Anda di halaman 1dari 8

Nama: naura Athira Ij

Nim: 163112620150093

PERLINDUNGAN HEWAN

PENGERTIAN

Penangkaran : adalah sbuah usaha yg dilakukan seperti memperbanyak


jenis melalui perkembangbiakan dan pembesaran satwa dg tetap mempertahankan
jenisnya.

Rehabilitasi adalah sebuah kegiatan ataupun proses untuk membantu para penderita
yang mempunyai penyakit serius atau cacat yang memerlukan pengobatan medis
untuk mencapai kemampuan fisik psikologis, dan sosial yang maksimal.

Reintroduksi spesies adalah usaha pengenalan spesies hewan atau tumbuhan yang
dilakukan secara sadar oleh manusia dengan tujuan agar suatu jenis dapat
berkembang biak kembali di habitatnya semula. Usaha ini diarahkan pada jenis
hewan atau tumbuhan yang terancam punah.

CONTOH KASUS PADA SPESIES OWA

Owa jawa termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No.
92 tahun 2018. Terancamnya kelestarian Owa jawa baik disebabkan kehilangan
habitat maupun praktek perburuan, perdagangan untuk dijadikan satwa peliharaan
menyebabkan satwa endemik Pulau Jawa ini memerlukan upaya konservasi yang
bermanfaat bagi pelestarian populasinya di alam. Salah satu upaya tersebut dapat
dilakukan dengan merehabilitasi Owa jawa bekas peliharaan dan melepasliarkan
melalui program reintroduksi ke habitat alaminya. Rehabilitasi merupakan langkah
penyelamatan satwa liar dari perdagangan ilegal serta menyediakan kondisi yang
sesuai bagi satwa tersebut, sehingga memiliki kesempatan untuk dapat
dikembalikan ke habitat alaminya. Reintroduksi merupakan upaya mengembalikan
satwa hasil penangkaran maupun rehabilitasi ke daerah asal spesies tersebut. Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bekerjasama dengan Yayasan Owa
Jawa, Conservation International Indonesia, dan Universitas Indonesia
membentuk konsorsium untuk melaksanakan upaya penyelamatan dan rehabilitasi
Owa jawa tersebut. Lokasi penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa disebut sebagai
Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa atau sering disebut Javan Gibbon
Center (JGC) yang posisinya berada di areal perluasan wilayah kerja Resort
Bodogol, Seksi PTN Wilayah V, Bidang PTN Wilayah III Bogor, Balai Besar
TNGGP. Sejak dibentuknya JGC pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2018
sekarang, JGC telah melakukan 7 kali pelepasliaran, dilakukan pertama kali tahun
2009 di Blok Patiwel TNGGP sejumlah 2 individu Owa jawa. Kemudian selama
rentang waktu tahun 2013 sampai 2018 telah dilakukan 6 kali pelepasliaran di
Hutan Lindung Gunung Puntang, Bandung Selatan sebanyak 24 individu.Sampai
akhir Desember 2018 ini total owa jawa yang ada di JGC sebanyak 18 individu.
Ketika semakin sedikit owa jawa yang direhabilitasi di JGC dan tempat rehabilitasi
lainnya maka seharusnya semakin sedikit pula Owa jawa yang dijadikan hewan
peliharaan sehingga semakin sedikit pula perburuan yang dilakukan terhadap satwa
ini di alam liar. Biarkanlah Owa jawa hidup secara bebas di alam untuk menjalakan
tugas dan fungsinya yang melekat sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

CONTOH KASUS PADA ORANG UTAN

Indonesia termasuk negara yang kaya akan keanekaragaman hayati satwa liar
primata. Dari sekitar 195 jenis primata yang ada di dunia, 37 jenis diantaranya hidup
di Indonesia. Sekitar 20 jenis diantaranya, di seluruh dunia secara alami hanya dapat
ditemukan di wilayah Indonesia atau disebut primata endemik Indonesia. Primata
tersebut banyak diantaranya termasuk jenis yang terancam punah adalah
Orangutan. Keberadaan Orangutan tersebut di Indonesia yang hanya ada di Sumatra
dan Kalimantan akhir-akhir ini sangat memprihatinkan akibat berkurangnya habitat
mereka dan penangkapan liar untuk diperdagangkan. Jenis primata besar ini di
dunia hanya ditemukan di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Orangutan Kalimantan
dibedakan menjadi 2 anak jenis yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus dengan
penyebaran dari Kalimanatn Barat sampai Sarawak dan Pongo pygmaeus wurumbii
dengan penyebaran dari Barat laut Kalimantan antara sungai Kapuas dan Barito.
Orangutan termasuk hewan yang terancam kehidupannya di alam, dengan perkiraan
total populasi sekitar 20.000 ekor. Degradasi dan hilangnya habitat merupakan
ancaman paling besar terhadap spesies ini, walaupun perburuan untuk dimakan dan
perdagangan liar juga menjadi masalah yang sangat besar. Akibat musim kemarau
yang panjang dan kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia menjadikan ratusan
ribu hutan hancur. Kawasan yang dilindungipun tidak lepas dari kerusakan ini,
bahkan kurang lebih 95 % hutan dataran rendah di Taman Nasional Kutai telah
terbakar pada tahun 1998. Hilangnya populasi orangutan dan habitatnya baik secara
langsung atau tidak langsung menjadi bertambah parah. Berangkat dari
permasalahan tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan UGM menyelenggarakan
Seminar Rehabilitasi dan Penyelamatan Orangutan dengan mengangkat topik
Penanganan penyakit zoonosis pada Orangutan di alam, pusat rehabilitasi dan di
penangkaran. Sebagai pembicara dalam seminar ini adalah Dr. Elizabeth Labes dari
Institute of Parasitology, Zurich University, Switzerland mengupas masalah
konservasi orangutan, drh. Heriyanto yang membahas karantina dan rehabilitasi dan
Dr. Wisnu Nurcahyo mengenai penyakit pada orangutan. Berbagai kegiatan yang
berkaitan dengan orangutan telah dirintis sejak tahun 1999 oleh Dr. Wisnu
Nurcahyo dari bagian Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, dengan
bekerjasama dengan berbagai pihak swasta dan universitas di luar negeri seperti
Balikpapan Orangutan Survival (BOS) Foundation, The Gibbon Foundation,
Zurich University, Brno University – Czeck Republic, Primate Research Institute
(PRI) Kyoto University, Utrecht University dan CDC Atlanta USA, telah
melakukan serangkaian penelitian di bidang penanganan masalah penyakit,
perilaku, reproduksi, sosial dan konservasi pada orangutan. Penelitian-penelitian
tersebut dilakukan di habitat Orangutan di Hutan Kalimantan Timur dan
Kalimantan Tengah mengenai penyakit infeksi pada orangutan. Untuk penelitian
mengenai Parasite and Natural Antiparasite on Orangutan dilakukan di Taman
Nasional Gunung Leusser, Sumatra Utara bekerja sama dengan Dr. Ivona Foitova
dari Masaryk University dan UMI Saving Foundation, Czeck Republic dengan dana
dari negara tersebut telah melibatkan beberapa mahasiswa S1 dan S2 Fakultas
Kedokteran Hewan UGM. Dari kerjasama ini terbuka kemungkinan bagi staf
pengajar UGM untuk mengambil S3 di Cheko. Diharapkan dalam waktu dekat juga
dilakukan beberapa penelitian mengenai malaria pada Orangutan dan masyarakat
di sekitar habitat orangutan dengan dana dari BOS Foundation, Netherland,
mengingat kasus ini sangat tinggi di Kalimantan Tengah. Hingga saat ini banyak
sekali ancaman-ancaman yang menimpa keberadaan oranguta. Ancaman utama
diantaranya adalah hilangnya orangutan betina dewasa karena perburuan oleh
manusia, hilangnya dan terpecahnya habitat akibat perambahan hutan untuk
industri kayu, perumahan, areal pertanian, kebakaran hutan dan pembukaan daerah
pertambangan. Kehilangan akibat perburuan dan atau perdagangan hewan
peliharaan mungkin cukup besar. Di Taiwan saja tercatat 283 ekor orangutan yang
tertangkap, kemudian beberapa saat yang lalu 53 orangutan diketahui
diselundupkan ke Thailand untuk digunakan sebagai satwa hiburan. Penyakit
memegang peranan yang sangat penting dalam penurunan beberapa populasi yang
menyebabkan terbatasnya beberapa populasi primata. Orangutan sangat mudah
sekali terserang penyakit sama sama dengan manusia, sehingga beberapa penyakit
infeksi yang ada pada manusia dapat diderita orangutan. Penyakit menular yang
sering terjadi misalnya Tuberkulosis, Hepatitis, Scabies, Typhoid, infeksi saluran
usus karena protozoa, bakteri, virus, infeksi saluran pernafasan. Penyakit-penyakit
tersebut sering menyerang orangutan, apalagi untuk orangutan yang telah lama
dipelihara atau kontak dengan manusia, sehingga apabila dilepas ke dalam areal
dimana mereka berinteraksi dalam populasi yang lebih besar maka akan menyebar
ke orangutan yang lain. Oleh karena penyakit merupakan salah satu ancaman yang
paling besar terhadap kelangsungan orangutan, maka interaksi manusia dengan
orangutan harus dihilangkan. Dengan demikian memelihara satwa liar ini dalam
lingkungan manusia memungkinkan penularan penyakit orangutan ke manusia.
Apabila satwa yang telah lama berinteraksi dengan manusia ini dilepaskan ke
habitatnya di alam bebas, maka akan dapat menularkan penyakit-penyakit yang
dibawanya ke orangutan lain di alam yang masih sehat. Berbagai upaya telah
dilakukan dalam upaya mempertahankan keberadaan orangutan di alam yang sejak
tahun 1931 telah dilindungi melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233.
Kemudian setelah itu diperkuat dengan SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No.
301/Kpts-II/1991 dan Undang-undang No. 5 tahun 1990. Oleh IUCN status
konservasi Orangutan dimasukkan sebagai terancam punah atau endangered.
Rehabilitasi orangutan merupakan suatu alat konservasi yang dilakukan di
Indonesia dan Malaysia. Rehabilitasi adalah suatu proses dimana hewan yang
ditangkap diberikan perawatan khusus dan bila perlu dilatih atau diberi
pengamanan khusus supaya dapat bertahan hidup pada saat dilepas di alam bebas.
Sejumlah besar orangutan masih terus disita oleh petugas dari Departemen
Kehutanan sebagai langkah pelaksanaan kebijakan dari instansi ini. Diantaranya
banyak yang masih merupakan bayi-bayi orangutan muda atau yang dalam keadaan
sakit, cacat atau luka-luka. Individu sitaan tersebut selanjutnya dibawa ke beberapa
pusat Rehabilitasi yang saat ini terdapat di Pusat Reintroduksi Orangutan, Samboja
Wanariset, Balikpapan-Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Orangutan
tersebut setelah dikarantina selama beberapa waktu kemudian diberikan perawatan
medis dan jika perlu dilepaskan di suatu tempat. Di Pusat rehabilitasi Wanariset,
hewan-hewan ini dimasukkan dalam kandang-kandang secara berkelompok selama
beberapa bulan, kemudian sambil dilatih dan diawasi secara ketat terus menerus
selama diperlukan sampai beberapa minggu, bulan atau tahun. Hewan ini dapat
dikandangkan kembali bila terlihat tidak dapat menyesuaikan diri untuk hidup
kembali di alam bebas. Ancaman kelestarian orangutan yang demikian banyak
tersebut di atas masih diperparah dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia
yang masih memprihatinkan sehingga memaksa masyarakat melakukan perburuan
satwa dan penebangan hutan. Untuk itu senantiasa diperlukan peran serta dari
masyarakat itu sendiri dalam upaya perlindungan dan penyelamatan orangutan.

PERSYARATAN KEBERHASILAN PROGRAM REINTRODUKSI


Program-program yang berorientasi pada pembentukan populasi baru merupakan hal
yang cukup sulit dan memerlukan biaya besar, karena pada kegiatan tersebut
diperlukan komitmen penuh untuk kurun waktu yang relatif lama. Contoh, program
untuk menangkap, membesarkan, memantau, dan melepas spesies langka seperti
burung Condor dari California, “Peregrine falcon”, dan “Black footed ferrets” di
Amerika Serikat, dan juga Orangutan di Sumatera dan Kalimantan telah menelan biaya
jutaan dolar dan waktu kerja bertahun-tahun. Keputusan memulai program
reintroduksi seringkali membangkitkan emosi masyarakat luas, bahkan di Amerika
Serikat sekalipun, program- program demikian sering mendapat kritikan karena
dianggap menghamburkan uang jutaan dolar AS hanya untuk beberapa ekor
burung yang jelek. Sementara alasan yang lain adalah keberadaan hewan tersebut tidak
diperlukan lagi karena di tempat lain sudah banyak misalnya untuk kasus
perlindungan serigala; dianggap program tersebut selalu tidak berhasil karena setelah
hewan dilepas kondisinya banyak yang mati; ada lagi yang beranggapan bahwa
program tersebut dinilai tidak etis karena dengan menangkap hewan selanjutnya
dipelihara di kebun binatang merupakan kegiatan yang tidak baik jika dibandingkan
hewan tersebut dibiarkan hidup bebas dan tenang. Sebagai jawaban terhadap semua
kritik tersebut yakni gabungan antara program reintroduksi dengan program
penangkaran merupakan harapan terbaik untuk melestarikan spesies, baik yang
hampir punah di alam maupun yang sedang mengalami penurunan drastis,
meskipun program reintroduksi tidak selalu tepat untuk penyelamatan suatu spesies
yang berstatus terancam. Tantangan terpenting dalam program reintroduksi adalah
adanya peranan masyarakat lokal di dalamnya, karena bagaimanapun masyarakat memiliki
kepentingan terhadap keberhasilan penyelamatan suatu spesies. Keterlibatan langsung
maupun tidak langsung oleh masyarakat sangatlah penting bagi setiap upaya
konservasi. Suatu program harus dapat dijelaskan kepada masyarakat setempat agar
mereka mau mendukung, atau setidaknya bersedia menerima program tersebut
(Milton et al., 1999). Pemberian insentif sebagai bagian dari program kepada
masyarakat akan lebih sering membuahkan hasil dibandingkan dengan penegakan
aturan dan hukum secara kaku. Contoh program reintroduksi serigala di Wyoming,
Amerika Serikat, pemberian insentif berupa pembayaran tunai secara langsung
kepada pemilik peternakan yang kehilangan satwanya. Sementara untuk
mempertahankan dukungan masyarakat terhadap program tersebut, sejumlah kecil
serigala yang kerap menyerang ternak masyarakat terpaksa tetap dibunuh (Nyhus et
al., 2003). Persyaratan lain agar program reintroduksi, augmentasi, dan introduksi
dapat berhasil maka perlu dipelajari dan dipertimbangkan organisasi sosial serta
perilaku dari hewan yang akan dilepaskan (Festa- Bianchet & Apollonio, 2003). Secara
naluri hewani, hewan-hewan sosial yang hidup dan dibesarkan di alam seperti mamalia
dan beberapa jenis burung akan belajar menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan
sesama hewan lainnya agar tetap bertahan hidup. Termasuk di dalamnya
kemampuan bersosialisasi dalam mencari makanan bersama, menyadari adanya bahaya,
menemukan pasangan hidupnya, membesarkan anak, dan melakukan perpindahan.
Menurut McPhee (2003), pada umumnya hewan-hewan yang dibesarkan di dalam
penangkaran belum tentu memiliki keahlian-keahlian sosial tersebut. Oleh karena
itu, untuk mengatasi masalah sosialisasi tersebut, sebelum dan sesudah dilepaskan ke
lingkungan di alam bebas, mamalia dan burung-burung dalam penangkaran
membutuhkan pelatihan termasuk diantaranya juga menghindari pemangsa
(Curio, 1996).
Pada program reintroduksi juga diperlukan pemantauan dan perawatan khusus
selama proses pelepasan atau sesegera mungkin setelah pelepasan terutama untuk
beberapa spesies satwa. Pelepasan secara bertahap dan dipantau atau didampingi
manusia dikenal sebagai soft release (Kleiman, 1999). Barangkali sebelum mereka
dapat hidup mandiri maka hewan-hewan tersebut perlu diberikan makanan dan
tempat berlindung pada lokasi pelepasannya. Proses kegiatan ini bersifat sementara agar
mereka dapat mengenali daerah pelepasan dengan baik dan mandiri secara perlahan
(Castro et al., 2003). Program pemantauan merupakan unsur penting untuk melihat
apakah upaya pembentukan spesies baru dengan berbagai tujuannya dapat tercapai
(Hughes et al., 2003). Bahkan dampak yang lebih besar dari program reintroduksi
juga perlu diketahui, dengan demikian diharapkan para ilmuwan dan para peneliti
juga harus memantau komponen penting lainnya dalam ekosistem. Contoh, ketika
pemangsa dimasukkan ke dalam suatu ekosistem, secara langsung keberadaannya akan
berpengaruh terhadap spesies pesaingnya dan spesies mangsa, namun secara tidak
langsung akan berpengaruh terhadap tutupan vegetasi (Berger et al., 2001). Seperti
yang terjadi di Amerika Serikat, suatu program reintroduksi populasi berang-
berang yang mendapat dukungan dari masyarakat umum, namun kecaman dan
kritik keras datang dari para nelayan karena menurunkan populasi ikan dan udang
(Fanshawe et al., 2003). Keberhasilan suatu program reintroduksi memiliki nilai
pendidikan tersendiri. Di Timur Tengah dan Afrika, hasil penangkaran ‘Arabian Oryx’
(Oryx leucoryx) telah berhasil direintroduksikan ke daerah-daerah padang pasir yang
sebelumnya pernah dihuni oleh mereka. Seperti di negara Oman program
reintroduksi ‘oryx’ merupakan hal penting karena merupakan lambang negara,
serta menjadi sumber pekerjaan bagi masyarakat setempat Bedouin sebagai pelaksana
program (Stanley-Price, 1989).
PERBANDINGAN

1. OWA JAWA
Owa jawa adalah sejenis primata anggota suku Hylobatidae. Dengan populasi
tersisa antara 1.000 – 2.000 ekor saja, kera ini adalah spesies owa yang paling
langka di dunia. Owa jawa menyebar terbatas di Jawa bagian barat. Wikipedia
Nama ilmiah: Hylobates moloch
Massa: 5,9 kg (Dewasa berukuran besar) Encyclopedia of Life
Periode gestasi: 241 hari Encyclopedia of Life
Tingkat trofik: Omnivora Encyclopedia of Life
Panjang: 68 cm (Dewasa berukuran besar) Encyclopedia of Life
Spesies: H. Moloch
2. ORANG UTAN
Orang utan adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan
atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di
Pulau Kalimantan dan Sumatra. Wikipedia
Nama ilmiah: Pongo
Famili: Hominidae
Kelas: Mamalia
Filum: Chordata
Kingdom: Animalia
Lama hidup: Orang utan kalimantan: 35 – 45 tahun