Anda di halaman 1dari 67

PRATIKUM 1

Topik : Tranpirasi

Tujuan : Untuk mengetahui jaringan pengangkutan air pada


tumbuhan

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori
II. Alat dan bahan
1. Gelas ukur
2. Aluminium foil
3. Pisau/silet
4. Tissue
5. Air PDAM
6. Tanaman Ageratum sp
7. Tanaman Cypeus ratundus
8. Tanaman Allamanda sp
III. Cara Kerja
1. Pilihlah tanaman yang setara (tinggi, jumlah daun, lebar daun)
bersihkan
2. Masukkan tanaman ke dalam gelas ukur sehingga pangkalnya 1 cm
diatas dasar gelas ukur
3. Tuangkan air sampai batas maksimal, kemudian tutup mulut gelas
ukur dengan aluminium foil
4. Pada hari 1 sampai ke – 4 amati tinggi air dalam gelas ukur dan
apabila berkurang tambahkan sampai batas semula
5. Catat penambahan air dan keadaan morfologi tumbuhan dalam table
IV. Hasil Pengamatan

1
No Hari/ tanggal Nama Ukuran air Panjang Daun Lebar Daun
tanaman
1 Sabtu, A A Dari 250 A 8,2 A 5,6
30/11/2019 Transpirasi ml menjadi
Ageratum 210 ml

B. B Dari 250 B 7,5 B 4,2


Transpirasi menjadi 220
Alamanda
2 Senin, A A Dari 250 A 8,2 A 5,6
2/12/2019 Transpirasi ml menjadi
Ageratum 210 ml

B Transpirasi B Dari 250 B 7,5 B 4,2


Alamanda menjadi 220
3 Selasa, A A Dari 250 A 8,2 A 5,6
3/12/18 Transpirasi ml menjadi
Ageratum 225 ml

B Transpirasi B Dari 250 B 7,5 B 4,2


Alamanda menjadi 215
4 Rabu, A A Dari 250 A 8,0 A 5,2
4/12/119 Transpirasi ml menjadi
Ageratum 225 ml

B.Transpirasi B Dari 250 B 7,2 B 3,9


Alamanda menjadi 210
ml
5 Kamis, A A Dari 250 A 7,9 A 5,6
5/12/19 Transpirasi ml menjadi
Ageratum 225 ml

B Transpirasi B Dari 250 B 7,0 B 4,3


Alamanda menjadi 210
6 Jumat, A A Dari 250 A 7,9 A 5,6
6/12/19 Transpirasi ml menjadi
Ageratum 225 ml

B Dari 250 B 7,0 B 4,3


B Transpirasi menjadi 210
Alamanda ml

2
V. Pembahasan
Dari hasil pengamatan dapat dilakukan dengan menguji kelajuan transpirasi
pada tumbuhan. Tumbuhan yang digunakan pada pada percobaan ini ada dua
jenis yaitu Ageratum dan Alamanda. Pengamatan dilakukan selama 7 hari atau
satu minggu sehingga dari hasil pengamatan ukuran air awal adalah 250 ml
kemudian setelah melakukan pengamatan pada tanaman Ageratum mengalami
penurunan dari 250 ml menjadi 210 ml sedangkan pada tanaman Alamanda
juga mengalami penurunan dari 250 ml menjadi 220 ml. Ketika dilakukan
pengamatan pada ketiga tumbuhan tersebut dan apabila air pada tanaman
tersebut mengalami penurunan akan diisi kembali untuk menambah air
sehingga banyaknya air tambhan sampai pada batas air awal.
Kemudian pada panjang daun dan lebar daun dari tanaman kedua tanaman
tersebut yaitu pada tanaman Ageratum panjang daun 8,2cm, lebar 5,6 cm pada
tumbuhan alamanda panjangnya 7,5 cm lebar 4,2 cm.
Dari hari pertama sampai hari keujuh penurunan air bervariasi artinya tidak
menentu. Begitupun dengan panjang dan lebar daun ketiga tumbuhan tersebut.
VI. Kesimpulan
Transpirasi adalah proses hilangnya air melalui penguapan dari
permukaan daun suatu tumbuhan. Dari hasil pengamatan dan pembahasan
dapat disimpulkan bahwa kedua tumbuhan tersebut yang paling drastis
mengalami penurunan adalah banyaknya air dalam tabung reaksi dimana setiap
hari mengalami penurunan hingga 40 ml.
VII. Diskusi
1. Sebutkan factor – factor yang mempengaruhi transpirasi. Bagaimana factor
tersebut berpengaruh terhadap proses transpirasi?

Jawab : Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam


maupun luar. Faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal
tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak
sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata,
bentuk dan letak stomata (Salisbury&Ross.1992).

3
a) Penutupan stomata : Sebagian besar transpirasi terjadi melalui
stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan
hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup.
Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan
air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk
mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor
utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata
dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembapan.
b) Jumlah dan ukuran stomata : Jumlah dan ukuran stomata,
dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan mempunyai
pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada
pembukaan dan penutupan stomata.
c) Jumlah daun : Makin luas daerah permukaan daun, makin besar
transpirasi.
d) Penggulungan atau pelipatan daun : Banyak tanaman
mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan
pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas.
e) Kedalaman dan proliferasi akar : Ketersedian dan pengambilan
kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung
pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih
dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar
(akar per satuan volume tanah) meningkatkan pengambilan air
dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan
permanen.

Dan faktor luar antara lain:

a) Kelembaban

Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan


stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada
selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam

4
rongga antar sel di daun dengan konsentrasi mulekul uap
air di udara.

b) Suhu

Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk


meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal
ini akan sangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan
secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.

c) Cahaya

Cahaya memepengaruhi laju transpirasi melalui dua


cara pertama cahaya akan mempengaruhi suhu daun
sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan
yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui
pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.

d) Angin

Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung


saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Angin
menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin
menurunkan kelembanan udara diatas stomata, sehingga
meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin
menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun.
Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan
tingkat transpirasi.

e) Kandungan air tanah

Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air


tanah dan alju absorbsi air di akar. Pada siang hari
biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada
penyerapan dari tanah. Hal tersebut menyebabkan

5
devisit air dalam daun sehingga terjadi penyerapan yang
besar, pada malam hari terjadi sebaliknya. Jika
kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan
oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar
menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan
defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi
lebih lanjut (Loveless,1991).

Unsur kalium sangat memegang peranan dalam proses


mermbuka dan menutupnya stomata (stomata
movement) serta transportasi lain dalam hara lainnya,
baik dari jaringan batang maupun lasngsung dari udara
bebas. Dengan adanya defisiensi kalium maka secara
langsung akan memperlambat proses fisiologi, baik yang
melibatkan klorofil dalam jaringan daun maupun yang
behubungan dengan fungsi stomata sebagai faktor yang
sangat penting dalam produksi bahan kering secara
umum. Semakin lama defisiensi kalium maka akan
semakin berdampak buruk terhadap laju proses fisiologi
dalam jaringan daun. Semakin berat defisiensi kalium
pada gilirannya akan berdampak semakin parah terhadap
rusaknya pertumbuhan daun (Masdar, 2003).

2. Apa keuntungan dan kerugian transpirasi bagi tumbuhan

Jawab :

a) Kegunaan transpirasi

Pada tanaman, transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang
baru yang membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi
juga bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar (panas) matahari.
Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah karena sebagia

6
dari sinar matahari yang memancar itu digunakan untuk penguapan
air. Mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembulih
xilem, membuang kelebihan air, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar
tetap pada kondisi optimal, mengatur bukaan stomata, dan sebagai salah
satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun. pengangkutan unsur hara
tetap dapat berlangsung jika transpirasi tidak terjadi. Akan tetapi, laju
pengangkutan terbukti akan berlangsung lebih cepat jika transpirasi
berlangsung secara optimum. Transpirasi jelas merupakan suatu proses
pendinginan, pada siang hari radiasi matahari yang diserap daun akan
meningkatkan suhu daun. Jika transpirasi berlangsung maka peningkatan
suhu daun ini dapat dihindari.

b) Kerugian transpirasi

Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas,


penyerapanair tidak mampu mengimbangi laju transpirasi,
tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman menurun.
Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi.

7
PRATIKUM 2

Topik : Translokasi

Tujuan : Untuk mengetahui jaringan pengangkutan air pada


tumbuhan

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan Teori
II. Alat dan Bahan
1. Gelas ukur 250 ml
2. Aluminium foil
3. Pisau/silet
4. Tissue
5. Air PDAM
6. Vaselline
7. Tanaman Allamanda sp
III. Cara Kerja
1. Siapkan dua buah gelas ukur besar diisi air PDAM
2. Pilihlah ujung tanaman Allamanda sp yang sama besar (diameter,
panjang cabang , jumlah daun) dengan panjang 30 cm sebanyak 2
tanaman
3. Ukur 5 cm dari pangkal, kemudian kupas sepanjang 3 cm. Pengupasan
dilakukan di dalam air
4. Pilih salah satu cabang tanaman allmanda sp yang sudah dikupas,
tutup bagian floem dengan Vaseline dan biarkan xylem terbuka,
masukkan tanaman ke dalam gelas ukur yang telah terisi air pada
batasa maksimal, tutup dengan aluminium foil.
5. Cabang yang satunya ditutup dibagian xylem dengan Vaseline dan
biarkan floem terbuka, kemudian masukkan ke dalam gelas ukur yang
sudah disiapkan, tutup dengan aluminium foil

8
6. Pada hari 1 sampai hari ke – 4 amati tinggi air dalam gelas ukur dan
apabila berkurang tambahkan sampai batas semula
7. Catat penambahan air dan keadaan morfologi tumbuhan dalam tabel.
IV. Hasil Pengamatan
No Nama Hari/tanggal Volume Jumlah Panjang Lebar
Tanaman air daun daun daun

1 Floem Sabtu 500 ml Besar = 10,5 2,8


Alamanda 30/12/19 15
9,7 3
Kecil = 7
Xilem 500 ml Besar 20 3,3
Alamanda =20
8 2,5
Kecil= 8
2 Floem Senin 498 ml Besar = 10,5 2,8
Alamanda 2/12/19 15
9,1 3
Kecil = 7
Xilem 498 ml Besar = 20 3,3
Alamanda 20
8 2,5
Kecil = 8
3 Floem Selasa 495 ml Besar = 10,2 2,6
Alamanda 3/12/19 15
9,0 2
Kecil = 7
Xilem 495 ml Besar = 18 3,2
Alamanda 20
7 2,3
Kecil = 8
4 Floem Rabu 490 ml Besar = 10,0 3,0
Alamanda 4/12/19 15
8,9 2
Kecil = 7
Xilem 490 ml Besar = 9,5 2,7
Alamanda 20
6 2,0
Kecil = 8
5 Floem Kamis 485 ml Besar = 9,5 2,3
Alamanda 5/12/19 15
6

9
Kecil = 7

Xilem 485 ml Besar = 8 2,5


Alamanda 20
5
Kecil = 8
6 Floem Jumat 480 ml Besar = 8 2,8
Alamanda 6/12/19 15
5 3
Kecil = 7
Xilem 480 ml Besar = 7 3,3
Alamanda 20
4,8 2,5
Kecil = 8
V. Pembahasan
Dari hasil pengamatan selama 7 hari atau satu minggu pada percobaan dengan
menggunakan tanaman Alamanda. Pada floem alamanda dengan tinggi atau
volume air adalah 500 ml dan xylem alamanda juga sama yaitu 500 ml. Pada
awal percobaan dimana pada floem alamanda banyaknya daun yaitu 22 helai
dengan rincian daun yang kecil 15 helai dan daun yang besar 7 helai kemudian
pada xylem alamanda jumlah daunnya adalah 28 dengan daun besar 20 helai
dan daun kecil 8 helai.
Pada hari pertama sampai hari ketujuh dari hasil pengamatan dimana tumbuhan
alamanda (xylem dan floem) jumlah daunnya tetap sama bahkan dari hari
pertama hinnga hari terakhir pengamatan sangat segar dan hijau hanya saja yng
mengalami perubahan adalah airnya dari yang awalnya 500 ml mengalami
penurunan rata – rata setiap hari air mengalami penurunan sebanyak 54 ml baik
xylem maupun floem.
VI. Kesimpulan
Senyawa karbon hasil fotosintesis pada daun didistribusikan keseluruh
bagian bagian tanaman melalui jaringan pembuluh khusus yang disebut
FLOEM. Proses ini disebut dengan translokasi. Dari hasil pengamatan dan
kesimpulan dapat disimpulkan bahwa dari percobaan ini untuk tumbuhan
sendiri tidak mengalami perubahan seperti tumbuhan mengalami layu tetapi

10
yang terjadi dari hari pertama sampai hari terakhir tumbuhan tertap segar dan
hijau hanya volume air saja yang mengalami penurunan.
VII. Diskusi
1. Sebutkan factor – factor yang mempengaruhi proses translokasi. Jelaskan
bagaimana factor tersebut berpengaruh terhadap proses translokasi

Jawab : Faktor – factor yang mempengaruhi proses translokasi yaitu Suhu,


Cahaya, Inhibitor metabolic, Perbedaan konsentrasi, Mineral, dan
Hormon

2. Apa manfaat proses translokasi bagi tumbuhan

Jawab : Manfaat proses translokasi bagi tumbuhan yaitu tumbuhan dapat


melakukan pengangkutan hasil fotosintesis keseluruh bagian
tumbuhan melalui floem&merupakan transportasi simplas
karena floem merupakan sel hidup.

3. Apakah ada hubungannya proses transpirasi dan translokasi

Jawab : Hubungan proses transpirasi dan translokasi yaitu transpirasi


menimbulkan arus transpirasi yaitu translokasi air dan ion
organic terlarut dari akar ke daun melalui xilem

11
PRATIKUM 3

Topik : Persenan layu

Tujuan : Untuk mengukur kadar air yang dibutuhkan oleh


tumbuhan dengan menggunakan metode pengukuran persenan layu

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori

Air merupakan faktor yang penting bagi tanaman karena berfungsi sebagai
pelarut hara, berperan dalam translokasi hara dan footsintesis (Fitter dan
Hay.1994)

Kebutuhana air bagi tumbuhan berbeda – beda tergantung jenis tumbuhan dan
fase pertumbuhannya. Pada musim kemarau tumbuhan sering mendapatkan
cekaman air (water stress) karena kekurangan pasokan air didaerah perakaran
dan atau laju transpirasi melebihi laju absorbsi air oleh tumbuhan (Rambos et
al.1987)

Pada periode kering tanaman sering mendapatkan cekaman kekeringan, karena


suplai air didaerah perakaran dan atau laju transpirasi melebihi laju absorbsi air
oleh tanaman (Rambos et al. 1987)

Apabila cekaman kekeringan berkepanjangan maka tanaman akan mati.


Cekaman kekeringan mempengaruhi pembukaan stomata, maka tinggi
tegangan air akan mengurangi pembukaan stomata(Sutoro,dkk.1989)

Cekaman kekeringan merupakan istilah untuk menyatakan tanaman bahwa


tanaman mengalami kekurangan air akibat keterbatasan air dari lingkungannya
yaitu media tanam. Cekaman kekeringan pada tanaman dapat disebabkan
kekurangan suplai air didaerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan
oleh daun akibat laju evapotranspirasi melebihi laju absorpsi air walaupun
keadaan air tanah tersedia cukup (Levitt,dkk.1980)

12
Perakaran tumbuhan tumbuh ke dalam tanah yang lembab dan menarik air
sampai tercapai porensial air kritis dalam tanah. Air yanag dapat diserap dan
tanah oleh akar tumbuhnan disebut air yang tersedia. Air yang tersedia
merupakan perbedaan antara jumlah air dalam tanah pada kapasitas lapang dan
jumlah air dalam tanah pada presentase pelajuan permannen. Air pada kapasitas
lapang adalah air yang tetap tersimpan dalam tanah yang tidak mengalir
kebawah karena gaya gravitasi, sedangkan air pada persentase pelajuan
permanen adalah apabila pada kelembaban tanah tersebut tumbuhan yang
tumbuh diatasnya akan layu dan tidak akan segar kembali dalam atmosfer
dalam kelembaban relatif 100% (Bardner et al.1991)

Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan, seacra visual nampak daun


mengalami kelayuan dan menggulung sehingga menghambat fotosintesis.
Akibat laju dari cekaman kekeringan adalah menurunnya laju fotosintesis dan
sering sekali mengakibatkan menurunnya akumulasi fotosintesis ( Savin dan
nicolas.1996).

Akulumasi fotosintesis yang terbakar atau terhenti mengakibatkan tanaman


berada pada tingkat kkkurangan karbohidrat. Disamping itu juga
mengakibatkan terpacunya degradasi lemak dari protein, akumulasi asam
amino dan mengurangi akstivitas enzim glikolisis. Pada tanaman yang peka
terhadap cekaman kekeringan, perubahan metabolisme tersebut akan
mempercepat kekasabn sel – sel yang bersifat tidak dapat balik sehingga
mengakibatkan kematian( Yu.1999)

Ketersedian air diperlukan untuk memnyesuaikan diri dan digunakan untuk


pertumbuhan tanaman (Dooorrenbos & Kassan.1979)

13
II. Alat dan Bahan
1. Polybag/ember kecil
2. Timbangan
3. Pisau/silet
4. Aluminium foil
5. Tanah dan pasir
6. Air PDAM
7. Tumbuhan Ageratum sp dan
8. Tumbuhan Cyperus rotundatus
III. Cara Kerja
1. Pilihlah tanaman yang telah disiapkan (4 tanaman) setarakan
biomassanya dengan cara ditimbang dan memotong daun yang sudah
tua
2. Dua buah ember diisi tanah, dua lagi diisi pasir
3. Siram dengan air sampai pada kemampuannya menahan air kemudian
ditimbang dengan berat yang sama
4. Tanamlah tanaman yang sudah dipilih tadi, tutup bagian permukannya
dengan aluminium foil
5. Amati kapan tanaman menunjukkan gejala mulai layu, layu sementara,
dan layu permanen
6. Setelah tanaman menunjukkan gejala layu permanen, cabut tanaman
bersihakan dari sisa pasir dan tanah kemudian tanaman dan juga media
tanah atau pasir ditimbang kembali
7. Tentukan persenan layu dari masing – masing tanaman tersebut.
IV. Hasil Pengamatan

14
Hari/tanggal Tanah rumput Tanah Pasir tumput Pasir ageratum
teki ageratum teki
Sabtu A Tingkat A Tingkat A Tingkat A Tingkat
30/11/19
kelayuan 50% kelayuan kelayuan kelayuan 20%
40% 50%
B Ditambah air B Ditambah B Ditambah B Ditambah air
25 ml air 25 ml air 25 ml 25 ml

C Layu C Layu C Layu C Gejala layu


sementara sementara
sementara
Senin A Tingkat A Tingkat A Tingkat A Tingkat
2/12/19
kelayuan 50% kelayuan kelayuan kelayuan 20%
50% 50%
B Ditambah air B Ditambah B Ditambah B Ditambah air
25 ml air 25 ml air 25 ml 25 ml

C Layu C Layu C Layu C Gejala layu


sementara sementara sementara
Selasa A Tingkat A Tingkat A Tingkat A Tingkat
2/12/19
kelayuan 55% kelayuan kelayuan kelayuan 25%
55% 55%
B Ditambah air B Ditambah B Ditambah B Ditambah air
20 ml air 20 ml air 20 ml 25 ml

C Layu C Layu C Layu C Gejala layu


sementara
Rabu A Tingkat A Tingkat A Tingkat A Tingkat
3/12/19
kelayuan 55% kelayuan kelayuan kelayuan 25%
55% 55%
B Ditambah air B Ditambah B Ditambah B Ditambah air
25 ml air 25 ml air 25 ml 25 ml

15
C Layu C Layu C Layu C Gejala layu
Kamis A Tingkat A Tingkat A Tingkat A Tingkat
4/12/19
kelayuan 60% kelayuan kelayuan kelayuan 30%
50% 50%
B Ditambah air B Ditambah B Ditambah B Ditambah air
30 ml air 30 ml air 30 ml 30 ml

C Layu C Layu C Layu C Layu


Jumat A Tingkat A Tingkat A Tingkat A Tingkat
5/12/19
kelayuan 50% kelayuan kelayuan kelayuan 50%
50% 50%
B Ditambah air B Ditambah B Ditambah B Ditambah air
25 ml air 25 ml air 25 ml 25 ml

C Layu C Layu C Layu C Layu


sementara sementara sementara sementara

V. Pembahasan
Dari hasil pengamatan selama 7 hari pada hari pertama pengamatan tanaman
ageratum pada ember yang berisi tanah dan pasir mengalami perubahan
berkaitan dengan persentase kelayuannya dimana, dari hari pertama sampai hari
ketujuh. pada ember yang berisi tanah rumput teki dan tanaman alamanda terus
mengalami penurunan dari 50% hingga 40% dan tingkat kelayuan dari layu
sementara hingga layu. Begitupun dengan pasir pada ember tanaman rumput
teki dan ageratum juga mengalami penurunan dari 50% hingga 20% .
Begitupun dengan tingkat kelayuannya dari layu sementara hingga layu
permanen.
VI. Kesimpulan
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air
terhadap volume tanah. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa pada

16
tanaman rumput teki dan ageratum yang diberi perlakuan mengguanakan tanah
dan pasir dapat dilihat bahwa setiap hari dari hari pertama hingga hari terakhir
terus mengalami kelayuan dari yang layunya sementara hingga layu. Dan
berdasarkan persentasinya yang mengalami persentase kelayuan yang paling
cepat yaitu tanaman yang ada pada ember yang berisi pasir dimana tingkat
kelayuannya hingga 20% sedangkan pada tanaman yang berisi tanah persentasi
kelayuannya hanya mencapai 40%.
VII. Diskusi
1.Sebutkan 5 faktor yang mempengaruhi persenan layu
Jawab : Faktor yang mempengaruhi persenan layu adalah sebagai berikut :
a) Kadar bahan organik
b) Kedalaman lapisan tanah
c) Iklim dan tumbuhan
d) Senyawa kimiawi
e) Tekstur tanah

2. Apakah yang dimaksud pasir mempunyai persenan layu sebesar 1 %?

Jawab : Pasir adalah partikel yang berukuran besar. Pasir memiliki kapasitas
serat air yang rendah karena sebagian besar tersusun atas partikel
yang berukuran 0,002 sampai 2 mm.

17
PRATIKUM 4

Topik : Efek panjang gelombang cahaya tertentu terhadap


pertumbuhan tumbuhan gulma

Tujuan : Untuk memperoleh data mengenai pengaruh berbagai


panjang gelombang cahaya terhadap proses fotosintesis

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori
Fotosintesis adalah proses pembentukan molekul-molekul makanan yang
kompleks dan berenergi tinggi dari komponen-komponen yang lebih sederhana
oleh tumbuhan hijau dan organisme autotrofik lainnya dengan keberadaan
energi cahaya. Panjang gelombang cahaya yang digunakan untuk fotosintesis
hanya sebuah fraksi kecil dari spektrum total radiasi elektromagnetik. Pada
tumbuhan tingkat tinggi, jingga, biru, dan merah tampaknya adalah yang paling
efektif dalam mendorong terjadinya fotosintesis. Warna-warna dari spektrum
cahaya tampak itu memiliki 2 panjang gelombang yang kira-kira berkisar antara
380 hingga 750 nanometer (nm) secara berturut-turut (Fried dan Hademenos :
2006).
Tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh cahaya, namun dipengaruhi oleh warna
cahaya juga. Cahaya yang berasal dari matahari tampak putih atau kuning, tapi
sebenarnya merupakan spectrum penuh warna. Jika kita mengambil prisma dan
meletakkannya ke cahaya, akan membagi cahaya menjadi tujuh warna yang
berbeda yaitu: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Pertumbuhan
tanaman sebenarnya dapat dimanipulasi oleh paparan jangka panjang untuk
warna terisolasi dalam spectrum.

18
Spektrum warna terbentuk karena cahaya yang berlainan warna terbias pada
sudut yang berlainan. Cahaya ungu terbias dengan sudut paling besar,
sedangkan cahaya merah terbias dengan sudut yang paling kecil. Warna-warna
spektrum dapat digabungkan sehingga menghasilkan cahaya putih dengan
menggunakan dua prisma (Utami, 2008).

II. Alat dan Bahan


1. Kotak plastic merah, putih, hijau, gelap
2. Ember plastic kecil 8 buah
3. Timbangan
4. Spatula
5. Aluminium foil
6. Tanah campur pasir
7. Light meter
8. Tumbuhan Ageratum sp
9. Tumbuhan Cyperus rotundus
III. Cara Kerja
1. Pilihlah 4 tanaman yang sejenis disiapkan untuk 4 perlakuan, tinggi
tanaman tidak lebih dari 20 cm. Setarakan beratnya dengan cara
menimbang, hilangkan daun yang sudah tua
2. Isilah pot dengan tanah siram dengan air dan setarakan beratnya.
Berilah label
3. Tanamlah tanaman ke dalam pot masing – masing tutup dengan
aluminium foil
4. Masukkan ke dalam tabung berwarna masing – masing 2 tanaman
yang berbeda jenisnya
5. Letakkan perangkat percobaan dibawah cahaya matahari dan ukur
intensitas cahaya matahari yang mengenai tabung tersebut
6. Amati perubahan tanaman tersebut selama satu minggu , lakukan
penyiraman agar tanaman tetap basah

19
7. Pada akhir percobaan timbang tanaman tersebut untuk dapat
menentukan berat akhir
8. Tabulasikan data hasil pengamatan tersebut
IV. Hasil Pengamatan

Hari Warna Intensitas Ageratum Rhoe Suhu Ket. tanaman


I lampu lampu sp discolor Ageratum Rhoe
sp discolor
Merah 350 100 100 300 Masih segar Masih
segar
Putih 300 100 150 290 Masih segar Masih
segar
Hijau 300 100 100 230 Masih segar Masih
segar
Gelap 0 0 0 280 Masih segar Masih
segar

Hari Warna Intensitas Ageratum Rhoe Suhu Ket. tanaman


II lampu lampu sp discolor Ageratum sp Rhoe
discolor
0
Merah 300 100 100 28 Masih segar Masih
segar
0
Putih 300 100 100 23 Masih segar Masih
segar
0
Hijau 300 50 50 29 Masih segar Masih
segar
0
03333
Gelap 280 0 0 28 Masih segar Masih
segar

20
Hari Warna Intensitas Ageratum Rhoe Suhu Ket. tanaman
III lampu lampu sp discolor
Ageratum sp Rhoe
discolor
0
Merah 300 100 100 29 Masih segar Masih
segar
0
Putih 300 100 100 22 1 ujung daun 1 ujung
layu daun layu
0
Hijau 300 50 50 29 Masih segar 1 daun
agak
kecoklatan
0
0 Gelap 0 0 28 1 daun 1 ujung
warna daun kering
kuning

Hari Warna Intensitas Ageratum Rhoe Suhu Ket. tanaman


IV lampu lampu sp discolor
Ageratum sp Rhoe
discolor
Merah 300 100 100 290 Masih segar 1 ujung
daun
kering
Putih 300 100 100 220 1 ujung daun 1 ujung
kering daun
kering
Hijau 300 50 50 290 4 daun layu 1 daun
warna
coklat
Gelap 300 0 0 280 1 daun warna 1 ujung
kuning daun
kering

21
Hari Warna Intensitas Ageratum Rhoe Suhu Ket. Tanaman
V lampu lampu sp discolor
Ageratum sp Rhoe discolor

Merah 300 100 100 290 1 daun layu 2 daun layu

Putih 300 100 100 220 1 daun layu 3 daun layu

Hijau 300 50 50 290 4 daun layu 1 daun kering

Biru 300 200 200 290 Mati 3 ujung daun


kering
0 Gelap 0 0 280 1 daun layu 3 ujung daun
kering

Hari VI Warna Intensitas Ageratum Rhoe Suhu Ket. Tanaman


lampu lampu sp discolor
Ageratum sp Rhoe
discolor
Merah 300 100 100 290 Layu bercak- 2 ujung
bercak daun
kering
Putih 300 100 100 220 Layu bercak - 2 ujung
bercak daun
kering
Hijau 300 50 50 290 Layu bercak - 2 ujung
bercak daun
kering
0 Gelap 0 0 280 1 daun rontok 1 layu

V. Pembahasan

Fotosintesis adalah suatu proses biologi yang kompleks, proses ini


menggunakan energi matahari yang dapat dimanfaatkan oleh kloropil yang
terdapat dalam kloroplas. Fotosintesis selain memerlukan cahaya matahari
sebagai bahan bakar juga memerlukan karbondioksida dan air sebagai bahan

22
anorganik yang akan diproses. Pada percobaan kali ini dapat kita lihat bahwa
muncul gelembung pada tabung. Hal ini menunjukkan adanya oksigen yang
dihasilkan selama proses fotosintesis. Gas ini terbentuk karena proses fotolisis
dimana air diuraikan oleh cahaya matahari menjadi gas oksigen yang akan
muncul berupa gelembung-gelembung dengan perberbedaan reaksi 2H2O
cahaya matahari 2H2+ + O2 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa .
Perlakuan pada hydrilla yang ditutupi plastik warna jingga Panjang gelombang
pada spektrum cahaya jingga panjang yaitu antara 650-700nm dan energi yang
dimiliki lebih tinggi dari pada cahaya kuing. Selain itu, daya serap klorofil
terhadap spektrum cahaya jingga juga lebih baik. Sehingga energi yang
terkumpul cukup besar. Karena persediaan energi yang dimiliki lebih banyak,
proses fotosintesispun berlangsung cepat.produk hasil fotosintesis yang
dihasilkan lebih banyak karena enzim yang melakukan reaksi kimia bekerja
optimal. Akibatnya gelembung dalam air yang dihasilkan lebih banyak daripada
yang berwarna kunimg. Walaupun panjang gelombang cahaya pada ungu dan
nilamempunyai selisih yang sedikit, akan tetapi klorofil kurang bertoleransi
terhadap warna kuning terutama klorifil b dan karatenoid yang akan
memantulkan cahaya kuning. Pada akhirnya proses fotosintesis berlangsung
lambat, produk hasil fotosintesis sedikit, Akibatnya, gelembung yang
dihasilkan dalam air sedikit . Dalam hal ini terjadi kesalahan eksperimen,
karena seharusnya pada suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah (0o) hydrilla
tidak menghasilkan O2 . Hal ini disebabkan karena pada suhu terlalu tinggi
enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis kan rusak, sehingga
fotosintesis tidak berlangsung. Dan pada suhu yang terlalu rendah enzim ang
berperan dalam proses fotosintesis akan menon- aktifkan diri,sehingga
fotosisntesis jauga tidak berlangsung. Apabila tidak terjadi fotosintesis maka
tidak mungkin dihasilkan O2 .

VI. Kesimpulan

23
Dari praktikum yang telah dilaksanakan maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :

Warna- warna yang banyak dihasilkan pada perlakukan adalah warna

biru,pada kertas manila hitam yaitu di dapat warna biru kecoklatan

muda sedangkan saat perlakuan ketas transparan biru didapat warna biru

kecoklatan pekat. pada kertas plastik tansparan merah didapat yaitu warna biru

kecoklatan . dan pada percobaan plastik transparan bening didapat warna biru

gelap .Pada proses fotosintesis jika semakin banyak CO2 yang dihasilkan maka

akan semakin besar fotosintesisnya.

VII. Diskusi

1. Jelaskan perbedaan fotosintesis yang ada ditumbuhan

Jawab : Dari semua radiasi matahari yang dipancarkan, hanya panjang

gelombang tertentu yang dimanfaatkan tumbuhan untuk proses

fotosintesis, yaitu panjang gelombang yang berada pada kisaran cahaya

tampak (380-700 nm). Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610

- 700 nm), hijau kuning (510 - 600 nm), biru (410 - 500 nm) dan violet

(< 400 nm). Masing-masing jenis cahaya berbeda pengaruhnya

terhadap fotosintesis. Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap

cahaya yang bekerja dalam fotosintesis. Pigmen yang terdapat pada

membran grana menyerap cahaya yang memiliki panjang gelombang

tertentu. Pigmen yang berbeda menyerap cahaya pada panjang

gelombang yang berbeda. Kloroplast mengandung beberapa pigmen.

24
Sebagai contoh, klorofil a terutama menyerap cahaya biru-violet dan

merah. Klorofil b menyerap cahaya biru dan oranye dan memantulkan

cahaya kuning-hijau. Klorofil a berperan langsung dalam reaksi terang,

sedangkan klorofil b tidak secara langsung berperan dalam reaksi

terang.

2. Tumbuhan yang diberi perlakuan penyinaran terus menerus dengan

tumbuhan yang diberi perlakuan terputus- putus, mana yang laju

fotosintesisnya lebih tinggi

Jawab : Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses


fotosintesis dan pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung
pada jenis tumbuhan. Selain itu, kekurangan cahaya saat perkembangan
berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana batang
kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya
berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat ( tidak hijau ). Gejala etiolasi
tersebut disebabkan oleh kurangnya cahaya atau tanaman berada di
tempat yang gelap. Cahaya juga dapat bersifat sebagai penghambat
(inhibitor) pada proses pertumbuhan, hal ini terjadi karena dapat
memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya. Cahaya
yang bersifat sebagai inhibitor tersebut disebabkan oleh tidak adanya
cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk penunjang
sel – sel tumbuhan sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh ditempat terang
menyebabkan tumbuhan – tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan
kondisi relative pendek, lebih lebar, lebih hijau, tampak lebih segar dan
batang kecambah lebih kokoh.

Dikarenakan sinar matahari sangat penting dan memberikan


pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman,

25
maka pada tugas kelompok kali ini, akan dibahas lebih lanjut dan
mendalam mengenai peranan dan pengaruh sinar matahari terhadap
pertumbuhan tanaman dari sudut pandang proses fisiologi,
pertumbuhan vegetatif, dan pertumbuhan generatif tanaman.

26
PRATIKUM 5

Topik : Respirasi pada tumbuhan

Tujuan : Untuk mengamati bahwa tumbuhan mengalami proses


respirasi dan karbondioksida sebagai hasilnya

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori
Tumbuhan terutama tumbuhan tingkat tinggi, untuk memperoleh makanan
sebagai kebutuhan pokoknya agar tetap bertahan hidup, tumbuhan tersebut
harus melakukan suatu proses yang dinamakan proses sintesis karbohidrat yang
terjadi di bagian daun satu tumbuhan yang memiliki klorofil, dengan
menggunakan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi
yang diperlukan tumbuhan untuk proses tersebut. Tanpa adanya cahaya
matahari tumbuhan tidak akan mampu melakukan proses fotosintesis, hal ini
disebabkan kloropil yang berada di dalam daun tidak dapat menggunakan
cahaya matahari karena kloropil hanya akan berfungsi bila ada cahaya matahari
(Dwidjoseputro, 1986).
Fotosintesis juga terjadi proses metabolisme lain yang disebut respirasi.
Respirasi merupakan proses katabolisme atau penguraian senyawa organik
menjadi senyawa anorganik. Respirasi sebagai proses oksidasi bahan organik
yang terjadi didalam sel dan berlangsung secara aerobik maupun anaerobik.
Dalam respirasi aerob diperlukan oksigen dan dihasilkan karbondioksida serta
energi. Sedangkan dalam respirasi anaerob dimana oksigen tidak atau kurang
tersedia dan dihasilkan senyawa selain karbondiokasida, seperti alkohol,
asetaldehida atau asam asetat dan sedikit energi (Lovelles, 1997).
Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan menjadi
dua macam yaitu :
A. Respirasi aerobik

27
Respirasi aerob yaitu respirasi yang menggunakan oksigen oksigen bebas
untuk mendapatkan energi. Persamaan reaksi proses respirasi aerob secara
sederhana dapat dituliskan:
C6H12O6 + 6H2O ---> 6H2O + 6CO2 + 675 kal

Dalam kenyataan reaksi yang terjadi tidak sesederhana itu. Banyak tahapan
yang terjadi dari awal hingga terbentuknya energi. Reaksi-reaksi itu dapat
dibedakan menjadi 3 tahapan yaitu glikolosis, siklus krebs dan transport
elektron (syamsuri, 1980).

B. Respirasi anaerobik
Respirasi anaerobik adalah reaksi pemecahan karbohidrat untuk
mendapatkan energi tanpa menggunakan oksigen. Respirasi anaerobik
menggunakan senyawa tertentu misalnya asam fosfoenol piruvat atau asetal
dehida, sehingga pengikat hidrogen dan membentuk asam laktat atau
alcohol. Respirasi anaerobik terjadi pada jaringan yang kekurangan oksigen,
akan tumbuhan yang terendam air, biji – biji yang kulit tebal yang sulit
ditembus oksigen, sel – sel ragi dan bakteri anaerobik. Bahan baku respirasi
anaerobik pada peragian adalah glukosa. Selain glukosa, bahan baku seperti
fruktosa, galaktosa dan malosa juga dapat diubah menjadi alkohol. Hasil
akhirnya adalah alcohol, karbon dioksida dan energi. Glukosa tidak terurai
lengkap menjadi air dan karbondioksida, energi yang dihasilkan lebih kecil
dibandingkan respirasi aerobik. Reaksinya :
ragi
C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 ∆G⁰= 21Kal
Dari persamaan reaksi tersebut terlihat bahwa oksigen tidak diperlukan.
Bahkan bakteri anaerobik seperti klostidrium tetani (penyebab tetanus) tidak
dapat hidup jika berhubungan dengan udara bebas. Infeksi tetanus dapat
terjadi jika luka tertutup sehingga member kemungkinan bakteri tambah
subur (Syamsuri, 1980).

28
II. Alat dan Bahan
1. Erlenmeyer 250 cc 4 buah
2. Selang plastic
3. Pompa udara
4. Pengukur waktu
5. Gabus penutup
6. Lilin dan korek api
7. Kecambah kacang hijau dan kecambah jagung
8. Larutan KOH (Kalium Hidroksida)
III. Cara Kerja
1. Siapkan 4 buah Erlenmeyer masing – masing diberi tanda A, B, C, dan
2. Tabung Erlenmeyer A, C, dan D diisi larutan KOH masing – masing
sebanyak 50 cc
3. Tabung B diisi kecambah sebanyak 100 gram
4. Rangkai keempat tabung berurutan dari A ke D dengan cara menutup
mulut tabung dengan gabus penutup dan untuk menjaga kebocon
ditetesi lilin keliling mulut tabung.
5. Dengan menggunakan pompa udara alirkan udara dari tabung D
menuju ke tabung A
6. Amati perubahan yang terjadi pada larutan dalam tabung A, C, dan D
pada selang waktu 20menit, 40menit, dan 60menit.
7. Tabulasikan data hasil pengamatan ke dalam table.
IV. Hasil Pengamatan

29
Kecambah kedelai Tabung Kecambah Kacang Hijau
20 menit 40 menit 60 menit 20 40 menit 60 menit
menit
A Airnya agak Airnya agak Airnya agak Agak Sedikit Endapan lebih
keruh keruh keruh keruh mengendap banyak
B Belum ada Pada Kecambah Tetap Pada Kecambah
perubahan kecambah mengeluarkan kecambah mengeluarkan
pada mengeluarkan karbondioksida mengeluarkan karbondioksida
kecambah karbondioksida (jumlah karbondioksida (jumlah
(jumlah banyak) (jumlah banyak)
sedikit) sedikit)
C Airnya agak Airnya agak Airnya agak Sama Sama Sama
keruh keruh keruh
D Airnya agak Airnya agak Airnya Keruh Sama sama Sama
keruh keruh dan
mengendap

V. Pembahasan
Dari hasil pengamata dapat diketahui bahwa 20 menit menit pertama untuk
kecambah kedelai pada tabung A sampai tabung D airnya agak keruh, pada
menit yang ke 40 dari tabung A airnya masih keruh pada tabung B dari dalam
tabung kecambah mengeluarkan karbonmonoksida namun hanya sedikit hingga
menit ke 60 pada tabung C airnya agak keruh sedangkan tabung D airnya keruh
serta terdapat endapan. Pada tabung A sedikit terdapat endapan sedangkan pada
tabung B mengeluarkan karbonmonoksida tetapi hanya sedikit sedangkan pada
tabung C dan D masih sama dimana airnya keruh. Pada kecambah kacang hijau
pada menit ke 20 tabung A sampai tabung D mengalami perubahan yaitu warna
airnya keruh,pada menit ke 40 . Pada menit ke 60 tabung A terdapat banyak
endapan, tabung B kecambah mengeluarkan karbonmonoksida yang sangat
banyak sedangkan pada tabung C dab D airnya keruh.

30
VI. Kesimpulan
Respirasi adalah proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi.
Respirasi dilakukan oleh semua penyusun tubuh , baik sel-sel tumbuhan
maupun sel hewan dan manusia. Respirasi dilakukan baik baik pada siang hari
maupun pada malam hari.Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas
makluk hidup memerlukan energy begitu juga dengan tumbuhan.Dari hasil
pengamatan dapat disimpulkan bahwa yang mengalami perubahan yaitu pada
tabung B yaitu pada menit ke 40 dan 60 baik kecambah kedelai dan kecambah
kacang hijau.Sedangkan pada tabung A,C dan D tidak mengalami perubahan
mugkin tidak ada perubahannya karena adanya efek KOH yang dicampurnya.
VII. Diskusi
1. Apakah perbedaan antara respirasi dan asimilasi. Terangkan dengan
persamaan reaksi
Jawab : Respirasi adalah proses pemecahan konstituen untuk mendapatkan
pelepasan energi. Ini adalah proses yang rumit, yang terjadi di semua
organisme hidup, terlepas dari keberadaan sel klorofillous. Proses respirasi
terjadi 24 jam sehari karena tidak memerlukan cahaya untuk melanjutkan
proses. Jika kita membuat tampilan yang tajam dalam hal ini, kita akan
mengetahui bahwa respirasi adalah proses balik fotosintesis Sedangkan
asimilasi yaitu proses pemanfaatan nitrat dalam proses fotosintesis.
Asimilasi terjadi melalui penyerapan nitrogen dalam bentuk ion nitrat dan
amonium dari dalam tanah oleh tanaman. Melalui suatu proses, senyawa ion
nitrogen tersebut kemudian direaksikan hingga terbentuk berbagai unsur
organik seperti asam amino, asam nukleat dan bahkan ada senyawa ion
nitrogen yang di sisipkan ke dalam klorofil.
2. Apa perbedaan antara respirasi dengan fermentasi
Jawab : Respirasi adalah proses pemecahan konstituen untuk mendapatkan
pelepasan energi. Ini adalah proses yang rumit, yang terjadi di semua
organisme hidup, terlepas dari keberadaan sel klorofillous. Proses respirasi
terjadi 24 jam sehari karena tidak memerlukan cahaya untuk melanjutkan

31
proses. Jika kita membuat tampilan yang tajam dalam hal ini, kita akan
mengetahui bahwa respirasi adalah proses balik fotosintesis. Sedangkan
fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam
keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah
satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas
yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan
anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
3. Faktor – factor apa yang berpengaruh terhadap kecepatan respirasi
Jawab :
Faktor Internal

Faktor internal dalam respirasi adalah faktor yang berasal dari dalam
tumbuhan sendiri, seperti :

a) Jumlah plasma dalam sel.

Jaringan-jaringan meristematik (jaringan yang masih muda) terdapat sel-sel


yang masih penuh dengan plasma dengan viabilitas tinggi biasanya
mempunyai kecepatan respirasi yang lebih besar daripada jaringan-jaringan
yang lebih tua dengan jumlah plasmanya sudah lebih sedikit.

b) Jumlah substrat respirasi dalam sel.

Jumlah substrat respirasi pada tumbuhan merupakan hal yang penting dalam
melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang sedikit
akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Sebaliknya,
tumbuhan dengan kandungan substrat yang banyak akan melakukan
respirasi dengan laju yang tinggi. Substrat utama respirasi adalah
karbohidrat.

c) Umur dan tipe tumbuhan.

Tingkat respirasi yang terjadi pada tumbuhan muda akan lebih tinggi dari
tumbuhan yang sudah dewasa atau lebih tua. Hal ini dikarenakan pada

32
tumbuhan muda jaringannya juga masih muda dan sedang berkembang
dengan baik. Umur tumbuhan juga akan memepengaruhi laju respirasi. Laju
respirasi tinggi pada saat perkecambahan dan tetap tinggi pada fase
pertumbuhan vegetatif awal (di mana laju pertumbuhan juga tinggi) dan
kemudian akan menurun dengan bertambahnya umur tumbuhan.

Faktor Eksternal

Suhu.

Secara umum pada batas-batas tertentu kenaikan suhu menyebabkan pula


kenaikan laju respirasi. Kecepatan reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap
kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing
spesies tumbuhan. Namun, kenaikan suhu yang melebihi batas minimum kerja
enzim, akan menurunkan laju respirasi karena enzim respirasi tidak dapat
bekerja dengan baik pada suhu tertalu tinggi.

Kandungan O2 udara.

Pengaruh kadar oksigen dalam atmosfer terhadap kecepatan respirasi akan


berbeda-beda tergantung pada jaringan dan jenis tumbuhan, tetapi meskipun
demikian makin tinggi kadar oksigen di atmosfer maka makin tinggi
kecepatan respirasi tumbuhan.

Kandungan CO2 udara.


Semakin tinggi konsentrasi karbondioksida diperkirakan dapat menghambat
proses respirasi. Konsentrasi karbondioksida yang tinggi menyebabkan stomata
menutup sehingga tidak terjadi pertukaran gas atau oksigen tidak dapat diserap
oleh tumbuhan. Pengaruh hambatan yang telah diamati pada respirasi daun
mungkin disebabkan oleh hal ini.

Kandungan air dalam jaringan.

33
Pada umumnya dengan naiknya kandungan air dalam jaringan kecepatan
respirasi juga akan meningkat. Ini nampak jelas pada biji yang sedang
berkecambah.

Cahaya.

Cahaya akan mendorong laju respirasi pada jaringan tumbuhan yang


berklorofil karena cahaya berpengaruh pada tersedianya substrat respirasi
yang dihasilkan dari proses fotosintesis.

Garam-garam mineral.

Bila terjadi penyerapan garam-garam mineral dari dalam tanah, maka laju
respirasi akan meningkat. Hal ini dikaitkan dengan energi yang diperlukan pada
saat garam/ion diserap dan diangkut. Keperluan energi itu dipenuhi dengan
menaikkan laju respirasi. Fenomena ini dikenal dengan respirasi garam.

34
PRATIKUM 6

Topik : Efek hormone cytokinin terhadap proses penundaan


snescence pada jaringan organ daun senescence jaringan organ daun

Tujuan : Untuk mengetahui efek hormon cytokinin terhadap


proses penundaan senescence

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori
Fungsi utama sitokinin adalah merangsang pembelahan sel. Beberapa dari
protein dapat berupa enzim yang diperlukan dalam mitosis. Proses penuaan
kondisi yang menyertai pertambahan umum, yang mengarah kematian organ
atau organisme tersebut mengalami penuaan (senescence). (Salisbury. 1995).

Terdapat bukti utama yang menyatakan keterlibatan sitokinin yaitu banyak


jenis sitokinin yang mampu menggantikan sebagian faktor yang dibutuhkan
akar untuk menunda penuaan dan kandungan sitokinin helai daun meningkat
berlipat ganda ketika akar liar terbentuk pada tanaman bunga matahari
kandungan sitokinin pada cairan xylem meningkat selama masa pertumbuhan
cepat, kemudian sangat menurun saat pertumbuhan berhenti dan tanaman mulai
berbunga, hal tersebut menunjukan bahwa berkurangnya pengangkutan
sitokinin dari akar ketajuk mengakibatkan penuaan lebih
cepat. (Sasmitamiharja. 1996)

Proses penuaan dialami oleh semua sel kecuali meristematik pada saat yang
berbeda-beda. Daun tumbuhan herba menahun menua mulai dari daun tuanya
sampai daun mudanya diikuti oleh batang, akar dan juga organ generatifnya.
Proses penuaan terprogram secara genetic oleh masing-masing tumbuhan.
Penuaan merupakan suatu proses dimana terjadi kehilangan klorofil, RNA dan
protein tersasukdidalam berbagai enzim. Hilangnya keempat unsure tersebut
secara terus-menerus mengakibatkan kerusakan organ. (Lakitan. 2007)

35
Penuaan merupakan suatu proses penuaan kondisi yang menyertai pertambahan
umur yang mengarah pada kematian organ atau organisme. Walaupun meristem
tidak menua dan barangkali memang tak pernah mati, semua sel yang sudah
berdiferensiasi yang dihasilkan dari meristem mempunyai massa hidup
terbatas, oleh karena itu penuaan dialami semua sel bukan hanya meristem saja
pada yang berbeda-beda banyak spesies hijau lestari mempertahankan daunnya
hanya selama 2 atau 3 tahun sebelum mati dan gugur (Loveless, 1987).

Penuaan (senescence) dapat diartikan sebagai proses menuju tua yang


terprogram dan mengarah kematian. Penuaan terjadi bisa untuk penyembuhan,
pembuangan bagian yang terserang penyakit, terluka dan lain-lain. Pola
penuaan bisa menyeluruh pada tanaman semusim, baik pada bagian atas
tanaman saja, herba tahunan, tumbuhan yang mengugurkan daun, maupun
tanaman berkayu yang gugur tiap tahun. Ada pula yang bersifat progresif dan
adaptif dimana beberapa daun gugur akibat faktor lingkungan seperti suhu,
kekeringan, dan kekurangan hara. Penuaan dapat terjadi pada bunga, daun dan
pada buah. (Firdaus, dkk. 2006)

Bukti keterlibatan sitokinin pada proses penuaan daun,

a) Sitokinin mampu mengganti faktor yang dibutuhkan oleh akar dalam proses
penuaan sehingga kandungan kinetin akan meningkat yang diangkut ke daun
yang menunda proses penuaan.
b) Pada bunga matahari pada fase vegetatif pembentukan kinetin menurun dan
daun berguguran. (Salisbury. 1995).
Sitokinin menunda penuaan pada daun dengan cara mempertahankan keutuhan
membran tonoplas, kloroplas dan mitokondria. Kinetin juga berperan dalam
perusakan membran melalui oksidasi asam lemak tak jenuh pada membran.
Proses ini disebabkan karena kinetin menghambat pembentukan dan
mempercepat penguraian radial bebas seperti superoksidatif dan radial hidroksi
karena kalau tidak dicegah akan mengoksidasi membran. (Salisbury. 1995)

36
II. Alat dan Bahan
1. Cawan petri 12 buah
2. Aquadest
3. Pinset
4. Gunting/silet
5. Air kelapa muda dan air kelapa tua sebanyak 500 ml
6. Daun Hibiscus rosasinensis 50 lembar
III. Cara Kerja
1. Buat seri perlakuan konsentrasi air kelapa yaitu 0%, 5%, 10%, 15%,
20%, dan 25%
2. Tuangkan ke dalam Erlenmeyer sebanyak 50 ml
3. Pilihlah daun Hibiscus rosasinensis dan potong bulat – bulat dengan
diameter 5 cm, masukkan ke dalam erlenmyer yang telah disiapkan
(tiap cawan petri 2 potongan daun)
4. Amati perubahan morfologi daun yang nampak setiap hari selama 1
minggu
5. Tabulasikan data hasil pengamatan
IV. Hasil Pengamatan
Air kelapa Hari ke
1 2
0 ++ +
5 ++ +
10 +++ ++
15 ++++ +++
20 ++++ +++
25 ++ ++
Keterangan :
+ = Layu, Daun berwarna sangat kuning. Banyak bercak hitam, dengan
jumlah tulang daun yang nampak sangat sedikit

37
++ = Layu, Daun berwarna kuning, Banyak bercak hitam, dengan tulang
daun yang nampak sedikit
+++ = Agak layu, Daun berwarna hijau kekuningan,Sedikit bercak hitam,
dengan tulang daun yang nampak banyak
++++ = Segar, Daun berwarna hijau, Tidak ada bercak hitam,dengan tulang
daun yang nampak snagat banyak
V. Pembahasan
Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa sitokinin berpengaruh dalam
penundaan penuaan pada daun bunga kembang sepatu. Hal ini dapat dibuktikan
pada daun yang berumur sama dan diberi perlakuan dengan air kelapa tua
dengan konsentrasi yang tinggi lebih terlihat segar dibanding dengan daun yang
diberi perlakuan air kelapa tua dengan konsentrasi yang rendah.

Sitokinin menunda penuaan pada daun dengan cara mempertahankan keutuhan


membran tonoplas, kloroplas dan mitokondria. (Salisbury. 1995). Ditinjau dari
hasil pengamatan yang diperoleh, dibuktikan pada perlakuan air kelapa tua
15%, dan 20% pada daun bunga kembang sepatu, pada morfologi daun yang
diberi perlakuan dengan air kelapa tua 15% pada hari pertama daun masih
segar, tidak ada bercak hitam, dan daun masih berwarna hijau. Dan pada hari
kedua daun mulai agak layu disertai dengan warna daun hijau kekuningan dan
sedikit bercak hitam.

Namun, pada praktikum kali ini, terjadi perbedaan hasil pada perlakuan
konsentrasi air kelapa tua dengan perlakuan konsentrasi 25%, pada pengamatan
hari pertama daun bunga kembang sepatu sudah mulai menunjukan gejala layu,
dan daun berwarna kuning. Hal ini diduga akibat penularan bakteri atau
mikroba, karena pada saat pratikum dilaksanakan kelompok yang bertugas
tidak sengaja menaruh percobaan tersebut pada enkas yang masih belum
dibersihkan dari mikroba.

VI. Kesimpulan

38
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa:

a) Kinetin dapat menunda penuaan pada daun bunga raya


b) Hormon kinetin termasuk turunan dari hormone sitokinin yang
berfungsi untuk memacu pembelahan sel.
c) Penuaan merupakan suatu proses penuaan kondisi yang menyertai
pertambahan umur yang mengarah pada kematian organ atau
organisme.
d) Penuaan terjadi bisa untuk penyembuhan, pembuangan bagian yang
terserang penyakit, terluka dan lain-lain.
e) Kinetin menunda penuaan pada daun dengan cara mempertahankan
keutuhan membran tonoplas, kloroplas dan mitokondria.
VII. Diskusi
1. Apa itu hormone cytokinin. Sebutkan dan tuliskan rumus bangunnya
Jawab : Hormon sitokinin adalah hormon tumbuhan yang berperan dalam
pembelahan sel (sitokinesis). Senyawa sitokinin pertama kali
ditemukan pada tanaman tembakau dan disebut kinetin. Hormon
sitokinin dibentuk pada bagian akar dan ditransportasikan ke
seluruh bagian sel tanaman tembakau. Senyawa sitokinin juga
terdapat pada tanaman jagung dan disebut zeatin.
Rumus bangun hormone sitokinin :

2. Sebutkan fungsi hormone cytokinin selain penundaan snencense

39
Jawab :
a) Sitokinin mampu mengganti faktor yang dibutuhkan oleh akar dalam
proses penuaan sehingga kandungan kinetin akan meningkat yang
diangkut ke daun yang menunda proses penuaan.
b) Pada bunga matahari pada fase vegetatif pembentukan kinetin
menurun dan daun berguguran. (Salisbury. 1995).
c) Sitokinin menunda penuaan pada daun dengan cara mempertahankan
keutuhan membran tonoplas, kloroplas dan mitokondria. Kinetin
juga berperan dalam perusakan membran melalui oksidasi asam
lemak tak jenuh pada membran. Proses ini disebabkan karena kinetin
menghambat pembentukan dan mempercepat penguraian radial
bebas seperti superoksidatif dan radial hidroksi karena kalau tidak
dicegah akan mengoksidasi membran. (Salisbury. 1995)

3. Apakah terdapat perbedaan kandungan hormone cytokinin pada air


kelapa muda air kelapa tua
Jawab : Karena kandungan sitokininnya lebih rendah dibandingkan air
kelapa muda, sehingga penyerapan sitokinin oleh akar tidak
optimal.

40
PRATIKUM 7

Topik : Dormansi karena kulit biji yang keras

Tujuan : Untuk mematahkan dormansi pada biji karena kulit biji


yang keras dengan perlakuan fisik dan khemis

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori

Ketika tumbuhan berada dalam kondisi yang menguntungkan, tumbuhan


tersebut akan melakukan penundaan terjadinya pertumbuhan dengan
beristirahat dan akan melanjutkan pertumbuhannya jika kondisi lingkungan
mendukung dan memungkinkan. Biji mengalami masa dormansi dikarenakan
beberapa penyebab, antaralain: impermeabilitas kulit biji terhadap air dan gas,
belum matangnya embrio, tingkat ketahanan kulit biji terhadap gaya mekanik,
kandungan zat penghambat dan jaringan yang terdapat di dalam biji, kebutuhan
khusus terhadap penyinaran matahari dan kebutuhan pada suhu dingin (Utama,
2005: 142).

Hormon yang berperan dalam dormansi biji adalah hormon asam absisat
(ABA). Hormon ini dihasilkan pada tunas terminal dan berperan dalam
memperlambat pertumbuhan dan mengarahkan bagian primordia daun untuk
mengalami perkembangan menjadi sisik yang nantinya berfungsi untuk
melindungi tunas yang mengalami dormansi pada musim dingin. Hormon asam
absisat juga berperan dalam menghambat pembelahan sel pada kambium
pembuluh. Biji akan melakukan perkecambahan ketika asam absisat dihambat
dengan cara membuatnya tidak aktif. Biji memerlukan cahaya atau stimulus
lain untuk memicu perombakan asam absisat. Untuk mematahkan dormansi biji
dapat juga dilakukan dengan meningkatkan hormon giberelin, sehingga rasio
asam absisat terhadap giberelin dapat menentukan apakah biji tersebut akan
tetap dorman atau mengalami perkecambahan (Campbell, 2000: 386).

41
Untuk mempercepat proses pemecahan dormansi pada tipe benih berkulit
tebal dan keras harus dilakukan beberapa cara salah satunya dengan cara
merendam benih dalam larutan kimia seperti asam sulfat (H2SO4), asam
klorida (HCl), dan hidrogen peroksida (H2O2). Larutan asam kuat seperti
H2SO4 sering digunakan dengan konsentrasi yang bervariasi sampai pekat
tergantung jenis benih yang diperlakukan. Lamanya perlakuan larutan asam
harus memperhatikan dua hal yaitu kulit biji atau pericarp yang bisa diretakkan
untuk memungkinkan imbibisi serta larutan asam tidak mengenai embrio yang
menyebabkan benih rusak total (Satya, 2015: 1376).

Bila penyebab terjadinya dormansi adalah embrio benih disebut dormansi


fisiologi, sedangkan bila penyebabnya kulit benih disebut dormansi fisik.
Penyebab dormansi fisik dan dormansi fisiologi dapat dijumpai pada berbagai
spesies, tetapi ada spesies yang mempunyai dormansi ganda. Dari semua
perlakuan pematahan dormansi secara fisik yang dicoba ternyata skarifikasi
(dengan kertas amplas) adalah cara yang cocok untuk mematahkan dormansi
benih aren, sebab mampu mempercepat proses perkecambahan (43 hari setelah
ditanam) dan mempunyai daya berkecambah yang tinggi yaitu 79,41
% (Hartawan, 2016).

Umumnya perlakuan pematahan dormansi diberikan secara fisik, seperti


skarifikasi mekanik dan kimiawi. Skarifikasi mekanik meliputi pengamplasan,
pengikiran, pemotongan dan penusukan bagian tertentu pada benih. Kimiawi
biasanya dilakukan dengan menggunakan air panas dan bahan-bahan kimia
seperti asam kuat (H2SO4 dan HCl), alkohol dan H2O2 yang bertujuan untuk
merusak atau melunakkan kulit benih (Kartika, 2015: 49).

Benih asam jawa merupakan benih ortodok, sehingga dapat disimpan dalam
jangka waktu yang cukup lama. Benih ortodok dapat dikeringkan sampai kadar
air rendah 5-10 % dan dapat di simpan pada suhu serta kelembaban
penyimpanan yang rendah tanpa menyebabkan penu-runan viabilitas.
Umumnya benih ortodok mengalami masa dormansi, yaitu masa dimana benih

42
tidak dapat berkecambah dengan segera meskipun berada pada ling-kungan
yang sesuai bagi perkecambahannya. Dorman pada benih asam jawa
merupakan dormansi fisik. Kulit benih yang impermeabel menjadikan benih
sulit untuk dimasuki oleh air saat proses imbibisi. Oleh karena itu, benih asam
jawa memerlukan perlakuan untuk mematahkan dormansinya. Perendaman
H2SO4, KNO3, dan asam giberelin merupakan perlakuan kimia yang dapat
mematahkan dormansi benih. Kulit benih yang keras bersifat impermeabel
terhadap air dan udara sehingga menghalangi proses perkecambahan benih
(Astari, 2014: 805).

Perkecambahan merupakan suatu proses saat biji tumbuh dan berkembang.


Faktor yang sapat mempengaruhi perkecambahan, yaitu air, temperature, dan
cahaya. kekurangan air dapat menyebabkan biji gagal berkecambah, sedangkan
air yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan biji menjadi busuk. Temperatur
yang optimum untuk perkecambahan biji berkisar 25 – 30o C. Temperatur yang
terlalu rendah dapat mengakibatkan perkecambahan terlambat terjadi.
Sementara itu, temperatur yang tinggi dapat mengakibatkan biji rusak dan gagal
berkecambah. Umumnya biji berkecambah lebih baik jika mendapatkan
penyinaran yang cukup. Penyinaran yang rendah dapat mengakibatkan etiolasi
(pemanjangan batang) dan menurunkan kemampuan hidup bibit setalah pindah
tanam. Sebaliknya, penyinaran yang terlalu tinggi dapat menyebabkan biji
menjadi rusak (Harjono, 2007).

II. Alat dan Bahan


1. Cawan petri 10 bh
2. Gelas kimia
3. Ampelas
4. Pencatat waktu
5. Aquadest
6. H2SO4 pekat
7. Kapas steril

43
8. Biji asam dan biji lamtoro sebanyak 100 biji
III. Cara Kerja
1. Pilihlah biji yang bagus sebanyak 50 biji dikalikan 5 perlakuan = 250
biji bagi dalam 5 kelompok
2. Kelompok 1 biji diamplas pada bagian yang tidak ada titik
lembaganya sampai kulit biji terlepas
3. Kelompok 2 biji direndam dengan H2SO4 pekat selama 5 menit
kemudian dicuci dengan air sampai bersih
4. Kelompok 3 biji diperlakuan seperti butir 3 dengan perendaman
selama 10 menit
5. Kelompok 4 biji diperlakukan seperti butir 3 dengan perendaman
selama 15 menit
6. Kelompok 6 tanpa perlakuan (control)
7. Siapkan cawan petri dialasi kapas basah, kemudian kecambahkan biji
yang sudah disiapkan sebanyak 10 biji tiap cawan dengan titik
Lembaga menghadap ke atas/samping
8. Amati kapan biji mulai berkecambah, kapan harus senantiasa basah
9. Percobaan diakhiri setelah 2 minggu atau semua biji sudah tumbuh
10. Tabulasikan data ke dalam table dan hitung persentase perkecambahan
tiap kelompok
IV. Hasil Pengamatan

Hari ke Asam Asam Asam Asam Asam


(Amplas) (5 menit (10 menit (15 menit Kontrol
perendaman perendaman perendaman
H2SO4) H2SO4) H2SO4)
1 Sedikit Semua sudah 7 biji mulai 9 biji mulai Belum
mengelupas mulai mengelupas mengelupas mengelupas ada yang
tumbuh

44
(2
Desember
2019)
2 Semua 5 sudah tumbuh 7 sudah 5 sudah Belum
(3 mengelupas kecambah tumbuh tumbuh ada yang
Desember tetapi kecambah kecambah tumbuh
2019) belum
tumbuh
3 Belum 7 8 tumbuh 5 sudah Belum
(4 tumbuh tumbuh,kecambah kecambah tumbuh tumbuh
Desember 1 mengelupas kecambah
2019) dan tunas
4 5 tumbuh 9 tumbuh tunas 8 tumbuh 5 tumbuh Belum
(5 kecambah tunas tunas tumbuh
Desember
2019)
5 6 tumbuh 9 tumbuh tunas 9 tumbuh 6 tumbuh Belum
(6 tunas tunas tunas tumbuh
Desember
2019)
6 6 tumbuh 9 tumbuh tunas 9 tumbuh 8 tumbuh Belum
(7 tunas dan 1 tumbuh tunas tunas tumbuh
Desember kecambah
2019)
7 6 tumbuh 10 tumbuh tunas 9 tumbuh 8 tumbuh Belum
(8 tunas tunas dan 1 tunas dan 1 tumbuh
Desember tumbuh tumbuh
2019) kecambah kecambah

45
8 6 tumbuh 10 tumbuh tunas 10 tumbuh 9 tumbuh Belum
(9 tunas tunas tunas tumbuh
Desember
2019)
9 6 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 9 tumbuh Belum
(10 tunas daun tunas dan 1 tumbuh
Desember tumbuh
2019) kecambah
10 6 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 10 tumbuh Belum
(11 tunas daun tunas tumbuh
Desember
2019)
11 6 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 8 tumbuh Belum
(12 tunas daun daun tumbuh
Desember
2019)

12 6 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 10 tumbuh Belum


(13 tunas 2 daun daun tumbuh
Desember kecambah
2019)
13 10 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 8 tumbuh 1 tumbuh
(14 tunas daun daun kecambah
Desember
2019)
14 6 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 9 tumbuh 1 tumbuh
(15 tunas dan 4 daun daun kecambah
Desember tumbuh
2019) daun

46
15 6 tumbuh 10 tumbuh daun 10 tumbuh 10 tumbuh 1 tumbuh
(16 tunas dan 4 daun daun kecambah
Desember tumbuh
2019) daun

Hari ke Lamtoro Lamtoro Lamtoro Lamtoro Lamtoro


(Amplas) (5 menit (10 menit (15 menit Kontrol
perendaman perendaman Perendaman
H2SO4) H2SO4) H2SO4)
1 3 sudah Belum ada Belum ada 5 sudah Belum
(2 tumbuh yang tumbuh yang tumbuh tumbuh ada yang
Desember kecambah kecambah tumbuh
2019) dan 2
mengelupas
2 5 sudah 1 tumbuh 6 tumbuh 6 tumbuh Belum
(3 tumbuh kecambah kecambah kecambah tumbuh
Desember kecambah
2019)
3 9 tumbuh 5 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
(4 kecambah kecambah kecambah kecambah tumbuh
Desember
2019)
4 (5 10 tumbuh 5 tumbuh 10 tumbuh 8 tumbuh Belum
Desember kecambah kecambah kecambah kecambah tumbuh
2019)
5 (6 10 tumbuh 5 tumbuh 10 tumbuh 8 tumbuh Belum
Desember tunas kecambah tunas tunas tumbuh
2019)

47
6 (7 10 tumbuh 5 tumbuh 10 tumbuh 8 tumbuh Belum
Desember tunas kecambah tunas tunas tumbuh
2019)
7 (8 10 tumbuh 5 tumbuh 10 tumbuh 8 tumbuh Belum
Desember tunas kecambah tunas tunas tumbuh
2019)
8 (9 10 tumbuh 5 tumbuh 10 tumbuh 8 tumbuh Belum
Desember tunas kecambah tunas tunas tumbuh
2019)
9 (10 10 tumbuh 7 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember tunas kecambah tunas daun tumbuh
2019) dan 2 tumbuh
tunas
10 (11 10 tumbuh 7 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember tunas kecambah tunas daun tumbuh
2019) dan 2 tumbuh
tunas
11 (12 8 tumbuh 4 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember daun daun daun daun tumbuh
2019
12 (13 10 tumbuh 7 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember daun daun daun daun tumbuh
2019)
13 (14 10 tumbuh 10 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember daun daun daun daun tumbuh
2019)
14 (15 10 tumbuh 10 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember daun daun daun daun tumbuh
2019)

48
15 (16 10 tumbuh 10 tumbuh 10 tumbuh 7 tumbuh Belum
Desember daun daun daun daun tumbuh
2019)
V. Pembahasan
Tanaman asam atau Thamarindus indica memiliki kulit biji yang keras
sehingga dapat menghalangi masuknya air dan oksigen kedalam biji sekaligus
dapat menghambat pertumbuhan embrio. Perkecambahan ditandai dengan
munculnya akar embrionik (radikula) menembus kulit biji. Perkecambahan
terjadi setelah mengalami beberapa tahap yaitu absorbs air, metabolisme,
pemecahan materi, proses transport materi, pembentukan kembali materi baru,
respirasi dan pertumbuhan. Masa dormansi biji karena kulit biji yang keras
dapat diputuskan dengan berbagai perlakuan khusus. Berdasarkan hasil
praktikum maka dapat dilihat bahwa perlakuan-perlakuan khusus seperti
perlakuan fisik dan perlakuan kimia dapat memutuskan masa dormansi suatu
biji karena kulitnya yang keras.

Kecambah dibagi menjadi 6 kelompok dan diberi perlakuan yang berbeda-beda


yaitu dengan skarifikasi fisik atau diamplas dan skarifikasi kimia (direndam
didalam larutan asam sulfat pekat selama 5 menit, 10 menit, 15 menit dan 20
menit) dan yang terakhir sebagai kontrol hanya direndam dengan air.
Pengamatan dilakukan selama 14 hari.

Skarifikasi secara fisik yang dilakukan pada biji Thamarindus indica dan Biji
Lamtoro adalah dengan cara di amplas hingga sebagian kulit biji terkelupas.
Pengamplasan ini bertujuan untuk menipiskan atau merusak kulit biji sehingga
kulit biji bersifat permeable untuk memudahkan biji melakukan imbibisi air dan
oksigen yang dibutuhkan pada proses perkecambahan. Selain itu karena kulit
bijinya tipis maka radikula akan dengan mudah menembus kulit biji. Hasil
praktikum menunjukkan bahwa semua biji yang telah diamplas pada akhirnya
akan terkelupas akan tetapi tidak mengalami perkecambahan karena pada
beberapa biji Thamarindus indica yang di amplas telah berjamur, tumbuhnya

49
organisme lain ini juga ikut mempengaruhi gagalnya perkecambahan karena
terjadi persaingan dalam mengambil oksigen dan kebutuhan air.

Selain skarifikasi fisik, juga dilakukan skarifikasi kimia yaitu dengan


merendam kecambah di dalam larutan asam sulfat pekat
(H2SO4). Perendaman dengan asam sulfat efektif dalam mengurangi
kandungan dalam biji keras. Dengan kata lain perlakuan ini dapat
menghilangkan sumbat hilum dan mengurangi kandungan kulit biji yang keras
sehingga biji dapat tumbuh dengan baik. Skarifikasi kimia juga bertujuan untuk
melunakkan kulit biji sehingga biji dapat mengimbibisi air dan oksigen, juga
dapat memudahkan embrio untuk tumbuh. Biji Asam yang diamplas hingga
akhir pengamatan hanya 6 yang tumbuh tunas dan 4 sudah tumbuh daun. Pada
biji asam yang direndam H2SO4 selama 5 menit, 10 menit dan, 15 menit hingga
akhir pengamatan sama – sama tumbuh 10 daun. Sedangkan pada perlakuan
Kontrol hanya tumbuh 1 kecambah. Lalu pada akhir pengamatan biji lamtoro
pada perlakuan dengan diamplas 10 tumbuh daun. Dan pada perlakuan dengan
perendaman 5 menit, 10 menit terdapat 10 yang sudah tumbuh daun. Sedangkan
pada perendaman 15 menit hanya terdapat 7 yang sudah tumbuh daun.
Sednagkan pada perlakuan control biji lamtoro didapatkan hasil belum tumbuh
dari awal pengamatan hingga akhir pengamatan Kurangnya biji yang
mengalami perkecambahan pada perlakuan control antara biji asam dan biji
lamtoro disebabkan oleh beberapa faktor yaitu karena kulit biji belum lunak
atau rusak sepenuhnya sehingga kulit biji masih bersifat impermeabilitas atau
tidak dapat mengimbibisi air dan oksigen. Selain itu, mungkin saja
perkecambahan gagal terjadi karena kondisi embrio tanaman Thamarindus
indica dan Lamtoro telah rusak.

VI. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang di peroleh dari praktikum ini adalah sebagai


berikut :

50
a) Dormansi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme
hidup atau bagiannya sebagai tanggapan atas suatu keadaan yang tidak
mendukung pertumbuhan normal.
b) Dari hasil pengamatan biji yang direndam pada larutan asam sulfat pekat
(H2SO4) selama 5 menit, 10 menit, 15 menit dan amplas yang terkelupas
secara berturut-turut yaitu 5 biji, 7 biji, 9 biji. Sedangkan pada biji yang
sebagai kontrol yang terkelupas hanya 1 dan sudah berkecambah yaitu
pada biji lamtoro.
Dari Praktikum ini dapat dilihat bahwa perlakuan-perlakuan yang lebih
efisien dalam mematahkan dormansi biji Thamarandus indica dan Biji
Lamtor yaitu pada perlakuan kimia karena larutan kimia (H2SO4)
menjadikan kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses
imbibisi, larutan asam kuat seperti asam sulfat dengan konsentrasi pekat
membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air
dengan mudah.
VII. Diskusi
1. Bagaimana peranan H2SO4 pekat terhadap proses perkecambahan biji
berkulit keras?
Jawab : Larutan asam untuk perlakuan ini adalah asam sulfat pekat
(H2SO4) asam ini menyebabkan kerusakan pada kulit biji dan
dapat diterapkan pada legum maupun non legume (Coppeland,
1980).
2. Sebutkan keuntungan pematahan dormansi. Apakah efektivitas dapat dicapai
secara khemis atau physis?
Jawab : Perlakuan pematahan dormansi bertujuan untuk meningkatkan
viabilitas dan vigor suatu benih. Perlakuan pematahan dormansi juga
digunakan untuk proses atau kondisi yang diberikan guna mempercepat
perkecambahan benih (Widhityarini et al., 2011).

51
PRATIKUM 9

Topik : Efek hormone etilen pada proses pematangan buah

Tujuan : Untuk mengetahui bagaimana peranan hormone etilen


dalam proses pematangan buah

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori
II. Alat dan bahan
1. Kantong kain dengan ukuran 15 x 20 cm dengan ukuran 3 x 5 cm
2. Karet gelang 1 ikat
3. Timbangan
4. Pisau
5. Kertas
6. Karbit
7. Pisang mentah
III. Cara kerja
1. Siapkan kantong kain sebanyak 12 lembar
2. Pilihlah pisang dengan kualitas dan berat yang setara sebanyak 12 buah,
kemudian masukkan ke dalam kantong – kantong yang sudah
disediakan
3. Timbang karbit sebagai perlakuan yang berbeda pada masing – masing
yaitu 0,5 gr; 1gr; 1,5 gr; 2gr; 3gr kemudian masukkan ke dalam kantong
yang sudah terisi pisang
4. Amati selama satu minggu atau sampai pisang masak sempurna
5. Pengamatan dilakukan terhadap warna, tekstur, taste. Khusus untuk
taste dilakukans setelah pisang masak sempurna
6. Tabulasikan data ke dalam tabel
IV. Hasil Pengamatan

52
Percobaan I
Berat : 67,8 Berat : 64,1 Berat : 66,7 Berat : 65,5 Berat : 63 gr Berat : 65,5 Kontrol
Karbit : 0,5 gr Karbit : 1gr Karbit : 1,5 gr Karbit : 2gr Karbit : 3gr gr
Karbit 3gr
Tgl : 2/12/19 Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau Warna hijau, Warna hijau
Warna hijau, tekstur keras tekstur keras tekstur keras kekuningan, tekstur keras kekuningan,
tekstur keras sekali sekali sekali tekstur keras sekali tekstur keras
sekali sekali
Tgl : 3/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau
Warna hijau kekuningan , kekuningan , kekuningan , kekuningan , kekuningan , kekuningan ,
kekuningan , tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras
tekstur keras sekali sekali sekali seakli sekali sekali
sekali
Tgl : 4/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau
Warna hijau kekuningan, kekuningan, kekuningan, kekuningan, kekuningan, kekuningan,
kekuningan, keras sekali keras sekali keras sekali keras sekali keras sekali tekstur keras
keras sekali
Tgl : 5/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau
Warna hijau kekuningan, kekuningan kekuningan kekuningan kekuningan kekuningan
kekuningan, keras dan agak dan keras dan keras dan keras dan keras
agak lunak lunak
Tgl ; 6/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna hijau
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kekuningan kuning kekuningan
kehijauan, dan tekstur dan tekstur dan keras dan tekstur kehijauan dan dan tesktur
Tekstur lunak keras keras agak lunak tekstur lunak keras
sekali dan rasa agak
manis

53
Tgl : 7/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali
Tgl : 8/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali
Tgl : 9/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali
Tgl : 10/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali

54
Tgl : 11/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali

55
Percobaan II
Berat : 63 gr Berat : 54,8 Berat : 56,5 Berat : 57,5 Berat : 55,8 Berat : 51,3 Kontrol
Karbit : 0,5 gr Karbit : 1gr Karbit : 1 gr Karbit : 2gr gr gr
Karbit : 3gr Karbit 0,5gr
Tgl : 2/12/19 Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau ,
Warna hijau, tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras
tekstur keras sekali sekali sekali sekali sekali
sekali
Tgl : 3/12/19 Warna hijau, Warna hijau, Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau
Warna hijau tekstur keras tekstur keras kekuningan , kekuningan , kekuningan , kekuningan ,
kekuningan , sekali sekali tekstur keras tekstur keras tekstur keras tekstur keras
tekstur keras sekali seakli sekali sekali
sekali
Tgl : 4/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau
Warna hijau kekuningan, kekuningan, kekuningan, kekuningan, kekuningan, kekuningan,
kekuningan, keras sekali keras sekali keras sekali keras sekali keras sekali tekstur keras
keras sekali
Tgl : 5/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau
Warna hijau kekuningan, kekuningan kekuningan kekuningan kekuningan kekuningan
kekuningan, keras dan agak dan keras dan keras dan keras dan keras
agak lunak lunak
Tgl ; 6/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna hijau
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kekuningan kuning kekuningan
kehijauan, dan tekstur dan tekstur dan keras dan tekstur kehijauan dan dan tekstur
Tekstur lunak keras keras agak lunak tekstur lunak keras
sekali dan rasa agak
manis

56
Tgl : 7/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali
Tgl : 8/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, keras keras keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali
Tgl : 9/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, lunak lunak keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali
Tgl : 10/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, lunak, rasa lunak, rasa lunak, rasa tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis manis manis manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali

57
Tgl : 11/12/19 Warna hijau Warna hijau Warna hijau Warna Warna Warna
Warna kuning kekuningan kekuningan kekuningan kuning kuning kuning,
kecoklatan, dan tekstur dan tekstur dan tekstur kecoklatan, kecoklatan, tekstur lunak,
tekstur lunak, lunak,rasa lunak, rasa keras tekstur lunak, tekstur lunak, rasa manis
rasa manis manis manis rasa manis rasa manis
sekali sekali sekali

V. Pembahasan
Pada percobaan pertama, dibuatkan perlakuan dengan kombinasi antara berat
pisang dan konsentrasi karbit sebagai berikut: 67,8 gram pisang dan 0,5 gram
karbit, 64,3 gram pisang dan 1 gram karbit, 66,7 gram pisang dan 1,5 gram
karbit, 65,5 gram pisang dan 2 gram karbit, 63 gram pisang dan 3 gram karbit,
65,5 gram pisang dan 3 gram. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan,
kombinasi yang mengalami perubahan warna dari hijau menjadi hijau
kekuningan paling cepat adalah pada perlakukan dengan kombinasi 63 gram
pisang dan 3 gram karbit serta pada pisang control. Perubahan itu terlihat pada
pengamatan hari pertama. Sementara kombinasi yang lainnya baru mengalami
perubahan warna pada pengamtan hari kedua. Akan tetapi pisangan dengan
warna akhir kuning yang merupakan warna pisang pada saat matang pada
pengamatan terakhir adalah pada pisang control. Sementara warna akhir pada
pisang dengan kombinasi 63 gram pisang dan 3 gram karbit warna akhirnya
adalah kuning kecoklatan. Hal itu terjadi karena konsentrasi karbit yang tinggi
dengan lamanya waktu perlakuan. Untuk indeks tekstur yang mengalami
perubahan paling cepat dan konsisten adalah pada kombinasi 67,8 gram pisang
dan 0,5 gram karbit yaitu terjadi pada pengamatan hari ke empat, sementara
yang lainnya terjadi pada pengamtan hari ke lima. Sementara kombinasi dengan
rasa paling manis adalah perlakuan dengan kombinasi 67,8 gram pisang dan 0,5
gram karbit, 63 gram pisang dan 3 gram karbit dan kombinasi 65,5 gram pisang
dengan 3 gram karbit. Sementara pada pisang control rasanya kurang manis

58
dibandingkan pisang pada perlakuan dengan ketiga kombinasi diatas. Hal itu
terjadi karena konsentrasi karbit yang tinggi dan waktu perlakuan yang cukup
lama.
Percobaan kedua, dibuatkan perlakuan dengan kombinasi 63 gam pisang dan
0,5 gram karbit, 54,8 gram pisang dan 1 gram karbit, 56,5 gram pisang dan 1
gram karbit, 57,5 gram pisang dan 2 gram karbit, 55,8 gram pisang dan 3 gram
karbit, 51,3 gram pisang dan 0,5 gram karbit serta control. Perubahan indeks
warna dengan tekstur sekaligus paling cepat adalah perlakukan dengan
kombinasi 63 gam pisang dan 0,5 gram karbit dan juga 56,5 gram pisang dan 1
gram karbit. Walau pun kedua tersebut dikombinasikan dengan konsentrasi
kabit yang kecil, akan tetapi ada kemungkinan factor lain mempengaruhi
kecepatan perubahan tekstur dan warna pada keduanya yaitu factor tingkat
kematangan pisang tersebut pada saat dipersiapkan sebelum perlakuan dan
factor lainnya. Kemudian untuk indeks rasa yang paling manis adalah pada
perlakuan dengan kombinasi 63 gam pisang dan 0,5 gram karbit, 57,5 gram
pisang dan 2 gram karbit dan juga perlakuan dengan kombinasi 55,8 gram
pisang dan 3 gram karbit. Berkaitan dengan indeks rasa , factor konsentrasi
karbit yang tinggi tetap menjadi factor paling berpengaruh dalam percobaan Ini.
Pada kedua percobaan tersebut menunjukan bahwa gas etilen dalam hal ini
karbit mempengaruhi kecepatan proses pematangan buah pisang dengan
merangsang sintesis protein yang menyebabkan kandungan protein meningkat
yang membantu meningkatkan enzim yang mendorong terjadinya respirasi
klimaterik.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dalam percobaan di atas, maka dapat saya
simpulkan bahwa gas etilen yang dalam hal ini karbit berpengaruh terhadap
kecepatan proses pematangan buah pisang baik itu warna, tekstur dan rasa yang
dihasilkan. Dalam percobaan ini, pisang yang diperlakukan dengan konsentrasi
karbit yang tinggi mengalami perubahan warna dan tekstur paling cepat dan
menghasilkan rasa yang paling manis.

59
VII. Diskusi
1. Dimana dapat ditemukan hormone etilen, dan apa fungsinya
Jawab : Hormon ini ditemukan dalam tanaman, yang terkadang disebut gas
etilen. Gas etilen tidak berwarna dan mudah menguap. Peran etilen
juga sangat penting sebagai hormon alami tumbuhan, yang berguna
untuk mematangkan buah. Buah-buahan matang pun berkat etilen
dari buah.
Fungsi hormone etilen yaitu :
a) Sebagai hormon yang berfungsi untuk merangsang
pertumbuhan bunga yang bersama – sama dengan auksin.
b) Sebagai hormon yang berfungsi untuk membantu proses
pematangan buah
c) Sebagai hormon yang berfungsi untuk merangsang
pertumbuhan akar dan batang
d) Sebagai hormon yang berfungsi untuk membantu induksi
sel kelamin betina bunga
e) Sebagai hormon yang berfungsi untuk membantu
pemekaran bunga
f) Sebagai hormon yang berfungsi untuk merangsang dan
membentuk akar adventif pada tumbuhan
2. Apakah dampak positif dan negative penggunaan hormone etilen

Jawab : Dampak positifnya dapat mempercepat pematangan buah,


Sedangkan dampak negatiff jika konsentrasi dari hormon etilen ini
lebih tinggi dari hormon auksin, maka akan bisa menghambat
pembentukan dan pertumbuhan akar, batang, bunga serta buah dari
tumbuahn tersebut.

3. Apa fungsi karbit dalam hal ini?

Jawab : Salah satu sifat dari karbit ialah bereaksi ekstrim dengan air
menghasilkan panas. Nah saat reaksi dengan air ini, akan

60
Dihasilkan senyawa kimia Asetilen (Etuna) yang
merupakan agen pematangan buah

61
PRATIKUM 9

Topik : Fotosintesis

Tujuan : Untuk mengukur besarnya volume oksigen yang


dihasilkan dalam proses fotosintesa persatuan waktu tertentu

Tempat : Laboratorium Biologi

I. Landasan teori

Konsep utama dalam fotosintesa adalah penangkapan dan transformasi energi


matahari yang selanjutnya diubah menjadi energim kimia yang disimpan dalam
bentuk senyawa organik, terutama karbohidrat. Dalam proses fotosintesa, tanaman
berhijau daun dengan bantuan sinar matahari mampu mengubah CO2 dan air
menjadi senyawa organic sederhana dan O2.

Kecepatan fotosintesa dipengaruhi factor eksternal dan internal. Faktor internal


antara lain, kandungan klorofil, morfologi daun, anatomi daun, factor protoplasma
dan akumulasi fotosimtat. Sedang factor eksternal antara lain meliputi cahaya,
temperature, air, oksigen, zat hara dan karbon dioksida (santosa, 1990).

II. Alat dan Bahan

a) Gelas kimia
b) Kawat
c) Tabung Reaksi 5 Buah
d) Tumbuhan Hydrilla verticillate
e) Es Cube
f) Padatan Na2Co3 (5 gr)
g) Padatan NaHCO3 (5 gr)
h) Benang
i) Stopwatch
j) Ember Besar
k) Aquades

62
l) Red Box

III. Cara Kerja

1. Menimbang Tanaman Hydrilla verticillata dengan biomassa yang sama


untuk 5 Perangkat percobaan
2. Mengikat kelima rumpun Hydrilla verticillata tersebut dengan tinggi
yang proporsional
3. Merangkai Tanaman Hydrilla verticillata sedemikian rupa di dalam air
supaya tidak muncul gelembung udara.
4. Perangkat percobaan pertama merupakan perangkat kontrol yang tidak
membutuhkan tambahan reagen atau perangkat lainnya
5. Perangkat percobaan kedua merupakan perangkat treatment yang
ditambahkan padatan Na2Co3 (5 gr)
6. Perangkat percobaan ketiga merupakan perangkat treatment yang
ditambahkan padatan NaHCO3 (5 gr)
7. Perangkat percobaan keempat merupakan perangkat treatment yang
ditutup dengan Kotak Merah
8. Perangkat percobaan keempat merupakan perangkat treatment yang
diberikan Es Cube.
9. Setelah seluruh perangkat percobaan selesai lakukan observasi
mengenai tinggi gelembung CO2 dalam tabung reaksi untuk masing-
masing perangkat setiap 10 menit sebanyak 3 kali ulangan. 10.
10. Buatlah grafik terkait data hasil pengamatan tersebut.

IV. Hasil Pengamatan

63
Penambahan Na2CO3 Penambahan Es Cube
10 menit 20 menit 30 menit 10 menit 20 menit 30menit
1 cm 2,1 cm 2,4 cm 0,05 cm 0,05 cm 0,1 cm

Penambahan NaHCO3 Cahaya merah


10 menit 20 menit 30 menit 10 menit 20 menit 30menit
1 cm 2 cm 2,5 cm 3 cm 2,4 cm 3,2 cm

V. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan diatas dpaat diuraikan pada penambahan


Na2CO3 dengan perlakuan 3 ulangan setiap 10 menit, pada ulangan 1 dengan waktu
10 menit air berkurang sebanyak 1 cm, pada ulangan 2 dengan waktu 20 menit air
berkurang sebanyak 2,1cm dan pada ulangan 3 dengan waktu 30 menit air berkurang
sebanyak 2,4 cm. Sedangkan pada penambahan es cube dengan perlakuan 3 ulangan
setiap 10 menit, pada ulangan 1 dengan waktu 10 menit air berkurang sebanyak 0,05
cm, pada ulangan 2 dengan waktu 20 menit air berkurang sebnayak 0,05 cm dan
pada waktu 30 menit air berkurang sebanyak 0,1 cm. Lalu pada penambahan
NaHCO3 dengan perlakuan 3 ulangan setiap 10 menit, pada ulangan 1 dengan waktu
10 menit air berkurang sebanyak 1 cm, pada ulangan 2 dengan waktu 20 menit air
berkurang sebanyak 2 cm, dan pada ulangan 3 dengan waktu 30 menit air berkurang
sebnayak 2,5 cm. Sedangkan pada perlakuan dengan kotak merah dengan perlakuan
3 ulangan setiap 10 menit, pada ulangan 1 dengan waktu 10 menit air berkurang
sebanyak 1,3 cm, dan pada ulangan 2 dengan waktu 20 menit air berkurang
sebanyak 2,4 cm, dan pada ulangan 3 dengan waktu 30 menit air berkurang
sebanyak 3,2 cm.

VI. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka saya dapat menyimpulkan


bahwa faktor energi cahaya matahari dengan panjang gelombang tertentu sangat

64
berpengaruh terhadap laju fotosintesis. laju reaksi fotosintesis pada cahaya merah
yang tinggi di karena kan cahaya warna merah merupakan panjang gelombang
yang bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis.

VII. Diskusi

1. Apa guna padatan Na2CO3 (5 gr) dan padatan NAHCO3 (5gr) dalam
percobaan ini

Jawaban : Tujuan dari penambahan NaHCO3 adalah untuk menambah


banyaknya gelembung O2 yang dihasilkan. NaHCO3 akan bereaksi dengan
H2O terurai menjadi CO2 sehingga NaHCO3 dapat menjadi katalisator
atau zat yang dapat mempercepat laju fotosintesis.NAHCO3 berfungsi
sebagai katalis dalam reaksi fotosintesis.

2. Bagaimana pengaruh suhu terhadap laju fotosintesis tumbuhan?

Jawab : Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling


berpengaruh terhadap proses fisiologi tanaman, aktivitas fotosintesis menjadi
sangat sensitif terhadap tekanan yang disebabkan oleh suhu yang tidak
menguntungkan. (Berry & Bjorkman, Georgieva cit. Brandner, 2002). Pada
tanaman C3 dan C4, kisaran suhu untuk mencapai fotosintesis optimum
termasuk lebar akan tetapi ketika suhu melewati batas tertentu maka akan
terjadi penurunan laju fotosintesis (Edwards dan Walker cit. Brandner,
2002).
Menurut Riberio et al. (2005), suhu merupakan salah satu faktor lingkungan
penting dalam fisiologi tumbuhan. Aktivitas fotosintesis pun sensitif
terhadap faktor suhu dan bahkan dapat menyebabkan stress pada tingkat
suhu yang ekstrim. Telah diketahui bahwa fotosintesis mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman dimana proses fotosintesis itu
merupakan proses mengubah karbon atmosferik (CO2) menjadi karbohidrat

3. Jelaskan bagaimana laju fotosintesis untuk kelima perangkat percobaan


tersebut

65
Jawab :

Penambahan NaHCO3. laju fotosintesisnya terus meningkat,di mana


jumlah air yang berkurang berbanding lurus dengan waktu.

Penambahan Es Cube.

Pada menit ke 10 sampai dengan 20 ,laju fotosintesisnya stabil ,dimana tidak


terjadi perubahan jumlah penggunaan air( air berkurang). sedangkan dari
menit ke 20 sampai menit ke 30 lajunya meningkat.

Cahaya Merah.

Laju fotosintesisnya tidak stabil,di mana dari menit ke 10 sampai menit ke


20 mengalami penurunan yang ditandai dengan sedikitnya jumlah air yang
berkurang. Sementara pada menuju menit ke 30 laju fotosintesisnya Kembali
meningkat.

66
DAFTAR PUSTAKA

Berry, Bjorkman., Georgieva cit. Brandner S. 2002. Sensitivity of photosynthesis in a


C4 plant, maize, to heat stress. Plant Physiol 129:1-1773.

Campbell, N.A., J.B. Reece, L.G. Mitchell. 2002. Biology, 5th Edition (Biologi, Edisi
Kelima, alih bahasa : R. Lestari, Ellyzar dan N. Anita). Erlangga, Jakarta.

Edwards and Walker cit. Brandner S. 2002. Sensitivity of photosynthesis in a C4 plant,


maize, to heat stress. Plant Physiol 129:1-1773.

Gruia, M., Baciu, A., and C. Sina. 2011. The environmental factors and their influences
on main physiological processes on apple trees.Journal of Horticulture, Foresty
and Biotechnology 15(2):152-156.

Burhan, dkk. 1977, Fisiologi Tanaman, PT Bina Aksara, Jakarta.


Dwidjoseputro, D, 1985, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, PT Gramedia, Jakarta.
Salisburry,F.B dan Ross,W.C, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.
Sitompul dan Guritno, 1995, Biologi Jilid I Edisi kelima, Erlangga, Jakarta.
Suetopo,E.B, 1985, Biologi, ITB, Bandung.

67