Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH DRUG USE EVALUATION TENTANG POLIFARMASI

DI RUANG PERAWATAN INTENSIVE ICU, ICCU, DAN HCU


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK III
HEMA NOVIA DEWANTARI K11019R116
REFFADA MAHATVA YODHYASENA I4C019026
ZULFA MAZIDAH K11019R116

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
PERIODE DESEMBER-JANUARI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ruang rawat intensif atau Intensive Care Unit (ICU), Intensive Coronary
Care Unit (ICCU), dan High Care Unit (HCU) adalah unit perawatan di rumah
sakit yang dilengkapi peralatan khusus dan perawat yang terampil merawat pasien
sakit gawat yang perlu penanganan dengan segera dan pemantauan intensif (Gulli
et al, 2001).
Kondisi pasien yang mengancam kehidupan seperti kegagalan pernapasan
akut, gagal jantung, atau dalam keadaan koma dan lain-lain sebagainya,
membutuhkan perhatian penuh dimana harus ada alat bantu pernafasan,
pengendalian asupan cairan dan pengamatan yang intensif menit demi menit hari
demi hari dan bahkan berminggu-minggu. Untuk mendapatkan hasil terapi yang
optimal, diperlukan kerjasama dalam tim pelayanan kesehatan, dimana diperlukan
suatu pengaturan perawatan yang intensif yang melibatkan seluruh disiplin ilmu
kesehatan, sehingga akan menguntungkan bagi pasien (Takrouri, 2004).
Pasien yang berada di ruang perawatan intensif sering kali mendapat
polifarmasi. Pemberian obat pasien perawatan intensif rata-rata sembilan obat. Hal
ini menyebabkan kemungkinan besar terjadi interaksi obat dan sebagian besar
darinya relevan secara klinik. (Ray S et al.,2009). Sebuah penelitian
menyimpulkan bahwa makin banyak jumlah obat yang digunakan maka akan
semakin besar pula terjadinya DTPs pada pasien. Polifarmasi dapat menyebabkan
efek negatif dari suatu terapi yang disebabkan adanya Drug Therapy Problems
(DTP) misalnya efek samping obat dan berkurangnya kepatuhan pasien dalam
menggunakan obat (Viktil dkk., 2006).
Penggunaan obat dalam jumlah banyak juga dapat menyebabkan
meningkatnya resiko pengobatan tidak tepat (interaksi obat dan duplikasi terapi),
ketidakpatuhan dan efek samping obat (Hajjar, Hanlon dan Cafiero, 2007). Efek
negatif yang ditimbulkan oleh polifarmasi terkait dengan beberapa variabel yang
terdapat di dalam penggolongan dari DTPs. Dalam penelitian yang telah
dilakukan diperoleh hasil bahwa DTPs lebih banyak ditemukan pada penggunaan
obat dalam jumlah 5 obat ke atas dibandingkan dengan penggunaan obat dalam
jumlah kurang dari 5 obat (Viktil dkk., 2006).
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi adanya
DTPs berupa potensi interaksi obat pada pasien yang menerima item obat yang
berjumlah lima atau lebih (polifarmasi) di ruang perawatan intensive ICU, ICCU,
dan HCU di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
1.2 Tujuan
Melakukan evaluasi penggunaan obat pada pasien yang menerima
polifarmasi dan mengidentifikasi potensi intraksi obat di ruang perawatan
intensive ICU, ICCU, dan HCU di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Drug Use Evaluation/ Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)


Evaluasi penggunaan obat didefinisikan oleh WHO pada tahun 1977
sebagai pemasaran, distribusi, peresepan, dan penggunaan obat di lingkungan,
dengan penekanan khusus pada konsekuensi kesehatan, sosial, dan ekonomi. Oleh
karena itu studi penggunaan obat adalah studi yang dirancang untuk
menggambarkan kuantitatif dan kualitatif populasi pengguna dari obat yang
diberikan (atau kelas obat) dan/atau kondisi penggunaan (misalnya, indikasi, lama
pengobatan, dosis, sebelum atau saat perawatan, dan kepatuhan). Studi
penggunaan obat dapat dilakukan secara kuantitatif atau kualitatif. Studi kualitatif
digunakan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan obat dengan cara mencari
hubungan antara data peresepan dan alasan pemberian terapi. Sedangkan secara
kuantitatif, dilakukan dengan cara mengumpulkan secara rutin data statistik dari
penggunaan obat yang dapat digunakan untuk memperkirakan penggunaan obat
pada suatu populasi berdasarkan usia, kelas sosial, morbiditas, dan karakteristik
lainnya serta untuk mengidentifikasi adanya kemungkinan overutilization atau
underutilization (Lee & Bergman, 2000; Truter, 2008).
2.2 Polifarmasi
Polifarmasi berasal dari kata Yunani yaitu poly yang berarti lebih dari satu
dan pharmacon yang berarti obat (Maher, 2014). Polifarmasi merupakan
penggunaan obat dalam jumlah yang banyak dan tidak sesuai dengan kondisi
kesehatan pasien (Rambadhe dkk., 2012). Polifarmasi akan meningkatkan risiko
terjadinya efek atau reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction).
Kejadian polifarmasi dapat meningkatkan risiko terjadi interaksi obat atau Drugs-
drugs Interactions (DDI’s). Selain itu, pengobatan polifarmasi dihubungkan
dengan kejadian DDI’s, Adverse Drug Reactions (ADRs), Medications Error dan
peningkatan risiko rawat inap di rumah sakit (Fulton, 2005; Hohl, 2001).
2.3 Intraksi Obat
2.3.1 Definisi
Interaksi obat adalah penyebab signifikan masalah terkait obat. Interaksi
obat merupakan efek dari satu obat dengan yang lain sehingga menimbulkan hasil
secara kulitatif dan/atau kuantitatif pada reaksi perubahan. Interaksi obat yang
merugikan bisa dikatakan seperti peningkatan toksisitas obat atau berkurangnya
efikasi. Medikasi beberapa obat umum digunakan di rumah sakit, lebih tepatnya
pada pasien dewasa dengan komorbiditas, dan merupakan salah satu penyebab
interaksi obat. Beberapa studi melaporkan bahwa pasien rumah sakit menerima
rata-rata 10 macam obat. Semakin besar keparahan gejala pasien semakin banyak
obat yang diresepkan, dan membuat semakin besar kejadian interaksi obat yang
merugikan. Dengan demikian, interaksi obat di rumah sakit meningkat dalam
beberapa tahun dan data pencegahan interaksi obat telah dibuat untuk
mengatasinya (Espinosa-Bosch et al., 2012).
2.3.2 Mekanisme Interaksi Obat
Interaksi obat dapat dibagi menjadi interaksi farmakokinetik dan interaksi
farmakodinamik. Studi mengenai interaksi obat potensial yang dilakukan oleh
Bennet (2012) menunjukkan sekitar 80% pasien di rumah sakit mengalami potensi
interaksi obat dengan interaksi farmakodinamik (62,2%) lebih dominan dibanding
interaksi farmakokinetik (35,8%). Interaksi farmakokinetik merupakan hasil dari
perubahan karakteristik absorpsi, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat.
Interaksi farmakodinamik merupakan hasil dari pengaruh kombinasi obat pada
tempat aktivitas biologis dan pengaruh aktivitas farmakologi pada konsentrasi
plasma standar. Meskipun interaksi obat terjadi melalui bermacam-macam
mekanisme, efeknya tetap sama yaitu efek potensial atau antagonis obat (Kashuba
and Bertino, 2001).
1. Interaksi Farmakokinetik
Merupakan interaksi yang terjadi apabila satu obat mengubah absorbsi,
distribusi, biotransformasi atau eliminasi obat lain. Absorpsi dapat diubah jika
obat pengubah pH atau motilitas diberikan secara bersamaan, seperti yang tampak
pada pengobatan antitukak atau antidiare tertentu (tetrasiklin dan kation divalen,
kolestiramin dan obat anion). Perubahan distribusi dapat disebabkan oleh
kompetisi untuk ikatan protein (ikatan obat sulfa dan bilirubin pada albumin) atau
pergeseran dari tempat ikatan-jaringan (digitalis dan pemblok kanal kalsium atau
kuinidin). Pada perubahan biotransformasi atau metabolisme, sebagai contoh
induksi digambarkan dengan jelas oleh pengobatan antikonvulsan utama, yaitu
fenitoin, karbamazepin dan barbiturat, sedangkan inhibisi dapat ditimbulkan oleh
antimikroba kuinolon, makrolida, dan golongan azol. Pada perubahan ekskresi
dapat pula dimodifikasi oleh obat pengubah pH urin, seperti pada inhibitor
karbonat anhidrase, atau mengubah jalur sekresi dan reabsorpsi, seperti yang
disebabkan oleh probenesid. Interaksi farmakokinetika secara umum
menyebabkan perubahan konsentrasi obat aktif atau metabolit dalam tubuh, yang
memodifikasi respon terapeutik yang diharapkan (Ashraf, 2012).
2. Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik terjadi antara obat-obat yang mempunyai efek
samping yang serupa atau berlawanan. Interaksi ini disebabkan oleh kompetisi
pada reseptor yang sama atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada sistem
fisiologi yang sama. Interaksi farmakodinamik dapat diekstrapolasi ke obat lain
yang segolongan dengan obat yang berinteraksi, karena penggolongan obat
memang berdasarkan persamaan efek farmakodinamiknya. Disamping itu,
kebanyakan efek farmakodinamik dapat diramalkan kejadiannya, karena itu dapat
dihindarkan bila dokter mengetahui mekanisme keja obat yang bersangkutan
(Ganiswara, 1995).
Menurut Stockley et al (2003) kemungkinan efek yang dapat terjadi pada
interaksi farmakodinamik antara lain:
a. Sinegisme atau penambahan efek satu atau lebih obat
b. Efek antagonisme satu atau lebih obat.
c. Penggantian efek satu atau lebih obat.
Interaksi obat yang umum terjadi adalah sirnegisme antara dua obat yang
bekerja pada sistem, organ, sel atau enzim yang sama dengan efek farmakologi
yang sama. Sebaliknnya antagonisme terjadi bila obat yang berinteraksi memiliki
efek farmakologi yang berlawanan. Hal ini mengakibatkan pengurangan hasil
yang diinginkan dari satu atau lebih obat (Fradgley, 2003).
2.3.3 Tingkat Keparahan Interaksi
Tingkat keparahan interaksi harus dinilai dan dapat diklasifikasikan
menjadi tiga tingkatan: minor, sedang, atau mayor. Interaksi keparahan minor
adalah salah satu yang mungkin terjadi tetapi tidak dianggap signifikan sebagai
potensi yang membahayakan pasien. Interaksi keparahan sedang adalah salah satu
yang potensial membahayakan pasien dan beberapa jenis intervensi/monitoring
sering dilakukan. Interaksi keparahan mayor adalah salah satu yang memiliki
probabilitas tinggi membahayakan pasien, termasukhasil yang mengancam nyawa
(Gallicano and Drusano, 2005).
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dilakukan evaluasi penggunaan obat di satelit intensif HCU, ICCU dan


ICU. Pengambilan data dilakukan selama 2 hari yaitu tanggal 31 desember 2019
dan 2 januari 2020, terdapat sebanyak 22 total resep yang terdiri dari 14 (61%)
pasien dengan polifarmasi dan 8 (39%) pasien tanpa polifarmasi. Pada satelit
HCU terdapat 6 dari 10 pasien (60%) dengan polifarmasi, satelit ICCU 5 dari 5
pasien (100%) dan satelit ICU sebanyak 3 dari 7 pasien (43%).
Grafik 1. dan Diagram 1. Persentase Polifarmasi

Pasien yang dirawat di perawatan intensif merupakan pasien yang berasal


dari IGD dan IBS yang cenderung memiliki berbagai penyakit yang diderita,
semakin banyak penyakit yang pasien derita semakin banyak obat yang digunakan
(polifarmasi) sehingga diperlukan pengawasan yang ketat dari tenaga medis.
Kejadian polifarmasi dapat meningkatkan resiko terjadinya interaksi obat atau
Drug-drug Interactions (DDI’s) yaitu suatu keadaan yang tidak diinginkan pasien
terkait dengan terapi obat yang disebabkan oleh interaksi dari obat-obat yang
digunakan sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin banyak obat yang
digunakan semakin banyak potensi interaksi obat yang mungkin muncul.
Tabel. 1 Potensi Interaksi pada Polifarmasi

Nama Ruang Perawatan Potensi Polifarmasi Potensi Interaksi


Itensif

Jumlah Obat Jumlah data Banyaknya Interaksi Jumlah data

0 -
</=5 0 1--3 -
>3 -
0 -
ICCU 6--9 2 1--3 1
>3 1
0 -
>10 3 1--3 -
>3 3
Total 5 5
0 1
</=5 4 1--3 3
>3 -
0 -
HCU 6--9 4 1--3 3
>3 2
0 -
>10 2 1--3 -
>3 1
Total 10 10
0 -
</= 5 4 1--3 4
>3 -
0 -
ICU 6--9 2 1--3 -
>3 2
0 -
>10 1 1--3 -
>3 1
Total 7 7

ICCU (Intensive Coronary Care Unit) adalah unit perawatan intensif


untuk penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner, serangan jantung,
gangguan irama jantung yang berat dan gagal jantung sehingga ruangan ini hanya
atau dikhususkan untuk pasien yang membutuhkan penanganan intensif
(awalbos.com). Diketahui penyakit kronik seperti hipertensi, penyakit jantung
koroner, gagal jantung, penyakit paru obstruksi, gagal jantung, penyakit paru
obstruksi, gagal ginjal kronik dan diabetes mellitus adalah predictor polifarmasi
(Martini dan Zulkarnaini, 2019). Dari tabel diatas dapat diketahui pasien yang
mendapat obat banyak semakin banyak pula potensi interaksinya. Di ICCU,
terdapat 3 pasien yang menggunakan obat >10 memiliki >3 potensi interaksi obat
dan 1 pasien dengan 6-9 obat memiliki 1-3 dan atau >3 potensi interaksi obat.
Polifarmasi terbanyak di ICCU yang didapatkan satu pasien adalah 17 macam
obat dengan diagnosis CHF, HHD, Hipoalbumin, Renal Faillure, Stroke infark.
Adapun potensi interaksi obat kategori mayor diantaranya interaksi spironolakton-
KSR; Aspirin-Ramipril dan amiodaron-ondansentron. Spironolakton dengan KSR,
kedua obat ini dapat meningkatkan serum potasium. Aspirin dengan Ramipril,
pemberian bersama dapat menyebakan penurunan fungsi ginjal yang signifikan
selain itu NSAID juga dapat mengurangi efek dari Ramipril, mekanisme dari
interaksi ini adalah terhambatnya sintesis vasodilatasi prostaglandin oleh NSAID.
Amiodaron dengan ondansentron, kedua obat ini dapat meningkatkan interval
QTc, pemantauan EKG direkomendasikan dengan obat bersamaan yang
memperpanjang interval QT, kelainan elektrolit, CHF atau bradiaritmia.
HCU (High Care Unit) merupakan unit pelayanan bagi pasien dengan
kondisi stabil respirasi, hemodinamik dan kesadaran namun masih memerlukan
pengobatan, perawatan dan pemantauan ketat agar nantinya jika terjadi perubahan
yang membahayakan bisa segera dipindahkan ke ICU (Kemenkes RI, 1966).
Pada pasien tanpa polifarmasi terdapat 1 pasien yang tidak memiliki potensi
interaksi obat dan 3 pasien yang memiliki 1-3 potensi interaksi obat. Pada pasien
dengan polifarmasi 6-9 obat, terdapat 3 pasien yang memiliki 1-3 potensi interaksi
obat dan 2 pasien yang memiliki >3 potensi interaksi obat yang terakhir yaitu
pasien polifarmasi dengan >10 obat, terdapat 1 pasien yang memiliki >3 potensi
interaksi obat. Obat yang diberikan di indikasi untuk penyakit yang diderita pasien
dan juga sebagai penunjang untuk mempercepat penyembuhan, dengan adanya
penambahan obat dapat meningkatkan kemungkinan interaksi yang terjadi antar
obat dan dapat menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki. Beerdasarkan
Grafik. 2 potensi kategori interaksi obat terbanyak yang ada di HCU adalah minor
(21%), salah satunya yaitu interaksi antara ketorolac dengan metilprednisolon
yang dapat meningkatkan toksisitas satu dengan lainya dengan mekanisme
sinergisme farmakodinamik selain itu interaksi ini juga dapat meningkatkan risiko
ulserasi GI, untuk kategori potensi interaksi moderate sering terjadi pada fase
farmakodinamik
ICU (Intensive Care Unit) merupakan unit pelayanan bagi pasien dengan
penyakit atau cedera serius. Sebanyak 3 dari 7 pasien (43%) di ICU yang
mendapat polifarmasi. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat interaksi obat
baik pada pasien tanpa polifarmasi maupun pasien dengan polifarmasi. Pada
pasien tanpa polifarmasi terdapat 4 pasien yang memiliki 1-3 potensi interaksi
obat, terdapat 2 pasien dengan polifarmasi 6-9 obat memiliki >3 potensi interaksi
obat dan yang terakhir yaitu 1 pasien dengan polifarmasi >10 obat memiliki >3
potensi interaksi obat. Dari data tersebut disimpulkan bahwa baik pasien tanpa
polifarmasi maupun polifarmasi memiliki potensi terjadinya interaksi obat
sehingga diperlukan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dan Monitoring Efek
Samping Obat (MESO) di setiap ruang perawatan intensif. Adapun salah satu
potensi interaksi kategori minor yang ditemukan pada ICU yaitu penggunaan
bersamaan dexamethasone dengan fenitoin serta tramadol dengan fenitoin yang
dapat meningkatkan efek hepatotoksisitas,
Polifarmasi juga dapat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam meminum
obat. Pasien bisa mendapatkan obat lebih dari 3 bahkan sampai 12 obat, dengan
banyaknya obat yang didapat pasien tentu akan meningkatkan ketidakpatuhan
pasien dalam meminum obat. Saat di rumah sakit pasien patuh dalam meminum
obat karena selalu diberikan oleh perawat sesuai waktu pemberian tetapi jika
pasien berada di rumah maka memungkinkan pasien lupa meminum obat bahkan
tidak diminum karena obat yang terlalu banyak. Terjadinya ketidakpatuhan akan
mengurangi proses penyembuhan pasien. Sehingga perlu adanya edukasi terhadap
pasien tentang pentingnya kepatuhan minum obat dengan menyarankan pasien
untuk memiliki pil box agar memudahkan pasien.
Klasifikasi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya meliputi
minor, moderate dan mayor. Minor adalah keparahan yang secara signifikan akan
berbahaya pada pasien jika terjadi kelainan; Moderate adalah tingkat keparahan
interaksi yang terjadi pada pasien yang memerlukan monitoring terapi sehingga
perlu perawatan dirumah sakit dan; Mayor adalah keparahan yang tingkat
kejadiannya membahayakan pasien (Bailie et all., 2010). Berikut persentase
kejadian interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya yang ada di perawtan
intensif RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan analisis
menggunakan medscape.

Grafik 2 Kejadian Interaksi Obat Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Persentase Kejadian Interaksi


Mayor
HCU

Moderate
Minor
Mayor
ICU

Moderate
Minor
Mayor
ICCU

Moderate
Minor
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%

Dari grafik diatas dapat diketahui kejadian interaksi tertinggi adalah


interaksi moderate yang terjadi pada ICCU yaitu sebanyak 29%, disusul kejadian
minor pada HCU 22% dan kejadian minor pada ICU 18%. Kategori interaksi obat
moderate merupakan kategori interaksi yang paling banyak ditemui di ICCU
(29%), sehingga setiap pasien diperlukan monitoring ketat (Medscape.com).
Monitoring yang dilakukan meliputi monitoring tanda vital, medika mentosa dan
output yang dilakukan setiap jam. Pada ICCU juga didapati kategori interaksi obat
mayor (3%) yang dimana setiap interaksi obatnya dijelaskan diatas, kemudian
untuk kategori minor (4%) yang dimana signifikansi kejadian belum diketahui.
Berbanding terbalik dengan ICCU, pada HCU kategori kejadian interaksi
yang banyak ditemui adalah minor, yaitu sebanyak 22%, 14% untuk moderate dan
0% untuk mayor. Dikarenakan HCU merupakan unit pelayanan bagi pasien
dengan kondisi stabil maka profil penyakit yang ada bukan merupakan penyakit
yang mempunyai banyak regimen obat sehingga kategori interaksi obat yang
banyak ditemukan adalah kategori minor selain itu dari 10 pasien 4 di antaranya
tidak termasuk pasien dengan polifarmasi.
Pada ICU kategori kejadian interaksi yang banyak ditemui adalah minor,
yaitu sebanyak 18%, 10% untuk moderate dan 0% untuk mayor. Banyak
ditemukan pasein dengan diagnosa post operasi sehingga status pasien disini
adalah dalam proses pemulihan dan tidak menggunakan banyak regimen obat
sehingga potensi interaksi yang mungkin banyak muncul adalah interaksi obat
kategori minor.
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Dari 22 pasien yang ada di perawatan intensive 14 di antaranya
merupakan pasien polifarmasi sehingga pasien dengan polifarmasi yang ada di
RSUP Prof. Dr. Margono Soekarjo (RSMS) adalah 64%. Semakin banyak obat
yang digunakan semakin banyak potensi interaksi obat yang mungkin muncul. Di
ICCU pasien yang menggunakan obat >10 memiliki >3 potensi interaksi sebanyak
3, pasien yang mendapatkan 6-9 obat memiliki 1-3 dan atau >3 potensi interaksi
masing-masing sebanyak 1 dan pasien yang mendapatkan ≤5 obat memiliki 1-3
potensi interaksi sebanyak 3. Di HCU pasien yang menggunakan obat >10
memiliki >3 potensi interaksi sebanyak 1, pasien yang mendapatkan 6-9 obat
memiliki 1-3 dan atau >3 potensi interaksi masing-masing sebanyak 3 dan 2 serta
pasien yang mendapatkan ≤5 obat memiliki potensi interaksi sebanyak 4. Di ICU
pasien yang menggunakan obat >10 memiliki >3 potensi interaksi sebanyak 1,
pasien yang mendapatkan 6-9 obat memiliki >3 potensi interaksi sebanyak 2 dan
pasien yang mendapatkan ≤5 obat memiliki 1-3 potensi interaksi sebanyak 4.
ICCU merupakan unit dengan kategori interaksi moderate terbanyak,
yaitu sebanyak 29%, 4% minor dan 3% mayor. Pada HCU kategori kejadian
interaksi yang banyak ditemui adalah minor, yaitu sebanyak 22%, 14% untuk
moderate dan 0% untuk mayor kemudian pada ICU kategori kejadian interaksi
yang banyak ditemui adalah minor, yaitu sebanyak 18%, 10% untuk moderate dan
0% untuk mayor.
4.2. Saran
Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya interaksi obat yang tidak
diinginkan dan mungkin dapat bersifat fatal, beberapa hal berikut dapat
dipertimbangkan:
1. Dokter disarankan untuk memberikan jumlah obat seminimal mungkin kepada
pasien dan memperhatikan kondisi pasien (usia lanjut, anak-anak, penyakit
kronis, pasien dengan disfungsi hati atau ginjal, dan obat-obat indeks terapi
sempit).
2. Penerapan pharmaceutical care oleh seorang apoteker penting untuk mencegah
baik aktual maupun potensial dengan cara memonitor kejadian interaksi obat
sehingga dapat cepat terdeteksi dan diambil tindakan yang sesuai, misalnya
menyesuaikan dosis, saat mengonsumsi obat diberi jarak antara obat yang satu
dengan obat yang lainnya (interaksi moderat) dan mengganti salah satu obat
yang dapat menyebabkan terjadinya interaksi mayor dengan berkoordinasi
terlebih dahulu dengan dokter yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA

Ashraf, Mozayani., Lionel, P, Raymon. 2012. Handbook of Drug Interaction: A


Clinical and Forensic Guide. EGC: Jakarta.

Espinosa-Bosch, M., Santos-Ramos, B., Gil-Navarro, M.V., Santos-Rubio,


M.D., Marı ́n-Gil, R., and Villacorta-Linaza, P., 2012. Prevalence of
drug interactions in hospital healthcare. International Journal Clinical
Pharmacy, Vol. 34, p. 807–817.

Fradgley, S. 2003. Interaksi Obat dalam Aslam, M, Tan., C. K., dan Prayitno.,
Farmasi Klinis 120-130. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Gramedia

Fulton MM, Allen ER. 2005. Polypharmacy in elderly: a literature review. J Am


Acad Nurse Prac.17(4):123–32. doi: 10.1111/j.1041-2972.2005.
0020.x

Ganiswara, S. 1995. Farmakologi dan Terapi, ed. IV, 271-288 dan 800-810.
Jakarta: Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Gulli FG, Nasser B, Sampson U. 2001. Intensive Care


Unit.http://www.answers.com/topic/intensive-care-medicine.
Hajjar, ER, Cafiero, AC, Hanlon, JT .2007. ‘Polypharmacy in Elderly Patients’,
The American Journal of Geriatric Pharmacotherapy, 5(4), pp. 345-
351.
Hohl CH, Dankoff J, Colacone A, Afilalo M. 2001. Polypharmacy, adverse
drug-related events, and potential adverse drug interactions in elderly
patients presenting to an emergency department. Ann Emerg
Med;38(6):666–71.
Kashuba,A.D.M., and Bertino, J.S.Jr., 2001. Mechanisms of Drug Interactions
Drug Interactions in Infectious Diseases,Humana Press, p. 13-38.
Lee, D., and Bergman. U., 2000. Studies of drug utilization. In: Strom B. ed.
Pharmacoepidemiology, 3rd ed. Chichester, J Wiley, p.463- 4
Maher RL, Hanlon JT, Hajjar ER. 2014. Clinical S2468 consequences of
polypharmacy in elderly. Expert Opin Drug Saf ;13(1):57–65. doi:
10.1517/14740338.2013.827660

Rambhade, S., Chakarborty, A., Shrivastava, A., Patil, U.K., and Rambhade, A.,
2012. A Survey on Polypharmacy and Use of Inappropriate
Medications. Toxicology International, Jan-Apr 2012, Vol. 19, Issue
1, p. 68-74.
Ray S, Bhattacharyya M, Pramanik J, Todi S. 2009. Drug-Drug interaction in the
ICU. Critical Care, 13 (Suppl 1): P495 doi: 10.1186/cc7659. Jan,
2010http://ccforum.com/content/13/S1/P495
Stockley, I, H., and Lee, A. 2003. Drug Interaction, in: Walker, R, and Edwark,
C., Clinical Pharmacy and Therapeutics, Third Edition.London:
Churcill Livingstone.
Takrouri, 2004. The Internet Journal of Health; Intensive Care Unit.Volume 3
Number 2. Department of Anastesia College of Medicine King Saud
University.
Viktil, KK, Blix, HS, Moger, TA, Reikvarn, A 2006. ‘Polypharmacy as
Commonly Defined is an Indicator of Limited Value in the
Assessment of Drug-Related Problems’, British Journal of Clinical
Pharmacology, (63)2, pp. 187192.