Anda di halaman 1dari 25

TUGAS BIOSTATISTIK

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP


TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS ANDALAS
KOTA PADANG
TAHUN 2018

Dosen : Ilma Nuria Sulrieni,M.Kes

INDAH WULAN YULI


1502153

STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG


PRODI S1 KEPERAWATAN
2018/20
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Zaman modern seperti sekarang banyak sekali masyarakat yang

tidak memperdulikan kondisi kesehatannya. Masyarakat tidak mau

memeriksakan kesehatannya apabila tidak merasakan sakit yang parah.

Tekanan Darah tinggi adalah salah satunya, Penyakit ini sering sekali

dianggap tidak membahayakan, dikarenakan tidak adanya perhatian

terhadap diri dan minimnya pengetahuaan tentang seberapa bahayanya

penyakit ini. Menurut JNC hipertensi terjadi apabila tekanan darah lebih

dari 140/90 mmHg. Hipertensi berkaitan dengan kenaikan tekanan sistolik

atau tekanan diastolik atau tekanan keduanya. Hipertensi dapat

didefinisikan sebagai tekanan darah tinggi persisten dimana tekanan

sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg

(Wijaya dan Putri, 2013).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit

yang tidak bisa diremehkan karena penyakit ini dapat membahayakan

kesehatan jiwa seseorang. Penderita hipertensi hampir tidak menyadari

bahwa dirinya sakit. Oleh karena itu, hipertensi sering disebut sebagai

“silent killer” atau ”pembunuh diam-diam”, karena sering sekali penderita

hipertensi bertahun-bertahun tanpa merasakan suatu gangguan


atau gejala. Tanpa disadari penderita mulai mengalami komplikasi pada

organ-organ vital seperti jantung, otak, atau ginjal (Triyanto, 2014).

Berdasarkan data World Health Organization atau WHO (2014),

yang menyatakan bahwa tercatat satu milyar orang didunia menderita

hipertensi dan diperkirakan terdapat 7,5 juta kematian atau sekitar 12,8%

dari seluruh total kematian yang disebabkan oleh penyakit ini. Menurut

American Heart Association (2014), sekitar 77,9 juta orang di Amerika

Serikat atau 1 dari 3 orang dewasa menderita hipertensi. Bahkan

diperkirakan akan terus meningkat 7,2% atau sekitar 83,5 juta orang pada

tahun 2030.

Menurut RISKESDAS (2013), prevalensi hipertensi pada umur

≥18 tahun di Indonesia yang didapat melalui jawaban kuesioner pernah

didiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4%, sedangkan yang pernah

didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat hipertensi sendiri

sebesar 9,5%. Hipertensi banyak terjadi pada umur 35-44 tahun ( 6,3 %),

mur 45-54 tahun (11,9%), dan umur 55-64 tahun (17,2%). Prevelensi

hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran didapatkan sebesar

25,8%. Responden yang memiliki tekanan darah normal tetapi sedang

minum obat hipertensi sebesar 0,7%. Berdasarkan hasil tersebut,

prevelensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5%.


Prevelensi hipertensi di provinsi Sumatera Barat mencapai 22,6%

hipertensi merupakan 10 penyakit terbanyak yang di derita oleh

masyarakat dengan jumlah penderita 84.345 orang. Hasil survei dari Dinas

Kesehatan Kota Padang kejadian hipertensi dengan pengukuran tekanan

darah penduduk ≥ 18 tahun pada tahun 2015 sebanyak 67,36 % atau

44.254 orang dan pada tahun 2016 kejadian hipertensi mencapai 7.880

orang yang tersebar dalam 22 puskesmas di Kota Padang. Berdasarkan

data 2016, penderita hipertensi terbanyak terdapat di wilayah kerja

Puskesmas Andalas yang merupakan angka kejadian hipertensi tertinggi

dengan jumlah penderita hipertensi sebanyak 1.029 orang dari 57.045

jumlah penduduk. Data dari Puskesmas Andalas kota Padang tiga bulan

terakhir yang melakukan pemeriksaan rutin bulanan terjadi peningkatan

dan penurunan, yaitu pada bulan oktober angka kejadian hipertensi

berjumlah 455 orang, bulan november 252 orang, dan pada bulan

desember kembali meningkat menjadi 301 orang.

Berdasarkan data WHO hipertensi merupakan penyebab kematian

nomor satu di Dunia ( Pratama, 2017 ). Di Indonesia hipertensi merupakan

penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan tuberkolusis ( Riskesdas,

2013). Oleh sebab itu, hipertensi harus dihindari dengan mengurangi

faktor risiko terjadinya hipertensi sehingga dapat mengurangi angka

kematian akibat Hipertensi. Menurut Soenanto (2009) , banyak cara untuk

mengurangi faktor risiko hipertensi seperti mengurangi asupan garam,

makan makanan yang bergizi, berolahraga secara teratur, menghindari

rokok, dan minuman beralkohol. selain itu banyak juga dianjurkan


menggunakan obat-obat tradisional sebagai pencegahan dan pengobatan

hipertensi.

Kejadian hipertensi yang meningkat setiap tahun mengindikasikan

bahwa hipertensi perlu dan harus segera diatasi.

Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi farmakologis dan non

farmakologis. Terapi farmakologis yaitu obat anti hipertensi antara lain

diuretik, beta-blockers, ACE inhibitor, Angiotensin II Receptor blocker

(ARBs), Alpha-Blocker, clonidine, dan vasodilator. Terapi non

farmakologis terdiri dari menghentikan merokok, menurunkan berat badan

berlebih, latihan fisik, menurunkan asupan garam, meningkatkan konsumsi

buah dan sayur, menurunkan asupan lemak, serta terapi komplementer

salah satunya adalah relaksasi otot progresif (Potter & Perry, 2009 dalam

Tyani,dkk. 2015).

Terapi komplementer merupakan salah satu terapi non

farmakologis penderita hipertensi. Terapi komplementer adalah cara

penanggulangan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada

pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain

diluar pengobatan medis yang konvensional. Pengobatan komplementer

dilakukan dengan tujuan melengkapi pengobatan medis konvensional dan

bersifat rasional (Purwanto, 2013). Terapi komplementer dilakukan secara

alami seperti relaksasi otot progresif, relaksasi nafas dalam, meditasi,

aroma terapi, terapi herbal, dan terapi nutrisi. Terapi relaksasi memberikan

4
individu mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri

(Tyani, 2015).

Terapi non farmakologis selalu menjadi pilihan yang dilakukan

penderita hipertensi karena biaya yang dikeluarkan untuk terapi

farmakologis relatif mahal dan menimbulkan efek samping yang tidak

diinginkan penderita, yaitu dapat memperburuk keadaan penyakit atau

efek fatal lainnya. Penggunan obat-obat antihipertensi dalam jangka lama

dapat menyebabkan kelelahan, pusing, batuk, sering buang air kecil,

retensi cairan, disfungsi seksual, detak jantung tidak normal, dan alergi

(Susilo & Wulandari, 2011). Terapi relaksasi memberikan individu

mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri (Susilo &

Wulandari, 2011).

Teknik relaksasi otot progresif adalah memusatkan perhatian pada

suatu aktivitas otot, dengan mengidentifikasikan otot yang tegang

kemudian menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi

untuk mendapatkan perasaan relaks (Purwanto, 2013). Relaksasi ini

bekerja menurunkan resistensi perifer dan menaikkan elastisitas pembuluh

darah. Relaksasi dapat merangsang munculnya zat kimia yang mirip

dengan beta blocker di saraf tepi yang dapat menutup simpul-simpul saraf

simpatis yang berguna untuk mengurangi ketegangan dan menurunkan

tekanan darah (Hartono, 2007 dalam Tyani,dkk. 2015). Otot-otot dan

peredaran darah akan lebih sempurna dan mengedarkan oksigen serta

relaksasi otot pogresif dapat bersifat vasodilator yang efeknya

5
memperlebar pembuluh darah dan dapat menurunkan tekanan darah

(Khairani dan Fadila, 2015). Latihan relaksasi otot progresif merupakan

metode paling sederhana dan efektif untuk menurunkan ketegangan otot,

mengurangi tingkat stres, dan mengurangi tekanan darah (Kumutha, dkk.

2014).

Menurut penelitian yang dilakukan (Harmono, 2010), dengan judul

pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan tekanan darah klien

hipertensi primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan relaksasi

otot progresif terdapat penurunan tekanan darah sistolik sebesar 16,65

mmHg. Relaksasi ini secara bermakna dapat menurunkan tekanan darah

sistolik hipertensi primer. (p value = 0,0075 < 0,05 ). Pada kelompok

kontrol tidak terjadi penurunan tekanan darah. Hal ini berarti terdapat

perbedaan yang signifikan antara rata-rata penurunan tekanan darah pada

kelompok yang diberi perlakuan dan kelompok kontrol sesudah relaksasi

otot progresif.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Valentine,dkk. 2014) dengan

judul “Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah

Lansia Dengan Hipertensi Di Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang”

sebelum diberikan relaksasi otot progresif rata-rata tekanan sistolik 154,73

mmHg dan tekanan darah diastolik 95,73 mmHg. Setelah diberikan

relaksasi otot progresif rata-rata tekanan darah sistolik 147,67 mmHg dan

tekanan darah diastolik 87,87 mmHg. Hasil uji analisa dengan

menggunakan uji t – independen didapatkan bahwa p-value 0,032 (sistole)

6
dan p-value 0,008 (diastole) < α 0,05 maka dapat disimpulkan ada

pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tekanan darah pada

lansia dengan hipertensi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini

peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut “Apakah ada pengaruh

teknik relaksasi otot progresif terhadap tekanan darah pada penderita

hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Andalas Kota Padang tahun 2018”?.

C. Tujuan Penelitian

1.Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh teknik

relaksasi otot progresif terhadap tekanan darah pada penderita

hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Andalas Kota Padang tahun

2018.

2. Tujuan khusus

a. Diketahuinya rata-rata tekanan darah penderita hipertensi

sebelum dilakukan relaksasi otot progresif pada kelompok

eksperimen.

b. Diketahuinya rata-rata tekanan darah penderita hipertensi

sesudah dilakukan relaksasi otot progresif pada kelompok

eksperimen.

c. Diketahuinya rata-rata tekanan darah penderita hipertensi

sebelum dilakukan relaksasi otot progresif pada kelompok

kontrol.
d. Diketahuinya rata-rata tekanan darah pada penderita hipertensi

sesudah di lakukan relaksasi otot progresif pada kelompok

kontrol.

e. Diketahuinya perbedaan tekanan darah pada kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol pada penderita hipertensi

sesudah di lakukan relaksasi otot progresif di Wilayah Kerja

Puskesmas Andalas Kota Padang

D. Manfaat Penelitian

1. Peneliti

Menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam

melakukan penelitian dan sebagai penerapan dari ilmu yang telah

didapatkan selama pendidikan.


2. Puskesmas Andalas

Penelitian ini sebagai informasi dan masukan bagi tenaga

kesehatan terutama perawat sehingga dapat meningkatkan peran

mandiri perawat dalam upaya promotif dan preventif terhadap pasien

hipertensi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk meningkatkan

program kesehatan pada penderita hipertensi.

3. Instasi pendidikan Stikes Syedza Saintika Padang

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan di

perpustakaan yang dapat memberikan masukan dan menambah

wawasan mahasiswa.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan

sebagai data awal dalam melakukan penelitian selanjutnya dengan

menggunakan variabel dan tempat yang berbeda tentang

penatalaksanaan hipertensi.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif

Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja

Puskesmas Andalas Kota Padang Tahun 2018”. Jenis penelitian ini adalah

quasi experiment dengan rancangan yang digunakan adalah Nonequivalent

Control Group design untuk melihat pengaruh teknik relaksasi otot

progresif terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini

10
dimulai dari penyusunan proposal hingga pembuatan skripsi yang

dilakukan pada bulan januari - agustus 2018. Populasi penderita hipertensi

pada penelitian ini berjumlah 187 orang dengan jumlah sampel yang di

ambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 20 orang responden, 10 orang

sebagai kelompok perlakuan dan 10 orang sebagai kelompok eksperimen,

serta pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive

sampling.

Pada penelitian ini peneliti membutuhkan bantuan dari enumerator,

sebelumnya enumerator diberikan penjelasan cara melakukan penelitian

dan langkah-langkah penelitian. Pengukuran tekanan darah pada penelitian

ini di lakukan sebelum pemberian teknik relaksasi otot progresif. Setelah

itu responden diberikan teknik relaksasi otot progresif dalam 15 gerakan

selama ± 20 menit. Setelah 5 menit, dilakukan pengukuran tekanan darah

setelah pemberian teknik relaksasi otot progresif. Data dikumpulkan

berdasarkan observasi terhadap tekanan darah sebelum dan sesudah

melakukan teknik relaksasi otot progresif pada kelompok kontrol dan

kelompok perlakuan selama 7 hari. Hasil data yang didapatkan akan di

analisis dengan menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat

dengan teknik analisis yang digunakan adalah uji t-test.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hipertensi Tekanan Peningkata


Penatalaksanaan : darah n tekanan
Farmakologi darah

1. Diuretik
2. Simpatolitik
Penyebab : 3. Betabloker Penurunan
1. Genetic 4. pengghambat tekanan
2. Umur neuronadrenergik darah
3. Jenis
5. Vasodilator arteriol
kelamin
4. Obesitas yang bekerja langsung
5. Nutrisi 6. Antagonis angiotensin
6. Merokok (ACE inhibitor)
dan
alkohol Non farmakologi
7. Stress 1. Mempertahankan berat
8. Kurang badan ideal
olahraga 2. Retriksi natrium
3. Pendekatan diet
4. Penghentian
konsumsi alkohol dan
rokok
5. Terapi
komplementer
Berupa relaksasi
ototprogresif,
relaksasi napas dalam, dan
terapi herbal.
6. Penurunan stress
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini quasy Experiment dengan desain

Nonequivalent Control Group Design yaitu penelitian ini

menggunakan dua kelompok yang terdiri atas kelompok eksperimen

yang diberi perlakuan dan kelompok kontrol yang diberi perlakuan

konvensional sebagai pembanding. Pemilihan kelompok eksperimen

maupun kelompok kontrol tidak di pilih secara acak (random). Kedua

kelompok ini mula-mula diberikan pretes untuk mengetahui apakah

ada perbedaan atau tidak ada perbedaan pemberian teknik relaksasi

otot progresif pada penderita hipertensi. Setelah diketahui tidak ada

perbedaan di antara kedua kelompok tersebut maka selanjutnya

peneliti memberikan perlakuan (Riadi, 2016). Bentuk rancangan ini

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1
Bentuk Rancangan Nonequivalent Control Group Design
Pretest Perlakuan Posttest

Kel. Eksperimen 01 X 02

Kel. Kontrol 03 04

Keterangan :

1 : Pengukuran tekanan darah pada penderita sebelum melakukan

teknik relaksasi otot progresif

X : Perlakuan (pemberian teknik relaksasi otot progresif).

2 : Pengukuran tekanan darah pada penderita setelah melakukan

teknik relaksasi otot progresif


03 : pengukuran tekanan darah penderita tanpa teknik relaksasi otot

progresif

4 : pengukuran tekanan darah penderita tanpa teknik relaksasi otot

progresif

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah Kerja Puskesmas Andalas

Kota Padang pada tanggal 21 juni 2018 sampai 27 juni 2018.

C. Populasi dan Sample

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian

(Notoatmodjo, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah

penderita hipertensi yang rutin melakukan pemeriksaan rutin

bulanan, pada tahun 2017 yang berjumlah 187 orang.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau

sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi

(Notoatmodjo, 2012). Jumlah sampel ditentukan dengan

menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik

pengambilan sampel dari populasi sesuai dengan kehendak

peneliti berdasarkan tujuan atau masalah peneliti serta

karakteristik subjek yang diinginkan ( Nursalam, 2008 ).

Menurut Sugiyono (2010) untuk penelitian eksperimen

yang sederhana, yang menggunakan kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol, maka jumlah anggota sampel masing-masing

adalah 10 s/d 20.


Berdasarkan pernyataan Sugiyono (2010) dan adanya

keterbatasan waktu dan keterbatasan jarak oleh peneliti, maka

pada penelitian ini peneliti menetapkan jumlah sampel sebanyak

20 orang yaitu 10 orang kelompok perlakuan dan 10 orang

kelompok kontrol.

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek

penelitian dapat mewakili sampel penelitian yang

memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat, 2013).

1) Penderita hipertensi yang bersedia menjadi

responden penelitian.

2) Penderita hipertensi usia 45-69 tahun.

3) Penderita hipertensi ringan sampai sedang


4) Dapat berkomunikasi dengan baik

5) Penderita hipertensi yang mengkonsumsi obat

farmakologi.

6) Bersedia untuk melakukan teknik relaksasi otot

progresif selama 1 minggu.

b. Kriteria eksklusi

Kriteria eklusi merupakan kriteria dimana subjek

penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak

memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Hidayat,

2013).

1) Responden tidak ada di rumah saat dilakukan

penelitian

2) Responden dengan penyakit penyerta

D. Etika Penelitian

Dalam proses melakukan penelitian, peneliti memulai dengan

mengurus surat izin pengambilan data dan izin penelitian dari STIKes

Syedza Saintika untuk melakukan penelitian terkait dengan judul

penelitian yaitu Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap

Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja

Puskesmas Andalas Kota Padang. Rekomendasi penelitian yang di

peroleh dari Stikes Syedza Saintika Padang diteruskan tembusannya


ke Dinas kesehatan dan Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Kota

Padang.

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Informed consent merupakan formulir persetujuan yang

digunakan untuk meminta persetujuan kepada responden untuk

meminta keterangan dan bersedia untuk diteliti sebagai

perwujudan dari hal-hak dari responden. Lembar persetujuan

disampaikan kepada responden dan dijelaskan maksud dan tujuan

penelitian, setelah responden menyetujui untuk menjadi

responden penelitian, kemudian diminta untuk menandatangani

lembar persetujuan yang telah disiapkan.

2. Izin penelitian

Sebelum dilakukan penelitian ini, peneliti terlebih dahulu

mendapatkan izin dari ketua prodi Stikes Syedza Saintika Padang

dan izin penelitian di Puskesmas Andalas Kota Padang.

3. Anonimity (Tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, maka dalam

lembar pengumpulan data peneliti tidak mencantumkan nama

tetapi diberi nomor kode atau inisial. Oleh sebab itu dalam

melakukan wawancara atau memperoleh informasi dari responden

harus menjaga privacy mereka.

4. Confidentiaity (Kerahasiaan responden)


Informasi ataupun masalah-masalah lain yang telah

diperoleh dari responden disimpan dan dijamin kerahasiaannya,

informasi yang diberikan oleh responden tidak akan

disebarluaskan atau diberikan kepada orang lain tanpa seizin yang

bersangkutan.

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer pada penelitian ini yaitu data yang diambil

secara langsung dengan cara mengukur tekanan darah penderita

hipertensi menggunakan tensimeter digital omron dan mengisi

pada lembar observasi serta hasil pengukuran tekanan darah

sebelum dan sesudah melakukan relaksasi otot progresif.

2. Data Sekunder

Data yang didapat dari Dinas Kesehatan Kota Padang dan

data dari Puskesmas Andalas Kota Padang .

3. Alat Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan untuk mengukur tekanan darah

penderita hipertensi menggunakan tensimeter digital omron.

Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah

diberikan relaksasi otot progresif.

4. Prosedur pelaksanaan penelitian


Dalam melakukan penelitian ini prosedur yang dilakukan

adalah sebagai berikut :

a. Peneliti mengajukan surat permohonan pengambilan data

dari Stikes Syedza Saintika Padang yang ditujukan ke Dinas

Kesehatan Kota Padang.

b. Peneliti mengajukan surat permohonan pengambilan data

ke Puskesmas Andalas Kota Padang setelah mendapat izin

pengambilan data dari Dinas Kesehatan Kota Padang.

c. Peneliti membutuhkan bantuan enumerator dalam

melakukan penelitian, sebelum penelitian enumerator

diberikan penjelasan cara melakukan penelitian dan

langkah-langkah penelitian.

d. Menjelaskan tujuan, manfaat, prosedur dalam penelitian

pada responden.

e. Memberikan Informed Consent kepada responden.

f. Mengisi data demografi responden melalui wawancara.

g. Mengukur tekanan darah responden sebelum melakukan

relaksasi otot progresif.

h. Menjelaskan jadwal pemberian relaksasi otot progresif

selama dua minggu.

i. Melakukan observasi pelaksanan relaksasi otot progresif.

j. Mengukur tekanan darah responden setelah melakukan

relaksasi otot progresif.


k. Peneliti memeriksa kelengkapan data yang sudah

didapatkan.

F. Teknik Pengolahan Data

1. Pemeriksaan data (Editing)

Pemeriksaan data dilakukan dengan memeriksa lembar

observasi responden yang meliputi nama (inisial), usia dan

tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan relaksasi otot

progresif untuk menurunkan tekanan darah penderita hipertensi di

wilayah kerja puskesmas Andalas Kota Padang, kemudian

diperiksa kelengkapan lembar observasi. Editing data dilakukan

agar seluruh data dapat diolah dengan baik.

2. Pengkodean data (Coding)

Setelah semua data di edit, selanjutnya dilakukan

pengkodean / coding, mengubah data berbentuk kalimat atau

huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Instrumen

dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, untuk

mengetahui inisial responden, usia dan tekanan darah pretest dan

posttest pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

3. Memasukkan Data (Entry)

Setelah data di lembar observasi dimasukan kedalam

master tabel berdasarkan variabel penelitian. Langkah selanjutnya

peneliti memasukan data nama responden (inisial), usia dan

tekanan darah pretest dan posttest pada kelompok intervensi dan


kelompok kontrol serta melihat perubahan rata-rata pengaruh

teknik relaksasi otot progresif terhadap perubahan tekanan darah

ke dalam master tabel.

4. Pembersihan data (Cleaning)

Setalah semua data dari setiap sumber data atau responden

dimasukkan, masing-masing item variabel perlu dicek kembali

untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan, ketidaklengkapan

dan sebagainya kemudian dilakukan koreksi. Sebelum

pengolahan data dilakukan, peneliti memeriksa kembali data yang

sudah dimasukkan dan apakah semua data sudah benar.

5. Mentabulasi Data (Tabulating)

Setelah semua lembar observasi diisi dengan benar, maka

dilakukan pemindahan data kedalam master tabel, kemudian

dikelompokkan sesuai dengan variabel yang akan diteliti dengan

munggunakan tebel distribusi, serta data ditabulasi dan disajikan

dalam bentuk tabel univariat dan bivariat.

G. Teknik Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mendapatkan hasil

pengukuran tekanan darah penderita hipertensi sebelum dan

sesudah diberikan relaksasi otot progresif. Analisa data yang

disajikan adalah nilai statistik deskriptif meliputi mean (rata-rata),

dan standar deviasi untuk dua pengukuran yaitu pengukuran

tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian relaksasi otot

progresif.
2. Analisis Bivariat

Analisa bivariat adalah analisis untuk menguji pengaruh,

perbedaan antara dua variabel pemilihan uji statistik yang akan

digunakan untuk melakukan analisis didasarkan pada skala data,

jumlah populasi atau sampel dan jumlah variabel yang diteliti.

Analisa bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesis

penelitian yaitu melihat ada Pengaruh Teknik Relaksasi Otot

Progresif Terhadap Perubahan Tekanan Darah Penderita

Hipertensi Di Wilayah kerja Puskesmas Andalas Kota Padang.

Sebelum dilakukan uji analisis bivariat, untuk mengetahui

kenormalan distribusi data, akan dilakukan uji normalitas dengan

menggunakan uji Shapiro-Wilk. Distribusi data dikatakan normal

jika hasil uji Shapiro-Wilk didapatkan niai p ≥ 0,05. Dan data

dikatakan tidak berdistribusi normal jika nilai p < 0,05.

Data diolah secara komputerisasi untuk mengetahui

pengaruh variabel independen terhadap dependen yang diteliti.

Jika interpretasi kemaknaan (p) > 0,05 maka data berdistribusi

normal dan uji hipotesis yang digunakan adalah uji parametrik

yaitu uji T-test independen. Hasil analisa dinyatakan dengan

tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Jika p ≤ 0,05 maka Ha

diterima Ho ditolak, jika p > 0,05 maka Ha ditolak Ho diterima.


Beberapa syarat dari independent t-test diantaranya:

1) Data harus berdistribusi normal.

2) Digunakan untuk menguji perbedaan nilai mean (rata-rata) 2

independent groups

3) Variabelnya adalah kuantitatif yang berskala numerik

(interval / rasio).

( Swarjana, 2016 )

H. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan

dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau

menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting

untuk masalah (Hidayat, 2013).

Dasar penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Tekanan darah penderita


Teknik relaksasi otot progresif hipertensi

I. Hipotesis Penelitian

Ha : Ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tekanan

darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas

Andalas Kota Padang Tahun 2018.

J. Definisi Operasional
Tabel 3.2
Defenisi Operasional Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Andalas Kota Padang

N Definisi Alat Cara Skala Hasil


Variabel
o Operasional Ukur Ukur Ukur Ukur
Dependen Tekanan
darah
Tekanan Jumlah Tensim Mengukur penderita
1 darah tekanan darah eter tekanan Ratio hipertensi
penderita sistolik dan digital darah dalam
hipertensi tekanan darah omron penderita satuan
diastolik dan hipertensi mmHg
penderita lembar
hipertensi observa
si
Independen
Relaksasi - Pedoman
Pemberian otot dengan relaksasi - -
2. teknik menegangkan otot
relaksasi otot otot selama progresif
progresif 10 detik,
menahan
selama 10
detik, dan
mengendorka
n otot-otot
selama 30
detik.
Dilakukan
dalam 15
gerakan
selama ± 20
menit.