Anda di halaman 1dari 9

Halaman Tulisan Jurnal (Judul dan Abstraksi)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6 Oktober 2012

ANALISA PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KETIMPANGAN PEMBANGUNAN


ANTAR WILAYAH DI PULAU SUMATERA

Etik Umiyati

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan


pembangunan antarwilayah di Pulau Sumatera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera mempunyai tingkat keragaman yang berbeda-
beda, hal ini dikarenakan setiap Propinsi memiliki perbedaan potensi baik dari sumber
daya alam maupun sumberdaya manusia dan kualitas teknologi yang dimiliki oleh
Propinsi tersebut. Perbedaan tingkat pembangunan akan membawa dampak perbedaan
tingkat kesejahteraan antardaerah yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan regional
antarwilayah semakin besar.Dengan menggunakan Indeks Williamson diperoleh Propinsi
Kepulauan Riau dan Propinsi Riau mempunyai angka indeks yang relative tinggi jika
dibandingkan dengan Propinsi lainnya. Sementara untuk wilayah propinsi lainnya angka
ketimpangan pembangunan relative merata.

KATA KUNCI : Pertumbuhan Ekonomi, Indeks Williamson

Halaman 42
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober 2012

I. PENDAHULUAN
Ketimpangan antar wilayah
1.1. Latar Belakang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan
dan jumlah penduduk yang pada
akhirnya menghasilkan pendapatan
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia perkapita dan dijadikan sebagai salah
sangat berfluktuasi selama periode satu indikator tingkat kesejahteraan.
2004-2008, dimana Indonesia
mempunyai 33 Propinsi dengan tingkat II. TINJAUAN PUSTAKA
keragaman pertumbuhan ekonomi yang
2.1. Pertumbuhan Ekonomi
berbeda-beda, hal ini dikarenakan
Pertumbuhan ekonomi merupakan
setiap Propinsi memiliki perbedaan
salah satu indicator yang amat
potensi baik dari sumber daya alam
penting dalam menilai kinerja suatu
maupun sumberdaya manusia dan
perekonomian, terutama untuk
kualitas teknoogi yang dimiliki oleh
melakukan analisis tentang hasil
Propinsi tersebut. Pada tahun 2004
pembangunan ekonomi yang telah
pertumbuhan ekonomi Indonesia
dilaksanakan suatu Negara atau suatu
sebesar 5,03 persen, dan meningkat
daerah. Menurut Sukirno (1994),
menjadi 6,28 persen di tahun 2007,
pertumbuhan ekonomi merupakan
serta pada tahun 2008 pertumbuhan
masalah perekonomian suatu negara
ekonomi Indonesia menjadi 6,06
dalam jangka panjang. Pertumbuhan
persen. Indonesia adalah Negara yang
ekonomi diartikan sebagai
mempunyai banyak kepulauan dimana
perkembangan kegiatan dalam
salah satunya adalah Pulau Sumatera
perekonomian yang menyebabkan
Pulau Sumatera terdiri dari beberapa
barang dan jasa yang diproduksi
Propinsi yaitu : Nanggroe Aceh
dalam masyarakat bertambah dan
Darussalam, Sumatera Barat, Riau,
kemakmuran masyarakat menjadi
Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu,
meningkat. Jadi pertumbuhan
Lampung dan ditambah 2 Propinsi
ekonomi mengukur prestasi dari
Pemekaran yaitu Kepulauan Riau dan
perkembangan suatu perekonomian.
Kepulauan Bangka Belitung. Masing-
masing Pulau memiliki potensi sumber
2.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi
daya alam dan sector-sektor unggulan
yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Regional
Propinsi tersebut. maupun kuantitas.
Teori pertumbuhan ekonomi
Perbedaan inilah yang regional merupakan bagian penting
menimbulkan perbedaan tingkat dalam analisa Ekonomi Regional.
pertumbuhan pembangunan daerah Alasanya jelas karena pertumbuhan
di masing-masing Propinsi yang merupakan salah satu unsur utama
ada di Indonesia. dalam pembangunan ekonomi
regional dan mempunyai implikasi
kebijakan yang cukup luas.

Halaman 43
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober 2012

Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah Salah satu ukuran yang digunakan


pertambahan pendapatan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi yang
secara keseluruhan yang terjadi dicapai dapat secara merata diantara
diwilayah tersebut, yaitu kenaikan wilayah dalam suatu negara atau
seluruh nilai tambah (value edit) yang Propinsi dapat diukur dengan Indeks
terjadi. Perhitungan pendapatan Williamson.Williamson meneliti
wilayah yang pada awalnya dibuat hubungan antara disparitas regional
dalam harga berlaku. Namun agar dan tingkat pembangunan ekonomi
dapat melihat pertambahan dari satu dengan menggunakan data ekonomi
kurun waktu ke kurun waktu negara yang sudah maju dan negara
berikutnya harus dinyatakan dengan sedang berkembang. Ditemukan
nilai riil, artinya dinyatakan dalam bahwa selama tahap awal
harga konstan. Pendapatan wilayah pembangunan, disparitas regional
menggambarkan balas jasa bagi faktor- menjadi lebih besar dan
faktor produksi beroperasi didaerah pembangunan terkonsentrasi di
tersebut (tanah, modal, tenaga kerja daerah-daerah tertentu. (Kuncoro,
dan teknologi) yang secara kasar dapat Mudrajad 2004). Pemerataan dapat
menggambarkan kemakmuran daerah dilihat apabila nilai Indeks
tersebut. Kemakmuran suatu wilayah Williamson mendekati 1 maka
selain ditentukan oleh nilai tambah pembangunan semakin tidak merata,
yang tercipta di wilayah tersebut juga dan sebaliknya jika mendekati 0
oleh seberapa besar terjadi transfer maka pembangunan semakin merata.
payment yaitu bagian pendapatan yang
mengalir keluar wilayah atau
mendapat aliran dana dari luar wilayah
(Tarigan, 2005).

2.2.Pengukuran Ketimpangan
Pembangunan

Todaro (1987) menjelaskan


ketimpangan pembangunan dapat
terjadi apabila pendapatan dan
pengeluaran nasional suatu negara
tidak seimbang, sedangkan faktor
modal atau investasi mengalami
kemerosotan.

Halaman 44
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober 2012

III. METODE PENELITIAN IV.HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis data dalam penelitian ini
4.1. Perkembangan Pertumbuhan
menggunakan dua pendekatan yaitu
Ekonomi dan Pendapatan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Perkapita Antar Wilayah Di
Pendekatan kualitatif digunakan
Pulau Sumatera.
untuk menganalis perkembangan
Produk Domestik Regional Bruto
pertumbuhan ekonomi dan
(PDRB) merupakan salah satu
pendapatan perkapita antar wilayah
indikator penting untuk mengetahui
Propinsi di Pulau Sumatera selama
kondisi perekonomian di suatu
periode tahun 2004-2008. Sedangkan
wilayah dalam suatu periode tertentu,
pendekatan kuantitatif digunakan
biasanya satu tahun. Perkembangan
Indeks Williamson untuk
PDRB atas dasar harga konstan
menghitung ketimpangan
merupakan salah satu indikator
pembangunan antarwilayah di Pulau
penting untuk melihat seberapa besar
Sumatera dengan rumus sebagai
pertumbuhan ekonomi di suatu
berikut :
wilayah. Pertumbuhan ekonomi
merupakan salah satu indikator yang
√∑ ( Yi – Y)2.Fi/N
digunakan untuk mengevaluasi hasil-
IW =
hasil pembangunan.
Y
Pertumbuhan ekonomi Propinsi
di wilayah Pulau Sumatera
Dimana :
didominasi sector pertanian dan
IW : Indeks Williamson
pertambangan. Propinsi Nanggroe
Yi : pendapatan perkapita
Aceh Darussalam memiliki sector
masing-masing propinsi di Pulau
unggulan dibidang pertambangan,
Sumatera
Propinsi Sumatera Utara berpotensi
Y : pendapatan perkapita pulau
di sector pertanian, peternakan ,
Sumatera
kehutanan dan perikanan.
Fi : jumlah penduduk masing-
Pertumbuhan Ekonomi Sumatera
masing propinsi di Pulau Sumatera
Utara tahun 2008 yang diukur
N : jumlah penduduk Pulau
berdasarkan kenaikan Produk
Sumatera
Domestik Regional Bruto (PDRB)
atas dasar konstan 2000 meningkat
6,39 persen terhadap tahun 2007.

Halaman 45
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober 2012

Propinsi Sumatera Barat memiliki


Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh potensi pada sector pertanian,
sektor keuangan dan jasa perusahaan perdagangan dan jasa. Propinsi
dan jasa perusahaan sebesar 11,30 Riau merupakan Propinsi yang
persen. memiliki potensi sumberdaya alam
Disusul oleh sektor jasa-jasa 9,48 dari sector pertambangan dan
persen, sektor pengangkutan dan memiliki banyak kandungan
komunikasi 8,89 persen, sektor minyak bumi. Propinsi Jambi lebih
bangunan 8,10 persen, sektor dominan pada sector petanian
pertanian sebesar 6,05 persen. khususnya dibidang perkebunan.
Sedangkan 2 (dua) sektor Propinsi Sumatera Selatan
perekonomian yang lain hanya memiliki perekonomian yang
berhasil tumbuh dibawah 5 persen. cukup tinggi karena potensi
Besaran PDRB Sumatera Utara pada minyak dan gas, sedangkan
tahun 2008 atas dasar harga berlaku Lampung kontribusi PDRB
tercapai sebesar Rp.213,93 triliun, didominasi oleh sector pertanian
sedangkan atas dasar harga konstan salah satunya antara lain
2000 sebesar Rp.106,17 triliun. perkebunan tanaman tebu yang
Terhadap pertumbuhan ekonomi cukup luas.
Sumatera Utara tahun sebesar 6,39
persen, sektor pertanian memberi
sumbangan sebesar 1,45 persen,
disusul oleh sektor perdagangan,
hotel, dan restoran sebesar 1,13
persen, sektor jasa-jasa 0,91 persen,
sektor pengangkutan dan komunikasi
0,81 persen, sektor keuangan,
persewahan, dan jasa perusahaan 0,76
persen, dan sisanya oleh keempat
sektor lainnya.

Halaman 46
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober,2012

Halaman 47
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober,2012

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa


Propinsi Sumatera Utara mempunyai 4.2. Analisa Ketimpangan
angka PDRB berdasarkan harga konstan Pembangunan Antarwilayah
yang cukup tinggi jika dibandingkan di Pulau Sumatera
dengan propinsi lainnya, sementara Beberapa faktor yang
Propinsi yang mempunyai PDRB terendah mempengaruhi ketimpangan
adalah Bengkulu. Struktur perekonomian terjadi di provinsi dan kabupaten
Provinsi Bengkulu masih didominasi oleh kota yang baru diantaranya
sektor pertanian, sektor perdagangan, adalah kesenjangan struktural
hotel dan restoran dan sektor jasa-jasa. akibat aktivitas perekonomian
Besarnya pendapatan regional per kapita yang terlalu bertumpu pada
dalam hal ini PDRB per kapita merupakan sektor-sektor tertentu (biasanya
salah satu indikator yang digunakan untuk sektor primer; pertanian
mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. tradisional), keterbatasan sumber
Untuk lebih meningkatkan pendapatan per daya yang berimplikasi pada
kapita, maka laju pertumbuhan ekonomi tingginya angka pengangguran
harus ditingkatkan dan sebaliknya laju dan kemiskinan, rendahnya
pertumbuhan penduduk perlu untuk akses masyarakat terhadap
dikendalikan. Karena pada dasarnya laju fasilitas kesehatan dan
pertumbuhan penduduk yang cepat akan pendidikan yang berdampak
berpengaruh terhadap pembangunan pada indeks pembangunan
ekonomi terutama sekali terhadap manusia serta jumlah dan
perkembangan pendapatan regional. kualitas infrastruktur yang buruk
Semakin tinggi laju pertumbuhan karena tidak ditunjang oleh
penduduk maka semakin rendah alokasi anggaran yang cukup
pendapatan regionalnya dan sebaliknya untuk pembangunan dan
semakin rendah laju pertumbuhan pemeliharaan. Pembangunan
penduduk maka semakin tinggi secara umum dapat diupayakan
pendapatan regionalnya dengan asumsi melalui kenaikan laju
laju pertumbuhan ekonominya tetap. Oleh pertumbuhan ekonomi atau
sebab itu pengendalian penduduk guna dengan kata lain tingginya laju
meningkatkan pendapatan regional harus pertumbuhan ekonomi akan
dipikirkan baik oleh pemerintah maupun berdampak pada perbaikan
masyarakat. kesejahteraan dan perekonomian
secara keseluruhan.
Namun sering terjadi, tingginya
laju pertumbuhan ekonomi tidak
otomatis mengurangi
ketimpangan yang ada.

Halaman 48
Halaman Tulisan Jurnal (Isi/Materi Jurnal)

Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober,2012

V. KESIMPULAN
Apabila dilihat rata-rata Indeks Masalah ketimpangan pembangunan
Williamson masing-masing antar daerah tidak hanya tampak
Propinsi di Pulau Sumatera, maka pada wajah ketimpangan
ada kecenderungan tingkat Perekonomian Pulau Jawa saja,
ketimpangan pembangunan kecil tetapi juga Luar Pulau Jawa, salah
dan relative merata, hal ini dapat
satunya adalah Pulau Sumatera.
dilihat dari nilai indeksnya
angka ketimpangan pembangunan
mendekati angka nol. Dengan
semakin majunya pembangunan antarwilayah menunjukkan bahwa
ekonomi suatu daerah diharapkan Propinsi Kepulauan Riau
angka pemerataan pembangunan mempunyai angka indeks yang
juga semakin merata. Berdasarkan relatiF tertinggi jika dibandingkan
grafik dibawah ini terlihat ada dengan Propinsi lainnya, hal ini
beberapa Propinsi yang mempunyai disebabkan karena propinsi ini
rata-rata indeks Williamson yang
adalah salah satu propinsi pemekaran
cenderung lebih tinggi jika
dibandingkan dengan wilayah dari Propinsi Riau. Untuk wilayah
Propinsi lainnya, yaitu Propinsi Propinsi lainnya seperti Nanggroe
Riau sebesar 0,322 dan KEPRI Aceh Darussalam, Sumatera Utara,
sebesar 0,325. Sumatera Barat, Sumatera Barat,
Jambi, Bengkulu dan Bangka
Belitung mempunyai angka indeks
cenderung mendekati nol atau relatif
lebih merata.

Halaman 49
Jurnal Paradigma Ekonomika Vol.1, No.6, Oktober,2012

DAFTAR PUSTAKA

Dumairy, 1999, Perekonomian Indonesia, Yogyakarta : Bagian Penerbitan Erlangga.


Glasson, John, 1997, Pengantar Perencanaan Regional, diterjemahkan Paul
Sitohang,
Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Irawan dan M. Suparmoko. 1987. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta : Liberty.
Triyanto W, Hg. Suseno, 1991, Indikator Ekonomi, Yogyakarta : Kansisus.
Irwan dan Suparmoko, 1987. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta : Liberty.
Kuncoro, Mudrajad, 1997, Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta :
UPPAMPYKPN.
Todaro, Michael P. 1990, Ekonomi Pembangunan Di Dunia Ketiga, Jakarta
:Erlangga.
Richarson, Harry W, 2001, Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi Regional,(diterjemahkan
Paul Sitohang), Edisi Revisi 2001, Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Sudibyo, Bambang dkk, 1995, Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia
Yogyakarta : Bagian Penerbitan Aditya Media.
Sukirno, Sadono, Ekonomi Pembangunan, 1985, Jakarta : Fakultas Ekonomi
Universitas Indinesia, Bima Grafika.
Sjafrizal, 1997, Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah
Indonesia Bagian Barat, Jakarta, Jurnal Buletin Prisma.
Sumitro, Djojohadikusumo, 1987, Dasar Teori Ekonomi Pertumbuhan dan
Pembangunan, Jakarta : Bagian Penerbitan : LP3ES.
Thee Kian Wie, 1982, Perekonomian di Negara Berkembang, Jakarta : Pustaka Jaya.
Tambunan, Tulus TH. 2001, Perekonomian Indonesia, Jakarta : Ghalia Indonesia,
Jakarta.

Halaman 50