobaan terkontrol pada pasien immunocompromised dengan
varicela menunjukkan bahwa pengobatan dengan asiklovir intravena
menurunkan insiden komplikasi yang mengancam kehidupan visceral
ketika pengobatan dimulai dalam waktu 72 jam dari mulai timbulnya
ruam. Acyclovir intravena menjadi standar perawatan untuk varicella
pada pasien yang disertai dengan imunodefisiensi substansial. Meskipun
pemberian terapi oral dengan famciclovir atau valacyclovir mungkin
cukup untuk pasien dengan derajat ringan gangguan kekebalan tubuh,
tetapi tidak ada uji klinis terkontrol yang menunjukkan secara pasti. Pada
penyakit berat atau wanita hamil dapat diberikan acyclovir IV
10mg/kgBB tiap 8 jam selama 7 hari.6,9
Asiklovir adalah turunan guanosin. Virus herpes mengandung
timidin kinase yang dapat menambah fosfat baru pada guanosin dan
deoksiguanosin. Senyawa ini akan menfosforilasikan aasiklovir 30-100
kali lebih cepat daripada kinase sel inang. Produknya setelah fosforilasi
menjadi asikloguanosin trifosfat yang menghambat herpes DNA
polymerase 10-30 kali lebih kuat dari pada polymerase sel inang.
Asiklovir, suatu analog guanosin yang tidak mempunyai gugus glukosa,
mengalami monofosforilasi dalam sel oleh enzim yang di kode hervers
virus, timidin kinase. Karena itu, sel-sel yang di infeksi virus sangat
rentan. Asiklovir adalah suatu prodrug yang baru memiliki efek antivirus
setelah dimetabolisme menjadi asiklovir trifosfat. Asiklovir bekerja pada
DNA Polimerase virus, seperti DNA polymerase virus herpes. Sebelum
dapat menghambat sintesis DNA virus, asiklovir harus mengalami

48
fosforilasi intra seluler dalam tiga tahap untuk menjadi bentuk trifosfat.
Fosforilasi pertama dikatalisis oleh timidin kinase virus, proses
selanjutnya berlangsung dalam sel yang terinfeksi virus. Langkah yang
penting dari proses ini adalah pembentukan asiklovir monofosfat yang
dikatalisis oleh timidin kinase pada sel hospes yang terinfeksi oleh virus
hospes atau vericella zoster atau oleh fosfotransferase yang dihasilkan
oleh sitomeganovirus. Kemudian enzim seluler menambahkan gugus
fosfat untuk membentuk asiklovir difosfat dan asiklovir trifosfat.
Asiklovir trifosfat menghambat sintesis DNA virus dengan cara
berkompetensi dengan 2’-deoksiguanosi trifosfat sebagai substrat DNA
polymerase virus dan masuk ke dalam DNA virus yang menyebabkan
terminasi rantai DNA yang premature. Jika asiklovir (dan bukan 2’-
deoksiguanosi trifosfat) yang masuk ketahap replikasi DNA virus,
sintesis berhenti. Inkorporasi asiklovir monofosfat ke DNA virus bersifat
irreversible karena enzim eksonuklease tidak dapat memperbaikinya.
Pada proses ini, DNA polymerase virus menjadi inaktif. Timidin kinase
yang sudah berubah atau berkurang dan polymerase DNA telah
ditemukan dalam beberapa strain virus yang resisten. Resistensi terhadap
asiklovir disebabkan oleh mutasi pada gen timidin kinase virus atau pada
gen DNA polymerase. Pemberian obat bisa secara intravena, oral atau
topical. Efek samping tergantung pada cara pemberian. Misalnya, iritasi
local dapat terjadi dari pemberian topical, sakit kepala, diare, mual, dan
muntah merupakan hasil pemberian oral, gangguan fungsi ginjal dapat
timbul pada dosis tinggi atau pasien dehidrasi yang menerima obat secara
intravena.
Asiklovir trifosfat menghambat sintesis DNA melalui dua
mekanisme: menghambat deoxyGTP secara kompetitif untuk selanjutnya
bereaksi lebih lanjut oleh polymerase DNA, dengan cara mengikat diri
pada cetakan DNA membentuk kompleks yang tidak mudah lepas, dan
memutus pembentukan rantai DNA virus.

49
H. PENCEGAHAN
Pencegahan dengan melakukan vaksinasi. Vaksin dapat diberikan
aktif ataupun pasif. Aktif dilakukan dengan memberikan vaksin varicella
berasal dari jalur yang telah dilemahkan (live attenuated). Pasif dilakukan
dengan memberikan zoster imuno globulin (ZIG) dari zoster imun plasma
(ZIP).4
Vaksin pasif dengan memberikan ZIG. ZIG ialah suatu globulin-
gama dengan titer antibodi yang tinggi dan yang didapatkan dari
penderita yang telah sembuh dari infeksi herpes zoster. Pemberian ZIG
sebanyak 5ml dalam 72 jam setelah kontak dengan penderita varicella
dapat mencegah penyakit ini pada anak sehat, tapi pada anak dengan
defisiensi imunologis, leukemia atau penyakit keganasan lainnya,
pemberian ZIG tidak menyebabkan pencegahan yang sempurna. Lagi
pula diperlukan ZIG dengan titer yang tinggi dan dalam jumlah yang
lebih besar.4
ZIP adalah plasma yang berasal dari penderita yang baru sembuh
dari herpes zoster dan diberikan secara intravena sebanyak 3-14,3
ml/kgBB. Pemberian ZIP dalam 1-7 hari setelah kontak dengan penderita
varicella pada anak dengan defisiensi imunologis, leukemia atau penyakit
keganasan lainnya mengakibatkan menurunnya insidens varicella dan
merubah perjalanan penyakit varicella menjadi ringan dan dapat
mencegah varicella untuk kedua kalinya. Pemberian globulin-gama akan
menyebabkan perjalanan varicella jadi ringan tapi tidak mencegah
timbulnya varicella. Dianjurkan untuk memberikan globulin-gama
kepada bayi yang dilahirkan dalam waktu 4 hari setelah ibunya
memperlihatkan tanda-tanda varicella. Ini dapat dilaksanakan pada jam-
jam pertama kehidupan bayi tersebut.4,5
Vaksin aktif dianjurkan agar vaksin varicella ini hanya diberikan
kepada penderita leukemia, penderita penyakit keganasa lainnya dan
penderita dengan defisiensi imunologis untuk mencegah komplikasi dan
kematian bila kemudian terinfeksi oleh varicella. Pada anak sehat
sebaiknya vaksinasi varicella ini jangan diberikan karena bila anak

50
tersebut terkena penyakit ini, perjalanan penyakitnya ringan, lagi pula
semua virus herpes dapat menyebabkan suatu penyakit laten dan
akibatnya baru nyata beberapa dasawarsa setelah vaksin itu diberikan.
Angka serokonversi mencapai 97-99%. Diberikan pada yang berumur 12
bulan atau lebih. Lama proteksi belum diketahui pasti, meskipun
demikian vaksinasi ulangan dapat diberikan setelah 4-6 tahun.1,4,5
Pemberiannya secara subkutan 0,5 ml pada yang berusia 12 bulan
sampai 12 tahun. Pada usia di atas 12 tahun juga diberikan 0,5 ml, setelah
4-8 minggu diulangi dengan dosis yang sama. Bila terpajannya baru
kurang dari 3 hari perlindungan vaksin yang diberikan masih terjadi,
karena masa inkubasinya antara 7-21 hari. Sedangkan antibody yang
cukup sudah timbul antara 3-6 hari setelah vaksinasi.1
Karakteristik vaksin varicella (Varivax, Merck) merupakan
vaksin virus hidup yang dilemahkan, yang berasal dari strain Oka VZV.
Virus vaksin diisolasi oleh Takahashi pada awal tahun 1970 dari cairan
vesikular yang berasal dari anak sehat dengan penyakit varicella. Vaksin
varicella ini dilisensikan untuk penggunaan umum di Jepang dan Korea
pada tahun 1988. Vaksin ini diijinkan di Amerika Serikat pada tahun
1995 untuk orang-orang usia 12 bulan dan yang lebih tua.9,12
Pencegahan dapat dengan mencegah infeksi sekunder misalnya
seperti kuku digunting agar pendek, mengganti pakaian dan alas tempat
tidur sesering mungkin.4

I. KOMPLIKASI
Komplikasi pada anak-anak umumnya jarang terjadi. Komplikasi
lebih sering terjadi pada orang dewasa, berupa ensefalitis, pneumonia,
glomerulonephritis, karditis, hepatitis, keratitis, konjungtivitis, otitis,
arteritis, dan kelainan darah (beberapa macam purpura).1,2
Pada anak sehat, varicella merupakan penyakit ringan dan jarang
disertai komplikasi. Angka mortalitas pada anak usia 1-14 tahun
diperkirakan 2/100.000 kasus, namun pada neonates dapat mencapai
hingga 30%. Komplikasi tersering umumnya disebabkan oleh infeksi

51
sekunder bakterial pada lesi kulit, yang biasanya disebabkan oleh
Stafilokokus aureus atau Streptokokus beta hemolitikus grup A, sehingga
terjadi impetigo, furunkel, selulitis, atau erisipelas, tetapi jarang terjadi
gangren. Infeksi fokal tersebut sering menyebabkan jaringan parut, tetapi
jarang terjadi sepsis yang disertai infeksi metastase ke organ yang
lainnya. Vesikel dapat menjadi bula bila terinfeksi stafilokokus yang
menghasilkan toksin eksfoliatif.9,14
Pneumonia varicella hanya terdapat sebanyak 0,8% pada anak,
biasanya disebabkan oleh infeksi sekunder dan dapat sembuh sempurna.
Pneumonia varicella jarang didapatkan pada anak dengan system
imunologis normal, sedangkan pada anak dengan defisiensi imunologis
atau pada orang dewasa tidak jarang ditemukan.4
Pada orang dewasa demam dan gejala konstitusi biasanya lebih
berat dan berlangsung lebih lama, ruam varicella lebih luas, dan
komplikasi lebih sering terjadi. Pneumonia varicella primer merupakan
komplikasi tersering pada orang dewasa. Pada beberapa pasien gejalanya
asimpomatis, tetapi yang lainnya dapat berkembang mengenai sistem
pernafasan dimana gejalanya dapat lebih parah seperti batuk, dyspnea,
tachypnea, demam tinggi, nyeri dada pleuritis, sianosis, dan batuk darah
yang biasanya timbul dalam 1-6 hari sesudah timbulnya ruam.9,14
Morbiditas dan mortalitas pada varicella secara nyata meningkat
pada pasien dengan defisiensi imun. Pada pasien ini replikasi virus yang
terus-menerus dan menyebar luas mengakibatkan terjadinya viremia yang
berkepanjangan, dimana mengakibatkan ruam yang semakin luas, jangka
waktu yang lebih lama dalam pembentukan vesikel baru, dan penyebaran
visceral klinis yang signifikan. Pada pasien dengan defisiensi imun dan
diterapi dengan kortikosteroid mungkin dapat berkembang menjadi
pneumonia, hepatitis, encephalitis, dan komplikasi berupa perdarahan,
dimana derajat keparahan dimulai dari purpura yang ringan hingga parah
dan seringkali mengakibatkan purpura yang fulminan dan varicella
malignansi.9,14

52
Juga mungkin didapatkan komplikasi pada susunan saraf seperti
ensefalitis, ataksia, nistagmus, tremor, myelitis transversa akut,
kelumpuhan saraf muka, neuromielitis optika atau penyakit Devic dengan
kebutaan sementara, sindroma hipotalamus yang disertai dengan obesitas
dan panas badan yang berulang-ulang. Penderita varicella dengan
komplikasi ensefalitis setelah sembuh dapat meninggalkan gejala sisa
seperti kejang, retardasi mental dan kelainan tingkah laku.4
Komplikasi yang jarang terjadi antara lain myocarditis,
pancreatitis, gastritis dan lesi ulserasi pada saluran pencernaan, artritis,
vasculitis Henoch-Schonlein, neuritis, keratitis, dan iritis. Patogenesa
dari komplikasi ini belum diketahui, tetapi infeksi VZV melalui parenkim
secara langsung dan endovascular, atau vasculitis yang disebabkan oleh
VZV antigen-antibodi kompleks, tampaknya menjadi penyebab pada
kebanyakan kasus.9,12

VIII. PENUTUP

53
A. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa An. A adalah seorang pasien yang menderita
penyakit varisella.
1. Aspek Personal
Idea
Pasien mengeluhkan muncul benjolan melenting banyak di kulit tangan,
perut, punggung dan wajah. Benjolan terasa sangat gatal dan panas.
Sebelum muncul benjolan pasien mengalami demam dan nyeri kepala.
Concern
Pasien merasa benjolan melenting di kulit badannya sangat gatal dan
panas sehingga membuat pasien tidak nyaman dan susah tidur jika malam
hari. Ibu pasien merasa khawatir karena benjolan melenting di kulit
semakin banyak dan menyebar hampir ke seluruh tubuh. Ibu pasien
khawatir dengan rasa gatal yang terus menerus dan di seluruh tubuh
tersebut pasien menjadi terganggu aktivitasnya.
Expectacy
Pasien dan keluarga mempunyai harapan agar penyakit pasien dapat
segera sembuh dan keluhan gatal yang dirasakan pasien dapat berkurang,
sehingga pasien dapat beraktivitas dengan nyaman.
Anxiety
Pasien dan keluarganya khawatir keadaan pasien semakin memburuk.
Keluarga pasien juga khawatir jika pasien akan menularkan penyakitnya
ke orang-orang di sekitar.
2. Aspek Klinis
Diagnosis : Varisella
Diagnosa banding : Variola, Herpes Simpleks Disseminata
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
Pasien bermain dengan temannya yang terkena varisella.
Pasien tidak makan teratur 3x/hari dan jarang makan makanan bergizi.
Pasien memiliki kebiasaan membeli makanan di penjual makanan di
pinggir jalan. Sebelum dan sesudah makan pasien hampir tidak pernah

54
mencuci tangan dengan sabun. Setelah keluar dari kamar mandi pun
pasien jarang mencuci tangan.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Makanan di pinggir jalan yang kurang terjaga kebersihannya.
b. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat,
dapur yang dekat dengan kandang binatang ternak, tempat sampah
terbuka yang diletakkan di samping dapur, dan jarak sumber air
dengan septic tank kurang dari 10 meter.
c. Status sosial ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan
kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat.
d. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai faktor
resiko, agen penyebab, gejala klinis dan pengobatan varisella.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien mulai
terganggu dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari seperti
bersekolah, berkumpul bersama keluarga, dan bermain dengan teman-
temannya.

B. SARAN
Pemberian penyuluhan dengan materi utama mengenai pengertian,
penyebab, faktor risiko, cara penularan, tanda dan gejala, serta penanganan
dan pencegahan varisella. Materi selanjutnya berupa penyuluhan tentang
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai salah satu upaya
pencegahan terhadap penyakit varisella.

55
DAFTAR PUSTAKA

Artanti NW. 2013. Hubungan antara Sanitasi Lingkungan, Higiene


Perorangan, dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Demam Tifoid
di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun
2012. Skripsi. Available at :
http://lib.unnes.ac.id/18354/1/6450408002.pdf. Diakses pada 20 Juni
2016.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. KMK No. 364/SK/V/2006


Tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Jakarta : Direktorat
Jenderal PP dan PL.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan Indonesia


tahun 2011. Jakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2010. Profil Kesehatan Jawa Tengah.
Semarang.

GA dan Finlay BB. 2008. Pathogenesis of Enteric Salmonella Infections. Curr


Opin Gastroenterol. Vol. 24(1): 22-26.

Haraga A et al. 2008. Salmonella Interplay with Host Cells. Nat Rev Micobiol;
6:53.

Herliani D, Usep AH, Rika N. 2015. Hubungan antara Faktor Risiko dengan
Kejadian Demam Tifoid pada Pasien yang di Rawat di Rumah Sakit Al-
Islam Bandung Periode Februari - Juni 2015. Bandung : Universitas
Islam.

Kristina RT, Andi ZA, Ansariadi. 2014. Faktor Risiko Demam Tifoid di
Wilayah Kerja Puskesmas Galesong Utara Kabupaten Takalar. Skripsi.
Makasar : Unversitas Hasanudin.

Kurniasih. 2011. Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Demam Tifoid di


Rumah Sakit Jasa Kartini Kecamatan Rancah Kabupaten Tasikmalaya.
Skripsi. Bandung : Universitas Siliwangi.

Maria HW. 2007. Hubungan Faktor Determinan dengan Kejadian Demam


Tifoid di Indonesia Tahun 2006. Media Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan. Vol. 19 (4) : 165-173.

Okky PP. 2013. Faktor Risiko Kejadian Penyakit Demam Tifoid pada
Penderita yang Dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. Vol 2 (1) : 108-117.

56
Pegues DA, Miller SI. 2011. Salmonellosis. Dalam Harrison's Principles of
Internal Medicine 18th edition. New York: McGraw and Hill.

Rakhman A, Rizka H, Dibyo P. 2009. Faktor – Faktor Risiko yang


Berpengaruh terhadap Kejadian Demam Tifoid pada Orang Dewasa.
Berita Kedokteran Masyarakat. Vol. 25 (4) : 167-175.

Risani ES, Henry P, Vandry DK. 2015. Hubungan Personal Hygiene dengan
Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Tumaratas.
Ejournal. Vol. 3(2) : 1-8.

Santoso. 2007. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Demam Tifoid di Kabupaten


Purworejo. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Suprapto. 2012. Faktor Risiko Pejamu yang Mempengaruhi Kejadian Demam


Tifoid (Studi Kasus Di RSUP Dr. Kariadi Semarang). Tesis. Semarang:
Universitas Diponegoro

Vollaard AM, Van A, Widjaja S, Visser LG, Surjadi C. 2004. Risk factors for
Typhoid and Paratyphoid Fever in Jakarta, Indonesia. Journal of
American Medical Association. Vol. 291(21) : 2607-2615.

WHO, 2014. Typhoid : Immunization, Vaccines and Biologicalis. Available at


: http://www.who.int/immunization/diseases/typhoid/en/, diakses pada
20 Juni 2016.

Widodo D. 2009. Demam Tifoid. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III Edisi V. Jakarta : InternaPublishing.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

Wulan YS. 2013. Faktor Kebiasaan dan Sanitasi Lingkungan Hubunganya


dengan Kejadian Demam Thypoid Di Wilayah Kerja Puskesmas
Ngemplak Kabupaten Boyolali. Skripsi. Avilable at:
http://eprints.ums.ac.id/27257/11/02._NASKAH_PUBLIKASI.pdf,
diakses pada 20 Juni 2016.

57