Anda di halaman 1dari 7

Nama : Siti Nurhalina

Nim : 1610301121
Kelas : 7B3 Fisioterapi
Makul : K3

TUTORIAL 1.1

1. Bagaimana fisioterapi menyusun program Work Conditioning and Hardening ?

2. Bagaimana Fitting the job yang baik pada K3 berdasarkan Biomekanik ?

3. Bagaimana cara mewujutkan Zero Accident ?

4. Metode apa yang digunakan untuk mengukur resiko Work MSDs ?

5. Peran fisioterapi sebagai konsultan dan Clinical Service, apa saja perannya ?

TUTORIAL 1.2

1. Work Conditioning and Hardening

a. Work Conditioning

Program pengkondisian intensif yang berorientasi pada tujuan yang

dirancang untuk mengembalikan fungsi neuromuskuler dan muskuloskeletal

termasuk kekuatan, daya, daya tahan, mobilitas sendi, ROM, kontrol motorik, daya

tahan kardiovaskular, dan kemampuan fungsional. Tujuan utama dari program

Pengondisian Kerja adalah untuk mengembalikan kapasitas dan fungsi fisik agar

pekerja yang cedera dapat kembali ke pekerjaannya sebelum cedera.

Program pengkondisian kerja berfokus pada persiapan tubuh untuk secara

fisik dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan di tempat kerja. Terapis

Fisik fokus pada peningkatan karyawan, kekuatan, fleksibilitas, dan daya tahan
hingga mereka dapat kembali dengan aman ke pekerjaan yang mereka lakukan

sebelum cedera. Sementara setiap program bervariasi, dan latihan dan gerakan yang

dipraktikkan akan spesifik untuk pekerjaan, ada beberapa kesamaan yang sebagian

besar program pengkondisian kerja terapi fisik;

i. Program progresif 2-4 jam dihadiri 3-5 hari per minggu

ii. Pengawasan PL / PT berlisensi

iii. Penekanan pada tugas simulasi pekerjaan untuk pengembalian

pekerjaan tertentu

iv. Penekanan pada pencegahan cedera di masa depan yang

mengajarkan mekanika tubuh yang benar dan pola gerakan yang

aman

v. Latihan pemrograman yang dirancang untuk meningkatkan

fleksibilitas, kekuatan, dan daya tahan yang diperlukan untuk

berhasil kembali bekerja. Pada penyelesaian program, program

latihan di rumah yang komprehensif akan disediakan untuk

memastikan keberhasilan jangka Panjang

vi. Bantu pengkondisian kerja untuk melanjutkan perilaku kerja yang

sesuai termasuk kehadiran, ketepatan waktu, dan respons terhadap

pengawasan

vii. Kinerja kegiatan simulasi pekerjaan bertingkat, sehingga para

peserta memperoleh kepercayaan diri dalam kemampuan mereka

untuk kembali bekerja dan agar mereka dapat menerapkan

perubahan mekanis tubuh mereka dengan cara yang bermakna.


viii. Pendidikan pasien and pancing , management back care, manajemen

stres dan pencegahan cedera.

b. Work Hardening

Program intervensi yang sangat terstruktur, berorientasi pada tujuan, dan

individual yang dirancang untuk mengembalikan karyawan ke tempat kerja. Program

kami Work Hardening bersifat multidisiplin dan memanfaatkan aktivitas kerja nyata

atau disimulasikan yang dirancang untuk memulihkan fungsi fisik, perilaku, dan

kejuruan. Work Hardening membahas masalah produktivitas, keselamatan, toleransi

fisik, dan perilaku pekerja.

SUMBER : SELEC PHYSICAL THERAPIST/ A Devition of Selec Medical/

Work Hardening and Work Conditioning

/https://www.selectphysicaltherapy.com/services/work-health/work-hardening-

and-work-conditioning/&prev=search

2. Fitting the job yang baik pada K3 berdasarkan Biomekanik

Dalam melakukan suatu pekerjaan, sikap tubuh harus merupakan sikap yang

“ergonomik”, sehingga dapat dicapai suatu efisiensi dan produktifitas kerja yang

optimal dengan tetap memberikan rasa nyaman dalam bekerja.

Untuk itu, harus diperhatikan beberapa hal sebagai berikut.

a. Sikap kerja duduk adalah lebih baik danlebih nyaman dibanding sikap kerja berdiri

yang sangat melelahkan.

b. Senantiasa diupayakan agar semua pekerjaan dilakukan dengan sikap kerja duduk,

atau sikap duduk dan sikap berdiri bergantian.


c. Selalu menghindarkan sikap tubuh yang tidak alamiah dalam bekerja.

d. Diupayakan sekecil mungkin adanya beban statis.

e. Kursi kerja harus dirancang untuk dibuat sedemikian rupa sehingga tenaga kerja

akan memperoleh kedudukan yang mantap dan memberikan relaksasi otot-otot

yang sedang tidak dipakai, dan tidak mengalami penekanan-penekanan pada bagian

tubuh yang dapat mengganggu sirkulasi dan sensibilitas.

f. Meja kerja harus dirancang dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai bagi tenaga

kerja maupun jenis pekerjaannya, dimana tenaga kerja dapat melihat seluruh

permukaan meja dengan jelas tanpa kesilauan, dan akan dapat melakukan

pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa membuat gerakan-gerakan tubuh yang

tidak perlu.

g. Luas pandangan adalah daerah pandangan yang jelas terlihat bila tenaga kerja

dalam keadaan berdiri tegak dan diukur dari tinggi mata, yaitu 0–30 derajat

vertikal dan 0–50 derajat horizontal.

h. Mengangkat dan Mengangkut Dalam pelaksanaannya akan dipengaruhi berbagai

faktor, seperti :

 Beban yang diperkenankan, jarak angkat dan intensitas pembebanan

 Kondis lingkungan kerja

 Keterampilan tenaga kerja

 Peralatan kerja dan keamanannya.

2 (dua) prinsip kinetik cara mengangkat dan mengangkut :

a. Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang kuat, dan sebanyak

mungkin otot tulang belakang dibebaskan dari pembebanan.


b. Momentum gerakan badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan yang

akan dilakukan

SUMBER : Modul Fisioterapi K3, Universitas Esa Unggul.

https://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Course-949-Modul%20K3.pdf

3. Mewujudkan Zero Accident

Penyebab kecelakaan atau kecelakaan kerja pada dasarnya disebabkan oleh

tindakan tidak aman (unsafe act) dan kondisi yang tidak aman (unsafe condition)

yang disebabkan oleh factor pekerja (manusia). Untuk itu maka para pekerja ini

harus mendapat perhatian utama dalam pelaksanaan pekerjaan maupun

pengawasan dan penyuluhan pelatihan. Setelah melakukan pengawasan dan

pelatihan maka Untuk mewujudkan Zero Accident para pekerja harus mengikuti

dan mentaati SOP yang berlaku serta mentaati Keselamatan dan kesehatan kerja

(K3) yang telah diajarkan dan yang berlaku di tempat kerja.

4. Mengukur resiko Work MSDs pada pekerjaan statis

a. Low Back Analysis (LBA)

Digunakan untuk mengevaluasi gaya yang diterima oleh tulang belakang

pada postur dan kondisi tertentu. Dalam analisis LBA, terdapat dua hal yang

menjadi fokus utama yaitu pada muscle tension yang menjelaskan mengenai gaya

yang terjadi pada beberapa otot yaitu erecctor spine, latissimus dorsi, erternal

oblique, internal oblique, dan rectus abdominus dan menggambarkan momen gaya

yang terjadi pada L4 dan L5.


b. Static Strength Perediction (SSP)

Digunakan untuk mengevaluasi presentase dari suatu populasi pekerja

yang memiliki kekuatan untuk melakukan pekerjaan yang diberikan pada virtual

human berdasarkan postur tubuh, jumlah energi yang dibutuhkan, dan

antropometri.

c. Ovako Working Posture Analysis System (OWAS)

Digunakan untuk memperkirakan kecukupan waktu pemulihan yang

tersedia untuk suatu pekerkajan sehingga dapat menghindari kecelakaan kerja.

d. Rapid Upper Limb Assessment (RULA)

Merupakan metode ergonomi yang digunakan untuk mengevaluasi postur

kerja seorang pekerja terhadap faktor resiko dalam melakukan pekerjaannya.

SUMBER : Ratna Purwaningsih, Dyah Ayu P., Novie Susanto Desain Stasiun
Kerja Dan Postur Kerja Dengan Menggunakan Analisis Biomekanik Untuk
Mengurangi Beban Statis Dan Keluhan Pada Otot Jurnal Teknik Industri, Vol. XII,
No. 1, Januari 2017.

5. Fisioterapi pada K3

Fisioterapis (Fisioterapi K3), sebagai sebuah profesi yang pro aktif dibidang

pencegahan pada gangguan muskuloskeletal, merupakan tempat yang tepat untuk

melakukan pemeriksaan dan analisa bahaya atau resiko dari cidera/kecelakaan

kerja. Melalui penelitian yang cermat dan deskripsi aktivitas kerja, ahli fisioterapi

dapat melakukan penaksiran untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang

bisa meningkatkan stress otot rangka pada tenaga kerja, sehingga dapat ditemukan

indikasi pendekatan/intervensi apa yang tepat untuk pencegahannya. Idealnya,

sistem kerja mempunyai resiko fisik yang rendah, seperti tidak memicu stress otot
rangka. Tantangannya, bagaimana menemukan faktor-faktor resiko utama, dan

menghilangkan/menguranginya melalui misal, manipulasi sistem, mengubah

tempat kerja, dan sebagainya, agar tercapai sebuah sistem kerja yang aman.

Secara umum, peran dari seorang fisioterapis K3 adalah untuk efisiensi

produksi dari suatu organisasi kerja. Bahkan, sangat mungkin, fisioterapis dapat

memberikan opini/saran dalam hal kebutuhan tenaga, menyangkut soal kebugaran

calon pegawai.

Sebagaimana tempat kerja lainnya, lingkungan/tempat kerja fisioterapi

membutuhkan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3), karena baik dari

segi jenis pekerjaannya maupun tempat kerjanya, memunculkan berbagai faktor

resiko untuk terjadinya gangguan kesehatan atau kecelakaan kerja. Umumnya,

faktor resiko yang ada pada lingkungan kerja fisioterapi adalah faktor fisika dan

psiko-sosial, meskipun tidak tertutup kemungkinan faktor-faktor lain, seperti kimia

dan biologis.

SUMBER : Modul Fisioterapi K3, Universitas Esa Unggul.


https://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Course-949-Modul%20K3.pdf

Anda mungkin juga menyukai