Anda di halaman 1dari 14

TERAPI SINERGI KEMANGI, JAHE DAN MADU MENJADI SIRUP

PEREDA BATUK DAN ASMA

KELOMPOK 4 :

1. KHARIS ADHA (616080716021)


2. NATALIA CRISTI (616080716030)
3. NURVAIZA (616080715026)
4. PANJEN SETIANINGSIH (616080716038)
5. RAJA AINI NURANI (616080716045)
6. RANI NUR ALIF (616080716046)
7. SAFITRI GUNAWAN (616080716050)
8. TANIA SEPTIANI (616080716053)

STIKES MITRA BUNDA PERSADA BATAM


TAHUN AJARAN 2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa ta’ala karena


telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan Makalah Hasil Diskusi
tentang “Terapi Sinergi Kemangi, Jahe dan Madu menjadi Sirup pereda Batuk dan
Asma” ini tepat waktu.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu dalam proses pembuatan Makalah Hasil Diskusi tentang “Terapi
Sinergi Kemangi, Jahe dan Madu menjadi Sirup pereda Batuk dan Asma”. Tanpa
dukungan dari berbagai pihak mungkin makalah ini tidak bisa selesai tepat waktu.

Kami menyadari makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhir kata
kami mengharapkan Makalah Hasil Diskusi tentang “Terapi Sinergi Kemangi,
Jahe dan Madu menjadi Sirup pereda Batuk dan Asma “ dapat bermanfaat bagi
para pembaca.

Batam, 22 Oktober 2019

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2. Tujuan penulisan ................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN ............................................................................................ 3
2.1. Definisi Asma ....................................................................................... 3
2.2. Patofisiologi .......................................................................................... 5
2.3. Gejala Asma.......................................................................................... 5
2.4. Tindakan Pencegahan ........................................................................... 6
2.5. Terapi Komplementer untuk Penyakit Pernafasan Khususnya Asma .. 8
1. Kemangi .......................................................................................... 8
2. Jahe .................................................................................................. 9
3. Teknik Pembuatan Sirup ................................................................. 9
4. Alat dan Bahan .............................................................................. 10
BAB III
PENUTUP .................................................................................................... 11
3.1. Kesimpulan ......................................................................................... 11
3.2. Saran ................................................................................................... 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Di Indonesia, prevalensi asma belum diketahui secara pasti. Hasil
penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan
kuesioner ISAAC (InternationalStudy on Asthma and Allergy in
Children) tahun 1995 melaporkan prevalensi asma sebesar 2,1%,
sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%. Hasil survey
asma pada anak sekolah di beberapa kota di Indonesia (Medan,
Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan
Denpasar) menunjukkan prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12
tahun) berkisar antara 3,7-6,4%, sedangkan pada anak SMP di Jakarta
Pusat sebesar 5,8%. Berdasarkan gambaran tersebut, terlihat bahwa
asma telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat
perhatian serius (Iris, 2008, 445).
Penyakit asma berasal dari kata “asthma” yang diambil dari bahasa
yunani yang berarti “sukar bernapas”. WHO medefiniskan Asma
sebagai penyakit yang ditandai dengan serangan berulang dari sesak
napas dan mengi, yang bervariasi dalam keparahan dan frekuensi dari
orang ke orang. Pada seorang individu dapat terjadi dari jam ke jam dan
hari ke hari . Serangan asma terjadi pada semua kelompok umur tetapi
sering dimulai pada masa kanak-kanak. Kondisi ini disebabkan
peradangan saluran udara di paru-paru dan mempengaruhi sensitivitas
ujung saraf di saluran napas sehingga mereka menjadi mudah teriritasi.
Dalam sebuah serangan, lapisan bagian membengkak menyebabkan
saluran udara untuk mempersempit dan mengurangi aliran udara masuk
dan keluar dari paru-paru (Wells, 2009, 906).
The National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP)
mendefinisikan asma sebagai gangguan inflamasi kronis pada saluran
nafas di mana banyak sel dan elemen seluler berperan didalamnya.
Pada individu yang rentan, peradangan menyebabkan mengi berulang,

1
sesak napas, dada sesak, dan batuk. Hal ini biasanya berhubungan
dengan obstruksi aliran nafas yang sering reversibel baik secara spontan
atau dengan pengobatan. Peradangan juga menyebabkan peningkatan
hiperresponsof bronkial pada berbagai rangsangan (Wells, 2009, 906).

1.2 TUJUAN PENULISAN


1. Tujuan untuk memahami definisi asma
2. Tujuan untuk memahami patofisiologi asma
3. Tujuan untuk memahami gejala asma
4. Tujuannya dapat memami menggunakan pengobatan herbal pada
penyakit asma

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI ASMA


Penyakit asma berasal dari kata “asthma” yang diambil dari
bahasa yunani yang berarti “sukar bernapas”. Asma sebagai
penyakit yang ditandai dengan serangan berulang dari sesak napas
dan mengi, yang bervariasi dalam keparahan dan frekuensi dari
orang ke orang . Pada seorang individu dapat terjadi dari jam ke
jam dan hari ke hari . Serangan asma terjadi pada semua kelompok
umur tetapi sering dimulai pada masa kanak-kanak. Kondisi ini
disebabkan peradangan saluran udara di paru-paru dan
mempengaruhi sensitivitas ujung saraf di saluran napas sehingga
mereka menjadi mudah teriritasi . Dalam sebuah serangan , lapisan
bagian membengkak menyebabkan saluran udara untuk
mempersempit dan mengurangi aliran udara masuk dan keluar dari
paru-paru.
Gejalah asma berupa batuk terutama pada malam atau dini
hari, sesak napas, napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika
pasien menghembuskan napasnya, rasa berat di dada dan dahak
sulit keluar. Namun dapat pula terjadi gejala yang berat adalah
keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Berupa serangan
batuk yang hebat, sesak napas yang berat dan tersengal-sengal,
sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut), sulit
tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
dan yang paling fatal apabilah kesadaran menurun.
Asma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat
penyakit dan pola keterbatasan aliran udara. Klasifikasi asma
berdasarkan berat penyakit penting bagi pengobatan dan
perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma
semakin tinggi tingkat pengobatan. Berat penyakit asma
diklasifikasikan berdasarkan gambaran klinis sebelum pengobatan
dimulai.

3
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
asma berupa : tindakan umum, menjaga kesehatan, menjaga
kebersihan lingkungan, fisioterapi, hiposensibilisasi, prevensi
infeksi viral, prevensi infeksi bakteriil, prevensi prenatal,
menghindarkan faktor pencetus serangan penyakit asma dan
menggunakan obat-obat antipenyakit asma.
Obat-obat yang dapat digunakan pada pengobatan asma
berupa pengobatan farmakologi dan non farmakologi.
Pengobatan farmakologi dapat berupa tablet maupun sirup,
misalnya: asbron FCT, bronsolvan, neo napacin, brasmatic,
brondilex, theobron, asmano. Pengobatan untuk serangan asma
tiba-tiba yaitu dengan di berikan sediaan inhalasi yang berisi obat-
obat bronkodilator seperti salbutamol. Penanganan pada gejala
asma seperti sesak napas dapat di swamedikasi dengan sediaan
oksigen kaleng. Namun sediaan inhalasi merupakan obat-obat yang
memiliki harga yang relatif ahal sehingga, masyarakat lebih
memilih obat-obat dalam bentu sediaan lain seperti tablet ataupun
sirup, dan masuk dalam kategori bebas terbatas dan merupakan
obat wajib apotek.
Sedangkan pengobatan non farmakologi dapat berupa
akupuntur, akupresur, refleksologi, aromaterapi, meditasi dan
yoga, edukasi maupun pengobatan dengan menggunakan herbal.
Pengobatan secara edukasi yaitu edukasi pasien dan keluargayang
menjadi mitra dokter dalam penatalaksanaan asma, pengukuran
peak flow meter yang dilakukan pada pasien dengan asma sedang
sampai berat, pemberian oksigen, banyak minum untuk
menghindari dehidrasi terutama pada anak-anak, pengontrolan
secara teratur dan pola hidup yamg sehat. Sedangkan pengobatan
dengan herbal dapat menggunakan daun sinergi, jahe dan madu
dapat digunakan secara seduhan.

4
2.2 PATOFISIOLOGI
Ada beberapa stimuli yakni berupa rangsangan fisik
(perubahan suhu, dingin dan kabut), rangsangan kimiawi (polusi
udara, gas-gas pembuangan, sulfurdioksida, ozon, asap rokok),
rangsangan fisik dan rangsangan psikis (emosi dan stres). Pada
sebagian pasien asma disamping HBR spesifik, juga terdapat
alergi. Dengan ini dimaksudkan bakat keturunan untuk membentuk
antibodi terhadap antigen (alergen) tertentu yang masuk ke dalam
tubuh. Antibodi ini dari tipe IgE (imunoglobulin type E) juga
disebut reagin, mengikat diri pada mastcell di saluran napas. Jika
jumlah IgE sudah cukup besar, maka pada waktu alergen yang
tidak identik masuk lagi ke dalam tubuh, terjadilah penggabungan
antigen-antibody. Mastcells pecah (degranulasi) dan segerah
melepaskan mediatornya yaitu histamin akibatnya ada
bronkokontriksi dengan pengembangan mukosa (udema) dan
hipersekresi dahak/mucus, yang merupakan gejala khas serangan
asma (Tan Hoan, dkk, 2007, 837-638).
Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah
faktor, antara lain alergen, virus, dan iritan yang dapat
menginduksi respons inflamasi akut. Asma dapat terjadimelalui 2
jalur, yaitu jalur imunologis dan saraf otonom (Iris, 2008, 445).
Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain berperan
sebagai penyebab atau pencetus inflamasi saluran napas pada
pasien asma. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif (hipereaktifitas) jalan napas yang menimbulkan
gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa
berat dan batuk-batuk terutama pada malam dan/atau dini hari

2.3 GEJALA ASMA


Gejala asma bersifat episodik, seringkali reversibel dengan/atau
tanpa pengobatan. Gejala awal berupa:
a. Batuk terutama pada malam atau dini hari

5
b. Sesak napas
c. Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien
menghembuskan napasnya
d. Rasa berat di dada
e. Dahak sulit keluar.

Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang


mengancam jiwa. Yang termasuk gejala yang berat adalah:

a. Serangan batuk yang hebat


b. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
c. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar
mulut)
d. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah
dalam keadaan duduk
e. Kesadaran menurun.

2.4 TINDAKAN PENCEGAHAN


Semua serangan penyakit asma harus dicegah. Serangan
penyakit asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui dan
bisa dihindari. Serangan yang dipicu oleh olah raga bisa dihindari
dengan meminum obat sebelum melakukan olah raga. Ada usaha-
usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah
datangnya serangan penyakit asma, antara lain1 :
 Menjaga kesehatan
 Menjaga kebersihan lingkungan
 Menghindarkan faktor pencetus serangan penyakit asma
 Menggunakan obat-obat anti penyakit asma
Setiap penderita harus mencoba untuk melakukan tindakan
pencegahan. Tetapi bila gejala-gejala sedang timbul maka
diperlukan obat asma untuk menghilangkan gejala dan selanjutnya
dipertahankan agar penderita bebas dari gejala penyakit asma.

6
1. Tindakan Umum
Tujuan utama adalah mencegah reaksi antigen-antibodi
serta serangan asma dan menurunkan HRB dengan jalan
menghilangkan faktor pemicu. Asma menekan dan
memperlambat pertumbuhan, maka penangannya pada anak-anak
juga dimaksudkan agar anak tumbuh normal. Tindakan yang
dapat diambil menjauhkan sebanyak mungkin faktor pemicu
serangan asma. Begitu pula dengan obat-obat profilaksis
kromoglikat dan nedokromil, antihistaminika serta kortikosteroid
(Tan Hoan, dkk, 2007, 639-640).

2. Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak
terpisahkan dari pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah
dan kurang gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga
berarti mudah untuk mendapat serangan penyakit asma beserta
komplikasinya.
Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan
makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat yang
cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan
banyak minum kecuali bila dilarang dokter, karena menderita
penyakit lain seperti penyakit jantung atau ginjal yang berat.
Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di
saluran pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan.
Sebaliknya bila penderita kurang minum, dahak akan menjadi
sangat kental, liat dan sukar dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang
kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat
yang berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang
berlebihan dari saluran napas akibat bernapas cepat dan dalam.

7
3. Menjaga kebersihan lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat
mempengaruhi timbulnya serangan penyakit asma. Keadaan
rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya
tidak lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari.
Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur
merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus.
Sebaiknya kamar tidur sesedikit mungkin berisi barang-barang
untuk menghindari debu rumah, Hewan peliharaan, asap rokok,
semprotan nyamuk, atau semprotan rambut dan lain-lain
mencetuskan penyakit asma. Lingkungan pekerjaan juga perlu
mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan antara
lingkungan kerja dengan serangan penyakit asmanya

2.5 HERBAL YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM TERAPI


KOMPLEMENTER PENYAKIT PERNAFASAN KHUSUSNYA ASMA

Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan
atau tanpa bahan tambahan bahan pewangi dan zat obat. Sirup obat dalam
perdagangan dibuat dari bahanbahan awal yaitu menggabungkan masingmasing
komponen tunggal dari sirup seperti sukrosa, air murni, bahan pemberi rasa,
bahan pewarna, bahan terapeutik, dan bahan-bahan lain yang diperlukan dan
diinginkan. (Damayanti, 2013).

1. KEMANGI (Ocimum basilicum L.)


Kemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan jenis tanaman
serbaguna yang sudah dikembangkan di Indonesia. Daun kemangi selain
digunakan lalapan juga dapat digunakan sebagai anti gangguan asma.
Penelitian menunjukkan bahwa senyawa metabolit yang terkandung di dalam
daun kemangi adalah flavonoid, tanin, steroid dan saponin. minyak atsiri
sehingga kemangi dapat digunakan sebagai antiseptik, antispasmodik,
karminatif, ekspektoran, antipiretik. (Faturohman, 2013). Daun kemangi

8
mengandung Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, beta karoten, kalsium, fosfor,
magnesium, protein, lemak, karbohidrat, zat besi, flavonoid, arginin, boron,
anetol, apigenin, asam askorbat, asam kafeat, eskuletin, ariodiktiol, eskulin,
estragol, faenesol, histidin, rutin, tannin dan βsitosterol. Kandungan
ayurvedic dan ekspektoran dalam kemangi membantu memobilisasi lendir
pada penderita gangguan bronchitis dan asma.

2. JAHE
Jahe Sebagai Antioksidan Beberapa senyawa dalam jahe yang
berperan besar dalam aktivitas antioksidan, yaitu 6- gingerdiol, 6-shogaol,
asam kafeat, champhene, capsaicin, Asam khorogenat, kurkumin,
delphinidin, eugenol, asam ferulat, gamma-terpinen, gingerol, isoeugenol,
kaempferol, melatonin, myrcene, myricetin, p-coumaric-acid, asam fihidriksi-
benzoat, quersetin, asam vanilla, vanillin dan zingerone. ( Widiyanti, 2009 ).
Jahe juga memberikan manfaat sebagai pengobatan untuk batuk dan asma.
Hasil penelitian farmakologi menyatakan bahwa senyawa
antioksidan alami dalam jahe cukup tinggi dan sangat efisien dalam
menghambat radikal bebas superoksida dan hidroksil yang dihasilkan oleh
sel-sel kanker, dan bersifat sebagai antikarsinogenik, nontoksik dan non-
mutagenik pada konsentrasi tinggi (Manju dan Nalini 2005). Beberapa
senyawa, termasuk gingerol, shogaol dan zingeron memberikan aktivitas
farmakologi dan fisiologis seperti efek antioksidan, antiinflammasi,
analgesik, antikarsinogenik dan kardiotonik.

3. TEKNIK PEMBUATAN SIRUP


Teknik pembuatan sirup kemangi. Indikator yang kami tetapkan adalah
sebagai berikut :
a. Cara ekstraksi yaitu dengan menggunakan maserasi dengan diawali
perebusan.
b. Bahan sinergi yang menguatkan khasiat kemangi sebagai obat batuk dan
asma, yaitu jahe.

9
c. Bahan pemanis alami yang aman dan menyehatkan yaitu madu.
Efektivitas sirup kemangi. Indikator yang kami tetapkan adalah sebagai
berikut :
a. Kualitas produk dengan uji organoleptis.
b. Uji aktivitas anti-asma dengan melibatkan penderita asma yang
berkenan menjadi sukarelawan.

4. ALAT DAN BAHAN


a. Alat dan Bahan Bahan –bahan : 5 gram kemangi, 1 ruas jari jahe, 7
sendok makan madu, 900 ml air. Alat-alat : Panci, sendok, saringan,
Cara pembuatan: Rebus kemangi, jahe dengan air. Tunggu hingga air
tersisa 450 ml.
b. Setelah itu diamkan seharian. Kemudian saring dan tambahkan 7
sendok madu.
Analisis data menggunakan grafik perkembangan dari hasil
pengujian aktivitas anti-asma yang diberikan nutrisi sirup selama 1 minggu
(7 hari). Sinergi kemangi yang mengandung ayurvedic dan ekspektoran
dengan jahe yang mengandung antioksidan dan ekspektoran serta dilengkapi
madu sebagai pemanis yang mampu meningkatkan stamina kami prediksi
efektif menyembuhkan batuk dan asma.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Asma adalah suatu gangguan inflamasi kronis pada saluran
nafas di mana banyak sel dan elemen seluler yang berperan
didalamnya. Penyakit asma dapat diklasifikasikan yang terdiri
dari: intermiten, persisten ringan, persisten sedang dan persisten
berat. Asma ditandai dengan serangan berulang dari sesak napas
dan mengi, yang bervariasi dalam keparahan dan frekuensi dari
orang ke orang. Pada seorang individu dapat terjadi dari jam ke
jam dan hari ke hari. Kondisi ini disebabkan peradangan saluran
udara di paru-paru dan mempengaruhi sensitivitas ujung saraf di
saluran napas sehingga mereka menjadi mudah teriritasi. Dalam
sebuah serangan, lapisan bagian membengkak menyebabkan
saluran udara untuk mempersempit dan mengurangi aliran udara
masuk dan keluar dari paru-paru.
Pengobatan dengan herbal dapat menggunakan daun
kemangi, jahe dan madu dan dapat digunakan secara seduhan
dalam berupa sirup. Pembuatan sirup kemangi pereda batuk dan
asma dapat dilakukan dengan melakukan sinergi bersama jahe
dan madu sebagai pemanisnya. Hasil Uji aktivitas anti-asma
menunjukkan bahwa penderita asma yang diberi nutrisi dengan
dosis 3x sehari selama 7 hari memberikan dampak yang positif.
Grafik perkembangan penderita asma cenderung mengalami
proses pemulihan secara teratur.

3.2 SARAN
Perawat diharapkan dapat memahami terapi herbal
khususnya untuk mengatasi penyakit asma pada pasien yang
terkena asma.

11