Anda di halaman 1dari 137

BAB I

KIMIA ANALISIS

I. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Mendefinisikan kimia analisis
1.2 Menjelaskan pengelompokan kimia analisis berdasarkan :
- jumlah analit
- berat sampel
- metode yang digunakan
1.3 Mendefinisikan Analisis Kualitatif dengan memberikan contohnya
1.4 Mendefinisikan Analisis Kuantitatif dengan memberikan contohnya
1.5 Menjelaskan tahapan dalam analisis kimia

2. URAIAN :
2.1 PENGGOLONGAN KIMIA ANALISIS
Kimia analisis merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari
bagaimana menyelidiki suatu zat atau bahan sehingga diketahui susunannya,
yaitu jenis unsur/senyawa yang terdapat di dalamnya serta kadar dari
unsur/senyawa tersebut. Dari uraian tersebut maka kimia analisis dapat dibagi
dalam dua bidang yaitu :
1. Analisis Kualitatif, bertujuan untuk mengetahui unsur/senyawa apa
yang tekandung dalam suatu bahan. Misalnya analisis unsur atau
seyawa apa yang terdapat dalam suatu sample air.
2. Analisis Kuantitatif, bertujuan untuk menetapkan kadar
unsure/senyawa dalam suatu bahan. Zat yang ditetapkan sering disebut
sebagai konstituen yang diinginkan atau analit yang dapat merupakan
sebagian kecil atau sebagian besar dari sample yang dianalisis.
Pengelompokan analisis kimia dapat didasarkan pada persentase analit,
yaitu :
1. analisis konstituen utama (major) : jika analit 1% dari sample
2. analisis konstituen kecil (minor : jika analit 0,01-1%

1
3. analisis konstituen runutan (trace : jika analit kurang dari 0,01%)
Analisis kimia juga dikelompokkan berdasarkan ukuran sampel, yaitu
1. analisis makro, bila sampel lebih dari 0,1 g
2. analisis semimikro, bila sampel beratnya 10-100 mg
3. analisis mikro, bila sampel beratnya 1-10 mg
4. analisis ultramikro, bila sampel beratnya 1 mikrogram
Pada dasarnya metode analisis kuantitatif terbagi dalam 2 golongan :
1. Metoda Klasik / Konvensional
Yaitu metoda yang didasarkan pada reaksi-reaksi kimia yang juga
disebut metode stoikiometri. Metode ini terbagi atas :
a. Metoda Gravimetrik
Yaitu metoda analisis yang didasarkan pada berat endapan.
b. Metoda Volumetrik
Yaitu metoda analisis yang didasarkan pada volume
- Gasometrik : Analit direaksikan sehingga terbentuk suatu gas, jumlah
zat yang dicari dihitung berdasarkan volume gas tersebut.
- Titrimetrik : Analit direaksikan dengan suatu pereaksi hingga jumlah
zat-zat yang bereaksi itu ekivalen.
2. Metoda Instrumental / Modern
Yaitu metoda yang menggunakan peralatan yang modern yang terdiri dari
a. Electrical methods (metode listrik)
- Pada metode ini parameter yang diukur adalah arus, tegangan, atau
hambatan (resistensi) yang berhubungan dengan konsentrasi dari suatu ion.
Yang termasuk metoda ini adalah voltametri, coulometri, potensiometri, dan
konduktometri.
b. Optic Methods (Metode optic)
- visible spectrophotometri
- U V spectrophotometri
- I R spectrophotometri
- Atomic absorption spectrophotometri
c. Emission methods (Metode emisi)
d. X-ray fluorescence Methods
e. Kinetic Methods
f. dll
2
Analisis kuantitatif terbagi dalam 4 tipe :
1. analisis proksimat : analisis yang tidak memerlukan ketepatan
2. analisis konstituen : analisis suatu unsure/senyawa dalam jumlah yang
sangat kecil
3. analisis parsial : analisis terhadap suatu / beberapa unsur/senyawa
4. analisis komplit : analisis semua unsur/senyawa pada suatu bahan

2.2 TAHAPAN ANALISIS


1. Pengambilan sampel (sampling)
Tahap ini sangat penting, karena contoh yang keliru atau tidak homogen
tidak akan menggambarkan bahan yang sesungguhnya, sehingga hasil
analisa kurang akurat.
2. Melarutkan sampel
Sebagian besar sampel pada analisis kuantitatif dapat larut dalam air.
Untuk analisis bijih, logam atau alloy dapat dilarutkan dengan :
- pengolahan dengan asam klorida, nitrat, sulfat, atau perklorat
- pelelehan bersama suatu fluks asam atau basa, diikuti dengan
pengolahan dengan air atau asam.
3. Mengubah analit menjadi bentuk yang dapat diukur
Biasanya dilakukan bila di dalam sampel terdapat komponen-komponen
pengganggu yang dapat mengganggu jalannya analisis.. Komponen
pengganggu tersebut dapat dipisahkan terlebih dahulu.
4. Pengukuran
Langkah pengukuran merupakan analisis kimia kuantitatif yang
sesungguhnya, yang terbagi menjadi titrimetri (volumetrik), gravimetrik,
dan instrumental.
5. Perhitungan dan Penafsiran Pengukuran
Tahap terakhir dalam suatu analisis adalah perhitungan persentase analit
dalam sample. Untuk analisis titrimetri dan gravimetric perhitungan
didasarkan pada perhitungan stoikiometri.

3. TUGAS :
1. Apakah yang dimaksud dengan kimia analisis ?
2. Apakah yang dimaksud dengan :
3
a. analisis kimia kualitatif
b. analisis kimia kuantitatif
berikan contohnya !
3. Tuliskan pembagian kimia analisis berdasarkan jumlah analit, jumlah
sample, dan metode yang digunakan, jelaskan
4. Tuliskan langkah –langkah dalam analisis kimia

4
BAB II
ANALISIS KIMIA DI LABORATORIUM

1. TUJUAN KHUSUS :
1.1. Menjelaskan petunjuk umum dalam melakukan analisis di laboratorium
1.2. Menjelaskan peralatan yang digunakan dan cara penggunaannya
1.3. Menguraikan 3 tingkat mutu zat kimia yang digunakan di laboratorium

2. URAIAN :

2.1. Petunjuk Umum


Kebiasaan bersih dan bekerja rapih harus selalu ditanamkan sejak dini.
Ketaatan/kepatuhan dan disiplin terhadap aturan-aturan berikut sangat berguna
dalam praktek.
1. Meja laboratorium harus dijaga tetap bersih dan selembar lap (katun)
harus selalu tersedia bagi setiap siswa agar apa saja yang tertumpah
baik serbuk atau cairan dapat langsung dibersihkan.
2. Semua peralatan gelas harus betul-betul bersih dan dibilas dengan air
suling atau air bebas mineral
3. Dalam keadaan bagaimanapun siswa tidak boleh membiarkan meja
dipenuhi peralatan. Semua peralatan yang berhubungan dengan
pekerjaan khusus agar dikelompokkan di atas meja. Hal ini berguna
untuk mencegah kekacauan terutama bila pekerjaan harus diulang
(duplo). Alat yang tidak digunakan segera disimpan atau ditaruh di
bagian belakang meja
4. Setiap pereaksi (reagent), larutan, endapan atau apa saja yang
disiapkan untuk pekerjaan selanjutnya. Wadah harus diberi tanda/label
agar mudah dikenal dan wadah diberi tutup yang sesuai guna mencegah
kontaminasi.
5. Jangan memboroskan gas atau bahan kimia. Besarnya nyala Bunsen
diatur seperlunya. Matikan bila tidak diperlukan.

5
6. Perhatikan benar-benar pembuangan zat. Asam kuat, basa kuat tidak
boleh dibuang ke dalam bak buangan kecuali telah diencerkan. Begitu
juga untuk zat-zat beracun, telah disediakan tempat penampungannya.
7. Semua kegiatan praktikum yang melibatkan penggunaan asam pekat,
pembebasan uap atau gas yang bersifat racun, atau berbau tidak enak,
sebaiknya dilakuakan di lemari asam.
8. Botol-botol pereaksi tidak boleh dibiarkan menumpuk di atas meja, bila
sudah dipakai segera dikembalikan ke tempat semula
9. Setiap percobaan harus dikerjakan minimal dua kali (duplo), kecuali jika
pembimbing menentukan lain.
10. Untuk mencatat hasil pengamatan, misalnya data penimbangan, volume
titrasi dan sebagainya, maka setiap siswa harus menyiapkan buku
catatan yang diparaf oleh pembimbing.
11. Setiap siswa harus menjaga keamanan dalam laboratorium, bahaya
kebakaran, bahan kimia beracun.
12. Penggunaan peralatan harus berhati-hati jika ada kesulitan terhadap alat
segera menghubungi pembimbing.

2.2 Peralatan Analisis

1. Tabung Reaksi

Tabung ini digunakan untuk tempat reaksi. Ukuran


terbaik untuk penggunaan umum adalah 15x2 cm
dengan kapasitas total 25 ml. Ada juga yang
berukuran 4 ml, dan 8 ml. Tabung reaksi yang lebih
kecil kadang-kadang digunakan untuk uji khusus..
Harus tersedia sikat tabung reaksi untuk
membersihkan tabung-tabung tersebut.

Gambar 2. Tabung Reaksi

6
2. Gelas Piala/Gelas kimia/Beakers glass

Biasanya berkapasitas 50, 100, 250, 400, 500 ml.


Yang paling umum adalah yang dilengkapi paruh pada
bibirnya. Keuntungan bentuk ini : memudahkan
penuangan, batang pengaduk dapat menjulur keluar
dari gelas kimia walaupun gelas kimia ditutup, paruh
tersebut merupakan jalan keluar bagi uap ataupun
gas bila gelas piala ditutup dengan kaca arloji. Harus
Gambar 3. Gelas Piala
disertakan kaca arloji dengan ukuran yang sesuai.
Untuk penguapan dan reaksi kimia yang bergolak
menghasilkan gas, kaca arloji itu harus ditopang pada
mulut gelas piala dengan pertolongan batang kaca
berbentuk V.

3. Erlenmeyer

Erlenmeyer yang umum digunakan untuk titrasi


adalah yang berkapasitas 250 ml. Ada juga yang
berkapasitas 50, 100, 500 ml. Dengan dipasangnya
corong yang batangnya pendek , akan dicegah
kehilangan cairan lewat leher labu dan sementara uap
masih bisa keluar.
Gambar 4. Erlenmeyer
4. Corong
Corong yang baik berpenampung sudut 60 0. Ukuran
yang paling berguna untuk analisis kuantitatif adalah
yang berdiameter 5,5cm, 7 cm dan 9 cm. Batangnya
harus berdiameter dalam sekitar 4 mm dan
panjangnya tak lebih dari 15 cm. Untuk mengisi buret
dan memindahkan zat padat ke labu volumetric,
Gambar 5 Corong sebaiknya digunakan corong bergantung pendek dan
leher lebar.

7
Untuk endapan yang banyak digunakan corong Buchner. Corong ini
terdiri dari corong porselen yang dipasangi lempeng berlubang-lubang.
Lempeng ini ditutup dengan pas oleh kertas saring rangkap. Corong
Buchner dipasang pada labu saring dengan suatu sumbat.

5. Pipet Ukur

Pipet ukur diberi skala seperti buret, dan


digunakan untuk mengukur volume larutan dengan lebih
tepat dari pada gelas ukur. Tetapi biasanya pipet ukur
tidak dipergunakan apabila digunakan untuk ketepatan
yang tinggi.Pipet ukur digunakan untuk memindahkan
cairan yang volumenya bermacam-macam dan telah
ditetapkan sebelumnya. Terbuat dengan kapasitas 1, 2,
5, 10, 20, 25, 50, dan 100 ml. Dan yang sering digunakan
10, 25, dan 50 ml. Dalam menggunakannya, pipet harus
dipegang vertical dan tanda batas sama tingginya dengan
mata.
Untuk cairan beracun dan berbahaya lainnya
diharuskan menggunakan karet penghisap untuk
pengisian. Cegahlah agar cairan tidak masuk ke dalam
bola karet, karena menimbulkan kontaminasi pada cairan
dan juga dapat merusak bola karet.
Gambar 6. Pipet Ukur

Tetesan cairan yang menempel di ujung cairan, disingkirkan dengan


membentikkannya dengan suatu permukaan kaca. Kemudian cairan itu
dibiarkan mengalir ke wadah penerima, dengan ujung pipet menyentuh dinding
dalam wadah. Ketika pipet telah kosong, ujung pipet dibiarkan kontak dengan
dinding wadah selama 30 detik. Kemudian ujung pipet dilepaskan dari dinding
wadah, cairan yang tersisa dalam ujung pipet tidak boleh diambil baik dengan
meniupnya atau dengan mencelupkan ke dalam wadah penerima, karena
volumenya sudah diperhitungkan waktu kalibrasi. Puipet yang ujungnya rusak
tidak dapat digunakan lagi.

8
6. Pipet volum/transfer

Pipet ini digunakan untuk memindahkan larutan yang


volumenya diketahui dengan tepat, dari satu wadah ke
wadah yang lain. Pipet ini diisi dengan menyedot secara
perlahan sampai 2 cm di atas garis batas dengan
menggunakan bola isap. Ujung bawah pipet harus
tercelup cukup dalam ke dalam cairan selama pengisian.
Kemudian permukaan cairan diatur sampai tepat pada
tanda batas. Pipet ini mempunyai kapasitas yang biasa
digunakan yaitu 5, 10, 25 ml.
Gambar 7. Pipet Volum

7. Botol Cuci/Penyimpan Air Destilat

Gambar 8. Botol Cuci


Botol polietina yang dapat ditekan untuk memaksa air keluar dari ujung
paruh. Kadang-kadang dapat disarankan untuk menyediakan botol cuci
tambahan untuk air panas dan pelarut tertentu. Botol cuci digunakan bila
diperlukan untuk aliran air suling yang terarah, seperti bila membilas dinding
dalam bejana kaca sehingg dijamin tidak ada tetesan larutan contoh yang
terikutkan dalam proses.

9
8. Buret
Buret digunakan untuk menghantarkan volume yang
diketahui dengan tepat tapi dapat diubah-ubah,
biasanya digunakan untuk titrasi. Keran terbuat dari
kaca atau Teflon. Kran Teflon tidak memerlukan
pelumasan, tetapi kran kaca memerlukan pelumasan.
Buret dibersihkan dengan deterjen encer panas
digunakan bersama-sama dengan sikat buret yang
panjang. Bila sedang tidak digunakan buret hendak
nya diisi dengan air suling dan ditutupi.
Umumnya buret berkapasitas 50 ml digunakan untuk
titrasi. Dalam membaca buret hendaknya dilakukan
dengan teliti. Untuk itu buret dipasang vertikal dan
tidak boleh miring.

Gambar 9. Buret
Larutan yang ada di dalam buret membentuk permukaan cekung yang
dinamakan
dengan meniscus. Pada larutan yang encer, warnanya tidak tua, biasanya
posisi dasar meniscuslah yang dibaca. Bila larutan berwarna gelap maka
bagian atas meniscus yang dibaca, misalnya larutan permanganate.

Gambar 10. Meniscus


Sebelum titrasi dimulai, harus dipastikan bahwa dalam paruh buret tidak ada
gelembung udara. Gelembung udara tersebut tercatat sebagai cairan yang
diteteskan jika gelembung itu keluar lewat paruh buret sehingga mengurangi
ketelitian dalam menentukan volume titran.

10
Larutan yang akan dititrasi umumnya ditaruh dalam labu Erlenmeyer,
dipolangpalingkan dengan cara memutar dengan lembut sementara
titrannya ditambahkan. Gunakan tangan kanan untuk memegang kran buret,
sedangkan tangan kiri memegang Erlenmeyer.
9. Labu Ukur/ Labu Takar/Labu Volumetri

Kapasitas yang sering digunakan adalah 50, 100,


250, 500, 1000 ml. Labu ini akan berisi cairan
sebanyak volume yang tercantum, yaitu diimana
dasar meniscus cairan berimpit dengan garis
batas yang terdapat pada labu tersebut. Labu ini
digunakan untuk membuat larutan dengan volume
yang tercantum. Larutan tidak boleh dipanaskan
dalam labu ukur, walaupun terbuat dari pyrex.
Labu ukur mempunyai tutup/sumbat kaca asah
atau polietilena, tudung ulir atau tudung cungkil.
Larutan basa akan menyebabkan sumbat kaca
tidak dapat dibuka, oleh karena itu larutan basa
tidak boleh menggunakan labu dengan sumbat
kaca.
Gambar 11. Labu Ukur

10. Bejana Isap/Erlenmeyer Vakum


Seperti gelas Erlenmeyer biasa, di sebelah atas
ada lubang pipa yang dapat dihubungkan dengan
pompa vakum oleh pipa karet atau pipa plastik.
Terbuat dari kaca yang berdinding tebal, dapat
menahan tekanan sampai 5 atmosfer. Digunakan
pada saat melakukan filtrasi.
Gambar 12. Bejana Isap

11
11. Batang pengaduk

Batang pengaduk digunakan untuk mengaduk larutan


atau suspensi, biasanya dalam gelas piala. Batang ini
merupakan batang kaca yang berdiameter 3-4 mm,
sedemikian rupa sehingga akan menjorok 6-8 cm
keluar dari bagian atas gelas piala. Kedua ujung
batang ini ditumpulkan/dibulatkan dengan
pemanasan nyala Bunsen. Di samping fungsinya
sebagai pengaduk, batang ini digunakan untuk
memindahkan larutan dari bejana ke bejana lain, dari
kertas saring ke bejana atau sebagai pengarah aliran
Gambar 13. Batang Pengaduk

12. Kertas saring

Gambar 14. Kertas Saring


Umumnya digunakan kertas saring dengan tekstur yang sedang halusnya.
Ukuran kertas saring tergantung pada banyaknya endapan dan bukan pada
volume larutan. Tepi atas kertas saring hendaknya 1 cm di bawah mulut
corong kaca. Tidak boleh diisi larutan lebih dari 2/3 volumenya.
Tersedia berbagai jenis kertas saring. Untuk analisis kuantitatif hendaknya
digunakan kertas saring bebas abu. Kertas ini telah diolah dengan asam
klorida dan asam fluorida dalam pembuatannya. Jadi bahan anorganiknya
rendah dan meninggalkan sedikit sekali abu bila dibakar.

12
13. Desikator

Gambar 15. Desikator


Zat-zat yang telah dikeringkan dengan pemanasan (dalam oven atau
pemanggangan) tidak terbuka di udara terlalu lama, karena zat tersebut
akan menyerap uap air dari udara. Untuk itu dilakukan penyimpanan di
dalam udara kering, yaitu dalam suatu desikator. Desikator adalah sebuah
wadah kaca bertutup yang dirancang untuk menyimpan objek dalam
atmosfer kering. Biasanya desikator diisi dengan zat pengering seperti
kalsium klorida anhidrat, silica gel, kalsium sulfat anhidrat. Butir butir silica
gelmengandung zat indicator, bila berwarna biru, berarti masih mampu
menyerap kelembaban udara. Apabila warnanya merah muda berarti
desikan tersebut telah jenuh dan harus diregenerasi. Proses regenerasi
dilakukan dengan cara pengering di dalam oven pada 105 oC selama 24 jam
sampai berwarna biru lagi. Desikator harus tertutup bila tidak warnanya
berubah dengan cepat menjadi merah muda. Bila suatu objek panas,
seperti krus ditaruh dalam sebuah desikator hendaknya ditunggu 5-10 detik
agar udara yang panas memuai, baru kemudian ditutup. Ketika membuka

13
kembali hendaknya digeser sangat perlahan-lahan untuk mencegah
masuknya udara secara mendadak, karena terjadinya kevakuman dalam
desikator. Masuknya udara secara mendadak dapat meniup endapan di
dalam krus. Karena adanya kevakuman tersebut seringkali tutup desikator
sulit untuk dibuka, untuk itu bibir desikator diberi pelumas tipis-tipis misalnya
vaselin.

14. Kaca Arloji dan Cawan Porselin

Gambar 16. Kaca Arloji dan Cawan Porselen

Alat ini digunakan untuk menimbang zat –zat kimia. Cawan poselin agak
berat, sehingga untuk zat-zat kimia yang beratnya kecil digunakan kaca
arloji. Kaca arloji dan cawan porselin digunakan juga untuk mengeringkan
larutan hingga kristal terbentuk. Sedangkan botol timbangan dilengkapi
dengan tutup digunakan untuk menimbang zat-zat yang higroskopis dan
dapat berubah beratnya selama penimbangan.

15. Neraca Analitik


Petunjuk Penggunaan Neraca Analitik :
1. Neraca harus diletakkan pada alas yang kokoh, bebas dari getaran mekanis
2. Bahan yang akan ditimbang suhunya harus sama dengan suhu neraca/suhu
kamar, jadi bahan yang panas harus didinginkan terlebih dahulu dalam
desikator
3. Tutup pintu timbangan saat menimbang
4. Jangan melebihi beban melebihi kapasitas neraca
5. Bahan-bahan kimia tidak boleh ditaruh langsung di atas piring logam. Jadi
harus menggunakan wadah yang sesuai, seperti beker gelas, kaca arloji,

14
dan sebagainya.. Cairan/ bahan yang mudah menguap atau higroskopis
harus ditimbang dalam wadah tertutup.
6. Benda yang ditimbang harus ditaruh di tengah-tengah piring

2.3 Reagen yang Digunakan


Reagen yang digunakan dapat berupa padat (bubuk, kristal) atau zat
cair. Pada umumnya mutu zat kimia dapat dibedakan dalam :
1. Teknis, zat kimia tersebut agak kasar dan masih mengandung sedikit
zat-zat kimia lain yang dianggap mencemari zat asli, digunakan untuk
percobaan yang tidak memerlukan ketelitian tinggi.
2. Purified, zat kimia ini agak lebih sempurna dari zat kimia teknis dan
dapat digunakan untuk beberapa jenis percobaan dan analisa
3. Extra pure, pro analysa (p.a), ACS, zat kimia tersebut sangat
sempurna dan digunakan untuk analisis yang memerlukan mketelitian
yang tinggi, misalnya analisis kualitas air.
Komposisi zat kimia tercantum di label pada botol penyimpanan zat
kimia, hanya bahan kimia teknis kadang kadang kurang diketahui perinciannya.
Pada label biasanya tercantum :
1. mutu
2. kadar zat-zat impurities
3. peringatan bahaya : korosif, asam, racun, mudah meledak, mudah
terbakar dan sebagainya
4. formula zat kimia yang lengkap (dengan atau tanpa air kristal)
5. berat molekul dan densitas
Larutan-larutan di laboratorium pada umumnya dapat dibedakan sebagai
berikut :
1. Larutan Standar primer : Larutan ini sangat teliti dan biasanya harus
dibeli dari pemasok khusus (Merck, Fluka dan sebagainya), dan
digunakan hanya untuk membuat larutan standar atau untuk
menstandardisasikan larutan-larutan yang dibuat di laboratorium.
2. Larutan standar : larutan ini adalah pengenceran dari larutan standar
primer atau larutan yang dibuat di laboratorium, dan telah

15
distandardisasikan dengan larutan stansdar primer, larutan standar
bersifat sangat teliti.
3. Larutan kerja : larutan kerja dibuat di laboratorium, kalau mungkin
distandardisasikan dengan standar primer.
3. TUGAS :

1. Uraikan 3 tingkat mutu zat kimia yang digunakan di laboratorium


2. Gambarkan dan jelaskan cara penggunaannya 5 buah alat dari alat-alat
yang telah dijelaskan di atas !

16
BAB III
ANALISIS KUALITATIF

1. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Mendefinisikan analisis kualitatif dengan :
- Reaksi kering
- Reaksi basah
1.2 Menjelaskan macam macam reaksi kering
1.3 Menjelaskan zona-zona yang terdapat pada nyala Bunsen
1.4 Menjelaskan uji pendahuluan terhadap larutan
1.5 Menguraikan klasifikasi kation (ion logam) ke dalam golongan-golongan
analitis
1.6 Menjelaskan pengujian untuk anion dalam larutan
2. URAIAN :
Analisis kualitatif, khususnya untuk analisis zat anorganik dapat
dilakukan untuk menentukan atau menganalisis kation dan anion. Dalam
analisis kualitatif dapat dilakukan dengan cara :
1. Reaksi Kering
Sejumlah uji yang berguna dapat dilakukan dalam keadaan kering, yakni
tanpa melarutkan sample. Reaksi kering tersebut berupa :
a. Pemanasan
Zat ditaruh di dalam tabung pengapian (tabung bola atau tabung reaksi
dipanaskan pada nyala Bunsen. Zat dipanaskan secara perlahan. Pada
pemanasan ini dapat terjadi sublimasi, pelelehan atau penguraian yang
disertai perubahan warna, atau dibebaskan suatu gas yang dapat dikenali
dari sifat-sifat khasnya.
b. Uji Pipa Tiup
Nyala Bunsen terang (lubang udara tertutup seluruhnya) kira-kira 5 cm
digunakan untuk uji ini. Zat yang diuji diletakkan pada rongga bongkahan arang
dan dipanaskan pada nyala Bunsen yaitu pada nyala mengoksid dan nyala
mereduksi.
17
c. Uji Nyala
Zat dipanaskan pada nyala Bunsen dan menghasilkan warna yang
spesifik. Berdasarkan gambar 17. Struktur nyala Bunsen tak terang, nyala
Bunsen tak terang terdiri dari tiga bagian :
1. Kerucut biru dalam, ADB yang sebagian besar terdiri dari gas yang
tak terbakar.
2. Ujung terang D( hanya tampak bila lubang udara sedikit ditutup)
3. Selubung luar, ACBD, di mana terjadi pembakaran yang sempurna.

Gambar 17. Struktur nyala Bunsen tak terang

1. Temperatur terendah berada pada dasar nyala (a), dimanfaatkan untuk


menguji zat-zat atsiri, untuk menetapkan apakah zat-zat tersebut ikut
memberi warna pada nyala.
2. Bagian terpanas nyala adalah pada zona pelelehan pada b, dan
terletak pada kira kira sepertiga dari tinggi nyala, di tengah-tengah
antara selubung luar dan selubung dalam. Daerah ini digunakan untuk
menguji kedapatlelehan zat, dan juga untuk melengkapi a. dalam
menguji keatsirian relatif dari zat-zat atau campuran zat.

18
3. Zona mengoksid bawah (c) terletak pada batas luar b dan dapat
digunakan untuk mengoksid zat-zat yang terlarut dalam manik boraks,
natrium karbonat atau garam mikroskosmik.
4. Zona mengoksid atas (d) terdiri dari ujung tak terang dari nyala, di sini
terdapat terdapat oksigen yang berlebih dan nyala tak sepanas pada c.
Daerah ini dapat digunakan untuk sebuah proses oksidasi yang tidak
memerlukan suhu tertinggi.
5. Zona mereduksi atas(e) merupakan ujung kerucut biru dalam, kaya
akan karbon yang dapat memijar, daerah ini digunakan untuk mereduksi
oksida kerak menjadi logam.
6. Zona mereduksi bawah (f) terletak pada pinggir selubung, di sebelah
kerucut biru, di sinilah gas-gas pereduksi bercampur dengan oksigen
dari udara. Kurang kuat untuk mereduksi dibandingkan dengan e. Zona
ini dapat digunakan untuk mereduksi boraks lelehan atau uji manik-
manik yang lain.
Uji nyala dilakukan dengan menggunakan kawat platinum kecil, jika tak
tersedia dapat digunakan kawat chromel (atau nichrome). Salah satu ujungnya
diberi pegangan. Mula-mula kawat ini dibersihkan dengan mencelupkannya ke
dalam HCl pekat yang ditaruh di atas kaca arloji, kemudian memanaskannya
pada zona pelelehan dari nyala Bunsen, kawat akan bersih apabila tidak mem
berikan warna pada nyala. Kawat dicelupkan dalam HCl pekat dalam kaca
arloji, lalu ke dalam sedikit zat yang dianalisis agar sedikit zat dapat menempel
pada kawat. Kemudian zat dimasukkan ke dalam zona pengoksid bawah. Amati
warna yang terjadi pada nyala. Zat-zat yang kurang atsiri dipanaskan pada
zona pelelehan, dengan menggunakan perbedaan keatsirian untuk
memisahkan suatu campuran.
d. Uji spektroskopi, Spektra nyala
Cara ini menggunakan peralatan spektroskop. Alat ini digunakan untuk
memisahkan cahaya menjadi warna-warna penyusunnya. Alat ini dapat
mengidentifikasi kation.
e. Uji Manik Boraks
Menggunakan kawat platinum yang ujungnya dibengkokkan menjadi
suatu lingkaran kecil. Lingkaran ini dipanaskan dalam nyala Bunsen sampai
membara dan dengan cepat dibenamkan ke dalam bubuk boraks Na 2B4O7.10
19
H2O. Boraks yang menempel ditaruh pada bagian terpanas, garam ini
membengkak ketika melepaskan air kristalnya dan kemudian menyusut
sebesar lingkaran kawat dengan membentuk manik mirip kaca, tembus cahaya
dan tak berwarna, yang terdiri dari campuran natriummetaborat dan anhidra
borat.
Na2B4O7 2 NaBO2 + B2O3
Manik itu dibasahi dan dibenamkan ke dalam zat yang dihaluskan, sehingga
sedikit zat yang menempel pada manik. Manik dan zat yang menempel mula-
mula dipanasi dalam nyala mereduksi bawah, dibiarkan dingin dan warnanya
diamati. Kemudian manik itu dipanasi dalam nyala mengoksid bawah,
dibiarkan dingin dan warnanya diamati.
f. Uji Manik Fosfat
Uji ini dilakukan serupa dengan uji manik boraks, hanya saja digunakan
garan mikroskosmik, natrium ammonium hydrogen fosfat tetrahidrat
Na(NH4)HPO4.4H2O.
g. Uji Manik Natrium Karbonat
Manik natrium karbonat digunakan dengan melelehkan sedikit natrium
karbonat pada lingkaran kawat natrium karbonat pada lingkaran kawat platinum
dalam nyala Bunsen, diperoleh pentulan putih tak tembus cahaya.
2. Reaksi Basah
Uji reaksi basah dilakukan pada zat-zat dalam larutan. Suatu reaksi
diketahui berlangsung :
a. dengan terbentuknya endapan
b. dengan pembebasan gas
c. dengan perubahan warna
2.1 Analisis Kation
Kebanyakan analisis kualitatif dilakukan dengan cara basah. Kation-
kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu
terhadap reagensia. Klasifikasi kation yang paling umum didasarkan atas
perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut.
Kelima golongan kation dan cirri-ciri khas golongan-golongan ini adalah
sebagai berikut :
Golongan I : Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida
encer yaitu timbel, merkurium (I), dan perak
20
Golongan II : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan dengan asan klorida ,
tetapi membentuk endapan dengan hydrogen sulfida dalam suasana asam
mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut,
kadmium, arsenik (II), arsenik (V), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan
timah (III)(IV).
Golongan III : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida encer,
atau hydrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Kation ini
membentuk endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral. Kation
kation tersebut adalah kobalt (II), nikel(II), besi (II), besi(III), aluminium, zink
dan mangan(II).
Golongan IV : Kation golongan ini memebentuk endapan dengan ammonium
karbonat dengan adanya ammonium klorida dalam suasana netral atau sedikit
asam. Kation-kation tersebut adalah kalsium, strontium, dan barium
Golongan V : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia
golongan sebelumnya. Kation-kation tersebut adalah magnesium, natrium,
kalium, ammonium, litium, dan hydrogen.
Setelah didapat golongannya maka kation-kation tersebut dianalisis
dengan melakukan reaksi spesifik dengan pereaksi-pereaksi yang dapat
menimbulkan sifat-sifat khas untuk menentukan kation yang dianalisis.

2.2 Analisis Anion


Anion-anion dapat diidentifikasi dengan cara :
Kelas A : proses yang melibatkan identifikasi produk-produk yang mudah
menguap, yang diperoleh pada pengolahan dengan asam-asam.
a.. Gas dilepaskan dengan asam klorida encer dan asam sulfat encer :
karbonat, bikarbonat, sulfit, tiosulfat, sulfida, nitrit, hipoklorit, sianida,
dan sianat.
b. Gas atau uap asam dilepaskan dengan asam sulfat pekat : meliputi zat zat
dari (a), fluorida, heksafluorisilikat, klorida, bromida, iodida, nitrat,
klorat (BAHAYA), perklorat, permanganat (BAHAYA), bromat, borat,
heksasianoferat (II), heksasianoferat(III), tiosianat, format, asetat,
oksalat, tartrat, dan sitrat.
Kelas B : Proses yang tergantung pada reaksi-reaksi dalam larutan
a. Reaksi Pengendapan
21
Sulfat, peroksodisulfat, fosfat, fosfit, hipofosfit, arsenat, arsenit, kromat,
dikromat, silikat, heksafluorosilikat, salisilat, benzoat, dan suksinat.
b. Oksidasi dan reduksi dalam larutan :
maganat, permanganat, kromat, dikromat.
Analisis selanjutnya adalah uji spesifik dengan pereaksi-pereaksi tertentu.

3.TUGAS :
Tuliskan reaksi – reaksi uji spesifik pada kation-kation dalam lima golongan
tersebut dan anion anion pada kelas A dan kelas B.

22
BAB IV
STOIKIOMETRI LARUTAN

1. TUJUAN KHUSUS
1.1 Menjelaskan karakteristik larutan
1.2 Menjelaskan apa yang dimaksud dengan :
- Larutan berair dari spesies molekul
- Larutan berair dari spesies ionic
1.3 Menentukan berat ekivalen pada suatu reaksi kimia
1.4 Menyelesaikan perhitungan stoikiometri dari larutan
1.5 Menyelesaikan perhitungan-perhitungan konsentrasi larutan

2. URAIAN
2.1 LARUTAN
Sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat disebut larutan.
Biasanya larutan dianggap sebagai cairan yang mengandung zat terlarut,
misalnya padatan atau gas. Komponen utama dari larutan biasanya disebut
pelarut (solven), dan komponen minornya dinamakan zat terlarut (solute).
Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang
molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Perubahan gaya
antarmolekul yang dialami oleh molekul dalam bergerak dari zat terlarut murni
atau pelarut ke keadaan tercampur mempengaruhi baik kemudahan
pembentukan maupun kestabilan larutan. Larutan dapat berada dalam
kesetimbangan fasa dengan gas, padatan, atau cairan lain.
Sewaktu pelarutan, tarikan di antara partikel dalam fasa asalnya (tarikan
pelarut-dengan-pelarut dan zat terlarut-dengan-zat terlarut) terpecah dan
tergantikan, sekurang-kurangnya sebagian, dengan tarikan baru pelarut-
dengan-zat terlarut. Tidak seperti senyawa, larutan memiliki komponen dalam
proporsi tertentu dan tidak dapat dinyatakan dengan rumus kimia. Persamaan
untuk reaksi pelarutan tidak melibatkan pelarut sebagai reaktan. Persamaan ini
23
menyatakan keadaan awal zat terlarut dalam tanda kurung di ruas kiri
persamaan dan pernyataan pelarut yang digunakan dalam tanda kurung di ruas
kanan. Misalnya, padatan (s) sukrosa dilarutkan dalam air menghasilkan larutan
berair (aqueous, aq) sukrosa
C12H22O11 (s) C12H22O11 (aq)
Meskipun zat terlarut dan pelarut dapat berupa kombinasi fasa padatan,
cairan, dan gas, akan tetapi air cair merupakan pelarut yang paling lazim dan
paling penting. Jadi, kita tekankan larutan berair dengan pengertian bahwa
pelarutan juga terjadi dengan pelarut lain.

a. Larutan Berair dari Spesies Molekul


Zat molecular yang memiliki molekul polar mudah dilarutkan dalam air.
Contohnya adalah gula, yang rumusnya C m(H2O)n. Contoh khasnya ialah
sukrosa C12H22O11 (gula pasir), fruktosa C6H12O6 (gula buah), dan ribose
C5H10O5, yaitu suatu sub-unit dalam biomolekul yang disebut asam ribonukleat.
Apapun rumus umumnya, gula tidak mengandung molekul air, tetapi mereka
memiliki gugus polar O-H (hidroksil) yang terikat pada atom karbon, yang
merupakan tapak untuk interaksi dwikutub-dwikutub dengan molekul air. Tarikan
ini menggantikan interaksi zat terlarut-zat terlarut, dan setiap molekul gula yang
berair (aquated) bergerak menuju larutan. Banyak zat molecular lainnya
mengikuti pola yang sama, asalkan molekul tersebut cukup polar. Zat nonpolar
seperti karbon tetraklorida, oktana, dan minyak serta malam(lilin) tidak larut
dalam air.
b. Larutan Berair dari Spesies Ionik (Elektrolit)
Kalium sulfat adalah padatan ionic yang larut dalam air menghasilkan
sampai 120g/L pada suhu 250C; yaitu massa maksimum yang dapat dilarutkan
dalam 1L pada 250C, yang disebutkan juga kelarutan dalam air. Persamaan
kimia untuk reaksi pelarutan ditulis sebagai berikut:
K2SO4 (s) 2 K+ (aq) + SO42- (aq)
Pelarutan spesies ionic, seperti diberikan pada gambar 6.3, terjadi melalui gaya
ion-dwikutub. Setiap ion negatif dalam dalam larutan dikelilingi oleh molekul air
yang mengarahkan ujung positif dari momen dwikutubnya ke arah ion negatif.
Setiap ion positif dikelilingi oleh molekul air dengan orientasi yang berbeda.

24
Setiap ion dilarutkan dalam air dan kulit solvasi dari molekul-molekul air
yang mengelilinginya merupakan kesatuan yang dipegangi oleh gaya ion-
dwikutub. Ion yang tersolvasi ini dapat bergerak sebagai kesatuan utuh bila
medan listrik diberikan padanya. Karena larutan hasilnya merupakan
penghantar listrik yang baik, K2SO4 disebut elektrolit kuat.
Kelarutan dalam air setiap senyawa berbeda-beda. Hanya sedikit
(0,0025g) padatan-padatan barium sulfat yang larut per liter air pada 25 0C
menurut reaksi :
BaSO4(s) Ba2+(aq) + SO42-(aq)

Sangat tidak larutnya barium sulfat ini menyatakan bahwa jika cukup
banyak ion barium berair yang dicampurkan dengan ion sulfat berair, yang akan
terjadi ialah reaksi kebalikannya, dan padatan barium sulfat yang akan muncul.
Tentu saja, tidak mungkin kita menyiapkan gelas piala yang hanya berisi ion
yang muatannya sejenis. Ion dengan muatan berlawanan harus ada untuk
mempertahankan kenetralan. Namun, dimungkinkan untuk menyiapkan gelas
piala yang mengandung senyawa barium terlarut dalam air (misalnya barium
klorida) dan gelas piala kedua yang berisi senyawa sulfat terlarut dalam air
(misalnya kalium sulfat). Pencampuran kedua larutan ini akhirnya menghasilkan
padatan barium sulfat melalui reaksi :
Ba2+(aq) + SO42-(aq) BaSO4(s)
Yang disebut reaksi pengendapan.
Reaksi pengendapan seperti ini kadang-kadang ditulis sebagai
BaCl2(aq) + K2SO4(aq) BaSO4(S) + 2 KCl(aq)
Yang menyiratkan terjadinya pertukaran ion : kedua anion bertukar tempat.
Namun demikian, hal ini tampak menyesatkan, sebab BaCl 2, K2SO4, dan KCl
semua terdisosiasi sempurna menjadi ion-ionnya dalam larutan berair. Akan
lebih cermat jika reaksi tersebut dituliskan
Ba2+(aq) + 2 Cl-(aq) + 2 K+(aq) + SO42-(aq) BaSO4(s) + 2K+(aq) + 2 Cl-(aq)
Ion kalium dan klorida muncul pada kedua ruas persamaan itu. Keduanya
adalah ion pengamat, yang menjamin kenetralan tetapi tidak langsung
mengambil bagian dalam reaksi kimia. Pengabaian ion pengamat itu dari
persamaan kimia yang balans menghasilkan persamaan ion bersih.
Ba2+(aq) + SO42-(aq) BaSO4(s)
25
Persamaan ion bersih hanya mencantumkan ion-ion (dan molekul) yang benar-
benar mengambil bagian dalam reaksi.
Dalam reaksi pelarutan dan pengendapan, ion-ion mempertahankan
identitasnya, dan terutama bilangan oksidasinya tidak berubah. Ion hanya
bertukar posisi yang dimilikinya dalam padatan (dikelilingi oleh ion lain) ke
posisi barunya dalam larutan (dikelilingi oleh molekul pelarut), atau mengalami
proses kebalikannya.

Contoh soal :
Suatu larutan berair natrium karbonat dicampur dengan larutan berair kalsium
klorida, dan endapan putih segera terbentuk. Tulislah persamaan ion bersih
yang menjelaskan pengendapan ini.
Penyelesaian
Larutan berair natriumkarbonat mengandung ion-ion Na +(aq) dan SO42-(aq) serta
larutan kalsium klorida mengandung ion-ion Ca 2+(aq) dan Cl-(aq). Pencampuran
kedua larutan menyebabkan ion serta Na +(aq) dan Cl-(aq) serta ion Ca2+(aq) dan
SO42-(aq) bersentuhan untuk pertama kali. Endapan terbentuk melalui reaksi
Ca2+(aq) + SO42-(aq) CaCO3(s)
Karena kombinasi ion lainnya menghasilkan natrium klorida, yaitu senyawa
yang diketahui larut dalam air.

2.2. STOIKIOMETRI REAKSI DALAM LARUTAN


Cabang ilmu kimia yang bertalian dengan hubungan berat antara unsur
dengan senyawa dalam reaksi-reaksi kimia disebut stoikiometri.Sebagian besar
reaksi kimia yang terjadi di permukaan bumi, baik dalam makhluk hidup
maupun zat anorganik, berlangsung dalam larutan berair.

a. Berat molekul

Mol adalah jumlah tertentu dari molekul, atom, elektron, dan partikel-
partikel tertentu lainnya. Menurut Komite Internasional untuk Berat dan Ukuran,
mol adalah jumlah suatu substansi yang mengandung sejumlah elemen yang
sama dengan jumlah atom pada 0,012 g. Karbon 12. Dalam system S.I., 1 mol
mengandung jumlah molekul yang berbeda dengan 1 mol dalam Sistem

26
American Engineering. Dalam Sistem S.I., 1 mol mengandung 6,023 x 10 23
molekul atau dinamakan dengan gram mol (g mol). Pada Sistem American
Engineering 1 pound mol (lb mol) mengandung 6,023 x 10 23 x 454 molekul.

Massa dalam g.
G mol = --------------------------
Berat molekul

Massa dalam lb
Lb mol = --------------------------
Berat molekul

Massa dlm g. = (BM) (g. mol)

Massa dlm lb. = (BM) (lb mol)

Begitu juga untuk kilogram mol (k mol), ton mol dan satuan-satuan lainnya.
Suatu senyawa tersusun lebih dari satu atom, dan berat molekul
senyawa merupakan jumlah dari berat atom yang menyusunnya. Seperti H 2O
yang terdiri dari 2 atom Hidrogen dan satu atom Oksigen mempunyai Berat
Molekul : (2)(1.008) + 16,000 = 18,02, dengan berat molekul ini, molekul H 2O
mempunyai jumlah molekul yang sama dengan jumlah atom karbon 12.
Sebagai contoh berat molekul H2 adalah 2,016 g/gmol, 2,016 lb/lbmol, 2,016
kg/kgmol, 2,016 ton/tonmol dan seterusnya.
b. Berat Ekivalen
Berat ekivalen suatu zat yang terlibat dalam suatu reaksi dan dipakai
sebagai dasar untuk titrasi didefinisikan sebagai berikut :

1. Untuk reaksi asam basa, berat ekivalen adalah berat dalam gram dari zat
yang diperlukan untuk menyediakan atau bereaksi dengan 1 mol H+
2. Untuk reaksi redoks, berat ekivalen adalah berat dalam gram dari zat yang
diperlukan untuk menyediakan atau bereaksi dengan 1 mol elektron.
3.Untuk reaksi pengendapan dan pembentukan kompleks, berat ekivalen
adalah berat dalam gram dari zat yang diperlukan untuk menyediakan atau
bereaksi dengan 1 mol kation univalent, ½ mol kation divalent, 1/3 mol kation
trivalent dan seterusnya.

27
Berat ekivalen suatu zat disebut ekivalen sama seperti berat molekul
disebut mol. Berat ekivalen dan berat molekul dihubungkan dengan
persamaan :

BE = BM/n
.n adalah jumlah mol hidrogen, elektron, atau kation univalent yang
disediakan atau dikombinasikan dengannya oleh zat pereaksi .

Reaksi berikut adalah reaksi yang digunakan secara komersial untuk


memproduksi bromine unsur dari garamnya dalam larutan:

2 Br-(aq) + Cl2(aq) 2 Cl-(aq) + Br2(aq)


Andaikan ada 50,0 mL larutan NaBr 0,0600 M. Berapa volume larutan Cl 2
0,0500 M diperlukan untuk bereaksi sempurna dengan Br - ?
0,0500 L x (0,0600 mol/L) = 3,00 x 10-3 mol Br-
Kemudian, gunakan factor konversi 1 mol Cl 2 per 2 mol Br- untuk mencari mol
Cl2.
1 mol Cl2
Cl2 yang bereaksi = 3,00 x 10-3 mol Br-
2 mol Br-

= 1,50 x 10-3 Cl2

Selanjutnya tentukan volume yang diperlukan untuk klorin berair :


1,50 x 10-3 mol = 3,00 x 10-2 L larutan
0,0500 mol/L

Reaksi ini memerlukan 3,00 x 10 -2 L, atau 30,0 mL larutan Cl 2. Dalam


praktiknya, diperlukan larutan Cl2 berlebih untuk menjamin kesempurnaan
konversi ion bromide menjadi bromine.
Berhubung setiap mol ion bromide yang bereaksi menghasilkan satu
mol ion klorida dalam produknya, jumlah Cl - yang dihasilkan adalah 3,00 x 10 -3
mol. Volume akhir larutan adalah 0,0800 L, sehingga konsentrasi akhir Cl -
adalah :

28
3,00 x 10-3 mol
[ Cl-] = = 0,0375 M
0,0800 L

Bila kalium dikromat ditambahkan pada asam hidroksida pekat, ia bereaksi


menurut persamaan

K2Cr2O7(s) + 14 HCl(aq) 2K+(aq) + 2Cr3+(aq)+ 8 Cl-(aq) + 7 H2O(l0 + 3 Cl2(g)


Menghasilkan larutan campuran kromium (III) klorida dan kalium klorida serta
gelembung gas klorin. Andaikan 6,20 g K2Cr2O7 bereaksi dengan HCl pekat dan
volume akhir larutannya 100 mL, hitunglah konsentrasi akhir Cr 3+(aq) dan jumlah
bahan kimia klorin yang dihasilkan.
Penyelesaian:
Langkah pertama ialah mengkonversi massa K2Cr2O7 ke jumlah bahan kimia
6,20 g K2Cr2O7 mol
= 0,0211 mol K2Cr2O7
249,19 g mol-1

Persamaan kimia yang balans menyatakan bahwa 1 mol K 2Cr2O7bereaksi


menghasilkan 2 mol Cr3+ dan 3 mol Cl-. Penggunaan kedua factor konversi
kimia itu menghasilkan
2 mol Cr3+
Mol Cr3+ = 0,0211 mol K2Cr2O7
1 mol K2Cr2O7

= 0,0422 mol Cr3+

3 mol Cr3+

Mol Cl2 = 0,0211 mol K2Cr2O7


1 mol K2Cr2O7

= 0,0633 mol Cl2

Karena volume akhir larutan adalah 0,100 L, maka konsentrasi Cr 3+(aq) adalah
0,0422 mol
3+
[ Cr ] = = 0,422 M
0,100 L

29
2.3 SISTEM KONSENTRASI
a. Molaritas
Molaritas didefinisikan sebagai jumlah mol solut per liter larutan, atau :
M = n/V
Dengan ketentuan :
M = molaritas
n = jumlah mol solut
V = volume larutan dalam liter
Untuk :
n = g/BM
di mana :
n = jumlah mol solut
g = gram solut
BM = berat molekul solut, maka :

M = g
BM x V
Atau :
g = M x V x BM

Pada reaksi antara titran T dengan analit A dengan persamaan


sebagaiberikut :
tT + aA produk
maka persamaan untuk reaksi ini adalah :
t x mol A = a x mol T
b. Normalitas

Normalitas didefinisikan sebagai jumlah ekivalen solut per liter larutan


atau :

N = ek/V
N = normalitas
Ek =jumlah ekivalen
V = volum dalam liter

Ek = g/BE

30
G = gram solut
BE = berat ekivalen

G
N =
BE x V
Hubungan antara normalitas dengan molaritas adalah :
N = nM
Dengan ketentuan n adalah jumlah mol hidrogen, elektron atau kation univalen
yang disediakan atau dikombinasikan dengannya oleh zat yang bereaksi.

Pada reaksi antara titran T dengan analit A dengan persamaan sebagai


berikut :
tT + aA produk
maka persamaan untuk reaksi ini adalah :
mek A = mek T
g/BE = V x N
c. Formalitas
Formalitas didefinisikan sebagai jumlah solut per liter larutan
F = nf / V
Dengan ketentuan :
F = formaitas
nf = jumlah berat rumus
V = volume larutan dalam liter
Bila :
g = gram solut
BR = berat rumus
Maka : g
F =
BR x V

e. % w/w
persen berat/berat = gram zat terlarut
100 gram larutan

f.% w/v
31
persen berat/volume = gram zat terlarut
100 ml larutan

g. % v/v
persen volume/volume = ml zat terlarut
100 ml larutan

h. ppm ( part per million)


didefinisikan sebagai 1 mg solut dalam 1 liter larutan

3. TUGAS-TUGAS :
3.1 Jelaskan istilah-istilah berikut :
a. berat rumus
b. berat ekivalen
c. larutan standar
d. standardisasi
e. standar primer
f. aliquot
3.2 Bila diolah dengan dengan asam, timbale(IV) oksida tereduksi menjadi
garam timbal(II) dengan membebaskan oksigen :
2 PbO2(s) + 4HNO3(aq) → 2 Pb(NO3)2(aq)+ 2H2O(l) + O2(g)
Berapa volume larutan asam nitrat 7,91 M secukupnya untuk bereaksi
dengan 15,9 g timbal(IV) oksida berdasarkan persamaan tersebut?

3.2 Tulislah persamaan yang balans untuk reaksi asam-basa yang


menghasilkan garam berikut ini. Namai asam, basa, dan garamnya.
a. CaF2 b. Zn(NO3)2
c. Rb2SO4 d. KCH3COO
e. Na2SO3 f. PbSO4
g. Ca(C6H5COO)2 h. CuCl2

3.3 Karbondioksida yang dihasilkan (bersama dengan hydrogen) dari oksidasi


skala industri metana dengan bantuan nikel dipindahkan dari campuran gas
scrubber yang mengandung larutan kalium karbonat berair :
CO2(g) + H2O(l) + K2CO3(aq) → 2 KHCO3(aq)

32
Hitunglah volume karbondioksida (pada suhu 50 0C dan tekanan 1,00 atm)
yang akan bereaksi dengan 187L larutan kalium karbonat 1,36 M.

3.4 Hidrogen sulfide dapat dibuang dari gas alam lewat reaksi dengan natrium
hidroksida berlebih. Namai garam yang diproduksi dari reaksi ini.(catatan :
Hidrogen sulfide kehilangan kedua atom hidrogennya dalam reaksi
tersebut)

33
BAB V
ANALISIS TITRIMETRI

1. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Mendefinisikan analisis titrimetri
1.2 Menjelaskan perbedaan titik ekivalen dengan titik akhir
1.3 Menjelaskan reaksi-reaksi yang terjadi pada titrimetri
1.4 Menjelaskan syarat-syarat standar primer
1.5 Mendefinisikan berbagai system konsentrasi
1.6 Menyelesaikan perhitungan penentuan zat pada titrimetri baik titrasi
langsung maupun titrasi tak langsung.

2. URAIAN :

Titrimetri merupakan salah satu metoda dari analisis kimia yang


perhitungannya berdasarkan hubungan stoikiometri sederhana dari reaksi-
reaksi kimia. Suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya dinamakan
larutan standar atau larutan baku. Titrasi adalah suatu proses di mana
larutan standar tersebut ditambahkan secara perlahan-lahan dari sebuah buret
pada suatu larutan analit sampai terjadi reaksi yang sempurna dari kedua
larutan tersebut. Volume yang dibutuhkan sampai reaksi berjalan sempurna
didapatkan dari perbedaan antara volume awal dan volume akhir pada buret.
Saat di mana jumlah titran ekivalen secara kimia dengan jumlah analit
dinamakan titik ekivalen. Contohnya titik ekivalen pada titrasi NaCl dengan
AgNO3 akan terjadi setelah 1 mol NaCl bereaksi dengan 1 mol AgNO 3. Begitu
pula pada titrasi H2SO4 dengan NaOH, maka titik ekivalen akan tercapai setelah
2 mol basa bereaksi dengan 1 mol asam.

2.1 Reaksi reaksi dalam Titrasi


a. Asam-basa
Jika HA merupakan asam yang ditentukan dan BOH basanya, reaksinya
adalah :
HA + OH- A- + H2O

34
Dan
BOH + H3O+ B+ + 2 H2O
Titran biasanya merupakan larutan standar elektrolit kuat, seperti natrium
hidroksida dan asam klorida.
b. Oksidasi – reduksi (redoks)
Reaksi reaksi kimia yang menyangkut oksidasi reduksi secara luas
digunakan dalam analisis titrimetri. Misalnya, besi dalam keadaan oksidasi +2
dapat dititrasi dengan suatu larutan standar serium(IV) sulfat.
Fe2+ + Ce4+ Fe3+ + Ce3+
Pengoksidasi lain yang secara luas digunakan sebagai suatu titran adalah
kalium permanganat (KMnO4). Reaksinya dengan besi (II) dalam larutan
asam adalah :
5 Fe2+ + MnO4- + 8 H+ 5 Fe3+ + Mn2+ + 4H2O
c. Pengendapan
Pengendapan anion perak dengan anion halogen merupakan prosedur
titrimetri yang digunakan secara luas. Reaksinya adalah :
Ag+ + X- AgX(s)
Dengan X mungkin ion klorida, bromida, iodida atau tiosianat.
d. Pembentukan Kompleks
Sebuah contoh reaksi yang menghasilkan kompleks stabil adalah antara
ion-ion perak dan sianida :
Ag+ + 2CN- AgCN2-
Reaksi ini merupakan dasar dari cara liebig untuk menentukan sianida.
Pereaksi organic tertentu seperti EDTA membentuk kompleks stabil dengan
sejumlah ion metal dan digunakan secara luas untuk menentukan logam-
logam secara titrimetri.
2.2 Titik Ekivalen dan titik Akhir
Titik akivalen dari suatu titrasi adalah titik teoritis yang tidak dapat
ditentukan secara eksperimen. Akan tetapi hal tersebut dapat diperkirakan
dengan mengamati perubahan fisik pada kondisi ekivalen. Perubahan ini
dinamakan dengan titik akhir titrasi. Tentunya sangat diharapkan bahwa titik
akhir titrasi berimpit atau sama dengan titik ekivalen.
Metode umum yang digunakan adalah menggunakan zat tambahan yang
dinamakan indikator, yang akan menghasilkan perubahan fisik pada larutan
35
pada saat atau mendekati titik ekivalen. Perubahan ini disebabkan adanya
perubahan besar konsentrasi relatif dari analit ataupun titran yang terjadi pada
daerah titik ekivalen.
Perubahan indicator meliputi perubahan warna, hilangnya warna, dan
timbulnya atau hilangnya kekeruhan (endapan).
2.3 Larutan Standar
Larutan standar dibuat dengan suatu proses yang dinamakan
standarisasi. Larutan standar dibagi dalam dua tingkatan :
1. Larutan standar primer
2. Larutan standar sekunder
Syarat-syarat standar primer adalah :
1. Sangat murni
2. Stabil pada udara terbuka
3. Bebas uap air
4. Mudah larut dalam air
5. Mempunyai berat ekivalen yang tinggi
Dalam praktek standar primer yang ideal sukar diperoleh, dan biasanya
diperlukan kompromi antara syarat-syarat di atas. Standar primer secara luas
digunakan untuk larutan basa ialah kalium hidro ftalat, KHC 8H4O4 disingkat
KHP, asam sulfamat(HSO3NH2) dan kalium hydrogen iodat (KH(IO 3)2. Natrium
karbonat (Na2CO3) dan tris (hidroksimetil) aminometan (CH 2OH)3CNH2)
dikenal dengan TRIS atau THAM merupakan standar primer yang umum untuk
asam kuat.
Banyak standar primer yang digunakan untuk reaksi redoks, antara lain
natrium oksalat (Na2C2O4), kalium oksalat (K2C2O4), Cu dan Fe.
Untuk titrasi pengendapan danpembentukan kompleks garam-garam
murni biasanya digunakan sebagai standar primer. Natrium atau kalium klorida
dapat digunakan untuk standardisasi larutan perak nitrat. Kalsium klorida
(CaCO3) digunakan sebagai standar primer untuk larutan-larutan dari pereaksi
kompleks asam etilen diamin tetra asetat (EDTA).
2.4 Persyaratan Reaksi dalam Analisis Titrimetri
Dari reaksi kimia yang sangat banyak dan terkenal, hanya sedikit yang
dapat digunakan sebagai dasar titrasi. Suatu reaksi harus memenuhi
persyaratan tertentu sebelum digunakan :
36
2. Reaksi harus berlangsung sempurna, sesuai persamaan kimia yang
jelas, tidak ada reaksi samping.
3. Reaksi berjalan cepat dan reversibel
4. Ada petunjuk akhir titrasi (indikator)
2.5 Alikot
Kadang kadang seorang analis menimbang suatu sample yang banyak
dari standar primer atau suatu zat lain, dan melarutkannya dalam sebuah
labu volumetric, kemudian mengambil sebagian dari larutan tersebut
dengan pipet ukur/volume. Bagian yang diambil dengan pipet tersebut
disebut dengan suatu alikot, yang biasanya adalah suatu pecahan yang
sederhana. Proses pengenceran ke volume yang diketahui ini dan
pengambilan satu porsi untuk titrasi disebut pengambilan suatu alikot.
2.6 Titrasi Balik
Dalam analisis titrimetri dikenal istilah titrasi balik, titrasi kembali atau
titrasi tak langsung. Seringkali seorang analis melewati titik akhir dengan
menambahkan terlalu banyak titran dengan volume yang diketahui, dan
kemudian melakukan titrasi kembali dengan larutan kedua. Akan tetapi
normalitas dan volume larutan kedua harus diketahui.
Titrasi balik biasanya dilakukan apabila tidak adanya indikator yang
sesuai apabila titrasi dilakukan secara langsung. Adapun persamaan yang
digunakan adalah :
Mol zat yang berlebih = mol analit + mol titran
Mek zat yang berlebih = mek analit + mek titran

3. CONTOH SOAL :

3.1 Tentukan berat ekivalen (BE) Na2C 2O4 sebagai pereduksi dan K2Cr2O7
sebagai pengoksidasinya, dalam reaksi berikut :
3C2O42- + Cr2O72- + 14H+ 2Cr3+ + 6CO2 + 7H2O
Ion oksalat menyediakan dua electron dan ion dikromat memperoleh
enem electron. Maka berat ekivalennya adalah :
Na2C2O4 = BM/2 = 134/2 = 67,00 g/ek
K2Cr2O7 = BM/6 = 294,2/6 = 49,03 g/ek
3.2 Hitung jumlah mol dan jumlah gram KMnO 4 (BM = 158,0) dalam larutan
0,250 M sebanyak 3,00 liter.
37
M = n/V
N=MxV
= 0,250 mol/liter x 3,00 liter
= 0,750 mol
g = n x BM
= 0,750 mol x 158,0 g/mol
= 119 gram
3.3 Suatu sample natrium karbonat murni Na 2CO3 dengan bobot 0,3542 g,
dilarutkan dalam air dan dititrasi dengan suatu larutan asam klorida. Diperlukan
larutan sebanyak 30,23 ml untuk mencapai titik akhir jingga metil, dengan
reaksi:
Na2CO3 + 2HCl 2NaCl + H2O + CO2
Hitunglah normalitas asam tersebut :
Mek HCl = mek Na2CO3
BE Na2CO3 = BM/2 = 106,0/2 = 53,00 mg/mek
VHCl x NHCl = mg Na2CO3/BE Na2CO3
354,2
30,23 x NHCl =
106,0/2
=0,2211mek/ml
3.4 Dalam metode Kjedahl untuk nitrogen, unsur itu diubah menjadi NH 3, yang
kemudian disuling ke dalam asam standar yang volumenya diketahui , Asam itu
lebih dari cukup untuk menetralkan NH 3, dan kelebihannya dititrasi dengan
basa standar.
Amonia yang berasal dari sample pupuk dengan berat 1,325 g, disuling
ke dalam 50 ml H2SO4 0,2030 N, dan diperlukan 25,32 ml NaOH 0,1980
N untuk titrasi balik. Hitunglah persentase nitrogen (N) dalam sample.
BE N = 14,007 karena 1 N = 1 NH3 = 1 OH-, jadi :
Mek NH3 + mek NaOH = mek H2SO4
Mek NH3 + 25,32 x 0,1980 = 50,00 x 0,2030
Mek NH3 = mek N = 50,00 x 0,2030 – 25,32 x 0,1980
Mek NH3 = 5,137

5,137 mek x 14,007 mg/mek


38
%N= x 100
1325 mg

% N = 5,4

4. TUGAS :

4.1 Apakah perbedaan antara titik akhir dengan titik ekivalen


4.2 Tuliskan syarat-syarat standar primer
4.3 Diketahui persamaan-persamaan berikut ini belum seimbang :
NaOH + H3PO4 Na2HPO4 + H2O
Cr2O72- + Fe2+ + H+ Cr3+ + Fe3+ + H2O
Ag+ + Br- AgBr(s)
Ca(OH)2 + HCl CaCl2 + H2O
Hitung berat ekivalen dari : NaOH, H 3PO4, K2Cr2O7, FeSO4, AgNO3, KBr,
Ca(OH)2, HCl.
4.4 Hitung molaritas larutan berikut :
a. 4,00 g NaOH dalam 0,500 liter
b. 3,20 g KMnO4 dalam 0,800 liter
4.5 Sebuah larutan NaOH telah distandardisasikan menggunakan kalium
hydrogen ftalat (KHP) sebagai standar primer. Sebuah sample KHP
seberat 0,8426 g memerlukan 42,14 ml NaOH untuk titrasi. Hitung
normalitas larutan NaOH.
4.6 Sebuah sample seberat 0,6234 g yang mengandung ion klorida dititrasi
dengan 34,68 ml 0,1156 N larutan AgNO3 .
a. Hitung % Cl- dalam sample
b. Apabila semua klorida sebagai NaCl, hitung % NaCl dalam sampel
4.7 Amonia dari sebuah contoh pupuk seberat 1,235 g disuling ke dalam
50,00 ml 0,1980 H2SO4 dan 24,62 ml 0,1944 N NaOH diperlukan untuk
titrasi kembali. Hitung % nitrogen dalam contoh.

BAB VI

39
KESETIMBANGAN ASAM BASA

1. TUJUAN KHUSUS
1.1 Mendefinisikan asam dan basa dalam system Bronsted-Lowry dan Lewis.
1.2 Mendefinisikan fungsi pH
1.3 Menyatukan hubungan antara tetapan ionisasi untuk asam dan untuk basa
konyugatnya.

2. URAIAN
Dalam air murni terdapat sedikit ion hydrogen (H +) dan ion hidroksida
(OH-) yang jumlahnya sama. Hal tersebut timbul dari hasil ionisasi parsial dari
air.
H2O(l) H+(aq) + OH-(aq)

Asam Biner Asam Oksa Asam Organik


HF, asam florida H2CO3, asam karbonat HCOOH, asam format
HCl, asam klorida H3PO4, asam fosfat CH3COOH, asam asetat
HCN, asam sianida HNO2, asam nitrit C6H5COOH,asam benzoat
H2S, asam sulfide HNO3, asam nitrat HOOC-COOH, asam oksalat
H2SO3, asam sulfit
H2SO4, asam sulfat
HClO, asam hipoklorit
HClO2, asam klorit
HClO3, asam klorat
HClO4, asam perklorat
______________________________________________________________

Asam merupakan zat yang bila dilarutkan dalam air akan menambah jumlah ion
hydrogen yang sudah ada dalam air murni. Gas hydrogen klorida bereaksi
dengan air menghasilkan asam klorida:
HCl(g) → H+(aq) + Cl-(aq)

40
Basa didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan akan menambah jumlah ion
hidroksida yang sudah ada dalam air murni. Natrium hidroksida banyak larut
dalam air berdasarkan persamaan
NaOH(s) → Na+(aq) + OH-(aq)
Dan merupakan basa kuat. Amonia adalah basa lainnya, sebagaimana
ditunjukkan oleh produk reaksinya dengan air :
NH3(aq) + H2O(l) → NH4+(l) + OH-(aq)
Bila larutan asam dicampur dengan larutan basa, terjadilah reaksi netralisasi :
H+(aq) + OH-(aq) ↔ H2O(l)
Ini merupakan kebalikan kebalikan dari reaksi ionisasi air yang telah
diperlihatkan sebelumnya. Jika ion pengamat dimasukkan kembali ke dalam
persamaan, misalnya
HCl + NaOH → H2O + NaCl
Asam basa air garam
Menunjukkan bahwa garam dapat didefinisikan sebagai produk (selain air) dari
reaksi asam dan basa.

2.1 ASAM DAN BASA BRONSTED-LOWRY


Suatu asam Bronsted-Lowry didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat
memberikan ion hydrogen , dan sebuah basa basa Bronsted-Lowry adalah
suatu zat yang dapat menerima ion hydrogen. Dalam reaksi asam-basa
Bronsted-Lowry, ion hydrogen dipindahkan dari asam ke basa. Sebagai contoh,
bila asam asetat dilarutkan ke dalam air :
CH3COOH(aq) + H2O(l) → H3O+(aq) + CH3COO-(aq)
Asam1 Basa2 Asam2 Basa1
Ion hydrogen dipindahkan dari asam asetat ke air. Asam dan basa terdapat
sebagai pasangan asam basa konyugat. CH 3COOH & CH3COO- adalah salah
satu contohnya, dimana CH3COO- adalah basa konyugat dari CH3COOH,
demikian juga CH3COOH adalah asam konyugat dari CH3COO-. Dengan cara
yang sama, H3O+ dan H2O juga membentuk pasangan asam basa konyugat.
Kesetimbangan yang tercapai dapat dipandang sebagai persaingan antara dua
basa untuk mendapatkan ion hydrogen. Sebagai contoh, bila ammonia
dilarutkan dalam air
H2O(l) + NH3(aq) → NH4+(aq) + OH-(aq)
41
Kedua basa NH3 dan OH- bersaing memperebutkan ion-ion hydrogen
Beberapa molekul dan ion dapat berfungsi baik sebagai asam maupun
sebagai basa tergantung dari kondisi reaksi sehingga disebut amfoter. Contoh
yang paling umum adalah air. Air berfungsi sebagai asam dengan memberikan
ion hydrogen kepada NH3(basa konyugat disini adalah OH -) dan sebagai basa
dengan menerima ion hydrogen dari CH 3COOH (asam konyugat di sini adalah
H3O+). Dengan cara yang sama ion hydrogen karbonat dapat berfungsi sebagai
asam :
HCO3-(aq) + H2O(l) → H3O+(aq) + CO2-(aq)

atau sebagai basa:

HCO3-(aq) + H2O(l) → H2CO3(aq) + OH-(aq)

2.2 ASAM DAN BASA LEWIS


Struktur model Lewis dapat digunakan untuk menggambarkan perilaku
yang lebih umum dari asam-basa dimana definisi Arrhenius dan Bronsted-
Lowry merupakan kasus istimewa. Sebuah basa Lewis merupakan jenis basa
yang menyumbangkan sepasang electron tersebut. Asam dan basa Arrhenius
sejauh ini dianggap memenuhi gambaran tersebut (dengan asam Lewis, yaitu
H+, berfungsi sebagai akseptor terhadap berbagai macam basa Lewis seperti
NH3 dan OH-, yaitu donor pasangan electron ). Reaksi lain yang tidak
melibatkan ion hydrogen masih dapat dianggap sebagai reaksi asam basa
Lewis. Salah satu contohnya adalah reaksi antara molekul yang kekurangan
electron, BF3, dengan molekul yang kaya electron, NH3:

F H F H
I I I I
F ── B + N ── H → F ── B ── N ──H
I I I I
F H F H

42
Di sini ammonia, sebagai basa Lewis, menyumbangkan pasangan electron
bebas kepada BF3, yaitu asam Lewis atau akseptor electron. Ikatan yang
terbentuk merupakan ikatan kovalen koordinat, dimana kedua elektron di
dalamnya diberikan pada basa Lewis oleh pasangan elektron.
Senyawa kekurangan oktet yang melibatkan unsur golongan III seperti
boron dan aluminium sering merupakan asam Lewis yang kuat, karena atom
golongan III dapat mencapai konfigurasi octet dengan membentuk ikatan
kovalen koordinat. Atom dan ion dari golongan V sampai golongan VII
mempunyai pasangan electron bebas yang diperlukan untuk berfungsi sebagai
basa Lewis. Senyawa unsure-unsur golongan pertama dari periode terakhir
juga dapat berfungsi sebagai basa Lewis melalui kenaikan valensi. Dalam
reaksi tersebut, atom pusat menerima pembagian pasangan electron tambahan
di samping kedelapan electron yang di perlukan untuk memenuhi aturan octet.
Sebagai contoh, SnCI4 adalah asam Lewis yang menerima pasangan electron
bebas dari ion klorida:

SnCl4(l) + 2 Cl(aq) → [SnCl6]2-(aq)


Cl Cl Cl
:Cl : Sn : Cl: + 2 :Cl: → Cl : Sn : Cl
Cl Cl Cl

Setelah reaksi,setiap atom timah dikelilingi oleh 12 elektron valensi dan bukan
8.
Definisi lewis mensitematiskan kimia berbagai macam oksida biner, yang
dapat dianggap sebagai anhidrida asam atau basa. Suatu anhidrida asam
didapatkan dengan mengambil air dari suatu asam okso sampai hanya
tertinggal oksidanya; dengan demikian, CO2 merupakan anhidrida asam
karbonat (H2CO3).

Contoh soal :
Apakah anhidrida asam dari asam fosfat (H 3PO4) ?
Penyelesaian :

43
Jika rumus molekul H3PO4 (yang memiliki jumlah atom hydrogen yang ganjil)
digandakan, didapatkan H6P2O8. Iterasi sebesar 3 H2O dari rumus ini
menghasilkan P2O5 yang merupakan rumus empiric tetrafosfor dekaoksida
(P4O10). Senyewa ini merupakan anhidrida asam dari asam fosfat.
Oksida dari kebanyakan unsure nonlogam adalah ahnidrida asam, yang
bereaksi dengan kelebihan air untuk membentuk larutan asam. Meskipun asam
okso dan hidroksida adalah asam atau basa arhenius (melepaskan H +(aq) atau
OH-(aq) ke dalam larutan air), ahhidrida asam dan basa tidak termasuk di dalam
klasifikasi ini; mereka sama-sama tidak mengandung H + aataupun OH-. Namun
demikian anhidrida asam masih merupakan asam Lewis (ion O 2- menyumbang
pasangan electron). Reaksi yang terjadi antara anhidrida asam dan anhidrida
basa dengan demikian merupakan reaksi asam-basa Lewis. Sebuah contoh
dari reaksi itu adalah :
CaO(s) + CO2(g) → CaCO3(s)
Di sini basa Lewis memberikan sepasang electron ( satu dari pasangn elektron
bebas atom oksigen ) kepada asam Lewis (CO 2) untuk membentuk ikatan
kovalen koordinat didalam ion CO2-3. Reaksi asam-basa Lewis yang sama
dapat ditulis untuk pasangan anhidrida asam-basa yang lain. Sebagai contoh,
belerang trioksida beraksi dengan oksidan logam membentuk sulfat:
MgO(s) + SO3(g) → MgSO4(s)
Perhatikan bahwa reaksi diatas bukan merupakan reaksi redoks (bilangan
oksidasinya tidak berubah). Mereka bukan pula reaksi pelarutan atau
pengendapan, bukan pula asam-basa Arrhenius. Namun demikian, mereka
dapat dikelompokkan sebagai reaksi asam-basa menurut Lewis.

2.3 PERBANDINGAN ANTARA DEFINISI ARRHENIUS, BRONSTED-LOWRY,


DAN LEWIS

Reaksi netralisasi antara HCl dan NaoH:


HCl + NaoH → H2O + NaCl
asam basa air garam

seperti yang sudah diperkenalkan menunjukkan tahapan umum dari definisi ini.
Menurut definisi Arrhenius, HCl adalah asam dan NaOH adalah basa. Menurut
definisi Bronsted Lowry, H3O+ adalah asam dan OH- adalah basa. Menurut
44
Lewis, H+ adsalah asam dan OH- adalah basa, karena proton menerima
sepasang electron bebas yang diberikan oleh OH -dalam reaksi:
H+ (aq) + OH-(aq) → H2O(ℓ)

2.4 SIFAT ASAM DAN SIFAT BASA DALAM LARUTAN AIR : SKEMA
BRONSTED LOWRY

Momen dwikutubnya yang cukub besar, air sangat efektif sebagai pelarut ,
yang mampu menstabilkan zat terlarut polar dan ionic. Air ikut serta dalam
reaksi asam-basa, baik sebagai reaktan maupun sebagai pelarut. Reaksi-reaksi
biokimia yang diperlukan demi kelangsungan hidup organism e terjadi dalam air
dan melibatkan asam, basa, serta senyawa ionik. Untuk melihat betapa
pentingnya reaksi ini, keseluruhan sisanya akan difokuskan untuk membahas
perilaku asm-basa reaksi ionik terkaitnya di dalam larutan air, dimana definisi
asam dan basa Bronsted-Lowry.

2.5 AUTOIONISASI AIR


Apakah yang terjadi apabila air bertindak baik sebagai asam maupun sebagai
basa dalam reaksi yang sama ? Persamaan kesetimbangan yang di hasilkan
adalah
H2O(ℓ) + H2O(ℓ) ↔ H3O+(aq) OH-(aq)

Atau,
2 H2O(l) ↔ H3O+(aq) + OH-(aq)

Reaksi ini bertanggung jawab atas terjadinya autonisasi air yang walaupun kecil
masih terukur. Persamaan kesetimbangan yang dihasilkan adalah

[H3O+] [OH-] = Kw

Kw adalah tetapan hasilkali ion untuk air, yaitu 1 x 10 -14 pada suhu 250C. Karena
konsentrasi pelarut , dalam hal ini air, tidak berubah secara signifikan dalam
suatu larutan encer, ia tidak diikutkan pada persamaan kesetimbangan. Air
murni mengandung ion H3O+ dan OH-, dan oleh Karen anetralitas listrik total,

45
maka banyaknya setiap jenis ion harus sama. Dengan menggunakan
persamaan kesetimbangan akan dihasilkan
[H3O+] = [OH-] = y
Y2 = 1.,0 x 10-14
Y = 1,0 x 10-7
Sehingga di dalam air murni 25 0C konsentrasi H3O dan OH- keduanya adalah
1,0 x 10-7 M.

2.6 ASAM DAN BASA KUAT


Larutan asam dalam air mengandung ion H 3O+ yang lebih besar daripada ion
OH-. Asam kuat adalah asam yang seluruhnya terionisasi di dalam larutan air.
Bila asam kuat HCl (asam klorida) dilarutkan dalam air, reaksi yang terjadi
adalah
HCl(aq) + H2O(ℓ) → H3O+(aq) + Cl-(aq)

Panah tunggal, dan bukan panah ganda, digunakan di sini untuk menunjukkan
bahwa reaksi berlangsung sempurna. Asam kuat lainnya adalah asam perklorat
(HClO4). Jika 0,1 mol dari masing-masing asam ini dilarutkan bersama-sama
dalam air yang cukup banyak untuk menghasilkan 1 L larutan, dihasilkan H 3O+
(aq) dengan konsentrasi 0,1 M. Sifat larutan asam-basa ditentukan oleh
konsentrasi H3O+(aq)-nya, sehingga kedua asam kuat tersebut mempunyai
kekuatan yang sama dalam air walaupun kemampuannya untuk
menyumbangkan ion hydrogen berbeda. Air dikatakan mempunyai efek
perataan pada golongan asam tertentu (HCl, HBr, HI, H 2SO4, HNO3, dan HCl4)
sehingga semuanya bersifat asam kuat bila air merupakan pelarutnya; reaksi
asam-asam tersebut dengan air sejauh ini semuanya bergerak ke kanan pada
kesetimbangan, sehingga perbedaan antara asam-asam tersebut sangat kecil.
Konsentrasi H3O+ dalam setiap larutan asam kuat 0,1 M yang menyumbangkan
satu ion hydrogen permolekul pasti 0,1 M; konsentrasi OH - adalah
Kw 1,0 x 10-14
-
[OH ] = = = 1,0 x 10-13 M
[H3O+] 0,10

Basa kuat didefinisikan dengan cara yang sama, yaitu sebagai basa yang
bereaksi sempurna menghasilkan ion OH-(aq) bila dilarutkan dalam air. Ion amida

46
(NH2-) dan ion hidrida (H -) keduanya merupakan asam kuat. Untuk setiap mol
per liter masing-masing ion tersebut yang ditambahkan dalam air dihasilkan 1
mol per liter OH-(aq). Produk lainnya masing-masing adalah NH3 dan H2:

H2O( ) + NH-2(aq) → NH3(aq) + OH-(aq)

H2O( ) + H-(aq) → H2(aq) + OH-(aq)

Basa penting natrium hidroksida, yang berbentuk padat, akan meningkatkan


konsentrasi OH- dalam air bila dilarutkan:
NaOH(s) → Na+(aq) + OH-(aq)
Untuk setiap mol NaOH yang larut dalam air, 1 mol ion OH -(aq) terbentuk,
sehingga NaOH merupakan basa kuat. Basa kuat diratakan dalam larutan air
dengan cara yang sama separti asam kuat diratakan. Jika 0,1 mol NaOH atau
NH-2 atau H- dilarutkan dalam sejumlah air yang cukup membuat 1L larutan,
maka dalam setiap kasus:
[OH-] = 0.10 M

1,0 x 10-14
[H3O+] = = 1,0 x 10-13
0,10

Konstribusi OH- dari autoionisasi air dalam hal ini sangat kecil, seperti
konstribusi H3O+ dari sumber tersebut dalam kasus larutan HCl atau HClO 4
0,1M. Tentu saja, jika jumlah asam atau basa kuat yang ditambahkan kedalam
air murni sangat kecil (sebagai contoh, 10 -7 mol L-1), autoionisasi air harus
diperhitungkan.

2.7 FUNGSI pH
Dalam larutan air, konsentrasi dari ion hidronium berkisar dari 10 M sampai 10 -
15
M. Interval ini sebaiknya diperkecil dengan menggunakan skala logaritma
keasaman yang disebut sebagai pH dan didefinisikan oleh:
pH = -log10[H3O+]

47
Air murni pada suhu 250C mempunyai [H3O+] = 1 x 10-7 M, sehingga

pH = -log10 (1,0 x 10-7) = -(-7,00) = 7,00


Larutan 0,1 M HCl mempunyai [H3O+]nn= 0,1 M, sehingga
pH = - log10 (0,10) = - log10(1,0 x 10-1) = -(-1,00) = 1,00
dan pada suhu 250C larutan NaOH 0,1 M mempunyai

1,0 x 10-14
pH = - log10 = - log10 (1,0 x 10-13)
0,10

= - (-13,00) = 13,00

Seperti ditunjukan contoh-contoh berikut, perhitungan pH akan mudah


khususnya bila konsentrasi H3O+ merupakan pangkat dari bilangan 10, karena
logaritmanya adalah bilangan pangkat dari 10 tersebut. Jika tidak, diperlukan
kalkulator. Jika pH diketahui, konsentrasi H 3O+ dapat dihitung dengan
meletakkan pangkat (- pH) pada angka 10.
Konsentrasi H3O+ umumnya kurang dari 1 M, sehingga fungsi pH
ditentukan dengan tanda negative untuk menghasilkan sebuah bilangan yang
bertanda positif. Nilai pH tinggi menandakan konsentrasi H3O+ yang rendah
begitu pula sebaliknya. Pada suhu 250C,
pH < 7 Larutan asam
pH = 7 Larutan netral
pH > 7 Larutan basa
Pada suhu lain, pH air berbeda dari 7. Perubahan satu satuan pH menandakan
terjadinya perubahan sebesar 10 (yaitu, satu orde besaran) dalam konsentrasi
H3O+ dan OH-. pH diukur secara langsung dengan menggunakan pH meter.

Contoh soal :
a. Sebuah larutan disiapkan dengan melarutkan 0,23 mol NaH (s) dalam
sejumlah air yang cukup untuk membentuk 2,8 L larutan. Hitung pH nya.
b. pH jus jeruk pada suhu 250 C adalah 2,85. Hitung [H3O+] dan [OH-]

Penyelesaian

48
a. Karena ion H- adalah basa kuat, dia bereaksi untukmemberikan 0,23 mol OH -
NaH(s) + H2O(l) Na+(aq) + OH- (aq) + H2(g)
Konsentrasinya adalah :
0,23 mol
[OH-] = = 8,2 x 10-2 M
2,8 L

1,0 x 10-14
+
[H3O ] = = 1,22 x 10-13 M
8,2 x 10-2

Maka pHnya adalah :


pH = - log10 (1,22 x 10-13) = 12,91

b. pH = 2,85 = - log10[H3O+]
[H3O+] = 10-2,85
Ini dapat dievaluasi dengan menggunakan kalkulator untuk memberikan :
[H3O+] = 1,4 x 10-3 M

1,0 x 10-14
-
[OH ] = = 7,1 x 10-12
1,4 x 10-3
3. SOAL-SOAL
1. Yang manakah di antara asam berikut ini yang dapat bertindak sebagai asam
Bronsted-Lowry? Berikan rumus basa konyugat Bronsted-Lowry untuk masing-
masing di antara mereka
a. Cl- d. NH3
b. HSO4-(aq) e. H2O
c. NH4+

2. Yang manakah di antara asam berikut ini yang dapat bertindak sebagai asam
Bronsted-Lowry? Berikan rumus basa konyugat Bronsted-Lowry untuk masing-
masing di antara mereka
a. F- d. OH-
b. SO42- e. H2O
c. O2-

49
3. Tentukan apakah masing-masing oksida berikut bertindak sebagai anhidrida
asam atau anhidrida basa. Tulis rumus kimia dan berikan nama asam atau
basa yang terbentuk bila direaksikan dengan air.
a. MgO c. SO3
b. Cl2O d. Cs2O

4. Tulis rumus kimia dan berikan nama anhidrida yang sesuai untuk masing-
masing asam atau basa berikut dan tentukan apakah merupakan anhidrida
asam atau anhidrida basa
a. H3AsO4 c. RbOH
b. H2MoO4 d. H2SO3

5. Konsentrasi H3O+ dalam contoh anggur adalah 2,0 x 10 -4 M. Hitung pH


anggur

6. Konsentrasi OH- dalam larutan pemutih alat-alat rumah tangga adalah 3,6 x
10-2 M. Hitung pH pemutih.

7. Darah manusia normal mempunyai pH 7,35 sampai 7,45. Hitung rentang


konsentrasi H3O+ dan interval konsentrasi OH- dalam darah normal

8. Morfin adalah basa lemah dengan Kb 8 x 10-7 . Hitung pH larutan yang


dibuat dengan melarutkan 0,04 mol morfin dalam air 600 mL.

9. Pada 250C pH larutan natrium sianida adalah 11,5 (K a NaCN 4,93 x 10-10)
Hitung konsentrasi CN- dalam larutan ini .

10. Sebanyak 75 ml larutan HClO 4 0,046 M direaksikan dengan 150 mL KOH (aq)
0,023 M. Apakah pH campuran yang dihasilkan lebih besar, lebih kecil atau
sama dengan 7 ?

50
BAB VII
TITRASI ASAM BASA

1. TUJUAN KHUSUS
1.1 Menghitung pH pada titrasi asam basa dengan volume titran yang diketahui
1.2 Membuat grafik volume titran terhadap pH
1.3 Menjelaskan cara kerja larutan dapar
1.4 Menjelaskan titrasi karbonat bikarbonat
1.5 Menjelaskan titrasi asam poliprotik
1.6 Menguraikan penerapam dari titrasi asam basa

2. URAIAN
Titrasi asam-basa sering juga disebut dengan asidimetri alkalimetri atau
titrasi penetralan. Titrasi ini didasarkan pada reaksi asam basa :
1. asam kuat – basa kuat
2. asam kuat – basa lemah
3. asam lemah – basa kuat
4. asam kuat – garam dari asam lemah
5. basa kuat – garam dari basa lemah
2.1 Titrasi Asam Kuat – Basa Kuat
Asam kuat dan basa kuat terdisosiasi sempurna dalam air pada titik
ekivalen, pH yang dihasilkan sekitar 7.
Contoh perhitungan untuk membuat grafik titrasi :
50 ml HCl 0,1 M dititrasi dengan 0,1 M NaOH. Hitung pH pada permulaan titrasi
dan setelah penambahan 10, 50, dan 60 ml titran.
a. pH mula-mula HCl yang terdisosiasisempurna :
[H3O+] = 0,1
pH = 1
b. pH setelah penambahan 10 ml basa :
H3O+ = 50 ml x 0,1 mmol/ml = 5 mmol
OH- = 10 ml x 0,1 mmol/ml = 1 mmol
Bila reaksi berjalan lengkap maka terdapat H 3O+ berlebih sebanyak 5
mmol-1 mmol = 4 mmol dalam 60 ml larutan :
51
[H3O+] = 4 mmol/60 ml = 6,67 x 10-2 mmol/ml
pH = - log (6,67 x 10-2) = 1,18
c. pH pada titik ekivalen :
[H3O+] = [OH-] = 1 x 10-7
pH = 7,00
d. pH setelah penambahan 60 ml basa :
OH- = 60 ml x 0,1 mmol/ml = 6 mmol
OH- berlebih = 6 mmol- 5 mmol = 1 mmol dalam 110 ml larutan
[OH-] = 1 mmol/110 ml = 9,1 x 10-3 mmol/ml
pOH = - log 9,1 x 10-3 = 2,04
pH = 14 – 2,04 = 11,96

Dari perhitungan di atas maka dapoat dibuat grafik antara volume larutan
dengan pH :

2.2 Titrasi Asam Lemah – Basa Kuat


Contoh perhitungan untuk membuat grafik pH vs volume titran :
50 ml 0,1 M larutan sebuah basa lemah HB, dengan Ka = 1 x 10 -5 dititrasi
dengan 0,1 M NaOH. Hitung pH pada permulaan titrasi dan setelah
penambahan 10, 50, 60 ml titran.
a. pH pada permulaan titrasi
Karena HB terdisosiasi secara lemah, dan menghasilkan satu B - dan satu H3O+
pada disosiasi :
HB + H2O H3O+ + B-
Asumsi :
[H3O+]  [B-]
[HB] = 0,1 - [H3O+]  0,1
substitusikan ke dalam :
[H3O+][B-]
Ka =
[HB]

maka :

52
[H3O+]2
Ka = = 1 x 10-5
0,1

[H3O+]2 = 1 x 10-6

[H3O+] = 1 x 10-3
pH = 3,00

b. pH setelah penambahan 10 ml basa


mmol HB- = 50 ml x 0,1 M = 5
mmol OH- = 10 ml x 0,1 M = 1
asumsi reaksi berlangsung lengkap :
HB sisa = 5 mmol - 1 mmol = 4 mmol
B- yang dihasilkan = 1 mmol
[HB] = 4 mmol/60 ml - [H3O+]  4/60
[B-] = 1 mmol/60 ml + [H3O+]  1/60

substitusi ke dalam persamaan Ka :

[H3O+] (1/60)
= 1,0 x 10-5
4/60

[H3O+] = 4 x 10-5
pH = 5 - log 4,0 = 4,40

c. pH pada titik ekivalen


Volume NaOH yang ditambahkan = 50 ml
Mmol NaOH = 50 ml x 0,1 M = 5 mmol
Mmol B- yang terbentuk = 5 mmol
Volume total = 50 ml + 50 ml = 100 ml

[B-] + H2O HB + OH-


asumsi :
[HB]  [OH-]
disubstitusikan ke dlam persamaan untuk Kb :
[HB] [OH-]

53
= Kb = 1,0 x 10-9
[B-]

[OH-]2
= 1,0 x 10-9
0,05

[OH-] = 7,1 x 10-6

pOH = 5,15 pH = 8,85

d. pH setelah penambahan 60 ml basa

Volume total = 60 ml + 50 ml = 110 ml


OH-sisa = (60 ml - 50 ml) x 0,1 M
= 1 mmol
[OH-] sisa = 1 mmol/110 ml = 9,1 x 10-3
pOH = 2,04
pH = 11,96

2.3 INDIKATOR ASAM BASA (INDIKATOR pH)


Definisi untuk indikator asam basa adalah zat yang dapat berubah warna
apabila pH lingkungannya berubah.
Hal ini disebabkan :
1. Indikator asam-basa ialah asam organic lemah dan basa organic lemah,
jadi dalam larutan mengalami kesetimbangan pengionan.
2. Molekul-molekul indikator tersebut mempunyai warna yang berbeda
dengan ion-ionnya.
3. Letak trayek pH pada pH tinggi atau rendah, atau di tengah tergantung
dari besar kecilnya Ka atau Kb dari indikator yang bersangkutan.

P – nitrofenol merupakan indikator asam lemah dengan disosiasi sebagai


berikut :

54
Indikator fenolftalein merupakan asam dwiprotik dan tak berwarna. Mula-
mula zat ini berdisosiasi menjadi suatu bentuk tak berwarna dan kemudian
dengan kehilangan proton kedua, menjadi ion dengan system konyugasi,
timbullah warna merah.

55
Jingga metil, suatu indikator lain yang banyak digunakan adalah suatu basa
dan berwarna kuning dalam bentuk molekulnya. Penambahan ion hydrogen
akan menghasilkan kation yang berwarna merah muda.

Tabel 1. Indikator Asam-Basa

Indikator Perubahan Warna dgn Jangkauan pH


Meningkatnya pH

Asam pikrat Tak berwarna ke kuning 0,1 - 0,8


Biru Timol Merah ke kuning 1,2 - 2,8
2,6 Dinitrofenol Tak berwarna ke kuning 2,0 - 4,0
Kuning Metil Merah ke kuning 2,9 - 4,0
Biru Bromftimol Kuning ke biru 3,0 - 4,6
Jingga Metil Merah ke kuning 3,1 - 4,4
Hijau Bromkresol Kuning ke biru 3,8 - 5,4
Merah Metil Merah ke kuning 4,2 - 6,2
Lakmus Merah ke biru 5,0 - 8,0
Ungu Metil Ungu ke hijau 4,8 - 5,4
p- Nitrofenol Tak berwarna ke kuning 5,6 - 7,6
Ungu bromkresol Kuning ke ungu 5,2 - 6,8
Biru Bromtimol Kuning ke biru 6,0 - 7,6
Merah netral Merah ke kuning 6,8 - 8,0
Merah fenol Kuning ke merah 6,8 - 8,4
p-  Naftoftalein Kuning ke merah 7,0 - 9,0
Fenolftalein Tak berwarna ke merah 8,0 - 9,6
Timolftalein Tak berwarna ke biru 9,3 - 10,6
Kuning Ralizarin Kuning ke lembayung 10,1 - 12,0
1,3,5- Trinitrobenzen Tak berwarna ke jingga 12,0 - 14,0

pH Larutan pada Titik Ekivalen

1. Larutan garam (dalam titrasi asam oleh basa dan sebaliknya)


a. Asam kuat dan basa kuat, larutan garamnya mempunyai pH 7 sehingga
indikator yang dipakai berkisar 7
b. Asam kuat dan basa lemah, larutan garamnya mempunyai pH < 7,
sehingga indikator yang dipakai mempunyai trayek pH di bawah 7

56
c. Asam lemah dan basa kuat, larutan garamnya mempunyai pH yang
tinggi. Indikator yang cocok mempunyai trayek pH > 7
2. Larutan Asam Lemah dan Garam
Yaitu dalam titrasi garam asam lemah oleh asam kuat sehingga pH
larutan rendah. Indikatornya mempunyai trayek di bawah 7
3. Larutan Basa Lemah dan Garam
Yaitu dalam titrasi garam basa lemah oleh basa kuat, maka pH larutan tinggi
sehingga indikator yang digunakan mempunyai trayek pH di atas 7.

2.4 Larutan Dapar


Dalam praktek analisis kualitatif maupun kuantitatif, kadang kadang kita
diharuskan untuk menjaga konsentrasi ion hydrogen (ion hidronium) atau
dengan kata lain menjaga pH tersebut agar tidak berubah selama jalannya
analisis.
Jika ldiperlukan pH larutan sebesar 0 – 2 maka kita cukup
menambahkan asam kuat sedangkan kalau pH yang akan kita pertahankan
sebesar 12-14 kita dapat menambahkan basa kuat secukupnya ke dalam
larutan tersebut. Tetapi untuk pH yang harus kita pertahankan sebesar 2 – 12
kita harus menambahkan larutan buffer (larutan dapar),bukan dengan
penambahan basa kuat atau asam kuat.
Biasanya larutan dapar berupa asam lemah dan garamnya atau basa
lemah dan garamnya. Untuk dapar berupa asam lemah dan garamnya. Untuk
dapar berupa asam lemah dan garamnya kita misalkan dengan CH 3COOH dan
CH3COONa.
Seperti garam garam yang lain, CH3COONa berdisosiasi hampir
sempurna di dalam air :
CH3COONa CH3COO- + Na+
Sedangkan disosiasi asam asetat :
CH3COOH + H2O CH3COO- + H3O+
Hampir dapat diabaikan, karena selain asam asetat sendiri merupakan asam
lemah, juga hal ini disebabkan karena adanya ion-ion asetat (CH 3COO-) dalam
jumlah yang banyak yang berasal dari disosiasi CH 3COONa, yang akan
menggeser kesetimbangan ke arah pembentukan CH 3COOH yang tak
terdisosiasi (ke arah kiri). Larutan ini akan mempunyai pH tertentu yang
57
bertahan baik sekali walaupun ditambah dengan asam atau basa dalam jumlah
yang sangat banyak.
Jika suatu asam kita tambahkan, ion hidrogennya akan bergabung
dengan ion asetat :
CH3COO- + H3O+ CH3COOH + H2O
Maka konsentrasi ion hidronium di dalam larutan tidak akan berubah, yang
terjadi adalah berkurangnya ion asetat dalam larutan membentuk CH 3COOH
yang terdisosiasi.
Sedangkan jika suatu basa kita tambahkan, maka ion hidroksil (OH -) dari
larutan tersebut akan bereaksi dengan asam asetat :
CH3COOH + OH- CH3COO- + H2O
Sehingga konsentrasi ion hidroksil tak akan berubah, yang terjadi hanya jumlah
ion asetat akan bertambah, sementara sementara jumlah asam asetat
berkurang. Jadi larutan tersebut menunjukkan ketahanan tertentu baik terhadap
asam maupun terhadap basa.
2.5 Titrasi Karbonat
Campuran karbonat dan hidroksida atau karbonat dan bikarbonat, dapat
ditentukan dengan titrasi yang menggunakan indikator fenolftalein dan metil
orange. Reaksi yang terjadi bila ion karbonat dititrasi dengan suatu asam kuat :
CO32- + H3O+ HCO3- + H2O

HCO3- + H3O+ H2CO3 + H2O


Fenolftalein dengan jangkauan pH 8,0 - 9,6 merupakan indikator yang cocok
untuk titik akhir pertama, sedangkan metil orange dengan jangkauan pH 3,1 -
4,4 cocok untuk titik akhir kedua. Sehingga untuk grafik dari titrasi karbonat
terdapat dua patahan :

58
Gambar 18. Kurva Titrasi Na2CO3 dengan HCl
Pada table berikut dijelaskan hubungan antara volume asam yang
digunakan sampai kedua titik akhir untuk komponen tunggal maupun
campuran.
NaOH secara lengkap bereaksi dalam tahap pertama, NaHCO 3 hanya
bereaksi dalam tahap kedua dan Na 2CO3 bereaksi dalam kedua tahap dengan
menggunakan volume titran yang sama dalam kedua tahap. Campuran NaOH
dan NaHCO3 tidak diperhatikan karena kedua senyawa ini bereaksi :
HCO3- + OH- CO32- + H2O

Gambar 19. Kurva pH dengan HCl pada Titrasi Karbonat Bikarbonat

59
Tabel 2. Hubungan Volume pada Titrasi Karbonat

Hubungan untuk Milimol


Zat Identifikasi kualitatif Zat yang ada

M x V1
NaOH
V2 = 0
M x V1
Na2CO3
V1 = V2
M x V2
NaHCO3
V1 = 0
NaOH : M (V1 – V2)
NaOH + Na2CO3
V1 > V2
Na2CO3 : M x V2
V1 < V2 NaHCO3 : M(V2 - V1)
NaHCO3 + Na2CO3
Na2CO3 : M x V1

2.6 Titrasi Asam Poliprotik


Sebuah asam yang hanya memberikan satu proton disebut asam
monoprotik. Asam karbonat, H2CO3 yang memberikan dua ion hydrogen
disebut asam diprotik; H3PO4 merupakan asam tripotik. Secara umum asam
yang memberikan dua proton atau lebih disebut asam poliprotik. Asam
fosfat dan beberapa asam amino merupakan asam poliprotik yang penting.

Gambar 20. Kurva Titrasi Asam Fosfat

Pada gambar A adalah awal titrasi, B, merupakan setengah jalan menuju


titik ekivalen pertama; C, titik ekivalen pertama; D, setengah jalam ke titik

60
ekivalen ke dua; E titik ekivalen kedua; F, setengah jalan menuju titik ekivalen
ketiga; G, titik ekivalen ketiga

2.7 Penerapan Titrasi Asam Basa


Penerapan yang paling banyak dilakukan adalah penentuan zat-zat
anorganik, organic, dan biologis, bersifat asam atau basa yang dilakukan
secara langsung. Secara tak langsung, didahului oleh reaksi pengubahan zat
yang akan dianalisa menjadi asam atau basa, kemudian dititrasi dengan asam
atau basa.

2.7.1 Penentuan Unsur


1. Penentuan Nitrogen secara Kjedahl
Cara ini digunakan untuk penentuan kadar protein, dan sudah
merupakan cara baku untuk biji-bijian, daging dan bahan biologis lain. Adapun
metoda yang digunakan pada cara ini adalah sebagai berikut :
a. Tahap Digestion (pencernaan), bahan dioksidasi dengan asam sulfat
pekat panas, di sini nitrogen diubah menjadi ion ammonium.
Protein + oksidator NH4+ + CO2 + H2O + dll
b. Penambahan basa kuat
NH4+ + OH- H2O + NH3
c. Destilasi, proses ini membebaskan gas amoniak serta memindahkannya ke
dalam destilat.
d. Hasil destilasi ditampung dalam HCl baku yang tertentu jumlahnya
untukmengikat NH3.
NH3 + HCl berlebih NH4Cl
e. Destilat dititrasi dengan NaOH baku untuk menentukan kelebihan asam HCl.
HCl sisa + NaOH NaCl + H2O

2. Penentuan Sulfur
Unsur ini dapat ditentukan dalam senyawa zat organic dengan
mereaksikan oksigen dengan bahan sehingga terjadi pembakaran, dengan
mengubah sulfur menjdi SO2 dan SO3. Hasil reaksi yang berbentuk gas ini
dialirkan ke persenyawaan yang encer H 2O2 sehingga terjadi oksidasi antara
SO2 dan SO3. Kemudian asam sulfat itu dititrasi dengan basa :
61
H2SO4 + 2 OH- SO42- + 2 H2O
3. Boron
Unsur ini dapat ditentukan dalam senyawa organic dengan
pembakaran di dal;am suatu bom nikel untuk mengubah boron menjadi asam
borat. Asam borat terlalu lemah untuk dititrasi, tetapi penambahan manitol
membentuk asam kuat yang dapat dititrasi dengan NaOH dalam air.

2.7.2 Analisis Bahan Anorganik


1. Garam amonium
Bahan didestilasi seperti dalam analisis Kjedahl setelah
penambahan basa kuat berlebih; destilat lalu ditampung dan dititrasi seperti
dalam analisis Kjedahl.
2. Nitrat dan nitrit
Penentuan bahan-bahan ini didahului dengan reduksinya menjadi
ammonium lalu penambahan basa kuat berlebih dan destilasi, dan seterusnya
titrasi seperti cara Kjedahl. Untuk mereduksi dipakai logam campuran Devarda
(50% Cu, 45% Al, 5% Zn) atau dapat juga dipakai campuran Arnd (60% Cu,
40% Mg)
2.7.3 Analisis Bahan Organik
1. Gugus Asam Karboksilat
2. Gugus amina
3. Gugus ester
4. Gugus hidroksil
5. Gugus Karbonil

2.7.4 Penentuan Garam


Kandungan garam total suatu larutan dapat ditentukan dengan
melewatkan larutan tersebut pada tabung penukar ion, sehingga garamnya
diubah menjadi asam-atau basa sesuai dengan penukar ionnya. Jumlah asam
atau basa ekivalen dengan garam dan jumlahnya ditentukan dengan titrasi .
3. CONTOH SOAL
Sebuah sample kalium hidro ftalat yang tidak murni sebesar 2,1283 g
memerlukan 42,58 ml larutan basa dari 0,1084 N untuk titrasinya sampai
titik akhir fenolftalein. Hitung persentase KHP (BE 204,2) di dalam sample.
62
Mek titran = mek analit
V x N = g/BE
.g KHP = 42,58 ml x 0,1084 mek/ml x 204,2 mg/mek
= 942,52 mg
% KHP = 942,52/2128,3 x 100
= 44,29
Sebuah sample seberat 0,7550 g yang mungkin mengandung NaOH, Na 2CO3,
NaHCO3, atau campuran NaOH + Na 2CO3 atau Na2CO3 + NaHCO3
dititrasi dengan 0,1102 M HCl dengan menggunakan dua indikator. Pada
titik akhir pertama (pp) diperlukan 41,55 ml HCl, kemudian pada titik akhir
kedua(m.o) diperlukan 13,22 ml HCl.
a. Apakah sample tersebut ?
b. Hitung % masing-masing.
Jawab :
a. Karena V1 > V2, maka sample adalah campuran NaOH + NaHCO3
b. Volume yang digunakan untuk Na 2CO3 pada titrasi kedua adalah
12,83 ml. Volume yang sama digunakan untuk titrasi pertama untuk
Na2CO3. Maka volume titran yang digunakan untuk NaOH adalah :
40,38 – 12,83 = 27,55 ml
12,83 x 0,1062 x 106
% Na2CO3 = x 100 = 23,17
623,4
27,55 x 0,1062 x 40,00
% NaHCO3 = x 100 = 18,77
623,4
4. TUGAS
4.1 Apakah yang dimaksud dengan titrasi asam-basa
4.2 Apakah yang dimaksud dengan larutan dapar
4.3 Jelaskan dengan reaksinya bagaimanakah cara kerja larutan HNO 2 +
NaNO2 untuk mempertahankan pH apabila dimasukkan asam dan basa
4.4 Tuliskan beberapa penerapan dari titrasi asam basa

4.5 40,00 ml 0,1100 M HCl diencerkan sampai 100 ml dengan air dan dititrasi
dengan 0,1 M NaOH. Hitung pH setelah penambahan volume (ml) titran
berikut : a. 0,00 b. 10,00 c. 22,00 d. 40,00 e. 43,95 f. 44,00 g. 44,05 h.
50,00. Gambarkan kurva titrasi , pilihlah indikator yang sesuai
63
4.6 40,00 ml 0,0900 M NaOH diencerkan sampai 100 ml dan dititrasi dengan
0,1000 M HCl. Hitung pH setelah penambahan volume titran (ml) berikut :
a. 0,00 b. 10,00 c. 18,00 d. 30,00 e. 35,95 f. 36,00 g. 36,05 h.
40.00. Gambarkan kurva titrasi dan pilihlan indikator yang sesuai.

4.7 Sebuah sample seberat 0,9205 g campuran karbonat memerlukan 18,73


ml 0,1124 M HCl untuk titrasi sampai titik akhir pertama (pp) dan 34,67 ml HCl
untuk titik akhir kedua (mo). Tentukan sample tersebut dan hitung persen
masing-masing.

4.8 Dalam penentuan nitrogen menurut Kjedahl unsurnya diubah menjadi NH 3,


yang kemudian disuling ke dalam asam standar berlebih dan terukur. Kelebihan
asam dititrasi kembali dengan basa standar. Amonia dari sebuah contoh pupuk
seberat 1,510 g disuling ke dalam 50,00 ml 0,1992 N H 2SO4, dan kelebihannya
dititrasi dengan 27,54 ml NaOH 0,2055 N. Hitung % Nitrogen (N) dalam sample

BAB VIII
64
REAKSI REDOKS

1. TUJUAN KHUSUS
1.1 Menentukan bilangan oksidasi atom-atom dalam senyawa
1.2 Membalanskan persamaan untuk reaksi-reaksi redoks dalam larutan air,
dengan menggunakan metode setengah reaksi

2. URAIAN
2.1 Bilangan Oksidasi
Istilah ionik dan kovalen digunakan sampai sekarang seolah-olah
mereka menyatakan perpindahan sempurna satu atau beberapa electron dari
satu atom ke atom lain, atau pemakaian bersama pasangan electron di antara
atom-atom dalam molekul. Pada kenyataannya, kedua jenis ikatan tersebut
merupakan idealisasi dan jarang terjadi. Kita dapat dengan mudah menentukan
muatan fiktif yang sederhana pada atom dalam suatu molekul dan
menyebutnya bilangan oksidasi, asalkan hokum kekekalan muatan tetap
diperhatikan. Bilangan oksidasi dipilih sedemikian rupa, sehingga bilangan
oksidasi tepat sama dengan muatan ion. Berikut ini ketentuan dalam penentuan
bilangan oksidasi:
1. Jumlah bilangan oksidasi atom dalam molekul netral adalah nol, dan
bilangan oksidasi ion sama dengan muatan ion
2. Atom logam alkali mempunyai bilangan oksidasi +1, atom alkali tanah +2
dalam senyawanya
3. Fluorin selalu mempunyai bilangan oksidasi -1 dalam senyawanya. Halogen
lain memiliki bilangan oksidasi -1 dalam senyawanya, terkecuali halogen-
halogen tersebut disertai oksigen bersama-sama dengan halogen lain, maka
halogen dapat mempunyai bilangan oksidasi positif.
4. Hidrogen ditentukan mempunyai bilangan oksidasi +1 dalam senyawanya,
kecuali dalam hidrida logam seperti LiH; di sini ketentuan nomor 2 didahulukan
sehingga hydrogen mempunyai bilangan oksidasi -1
5. Oksigen ditentukan mempunyai bilangan okidasi -2 dalam senyawanya. Ada
dua perkecualian : dalam senyawa dengan fluorin, ketentuan nomor 3
didahulukan, dan dalam senyawa yang mengandung ikatan O-O, perjanjian
65
nomor 2 dan 4 didahulukan. Jadi bilangan oksidasi oksigen dalam OF 2 ialah +2;
dalam peroksida (seperti H2O2 dan Na2O2) adalah -1. Dalam superoksida
(seperti KO2 ), bilangan oksidasi oksigen ialah -1/2

Ketentuan nomor 1 bersifat fundamental karena ia menjamin kekekalan


muatan: jumlah total electron harus tetap selama reaksi kimia. Aturan ini juga
membuat bilangan oksidasi atom dari unsure-unsur netral semua nol.
Ketentuan 2 sampai 5 didasarkan pada asas bahwa dalam senyawa ionik
bilangan oksidasi harus sama dengan muatan ion itu. Ingat bahwa bilangann
oksidasi pecahan, meskipun tidak lazim, dibolehkan dan dalam kenyataannya
diperlukan supaya konsisten dengan perangkat ketentuan ini.
Dengan bekal ketentuan ini, kita dapat mnenentukan bilangan oksidasi
atom-atom dalam begitu banyak senyawa. Terapkan perjanjian 2 sampai 5 di
atas, dengan memperhatikan pengecualian yang ada, kemudian tentukan
bilangan oksidasi pada unsure lain sedemikian rupa sehingga ketentuan nomor
1 dipatuhi. Perhatikan bahwa ketentuan 1 tidak berlaku hanya pada ion bebas
tetapi juga pada komponen yang menyusun padatan ion itu. Klorin memiliki
bilangan oksidasi -1 tidak hanya sebagai ion C1-bebas saja melainkan dalam
pasatan ion AgC1 dan dalam senyawa kovalen CH 3C1. Kita perlu mengenali
spesiek ionik yang lazim (terutama ion molecular) dan mengetahui muatan total
yang dibawanya. Tabel 3.1 memuat nama dan rumus sejumlah anion yang
lazim. Pengamatan pada tabel tersebut menunjukkan bahwa beberapa unsur
menunjukkan bahwa beberapa unsur menunjukkan berbagai bilangan oksidasi
dalam senyawa. Dalam Ag2S, sulfur muncul sebagai ion sulfide dan mempunyai
bilangan oksidasi -2, tetapi dalam Ag 2SO4, sulfur muncul sebagai bagian dari
ion sulfat (SO4-2). Dalam hal ini,
(bilangan oksidasi S) + [4 x (bilangan oksidasi O)] = muatan total ion
X + [4(-2)] = -2
Bilangan oksidasi S = x =+6
Satu cara yang paling mudah untuk menyatakan bilangan oksidasi atom
ialah dengan menuliskannya di atas lambing atom yang bersangkutan dalam
rumus senyawanya:

+1 -2 +1-1 0 +6-2

66
N2O LiH O2 SO42-
Contoh Soal :
Tentukan bilangan oksidasi atom dalam senyawa dan ion kimia berikut ini :
NaCl, ClO-, Fe2(SO4)3, SO2, I2, KMnO4, CaH2.
Penyelesaian :
+1 -1
NaCl Dari ketentuan 2 dan 3.
+1 -2
CIO – Dari ketentuan 1 dan 5.
+3+6-2
Fe2(SO4)3 Dari ketentuan 1 dan 5. Ini dipecahkan dengan mengenali
keberadaan gugus sulfat (SO42-) .
+4-2
SO4 Dari ketentuan 1 dan 5.
0
I2 Dari ketentuan 1. I2 adalah unsur.
+1+7-2
KMnO4 Dari ketentuan 1, 2, dan 5.
+2-1
CaH2 Dari ketentuan 1 dan 2 (kasus hidrida logam).

2.2 Reaksi Oksidasi Reduksi


Dalam reaksi reduksi oksidasi, electron berpindah antar spesies-spesies
yang bereaksi sewaktu mereka berkombinasi membentuk produk. Pertukaran
ini sebagai perubahan bilangan oksidasi reaktan : bilangan oksidasi spesies
yang memberikan electron meningkat, sedangkan spesies yang menerima
electron menurun. Suatu prototype reaksi redoks ialah magnesium dengan
oksigen. Bila reaksi ini dilaksanakan dengan sempurna, produknya ialah
magnesium oksida:
2 Mg(s) + O2(s) → 2 MgO(s)
Magnesium dioksidasi dalam proses ini, memberikan electron seraya bilangan
oksidasinya meningkat dari 0 (dalam unsur Mg) menjadi +2 (dalam MgO).
Oksigen, yang menerima electron-elektron ini dikatakan tereduksi; bilangan
oksidasinya menurun dari 0 menjadi -2. Perpindahan electron (e-) dapat
dinyatakan dengan tanda panah :

67
2 Mg(s) + O2(g) → 2 MgO(s)

Anak panah mengarah menjauhi spesies yang sedang dioksidasi (memberikan


electron) dan menuju ke spesies yang direduksi (menerima electron).

2 atom Mg x 2 elektron per atom Mg =


2 atom oksigen per unit rumus x 2 elektron peratom
oksigen
Semula istilah oksidasi hanya merujuk kepada reaksi dengan oksigen.
Sekarang istilah ini digunakan untuk menjelaskan setiap proses yang bilangan
oksidasinya spesiesnya meningkat, meskipun oksigen tidak terlibat dalam
reaksi. Misalnya, bila kalsium bergabung dengan klorin membentuk kalsium
klorida.

Ca(s) + Cl2(g) → CaCl2

Kalsium dioksidasi dan klorin direduksi.


Reaksi oksidasi reduksi merupakan reaksi paling penting dalam kimia,
biokimia, dan industry. Pembakaran batubara, gas alam, dan bensin (untuk
kalor dan tenaga) merupakan reaksi redoks, demikian pula produksi logam
seperti besi dan alumunium dari bijih oksidasinya serta produksi bahan kimia
seperti asam sulfat dari sulfur, udara, dan air. Tubuh manusia memetabolisasi
gula melalui reaksi redoks untuk memperoleh energy, produk reaksinya berupa
cair dan gas karbon dioksida.

2.3 MENYEIMBANGKANKAN PERSAMAAN REDOKS


Reaksi oksidasi-reduksi, derajat oksidasi beberapa senyawa berubah. Anggap
reaksi antara tembaga dan larutan perak nitrat dalam air:

Cu(s) + 2 Ag+(ag) → Cu2+(ag + 2 Ag(s)

Ion nitrat adalah penonton yang tidak ikut serta dalam reaksi, sehingga mereka
diabaikan dalam persamaan netto. Dua electron dipindahkan dari setiap

68
tembaga yang bereaksi ke sepsang ion perak. Tembaga (donor electron)
dioksidasi,dan ion perak (akseptor electron) direduksi. Reaksi oksidasi-reduksi
ini terjadi bila sepotong tembaga ditempatkan dalam larutan perak nitrat dalam
air atau dalam larutan garam perak lainnya. Logam perak mulai melapisi
tembaga, konsentrasi ion perak menurun, dan endapan biru muncul dalam
larutan dan konsentrasinya naik dengan berjalannya waktu.
Amatlah berguna untuk menganggap persamaan kimia ini sebagai
penggambaran jumlah setengah-reaksi oksidasi dan reduksi, dimana electron
(?) muncul sevara eksplisit. Oksidasi tembaga ditulis sebagai:

Cu(s) → Cu2+(aq) + 2 e -

Dan reduksi ion perak sebagai:

Ag+(aq) + e- → Ag(s)

Dalam persamaan netto, electron tidak boleh muncul secara eksplisit. Dengan
demikian, persamaan kedua harus dikalikan 2 sebelum dijumlahkan dengan
yang pertama, sehingga electron saling menghilangkan di kedua sisi. Seperti
sebelumnya, ini memberikan:

Cu(s) + 2 Ag+(aq) → Cu2+(aq) + 2 Ag(s)

Persamaan kimia untuk pembakaran butana dalam oksigen (sebuah reaksi


redoks) dibalanskan melalui alas an logis, dengan memperhitungkan kenyataan
bahwa jumlah mol atom dari setiap unsure adalah sama sebelum dan sesudah
reaksi. Banyak reaksi redoks lebih sulit dibalanskan daripada ini, sehingga
penting mempunyai sebuah prosedur. Yang didasarkan pada setengah reaksi,
dan menerapkannya ke reaksi yang terjadi dalam larutan asam atau basa
dalam air. Dalam reaksi ini, air dan H 3O+ (larutan a H3sam) atau OH - (larutan
basa) biasa berpartisipasi baik sebagai reaktan atau sebagai produk, sehingga
perlu untuk melengkapi persamaan yang sesuai serta menyetarakannya.

69
Sebagai contoh, marilah kita lengkapi dan balanskan persamaan kimia
pelarutan tembaga(III) sulfide dalam larutan asam nitrat dalam air:

CuS(s) + NO3-(aq) → Cu2+(aq) + SO42- (aq) + NO(g)

Tahap 1 Tulis dua setengah-reaksi yang belum dibalanskan, satu untuk


spesies yang dioksidasi serta hasilnya satu untuk spesies yang
direduksi serta hasilnya.
Di sini setengah-reaksi yang belum dibalanskan dan yang
mengandung CuS
Cus → Cu2 + SO42-
Tahap 2 Masukkan koefisien untuk membuat jumlah atom semua unsure
kecuali oksigen dan hydrogen sama di kedua sisi setiap
persamaan.
Dalam kasus ini tembaga, belerang, dan nitrogen sudah di
balanskan pada kedua setengah-reaksi, sehingga tahap ini telah
diselesaikan.
Tahap 3 Balanskan oksigen dalam menambahkan H2O disalah satu sisi
dari setiap setengah-reaksi.

CuS + 4 H2O → Cu2+ + SO42-


NO3- → NO + 2 H2O

Tahap 4 Balanskan hydrogen. Untuk larutan asam, tambahkan H 3O ke


setiap sisi setengah-reaksi yang “kekurangan” hydrogen dan H 2O
yang sama ke sisi lain. untuk larutan basa, tambahkan H 2o ke
setiap sisi setengah-reaksi yang “kekurangan” hydrogen dan OH -
yang sama ke sisi yang lain.
Ingat bahwa tahap ini tidak mengganggu kesetaraan oksigen yang
telah dicapai dalam tahap 3. Dalam kasus ini (larutan asam)
hasilnya adalah:
CuS + 12 H2O → Cu2+ + SO42- + 8 H3O+
NO3- + 4 H3O+ → NO + 6 H2O

70
Tahap 5 Balanskan muatan dengan memasukkan e- (electron) sebagai
reaktan atau produk di setiap setengah-reaksi
CuS + 12 H2O → Cu2+ + SO42- + 8 H3O+ 2 e- (oksidasi)
NO3- + 4 H3O+ + 3 e- → NO + 6 H2O (reduksi)
.
Tahap 6 Kalian kedua setengah-reaksi dengan bilangan yang dipilih untuk
membuat jumlah electron yang diberikan oleh oksidasi sama
dengan jumlah yang diperlukan pada reduksi. Kemudian,
tambahkan kedua setengah-reaksi, yang menghilangkan electron.
Jika H3O+ , OH- , atau, H2O muncul di kedua sisi persamaan
akhir, hilangkan duplikatnya.
Disini setengah-reaksi harus dikalikan 3 (sehingga dihasilkan 24
elektron) dan setengah-reaksi reduksi dikalikan 8 (sehingga 24
elektron yang sama dipakai)

3 CuS + 36 H2O → 3 Cu2+ + 3 SO2-4 + 24 H3O+ + 24 e-


8 NO + 32 H3O+ + 24 e- → 8 NO + 48 H2O
___________________________________________________
3 CuS + 8 NO-3 + 8 H3O+ → 3 Cu2+ + 3 SO42- + 8 NO + 12 H2O

Prosedur ini menyeimbangkankan persamaan yang sangat sulit


diseimbangkankan dengan pengamatan. Untuk larutan basa, perhatikan untuk
menambahkan H2O dah OH-, daripada H3O+ dan H2O, pada Tahap 4.

3. TUGAS
3.1 Lengkapi dan seimbangkan persamaan berikut untuk reaksi-reaksi yang
berlangsung dalam larutan asam.
a. VO2+(aq) + SO2(g) → VO2+(aq) + SO42-(aq)
b. Br2(l) + SO2(g) → Br-(aq) + SO42-(aq)
c. Cr2O72-(aq) + Np4+(aq) → Cr3+(aq) + NpO22+(aq)
d. HCOOH(aq) + MnO4-(aq) → CO2(g) + Mn2+(aq)
e. MnO4-(aq) + H2S(aq) → Mn2+(aq) + SO42-(aq)

71
2. Lengkapi dan seimbangkan persamaan berikut untuk reaksi-reaksi yang
berlangsung dalam larutan basa
a. Cr(OH)3(s) + Br2(aq) → CrO42-(aq) + Br-(aq)
b. ZrO(OH)2(s) + SO32-(aq) → Zr(s) + SO42-(aq)
c. HPbO2-(aq) + Re(s) → Pb(s) + ReO4-(aq)
d. HXeO4-(aq) → XeO64-(aq) + Xe(g)
e. N2H4(aq) + CO32-(aq) → N2(g) + CO(g)

3. Uraikan persamaan berikut ini menjadi setengah reaksi oksidasi dan reduksi
yang diseimbangkan.
a. 2 H3O+(aq) + H2O2(aq) + 2 Fe2+(aq) → 2 Fe3+(aq) + 4 H2O(l)
b. H3O+(aq) + H2O(l) + 2 MnO4-(aq) + 5 SO2(aq) → 2 Mn2+(aq) + 5 HSO4(aq)
c. 2 ClO2-(aq) + 4 H3O+(aq) → CO(g) + N2(g) + 3 H2O(g)

4. Asam nitrit (HNO2) terdisproporsionasi dalam larutan asam menjadi ion nitrat
(NO3-) dan nitrogen oksida (NO). Tulis persamaan yang seimbang untuk reaksi
ini.

BAB IX
72
TITRASI REDOKS

1. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Menjelaskan macam-macam titrasi redoks
1.2 Menghitung berat ekivalen dalam reaksi redoks
1.3 Menyelesaikan perhitungan untuk titrasi redoks

2. URAIAN :
Titrasi redoks adalah penentuan kadar suatu cuplikan yang bertindak
sebagai reduktor atau oksidator berdasarkan reaksi reduksi dan oksidasi.
2.1 PERMANGANOMETRI
Titrasi permanganometri digunakan untuk penentuan suatu cuplikan
yang bertindak sebagai reduktor dengan menggunakan permanganat (titran)
sebagai oksidator. Permanganometri banyak digunakan untuk penentuan kadar
besi, antimony(III), arsen, hydrogen peroksida, timah putih, nitrit, oksalat,
dan lain lain.
Kalium Permanganat

Kalium permanganat merupakan suatu pereaksi yang mudah diperoleh,


tidak mahal, dan tidak memerlukan suatu indicator, kecuali kalau digunakan
untuk
larutan-larutan yang encer. Permanganat mengalami reaksi kimia yang
bermacam-macam, karena mangan dapat berada dalam keadaan oksidasi +2,
+3, +4, +6, dan +7:
Reaksi yang terjadi dalam larutan yang sangat asam (0,1 N atau lebih)
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O
Sedangkan untuk reaksi dengan keasaman rendah :
MnO4- + 4H+ + 3e MnO2(s) + 2H2O
Reaksi yang paling lazim dijumpai di laboratorium adalah reaksi yang pertama,
yaitu reaksi dalam larutan yang paling asam. Permanganat bereaksi dengan
cepat dengan banyak zat pereduksi menurut reaksi pertama, namun untuk
beberapa zat memerlukan pemanasan atau katalis untuk mempercepat reaksi.

73
Dalam suasana basa atau basa lemah akan terbentuk endapan coklat
MnO2 yang mengganggu sehingga untuk menghilangkannya dilakukan
penyaringan. Sebagai asam biasanya digunakan H 2SO4, sedangkan HCl
kurang baik untuk titrasi ini karena akan mengganggu jalannya analisa, begitu
juga dengan HNO3 yang bersifat sebagai oksidator juga.
Dalam mempersiapkan larutan permanganat dianjurkan untuk
melarutkan kristal, kemudian pemanasan untuk memusnahkan zat pereduksi
dan penyaringan lewat asbes atau kaca masir untuk menyingkirkan MnO 2.
Larutan ini kemudian distandarkan , dan disimpan dalam botol gelap, tertutup
rapat dan terlindung dari cahaya.
Standardisasi
Larutan KMnO4 dapat disatandarisasi dengan standar primer yaitu :
arsen(III) oksida, natrium oksalat, dan besi.
a. Arsen (III) Oksida
Senyawa As2O3 merupakan standar primer yang bagus sekali untuk
larutan permanganat. Stabil, tidak higroskopis dan mudah diperoleh dalam
derajat kemurnian yang tinggi. Oksida ini dilarutkan dalam NaOH, larutan
diasamkan dengan HCl dan dititrasi dengan permanganat :
5HasO2 + 2 MnO4- + 6H+ + 2 H2O 2 Mn2+ + 5H3AsO4
Reaksi ini perlahan pada temperatur kamar, kecuali ditambahkan suatu katalis.
Kalium iodida (KI), kalium iodat (KIO 3) dan ion monoklorida (ICl), merupakan
katalis-katalis yang dapat digunakan.
b. Natrium Oksalat
Na2C2O3 merupakan standar primer yang baik untuk larutan pemanganat
dalam larutan asam. Larutan ini dapat diperoleh dengan derajat kemurnian
yang cukup tinggi, stabil pada pengeringan, dan tidak mudah menguap. Reaksi
dengan permanganat lambat pada suhu kamar, sehingga dilakukan pemanasan
pada 600C. Walaupun pada suhu ini reaksi masih lamban(terlihat dari adanya
warna violet yang mantap pada beberapa saat) tetapi dengan terbentuknya
Mn2+ yang bertindak sebagai katalis yang disebut dengan otokatalitik yaitu
katalis yang terbentuk dari reaksi itu sendiri, maka reaksi pada akhirnya
berjalan dengan cepat (terlihat dengan hilangnya warna violet).
5C2O42- + 2 MnO4- + 16 H+ 2Mn2+ + 10CO2 + 8 H2O

74
Pada titrasi ini permanganat ditambahkan secara cepat ke dalam larutan
yang diasamkan pada temperatur kamar. Setelah reaksi mendekati lengkap
maka larutan dipanaskan pada 600C, kemudian titrasi dilengkapi pada
temperatur ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari pembentukan peroksida :
O2 + H2C2O4 H2O2 + 2 CO2
Hal ini dapat mengurangi volume permanganat yang semestinya diberikan,
karena sebagian oksalat telah terurai menjadi peroksida.
c. Besi

Kawat besi dengan derajat kemurnian yang tinggi dapat digunakan


sebagai standar primer. Besi ini dilarutkan dalam HCl dan besi (III) yang
dihasilkan selama proses pelarutan direduksi menjadi besi(II). Pada waktu
dititrasi dengan permanganat ion klorida dalam kuantitas yang berarti ikut
dioksidasi bersama basi (II). Oksidasi ion klorida oleh permanganat
berlangsung lambat pada suhu kamar, namun dengan adanya besi reaksi
berlangsung cepat. Meskipun besi (II) merupakan zat pereduksi yang lebih kuat
daripada ion klorida, ion klorida ini teroksidasi secara serempak dengan besi.
Suatu larutan campuran mangan(II) sulfat, asam sulfat dan asam fosfat yang
disebut sebagai larutan ‘pencegah’ atau larutan Zimmermann-Reinhardt dapat
ditambahkan ke dalam larutan asam klorida sebelum dititrasi dengan
permanganat. Asam fosfat menurunkan konsentrasi ion besi(III) dengan
pembentukan kompleks, sehingga membantu untuk memaksa agar reaksi
berjalan lengkap, dengan menghilangkan warna kuning yang ditimbulkan
besi(III) dalam media klorida. Terbentuknya kompleks fosfat tidak berwarna
membuat titik akhir menjadi lebih jelas.
Penetapan dengan Permanganat
Penetapan besi dalam bijih besi merupakan salah satu penerapan paling
penting dari titrasi permanganat. Bijih besi tersebut adalah hematite (Fe 2O3),
magnetit (Fe3O4), goetit (Fe2O3.H2O), limonit (2Fe2O3. 3H2O), siderit (FeCO3),
Pirit (FeS2). Sebelum dilakukan titrasi bijih-bijih tersebut dilarutkan terlebih
dahulu dalam asam. Asam yang paling baik untuk melarutkan bijih tersebut
adalah asam klorida.
Selain untuk menetukan besi, larutan permanganat digunakan untuk
penentuan berbagai logam seperi stibium(III), Arsen(III), Brom, hydrogen

75
peroksida, besi(II), molybdenum(III), nitrit, oksalat, timah (II), titanium(III),
Tungsten(III), Uranium(IV), Vanadium(IV).
Larutan permanganat dapat juga digunakan untuk titrasi tak langsung
seperti penentuan timbel dan mangan. Karena logam-logam ini sukar
dilarutkan dalam asam ataupun basa. Apabila dititrasi secara langsung reaksi
zat padat dengan suatu pereduksi sangat lambat. Jadi sample diolah terlebih
dahulu dengan dengan zat pereduksi yang telah diketahui kuantitasnya dan
dipanaskan agar reaksi lengkap. Kemudian kelebihan zat pereduksi dititrasi
dengan permanganat standar. Zat pereduksi yang digunakan antara lain As 2O3
dan Na2C2O3.
2.2 IODIMETRI DAN IODOMETRI
Iodimetri adalah titrasi di mana analit bertinfdak sebagai reduktor
langsung dititrasi dengan larutan iodium (titrasi langsung).
Analit : reduktor oksidator + e
Titran : I2 + 2e 2 I-
Sedangkan iodometri merupakan titrasi dimana analit bertindak sebagai
oksidator, mula-mula direaksikan dengan ion iodida berlebih, kemudian iodium
yang terjadi dititrasi dengan larutan tiosulfat.
Analit (oksidator) + KI I2
I2 + 2 Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6
Para analis cenderung menggunakan istilah iodometri langsung untuk
iodimetri, sedangkan yang tidak langsung dinamakan dengan iodometri tak
langsung.
Iodometri langsung digunakan untuk penentuan antimony, arsen,
belerang(sulfida, sulfit), timah putih, ferosanida, tiosulfat dan yang paling
penting adalah penentuan vitamin C. Iodometri tak langsung digunakan untuk
penentuan bijih tembaga, besi, arsen, antimony, glukosa,dan lain-lain. Salah
satu iodometri yang banyak digunakan adalah reaksi Malaprade yang
digunakan untuk penentuan senyawa-senyawa organic seperti gliserol dan
etilen glikol.
Larutan Titer Iodium

Iodium sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam larutan yang
mengandung ion iodida (KI) dimana iodium membentuk kompleks triodida :

76
I2 + I- I3
Untuk mengurangi penguapan dan meningkatkan kelarutan , maka
ditambahkan KI berlebih. Larutan titer iodium dibuat dengan melarutkan iodium
ke dalam larutan KI pekat, kemudian diencerkan ke dalam air. Larutan ini
distandardisasi dengan As2O3 atau Na2S2O3 yang telah distandarisasi kemudian
disimpan dalam botol coklat gelap untuk mencegah penguraian oleh cahaya
matahari.
Larutan Titer Na-Tiosulfat

Larutan standar yang sering digunakan dalam iodometri ialah Na-tiosulfat,


yang biasanya tersedia dalam bentuk Na 2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh
distandardisasi dengan penimbangan secara langsung tetapi harus
distandardisasi dengan standar prmer, karena Na 2S2O3 tidak stabil, karena
adanya bakteri yang menyebabkan kekeruhan. Biasanya air yang digunakan
dididihkan terlebih dahulu dan seringkali boraks atau Na 2CO3 ditambahkan
sebagai bahan pengawet. Untuk menstandardisasi larutan Na-tiosulfat
digunakan K2Cr2O7, KIO3, KBrO3, dan tembaga murni.
Indikator Kanji

Warna larutan iod 0,1 N cukup tua sehingga iod dapat bertindak sebagai
indikatornya sendiri. Iod juga memberikan warna ungu atau lembayung pada
pelarut seperti karbon tetraklorida dan kloroform, dan kadang-kadang
digunakan untuk menunjukkan titik akhir. Tetapi lebih sering digunakan larutan
kanji, karena biru tua warna kompleks pati-iod berperan sebagai uji kepekaan
terhadap iod.
Larutan kanji mudah terurai oleh baklteri, suatu proses yang dapat
dihambat dengan sterilisasi atau penambahan zat pengawet.Hasil penguraian
bakteri dapat menyebabkan iod berubah menjadi merah. Pengawet yang
digunakan antara lain merkurium(II) iodida, asam borat atau asam furoat.
Kondisi yang menimbulkan hidrolisis atau koagulasi hendaknya dihindari .
Kepekaan indicator berkurang dengan naiknya temperatur dan oleh hadirnya
beberapa bahan organic seperti metil dan etil alcohol.
Penentuan Kadar Air Cara Karl Fischer

Metoda ini digunakan untuk penentuan kadar air dari bahan padat dan pelarut
organic :
77
Analit ditambah pereaksi Karl Fischer (terdiri dari iodium, SO2, piridin,
methanol). Iodium membentuk kompleks dengan piridin bereaksi dengan air
tersebut.
C5H5N.I2 + C5H5N.SO2 + C5H5N + H2O C5H5N.HI + C5H5NSO3
Metanol mengikat C5H5N.SO2 agar tidak bereaksi dengan air,
C5H5N.SO2 + CH3OH C5H5N(H).SO4CH3
Titik akhir titrasi ditandai oleh kelebihan kompleks piridin iod (C 5H5N.I2) setelah
air habis bereaksi. Tanpa menggunakan indikator dengan perubahan warna
kuning menjadi coklat.

2.3 BROMATOMETRI DAN BROMOMETRI

BROMATOMETRI

Merupakan titrasi redoks dimana analit(reduktor) langsung dititrasi


dengan larutan KBrO3 (oksidator). KBrO3 merupakan oksidator kuat dalam
suasana asam, yang tereduksi menjadi bromida. Titrasi digunakan untuk
menentukan arsen(III), antimony(III), besi(II), sulfida organic dan disulfida.
Kalium bromat KBrO3 adalah suatu zat pengoksid yang kuat :
BrO3- + 6H+ + 6e Br- + 3H2O
Reaksi dengan arsen(III) :
BrO3- + 3 HAsO2 Br- + 3 HAsO3
Biasanya larutan itu mengandung asam klorida 1 M. Titik akhir titrasi ditandai
oleh munculnya brom berwarna kuning, menurut reaksi :
BrO3- + 5 Br- + 6H+ 3 Br2 + 3 H2O
Tetapi kadang-kadang reaksi di atas kurang begitu sempurna sehingga masih
dibutuhkan zat organik yang dapat bereaksi dengan brom, sehingga terjadi
perubahan warna. Terdapat tiga indicator untuk titrasi ini : alfa naftiflavon,
kuning kuinolina, p-etoksikrisoidina.
Kalium Bromat tersedia dalam kemurnian yang tinggi dan larutannya
stabil. Larutan titer dapat dibuat langsung dengan melarutkan zat yang telah
ditimbang. Kemudian ditambahkan KI lalu dititrasi dengan Na 2S2O3 dalam
suasana asam dengan indikator kanji.

78
BROMOMETRI

Penetapan kadar suatu zat berdasarkan atas reaksi dari zat itu dengan
brom. Reaksi tersebut dapat berupa reaksi substitusi, adisi, oksidasi.
Bromometri digunakan secara luas untuk penentuan zat-zat terutama dalam
bidang farmasi. Analit direaksikan dengan brom berlebih dalam suasana asam .
Kelebihan brom direaksikan dengan KI berlebih , lalu iodium yang terjadi
dititrasi dengan larutan titer tiosianat menggunakan indikator kanji, hingga
warna biru hilang .
Analit + Br2 (berlebih) produk
Br2 (sisa) + 2 KI (berlebih) 2 KBr + I2
I2 + 2 Na2S2O3 2 NaI + Na2S4O6
Larutan Titer

Larutan Brom tidak stabil , maka larutan bromat lebih disukai sebagai
titer dan pembuatannya lebih praktis. Larutan Brom dibuat dengan melarutkan
KBrO3 dan KBr lalu distandardisasi secara iodometri.

2.4 CERIMETRI
Merupakan penetapan suatu analit (reduktor) dengan
menggunakan larutan serium(IV) sulfat sebagai titran (oksidator) dalam
suasana asam, karena dalam suasana netral akan terjadi endapan serium
hidroksida atau garamnya.
Analit dalam asam sulfat encer dititrasi dengan Ce(SO 4)2
menggunakan indikator ferroin. Perubahan warna indikator pada titik akhir, yaitu
dari merah menjadi biru pucat. Bila encer, dari merah jambu menjadi tidak
berwarna.
Larutan Ce(IV) dapat dipergunakan untuk penentuan besi, arsen,
antimony, oksalat, ferosianida, titanium, krom, vanadium, molybdenum,
uranium, oksida timbal, dan mangan.
Larutan Titer Cerium(IV) Sulfat
Larutan ini dibuat dengan melarutkan sejumlah serium(IV) sulfat,
lalu dibakukan dengan As2O3, Na-oksalat, dan besi murni.
Keuntungan larutan Ce(IV) :

79
1. Hanya ada satu keadaan oksidasi
Ce4+ + e Ce3+
2. Merupakan suatu pereaksi oksidasi yang sangat kuat
3. Larutan dalam asam sulfat dari ion Ce(IV) sangat stabil
4. Suatu garam serium(IV) ammonium nitrat dapat digunakan sebagai
standar primer.
5. Warnanya yang kuning tidak menimbulkan kesukaran dalam titrasi
6. Dapat digunakan untuk titrasi besi dalam HCl tanpa larutan pencegah
Ziimmerman-Reinhart

Tabel 3. Standar Primer untuk Reaksi Redoks

Lar. Utk Standar Reaksi


distandardisasikan primer

KMnO4 As2O3 5H3AsO3+2MnO4-+6H+ 2Mn2++ 5H3AsO4 + 3 H2O


KMnO4 Na2C2O4 5C2O42_+ 2MnO4 + 16H+ 2Mn2+ +10CO2 + 8H2O
KMnO4 Fe 5Fe2+ + MnO4- + 8H+ 5Fe3+ + Mn2+ + 4H2O
Ce(SO4)2 Fe Fe2+ + Ce4+ Fe3+ + Ce3+
K2Cr2O7 Fe 6Fe2+ +Cr2O72_+14H+ 6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O
Na2S2O3 K2Cr2O7 Cr2O72- + 6I- +14H+ 2Cr3+ + 3I2 + 7H2O

Na2S2O3 I2 + 2S2O32- 2I- + S4O6


Cu 2Cu2+ + 4I- 2CuI(s) + I2
2-
I2 I2 + 2S2O 3 2I- + S4O62-
As2O3 HAsO2 +I2+ 2H2O H3AsO4 + 2I- + 2H+

3. CONTOH SOAL
1. Sebuah sampel mengandung arsenat dan beratnya 3,523 g dilarutkan
dan diencerkan sampai tepat 250 ml dalam botol ukur. Aliquot sebanyak
50 ml diambil dan dititrasi dengan 33,84 ml 0,1 N larutan I 2
Reaksi :
HAsO2 + I2 + 2H2O H3AsO4 + 2I- + 2H+
Hitung % arsen dalam sample !
Penyelesaian :

80
Berat arsenat dalam alikot :
(50/250) x 3523 = 704 mg
Pada reaksinya As kehilangan 2e
BE As = BM/2 = 74,92/2 = 37,46 mg/meq
33,84 ml x 0,1 meq/ml x 37,46 mg/meq
% As = = 19,18
704 mg

2. 50 ml larutan yang mengandung etilen glikol direaksikan dengan 50 ml


0,03 M asam periodat, dan larutan dibiarkan selama 1 jam. Larutan
kemudian dibuffer pada pH 8 dengan NaHCO 3, lalu ditambah KI berlebih.
I2 yang dibebaskan dititrasi dengan 25,38 ml 0,0602 N larutan arsen.
Hitung berat etilen glikol dalam larutan semula.
Mek EG + mek arsen = mek KIO4
Mek EG + 25,38 x 0,0602 = 50 x 0,03010 x 2
Mek EG = 1,572
BE EG = BM/2 = 62,068 /2 = 31,034 mg/mek
Berat etilen glikol = 1,572 mek x 31,034 mg/mek
= 48,79 mg
4. TUGAS
1. Tuliskan dan jelaskan macam-macam titrasi redoks
2. Suatu contoh tembaga oksida berat 2,031 g dilarutkan dalam asam, pH
diatur, dan ditambahkan KI berlebih untuk membebaskan I 2. I2 dititrasi
dengan 29,68 ml 0,1058 N Na2S2O3. Htung % CuO dalam contoh
3. Asam askorbat (vit. C, BM= 176,126) adalah suatu pereduksi yang
bereaksi sebagai berikut :
C6H8O6 C6H6O6 + 2H+ + 2e
Vitamin ini dapat ditetapkan dengan oksidasi dengan suatu larutan std.
Iod. Suatu sample air jeruk 200,0 ml diasamkan dengan asam sulfat,
ditambahkan 10,00 ml I2 0,0400 M. Setelah reaksi berjalan
lengkap,kelebihan I2 dititrasi dengan Na2S2O3 0,0100 M. Ternyata
dibutuhkan 30,23 ml. Hitung berapa mg asam askorbat/ml air jeruk !
4. Aluminium dalam sample seberat 0,2000 g diendapkan dengan 8-
hidroksikuinolina, ditambahkan 2 g KI dan I 2 yang dibebaskan dititrasi

81
dengan Na2S2O3 0,1000N. Ternyata dibutuhkan 25,00 ml. Hitunglah
persentase Al2O3 dalam sample.

82
BAB X
TITRASI PENGENDAPAN

1. TUJUAN KHUSUS :

1.1 Mendefinisikan titrasi pengendapan


1.2 Menguraikan macam-macam argentometri
1.3 Menguraikan contoh titrasi non argentometri
1.4 Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi kelarutan
1.5 Menyelesaikan perhitungan untuk titrasi pengendapan

2. URAIAN :

Titrasi pengendapan atau presipitimetri adalah suatu titrasi yang pada


reaksinya membentuk endapan. Contoh reaksinya :
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
Semakin kecil kelarutan endapan maka makin sempurna reaksinya. Titrasi ini
juga sering dinamakan dengan argentometri, karena sebagian besar titrasi
inimenggunakan larutan perak nitrat (AgNO 3)
2.1 ARGENTOMETRI
Argentometri terbagi dalam tiga macam metoda berdasarkan indikator
yang digunakan untuk penentuan titikakhir :
a. Metoda Mohr
Pada metode ini akan terbentuk endapan berwarna. Indikator yang
digunakan adalah K2CrO4 dengan AgNO3 sebagai titran. Titran ini digunakan
untuk menentukan garam klorida dengan titrasi langsung, dan menentukan
garam perak dengan titrasi tak langsung. Pada titik akhir titrasi akan terbentuk
endapan perak kromat (AgCrO4) yang berwarna merah kecoklatan.
b. Metoda Volhard
Pada metoda ini akan terbentuk endapan kompleks berwarna. Metoda ini
didasarkan pada pengendapan perak tiosianat dalam larutan asam nitrat,
dengan menggunakan ion besi(III) sebagai indikator dan KSCN atau NH 4SCN
sebagai titran.
Ag+ + SCN- AgSCN
83
Fe2+ + SCN- FeSCN2+ (merah)
Metoda Volhard digunakan untuk penentuan perak, klorida, bromida,
iodida, oksalat, karbonat dan arsenat.
c. Metoda Fajans
Pada metoda ini indikator yang digunakan adalah indikator adsorbsi.
Salah satu indikator adsorbsi yang paling terkenal adalah Flurescein.
Fluorescein adalah sebuah asam organic lemah yang dilambangkan dengan
HFl. Jika fluorescein ditambahkan ke dalam bejana titrasi, anion Fl - tidak
diserap oleh AgCl selama klorida berlebih. Akan tetapi bila ion perak dalam
keadaan berlebih, ion Fl- ditarik ke permukaan partikel yang bermuatan positif.
(AgCl). Ag+ Fl-

Agregat yang dihasilkan berwarna merah muda.


Metoda Fajans digunakan untuk penentuan klorida, bromida, iodida,
dan lain sebagainya.
Tabel 4. Beberapa Indikator Adsorbsi

Indikator Ion yang Dititrasi Titran


Ag+
-
Diklorofluorescein Cl
Ag+
-
Fluorescein Cl
Ag+
- - -
Eosin Br , I , SCN
Ba2+
Torin SO42-
Ag+
Hijau Bromkresol SCN-
Cl-
Lembayung metal Ag+
Br-
+
Rodemina 6 G Ag
CrO42-
2+
Ortokrom Pb
Cl-
2+
Biru bromfeno Hg 2

2.2 Presipitimetri yang Bukan Argentometri


Presipitimetri tidak hanya meliputi pembentukan endapan dengan Ag +,
tetapi juga dengan logam –logam lain.

Tabel 5. Presipitimetri yang Bukan Argentometri

84
Ion yang Ditentukan Titran Indikator

SO42- Pb(NO3)2 Ditizon

Pb(NO3)2 Eritrosin B

Ba(ClO4)2 Torin
PO43-
BaCl2 Alizarin merah S

Pb(Ac)2 Dibromofluorescein
2-
C2O4
Pb(Ac)2 Diklorofluorescein
- -
Cl , Br
Pb(Ac)2 Fuorescein

Hg2(NO3)2 Biru bromfenol

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelarutan

a. Suhu
Kebanyakan garam anorganik, bertambah kelarutannya bila suhu
dinaikkan , Untuk itu pada proses pengendapan titrasi dan pencuci dilakukan
dengan larutan panas .
b. Pelarut
Kebanyakan garam organic lebih larut dalam pelarutan organic .hal ini
Dapat digunakan untuk memisahkan dua zat yang di dalam air cukup larut .
c. Pengaruh Ion Sama
Sebuah endapan biasanya lebih larut dalam air murni dibandingkan
dalam sebuah larutan yang mengandung salah satu ion dari endapan. Dalam
larutan perak klorida, perkalian konsentrasi ion-ion perak dan klorida tidak
dapat melampaui harga Kspnya.
Adanya ion yang sama dapat menyebabkan pengendapan sempurna.
Seorang analis seringkali menambahkan pereaksi pengendap sedikit berlebih
untuk meyakinkan kesempurnaan endapan.
Pengaruh ion yang sama terhadap kelarutan suatu endapan ditunjukkan
dalam perhitungan berikut.

85
Hitung kelarutan molar dari CaF2 dalam : (Ksp = 4 x 10-11)
a. air
b. 0,01 M CaCl2
c. 0,01 M NaF
Penyelesaian :
a. Keseimbangan :
CaF2(p) Ca2+ + 2F-
Misalkan s = kelarutan molar CaF2, kesetimbangan massa adalah :
[Ca2+] = s
[F- ] = 2s
karena :
[Ca2+] [F-] = Ksp
(s) (2s)2 = 4 x 10-1
maka : s = 2,1 x 10-4 mol/liter
b. Dalam 0,01 M CaCl2 kesetimbangan massa adalah :
[Ca2+] = 0,01 + s
[F- ] = 2s
Maka : (0,01 + s) (2s)2 = 4 x 10-11
Karena s < 0,01, ini menjadi :
4s2 = 4 x 10-9
s = 3,2 x 10-5 mol/liter
c. Dalam 0,01 M NaF, kesetimbangan massa adalah :
[Ca2+] = s
[F-} = 0,01 + 2s
Maka : (s) (0,01 + 2s)2 = 4 x 10-11
Karena 2s < 0,01, sehingga :
S = 4 x 10-7 mol/liter
d. Pengartuh pH
Kelarutan garam dari asam lemah tergantung dari pH larutan. Garam-
garam tersebut antara lain adalah : oksalat, sulfida, hidroksida, karbonat dan
fosfat. Ion hydrogen bereaksi dengan anion garam untuk membentuk asam
lemah, dengan demikian meningkatkan kelarutan garam
e. Pengaruh Kompleks

86
Kelarutan suatu garam yang sedikit larut tergantung pada konsentrasi
dari zat-zat yang membentuk kompleks dengan kation garam.
f. Pengaruh Hidrolisa
Kation atau anion dari sebuah garam dapat mengalami hidrolisa yang
akan meningkatkan kelarutan.
g. Pengaruh Ion Aneka Ragam
Pengaruh ion aneka ragam, garam netral , atau aktivitas dapat
meningkatkan kelarutan suatu garam.
3. CONTOH SOAL
Sebuah sample seberat 0,8165 g, yang mengandung ion klorida dianalisis
dengan cara volhard. Sampel dilarutkan dalam air dan 50 ml AgNO 3 0,1214 M
ditambahkan untuk mengendapkan ion klorida. AgNO 3 yang berlebih dititrasi
dengan 11,76 ml 0,1019 M KSCN. Hitung % klorida dalam sample.
Penyelesaian :
Mmol AgNO3 = mmol Cl- + mmol KSCN
50 x 0,1214 = mmol Cl- + 11,76 x 0,1019
mmol Cl- = 4,872
4,872 mmol x 35,453 mg/mmol
-
% Cl = x 100
816,5 mg

= 21,15

4. TUGAS
4.1 Tuliskan macam-macam metoda argentometri, jelaskan!
4.2 Jelaskan prinsip kerja indikator adsorbsi sehingga dapat digunakan untuk
penentuan titik akhir
4.3 Tuliskan presipitimetri yang bukan argentometri
4.4 a.0,1752 g standar primer AgNO 3 dilarutkan dalam 502,3 g air destilasi.
Hitung molaritas dari ion Ag+ dalam larutan.
b. Larutan standar pada 4.3 digunakan untuk mentitrasi 25,171 g larutan
KSCN. Titik akhir dicapai setelah ditambahkan 23,765 g larutan AgNO 3.
Hitung molaritas dari larutan KSCN.
c. Larutan pada a dan b digunakan untuk menentukan BaCl 2.2H2O dalam
0,7120 g sample. 20,102 g AgNO3 ditambahkan pada larutan contoh dan

87
kelebihan AgNO3 dititrasi kembali dengan larutan KSCN. Hitung %
BaCl2.2H2O dalam contoh.
4.5 Suatu contoh yang mengandung Cl- seberat 0,7439 g dilarutkan dalam air.
50 ml 0,1007 AgNO3 ditambahkan secara berlebih dan kelebihan AgNO 3
dititrasi dengan 7,86 ml 0,0996 larutan KSCN
Hitung % Cl- dalam sample !
4.6 Hitung tetapan hasilkali kelarutan dari kelarutan yang diketahui :
a. AgBr, 0,118 mg/liter
b. Cu(OH)2, 3,59 x 10-6 g/100 ml
c. Ag2CrO4, 2,63 mg/100 ml
4.7 Hitung kelarutan molar berikut ini :
a. BaSO4 dalam 0,002 M K2SO4
b. MgF2 dalam 0,1 M NaF
c. Ag2CrO4 dalam 0,01 M K2CrO4
4.8 Hitung kelarutan molar berikut ini :
a. Fe(OH)2 pada pH 11
b. Cu(OH)2 pada pH 12

BAB XI
TITRASI PEMBENTUKAN KOMPLEKS
88
1. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Mendefinisikan senyawa kompleks
1.2 Menjelaskan macam-macam ligan
1.3 Mendefinisikan titrasi kompleks
1.4 Menjelaskan macam-macam titrasi kompleks
1.5 Menyelesaikan perhitungan untuk titrasi kompleks

2. URAIAN :

2.1 ION KOMPLEKS


Senyawa atau ion kompleks terbentuk dari suatu reaksi ion logam yaitu
kation dengan suatu anion dari molekul netral. Ion logam di dalam kompleks
disebut atom pusat dan kelompok yang terdekat dengan atom pusat yang
disebut dengan ligan. Jumlah ikatan yang terbentuk oleh atom pusat disebut
bilangan koordinasi dari logam itu.
Reaksi ion perak dengan ion sianida untuk membentuk ion kompleks
Ag(CN)2- yang sangat stabil :
Ag+ + 2CN- Ag(CN)2-
Reaksi pembentukan kompleks ini dianggap suatu reaksi asam-basa Lewis
dengan ligan bertindak sebagai basa, dengan menyumbangkan sepasang
electron kepada kation, yang merupakan asamnya.
Tabel 6. Beberapa Kompleks yang Khas

BIL. KOORDINASI
LOGAM LIGAN KOMPLEKS
LOGAM
NH3
Ag + Ag(NH3)2+ 2
Cl-
Hg2+ HgCl2 2
NH3
2-
Cu 2+ Cu(NH )
3 4 4
CN-
Ni2+ Ni(CN)42- 4
H2O 2+
Co2+ Co(H2O)6 6
NH3 3+
Co 3+ Co(NH )3 6 6
CN- 3-
Cr 3+ Cr(CN) 6 6
CN-
Fe3+ Fe(CN)63- 6

89
2.2 LIGAN

Ligan-ligan seperti I-, NH3, CN- hanya mempunyai satu atom donor pasangan
electron. Ligan demikian disebut monodentat atau unidentat. Ligan yang
mempunyai dua gugus yang membentuk dua ikatan dengan atom sentral
disebut ligan bidentat, lebih dari dua ikatan disebut polidentat.
Contoh bidentat :
- Etilendiamin (donornya ialah kedua atom N, H3N – CH2CH2 – NH3
- 8-hidroksikuinolin (donornya ialah atom N dan O
Misalkan Cu2+ berkompleks dengan 2 buah ligan etilendiamin tersebut

Lingkaran demikian dinamakan lingkaran kelat/cincin kelat.


Cincin heterosiklik yang terbentuk oleh interaksi suatu ion logam dengan
dua atau lebih gugus fungsional dalam ligan dinamakan cincin kelat, molekul
organiknya dinamakan pereaksi pembentuk kelat. Kompleksnya dinamakan
kelat atau senyawa kelat.

EDTA
Ligan yang polidentat bila mengkompleks suatu ion logam akan
membentuk lingkaran kelat lebih dari satu. Pengkelat yang sangat terkenal
dalam analisa kimia adalah EDTA (Ethylene Diamin Tetra Acetic Acid)

HOOCCH2 HOOCCH2
N – CH2 – CH2 - N
HOOCCH2 HOOCCH2

90
EDTA adalah ligan yang heksadentat, mempunyai enam buah atom
donor pasangan electron yaitu melalui kedua atom N dan empat atom O.
Selain digunakan dalam analisis kimia khususnya analisis secara
kompleksometri , EDTA banyak sekali digunakan sebagai pengawet bahan
pngan berupa minyak dan lemak, sebagai penawar keracunan Pb, dan
sebagai tambahan / zat aditif pada deterjen sintetis.

Gambar 21. Molekul EDTA

2.3 KESADAHAN AIR

Secara alami air mengandung garam-garam yang berasal dari batu dan
tanah yang dilaluinya. Air yang mengandung jumlah yang signifikan dari ion ion
Ca2+, Mg2+, Fe3+ dan Fe2+ serta logam-logam bermuatan dua lainya dinamakan
air sadah. Ca2+ dan Mg2+ merupakan sumber yang paling umum yang
menyebabkan kesadahan. Kandungan ion-ion ini menimbulkan masalah baik di
industry maupun di rumah tangga. Ion-ion Ca 2+ dan Mg2+ dapat menyebabkan
sabun tidak berbuih, pipa tersumbat, dan boiler tersumbat.

Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat


menyebabkan beberapa masalah, antara lain menyebabkan pengendapan
mineral yang menyumbat saluran pipa dnkran. Selain itu, juga menyebakan
pemborosan sabun di rumah tangga dan air sadah yng dicampur sabun dapat
menggumpal dan cepat dihilangkan.

91
Air sadah bila digunakan untuk mencuci tidak dapat bersih karena
lemak/kotoran dalam pakaian belum seluruhnya lepas, ini disebabkan karena
air sadah dapat menggumpalkan sabun cuci dimana sabun cuci seharusnya
bertugas menggumpalkan lemak/kotoran. Hal ini terjadi karena ion Ca dan Mg
dapat menggantikan ion Na, didalam molekul sabun cuci sehingga sabun akan
mengendap didalam air.

Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa


apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat
membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air
berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Disamping itu, kesadahan juga
merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha untuk
memanipulasi nilai pH.
Secara lebih rinci kesadahan dibagi dalam dua tipe, yaitu: (1) kesadahan
umum (”general hardness” atau GH) dan (2) kesadahan karbonat (”carbonate
hardness” atau KH). Disamping dua tipe kesadahan tersebut, dikenal pula tipe
kesadahan yang lain yaitu yang disebut sebagai kesadahan total atau total
hardness. Kesadahan total merupakan penjumlahan dari GH dan KH.
Kesadahan umum atau “General Hardness” merupakan ukuran yang
menunjukkan jumlah ion kalsium (Ca ++) dan ion magnesium (Mg ++) dalam air.
Ion-ion lain sebenarnya ikut pula mempengaruhi nilai GH, akan tetapi
pengaruhnya diketahui sangat kecil dan relatif sulit diukur sehingga diabaikan.
GH pada umumnya dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/ satu
persejuta bagian) kalsium karbonat (CaCO 3), tingkat kekerasan (dH), atau
dengan menggunakan konsentrasi molar CaCO 3. Satu satuan kesadahan
Jerman atau dH sama dengan 10 mg CaO (kalsium oksida) per liter air.
Kesadahan pada umumnya menggunakan satuan ppm CaCO 3, dengan
demikian satu satuan Jerman (dH) dapat diekspresikan sebagai 17.8 ppm
CaCO3. Sedangkan satuan konsentrasi molar dari 1 mili ekuivalen = 2.8 dH =
50 ppm. Berikut adalah kriteria selang kesadahan yang biasa dipakai:
- 0 - 4 dH, 0 - 70 ppm : sangat rendah (sangat lunak)
- 4 - 8 dH, 70 – 140 ppm : rendah (lunak)
- 8 – 12 dH, 140 – 210 ppm : sedang
- 12 – 18 dH, 210 – 320 ppm : agak tinggi (agak keras)

92
- 18 – 30 dH, 320 – 530 ppm : tinggi (keras)
Dalam kaitannya dengan proses biologi, GH lebih penting peranananya
dibandingkan dengan KH ataupun kesadahan total. Apabila ikan atau tanaman
dikatakan memerlukan air dengan kesadahan tinggi (keras) atau rendah
(lunak), hal ini pada dasarnya mengacu kepada GH. Ketidaksesuaian GH akan
mempengaruhi transfer hara/gizi dan hasil sekresi melalui membran dan dapat
mempengaruhi kesuburan, fungsi organ dalam (seperti ginjal), dan
pertumbuhan. Setiap jenis ikan memerlukan kisaran kesadahan (GH)
tertentu untuk hidupnya. Pada umumnya, hampir semua jenis ikan dan
tanaman dapat beradaptasi dengan kondisi GH lokal, meskipun demikian, tidak
demikian halnya dengan proses pemijahan. Pemijahan bisa gagal apabila
dilakukan pada nilai GH yang tidak tepat.
Kesadahan karbonat atau KH merupakan besaran yang menunjukkan
kandungan ion bikarbonat (HCO 3-) dan karbonat (CO3–) di dalam air. KH sering
disebut sebagai alkalinitas yaitu suatu ekspresi dari kemampuan air untuk
mengikat kemasaman (ion-ion yang mampu mengikat H +). Oleh karena itu,
dalam sistem air tawar, istilah kesadahan karbonat, pengikat kemasaman,
kapasitas pem-bufferan asam, dan alkalinitas sering digunakan untuk
menunjukkan hal yang sama. Dalam hubungannya dengan kemampuan air
mengikat kemasaman, KH berperan sebagai agen pem-buffer-an yang
berfungsi untuk menjaga kestabilan pH.
KH pada umumnya sering dinyatakan sebagai derajat kekerasan dan
diekspresikan dalam CaCO3 seperti halnya GH. Kesadahan karbonat dapat
diturunkan dengan merebus air yang bersangkutan, atau dengan melalukan air
melewati gambut. Untuk menaikkan kesadahan karbonat dapat dilakukan
dengan menambahkan natrium bikarbonat (soda kue), atau kalsium karbonat.
Penambahan kalsium karbonat akan menaikan sekaligus baik KH maupun GH
dengan proporsi yang sama.
Mineral yang merupakan sumber primer ion kalsium dalam air diantara
mineral-mineral yang berperan adalah gips, CaSO 4.2H2O; anhidratnya, CaSO4;
dolomite, CaMg (CO3)2; kalsit dan argonite yang merupakan modifikasi yang
berbeda dari CaCO3. Air yang mengandung karbon dioksida mudah melarutkan
kalsium dari mineral-mineral karbonat.
CaCO3 + CO2 + H2O Ca2+ + 2HCO3-
93
Reaksi sebaliknya berlangsung bila CO2 hilang dari perairan.
karbondioksida yang masuk keperairan melalui keseimbangan dengan atmosfer
tidak cukup besar konsentrasinya untuk melarutkan kalsium dalam perairan
alami, terutama air tanah. Pernafasan mikroorganisma, penghancur bahan
organik dalam air, dan sediment berperan sangat besar terhadap kadar CO 2 -
dan HCO3- dalam air. Hal ini merupakan faktor penting dalam proses kimia
perairan dan geokimia.
Ion kalsium, bersama-sama dengan magnesium dan kadang-kadang
kesadahan air, baik yang bersifat kesadahan tetap. Kesadahan sementara
disebabkan oleh bikarbonat dalam air dan dapat dihilangkan dengan jalan
mendidihkan air tersebut karena terjadi reaksi:
Ca2+ +2 HCO3- CaCO3 + CO2 + H2O
Sedangkan kesadahan tetap disebabkan oleh adanya kalsium atau
sulfat yang proses pelunakannya melalui proses kapur – soda abu, proses
zeolit, dan proses resin organik. Air sadah juga tidak
menguntungkan/mengganggu proses pencucian menggunakan sabun. Bila
sabun digunakan pada air sadah, mula-mula sabun harus bereaksi terlebih
dahulu dengan setiap ion kalsium dan magnesium yang terdapat dalam air
sebelum sabun dapat berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Hal ini
bukan saja akan banyak memboroskan pengunaan sabun, tetapi gumpalan-
gumpalan yang terjadi akan mengendap sebagai lapisan tipis pada alat-alat
yang dicuci sehingga mengganggu pembersihan dan pembilasan oleh air.
Air sadah mengakibatkan konsumsi sabun lebih tinggi, karena adanya
hubungan kimiawi antara ion kesadahan dengan molekul sabun menyebabkan
sifat detergen sabun hilang. Kelebihan ion Ca 2+ serta ion CO32-+ (salah satu ion
alkaliniti) mengakibatkan terbentuknya kerak pada dinding pipa yang
disebabkan oleh endapan kalsiumkarbonat CaCO 3. Kerak ini akan mengurangi
penampang basah pipa dan menyulitkan pemanasan air dalam ketel, serta
mengurangi daya koagulasi yang melalui dalam pipa dengan menurunnya
turbulensi.
Ion kalsium, Ca2+ mempunyai kecenderungan relatif kecil untuk
membentuk ion kompleks. Dalam kebanyakan sistem perairan air tawar, jenis
kalsium yang pertama-tama larut yang ada adalah Ca 2+, oleh karena itu
konsentrasi HCO3- yang sangat tinggi, pasangan ion, Ca 2+ – HCO3- dapat
94
terbentuk dalam jumlah yang cukup banyak. Hal yang sama dalam air yang
kandungan sulfatnya tinggi pasangan ion Ca 2+ – SO42- dapat terjadi.
Tidak seperti halnya dengan kalsium yang densitas muatan dari ion
Ca2+ relatif lebih kecil dibandingkan dengan lainnya, maka densitas muatan
ion Mg2+ jauh lebih besar dan ikatan yang lebih kuat dengan air untuk
melakukan hidrasi. Magnesiun dalam air terutama terdapat sebagai ion Mg 2+
HCO3- dan Mg2+ SO42- terjadi bila konsentrasi bikarbonat dan sulfat yang tinggi.
Mineral-mineral seperti dolomit adalah paling umum dalam air.
CaMg (CO3)2 + 2 CO2 +2 H2O Ca2+ + Mg2+ + 4 HCO3-
Pelunakan adalah penghapusan ion-ion tertentu yang ada dalam air dan
dapat, bereaksi dengan zat-zat lain hingga distribusi air dan penggunaannya
terganggu.
Kesadahan dalam air terutama disebabkan oleh ion-ion Ca 2+ dan Mg2+,
juga oleh Mn2+, Fe2+ dan semua kation yang bermuatan dua. Air yang
kesadahannya tinggi biasanya terdapat pada air tanah di daerah yang bersifat
kapur.
Sebagai kation kesadahan, Ca2+ selalu berhubungan dengan anion yang
terlarut khususnya anion alkaliniti : CO 32- , HCO3- dan OH-. Ca2+ dapat bereaksi
dengan HCO3- membentuk garam yang terlarut tanpa terjadi kejenuhan.
Sebaliknya reaksi dengan CO32- akan membentuk garam karbonat yang larut
sampai batas kejenuhan di mana titik jenuh berubah dengan nilai pH. Bila titik
jenuh dilampaui, terjadi endapan garam kalsium karbonat CaCO 3 dan membuat
kerak yang terlihat pada dinding pipa atau dasar ketel. Namun, pada proses
pelunakan ini keadaan harus dibuat sehingga sedikit jenuh, karena dalam
keadaan tidak jenuh terjadi reaksi yang mengakibatkan karat terhadap pipa.
Kerak yang tipis akibat keadaan sedikit jenuh itu justru melindungi dinding dari
kontak dengan air yang tidak jenuh (agresip). Ion Mg 2+ akan bereaksi dengan
OH- membentuk garam yang terlarut sampai batas kejenuhan dan mengendap
sebagai Mg(OH)2 bila titik kejenuhan dilampaui.
Ion Ca2+ dan Mg2+ diendapkan sebagai CaCO3 dan Mg(OH)3 menurut
reaksi keseimbangan kimiawi sebagai berikut :
Mg2+ + 2 OH- → Mg(OH)2
Ca2+ + C032- → CaCO3

95
CO32- berasal dari karbondioksida CO2 dan bikarbonat HCO3- yang
sudah terlarut dalam air sesuai dengan reaksi berikut :
CO2 + OH- → HCO3-
HCO3+ + OH- → CO32- + H2O
Kesadahan yang terlalu tinggi akan menambah nilai pH larutan sehingga
daya kerja aluminat tidak efektif karena ion aluminium yang bersifat amfoter
akan mengikuti lingkungannya dimana akan terbentuk senyawa aluminium yang
sukar mengendap. Apabila kesadahan terlalu rendah secara simultan alkalinitas
juga cenderung rendah ini akan mengganggu penyusunan ikatan antara koloida
dengan aluminat dimana gugus hidrofobik koloida akan tetap melayang dan
sukar bereaksi dengan koagulan mengakibatkan massa atom relatif ringan
sehingga sukar mengendap.
Kesadahan ini umumnya dihilangkan menggunakan resin penukar ion.
Resin pelunak air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun
demikian tidak efektif digunakan untuk sekala besar. Resin adalah zat yang
punya pori yang besar dan bersifat sebagai penukar ion yang berasal dari
polysterol, atau polyakrilat yang berbentuk granular atau bola kecil dimana
mempunyai struktur dasar yang bergabung dengan grup fungsional kationik,
non ionik/anionik atau asam. Sering kali resin dipakai untuk menghilangkan
molekul yang besar dari air misalnya asam humus, liqnin, asam sulfonat. Untuk
regenerasi dipakai garam alkali atau larutan natrium hidroksida, bisa juga
dengan asam klorida jika dipakai resin dengan sifat asam. Dalam regenerasi itu
dihasilkan eluen yang mengandung organik dengan konsentrasi tinggi. Untuk
proses air minum sampai sekarang hunya dipakai resin dengan sifat anionik.
Resin penukar ion sintetis merupakan suatu polimer yang terdiri dari dua
bagian yaitu struktur fungsional dan matrik resin yang sukar larut. Resin
penukar ion ini dibuat melalui kondensasi phenol dengan formaldehid yang
kemudian diikuti dengan reaksi sulfonasi untuk memperoleh resin penukar ion
asam kuat.
Sedangkan untuk resin penukar ion basa kuat diperoleh dengan
mengkondensasikan phenilendiamine dengan formaldehid dan telah
ditunjukkan bahwa baik resin penukar kation dan resin penukar anion hasil
sintesis ini dapat digunakan untuk memisahkan atau mengambil garam –
garam.
96
Pada umumnya senyawa yang digunakan untuk kerangka dasar resin
penukar ion asam kuat dan basa kuat adalah senyawa polimer stiren
divinilbenzena. Ikatan kimia pada polimer ini amat kuat sehingga tidak mudah
larut dalam keasaman dan sifat basa yang tinggi dan tetap stabil pada suhu
diatas 150oC.
Polimer ini dibuat dengan mereaksikan stiren dengan divinilbenzena,
setelah terbentuk kerangka resin penukar ion maka akan digunakan untuk
menempelnya gugus ion yang akan dipertukarkan.
Resin penukar kation dibuat dengan cara mereaksikan senyawa dasar
tersebut dengan gugus ion yang dapat menghasilkan (melepaskan) ion positif.
Gugus ion yang biasa dipakai pada resin penukar kation asam kuat adalah
gugus sulfonat dan cara pembuatannya dengan sulfonasi polimer polistyren
divinilbenzena (matrik resin).
Resin penukar on yang direaksikan dengan gugus ion yang dapat
melepaskan ion negatif diperoleh resin penukar anion. Resin penukar anion
dibuat dengan matrik yang sama dengan resin penukar kation tetapi gugus ion
yang dimasukkan harus bisa melepas ion negatif, misalnya –N (CH 3)3+ atau
gugus lain atau dengan kata lain setelah terbentuk kopolimer styren
divinilbenzena (DVB), maka diaminasi kemudian diklorometilasikan untuk
memperoleh resin penukar anion.
Gugus ion dalam penukar ion merupakan gugus yang hidrofilik (larut
dalam air). Ion yang terlarut dalam air adalah ion – ion yang dipertukarkan
karena gugus ini melekat pada polimer, maka ia dapat menarik seluruh molekul
polimer dalam air, maka polimer resin ini diikat dengan ikatan silang (cross
linked) dengan molekul polimer lainnya, akibatnya akan mengembang dalam
air.
Mekanisme pertukaran ion dalam resin meskipun non kristalisasi adalah
sangat mirip dengan pertukaran ion- ion kisi kristal. Pertukaran ion dengan resin
ini terjadi pada keseluruhan struktur gel dari resin dan tidak hanya terbatas
pada efek permukaan. Pada resin penukar anion, pertukaran terjadi akibat
absorbsi kovalen yang asam. Jika penukar anion tersebut adalah poliamin,
kandungan amina resin tersebut adalah ukuran kapasitas total pertukaran.
Dalam proses pertukaran ion apabila elektrolit terjadi kontak langsung
dengan resin penukar ion akan terjadi pertukaran secara stokiometri yaitu
97
sejumlah ion – ion yang dipertukarkan dengan ion – ion yang muatannya sama
akan dipertukarkan dengan ion – ion yang muatannya sama pula dengan
jumlah yang sebanding.
Material penukar ion yang utama berbentuk butiran atau granular dengan
struktur dari molekul yang panjang (hasil co-polimerisasi), dengan memasukkan
grup fungsional dari asam sulfonat, ion karboksil. Senyawa ini akan bergabung
dengan ion pasangan seperti Na +, OH− atau H+. Senyawa ini merupakan
struktur yang porous. Senyawa ini merupakan penukar ion positif (kationik)
untuk menukar ion dengan muatan elektrolit yang sama (positif) demikian
sebaliknya penukar ion negatif (anionik) untuk menukar anion yang terdapat di
dalam air yang diproses di dalam unit “Ion Exchanger”.
Proses pergantian ion bisa “reversible” (dapat balik), artinya material
penukar ion dapat diregenerasi. Sebagai contoh untuk proses regenerasi
material penukar kationik bentuk Na+ dapat diregenerasi dengan larutan NaCl
pekat, bentuk H+ diregenerasi dengan larutan HCl sedangkan material penukar
anionik bentuk OH− dapat diregenerasi dengan larutan NaOH (lihat buku
panduan dari pabrik yang menjual material ini).
Regenerasi adalah suatu peremajaan, penginfeksian dengan kekuatan
baru terhadap resin penukar ion yang telah habis saat kerjanya atau telah
terbebani, telah jenuh. Regenerasi penukaran ion dapat dilakukan dengan
mudah karena pertukaran ion merupakan suatu proses yang reversibel yang
perlu diusahakan hanyalah agar pada regenerasi berlangsung reaksi dalam
arah yang berkebalikan dari pertukaran ion.
2.4 KOMPLEKSOMETRI
Kompleksometri adalah titrasi yang didasarkan atas pembentukan
senyawa kompleks yang larut dari reaksi antara analit dengan titran.
a. Metoda dalam Kompleksometri
Titrasi Langsung
Digunakan untuk menganalisis hampir semua ion logam dan dengan
mengatur pH yang diinginkan untuk reaksi kompleksnya maka titrasi akan
berlangsung dengan baik. Titrasi ini menggunakan indikator metalokromatik.
Kesadahan total air (kalsium dan magnesium) dapat ditentukan dengan titrasi
langsung dengan EDTA, menggunakan indikator Eriochrom Black-T atau
Calmagite.
98
Titrasi Kembali
Digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTA lambat atau
apabila indikator yang sesuai tidak ada. Pada titrasi ini EDTA berlebih
ditambahkan dan kelebihannya dititrasi dengan standar magnesium dengan
menggunakan indikator Calmagite. Titrasi ini digunakan untuk menentukan
logam dalam endapan seperti Pb di dalam PbSO 4 dan Ca dalam CaC2O4.

Titrasi Penggantian
Digunakan apabila tidak ada indikator yang sesuai untuk ion logam yang
ditentukan. Analit yang mengandung ion logam (missal:M 2+) ditambah larutan
kompleks magnesium-EDTA yang relatif lemah.
M2+ + MgY2- MY2- + Mg2+
Mg2+ yang digantikan tersebut dititrasi dengan larutan standar EDTA
dengan menggunakan indikator Calmagite.

Penentuan Tak Langsung


Digunakan untuk penentuan Sulfat dan Fosfat. Sulfat ditentukan dengan
penambahan berlebih ion barium sehingga membentuk endapan BaSO 4.
Kelebihan Ba2+ kemudian dititrasi dengan EDTA.

b. Titrasi yang Melibatkan Ligan Unidentat

Titrasi Klorida dengan Merkurium


Titrasi ini merupakan titrasi yang menggunakan larutan merkurium(II)
nitrat atau merkurium (II) perklorat untuk menentukan klorida. Indikator yang
digunakan adalah natrium prusida (Na 2Fe(CN)5NO. Senyawa ini membentuk
endapan putih merkurium (II) nitroprusida dan titik akhir diambil dengan
munculnya kekeruhan putih dalam larutan yang homogen. Selain itu titran
merkurium(II) digunakan juga untuk menentukan bromida, tiosianat, dan
sianida.

Titrasi Sianida dengan Ion Perak


Merupakan suatu titrasi yang melibatkan suatu ligan unidentat dan suatu
ion logam yang disebut juga dengan titrasi Liebig yaitu titrasi sianida dengan
perak nitrat. Dasar reaksi dari metode ini adalah pembentukan kompleks
Ag(CN)2- yang sangat stabil.
99
2 CN- + Ag+ Ag(CN)2-
Titik akhir didasarkan pada munculnya kekeruhan yang disebabkan oleh
pengendapan perak sianida :
Ag+ + Ag(CN)2- 2 AgCN
Atau :
Ag+ + Ag(CN)2- 2 Ag[Ag(CN)2]
Kadang – kadan terdapat kesulitan untuk melihat endapan perak sianida.
Dalam modifikasi Deniges terhadap metoda Liebig, ion iodida ditambahkan
sebagai indikator. Endapan perak klorida mudah tampak. Untuk menghindari
pengendapan terlalu dini dari perak iodida maka ditambahkan ammonia.
c. Indikator Titrasi Kompleks
Indikator untuk titrasi kompleks merupakan asam atau basa lemah
organic yang dapat membentuk khelat dengan ion logam dan warna kelat
tersebut berbeda dengan warna indikator bebas.
1. Eriochrome Blact T
Merupakan indikator metalokromatik yang paling banyak digunakan pada
penentuan lebih dari 24 macam logam.

2. Calmagite
Daerah kerja calmagite mencakup pH 8,1 – 12,4 dan warna indikator
bebasnya biru.

100
3. Arsenazo
Indikator ini dipakai untuk Ca maupun Mg. Selain itu juga digunakan
untuk penentuan Th(IV)

4. NAS
Penggunaan NAS cukup luas, antara lain digunakan untuk penentuan
Cu, Co(II), Cd, Ni, Zn, Al.

3. TUGAS :
3.1 Jelaskan beserta contoh bagian-bagian dari senyawa/ion kompleks
3.2 Gambarkan senyawa kompleks dengan ligan bidentat
3.3 Apakah yang dimaksud dengan kompleksometri

101
3.4 Tuliskan macam-macam kompleksomteri
3.5 Tuliskan 4 buah indikator pada titrasi kompleks
3.6 Suatu sample CaCO3 murni seberat 0,2284 g dilarutkan dalam asam klorida
dan larutan itu diencerkan menjadi 250,0 ml dalam sebuah labu volumetric.
Suatu alikot sebanyak 50 ml memerlukan 41,36 ml larutan EDTA untuk
mentitrasinya. Hitung molaritas EDTA
3.7 Suatu sample air sebanyak 250 ml yang mengandung Ca 2+ dititrasi dengan
14,76 ml EDTA dalam soal 3.6. Hitung derajat kesadahan air dalam ppm. (1
ppm = 1 mg/lt)
3.8 Suaru sample seberat 0,7056 g yang mengandung NaCN dilarutkan dalam
air dan kemudian ditambahkan ammonia pekat dan larutan KI secukupnya.
Larutan itu membutuhkan 20,48 ml AgNO 3 0,1015 M untuk titrasi. Hitung %
NaCN dalam sample.

BAB XII
GRAVIMETRIK

102
1. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Mendefinisikan analisis gravimetric
1.2 Menguraikan langkah-langkah dalam analisis gravimetric
1.3 Menjelaskan tahapan-tahapan dalam pembentukan endapan
1.4 Menjelaskan tahapan-tahapan dalam pembakaran endapan
1.5 Menghitung faktor gravimetrik
1.6 Menyelesaikan perhitungan-perhitungan dalam gravimetrik

2. URAIAN
2.1 ANALISIS GRAVIMETRIK SECARA UMUM
Analisis gravimetric merupakan salah satu bagian dari analisis kimia.
Langkah pengukuran pada cara gravimetriK adalah pengukuran berat atau
berdasarkan penimbangan, dalam hal ini penimbangan hasil reaksi setelah
bahan yang dianalisis direaksikan. Hasil reaksi ini dapat berupa
- sisa bahan
- suatu gas
- suatu endapan
Berdasarkan hasil yang ditimbang, cara gravimetrik dibedakan menjadi :
- Cara evolusi
- Cara pengendapan
Dalam cara evolusi bahan direaksikan sehingga timbul gas; caranya
dapat dengan memanaskan bahan tersebut atau mereaksikannya dengan
suatu pereaksi. Pada umunya yang dicari adalah banyaknya gas yang terjadi, di
mana cara ini dapat dibedakan menjadi :
1. Cara Langsung
Gas yang terjadi ditimbang setelah diserap oleh suatu bahan. Yang ditimbang
adalah bahan penyerap ini, sebelum dan sesudah penyerapan, selisihnya
merupakan berat gas yang dicari.
2. Cara Tidak langsung
Analit ditimbang sebelum dan sesudah reaksi, selisihnya merupakan berat gas.

103
Cara evolusi biasanya digunakan untuk penentuan kadar air. Dalam
penentuan kadar air seringkali ditemui kesulitan yaitu berupa kesalahan-
kesalahan, sehingga harus diketahui dulu bagaimana cara air terikat pada
suatu bahan.
Macam-macam Kandungan Air
a. Air yang Terikat Secara Fisik
Untuk menghilangkan air yang terikat secara fisik diperlukan suhu yang
rendah. Umumnya 1000 – 1500 C, kadang-kadang cukup hanya membiarkan
bahan di udara bebas.
1. Air Terlarut
Yaitu air dalam bahan padat yang seakan-akan larut dalam bahan tersebut
2. Air Oklusi
Yaitu air yang terkurung dalam rongga-rongga di antara butiran-butiran zat
padat, atau rongga-rongga dalam kristal
3. Air Adsorpsi
Yaitu air yang terikat pada permukaan.
b. Air yang Terikat Secara Kimia
Air yang terikat secarta kimia mempunyai jumlah yang tertentu, menurut
suatu perbandingan berat yang tergantung dari macam bahan. Karena
ikatannya yang kuat sehingga dibutuhkan suhu yang tinggi untuk
melepaskannya.
1. Air Kristal atau Air Hidratasi
Yaitu air yang terikat sebagai molekul atau ion-ion dalam kristal. Air ini
berbentuk H2O. Contohnya : CuSO4.5H2O dan BaCl2.2H2O.
2. Air Konstitusi
Yaitu air yang merupakan bagian molekul zat padat yang bersangkutan
tetapi tidak berbentuk H2O, akan tetapi bila padatan itu terurai akan terbentuk
H2O. Contohnya gula, NaHCO3.
Dalam cara pengendapan, analit direaksikan sehingga terbentuk
endapan yang kemudian ditimbang. Atas dasar cara pembentukan endapan,
maka cara pengendapan dibagi menjadi :
1. Gravimetrik
Endapan dibentuk dari reaksi analit dengan suatu pereaksi. Endapan
biasanya berupa senyawa.
104
2. Elektrogravimetrik
Endapan dibentuk secara elektrokimia, yaitu analit dielektrolisa sehingga
membentuk endapan berupa logam.
Pada bab ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah cara gravimetrik.
Analisis gravimetric merupakan analisis kuantitatif dengan cara
mengisolasi dan menimbang unsur atau senyawa yang dianalisis. Analit secara
fisik dipisahkan dari semua komponen lainnya dari contoh maupun dari
solvennya. Pada metoda gravimetrik pemisahan ini dilakukan dengan cara
mengendapkan unsur atau senyawa yang dianalisis. Pengendapan dilakukan
dengan mereaksikan unsur atau senyawa tersebut dengan suatu zat
pengendap yang akan menghasilkan suatu zat dengan kelarutan yang kecil.
Kemudian diulakukan penyaringan endapan, pencucian, pengeringan,
pembakaran sehingga didapatkan zat yang stabil untuk selanjutnya dilakukan
penimbangan.
Persyaratan yang harus dipenuhi agar cara gravimetrik dapat berhasil
adalah :
1. Proses pemisahan harus cukup sempurna hingga kuantitas analit
yang tidak mengendap secara analitik tidak ditemukan.
2. Zat yang ditimbang harus mempunyai susunan tertentu dan
mempunyai kemurnian yang cukup tinggi.
2.2 STOIKIOMETRIK
Dalam prosedur gravimetrik suatu endapan ditimbang dan dari harga ini
berat analit dalam contoh dihitung. Persentase analit adalah :

%A = berat A x 100
berat contoh
Untuk menghitung berat analit dari berat endapan digunakan suatu factor
gravimetric. Faktor ini didefinisikan sebagai jumlah gram analit dalam g dari
endapan. Perkalian berat endapan P dengan factor gravimetric memberikan
jumlah gram analit di dalam contoh.

Berat A = berat P x factor gravimetric


Maka :

105
Berat P x factor gravimetrik
%A = x 100
berat contoh

Tabel 7. Beberapa Faktor Gravimetrik

Zat yang Dihitung Zat yang Dicari Faktor Gravimetrik

AgCl Cl Cl/AgCl
BaSO4 S S/BaSO4
BaSO4 SO3 SO3/BaSO4
Fe2O3 Fe 2Fe/Fe2O3
Fe2O3 FeO 2FeO/Fe2O3
Fe2O3 Fe3O4 2Fe3O4/3 Fe2O3
Mg2P2O7 MgO 2 MgO/ Mg2P2O7
Mg2P2O7 P2O5 P2O5/ Mg2P2O7
PbCrO4 Cr2O3 Cr2O3/2 PbCrO4
K2PtCl6 K 2K/ K2PtCl6

2.3 METODA ANALISIS GRAVIMETRIK


Langkah-langkah metoda analisis gravimetric adalah sebagai berikut :
1. Pengendapan
2. Penyaringan
3. Pencucian
4. Pengeringan
5. Penimbangan
6. Perhitungan
1. Pengendapan
Apabila tetapan hasil kali kelarutan suatu senyawa dilampaui dan pengendapan
mulai terjadi, maka sejumlah partikel kecil disebut inti telah terbentuk.
Pengendapan selanjutnya akan berlangsung pada partikel-partikel yang
terbentuk semula ini, dengan makin bertumbuhnya partikel dalam ukurannya,
sehingga cukup besar untuk turun ke dasar larutan. Distribusi ukuran partikel
endapan ditentukan oleh kecepatan aktif dari proses sebagai berikut :
1. Pembentukan inti (nukleasi)
2. Pertumbuhan inti

106
Dari kedua proses di atas diharapkan laju nukleasi lebih kecil
dibandingkan dengan laju pertumbuhan inti. Sehingga dihasilkan sedikit
partikel dengan ukuran yang realtif besar. Material yang demikian akan lebih
mudah disaring dan lebih murni keadaannya dibandingkan dengan keadaan
partikel kecil.
Pada peristiwa pengendapan dapat terjadi proses kopresipitasi yaitu
proses yang membawa serta suatu zat yang biasanya terlarut, pada waktu
pengendapan dari endapan yang diinginkan. Selain itu dapat juga terjadi proses
post presipitasi yaitu proses terdepositnya suatu zat pengotor setelah
pengendapan dari zat yang diinginkan.
2. Teknik Pencucian dan Penyaringan Endapan
Dalam prosedur gravimetrik zat yang diinginkan dipisahkan dalam
bentuk endapan, endapan ini harus bebas dari zat pengotor yang tidak
diharapkan, untuk kemudian dikeringkan dan ditimbang. Penyaringan
dilakukan dengan corong dan kertas saring, maupun krus saringan.
Bermacam-macam jenis kertas saring yang dapat digunakan. Untuk
analisa kuantitatif harus digunakan kertas yang berkualitas bebas abu. Kertas
ini telah dikerjakan dengan asam-asam klorida dan fluorida selama dibuat
sehingga berkadar zat anorganik rendah dan apabila dibakar akan
meninggalkan abu dalam jumlah yang dapat diabaikan. (untuk kertas
berdiameter 11 cm mempunyai kadar abu 0,13 mg)

Gambar 22. Melipat Kertas Saring

107
Suatu endapan biasanya dicuci dengan air ataupun dengan larutan
pencuci tertentu, sebelum dikeringkan dan ditimbang. Pencucian biasanya
dilakukan bersamaan pada tahap penyaringan. Di sini endapan dipisahkan dari
cairan induknya dalam bentuk yang padat. Pada waktu endapan ada dalam
kertas saring,maka endapan dapat dicuci dengan melewatkan larutan pencuci
melalui saringan. Tetapi cara tersebut kurang efektif untuk menghilangkan
kotoran dlam endapan. Cara yang lebih efektif adalah dengan menuangkan
terlebih dahulu cairan induk ke dalan saringan. Endapan diusahakan sebanyak
mungkin tertinggal dalam gelas kimia. Endapan yang tertinggal tersebut diaduk
dengan cairan pencuci, selanjutnya larutan pencuci tersebut dituangkan ke
dalam saringan meninggalkan endapan. Pencucian ini dapat diulang sesering
mungkin

3. Pembakaran Endapan
Setelah kertas saring mengering di corong, maka bagian atas kertas dilipat
untuk membungkus endapan dengan sempurna. Dengan sangat hati-hati
untuk menghindari sobeknya kertas basah , endapan dan kertas saringnya
tersebut dipindahkan ke dalam krus.
Langkah-langkah pembakaran endapan adalah sebagai berikut :.

3.1 Pengeringan Endapan dan Kertas Saring.


Dapat dilakukan pada suhu 100 0C-1250C di dalam tanur. Jika
pembakaran harus segera diikuti dengan pengeringan maka dilakukan pada
suatu pembakar. Tempatkan krus yang ditutup pada kedudukan miring dalam
segitiga terbuat dari porselin dan tempatkan api kecil di bawah krus. Harus
dihindari pemanasan ya ng terlalu kuat, nyala api tidak boleh menyentuh krus.
3.2 Peng-arangan Kertas
Setelah endapan dan kertas kering sama sekali, tutup krus dibuka sedikit
agar udara dapat masuk, kemudian pemanasan ditingkatkan untuk
pengarangan kertas. Besarkan sedikit nyala apinya dan tempatkan kembali di
bawah dasar krus. Kertas menjadi lapuk tetapi tidak boleh terbakar dengan
nyala. Jika kertas terbakar, maka segera tutup krus untuk memadamkannya.

108
3.3 Membakar Habis Karbon dari Kertas
Setelah kertas diarangkan dengan sempurna, dan bahayanya berkobar
menjadi api telah dilalui, maka besarnya nyala api dapat ditingkatkan sampai
dasar krus menjadi merah. Hal ini dilakukan dengan berangsur-angsur. Sisa
karbon dan ter organic dibakar habis pada tahap ini. Pemanasan dilanjutkan
hingga pembakaran sempurna, yang terbukti dari hilangnya zat berwarna gelap.
Sebaiknya sekali-sekali krus diputar agar semua bagian dipanasi dengan
sempurna.
3.4 Pembakaran Tahap Akhir
Untuk mengakhiri pembakaran, letakkan krus tegak dengan mengambil
tutupnya untuk memasukkan udara dan memanaskan pada suhu yang
ditentukan untuk endapan tertentu. Pembakaran dilanjutkan hingga krus
mencapai berat yang stabil, yaitu hingga selisih antara dua penimbangan
kurang dari 0,5 mg.

2.4 BAHAN-BAHAN PENGENDAP ORGANIK


Selain bahan-bahan anorganik, terdapat juga sejumlah zat organik yang
digunakan sebagai bahan pengendap untuk ion-ion anorganik, kation maupun
anion. Kebanyakan pengendap organik tergolong pembentuk kelat tak
bermuatan. Beberapa contoh pengendap organik yang sering digunakan untuk
analisis gravimetrik :

1. 8- Hidroksikuinolin

Sekitar 20 kation dapat diendapkan dengan zat ini, sehingga kurang


spesifik. Kelarutan endapan berbeda menurut kationnya. Di samping itu pH
juga sangat mempengaruhi kelarutan karena reaksi pengendapannya

109
melepaskan ion-ion H+. Karenanya dengan mengatur pH, dapat dihindarkan
kontaminasi endapan.

2. α- Nitroso β-naftol

Senyawa ini merupakan salah satu pereaksi organic selektif yang


pertama-tama ditemukan.

3. Dimetil Glioksim

Pereaksi ini tak ada tandingannya dalam sifatnya sebagai pereaksi yang
spesifik, dalam larutan asam hanya Pd (palladium) yang diendapkan
sedangkan dalam larutan yang agak basa hanya Ni yang mengendap

2.4 PENGGUNAAN ANALISIS GRAVIMETRIK


Selain untuk menganalisis zat-zat anorganik, cara gravimetrik juga
digunakan dalam analisis zat-zat organik, seperti penentuan kolesterol dalam
padi-padian dan laktosa dalam susu.

110
Penentuan kadar air yang banyak dilakukan, menggunakan cara
gravimetrik. Bahan-bahan makanan baik dari hewan maupun tumbuh-tumbuhan
dianalisis kadar airnya dengan cara gravimetrik.

3. CONTOH SOAL
Sebuah sampel garam klorida seberat 0,6025 g telah dilarutkan dalam air dan
kloridanya diendapkan dengan perak nitrat berlebih. Endapan perak klorida
disaring, dicuci, dikeringkan dan diketahui beratnya 0,7134 g. Hitung % klorida
dalam sampel.
Misalkan g = gram Cl dalam sampel
Ag+ + Cl- → AgCl(p)
Karena 1 mol Cl memberikan 1 mol AgCl
Mol Cl = mol AgCl
g/35,45 = 0,7134/143,32
g = 0,7134 x 35,45/143,32
% Cl = berat Cl/berat sampel x 100

0,7134 x (35,45/143,32) x 100


=
0,6025

= 29,29

4. TUGAS :
1. Definisikan analisis gravimetric
2. Uraikan macam-macam air yang terikat pada suatu bahan
3. Uraikan langkah-langkah dalam gravimetric
4. Jelaskan tahap-tahap dalam pembentukan endapan
5. Jelaskan tahap-tahap dalam pemanggangan / pembakaran endapan
6. Hitung factor gravimetrik : zat yang ditimbang ditulis di muka, kemudian
adalah zat yang ditentukan :
KClO4 : K2O
PbCrO4 : Cr2O3
CaCO3 : CO2
AgCl : KClO4

111
7. Timbal dalam sebuah sampel seberat 0,6342 g suatu bijih diendapkan
sebagai PbSO4. Endapan dikeringkan dan ternyata beratnya 0,4381 g.
Hitung % Pb dalam bijih dan % sebagai PbO.
8. Belerang dalam sebuah sampel seberat 0,8423 diubah menjadi sulfat
dan sulfatnya diendapkan sebagai BaSO4. Endapan ternyata beratnya
0,3148 g setelah dicuci dan dibakar. Hitung % belerang dalam sampel
dan hitung % sebagai SO3.
9. Sebuah sampel seberat 0,6000 g yang terdiri dari CaC 2O4 dan MgC2O4
dipanaskan pada 5000C untuk mengubah kedua garam menjadi CaCO 3
dan MgCO3. Sampel kemudian beratnya 0,4650 g. Jika sampel
dipanaskan lagi 9000C yang hasilnya adalah CaO dan MgO. Berapakah
berat campuran oksida
10. Sebuah campuran yang mengandung hanya AgCl dan AgBr beratnya
0,4682 g. Telah diperlakukan dengan Cl 2 sehingga mengubah AgBr
menjadi AgCl. Contoh sekarang beratnya 0,3604 g. Hitung % AgBr
dalam sampel semula.
11. Natrium dan kalium dalam sebuah batu karang, unsur2nya diubah
menjadi klorida dan campuran NaCl dan KCl ternyata beratnya 0,6648 g.
klorida2nya diubah menjadi sulfat, dan campuran Na 2SO4 dan K2SO4
ternyata mempunyai berat 0,7849 g. Jika berat batu karang semula
0,8792 g, maka hitung persentase Na 2O dan K2O di dalam contohBerapa
berat contoh yang mengandung 12,5% FeO harus diambil untuk
analisis, jika diinginkan untuk memperoleh suatu endapan Fe 2O3 yang
beratnya 0,3600 g.
12. Sebuah contoh kuningan mengandung 9,20% timah, 5,40% timbal,
4,30% seng dan 81,10% tembaga. Unsur2 ini ditentukan secara
gravimetric dengan menimbang endapan2 berikut : SnO 2, PbSO4,
CuSCN, dan Zn2P2O7. Jika contoh seberat 0,600 g dianalisis, berapa
berat masing-masing endapan akan diperoleh?

112
BAB XIII
ANALISIS AIR

1. TUJUAN KHUSUS :
1.1 Menjelaskan analisis sifat fisika dari air
1.2 Menjelaskan analisis sifat kimia dari air
1.3 Menjelaskan tes mikrobiologi dari air.

2. URAIAN :
Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan
fungsinya bagi kehidupan tidak pernah dapat digantikan oleh senyawa lain. Air
bersih dan air murni merupakan bahan yang sangat penting juga langka
dengan semakin majunya iptek, masyarakat dan peradaban industri.
Sebaliknya berkat perkembangan iptek, mutu air pun secara bertahap dapat
diperbaiki.
Untuk mendapatkan air yang berkualitas maka dilakukan pengolahan
secara kimia, fisika, dan biologi. Untuk menentukan kualitas air maka dilakukan
analisis air baik untuk sifat fisika, kimia,dan biologinya.
2.1 Analisis Sifat Fisika Air
a. Suhu
Suhu air ialah derajat panas air yang dinyatakan dalam satuan panas
derajat Celcius (0C). Suhu air ditentukan dengan menggunakan termometer
atau termistor.
b. Warna
Warna ialah warna nyata dari air yang dapat disebabkan oleh adanya ion
metal (besi dan mangan), humus, plankton, tumbuhan air dan limbah industri,
yang tidak menggunakan zat warna tertentu setelah dihilangkan kekeruhannya,
yang dinyatakan dalam satuan warna skala Pt-Co.
c. Kekeruhan
Kekeruhan ialah sifat optik dari suatu larutan, yang menyebabkan
cahaya yang melaluinya terabsorbsi dan terbias dihitung dalam satuan mg/L
SiO2. Air dikatakan keruh bila mengandung material yang nampak membentuk
suspensi. Kekeruhan dapat disebabkan oleh alga yang mati maupun yang

113
hidup atau oleh organisme lain, yang kebanyakan penyebabnya bersama-sama
dengan Lumpur dan tanah liat. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan Turbidity
Unit (tu) dan diukur dengan membanding secara nefelometri air sample
dengan larutan standar formazin.
d. Kejernihan
Kejernihan ialah dalamnya lapisan air yang dapat ditembus oleh sinar
matahari yang dinyatakan dalam satuan cm. Uji ini dilakukan dengan mengukur
jarak antara permukaan air dengan benda (keping secchi) yang masih terlihat
dengan mata dan pada saat cahaya matahari cukup

Gambar 23. Keping Secchi

e. Residu Total
Residu yang tersisa setelah penguapan contoh dan dilanjutkan dengan
pengeringan pada suhu tertentu secara merata dan dinyatakan dalam satuan
mg/L. Pemeriksaan residu total dilakukan dengan cara menimbang berat
contoh yang telah dikeringkan pada suhu 103-105 0C hingga diperoleh berat
tetap.
f. Residu Tersuspensi
Yaitu berat zat padat dalam air yang tertahan pada penyaring dengan
kertas saring yang berpori sebesar 0,45 m dan dikeringkan pada suhu tertentu
secara merata yang dinyatakan dalam satuan mg/L.Pemeriksaan residu
tersuspensi dilakukan dengan cara menimbang berat residu di dalam contoh
yang tertahan pada kertas saring yang berpori 103-105 0C hingga diperoleh
berat tetap.

114
g. Residu Terlarut
Yaitu berat zat padat yang dapat lolos melalui saringan yang berpori
sebesar 0,45 m dan dikeringkan pada suhu tertentu secara merata dan
dinyatakan dalam satuan mg/L.
Pemeriksaan residu terlarut dilakukan dengan cara menimbang berat
residu yang lolos melalui kertas saring yang berpori < 45 m dan telah
dikeringkan pada suhu 103-1050C.
h. Derajat Keasaman (pH)
Yaitu logaritma negatif dari aktivitas ion hydrogen dalam suatu larutan.
Aktivitas ion hydrogen dalam air diukur secara potensiometri dengan elektroda
gelas. Elektroda ini akan menghasilkan perubahan tegangan yang disebabkan
oleh aktivitas ion hideogen sebesar 59,1 mv/pH unit pada suhu 25 0C.
i. Daya Hantar Listrik (DHL)/Konduktivitas
Yaitu kemampuan dari larutan yang menghantarkan arus listrik yang
dinyatakan dalam mho/cm, kemampuan tersebut tergantung pada kadar zat
terlarut yang mengion di dalam air, pergerakan ion, valensi dan suhu.DHL
diukur dengan elektroda konduktometer dengan menggunakan larutan KCl
sebagai larutan baku pada suhu 250C.

2.2 Analisis Sifat Kimia Air


a. Salinitas/Kegaraman
Merupakan residu terlarut dalam air, apabila semua bromida dan iodida
dianggap sebagai khlorida. Pada penentuan ini digunakan metode
argentometri atau salinometri. Salinometri merupakan cara mengukur salinitas
dengan alat salinometer.
b. Klorositas
Yaitu kadar klor dalam satuan g/L yang digunakan pada perhitungan
salinitas. Perhitungannya sama dengan salinitas.
c. Kesadahan
Kesadahan total yatu jumlah ion-ion Ca 2+ dan Mg2+ yang dapat
ditentukan melalui titrasi dengan EDTA sebagai titran dan menggunakan
indikator Eriochrome Black T.
d. Alkalinitas

115
Alkalinitas merupakan kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam
tanpa penurunan nilai pH larutan. Sama halnya dengan buffer, alkalinitas
merupakan pertahanan air terhadap pengasaman. Alkaliniti adalah hasil reaksi-
reaksi terpisah dalam larutan hingga merupakan sebuah analisa makro yang
menggabungkan beberapa reaksi.
Alkalinitas dalam air disebabkan oleh ion-ion karbonat, bikarbonat,
hidroksida, borat, silikat dan lain-lain. Alkalinitas dapat ditentukan dengan titrasi
asam-basa yaitu dengan mentitrasi sample air dengan asam-asam kuat yaitu
asam sulfat dan asam klorida.
e. Fe
Besi adalah salah satu elemen yang selalu dapat ditemui pada hampir
semua badan air, besi yang ada di dalam air dapat bersifat :
-
terlarut sebagai Fe2+ dan Fe3+
-
tersuspensi sebagai koloidal (diameter < 1 m) atau lebih besar, seperti
Fe2O3, FeO, FeOOH, Fe(OH)3 dan sebagainya.
-
Tergabung dengan zat organis atau zat padat yang inorganic (seperti
tanah liat)
Pada air permukaan jarang ditemui kadar Fe lebih besar dari 1 mg/l,
tetapi di dalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi. Konsentrasi Fe yang
tinggi dapat menodai pakaian dan peralatan dapur.
Penentuan kadar besi di air dapat dilakukan dengan menggunakan
peralatan spektrofotometer.
f. Nitrogen; amoniak
Nitrogen dapat ditemui hampir di setiap badan air dalam bermacam-
macam bentuk, seperti : NH3, N2, NO2-, NO3-. Biasanya senyawa-senyawa
nitrogen tersebut adalah senyawa terlarut.
Analisa Kjedahl merupakan analisa untuk nitrogen Kjedahl yaitu jumlah
N-organis dan N-amoniak bebas. Analisa Kjedahl pada umumnya dilaksanakan
pada sample air yang diduga mengandung zat organis seperti air buangan
penduduk , industri, dan air sungai (tidak pada air sumur dan air PAM). Selain
analisa Kjedahl nitrogen, amoniak dapat dianalisa dengan cara Nessler, cara
titrimetris. Dan cara elektroda khusus.

g. Nitrat, nitrit
116
Analisa nitrat cukup sulit, karena rumit dan peka terhadap berbagai jenis
gangguan. Namun ada beberapa cara analisa yang tersedia antara lain :
-
analisa spektrofotometer pada panjang gelombang 220 nm
-
Analisa dengan elektroda khusus (dan pH meter)
-
Analisa dengan brusin untuk air dengan kadar 0,1 – 2 mg NO 3-N/l.
-
Analisa dengan kromotropik untuk air dengan kadar 0,1 – 5 mg NO 3-N/l
-
Analisa dengan reduksi menurut Devarda untuk air dengan kadar NO 3-N
> 2 mg/l
-
Analisa kolorimetris khusus baginitrit.
h. Fosfat
Fosfat terdapat dalam air alam atau air limbah sebagai senyawa
ortofosfat, polifosfat dan fosfat organis. Berdasarkan sifat fisis teradapat fosfat
terlarut, fosfat tersuspensi, dan fosfat total yaitu jumlah fosfat terlarut dengan
fosfat tersuspensi.
Jenis analisa untuk fosfat terdiri dari 4 tahapan :
1. Penyaringan pendahuluan pada filter membran untuk memisahkan fosfat
terlarut dengan yang tersuspensi
2. Hidrolisa pendahuluan untuk mengubah polifosfat menjadi ortofosfat
3. Peleburan (digesti)pendahuluan dengan asam sulfat untuk megubah
semua polifosfat serta fosfat organis mejadi ortofosfat
4. analisis ortofosfat dengan menggunakan metoda asam asorbik yaitu
dengan menggunakan spektrofotometer.
i. COD
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia
adalah jumlah oksigen (mg. O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat
organis yang ada dalam 1 l sample air, di mana pengoksidasi K 2Cr2O7
digunakan sebagai sumber oksigen (oxygen agent)
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis
yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan
mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air.
Sebagian besar zat organis melalui tes COD ini dioksidasi oleh larutan
K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih :

DE

117
CaHbOc + Cr2O72- + H+ CO2 + H2O + Cr3+
Zat organis Ag2SO4

Warna kuning warna hijau

Selama reaksi yang berlangsung + 2 jam ini, uap direfluk dengan alat
kondensor, agar zat organis volatile tidak lenyap keluar.
Perak sulfat Ag2SO4 ditambahkan sebagai katalisator untuk
mempercepat reaksi. Sedang merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan
gangguan klorida yang pada umumnya ada di dalam air buangan.
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organis habis teroksidasi
maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluk. K 2Cr2O7
yang tersisa di dalam larutan tersebut digunakan untuk menentukan berapa
oksigen yang telah terpakai. Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi
dengan ferro ammonium sulfat (FAS), di mana reaksi yang berlangsung adalah
sebagai berikut :

6 Fe2+ + Cr2O72- + 14 H+ 6 Fe3+ + 2 Cr3+ + 7 H2O

Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu di


saat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K 2Cr2O7
dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak
mengandung zat organis yang dapat dioksidasi oleh K 2Cr2O7.

j. BOD
Biological Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen biologis adalah
suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses
mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. Angka BOD adalah jumlah
oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan / mengoksidasi
hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat organis yang
tersuspensi dalam air.
Penentuan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran
akibat air buangan penduduk atau industri sehingga dapat dirancang system
pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Penentuan BOD
didasarkan atas reaksi oksidasi zat organis.

118
Penentuan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organis dengan
oksigen di dalam air, dan proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri
aerobik. Sebagai hasil oksidasi akan terbentuk karbon dioksida, air dan
amoniak. Reaksi oksidasi dapat dituliskan sebagai berikut :

CnHaObNC + (n + a/4 – b/2 – 3c/4) O2 nCO2 + (a/2 –3c/2)H2O +c


NH3
Zat organis oksigen bakteri

Pada penetapan BOD juga digunakan zat pengoksidasi K 2Cr2O7 namun sisanya
dititrasi dengan tiosulfat.

2.3 Analisis Mikrobiologi


Hampir di setiap badan air, baik air alam maupun air buangan terdapat
bakteri-bakteri. Kecuali pada air tanah yang telah tersaring oleh lapisan
geologis tanah, sehingga semua bakteri yang pada umumnya berukuran 0,5
sampai 3m akan tertahan. Air yang telah disuling cukup lama atau air yang
telah melalui proses desinfeksi secara teratur, juga bebas akan bakteri yang
berbahaya.
Tes mikrobiologi adalah tes untuk mendeteksi adanya sejenis bakteri dan
sekaligus menaksir konsentrasinya. Ada tiga metoda yang tersedia yaitu :
satandar plate count (SPC), metoda dengan tabung fermentasi/metoda most
probable number dan metoda penyaringan pada membran. Jenis bakteri yang
dianalisis adalah bakteri total, E. Coli (coli tinja), Coli total.

3. TUGAS :

1. Jelaskan klasifikasi air berdasarkan sumbernya


2. Apakah yang dimaksud dengan kekeruhan, konduktivitas, dan residu
terlarut
3. Apakah yang dimaksud dengan salinitas, kesadahan dan alkalinitas
4. Jelaskan perbedaan antara COD dan BOD
5. Jelaskan langkah kerja pada metoda SPC.

119
BAB XIV
ANALISIS MINYAK DAN LEMAK

Protein, karbohidrat dan lemak bersama-sama dengan air merupakan


konstituen utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk
pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan
lemak merupakam sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia. Lemak dan
minyak sebagai bahan pangan dibagi menjadi dua golongan, yaitu
1. Lemak yang siap dikonsumsi tanpa dimasak, misalnya : mentega,
margarin, dan lemak yang digunakan dalam kembang gula.
2. Lemak yang dimasak bersama bahan pangan atau sebagai medium
penghantar panas dalam mememasak bahan pangan, misalnya minyak
goring, shortening.
Minyak dan lemak termasuk golongan lipid, yaitu lipid netral. Minyak dan
lemak yang telah dipisahkan dari jaringan asalnya mengandung sejumlah kecil
komponen selain trigliserida, yaitu : lipid kompleks, sterol, asam lemak bebas,
lilin, pigmen yang larut dalam lemak, dan hidrokarbon. Komponen tersebut
mempengaruhi warna dan rasa produk minyak, serta berperan dalam proses
ketengikan
1. SUMBER MINYAK DAN LEMAK
Lemak dan minyak yang dapat dimakan , dihasilkan oleh alam yang
dapat bersumber dari bahan nabati dan hewani. Dalam tanaman atau hewan ,
minyak tersebut berfungsi sebagai sumber cadangan energi.
Minyak dan lemak dapat diklasikfikasikan berdasarkan sumbernya :
1. Bersumber dari tanaman :
a. Biji-bijian palawija : minyak jagung, biji kapas, kacang, wijen, kedele,
bunga matahari
b. Kulit buah tanaman tahunan : minyak zaitun dan kelapa sawit
c. Biji-bijian dari tanaman tahunan : kelapa, coklat, inti sawit.
2.Bersumber dari hewani
a. Susu hewan peliharaan : lemak susu
b. Daging hewan peliharaan : lemak sapi

120
c. Hasil laut : minyak ikan sardin, minyak ikan paus

2. SIFAT-SIFAT MINYAK DAN LEMAK


2.1 Sifat Fisik
a. Warna
Zat warna dalam minyak terdiri dari 2 golongan yaitu :
1. Zat warna alamiah
2. Warna dari degradasi zat warna alamiah
Zat Warna Alamiah
Zat warna yang termasuk golongan ini terdapat secara alamiah di dalam
bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada
waktu proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari  dan 
karotene, xanthofil, klorofil, dan anthosyanin. Zat warna ini menyebabkan
minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan , kehijau-hijauan dan kemerah-
merahan
Warna dari degradasi zat warna alamiah
-Warna Gelap
Disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vit. E). Jika minyak
bersumber dari tanaman hijau, maka zat khlorofil yang berwarna hijau turut
terekstrak bersama minyak. Warna gelap juga terjadi selama proses
pengolahan.
- Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak atau lemak yang
berasal dari bahan yang telah busuk dan memar.
- Warna Kuning
Warna ini timbul selama penyimpanan dan intensitas warna bervariasi
dari kuning sampai ungu kemerah-merahan.
b. Bau Amis
Lemak atau bahan pangan berlemak, seperti mentega, krim, susu
bubuk, hati, dan bubuk kuning telur dapat menghasilkan bau tidak enak yang
mirip bau ikan basi. Bau amis pada mentega, susu bubuk atau krim
disebabkan oleh terbentuknya trimetilamin dari lesitin dalam susu dan
mentega.

121
Adanya tembaga dan besi akan mempercepat pembentukan peroksida
lemak dan peroksida tersebut akan mengoksidasi lesitin. Persenyawaan
nitrogen yang berkombnasi secara kimia dengan minyak dapat menyebabkan
bau amis dan mengakibatkan warna minyak menjadi kuning atau coklat.
c. Odor dan Rasa (Flavour)
Odor dan rasa pada minyak atau lemak selain terdapat secara alami,
juga terjadi karena pembentukan asam-asam yang berantai sangat pendek
sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak. Bau khas dari
minyak kelapa sawit dikarenakan terdapat beta ionone, sedangkan bau khas
dari minyak kelapa ditimbulkan oleh nonyl methylketon.
d. Kelarutan
Suatu zat dapat larut dalam pelarut jika mempunyai nilai polaritas yang
sama, yaitu zat polar larut dalam pelarut bersifat polar dan tidak larut dalam
pelarut non polar. Minyak dan lemak tidak larut dalam air, kecuali minyak jarak
(castor oil). Minyak dan lemak hanya sedikit larut dalam alcohol, tetapi akan
melarut sempurna dalam etil eter, karbon disulfida, dan pelarut-pelarut halogen.
Ketiga jenis pelarut ini memiliki sifat nonpolar sebagaimana halnya minyak dan
lemak netral. Kelarutan dari minyak dan lemak ini dipergunakan sebagai dasar
untuk mengekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung
minyak.
Dari segi teknik, kelarutan asam-asam lemak ini mempunyai arti sangat
penting. Misalnya asam-asam lemak tidak jenuh sangat mudah melarut dalam
pelarut organic dibandingkan dengan asam-asam lemak jenuh. Sifat kelarutan
tersebut digunakan sebagai dasar untuk memisahkan berbagai asam lemak
yang tidak jenuh, yaitu dengan proses kristalisasi.

e. Titik Cair dan Polymorphism


Pengukuran titik cair minyak atau lemak, suatu cara yang lazim
digunakan dalam penentuan atau pengenalan komponen-komponen organic
yang murni, tidak mungkin diterapkan di sini karena minyak atau lemak tidak
mencair dengan tepat pada suatu nilai temperatur tertentu. Polymorphism pada
minyak dan lemak adalah suatu keadaan di mana terdapat lebih dari sartu
bentuk kristal. Polymorphism sering dijumpai pada beberapa komponen yang
mempunyai rantai karbon panjang, dan pemisahan kristal yang sangat sukar.
122
Polymorphism sangat penting untuk mempelajari titik cair minyak atau lemak,
asam lemak beserta ester-esternya. Untuk selanjutna polymorphism
mempunyai peranan penting dalam berbagai proses untuk mendapatkan
minyak atau lemek.

f. Titik Didih (Boiling Point)


Titik didih dari asam-asam lemak akan semakin meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon asam lemak tersebut.

g. Titik Lunak (Softening Point)


Titik lunak dari minyak atau lemak ditetapkan utnuk mengidentifikasikan
minyak atau lemak tersebut. Cara penetapannya yaitu dengan mempergunakan
tabung kapiler yang diisi dengan minyak. Kemudian dimasukkan ke dalam
lemari es selama satu malam, sehingga minyak akan membeku atau menjadi
padat. Setelah satu malam dalam lemari es, tabung kapiler tadi diikat bersama-
sama dengan termometer yang dilakukan di dalam lemari es, selanjutnya
dicelupkan ke dalam gelas piala yang berisi air. Temperatur akan naik dengan
lambat dan temperatur pada saat permukaan dari minyak atau lemak dalam
tabung kapiler mulai naik dinamakan titik lunak.

h. Slipping Point
Penetapan slipping point dilakukan dengan menggunakan suatu silinder
kuningan yang kecil, yaitu diisi dengan lemak padat, kemudian disimpan dalam
bak yang tertutup dan dihubungkan dengan termometer. Bila bak tadi digoyang
temperatur akan naik dengan perlahan-lahan. Temperatur pada saat lemak
dalam silinder mulai naik atau temperatur pada saat lemak mulai melincir
disebut slipping point.

i. Shot Melting Point


Shot melting point adalah temperatur pada saat terjadi tetesan pertama
dari minyak atau lemak. Pada umumnya minyak atau lemak mengandung
komponen-komponen yang berpengaruh terhadap titik cairnya. Minyak atau
123
lemak pada umumnya mengandung asam lemak tidak jenuh dalam jumlah
yang relatif besar, biasanya berwujud cair pada temperatur kamar. Bila
mengandung asam lemak jenuh yang relatif besar, maka minyak atau lemak
tersebut akan mempunyai titik cair yang tinggi.

j. Berat Jenis
Berat jenis dari minya atau lemak biasanya ditentukan pada temperatur
250C tetapi untuk lemak yang titik cairnya tinggi diukur pada temperatur 40 0C
atau 600C.

k. Indeks Bias
Indeks bias adalah derajat penyimpangan dari cahaya yang dilewatkan
pada suatu medium yang cerah . Indeks bias tersebut pada minyak dan
lemak dipakai untuk pengujian kemurnian minyak. Alat yang digunakan untuk
menentukan indeks bias adalah refraktometer.
Indeks bias akan meningkat pada minyak atau lemak dengan rantai
karbon yang panjang dan juga dengan terdapatnya sejumlah ikatan rangkap.
Nilai indeks bias dari asam lemak juga akan bertambah dengan meningkatnya
berat molekul dan naiknya derajat ketidakjenuhan dari asam lemak tersebut.

l. Titik Asap, Titik Nyala, dan Titik Api


Apabila minyak atau lemak dipanaskan dapat dilakukan penetapan tiotik
asap, titik nyala, dan titik api. Titik asap adalah temperature pada saat minyak
atau lemak menghasilkan asap tipis yang kebiru-biruan pada pemanasan
tersebut. Titik nyala adalah temperature pada saat campuran uap dari minyak
dengan udara terbakar. Sedangkan titik api adalah temperature pada saat
dihasilkan pembakaran yang terus menerus, sampai habis contoh uji.

124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
DAFTAR PUSTAKA

…………,1990, STANDAR Metode Pengujian Kualitas Air, Departemen


Pekerjaan Umum, Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta.

……….2008, Metode Pengolahan Kesadahan (Hardness) Air


smk3ae.wordpress.com/2008/06/19/metode-pengolahan-
kesadahan-hardness-air-dengan-menggunakan-resin-penukar-
ion

Alaerts, Dr, Ir & Sri Sumestri, Ir., MSc., 1984, Metoda Penelitian Air, Usaha
Nasional, Surabaya.

Harjadi, W., 1986, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta

Ketaren, S, 1986, Minyak dan Lemak Pangan, Universitas Indonesia, Jakarta

Nishiyama, M., 1996, Kaidah Umum untuk Analisa Kimia, Puslitbang Kimia
terapan, LIPI, Bandung.

Oxtoby dkk. 2001, Prinsip-prinsip Kimia Modern, Edisi keempat Jilid 1, Penerbit
Erlangga, Jakarta

Underwood, R.A Day, 2002, Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi Keenam, Penerbit
Erlangga, Jakarta

Vogel, 1990, Analisis Anorganik Kualitatif, Makro dan Semimikro, Edisi kelima,
PT Kalman Media Pusaka, Jakarta

136
Aku ingin hidup mendaki puncak
tantangan, memanjat batu granit kesulitan,
menggoda marabahaya, dan memecahkan
misteri dengan sains. Aku ingin menghirup
berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas
menyelami labirin lika-liku hidup yang
ujungnya tak dapat disangka.
Aku mendamba kehidupan dengan
kemungkinan-kemungkinan yang beraksi satu
sama lain seperti benturan molekul uranium:
meletup tak terduga-duga, menyerap,
mengikat, mengganda, berkembang, terurai,
dan berpencar ke arah yang mengejutkan.
Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh,
menjumpai beragam bahasa dan orang-orang
asing. Aku ingin berkelana, menemukan
arahku dengan membaca bintang gemintang.
Aku ingin mengarungi padang dan gurun-
gurun, ingin melepuh terbakar matahari,
limbung dihantam angin, dan menciut
dicengkram dingin.
Aku ingin kehidupan yang menggetarkan,
penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup!
Ingin merasakan sari pati hidup!
(Andrea Hirata)

137

Anda mungkin juga menyukai