Anda di halaman 1dari 9

KASUS III PAJAK

PT. TANI MAJU

KELOMPOK V

ALIFIA INTAN A
0906607075
EDHI PRABOWO
0906607674
FEBRI MEDINA
0906607794
PADWIN LEINARDO
0906608600

PROGRAM EKSTENSI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2010
Statement of Authorship

Kami yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa


makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri.
Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk


makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan
jelas bahwa kami menggunakannya.

Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat


diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi
adanya plagiarisme.

Nama : Alifia Intan Anggraini


NPM : 0906607075
Tanda tangan :

Nama : Edhi Prabowo


NPM : 0906607674
Tanda tangan :

Nama : Febri Medina


NPM : 0906607794
Tanda tangan :

Nama : Padwin Leinardo


NPM : 0906608600
Tanda tangan :

Mata Ajaran : Perpajakan


Judul Makalah/tugas : Penyusunan Rekonsiliasi Fiskal PT.
Tani Maju
Tanggal : 12 November 2010
Dosen : Debby Fitriasari, SE, MSM.
Pertanyaan dan Jawaban Diskusi Kasus PT Tani Maju

1. Menyangkut staf karyawan pajak, menurut Anda apakah


ada yang perlu diperbaiki terkait dengan pembagian tugas dan
pekerjaan mereka?

Jawab:
Terkait dengan staff pajak, pembagian tugas sudah cukup
memadai. Jika ada staff yang cuti (terutama cuti hamil)
alangkah baiknya sebelum masa cuti dimulai staff ybs
mendelegasikan tugasnya ke staff lain yang sama
kompetennya atau mencari penggantinya untuk sementara
waktu dan memberikan penjelasan mengenai deskripsi
pekerjaan kepada staff tersebut. Jadi saat masa cuti dimulai
tidak akan ada pekerjaan yang harus tertunda. Agar tidak
menyulitkan pencarian dokumen, sebaiknya data-data yang
berhubungan dengan tugas staf yang sedang cuti diserahkan
kepada penggantinya.

2. Menyangkut omset perusahaan:


a) Apakah diperlukan koreksi fiskal atas penghasilan usaha
yang dilaporkan dalam laporan laba rugi perusahaan? Jelaskan
jawaban Anda!
b) Jelaskan hal-hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan
omset usaha perusahaan dalam laporan laba rugi dengan yang
terdapat di dalam SPT PPN!
c) Terkait pertanyaan (b), apakah tindakan yang harus
dilakukan PT TANI MAJU?

Jawab:
a) Iya
 Untuk transaksi penjualan alat pertanian yang terjadi
pada bulan desember 2009 senilai Rp. 450 juta perlu
diadakannya koreksi positif terhadap penjualan
tersebut. Ini dikarenakan penjualan tersebut baru
terealisasi pada tahun 2010, jadi atas transaksi tersebut
akan menambah nilai penjualan pada tahun terjadinya
pembayaran yaitu 2010 yang kemudian akan
meningkatkan Penghasilan Kena Pajak (PKP)
perusahaan. Sebagaimana yang tercantum pada UU
PPh Pasal 4 ayat (1), bahwa setiap tambahan
kemampuan ekonomis (penghasilan) yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan dengan
nama dan dalam bentuk apapun merupakan objek
Pajak.

 Terkait dengan penjualan produk pertanian yang


sampai akhir Desember 2010 belum di terima
pembayarannya harus di koreksi negatif. Artinya PKP
nya akan berkurang, penghasilan atas penjualan
tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam penghasilan
tahun 2010 karena penghasilannya belum terealisasi
(UU PPh Pasal 4 ayat 1).

 Penggunaan sebagian persediaan produk pertanian


yang dimilikki PT TANI MAJU senilai Rp.50 juta yang
ditanam di area kantor dan gudang merupakan Non-
deductible expense, harus dikoreksi positif. Artinya PKP
tahun 2010 akan naik dan biayanya menjadi berkurang.
Dengan asumsi bahwa pengeluaran tersebut tidak
mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung
dengan kegiatan usaha atau kegiatan 3M (mendapatkan,
menagih dan memelihara) penghasilan PT TANI MAJU. (UU
PPh Pasal 9 ayat (1) huruf a)
 Sumbangan produk pertanian dalam rangka Hari
Lingkungan Hidup senilai Rp. 100 juta bukan merupakan
objek pajak (UU PPh Pasal 4 ayat 3 huruf a) bagi yang
menerimanya. Dan bagi yang memberikan sumbangan
tersebut (PT TANI) bukan merupakan biaya yang dapat
dikurangkan dari penghasilan/non-deductible expense.
Oleh karenanya harus dikoreksi positif sesuai dengan
yang dimaksud pada UU PPh pasal 9 ayat (1) huruf g

b) Perbedaan omset usaha perusahaan dalam laporan laba


rugi dalam SPT Tahunan dengan yang terdapat di dalam SPT
PPN, dikarenakan adanya beberapa hal berikut ini :
 Adanya penghasilan yang dikenakan PPh final tetapi
dipungut PPN dan dilaporkan di SPT Masa PPN. Misalnya
pendapatan sewa tanah dan atau bangunan merupakan
objek PPh Final sehingga tidak diperhitungkan dalam SPT
PPh Badan. Padahal penyerahannya adalah objek PPN
 Adanya penghasilan/penjualan yang merupakan
objek PPh tetapi bukan merupakan objek PPN atau fasilitas
PPN. Fasilitas PPN seperti dibebaskan atau tidak dipungut,
misalnya ekspor dikenai PPN tarif 0%, penjualan makanan
dan minuman disajikan di hotel yang merupakan objek
PPh akan tetapi bukan merupakan objek PPN tetapi objek
pajak daerah.
 Adanya penghasilan yang dikenakan PPh final tetapi
dipungut PPN dan dilaporkan di SPT Masa PPN. Misalnya
pendapatan sewa tanah dan atau bangunan merupakan
objek PPh Final sehingga tidak diperhitungkan dalam SPT
PPh Badan. Padahal penyerahannya adalah objek PPN.
c) Sebaiknya perusahaan membandingkan peredaran usaha
di SPT Masa PPN selama satu tahun (mulai masa Januari sampai
dengan masa Desember) dengan peredaran usaha di laporan
laba rugi akuntansi atau Pajak. Peredaran usaha di SPT
Tahunan dengan penyerahan BKP/JKP di SPT Masa PPN
tersebut pasti terjadi perbedaan, di mana perbedaan
tersebut bisa diketahui dengan melakukan analisis
equalisasi. Analisis equalisasi digunakan untuk
memastikan dalam satu tahun pajak apakah omzet di SPT
Tahunan PPh Badan atau Orang Pribadi sama dengan
penyerahan BKP/JKP di SPT Masa PPN. Analisis Ekualisasi Omzet
SPT Tahunan PPh dengan Penyerahan SPT Masa PPN biasanya
dilakukan dalam kondisi omzet atau peredaran bruto yang
dilaporkan di SPT Tahunan PPh berbeda dengan total nilai
penyerahan kumulatif yang dilaporkan di SPT Masa PPN selama 1
tahun buku.

3. Terkait beban karyawan:


a) Apakah perusahaan melakukan kesalahan dalam
pengakuan beban karyawan untuk menghitung laba fiskal?
Jelaskan jawaban Anda!
b) Berikan masukan Anda kepada perusahaan mengenai
kewajiban perpajakan yang terkait dengan beban karyawan!

Jawab:
a) Ya, diperlukan beberapa koreksi dalam hal :
 Terkait dengan pakaian seragam satpam walaupun
merupakan natura namun pemberian tersebut merupakan
keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan karena sifat dari
pekerjaan tersebut mengharuskannya seperti yang
tertuang dalam penjelasan UU PPh pasal 9 ayat 1 huruf e
dan merupakan deductible expense. Harus dikoreksi
negatif.

b)
 Penyediaan makan hanya untuk karyawan gudang
termasuk non-deductible expense dan tidak perlu dikoreksi
karena perusahaan teleh mengkoreksinya. Sebaiknya
perusahaan menyediakan makan untuk seluruh karyawan
agar biaya tersebut bisa dikurangkan dalam perhitungan
PPh Badan. Atau bisa juga pemberian makan tersebut
diberikan dalam bentuk tunjangan dan dimasukkan ke
dalam perhitungan penghasilan karyawan, maka biaya
tersebut bisa dijadikan deductible expense. (UU PPh pasal
9 ayat 1 huruf e)
 Apabila PPh 21 yang dibayarkan perusahaan
merupakan PPh 21 ditanggung perusahaan dan tidak
menambah penghasilan karyawan, maka merupakan non-
deductible expense. Sebaiknya perusahan menggunakan
metode gross-up dalam perhitungan PPh 21 karyawan
(tunjangan), maka perusahaan dapat membebankan biaya
nya dalam perhitungan pajak karena merupakan biaya
yang deductible.
 Biaya pengobatan merupakan biaya yang ditanggung
perusahaan dan perusahaan melakukan pembayaran
langsung ke pihak RS, sehingga tidak menambah
penghasilan karyawan dan merupakan non-deductible
expense. Sebaiknya perusahaan menggunakan sistem
reimburse dalam pemberian biaya pengobatan agar dapat
dijadikan deductible expense.

4. Terkait beban bunga, apakah perusahaan melakukan


kesalahan dalam pengakuan beban bunga untuk menghitung
laba fiskal? Jelaskan jawaban Anda!

Jawab:
Ya, Karena rata-rata deposito selama Tahun 2010 lebih besar
dari rata-rata pinjaman, atas beban bunga pijaman tersebut
bukan merupakan deductible expense. Maka harus dikoreksi
positif sebesar Rp. 200 juta (Surat Edaran No. SE-
46/PJ.45/1995)

5. Sehubungan dengan beban konsultasi manajemen,


jelaskan apakah diperlukan koreksi atas beban konsultasi
manajemen yang diakui perusahaan? Jelaskan jawaban Anda!

Jawab:
Ya, koreksi positif
Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada
pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai
hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan
pekerjaan yang dilakukan, merupakan non-deductible
expense. Dengan demikian, Beban Jasa Konsultasi Manajemen
kepada PT Jaya Utama selaku pemegang saham merupakan
non-deductible expense (UU PPh Pasal 9 ayat 1 huruf f).

6. Sehubungan dengan beban-beban yang sering dikoreksi:


a) Menurut pendapat Anda, apakah yang menyebabkan
beban-beban tersebut dikoreksi oleh pemeriksa pajak selama ini?
b) Jelaskan tindakan dan kebijakan apa yang harus
diubah/dilakukan PT TANI MAJU untuk menjamin koreksi
semacam itu tidak terjadi lagi!

Jawab:
a) Karena PT TANI MAJU tidak meng-update peraturan
terbaru dalam menghitung pajak tahun yang
bersangkutan, namun hanya mengacu pada ketentuan
tahun-tahun sebelumnya, sehingga terjadi banyak
kesalahan dalam penerapan pajaknya. Diantaranya :
 Beban perjalanan dinas, beban ini diberikan untuk
pimpinan dan staf karyawan yang melakukan perjalanan
dinas secara lump sum (termasuk deductible expense,
karena merupakan biaya yang secara langsung
maupun tidak langsung berkaitan dengan kegiatan
usaha. Pasal 6 ayat (1) huruf a UU PPh)
*) asumsi: Lump sum disertai bukti-bukti memadai dan dianggap termasuk
honor pegawai

 Beban sumbangan, dimana Perusahaan memberikan


sumbangan kepada perorangan/institusi yang memberikan
proposal /meminta langsung ke perusahaan, apabila
berkenaan dengan UU PPh Pasal 6 ayat 1 huruf I sampai
dengan huruf m, maka beban sumbangan temasuk
deductible expense.

b) Sebaiknya dalam beberapa hal perusahaan sebaiknya


memberikan penjelasan tekait bukti-bukti yang sah, misalnya
Terkait Beban Perjalanan Dinas:
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
perlakuan beban perjalanan dinas, yaitu jika:
- Biaya-biaya perjalanan dinas disertai bukti-bukti yang sah
dan dapat dipertanggung jawabkan, maka dapat digolongkan
menjadi deductible expense.
- Biaya perjalanan dinas dihitung lump sum tanpa disertai
bukti, maka digolongkan sebagai non-deductible expense, dan
- Biaya perjalanan dinas dihitung lump sum dianggap
sebagai honor karyawan, maka dapat digolongkan sebagai
deductible expense.
Sedangkan, perlakuan untuk Sumbangan tergantung dari
pihak yang menerima sumbangan tersebut. Jika
Sumbangan ditujukan untuk korban bencana alam dan ada
jelas PP yang mengatur hal tersebut maka dapat
digolongkan sebagai deductible expense.

Staff bagian Pajak maupun Manager pajak harus teliti


dalam perlakuan item-item diatas dan secara memadai
melakukan filing atas bukti-bukti normatif terkait transaksi
perusahaan agar tidak selalu dikoreksi oleh Pemeriksa
Pajak serta terus mengup-date peraturan-peraturan pajak
yang terkait dalam tahun pajak yang bersangkutan, agar
tidak terjadi lagi kesalahan penerapan pajak serta
perhitungannya.