Anda di halaman 1dari 30

USULAN PENELITIAN

PREVALENSI INFEKSI CACING TREMATODA PADA SAPI BALI


BERDASARKAN KONDISI WILAYAH PROVINSI BALI

Usulan penelitian ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan
penelitian dalam rangka penyusunan skripsi Sarjana Kedokteran Hewan

Diajukan oleh

RANI UTAMI PUTRI


NIM. 1609511088

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR

2020
Usulan Penelitian ini telah disetujui oleh pembimbing


Pada hari/tanggal : ..................,................ 2020

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Drh. Ida Ayu Pasti Apsari, MP Drh. Ida Bagus Made Oka, M.Kes
NIP. 196005041987022001 NIP. 196012311989031014

i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................ 3
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 5
2.1 Wilayah Bali ............................................................................................... 5
2.2 Sapi Bali ...................................................................................................... 6
2.3 Jenis Cacing Trematoda sp. ........................................................................ 7
2.3.1 Fasciola sp. ........................................................................................9
2.3.2 Paramphistomum sp. ....................................................................... 11
2.3.3 Schistosoma sp. ............................................................................... 14
2.4 Kerangka Konsep ...................................................................................... 17
BAB III Materi dan Metode .............................................................................. 17
3.1 Materi Penelitian ....................................................................................... 19
3.1.1 Bahan ................................................................................................19
3.1.2 Alat .................................................................................................. 19
3.2 Metode Penelitian ...................................................................................... 19
3.2.1 Rancangan Penelitian ........................................................................19
3.2.2 Jumlah Sampel .................................................................................20
3.2.3 Prevalensi ......................................................................................... 20
3.3 Variabel Penelitian .................................................................................... 21
3.3.1 Variabel bebas. .................................................................................21
3.3.2 Variabel Terikat ............................................................................... 21
3.3.3 Variabel Kontrol .............................................................................. 21
3.4 Prosedur Penelitian ................................................................................... 21
3.4.1 Pengambilan Sampel ........................................................................ 21
3.4.2 Pemeriksaan Sampel Feses .............................................................. 21
3.5 Analisis Data ............................................................................................. 22
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 23

ii
DAFTAR GAMBAR
1. Telur Trematoda Fasciola hepatica. ........................................................ 10
2. Telur Paramphistomum sp. ....................................................................... 12
3. Telur Schistosoma japonicum ................................................................... 15
4. Kerangka Konsep Penelitian ..................................................................... 18

iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Sapi bali merupakan sapi murni asal Indonesia yang tersebar luas diseluruh

wilayah Indonesia. Sapi bali merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos

Banteng). Sapi bali memiliki banyak keunggulan dibandingkan sapi lainnya yaitu

memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan yang sangat tinggi, dapat bertahan

hidup dalam cuaca yang kurang baik, dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas

yang rendah dan tahan terhadap parasit external maupun internal ( Handiwirawan,

2004).

Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis, keadaan cuaca yang

panas, sangat kering atau lembab sering mempengaruhi status kesehatan hewan.

Variasi perubahan cuaca akan mempengaruhi fluktuasi prevalensi penyakit yang

dalam kondisi tertentu dapat mencapai titik intensitas yang sangat tinggi maupun

sangat rendah. Bila suhu dan kelembapan udara cukup tinggi, prevalensi kejadian

penyakit dapat berkembang dan meningkat, sehingga kesehatan hewan tidak dapat

dipertahankan lagi keseimbangannya (Kamaruddin et al., 2005). Berdasarkan

perbedaan dataran tinggi dan rendah di pulau Bali dapat mempengaruhi infeksi

parasit pada sapi Bali. Daerah yang basah dengan curah hujan yang tinggi,

merupakan daerah yang sesuai untuk perkembangan dan penyebaran infeksi parasit

(Hamdal et al., 2013). Tingkat infeksi dari cacing parasit dapat dipengaruhi oleh

beberapa faktor, seperti umur, jenis kelamin, sistem pemeliharaan, dan kondisi

wilayah.

Secara umum, parasit dapat didefinisikan sebagai organisme yang hidup

pada organisme lain, yang disebut inang, dan mendapat keuntungan dari inang yang

ditempatinya hidup, sedangkan inang mengalami kerugian. Parasit memiliki habitat

tertentu dalam tubuh inangnya (Eka, 2011). Parasit merupakan salah satu jenis

penyakit hewan maupun manusia yang sangat merugikan peternak. Kerugian

tersebut terjadi akibat rusaknya organ dan sistem organ ternak sehingga sering

terjadi kematian dan bagi peternak biaya yang harus ditanggung olehnya cukup

besar. Kerugian yang diakibatkan oleh parasit berupa perkembangan tubuh ternak

terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badannya tidak tercapai,

organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas dan predisposisi

penyakit metabolik hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan

distribusi air, elektrolit dan protein darah (Gusti, 2013).

Prevalensi infeksi cacing trematoda pada sapi bali cukup tinggi, Putra

(2002) melaporkan prevalensi infeksi cacing trematoda pada sapi bali di kecamatan

Kuta adalah sebesar 61,5%. Sementara itu, di Desa Sobangan Kecamatan Mengwi,

Kabupaten Badung – Bali dilaporkan 18%. Penelitian pada sapi bali siap potong

yang diobservasi di Balai Karantina Hewan Ngurah Rai Denpasar, didapatkan

prevalensi cacing trematoda sebesar 38,50% ( Diah, 2002 ). Secara umum sapi akan

tertular cacing trematoda melalui makanan yang mengandung metaserkaria, kecuali

pada Schistosoma yang cara penularannya melalui sercaria yang langsung

menembus kulit.

Distribusi Prevalensi cacing trematoda pada Sapi Bali dari beberapa

Kabupaten/ Kota di Provinsi Bali adalah sebagai berikut : di Kabupaten Tabanan

sebesar 41,6% , Kab. Badung sebesar 8,7%, dan Kab. Karangasem sebesar 19,6%.

(Mastra et al., 2015).

Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan di atas, infeksi cacing

trematoda yang memiliki tingkat kerugian ekonomi yang cukup besar pada

peternakan sapi sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “

Prevalensi Infeksi Cacing Trematoda pada Sapi Bali Berdasarkan Kondisi Wilayah

Provinsi Bali”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah

yaitu:


1. Bagaimana prevalensi infeksi cacing trematoda pada sapi bali di

provinsi bali?

2. Bagaimana pengaruh kondisi wilayah terhadap prevalensi infeksi

cacing trematoda pada sapi bali di provinsi bali?

1.3 Tujuan Penelitian 


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

1. Prevalensi infeksi cacing trematoda pada sapi bali di provinsi Bali.

2. Pengaruh kondisi wilayah terhadap prevalensi infeksi cacing

trematoda pada sapi bali di provinsi Bali.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Sebagai sumber informasi data dan pengetahuan mengenai Prevalensi

Infeksi Cacing Trematoda pada Sapi Bali Berdasarkan Kondisi Wilayah di

Provinsi Bali.

1.4.2 Manfaat Praktis

• Sebagai pertimbangan dalam menanggulangi infeksi stadium

infektif cacing trematoda pada sapi bali.

• Sebagai bahan relevansi bagi penelitian – penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Wilayah Bali

Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23′′ Lintang Selatan dan 115°14′55′′

Bujur Timur yang membuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.

Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Negara

Kesatuan Republik Indonesia. Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 8

kabupaten, 1 kota madya, 55 kecamatan, dan 701 desa/kelurahan ( Badan Pusat

Statistik Provinsi Bali, 2016 ).

Menurut Suweta (1982) topografi pulau bali dapat dibedakan menjadi

dataran tinggi basah, dataran tinggi kering, dataran rendah basah dan dataran rendah

kering. Menurut wilayah basah dapat dilihat dari curah hujan yang tinggi mencapai

2000-3500 mm pertahun sedangkan untuk wilayah kering hanya memiliki tingkat

curah hujan 880-1550 mm pertahunnya. Wilayah Bali secara umum beriklim laut

tropis, yang dipengaruhi oleh angin musiman. Terdapat musim kemarau dan musim

hujan yang diselingi oleh musim pancaroba. Pada bulan Juni hingga September,

arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air, sehingga

mengakibatkan musim kemarau. Sedangkan pada bulan Desember hingga Maret,

arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudra Pasifik,

sehingga terjadi musim penghujan. Meningkatnya rata-rata suhu udara, naiknya

suhu permukaan air laut, perubahan pola dan curah hujan, pergeseran awal musim

kemarau, maupun musim hujan merupakan serangkaian dampak dari adanya

pemanasan global atau perubahan iklim ( Badan Pusat Statistik Bali, 2016).

2.2 Sapi Bali

Bangsa sapi bali memiliki klasifikasi taksonomi menurut Williamson

dan Payne (1993) sebagai berikut :

Phylum : Chordata

Sub phylum : Vertebrata

Class : Mamalia

Ordo : Artiodactyla

Sub – ordo : Ruminantia

Family : Bovidae

Genus : Bos

Species : Bos sondaicus

Sapi bali merupakan turunan dari sapi liar yang disebut banteng (Bos bibos

atau Bos sondaicus) yang telah mengalami proses penjinakan (domestikasi)

berabad-abad lamanya. Hampir seluruh jenis sapi di Indonesia berasal dari banteng

yang telah mengalami persilangan dengan bangsa sapi yang lain, seperti zebu,

ongole, hissar dan gujarat. Daerah atau lokasi penyebaran utama sapi bali adalah

Pulau Bali. Di pulau Bali, sapi ini diternakkan secara murni. Daerah penyebaran

lain dari sapi Bali adalah Sulawesi, NTB, dan NTT (Sugeng, 2008). Sapi bali

memiliki daya adaptasi tinggi pada daerah dataran tinggi, berbukit dan dataran

rendah (Kadarsih, 2004). Sapi bali merupakan salah satu ternak yang banyak

dimanfaatkan tenaga pekerja pertanian oleh petani.

Menurut Yupardhi (2013) secara umum, ciri-ciri fisik sapi bali antara lain

warna rambut kuning kemerah-merahan atau merah bata (pendek, halus, dan licin)

sejak lahir, mempunyai garis hitam memanjang di sepanjang punggung sampai ke

pangkal ekor, kaki di bawah lutut, dan pantat berwarna putih (disebut

cermin/mirror), warna bulu telinga putih, bulu ekor hitam, moncong ke hitam -

hitaman, dan tidak berpunuk.

Ciri khas sapi bali adalah postur tubuh kecil, memiliki garis hitam pada

punggung yang sering disebut garis belut (sangat jelas pada pedet), rambut

berwarna coklat kekuningan (merah bata), pada jantan dewasa rambut akan berubah

menjadi coklat kehitaman, berwarna putih pada bagian tepi daun telinga bagian

dalam, kaki bagian bawah, bagian belakang pelvis dan bibir bawah (Feati, 2011).

Ukuran tubuh sedang, dada dalam, tidak berpunuk dan kaki-kaki ramping. Kulit

berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan rambut ujung ekor berwarna hitam.

Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih

juga ditemukan pada bagian pantat dan pada paha bagian dalam kulit berwarna

putih tersebut berbentuk oval (Soeparno, 1992).

2.3 Jenis Cacing Trematoda

Trematoda berasal dari kata trematos, yang artinya berlubang dan berlekuk,

yaitu cacing yang pada tubuhnya terdapat satu atau lebih bagian yang berlekuk

untuk menempel pada hospesnya. Anggotanya terdiri dari cacing isap. Morfologi

cacing ini berbeda - beda menurut cara hidupnya sebagai parasit. Trematoda

merupakan cacing pipih yang berbentuk seperti daun, dilengkapi dengan alat - alat

ekskresi, alat pencernaan, alat reproduksi jantan dan betina yang menjadi satu

(hermafrodit) kecuali pada Trematoda darah (Schistosoma) (Muslim, 2009).

Cacing trematoda yang banyak ditemukan pada sapi adalah kingdom

animalia, filum platyhelminthes, kelas trematoda, sub ordo prosostomata dan ordo

digenea. Beberapa famili dari ordo digenea adalah famili dicrocoeliidae dengan

genus eurytrema, famili fasciolidae dengan genus fasciola, famili

paramphistomidae dengan genus paramphistomum, famili schistosomatidae

dengan genus schistosoma. Semua spesies trematoda yang berparasit pada ternak

ruminansia adalah ordo digenea. Bentuk tubuh trematoda pipih dorsoventral

menyerupai bentuk daun dan tidak bersegmen. Dalam keadaan hidup cacing ini

bertubuh relatif tebal. Bagian paling luar disebut tegumen, ujung anterior tubuh

terdapat batil hisap (oral sucker) dan pada bagian ventralnya terdapat acetabulum

(ventral sucker). Acetabulum terletak di sepertiga bagian anterior tubuh, namun

posisi ini bervariasi menurut jenis trematoda (Kusumamihardja, 1995).

Spesies cacing dari kelas trematoda yang menyerang ternak adalah

Paramphistomum sp. (cacing parang), Schistosoma sp. yang menyerang sistem

peredaran darah, Fasciola hepatica (cacing hati), Fasciola gigantica yang berwarna

merah muda kekuningkuningan sampai abu-abu kehijau-hijauan, (Nezar, 2014).

2.3.1 Fasciola sp.

Berdasarkan taksonominya cacing ini mempunyai klasifikasi sebagai

berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum 
 : Platyhelminthes

Kelas 
 : Trematoda

Ordo 
 : Digenea

Family 
 : Fasciolidae

Genus 
 : Fasciola

Species
 : Fasciola hepatica, Fasciola gigantica

Genus Fasciola sp. yang umum ditemukan di Indonesia yaitu Fasciola

gigantica. Secara makroskopis Fasciola gigantica tampak berwarna abu-abu coklat

dan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan Fasciola hepatica.

Bentuk tubuh menyerupai daun, pipih dorsoventral, tidak memiliki bentuk bahu

yang jelas, tidak bersegmen, dan tidak memiliki rongga badan. Panjang tubuh

cacing dewasa mencapai 7,5 cm dan lebar 1,5 cm. Hampir seluruh permukaan tubuh

ditutupi dengan duri-duri kecil atau tegumen (Taylor, 2007).

Telur Fasciola sp. dapat diidentifikasi secara mikroskopis. Perbedaan telur

pada masing-masing spesies ini adalah ukurannya. Panjang telur Fasciola hepatica

mencapai ukuran 130-150 mikron dan lebar 60-90 mikro, berbentuk oval dengan

warna coklat kekuningan dan mempunyai sebuah operkulum. Pada Fasciola

gigantica, telurnya mirip dengan Fasciola hepatica, namun ukurannya lebih besar

yaitu mencapai 2000 x 105 mikron dengan warna agak kehitaman (Levine, 1990).

Gambar 1. Telur Trematoda Fasciola hepatica


(Sumber: Robert, 2011)

Telur Fasciola masuk kedalam duodenum bersama empedu dan keluar

bersama tinja hospes definitif. Diluar tubuh ternak telur berkembang menjadi

mirasidium. Mirasidium kemudian masuk ketubuh siput muda genus

lymnaearubiginosa. Didalam tubuh siput mirasidium berkembang menjadi

sporokista, redia dan serkaria. Serkaria akan keluar dari tubuh siput dan bisa

berenang pada tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi metaserkaria

yang berbentuk kista. Ternak akan terinfeksi apabila minum air atau makan

tanaman yang mengandung kista (Imbang, 2010).

Cara penularan Fasciola gigantica di Indonesia diperantarai oleh Lymnea

rubiginosa. Fasciola dewasa hidup dalam duktus empedu dan kantung empedu,

sedangkan Fasciola muda hidup di jaringan hati. Telur Fasciola sp. masuk melalui

duodenum bersamaan dengan empedu dan diekskresikan melalui feses hospes.

Keadaan lingkungan juga mempengaruhi perkembangan dan penetasan telur. Pada

suhu 20-26°C telur akan menetas dalam waktu 10-12 hari dan menghasilkan larva

stadium pertama (mirasidium). Pada suhu lebih dari 40°C, telur akan mati dan

berubah warna menjadi kehitaman, namun perkembangan telur tetap berlangsung

dan mirasidium tidak dapat keluar dari telur. Mirasidium berukuran 0,15 mm; pada

10

bagian kepala dilengkapi jaringan untuk penetrasi pada siput dan berenang di air

dengan menggunakan silia yang menutupi tubuhnya. Pada lingkungan, mirasidium

dapat bertahan selama 2-3 jam. Bila bertemu dengan siput, mirasidium menembus

jaringan siput membentuk sporosis. Pada stadium yang lebih lanjut, setiap sporosis

akan terbentuk menjadi 5-8 buah redia yang selanjutnya akan membentuk serkaria.

Serkaria meninggalkan siput dan dalam beberapa waktu menempel pada

lingkungan termasuk tanaman air. Serkaria akan membentuk kista (metaserkaria)

yang merupakan stadium infektif cacing hati. Ternak (sapi, kerbau, kambing, dan

domba) dapat terinfeksi apabila memakan rumput yang mengandung metaserkaria.

Setelah metaserkaria termakan oleh ternak, akan terjadi eksitasi dalam usus halus

kemudian bermigrasi dan tinggal dalam hati selama 5-6 minggu. Dalam tahap akhir,

larva cacing akan memasuki saluran empedu untuk tumbuh menjadi dewasa (

Satrija et al., 2009).

2.3.2 Paramphistomum sp.

Kingdom : Animalia

Divisi : Platyhelminthes

Klas : Trematoda

Subklas : Digenae

Ordo : Echinostomida

Famili : Paramphistomatidae

Genus : Paramphistomum (Sanabria dan Romero, 2008)

Paramphistomiasis pada sapi dapat disebabkan oleh satu atau lebih cacing

dari genus Paramphistomum, misalnya P. cervi, P. microbothrioides, P. liorchis, P.

11

ichikawi, P. gotoi, dan Calicophoron sp. atau Ceylonocotyle sp. maupun

Cotyledophoron sp. Di Indonesia terdapat 2 spesies Paramphistomum sp., yaitu P.

cervi dan P. (Gygantocotyl) explanatum. Salah satu jenis yang sering terdapat pada

sapi adalah Paramphistomum cervi (Subronto, 2007).

Karakteristik telur Paramphistomum sp. adalah transparan, sel embrional

dan operkulum yang jelas, dinding berwarna jernih (transparan), sering terdapat

tonjolan kecil di ujung posterior. Ukuran telur Paramphistomum sp. adalah

panjangnya 113-175 mikron dan lebar 73-100 mikron dan berwarna sedikit kuning

muda transparan, seperti pada Gambar 2 (Lukesova, 2009).

Gambar 2. Telur Paramhistomum sp


(Sumber : Lukesova, 2009)

Hewan yang diserang Paramphistomum sp. sebagai hospes definitif, yaitu

hewan ternak (kerbau, sapi, domba, kambing) dan ruminansia lain. Cacing muda

Paramphistomum sp. berpredeliksi di dalam usus halus dan akan bermigrasi ke

dalam rumen dan retikulum setelah dewasa. Daerah penyebaran Paramphistomum

sp. adalah daerah yang memiliki suhu udara 25-30OC dengan kelembaban kira-kira

85%. Paramphistomum sp. merupakan cacing trematoda yang tebal, berbentuk

pipih, seperti Fasciola sp. dan Eurythrema sp. Cacing ini mempunyai batil isap di

12

bagian perut (ventral sucker) yang disebut asetabulum, dan di bagian mulut ada

batil isap mulut yang kecil (oral sucker). Paramphistomum sp. memiliki saluran

pencernaan yang sederhana dan juga testis yang bergelambir, terletak sedikit di

bagian anterior ovarium. Cacing dewasanya berukuran panjang sekitar 5-13 mm

dan lebar 2-5 mm, sedangkan ukuran telur Paramphistomum sp. panjangnya 113-

175 mikron dan lebar 73-100 mikron dan berwarna sedikit kuning muda transparan

(Kamaruddin, 2005).

Telur cacing keluar saat defekasi yang telah mengalami perkembangan awal

dan pada kondisi yang menunjang (air tergenang dan suhu lebih kurang 12 hari

melalui operkulum akan keluar larva yang disebut mirasidium. Mirasidium

selanjutnya akan berenang di air dan secara aktif akan mencari hospes intermidiet

berupa siput dari genus ( Planorbis, Bulinus, Fossaria sp., Gliptanisus dan

Fysmanisus ). Setelah masuk dalam tubuh siput mirasidium akan berubah menjadi

sporokista. Dalam waktu 11 hari sporokista akan berkembang dan didalamnya

mengandung maksimal 8-9 redia. Pada hari ke- 21 sporokista akan pecah dan

menghasilkan redia dengan ukuran panjang 0,5 – 1 mm. Di dalam tubuh redia

ditemukan 15-30 cercaria. Serkaria akan keluar dari dalam tubuh siput terutama

pada saat kena sinar matahari. Serkaria yang bebas memiliki ekor sederhana dan

sepasang titik mata, berenang dalam air beberapa jam, kemudian akhirnya akan

mengkista disebut metaserkaria di dalam tumbuhan air yang dapat tahan pengaruh

luar sampai 3 bulan. Infeksi terjadi karena tertelannya rumput yang mengandung

metaserkaria, setelah sampai di dalam usus kista akan pecah dan terbebaslah cacing

muda. Cacing muda akan menembus masuk kedalam mukosa usus halus, kemudian

13

setelah 6-8 minggu cacing muda akan bermigrasi keatas menuju rumen dan

retikulum dan akhirnya berkembang menjadi cacing dewasa (Javed et al, 2006).

Diagnosa yang paling awal ialah dengan jalan melihat gejala klinis yang

timbul . Ternak ruminansia yang terserang oleh parasit cacing ini terlihat kurang

nafsu makan (anorexia), mencret, kadangkadang pada infestasi yang berat, cacing

dewasa bisa keluar bersama-sama dengan tinja. Diagnosa juga bisa dilakukan

dengan pemeriksaan tinja dari hewan penderita den akan ditemukan telur cacing

yang berwarna kuning muda (Darmono, 1983).

2.3.3 Schicstosoma sp.

Kingdom : Animalia

Filum : Platyhelminthes

Kelas : Trematoda

Ordo : Strigeiformes

Famili : Schistosomatidae

Genus : Schistosoma

Spesies : Schistosoma japonicum, Schistosoma bovis

Gambar 3. telur Schistosoma japonicum


(sumber : http://www.cdc.gov/)

14

Schistosoma sp. dapat menyebabkan penyakit Schistosomiasis. Pada sapi

dan ternak lain seperti kerbau, kambing, kuda dan babi biasanya diinfeksi oleh

spesies Schistosoma japonicum. Spesifik untuk sapi biasanya diinfesi oleh cacing

Schistosoma bovis. Ukuran dewasa jantan bisa mencapai (0,9-2,2)x0,05 mm,

sedangkan ukuran betina lebih besar mencapai (1,2-2,6)x0,03 mm memiliki oral

dan ventral sucker. Sistem digestinya meliputi mulut, esophagus pendek dan

berlanjut kedua buah ceca yang bersatu menjadi satu saluran pada bagian posterior

tubuhnya. Cacing jantan pendek dan kekar, sedangkan betinanya lebih ramping dan

panjang. Pada bagian ventral tubuh jantan terdapat gynecophoral canal (lipatan

yang membentuk celah) dan memiliki 7 buah testis yang berderet dalam satu kolom.

Betinanya memiliki ovarium memanjang terletak di tengah tubuh dan dapat bertelur

hingga 1500 butir/hari. Telur Schistosoma sp. memiliki tonjolan di sebelah lateral,

berwarna coklat dan berbentuk bulat berukuran 89 x 67µm (Sandjaja, 2007).

Faktor risiko penting dalam kejadian Schistosomiasis pada hewan adalah

pola penggembalaan hewan ternak. Pola penggembalaan ternak secara keseluruhan

pada hewan contoh di ketiga daerah endemik adalah pola penggembalaan bebas,

yakni hewan sapi dan kerbau diperlihara dengan cara dilepasliarkan. Alasan

mengapa peternak melakukan pelepasliaran hewan ini adalah untuk mengurangi

beban tenaga dan biaya peternak dalam pemberian pakan pada ternak. Hewan yang

dilepasliarkan dibiarkan untuk mencari pakan sendiri dengan cara merumput pada

ladang penggembalaan. Di sisi lain, penggembalaan ternak akan meningkatkan

risiko hewan terinfeksi oleh Schistosoma japonicum bila hewan merumput pada

lokasi yang terdapat fokus keong inang antara Schistosoma japonicum aktif, yakni

15

keong Oncomelania hupensis lindoensis. Fokus keong Oncomelania hupensis

lindoensis aktif maksudnya adalah suatu lokasi yang terdapat keong yang terinfeksi

oleh Schistosoma japonicum. Transmisi ter- jadi saat serkaria yang bebas dari

keong Oncomelania hupensis lindoensis akan melakukan penetrasi melalui kulit

pada hewan yang peka. Mamalia yang terinfeksi oleh Schistosoma japonicum dapat

berkontribusi terhadap transmisi dengan cara melakukan penge- luaran telur

Schistosoma japonicum bersamaan dengan pengeluaran tinja pada atau dekat

dengan area berair, sehingga meningkatkan risiko infeksi pada semua jenis inang

(Fernandez Jr et al. 2007; Isikawa & Ohmae 2009; Carabin et al. 2015).

Penularan Schistosomiasis, menurut Hu et al. (2017) biasanya berkaitan

dengan beberapa karakteristik biologis serta faktor sosial, yang memengaruhi

biologi inang antara, ekologi, ekonomi, serta faktor kebijakan. Sebagai contoh,

kondisi iklim dan lingku- ngan yang cocok baik untuk S. japonicum maupun keong

inang antaranya, ditambah dengan kondisi sanitasi dan kebersihan yang buruk akan

menjadi penyebab lestarinya penyakit ini di daerah endemik.

16

2.4 Kerangka Konsep

Kerugian penyakit parasit gastrointestinal sangat menimbulkan dampak

yang cukup besar pada ternak ruminansia terutama pada sapi bali seperti

pertumbuhan ternak terlambat, nilai karkas dan harga jual menurun dan juga dapat

menyebabkan kematian apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian penyakit

tersebut. Terkait dengan pemeliharaan sapi bali dengan menggunakan sistem semi

intensif maka akan meningkatkan peluang besar bagi parasit cacing untuk

berkembang biak. Faktor lingkungan seperti umur, jenis kelamin, dan sistem

pemeliharaan sangat berpengaruh terhadap infeksi parasit trematoda pada sapi Bali.

Pada umumnya keberadaan Cacing trematoda yang menginfeksi pada sapi Bali

terjadi pada kondisi wilayah yang basah dan lembab pada suatu daerah dikarenakan

siklus hidup dari cacing tersebut sangat cocok dengan kondisi keadaan tersebut.

Berdasarkan pembagian kondisi wilayah dataran tinggi, rendah, basah, dan kering

memiliki hubungan dengan prevalensi infeksi cacing trematoda disebabkan tingkat

kelembapan dan suhu setiap daerah berbeda-beda. Pengaruh terhadap

kelangsungan hidup cacing dan suhu optimum tiap parasit dalam

kehidupannya berbeda-beda tergantung dari spesiesnya.

Dengan adanya penelitian ini, maka dapat mengetahui pengaruh

kondisi wilayah dataran tinggi basah, dataran tinggi kering, dataran rendah

basah, dan dataran rendah kering terhadap prevalensi infeksi cacing

trematoda pada sapi bali.

Berikut ini kerangka konsep penelitian dalam bentuk bagan :

17

Sapi Bali

Dataran Dataran Dataran Dataran


Tinggi Basah Tinggi Kering Rendah Basah Rendah Kering

Siklus Hidup mutlak memerlukan Hospes Intermedier

Kondisi wilayah, Suhu, dan Kelembapan

Prevalensi Infeksi
Trematoda

Gambar 4. Kerangka Konsep Penelitian

18

BAB III

MATERI DAN METODE

3.1 Materi Penelitian

3.1.1 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah feses sapi bali yang

masih segar sebanyak 350 sampel, yang berasal dari empat wilayah yang ditentukan

secara purposiv sampling berdasarkan perbedaan topografi dan kondisi iklim

lingkungan. Bahan lain yang digunakan adalah larutan kalium bicromat aquades,

dan methylene Blue.

3.1.2 Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain mikroskop, objek

glass, cover glass, tabung centrifugase, centrifugator, sendok plastik, gelas beker,

pipet pasteur, alat penyaring teh, kertas, pulpen, kerta label, tusukan sate serta

saringan teh.

3.2 Metode Penelitian

3.2.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Penelitian ini dilakukan

secara cross-sectional dengan memperhatikan faktor resiko seperti kondisi wilayah

untuk mengetahui prevalensi cacing trematoda berdasarkan wilayah dataran tinggi

basah, dataran tinggi kering, dataran rendah basah, dan dataran rendah kering

di provinsi Bali.

19

3.2.2 Jumlah Sampel

Penentuan besaran sampel ditentukan berdasarkan rumus (Selvin, 2004) :

𝟒 𝑷. 𝑸
𝒏 =
𝑳𝟐

Keterangan : n : besaran sampel feses sapi yang diambil

P : perkiraan prevalensi cacing trematoda (27%)

Q : ( 1 – perkiraan Prevalensi )

L : tingkat kesalahan (5%)

maka :

+ ,.-. /0,.-.
𝑛 =
( ,.,2 )4

1,08 (0,73)
𝑛 =
0,0025
,..==+
𝑛 =
,,,,-2

n = 315,36 = 316 sampel feses ( sampel minimal)

Dari rumus diatas maka minimal sampel yang diperlukan yaitu sebanyak

316 sampel feses sapi bali. Pada penelitian ini akan mengambil sampel sebanyak

350 sampel.

3.2.3 Prevalensi

Prevalensi dihitung menggunakan rumus (Budiarta, 2002) :

𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡𝑖𝑓 ( 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑛𝑓𝑒𝑘𝑠𝑖 )


𝑝𝑟𝑒𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100%
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛

20

3.3 Variabel Penelitian

3.3.1 Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin , dan sistem

pemeliharaan.

3.3.2 Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prevalensi infeksi cacing

trematoda yang menginfeksi Sapi Bali.

3.3.3 Variabel Kontrol

Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah sapi bali yang dipelihara secara

semi intensif.

3.4 Prosedur Penelitian

3.4.1 Pengambilan Sampel

Sampel feses sapi bali yang masih segar diambil ± 20 gram, kemudian

dimasukkan kedalam kantong plastik ukuran 1 kg yang sudah diberi label dan

kalium bicromat sebanyak 2%.

3.4.2 Pemeriksaan Sampel Feses

Pemeriksaan sampel feses dengan metode sedimentasi ini digunakan untuk

pemeriksaan terhadap telur trematoda. Adapun cara kerja metode sedimentasi feses

yaitu sebagai berikut : feses sebanyak ±2 gram ditimbang dan dicampur sedikit air

kemudian diaduk sampai merata dengan menggunakan mortar. Setelah campuran

homogen disaring menggunakan saringan teh dan hasil saringan dimasukkan ke

dalam tabung sentrifus. Tabung sentrifus diseimbangkan, kemudian sentrifus

dinyalakan dengan kecepatan 1500 rpm selama 5 menit. Jika sentrifus tidak bisa

21

digunakan, diamkan campuran tersebut selama 20-30 menit. Selanjutnya,

supernatan dibuang dan sisakan sedimen (endapan) pada dasar tabung. Sedimen

yang berada di permukaan diambil dengan pipet pasteur, dan diletakkan di atas

object glass (jika terlalu keruh ditambahkan 1 tetes air dan aduk), kemudian

ditambah 1 tetes larutan Methylene Blue lalu dicampur merata dan ditutup dengan

cover glass. Ulangi prosedur dengan mengambil kembali sedimen tetapi dengan

menggunakan sedimen pada bagian dasar tabung. Setelah itu, periksa kedua object

glass dengan mikroskop pembesaran objektif 10x (Wirawan, 2011).

3.5 Analisis Data

Data yang diperoleh dilaporkan secara deskriptif untuk mengetahui

hubungan prevalensi dengan kondisi wilayah dan Prevalensi infeksi cacing

Trematoda pada Sapi Bali di provinsi Bali dianalisis dengan chi – square (

Sampurna dan Nindhia, 2011).

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Pemeriksaan sampel feses dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas

Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Waktu pemeriksaan dilaksanakan pada

bulan November 2019 - Januari 2020.

22

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. 2016. Provinsi Bali Dalam Angka. ISSN: 0215-
2207.

Bandini, Y. 2004. Sapi Bali. Penebar Swadaya. Jakarta


Carabin H, McGarvey ST, Sahlu I, Tarafder MR, Joseph L,Andrade BBD, Balolong
E, Olveda R. 2015. Schistosoma japonicum in Samar, the Philippines:
infection in dogs and rats as a possible risk factor for human infection.
Epidemiology of Infection. 143(8): 1767-1776.
https://doi.org/10.1017/S0950268814002581.

Darmono. Parasit Cacing Paramphistomum sp. Pada Ternak Ruminansia dan


Akibat Infestasinya. Bogor: Balai Penelitian Penyakit Hewan. Wartazoa. 1:
(2), 1983.

Diah, N.W. 2002. Prevalensi Infeksi Trematoda Pada Sapi Bali Yang Diobservasi
Di Balai Karantina Hewan Ngurah Rai. Universitas Udayana.


Eka Yuliartati. “Tingkat Serangan Ektoparasit pada Ikan Patin (Pangasius djambal)
pada Beberapa Pembudidaya Ikan di Kota Makassar”. Skripsi. Makassar:
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, 2011.

Feati. 2011. Teknologi Penggemukan Sapi Bali. BPPT NTB. It 2-pdf


Fernandez T, Tarafder M, Balolong Jr E, Josep L, Willingham AL, Belisle P,


Webster J, Olveda R, McGarvey S, Carabin H. 2007. Prevalence of
Schistosoma japonicum infection among animals in fifty villages of Samar
Province, the Philippines. Vector-Borne and Zoonotic Diseases. 7:
147-155. https://doi.org/10.1089/vbz.2006.0565.

George B dan Mitchell B. 2003. Treatment and Control of Liver Fluke in Sheep
and Cattle. Scottish Executiven Environment and Rural Affair Department.
Pp 1-8. Subronto. 2007. Ilmu Penyakit Ternak II(revisi). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press,Cetakan ke-3.

Gusti I Ngurah Putu Widnyana. “Prevalensi Infeksi Parasit Cacing pada Saluran
Pencernaan Sapi Bali dan Sapi Rambon di Desa Wosu Kecamatan Bungku
Barat Kabupaten Morowali”. Jurnal AgroPet no 2 (Desember 2013): 39-46.

Hambal M, Arman S, Agus D. 2013. Tingkat Kerentanan Fasciola gigantica pada


Sapi dan Kerbau di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.Jurnal
Medika Veterinaria 7:52.

23

Handiwirawan, E dan Subandriyo. 2004. Potensi dan Keragaman Sumberdaya


Genetik Sapi Bali. Wartazoa Vol. 14 No. 3 : 107-115.

Hu Y, Xia C, Li S, Ward MP, Luo C, Gao F, Wang Q, Zhang S, Zhang Z. 2017.


Assessing environmental factors associated with regional schistosomiasis
prevalence in Anhui Province, People’s Republic of China using a
geographical detector metod. Infectious Disease of Poverty. 6(8): 1-8.

Isikawa H, Ohmae H. 2009. Modelling the dynamics and control of transmission of


Schistosoma japonicum and S. mekongi in Southeast Asia. Korean Journal
of Parasitology. 47(1): 1-5. https://doi.org/10.3347/kjp.2009.47.1.1

Javed Khan U, Akhtar T, Maqbool A, Aness A. 2006. Epidemiology of


paramphistomiasis in buffaloes under different managemental conditions at
four districts of Punjab Province Pakistan. Irianian J Vet Res. 7(3): 68-73.

Kamaruddin, M., Fahrimal Y., Hambal M. dan Hanafiah M. 2005. Buku Ajar
Parasitologi Veteriner. Banda Aceh (ID): Fakultas Kedokteran Hewan,
Universitas Syah Kuala.

Kusumamiharja S. 1992. Parasit dan parasitosis pada hewan ternak dan hewan
piaraan di Indonesia. Bogor. Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut
Pertanian Bogor.

Levine. N.D, 1990. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.

Lukesova D. 2009. Atlas of Livestock Parasites Digitized Collection of


Microscopical Preparations. Institute of Tropics and Subtropics: Czech
University of Life Sciences Prague, Czech Republic.

Mastra, I. K., Arsani, N. M., Nurlatifah, I., Sutawijaya, I. M., & Yunanto. (2015).
Surveilan Dan Monitoring Parasit Gastro Intestinal Di Propinsi Bali, Nusa
Tenggara Barat Dan Nusa Tenggara Timur Tahun 2015. Balai Besar
Veteriner, 79-90

Muslim, M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan Parasitologi Kedokteran.


Jakarta : EGC

Nezar Muhammad Rofiq. “Jenis Cacing Pada Feses Sapi di TPA Jatibarang dan
KTT Sidomulyo Desa Nongkosawit Semarang”. Skripsi. Semarang:
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri
Semarang, 2014.

24

Purwaningsih, Sambodo P, Noviyanti, Baaka A. 2016. Prevalence of trematodes


infection in sacrificial cattle in some mosques Manokwari regency West
Papua province Indonesia. In: Proceeding The 3rd Animal Production
International Seminar The 3rd ASEAN Regional Conference on Animal
Production. Batu, Malang, Jawa Timur. 19–21 October 2016. Hlm. 386-
389.

Purwanta, N.R.P. Ismaya dan Burhan (2006) Penyakit cacing hati (fascioliasis)
pada sapi Bali di Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH) Kota
Makasar. J. Agrisistem. Vol 2 (2): 63-69

Putra, I.N.G.A. 2002. Prevalensi Cacing Trematoda Pada Sapi Bali Di Kecamatan
Kuta. Universitas Udayana

Rahayu Imbang D. Penyakit Parasit Pada Ruminansia. 2010.


http://imbang.staff.umm.ac.id (diakses pada tanggal 7 Januari 2020).

Sampurna, P. Nindhia, S. 2011. Metode Ilmiah dan Rancangan Percobaan. Udayana


University Press.

Sandjaja Bernardus. Herri Pedo. Parasitologi Kedokteran: Helmintologi


Kedokteran. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007.

Satrija F, Retnani EB, Ridwan Y. 2009. Buku Ajar: Kecacingan Pada Ruminansia
Plathyhelmintes. Bogor : Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian
Bogor.

Selvin S. 2004. Statistical analysis of epidemiology data. London (UK): Oxford


University Pres.

Soeparno. 1992. Ilmu Dan Teknologi Daging. Gajdah Mada University Press.
Yogyakarta.

Soulsby, E.J.L. 1982. Helminth, Artropods and Protozoa of Domesticated Animal.


7TH Ed. Bailliere Tindall

Sugeng. Y,B. 2008. Edisi Revisi Sapi Potong, Pemeliharaan, Perbaikan Produksi,
Proyek Bisnis, Analisis Penggemukan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suweta, I.G.P. (1982) Kerugian ekonomi oleh cacing hati pada sapi sebagai
implikasi interaksi dalam lingkungan hidup pada ekosistem pertanian di
Pulau Bali. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Padjajaran,
Bandung.

25

Taylor, M. A., R. L. Coop, dan R. L. Wall. 2007. Veterinary Parasitology 3 Edition.


Blackwell Publishing Ltd.: UK, 244-254.
Williamson, G. dan Payne W. J. A.. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah
Tropis(Diterjemahkanoleh S.G.N.D. Darmadja). Edisi ke-1. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta .
Wirawan HP. dan Tim Laboratorium Parasitologi. 2011. Survey Internal dan
Eksternal Parasit. Maros: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan Balai Besar Veteriner.
Yupardhi.2013.Ciri-ciri Fisik Sapi Bali.
https://sinta.unud.ac.id/uploads/wisuda/0909006028-3-BAB%20II.pdf.
Diakses tanggal 4 Desember, 2019.

26