Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

SLE (SISTEMISC LUPUS ERYTHEMATOSUS)

Di Ruang HCU Penyakit Dalam

RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

Oleh :

Nama : Monalisa Anggraini, S. Kep

NIM : 1904144

CI Akademik CI Klinik

(Dr. Ns. Putri Dafriani, S.Kep, M.Sc) (Ns. Hendra Harwadi, M.Kep)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG

2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN

SLE (SISTEMISC LUPUS ERYTHEMATOSUS)

A. Defenisi

Lupus Eritematos Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun yang

melibatkan berbagai organ dengan manifestasi klinis bervariasi dari yang

ringan sampai berat. Pada keadaan awal, sering sekali sukar dikenal sebagai

LES, karena manifestasinya sering tidak terjadi bersamaan. (Mansjoer Arif,

2001)

Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik

(LES) adalah penyakit radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya

diduga karena adanya perubahan sistem imun (Albar, 2003).


Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Systemic Lupus

Eritematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun yang menyerang berbagai

system tubuh dengan manifestasi klinis yang bervarisi.


B. Etiologi

Hingga kini, faktor penyebab hadirnya lupus di tubuh belum diketahui

secara pasti. Namun beberapa penelitian kemungkinan lupus hadir melalui

beberapa faktor diantarnya :

1. Faktor Lingkungan

a. Infeksi

b. Stress

c. Makanan

d. Antibiotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin)


e. Ultraviolet

2. Faktor Genetik

Sampai saat ini, tidak diketahui gen – gen yang menjadi

penyebabnya. Lupus diturunkan angkanya relatif kecil kemungkinan

hanya 10%.

3. Faktor Hormonal

Faktor hormonal bisa menjelaskan mengapa kaum hawa lebih

sering terkena dibandingkan pria. Meningkatnya angka pertumbuhan

penyakit lupus sebelum periode menstruasi atau selama masa kehamilan

mendukung keyakinan bahwa hormon khususnya estrogen menjadi

pencetus lupus.

4. Faktor Sinar Matahari

Sinar matahari memancarkan sinar ultraviolet yang dapat

merangsang peningkatan hormon estrogen yang cukup banyak sehingga

mempermudah terjadinya reaksi autoimun.

5. Faktor Obat-obatan

Obat tertentu dalam presentase kecil sekali pada pasien tertentu

diminum dalam jangka waktu tertentu dapat mencetuskan lupus obat

(Drug Induced Lupus Erythematosus atau DILE). Jenis obat yang dapat

menyebabkan Lupus Obat adalah : Kloropromazin, etildopa, hidralasin,

prokainamid, dan isoniazid.

C. Manifestasi Klinis
1. Otot dan kerangka tubuh
Hampir semua penderita lupus mengalami nyeri persendian dan kebanyakan

menderita artritis. Persendian yang sering terkena adalah persendian pada

jari tangan, tangan, pergelangan tangan dan lutut. Kematian jaringan pada

tulang panggul dan bahu sering merupakan penyebab dari nyeri di daerah

tersebut.

2. Kulit

Pada 50% penderita ditemukan ruam kupu-kupu pada tulang pipi dan

pangkal hidung. Ruam ini biasanya akan semakin memburuk jika terkena

sinar matahari. Ruam yang lebih tersebar bisa timbul di bagian tubuh lain

yang terpapar oleh sinar matahari.

3. Ginjal

Sebagian besar penderita menunjukkan adanya penimbunan protein di

dalam sel-sel ginjal, tetapi hanya 50% yang menderita nefritis lupus

(peradangan ginjal yang menetap). Pada akhirnya bisa terjadi gagal ginjal

sehingga penderita perlu menjalani dialisa atau pencangkokkan ginjal.

4. Sistem saraf

Kelainan saraf ditemukan pada 25% penderita lupus. Yang paling sering

ditemukan adalah disfungsi mental yang sifatnya ringan, tetapi kelainan

bisa terjadi pada bagian manapun dari otak, korda spinalis maupun sistem

saraf. Kejang, psikosa, sindroma otak organik dan sakit kepala merupakan

beberapa kelainan sistem saraf yang bisa terjadi.

5. Darah

Kelainan darah bisa ditemukan pada 85% penderita lupus. Bisa terbentuk
bekuan darah di dalam vena maupun arteri, yang bisa menyebabkan stroke

dan emboli paru. Jumlah trombosit berkurang dan tubuh membentuk

antibodi yang melawan faktor pembekuan darah, yang bisa menyebabkan

perdarahan yang berarti. Seringkali terjadi anemia akibat penyakit

menahun.

6. Jantung

Peradangan berbagai bagian jantung bisa terjadi, seperti perikarditis,

endokarditis maupun miokarditis. Nyeri dada dan aritmia bisa terjadi

sebagai akibat dari keadaan tersebut.

7. Paru-paru

Pada lupus bisa terjadi pleuritis (peradangan selaput paru) dan efusi pleura

(penimbunan cairan antara paru dan pembungkusnya). Akibat dari keadaan

tersebut sering timbul nyeri dada dan sesak nafas.

D. Manifestasi Klinis
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang

menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan

imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik,

hormonal ( sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi

selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal).

Obat-obat tertentu seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin

dan beberapa preparat antikonvulsan di samping makanan seperti kecambah

alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-

obatan.
Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi

akibat fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan

kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen

yang selanjutnya merangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang

kembali. (Smeltzer and Suzane, 2001)


E. Komplikasi
1. Vaskulitis : berupa garis kecil warna merah pada ujung lipatan kuku dan

ujung jari. Selain itu, bisa berupa benjolan merah di kaki yang dapat

menjadi borok
2. Hematuri
3. Anemia
4. Arthritis remathoid
5. Kerusakan ginjal permanen
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya antibodi antinuklear, yang

terdapat pada hampir semua penderita lupus. Tetapi antibodi ini juga juga

bisa ditemukan pada penyakit lain. Karena itu jika menemukan antibodi

antinuklear, harus dilakukan juga pemeriksaan untuk antibodi terhadap

DNA rantai ganda. Kadar yang tinggi dari kedua antibodi ini hampir

spesifik untuk lupus, tapi tidak semua penderita lupus memiliki antibodi

ini. Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar komplemen (protein yang

berperan dalam sistem kekebalan) dan untuk menemukan antibodi lainnya,

mungkin perlu dilakukan untuk memperkirakan aktivitas dan lamanya

penyakit.

2. Ruam kulit atau lesi yang khas

3. Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau perikarditis


4. Pemeriksaan dada dengan bantuan stetoskop menunjukkan adanya gesekan

pleura atau jantung

5. Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atau protein

6. Hitung jenis darah menunjukkan adanya penurunan beberapa jenis sel

darah

7. Biopsi ginjal

8. Pemeriksaan saraf.

G. Penatalaksanaan

Untuk penatalaksanaan, Pasien SLE dibagi menjadi:

1. Kelompok Ringan

Gejala : Panas, artritis, perikarditis ringan, efusi pleura/perikard ringan,

kelelahan, dan sakit kepala

Penatalaksanaan untuk SLE derajat Ringan;

a) Penyakit yang ringan (ruam, sakit kepala, demam, artritis, pleuritis,

perikarditis) hanya memerlukan sedikit pengobatan.

b) Untuk mengatasi artritis dan pleurisi diberikan obat anti

peradangan non-steroid

c) Untuk mengatasi ruam kulit digunakan krim kortikosteroid.

d) Untuk gejala kulit dan artritis kadang digunakan obat anti malaria

(hydroxycloroquine)

e) Bila gagal, dapat ditambah prednison 2,5-5 mg/hari.

f) Dosis dapat diberikan secara bertahap tiap 1-2 minggu sesuai

kebutuhan
g) Jika penderita sangat sensitif terhadap sinar matahari, sebaiknya

pada saat bepergian menggunakan tabir surya, pakaian panjang

ataupun kacamata

2. Kelompok Berat

Gejala : efusi pleura perikard masif, penyakit ginjal, anemia hemolitik,

trombositopenia, lupus serebral, vaskulitis akut, miokarditis,

pneumonitis lupus, dan perdarahan paru.

Penatalaksanaan untuk SLE derajat berat;

a) Penyakit yang berat atau membahayakan jiwa penderitanya (anemia

hemolitik, penyakit jantung atau paru yang meluas, penyakit ginjal,

penyakit sistem saraf pusat) perlu ditangani oleh ahlinya

b) Pemberian steroid sistemik merupakan pilihan pertama dengan dosis

sesuai kelainan organ sasaran yang terkena.

c) Untuk mengendalikan berbagai manifestasi dari penyakit yang berat

bisa diberikan obat penekan sistem kekebalan

d) Beberapa ahli memberikan obat sitotoksik (obat yang menghambat

pertumbuhan sel) pada penderita yang tidak memberikan respon yang

baik terhadap kortikosteroid atau yang tergantung kepada

kortikosteroid dosis tinggi.

3. Penatalaksanaan Umum :
a) Kelelahan bisa karena sakitnya atau penyakit lain, seperti anemi,

demam infeksi, gangguan hormonal, komplikasi pengobatan, atau

stres emosional. Upaya mengurangi kelelahan disamping obat ialah


cukup istirahat, pembatasan aktivitas yang berlebih, dan mampu

mengubah gaya hidup


b) Hindari perubahan cuaca karena mempengaruhi proses inflamasi
c) Hindari stres dan trauma fisik
d) Diet sesuai kelainan, misalnya hyperkolestrolemia
e) Hindari pajanan sinar matahari, khususnya UV pada pukul 10.00

sampai 15.00

H. WOC
SLE (sistemisc lupus erythematosus)

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


A. Pengkajian

1. Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan

pada gejala sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan

mudah lelah, lemah, nyeri, kaku, demam/panas, anoreksia dan efek gejala

tersebut terhadap gaya hidup serta citra diri pasien.

2. Kulit

Ruam eritematous, plak eritematous pada kulit kepala, muka atau leher.

3. Kardiovaskuler

Friction rub perikardium yang menyertai miokarditis dan efusi pleura.

Lesi eritematous papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan

gangguan vaskuler terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan

permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tanga.

4. Sistem Muskuloskeletal

Pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku

pada pagi hari.

5. Sistem integument

Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang

melintang pangkal hidung serta pipi. Ulkus oral dapat mengenai mukosa

pipi atau palatum durum.

6. Sistem pernafasan

Pleuritis atau efusi pleura.

7. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole terminalis yang menimbulkan lesi papuler,

eritematous dan purpura di ujung jari kaki, tangan, siku serta permukaan

ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan berlanjut nekrosis.

8. Sistem Renal

Edema dan hematuria.

9. Sistem saraf

Sering terjadi depresi dan psikosis, juga serangan kejang-kejang.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan Pola Napas b/d keletihan otot pernapasan


2. Kerusakan integritas kulit b/d imunodefisiensi
3. Nyeri akut b/d agens cedera biologis
C. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa NOC NIC


Ketidakefektifan Pola Status Pernapasan 6. Manajemen jalan napas
Indikator : - Posisikan pasien untuk
Napas b/d keletihan
1. Frekuensi
memaksimalkan
otot pernapasan
pernapasan
ventilasi
2. Kepatenan jalan
- Motivasi pasien untuk
napas
bernapas pelan
3. Suara auskultasi
- Auskultasi suara napas
napas - Instruksikan bagaimana
4. Penggunaan otot
agar bisa melakukan
bantu napas
batuk efektif
5. Retraksi dinding
7. Terapi oksigen
dada - Bersihkan mulut,
hidung, dan sekresi
trakea dengan tepat
- Pertahankan kepatenan
jalan napas
- Berikan oksigen
tambahan seperti yang
diperintahkan
- Monitor aliran oksigen
- Monitor efektivitas
terapi oksigen
8. Monitor pernapasan
- Monitor kecepatan,
irama, kedalaman dan
kesulitan bernapas
- Catat pergerakan dada,
penggunaan otot-otot
bantu napas
- Monitor suara napas
tambahan
- Monitor pola napas
- Auskultassi suara napas
Kerusakan integritas Integritas jaringan : 1. Pengecekan kulit
- Amati warna,
kulit b/d kulit & membran
kehangatan, bengkak,
imunodefisiensi mukosa
Indikator : edema.
1. Lesi pada kulit - Monitor warna dan suhu
2. Jaringan parut
kulit
3. Pengelupasan kulit
- Monitor kulit adanya
4. Suhu kulit
5. tekstur ruam dan lecet
- Dokumentasi perubahan
membran mukosa
2. Perlindungan infeksi
- Monitor adanya tanda
dan gejala infeksi
- Monitor kerentanan
terhadap infeksi
- Tingkatkan asupan
nutrisi yang cukup
- Anjurkan asupan cairan
yang tepat
3. Pencegahan luka tekan
- Dokumentasi riwayat
terjadinya luka tekan
- Dokumentasi berat
badan klien
- Monitor area yang
mengalami kemerahan
- Ubah posisi pasien
setiap 1-2 jam sekali
- Pasang perlak dari
bahan yang nyaman
Nyeri akut b/d agens Tingkat nyeri 1. Manajemen nyeri
Indikator: - Lakukan pengkajian
cedera biologis
1. Nyeri yang
nyeri
dilaporkan - Pastikan perawatan
2. Episode nyeri
analgesik
3. Mengerang dan
- Gali pengetahuan klien
menangis
tentang nyeri
4. Ekspresi wajah
- Observasi adanya
petunjuk non verbal
- Tentukan akibat dari
nyeri
2. Pemberian analgesik
- Tentukan lokasi,
keparahan nyeri
- Cek perintah
pengobatan
- Cek adanya alergi obat
- Pilih analgesik yang
sesuai
- Tentukan analgesik
sebelumnya
3. Terapi relaksasi
- Ciptakan lingkungan
yang tenang
- Mintak klien untuk
rileks
- Pastikan posisi nyaman
- Ajarkan teknik relaksasi
- Mintak klien
mengulangi teknik
relaksasi