Anda di halaman 1dari 23

BAB 2

PEMBAHASAN
2.1. Pencemaran di Lingkunga Rumah Tangga
2.1.1. Pengertian Pencemaran di Lingkungan Rumah Tangga
Menurut Undang-Undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun
1982 dalam Setiawan (2001), “pencemaran lingkungan adalah masuknya atau
dimasukkannya makluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan
atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga
kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan
menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya semula”.
Pencemaran lingkungan merupakan proses masuknya makhluk hidup, zat, energi, atau
komponen lain kedalam lingkungan yang menyebabkan berubahnya tatanan lingkungan
oleh kegiatan manusia atau proses alam (Wahidin, 2008 dalam Maridi, Tanpa tahun).
Menurut Tjokrokusumo (1998) dalam Yahya (2012), buangan yang berasal dari
rumah tangga disebut dengan bahan pencemaran domestik. Limbah domestik atau
limbah rumah tangga yang dihasilkan dari kegiatan rutin (sehari-hari) manusia,
umumnya dalam bentuk: (a) cair; terdiri dari pembuangan air kotor dari kamar mandi,
kakus (tinja dan air seni), dapur, dan kegiatan lain yang menggunakan air di rumah, (b)
padat; dikenal sebagai sampah (domestik) (Damanhuri, 2010). Sementara itu zat atau
bahan yang dapat mengakibatkan suatu pencemaran disebut polutan. Syarat suatu zat dapat
disebut polutan apabila:
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal.
2. Berada pada waktu yang tidak tepat.
3. Berada di tempat yang tidak tepat (Mariadi, Tanpa tahun).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan pencemaran dilingkungan rumah
tangga adalah berubahnya tatanan lingkungan yang disebabkan masuknya komponen lain
akibat kegiatan manusia.
2.1.2. Bentuk Pencemaran di Lingkungan Rumah Tangga
Bentuk pencemaran di rumah tangga dapat di lihat dari sumber limbanhya. Sumber
limbah rumah tangga adalah sebagai berikut:
1. Limbah Organik,
Limbah organik merupakan segala limbah yang mengandung unsur Karbon (C),
sehingga meliputi limbah dari mahluk hidup (misalnya kotoran hewan dan manusia
seperti tinja (feaces) befungsi mengandung mikroba potogen, air seni (urine)
umumnya mengandung Nitrogen dan Posfor, sisa makanan (sisa-sisa sayuran, wortel,
kol, bayam, salada dan lain-lain), kertas, kardus, karton, air cucian, minyak goreng
bekas dan lain-lain. Limbah yang mempunyai daya racun yang tinggi, misalnya: sisa
obat, baterai bekas, dan air aki. Limbah yang tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya
dan beracun, sedangkan limbah air cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung
bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis seperti bakteri, jamur, virus, dan
sebagainya. Namun secara teknis sebagian orang mendefinisakan limbah organik
sebagai limbah yang hanya berasal dari mahluk hidup (alami) dan sifatnya mudah
busuk. Artinya bahan-bahan organik alami namun sulit membusuk/atau terurai,
seperti kertas, dan bahan organik sintetik (buatan) yang sulit membusuk atau terurai
(Widiyanto, 2015)
2. Limbah Anorganik
Limbah anorganik di definisikan sebagai limbah yang tidak dapat atau sulit
terurai atau busuk secara alami oleh miro organism pengurai. Limbah anorganik
seperti plastik, karet yang sulit terurai oleh mikroorganisme sebab unsur karbonnya
memebentuk rantai kimia yang kompleks dan panjang.
Pencemaran di ligkungan rumah tangga dapat menurut tempatnya dibagi menjadi
beberapa jenis. Pencemaran tersebut terdiri dari:
A. Pencemaran Air
Pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya suatu makhluk hidup, zat,
energi atau komponen lain ke dalam air atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan
manusia atau proses alam tertentu, sehingga kualitas air mengalami penurunan.
Limbah rumah tangga yang cair merupakan sumber pencemaran air. kandungan
limbah rumah tangga cair terdiri dari bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi,
minyak, lemak, air buangan manusia) yang terbawa air got/parit, kemudian ikut aliran
sungai. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan
pembusukan. Akibatnya kadar oksigen dalam air turun drastis sehingga biota air akan
mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, kita dapat menemui cacing Tubifex
berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis
(bioindikator) parahnya pencemaran oleh bahan organik dari limbah pemukiman.
Bahan-bahan anorganik seperti plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa
arus air hingga akhirnya menyumbat saluran air, dan mengakibatkan banjir.
Yahya (2012) menjelaskan bahwa karakeristik limbah cair domestik adalah
sebagai berikut.
1. Karakteristik fisika
a. Temperatur : Suhu dari air buangan biasanya sedikit lebih tinggi dari air biasa
b. Warna, air buangan segar biasanya berwarna agak abu-abu. Dalam kondisi septik
air buangan akan berwarna hitam
c. Bau : air buangan segar biyasanya mempunyai bau seperti sabun atau bau lemak
sedangkan dalam kondisi sepyik akan berbau sulfur dan kurang sedap.
d. Kekeruhan: kekeruhan padatan air buangan sangat tergantung pada kandungan zat
yang tersuspensi. Kandungan zat yang tersuspensi banyak maka kekruhan akan
menjadi tingi
e. Padatan tersuspensi: padatan tersuspensi atau suspended solids(SS) merupakan
kombinasi padatan yang dapat diendapkan dan yang tidak dapat diendapkan
2. Karakter kimia
a. pH
b. Kebutuhan Oksigen Biologis (BOD5 atau Biological Oxygen Demand): BOD5
merupakan kandungan senyawa karbon melalui pengukuran langsung jumlah
oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme pada suhu20ºC selama 5 hari.
c. Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD atau Chemical Oxygen Demand): Nilai COD
menunjukkan konsentrasi oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi semua
senyawa karbon dalam sampek
3. Karakteristik Biologi
Karakteristik biologi meliputi jumlah coliforms, Fecal coliforms, patogen
spesifik dan virus. Total coliform sdan Fecal coliforms digunakan sebagai indikator
kehadiran bakteri patogen. Patogen yang spesifik, seperti organisme Salmonella,
mungkin akan lebih diperlukan untuk studi dampak tertentu.
B. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah masuk atau dimasukkannya suatu makhluk hidup, zat,
energi atau komponen lain ke dalam tanah atau berubahnya struktur tanah oleh
kegiatan manusia atau proses alam tertentu, sehingga kualitas tanah mengalami
penurunan. Contoh : pembakaran sampah, penggunaan pupuk kimia dan pestisida
secara berlebihan.
C. Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya suatu makhluk hidup, zat,
energi atau komponen lain ke dalam udara atau berubahnya tatanan udara oleh
kegiatan manusia atau proses alam tertentu, sehingga kualitas udara mengalami
penurunan. Pencemaran udara berasal dari asap dari kegiatan memasak, asap dari
obat nyamuk bakar, gas dari obat serangga semprotan, asap dari kayu bakar. Asap
dari bahan bakar padat seperti kayu, mengandung zat-zat seperti karbon monoksida,
nitrogen oksida, sulfur oksida, benzena, formaldehid, 1,3-butadien, dan senyawa
poliaromatik seperti benzo (a) piren (Smith, 2004).

2.1.3. Klasifikasi Limbah di Lingkungan Rumah Tangga


Klasifikasi limbah padat (sampah) sendiri menurut istilah teknis ada 6 kelompok,
yaitu:
1. Sampah Organik mudah busuk (garbage), yaitu limbah padat semi basah berupa
bahan-bahan organic yang mudah busuk.
2. Sampah Anorganik dan organik tak membusuk (rubbish) yaitu limbah padat anorganik atau
organic cukup kering yang sulit terurai oleh mikro organisme, sehingga sulit membusuk,
misalnya kertas, plastik kaca dan logam.
3. Sampah abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu, biasanya hasil pembakaran.
4. Sampah bangkai binatang (bead animal), yaitu semua limbah yang berupa bangkai binatang.
5. Sampai sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil sapuan jalanan yang berisi
berbagai sampah yang tersebar di jalanan.
Sampah dibuang oleh manusia sebagian masih dimanfaatkan yaitu:
1. Sampah basah, yaitu sampah yang memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat,
serat, dan nutrien lainnya, serta nilai kalorinya berpotensi untuk dijadikan pupuk
organik atau kompos, makanan ternak, dan sumber energi.
2. Sampah plastik, yaitu sampah yang terdiri atas berbagai jenis polimer plastik yang
memiliki perbedaan sifat dan komposisi kimia, yang masing-masing dapat diolah dan
dimanfaatkan kembali misalnya polyethylene terepththalate (PET) untuk botol
minuman ringan, botol deterjen, plastik bening untuk kemasan, dan serat untuk bahan
jaket, polyethylene HDPE dapat dimanfaatkan kembali untuk kotak kompos, botol
deterjen, kerat, kotak sampah, dan pipa.
3. Sampah kertas, yaitu sampah yang terdiri dari berbagai jenis komponen kertas yang
dapat diolah dan dimanfaatkan kembali misalnya untuk kertas cetak, kertas tulis, tissu,
cetakan untuk media massa, wadah lur, baki makanan, dan pot tanaman.
4. Sampah logam, yaitu sampah yang terdiri atas berbagai jenis komponen logam yang
dapat diolah dan dimanfaatkan kembali, misalnya logam aluminium untuk kemasan
bahan makanan dan minuman( Setyowati, 2010).

2.1.4. Dampak Pencemaran di Lingkungan Rumah Tangga


Pencemaran ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan
kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu
(penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi
pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu
terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan
kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem. Bintoro
(2010) mengungkapkan akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran air antara lain
1. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen.
2. Terjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi).
3. Pendangkalan dasar perairan.
4. Punahnya biota air.
5. Munculnya banjir akibat got tersumbat sampah.
6. Menjalarnya wabah muntaber.
Smith (2004) menyebutkan dampak pencemaran udara di lingkungan rumah tangga
adalah terjangkit beberapa penyakit seperti asma, katarak, dan TBC.

2.2. Pengolahan Sampah Rumah Tangga dengan Sistem 6M


Pengubahan paradigma bahwa sampah harus dibuang menjadi paradigma sampah
harus dikelola merupakan langkah yang paling awal harus dilakukan guna merintis upaya
pengelolaan sampah yang terpadu. Menurut Al Muhdar (1998), konsep pembudayaan 6M
(mengurangi, menggunakan kembali, mengganti, memisahkan, mendaurulang, dan
mengomposkan) merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah sampah rumah
tangga melalui perubahan perilaku masyarakat. Mengurangi berarti suatu upaya
mengurangi jumlah sampah yang kita timbulkan; Menggunakan kembali berarti memakai
atau memanfaatkan kembali sampah rumah tangga; Mengganti berarti mengganti jenis
bahan kebutuhan rumah tangga tertentu dengan jenis bahan yang lain; Memisahkan berarti
memisahkan sampah rumah tangga antara sampah basah dan sampah kering yang sejenis;
Mendaurulang berarti memanfaatkan kembali sampah rumah tangga dengan mengolahnya
terlebih dahulu; Mengomposkan berarti suatu upaya mengolah sampah rumah tangga
menjadi kompos.
1. Mengurangi
Cara mengurangi antara lain: (1) berbelanja lebih berhati-hati; (2) membuat lebih
banyak makanan di rumah sebagai ganti membeli makanan jadi; (3) membuat hadiah
dan kartu-kartu ucapan sendiri di rumah dengan memanfaatkan bahan-bahan sisa
kegiatan kita sehari-hari, daripada membeli; (4) memperbaiki pakaian, mainan,
peralatan, dan alat-alat daripada membeli baru; dan (5) menyewa daripada membeli
jika memungkinkan. Jika berbelanja cobalah mengikuti gagasan-gagasan berikut. (1)
Bawalah tas, keranjang, atau kotak ketika berbelanja; (2) Bawalah daftar belanjaan.
Belilah barang yang betul-betul diperlukan; (3) Hindari benda-benda dengan
pembungkus yang berlebihan; (4) Pilihlah produk-produk yang dapat diisi ulang
(contohnya ballpoint); (5) Jika membeli benda-benda berbungkus, pilihlah
pembungkus yang terbuat dari bahan yang dapat didaurulang atau dapat digunakan
kembali; (6) Belilah produk-produk yang terbuat dari bahan yang mudah didaurulang
(contohnya kertas); (7) Jangan terlalu banyak membeli produk-produk yang mudah
dapat dibuang seperti kertas tisu; (8) Jika ada berbagai ukuran yang tersedia, pilihlah
ukuran yang paling besar yang dapat digunakan; dan (9) Tolaklah tas-tas plastik untuk
pembelian satu barang saja.
2. Menggunakan kembali
Menggunakan kembali dapat ditempuh dengan cara: (1) gunakan kembali
botolbotol plastik atau botol-botol gelas yang masih layak; (2) jika mempunyai
banyak barang yang sudah tidak digunakan lagi, berikan kepada orang lain untuk
menggunakan kembali; (4) gunakan kembali kertas-kertas yang telah digunakan pada
satu sisinya untuk: kertas gambar bagi anak, draf surat, lembar belajar bagi anak,
daftar belanjaan, pesan-pesan telepon, permainan anak, dan lain-lain; (5) berhati-
hatilah dalam membuka amplop dan gunakan kembali; dan (6) gunakan kembali tas-
tas plastik dan simpanlah untuk digunakan kembali pada lain waktu.
3. Mengganti
Gantilah pembungkus barang atau makanan dengan pembungkus yang dapat
digunakan kembali, mudah didaurulang, atau dikomposkan, dan pisahkan pada saat
memasukkan ke tempat sampah.
4. Memisahkan
Memisahkan berarti memisahkan sampah rumah tangga antara sampah basah dan
sampah kering. Sampah basah adalah sampah yang mudah membusuk seperti sisa
makanan dan lainnya. Sampah kering adalah sampah yang tidak mudah membusuk
seperti kertas, plastik, logam, gelas, karet, kain, baterai, dan sampah rumah tangga
lain. Cara-cara praktis pemisahan sampah rumah tangga adalah: (1) menyediakan dua
tempat sampah, satu untuk sampah basah dan yang lain untuk sampah kering. Sangat
disarankan untuk merancang almari kabinet di dapur yang dirancang untuk
menunjang pemisahan sampah rumah tangga; (2) memisahkan antara sampah basah
dan sampah kering pada saat memasak serta pada kegiatan sehari-hari; dan (3)
sampah basah dimasukkan ke dalam tempat sampah basah dan sampah kering
dimasukkan ke dalam tempat sampah kering.
5. Mendaur ulang
Kegiatan memisahkan antara sampah basah dan sampah kering akan berarti
memperlancar proses daur ulang sampah kota, karena sampah yang akan didaurulang
tidak tercampur aduk dengan sampah lainnya. Daurulang sampah merupakan kegiatan
pemanfaatan sampah dengan proses tertentu. Daurulang meliputi daurulang sampah
kertas, plastik, kaleng, gelas, dan lain-lain.
6. Mengomposkan
Pengomposan sampah rumah tangga dapat dilakukan bersamaan dengan
pemendaman sampah basah. Sampah basah dimasukkan ke dalam lubang yang telah
disediakan, dapat dicampur dengan sedikit tanah, dan diberi cacing tanah untuk
mempercepat proses penguraian. Cacing tanah dapat diperoleh dari kebun sendiri atau
membeli. Pengomposan juga dapat dilakukan tanpa menggunakan cacing tanah.
Berbagai starter dapat diberikan pada proses pengomposan agar mempercepat
penguraian sampah menjadi kompos. Starter tersebut dapat dibeli ataupun diproduksi
sendiri secara teknik sederhana sehingga memungkinkan kemudahan dalam
penerapannya. Setelah sampah terurai dan menjadi pupuk kompos, maka siap untuk
dijual atau digunakan untuk memupuk tanaman di kebun sendiri.
Teknik penerapan pembudayaan 6M dari tingkat rumah tangga, diperlukan sebuah
sosalisasi dan pendidikan masyarakat yang komprehensif. Strategi pemberdayaan
ditempuh melalui pola-pola pendidikan yang komprehensif, terpadu, bertahap, dan
berkelanjutan dengan melibatkan berbagai komponen yang ada dalam masyarakat dan
pemerintahan serta memaksimalkan prasarana dan sarana yang potensial, yang diakhiri
dengan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Strategi pemberdayaan masyarakat
dalam pengelolan sampah rumah tangga hendaknya mempehatikan hal-hal berikut. (1)
proses penguatan kelembagaan dan kebijakan, (2) proses sosialisasi, dan (3) proses belajar
baik secara mandiri maupun terbimbing (Al Muhdhar, 2011).
Al Muhdhar dan Susilowati pada tahun 2009, 2010, dan 2011 telah berhasil
mengembangkan 6 DVD 6M tentang pendidikan kepada masyarakat dalam pengelolaan
sampah rumah tangga melalui jalur pendidikan formal dan nonformal. Hasil
pengembangan adalah produk 6 DVD 6M meliputi: DVD Mengurangi, DVD
Menggunakan kembali, DVD Mengganti, DVD Memisahkan, DVD Mendaurulang, dan
DVD Mengomposkan. Hasil uji coba lapangan skala kecil melalui jalur pendidikan formal
dengan subjek siswa SD/MI, siswa SMP/MTs, dan siswa SMA/MA yakni SDNP 2
Malang, MIN Malang I, SMPN 2 Malang, MTsN Malang I, SMAN 2 Malang, dan MAN 3
untuk mengetahui pemahaman dan keterampilan siswa dalam pengelola-an sampah rumah
tangga melalui penerapan E-Media VCD 6M (Al Muhdhar, 2012).
Penerapan E-Media VCD 6M melalui jalur pendidikan formal dapat meningkatkan
pemahaman dan keterampilan siswa dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Selain
melalui jalur formal, penerapan E-Media VCD 6M dilakukan melaui jalur nonformal
untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dari kelompok PKK RT, RW,
Kelurahan, dan Kecamatan dalam pengelolaan sampah rumah tangga (Al Muhdhar, 2011).
Manfaat yang dirasakan oleh subyek masyarakat peserta ujicoba antara lain
dirangkum sebagai berikut. (1) Banyak manfaat yang diperoleh dari hasil pelatihan, yaitu
bisa mengetahui jenis sampah yaitu sampah basah bisa digunakan untuk kompos dan
sampah kering bisa didaurulang; (2) Sangat berguna sekali untuk membentuk pola pikir
kita tentang manfaat dari limbah sampah yang menurut kita tidak berguna ternyata
mempunyai nilan guna yang tinggi; (3) Mengerti lebih jauh manfaat sampah dan
kepedulian terhadap sampah sehingga sampah tidak menjadi sesuatu yang mengotori
lingkungan, tetapi berguna dan bermanfaat; (4) Memperoleh ilmu keterampilan
menganyam dan mengolah sampah; (5) Manfaat pelatihan mendapatkan ilmu tentang
memanfaatkan sampah; dan (6) Menjadi tau bahwa sampah dapat dimanfaatkan sesuai
dengan jenisnya misalnya plastik dapat dijadikan tas atau tempat perhiasan dll. Dan
sampah sayur dan daun dapat dijadikan kompos (Al Muhdhar, 2011).
Kendala yang dihadapi pasca pelatihan diuraikan sebagai berikut: (1) Kedala untuk
mengajak masyarakat supaya memilah-milah sampah kering dan sampah basah; (2)
Mengajak anggota masyarakat untuk sadar tentang masalah sampah masih kesulitan
karena tidak memiliki SDM yang sama; (3) Masih belum dapat membuat keterampilan
dengan bahan yang diberikan saat pelatihan dengan sempurna; dan (4) Warga berusaha
mencoba hasil pelatihan, tetapi kesulitan untuk memperoleh bahan/sampah yang
diinginkan untuk membuat suatu produk, dan sulit berkoordinasi dengan tukang sampah
(Al Muhdhar, 2011).
Masukan tentang upaya penanggulangan masalah dijabarkan sebagai berikut: (1)
Memberikan informasi hasil pelatihan kepada pengurus PKK dan RW yang tidak terlibat
sebagai peserta pelatihan. (2) Mensosialisasikan manfaat sampah pada anggota masyarakat
dan secara pribadi sudah melakukan beberapa hal yaitu memilah antara sampah basah dan
sampah kering. Bentuk sosialisai yang akan ditempuh akan dilakukan melalui
perkumpulan yasinan bagi bapak-bapak dan perkumpulan arisan bagi ibu-ibu; (3)
Memisahkan sampah kering dan basah dalam wadah berbeda, memanfaatkan sampah
kaleng/gelas untuk dipakai kembali; dan (4) Menasehati sesama warga terutama kepada
diri sendiri; dan (4) Mengadakan pendekatan dengan pasukan kuning untuk
mengumpulkan sampah kering (Al Muhdhar, 2011).

2.3. Bioremidiasi
2.3.1. Prinsip dan Teknik Bioremidiasi
Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik atau polutan
secara biologi dalam kondisi terkendali (Eweis, 1989). Bioremediasi merupakan
penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih untuk ditumbuhkan pada polutan tertentu
sebagai upaya untuk menurunkan kadar polutan tersebut. Penguraian senyawa kontaminan
tersebut melibatkan mikroorganisme (bakteri, khamir, alga, dan fungi). Perbaikan kualitas
air, seperti penurunan kandungan amonia dan nitrit, dapat dilakukan dengan
memanfaatkan kemampuan mikroorganisme, yang dikenal pula sebagai bioremediasi
(Devaraja et al., 2002; Lante & Haryanti, 2006; Widiyanto 2006). Laju degradasi mikroba
terhadap logam berat tergantung pada beberapa faktor, yaitu aktivitas mikroba, nutrisi,
derajat keasaman dan faktor lingkungan (Donlon, 2006 dalam Hardiani et al, 2011).
Bioremidiasi akan berujung biodegradasi. Hasil akhir degradasi adalah gas karbon dioksida, air,
dan senyawa-senyawa sederhana yang ramah lingkungan. Jenis-jenis senyawa pencemar
organik yang secara potensial dapat dibioremidiasi diperlihatkan pada tabel dibawah ini
Tabel 2.1 Jenis-jenis senyawa pencemar organik yang secara potensial dapat
dibioremidiasi

Proses bioremediasi berlangsung, enzim-enzim yang diproduksi oleh


mikroorganisme memodifikasi polutan beracun menjadi kurang beracun dengan cara
mengubah struktur kimia polutan tersebut yang disebut biotransformasi. Pada umumnya,
biotransformasi dapat berujung pada biodegradasi, yaitu dedgradasi polutan beracun
dimana strukturnya menjadi tidak kompleks dan menjadi metabolit yang tidak beracun dan
berbahaya.
Pemerintah Indonesia telah mempunyai payung hukum yang mengatur standar baku
kegiatan Bioremediasi dalam mengatasi permasalahan lingkungan akibat kegiatan
pertambangan dan perminyakan serta bentuk pencemaran lainnya (logam berat dan
pestisida) melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Kep Men LH No.128 tahun 2003,
tentang tatacara dan persyaratan teknis dan pengelolaan limbah minyak bumi dan tanah
terkontaminasi oleh minyak bumi secara biologis (Bioremediasi) yang juga mencantumkan
bahwa bioremediasi dilakukan dengan menggunakan mikroba lokal.

2.3.2. Strategi Bioremidiasi


Strategi bioremidiasi terbagi menjadi dua macam yaitu:
1. In situ yaitu pengolahan dilakukan di tempat pencemaran tanpa pemindahan. Jadi
strategi in situ merupakan metode dimana mikroorganisme diaplikasikan langsung
pada tanah atau air dengan kerusakan yang minimal. Bioremediasi in situ terbagi atas:
a. Bioaugmentasi: dengan menambahkan organisme dari luar (exogenus
microorganism) pada subpermukaan yang dapat mendegradasi kontaminan
spesifik.
b. Biostimulasi/Bioventing: dengan penambahan nutrient (N, P) dan aseptor elektron
(O2) pada lingkungan pertumbuhan mikroorganisme untuk menstimulasi
pertumbuhannya. Caranya dengan pemompaan udara dan nutrisi melalui sumur
injeksi.

Gambar 2..1 Gambar teknik bioventing pada bioremidiasi in situ


c. Biosparging: dengan menambahkan injeksi udara dibawah tekanan ke dalam air
sehingga dapat meningkatkan konsentrasi oksigen dan kecepatan degradasi.

Gambar 2.2 Gambar teknik airsparging/biosparging pada bioremidiasi in situ


Bioremediasi in-situ dapat diimplementasikan dalam sejumlah model treatment
termasuk: aerobik (respirasi oksigen), anoxic (respirasi nitrat), anaerob (respirasi non-
oksigen), dan co-metabolisme. Model aerobik telah terbukti paling efektif dalam
mengurangi tingkat kontaminan alifatik (misalnya heksana) dan hidrokarbon petroleum
aromatik (misalnya, benzena, naftalena) yang biasanya terdapat dalam bensin dan solar.
Dalam model pengolahan aerobik, oksigen air tanah langsung dari udara atau oksigen yang
melalui sumur injeksi, saturasi air dengan udara atau oksigen sebelum injeksi ulang, atau
penambahan hidrogen peroksida langsung ke sumur injeksi atau diinjeksikan kembali ke
dalam air. Apapun metode oksigenasi yang digunakan, penting untuk memastikan bahwa
oksigen terdistribusikan pada seluruh wilayah kontaminasi.
Anoxic, anaerobik, dan model co-metabolisme kadang-kadang digunakan untuk
remediasi senyawa lain, seperti pelarut diklorinasi, tetapi umumnya lebih lambat dari
respirasi aerobik pada hidrokarbon minyak bumi. Parameter kunci yang menentukan
efektivitas bioremediasi In-situ air tanah adalah:
a) Konduktivitas hidrolik dari akuifer, yang mengontrol distribusi akseptor elektron dan
nutrisi di bawah permukaan.
b) Biodegradasi dari konstituen minyak bumi, yang menentukan tingkat dan sejauh mana
konstituen akan terdegradasi oleh mikroorganisme.
c) Lokasi kontaminasi minyak bumi di bawah permukaan. Kontaminan harus dilarutkan
dalam air tanah atau teradsorbsi ke sedimen yang lebih permeabel dalam akuifer
(Sonawdekar, 2012).
2. Ex situ yaitu pengolahan dilakukan di tempat lain sehingga perlu pemindahan. Jadi
strategi ex situ merupakan metode dimana mikroorganisme diaplikasikan pada tanah
atau air terkontaminasi yang telah dipindahkan dari tempat asalnya. Teknik ek situ
terdiri atas:
a. Landfarming: teknik dimana tanah yang terkontaminasi digali dan dipindahkan pada
lahan khusus yang secara periodik diamati sampai polutan terdegradasi. Landfarming
pada proses pengolahan limbah minyak bumi dilakukan dengan cara menyebarkan
dan mengaduk limbah sampai merata di atas lahan dengan ketebalan tertentu (sekitar
20-50 cm) sehingga proses penguraian limbah minyak bumi secara mikrobiologis
dapat terjadi (Kepmen LH NO.128/2003).
Gambar 2.3 Gambar teknik landfarming pada bioremidiasi ex situ

b. Composting: teknik yang melakukan kombinasi antara tanah terkontaminasi dengan


tanah yang mengandung pupuk atau senyawa organik yang dapat meningkatkan
populasi mikroorganisme. Composting adalah proses pengolahan limbah dengan
menambahkan bahan organik seperti pupuk kandang, serpihan kayu, sisa tumbuhan
atau serasah daun dengan tujuan untuk meningkatkan porositas dan aktifitas
mikroorganisme pengurai (Kepmen LH NO.128/2003).
c. Biopiles: merupakan perpaduan antara landfarming dan composting. Biopile adalah
proses pengolahan limbah dengan cara menempatkan limbah pada pipa-pipa
pensuplai oksigen untuk meningkatkan aerasi dan penguraian limbah minyak bumi
secara mikrobiologis lebih optimal (Kepmen LH NO.128/2003). Pada teknik ini,
tanah tercemar tidak dipindahkan namun diangkat ke permukaan, ditumpuk, dan
diberi perlakuan penambahan air, udara, dan nutrien.

Gambar 2.4 Teknik biopile pada bioremidiasi ex situ


d. Bioreactor: Bejana besar digunakan sebagai “bio-reactor” yang mengandung tanah,
air, nutrisi dan udara untuk membuat mikroba aktif mendegradasi senyawa pencemar.

Gambar 2.5 Teknik bioreaktor pada bioremidiasi ex situ

e. Fitoremidiasi
Fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi pembersihan, penghilangan atau
pengurangan zat pencemar dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan
tanaman. Dengan demikian fitoremediasi adalah pemanfaatan tumbuhan untuk
meminimalisasi dan mendetoksifikasi bahan pencemar, karena tanaman mempunyai
kemampuan menyerap logam-logam berat dan mineral yang tinggi atau sebagai
fitoakumulator dan fotochelator (Udiharto, 1992 dalam Darliana). Konsep
pemanfaatan tumbuhan dan mikroorganisme untuk meremediasi tanah terkontaminasi
bahan pencemar adalah pengembangan terbaru dalam teknik pengolahan limbah.
Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah organik maupun anorganik juga unsur
logam (As,Cd,Cr,Hg,Pb,Zn,Ni dan Cu) dalam bentuk padat, cair dan gas (Salt et al.,
1998 dalam Darliana).
Tumbuhan mempunyai kemampuan untuk menahan substansi toksik dengan
cara biokimia dan fisiologisnya serta menahan substansi non nutritif organik yang
dilakukan pada permukaan akar. Bahan pencemar tersebut akan dimetabolisme atau
diimobolisasi melalui sejumlah proses termasuk reaksi oksidasi, reduksi dan hidrolisa
enzimatis.
Tabel 2.2 Jenis-jenis Tanaman Fitoakumulator

Empat jenis reaksi penghancuran dan penghilangan kontaminan pada fitoremediasi


yaitu:
1. Fitovolatilisasi, merupakan pengembangan dari proses penguapan tanah atau melalui
akar tanaman atau tunas. Peningkatan penguapan dapat terjadi melalui transpirasi
tanaman pada senyawa volatil atau transformasi kontaminan ke bentuk yang lebih
stabil. Jadi dalam hal ini merupakan pemanfaatan tumbuhan untuk menguapkan bahan
pencemar, atau pemanfaatan tumbuhan untuk memindahkan bahan pencemar dari
udara.
2. Fitodegradasi, melibatkan penyerapan oleh tanaman dan metabolisme selanjutnya
oleh enzim tanaman untuk membentuk produk yang lebih aman.
3. Fitoekstraksi, melibatkan penyerapan kontaminan ke dalam jaringan tanaman, yang
kemudian dipanen. Kontaminan hidrofobik adalah kontaminan yang paling rentan
terhadap fitoekstraksi ini. Jadi dalam hal ini adalah pemanfaatan tumbuhan
pengakumulasi bahan pencemar untuk memindahkan logam berat atau senyawa
organik dari tanah dengan cara mengakumulasikannya di bagian tumbuhan yang dapat
dipanen.
4. Rizodegradasi, pemanfaatan akar tumbuhan untuk menyerap bahan pencemar,
terutama logam berat, dari air dan aliran limbah. Kontaminan dikatalisis oleh enzim
tanaman dan diekskresikan oleh akar atau oleh mikroorganisme yang ditemukan pada
rizosfer (Sonawdekar, 2012).
2.3.3. Tahapan Prose Bioremidiasi untuk penanganan Pencemaran Air
Masih banyak badan air seperti sungai, danau, dan waduk dalam keadaan tercemar
walaupun telah dilakukan pengoperasian IPAL dan peraturan perundangan tentang
pengolahan air limbah sudah diberlakukan. Namun, pengolahan air limbah pada IPAL
dengan menggunakan metode kimia yang disebut end pipe process seperti melaui proses
koagulasiflokulasi dirasakan kurang efektif dan juga relatif mahal. Diperlukan alternatif
lain dalam hal pengendalian pencemaran air yang berupa upaya bioremediasi dengan
memanfaatkan bakteri.
Pengolahan air tercemar secara biologi pada prinsipnya adalah meniru proses alami
self purification di sungai dalam mendegradasi polutan melalui peranan mikroorganisma.
Peranan mikroorganisma pada proses self purification ini pada prinsipnya ada dua
(Gambar 1) yaitu: pertumbuhan mikroorganisma menempel dan tersuspensi.

Gambar 2.6 Proses self-purification di sungai yang diadopsi pada IPAL penduduk (Mudrack
and Kunst, 1986; dalam Paul Lessard and Yann Le Bihan, 2003)

Tahapan bioremediasi menggunakan mikroba meliputi:


1. Isolasi bakteri
Isolasi bakteri merupakan tahap awal untuk mendapatkan bakteri yang efektif
untuk proses bioaugmentasi. Isolasi bakteri yang baik dan benar dapat menentukan
bakteri yang cocok dalam proses remediasi air limbah yang diinginkan. Oleh karena
itu prinsip pemilihan bakteri hasil isolasi dapat memberikan kinerja penurunan kadar
polutan yang optimal (Thompson. I.P. et al, 2005). Karena secara alami jumlah
bakteri yang diinginkan terdapat dalam jumlah sedikit, malah lebih banyak bakteri
yang tidak diinginkan, maka diperlukan proses isolasi untuk memperbanyak bakteri
yang dimaksud (Barrow, G.I. and Feltham R.K.A.; ed, 2003). Di alam,
mikroorganisme jarang terdapat sebagai koloni spesies tunggal yang terisolasi seperti
yang kita lihat pada cawan petri di laboratorium, tetapi hidup sebagai komunitas.
Tujuan mengisolasi bakteri adalah untuk mendapatkan bakteri yang diinginkan
dengan cara mengambil sampel mikroba dari lingkungan yang ingin diteliti. Dari
sampel tersebut kemudian dikultur/dibiakkan dengan menggunakan media universal
atau media selektif, tergantung tujuan yang ingin dicapai (Gerard J. Tortora, 2010).
Beberapa bakteri dapat tumbuh dengan baik pada hampir semua media kultur;
lainnya memerlukan media kultur khusus yang pada akhirnya akan ada suatu
pertumbuhan yang disebut inokulum. Untuk tujuan tersebut diperlukan media yang
diperkaya (enrichment culture) untuk memperbanyak bakteri yang dimaksud.
Bakteri indigenous merupakan hasil isolasi bakteri yang berasal dari berbagai
sedimen atau perairan lainnya dapat dilakukan oleh laboratorium yang bersangkutan.
Misalnya, hasil isolasi bakteri yang berasal dari lumpur Sungai Siak didapatkan 6
isolat bakteri yang terdiri dari: Microccocus, Corynebacterium, Phenylobacterium,
Enhydrobacter, Morrococcus, Flavobacterium. (Wulandari Sri, Nila Fitri Dewi, dan
Suwondo, 2005). Selain dari sedimen, bakteri indigenous yang berasal dari Rumah
Pemotongan Hewan (RPH) termasuk yang kaya dalam hal keanekaragamnnya. Hasil
penelitian Suyasa, W.B. (2007) diperoleh 17 isolat bakteri yang berasal dari limbah
RPH tersebut.. Selain dari lumpur sungai dan RPH tersebut, bakteri untuk
bioremediasi air juga dapat diperoleh dari air dan sedimen danau dan tambak udang.
Dengan melakukan isolasi dan seleksi bakteri yang berasal air dan lumpur Danau
Maninjau didapatkan 2 isolat bakteri yang dapat mereduksi sulfida, dan 7 isolat
bakteri untuk mereduksi amonia (Rusnam; Efrizal; Arifin Bustanul , 2009).
Seperti juga di danau yang merupakan ekosistem perairan tergenang (lentic),
kolam tambak udang juga mempunyai potensi bakteri remediasi. Dari Isolasi dan
seleksi bakteri yang berasal dari tambak udang di daerah Karawang, Jawa Barat
(Badjoeri Muhammad dan Tri Widiyanto, 2008) menyimpulkan bahwa bakteri yang
berasal dari perairan tambak udang tersebut mampu menjaga kestabilan konsentrasi
amonia dan nitrit, sehingga konsentrasinya masih berada pada batas aman untuk
budidaya. Selain dari berbagai contoh, sedimen, dan RPH, ditemukan banyak isolat
bakteri yang berasal dari IPAL penduduk yang meliputi: Bacillus subtilis,
Exiguobacterium acetylicum, Klebsiella terrigena, Staphylococcus aureus, dan
Pseudomonas pseudoalcaligenes (Buthelezi, et al, 2009).
Jumlah isolat bakteri lokal (indigenous bacteria) yang berasal dari Sungai
Cimuka, IPAL industri gabungan Cisirung, IPAL penduduk Bojongsoang, dan air
limbah peternakan sapi berjumlah 35 isolat .
2. Pengujian bakteri dalam mengdegradasi zat pencemar
Uji degradasi dilakukan untuk menentukan efektifitas isolat bakteri dalam
mendegradasi bahan pencemar. Beberapa contoh penelitian dan uji degradasi yang
menggunakan isolat bakteri indigenous menunjukkan hasil yang signifikan. Hasil
isolasi dan seleksi bakteri indigenous yang berasal dari lumpur Sungai Siak yang
menghasilkan 6 isolat bakteri diketahui dapat mereduksi logam Pb. Bakteri tersebut
terdiri dari: Microccocus, Corynebacterium, Phenylobacterium, Enhydrobacter,
Morrococcus, Flavobacterium dengan jumlah total bakteri berkisar antara: 3,0 X 107
sampai 1,5 X 108 sel/ml (Wulandari Sri, Nila Fitri Dewi, dan Suwondo, 2005). Isolat
bakteri indigenous yang berasal dari RPH juga mempunyai kemampuan untuk
menurunkan pencemar organik, dimana, 17 isolat bakteri yang berasal dari RPH
tersebut mempunyai kemampuan menurunkan COD 63% dengan waktu retensi 7 hari
(Suyasa, W.B.2007). Isolasi dan seleksi bakteri yang berasal air dan lumpur Danau
Maninjau didapatkan 2 isolat bakteri yang dapat mereduksi sulfida, dan 7 isolat
bakteri untuk mereduksi amonia >35 % (Rusnam; Efrizal; Arifin Bustanul , 2009).
Sedangkan isolasi dan seleksi bakteri yang berasal dari tambak udang di daerah
Karawang, Jawa Barat (Badjoeri Muhammad dan Tri Widiyanto, 2008) diketahui
mampu menjaga kestabilan konsentrasi amonia dan nitrit, sehingga konsentrasinya
masih berada pada batas aman untuk budidaya. Buthelezi, et al., (2009) juga
mendapatkan isolat bakteri yang berasal dari IPAL penduduk dapat mereduksi
turbidity mencapai 84-94%.
Berdasarkan uji degradasi bahan pencemar organik dari 35 isolat didapatkan 8
isolat yang mempunyai efektivitas lebih tinggi sehingga dapat dipergunakan untuk
menunjang bioremediasi badan air. Kelompok bakteri 8 isolat tersebut meliputi genus:
Bacillus, Propionibacterium, Enterobacteria, dan Actinomyce. Tipologi bakteri
tersebut berdasarkan kebutuhan oksigen, temperatur, dan nilai pH termasuk kelompok
bakteri aerob dan anaerob, psikrofil dan mesofil, mesofil dan alkalifil. Dari tahap
isolasi didapatkan total 35 isolat bakteri dari yang berasal Sungai Cimuka, IPAL
penduduk Bojongsoang, IPAL industry gabungan CIsirung, dan limbah peternakan
sapi. Ditinjau dari nilai temperatur tipologi bakteri yang didapat termasuk kelompok
psikrofil dan mesofil, dari segi nilai pH termasuk kelompok mesofil dan alkalifil, dan
dari segi oksigen terlarut termasuk dalam kelompok bakteri aerob dan anaerob.
Berdasarkan uji kimiafisik dan uji biokimia dari 8 isolat tersebut termasuk dalam 4
genus: Bacillus, Propionibacterium, Enterobacteria, dan Actinomyces. Berdasarkan
uji efektifitas besaran nilai rasio BOD/COD, dari 35 isolat tersebut didapatkan 8 isolat
terbaik, yaitu isolat asal sungai Cimuka 1.1 dan 2.4; isolat asal IPAL industri
gabungan Cisirung 3.3 dan 3.4; isolat asal IPAL penduduk Bojongsoang 6.3 dan 6.4;
dan isolat asal limbah peternakan sapi 5.3 dan 7.5.
3. Identifikasi bakteri
Identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara termasuk : Pengamatan
morfologi sel, pewarnaan gram, dan uji biokimia. Selain berdasarkan morfolofi,
bakteri juga dibedakan menjadi 3 bentuk meliputi: Bentuk bulat (kokus), Bentuk
batang (basil), dan Bentuk spiral (Pelczar dan Chan, 2006; Bergey’s, 2005, Michael
.,2006). Beberapa contoh bentuk bakteri dan pewarnaan yang berasal dari sewage
treatment di Malaysia dapat dilihat pada gambar 5. Beberapa contoh dari hasil isolasi
dan identifikasi indeginous bakteri didapatkan jenis Microccocus, Corynebacterium,
Phenylo- bacterium, Enhydro- bacter, Morrococcus, Flavobacterium. Selain bakteri
indigenous tersebut, bakteri “commercial product” seperti jenis Bacillus,
Pseudomonas, Escherichia, serta enzym Amylase, Protease, Lipase, Esterase, Urease,
Cellulase, Xylanase, juga diketahui dapat mendegradasi bahan pencemar organik
(BOD, COD) di sungai, maupun degradasi nitrogen, fosfat, maupun kontrol
pertumbuhan alga di danau.
4. Perbanyakan bakteri
Setelah didapatkan isolat yang diinginkan, uji degradasi, dan identifikasi bakteri,
selanjutnya adalah membuat perbanyakan bakteri untuk uji skala lapangan. Perbanyakan
bakteri atau pengembangan inokulum ini merupakan proses untuk memproduksi inokulum.
Medium pengembangan inokulum harus cukup serupa dengan medium produksi. Hal ini
dimaksudkan untuk meminimalkan periode adaptasi dengan mereduksi fase lag. Perbanyakan
bakteri atau pengembangan inokulum ini merupakan proses untuk memproduksi inokulum
dengan jumlah yang besar sehingga menjaga keberlangsungan
Saat ini penelitian dan aplikasi bioremediasi untuk air tercemar dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu bakteri indigenous dan bakteri “commercial product.
a. Bakteri Indigenous
Bakteri indigenous merupakan hasil isolasi bakteri yang dilakukan oleh
laboratorium yang bersangkutan. Isolat terbaik yang dipilih dapat dikombinasikan
dalam suatu konsorsium. Hasil isolasi dan seleksi bakteri indigenous yang berasal dari
lumpur Sungai Siak didapatkan 6 isolat bakteri yang dapat mereduksi logam Pb.
Bakteri tersebut terdiri dari: Microccocus, Corynebacterium, Phenylo- bacterium,
Enhydrobacter, Morrococcus, Flavobacterium dengan jumlah total bakteri berkisar
antara: 3,0 X 107 sampai 1,5 X 108 sel/ml (Sri, Dewi, dan Suwondo, 2005). Selain
berpotensi dalam penurunan logam, bakteri indigenous lain yang berasal dari Rumah
Pemotongan Hewan (RPH) juga mempunyai kemampuan untuk menurunkan
pencemar organik, seperti isolat hasil penelitian Suyasa (2007) yang mendapatkan 17
isolat bakteri yang berasal dari RPH mempunyai kemampuan menurunkan COD 63%
waktu retensi 7 hari. Selain dari lumpur sungai, bakteri untuk bioremediasi air juga
dapat diperoleh dari air dan sedimen danau atau tambak udang. Dengan melakukan
isolasi dan seleksi bakteri yang berasal air dan lumpur Danau Maninjau didapatkan 2
isolat bakteri yang dapat mereduksi sulfida, dan 7 isolat bakteri untuk mereduksi
amonia (Rusnam; Efrizal; Bustanul , 2009). Seperti juga di danau yang merupakan
ekosistem perairan tergenang (lentic), kolam tambak udang juga mempunyai potensi
bakteri remediasi. Dari Isolasi dan seleksi bakteri yang berasal dari tambak udang di
daerah Karawang, Jawa Barat (Muhammad dan Widiyanto, 2008) menyimpulkan
bahwa bakteri yang berasal dari perairan tambak udang tersebut mampu menjaga
kestabilan konsentrasi amonia dan nitrit, sehingga konsentrasinya masih berada pada
batas aman untuk budidaya.
Perbanyakan bakteri indigenous dilakukan melalui tahapan:
a) pembuatan kultur stok
b) pemeliharaan kultur
c) perbanyakan kultur tahap I
d) perbanyakan kultur tahap II, dan
e) pembuatan kultur produksi.
b. Bakteri “commercial product”
Selain bakteri indigenous, perkembangan IPTEK bioremediasi menjadikan
produksi mikroorganisma maupun enzim dipasaran komersial semakin mudah
didapatkan. Produk komersial untuk bioremediasi biasa dipergunakan untuk menjaga
kualitas air danau (pond), algal bloom, penurunan nitrat-fosfat, peningkatan
kecerahan (Great Lakes Bio Systems. Inc. Co Orb-3). Selain untuk perairan tergenang
(lentic), produk komersial juga telah diterapkan pada perairan mengalir (lotic). Produk
ACF32 dan BioAktiv digunakan di Sungai Bintangor- Malaysia (Beng , 2007a)
yang dapat menurunkan kadar BOD, COD, TSS, Total-N, Total-P dalam air sebesar
rata- rata 50%. Sedangkan produk AquaClean® (Beng , 2007b) dipakai dalam
bioremediasi Sungai Xiba di China (Yudianto and Yuebo, 2010). Beberapa contoh
lain penelitian bioremediasi yang berasal dari bakteri komersial dapat dilihat pada
tabel 2.
2.3.4. Tahap Proses Bioremidiasi untuk Penanganan Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia
industri; penggunaan pestisida; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah
industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping)
(Muktasor, 2008). Salah satu contoh bioremidiasi untuk pencemaran tanah adalah
Bioremediasi dengan Teknik Biostimulasi Tanah Tercemar Minyak Bumi
dengan Menggunakan Kompos Kombinasi Limbah Media Jamur Tiram Putih
(Pleurotus ostreatus) dan Azolla (Zhyahrial, F.F, 2014)
Total Petrolium Hidrokarbon (TPH) merupakan pengukuran konsentrasi pencemar
hidrokarbon minyak bumi dalam tanah atau serta seluruh pencemar hidrokarbon minyak
dalam suatu sampel tanah yang sering dinyatakan dalam satuan mg hidrokarbon/kg tanah
(Nugroho, 2006). Munawar dkk (2007), menjelaskan dalam penelitiannya bahwa dalam
waktu tertentu, bioremidiasi dengan teknik biostimulasi mampu menurunkan konsentrasi
minyak. Pertumbuhan mikroba alami pada tanah tercemar dapat mendegradasi TPH tanah
tercemar minyak bumi. Melimpahnya limbah media jamur dalam masyarakat seiring
dengan meningkatnya usaha budidaya jamur masih belum banyak dimanfaatkan. Limbah
media tanam jamur kayu mengandung unsur N=0,42%; P=0,24%; dan K=0%. Oleh karena
itu perlu penambahan Azolla sebagai pemasok unsur hara N, P, dan juga K, sehingga
didapatkan kandungan hara pada kompos limbah media setelah penambahan yaitu
N=2,01%; P=2,02%; dan K 0,91% (Kresna, 2003). Pengembangan dan aplikasi
bioremidiasi harus melakukan reatibility study atau treatment evaluasi yang dilakukan
bertujuan untuk mengetahui tingkat komposisi nutrien yang optimal (Halifudin, 2011).
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan percobaan bioremidiasi dengan teknik
biostimulasi tanah tercemar minyak bumi dengan menggunakan limbah media jamur tiram
putih (Pleurotus ostreatus) yang bertujuan untuk mendeskripsikan kandungan unsur hara
N, P, K pada kompos limbah media jamur Tiram Putih (P. ostreatus) dengan penambahan
Azolla, mengetahui perbedaan kadar TPH dan hara N pada tanah tercemar minyak bumi
sebelum dan setelah pemberian media, dan mengetahui konsentrasi kompos limbah media
jamur Tiram Putih (P. ostreatus) yang optimal dalam meningkatkan kadar nitrogen dan
menurunkan TPH tanah tercemar minyak bumi.
Penelitian bioremidiasi tanah tercemar minyak bumi terdapat 2 tahapan, yaitu tahap
persiapan dan penelitian. Hasil yang diperoleh pada tahap pertama adalah data berupa
kadar N, P, dan K pada kompos limbah media jamur ditambah Azolla. Pada tahap kedua
data berupa kadar TPH (Total Petroleum Hidrokarbon) dan kadar nitrogen (N) pada tanah
tercemar minyak bumi yaitu sebelum dan sesudah perlakuan. Data awal tanah tercemar
minyak bumi sebelum perlakuan seperti pada Tabel 1. Tabel 1 menunjukkan kadar TPH
tanah awal melebihi standar aman nilai akhir hasil pengelolaan limbah yang diisyaratkan
oleh EPA (2009) yaitu sebesar 1.000 mg/kg dan kadar Ntotal pada tanah tergolong rendah
sesuai dengan kriteria penelitian kandungan unsur tanah yang telah ditentukan oleh Pusat
Penelitian Tanah (Hardjowigeno, 2003).
Tabel 2.3. Hasil Uji Awal Kadar TPH dan N Tersedia pada Tanah Tercemar Minyak Bumi

Penurunan TPH disebabkan proses degradasi terhadap senyawa-senyawa


hidrokarbon oleh bakteri yang telah distimulasi pertumbuhannya menggunakan media
kompos kombinasi limbah media jamur dan Azolla yang ditambahkan ke dalam tanah
tercemar minyak bumi tersebut yang ditunjukkan pada Grafik A. Menurut Nugroho
(2006), perbedaan hasil TPH yang telah didegradasi pada akhir penelitian dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu nutrien organik untuk menstimulasi bakteri
indigenous dan faktor lingkungan yang mendukung kelangsungan proses degradasi
senyawa hidrokarbon oleh bakteri. Penambahan nutrien khususnya kadar hara N, P, K
pada tanah tercemar minyak bumi akan menambah konsentrasi kadar hara pada tanah,
sehingga kadar hara menjadi tercukupi. Meningkatnya konsentrasi kadar hara tanah dapat
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme (Handrianto, 2011).
Pada semua unit perlakuan terjadi penurunan kadar TPH. Hal tersebut akibat
terjadinya degradasi hidrokarbon senyawa-senyawa aromatik. Urutan reaksi-reaksi dasar
biodegradasi senyawa aromatik secara aerob adalah masuknya senyawa aromatik kedalam
sel mikroba yaitu proses ini sering diasumsikan terjadi melalui difusi, namun terdapat
bukti adanya mekanisme transportasi lain yang spesifik (Nugroho, 2006). Selain itu,
kondisi lingkungan fisik seperti temperatur dan aerasi serta faktor mekanik seperti
pengadukan juga sangat mempengaruhi besarnya persentase degradasi. Menurut Doerffer
(1992) dalam Nugroho (2006), senyawa hidrokarbon yang tertumpah di alam akan
mengalami degradasi secara alamiah karena faktor-faktor lingkungan, meskipun laju
degradasinya berlangsung lambat. Proses degradasi tersebut meliputi penguapan, teremulsi
dalam air, teradsorpsi pada partikel padat, tenggelam dalam perairan serta mengalami
biodegradasi oleh mikroba pengguna hidrokarbon. Temperatur dapat menyebabkan terjadi
penguapan hidrokabon, terutama senyawa berberat molekul rendah yang biasanya bersifat
toksik.
Terjadi penurunan kadar hara N dari hasil uji awal Hal ini bisa diasumsikan pada
penelitian kadar N pada setiap unit perlakuan dipakai oleh mikroorganisme pendegradasi
hidrokarbon untuk berkembangbiak dan melakukan pertumbuhan. Akibat dari pemakaian
secara optimal hara N oleh mikroorganisme ini maka N pada akhir penelitian menjadi
rendah. Nitrogen merupakan penyusun utama asam amino yang digunakan untuk sintesis
peptida dan protein, serta sebagai komponen biologi seperti khitin dan mukopeptida.
Nitrogen juga merupakan bagian integral dari bahan genetik sel yaitu asam nukleat
(Handayanto dan Harairah, 2009). Menurut Damdam (1983) dalam Handrianto ( 2013),
adanya sistem aerobik dan anaerobik akibat pemberian air dapat mempengaruhi
transformasi N yang memungkinkan terjadinya proses nitrifikasidenitrifikasi. Selain itu air
dapat menjadi media mekanisme hilangnya N melalui volatisasi amina, pencucian, serta
aliran permukaan.