Anda di halaman 1dari 22

PEMBESARAN IKAN NILA ( Oreochromis Niloticus) DENGAN

SISTEM AKUAPONIK MENGGUNAKAN KANGKUNG (Ipomoea Aquatica)

PROPOSAL

PRAKTEK KERJA LAPANGAN

OLEH :

NADYA SEPTIA DWI TAMIRA

17090019

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PROF. DR. HAZAIRIN, SH.

BENGKULU 2019
HALAMAN PENGESAHAN

Judul PKL : Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp) Dengan Sistem Akuaponik
MenggunakanSistem Bioflok Dan Akuaponik

Nama : Nadya Septia Dwi Tamira

NPM : 17090019

Program Studi : Aquacultur

Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Firman, M.Si Ir. Zulkhasyni, M.Si

Menyetujui,
Ketua Jurusan Budidaya Perairan

Dedi Pardiansyah, S.Pi, M.Si


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Maha Esa, yang mana
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul “Pembesaran Ikan Nila
(Oreochromis Niloticus) Dengan Sistem Aquaponik Menggunakan Tanaman
Kangkung (Ipomoea Aquatica)

Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan atau nasehat dan bantuan dari
berbagai pihak, Proposal Praktek Kerja Lapangan ini tidak mungkin terselesaikan
pada waktu yang ditentukan.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sedalam-dalamya kepada orang terhormat :

1. Suharun Martudi, S.Pi, M.Si Selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas


Prof.Dr.Hazairin,S.H Bengkulu.
2. Dedi Pardiansyah, S.i, M.Si Selaku Kepala Jurusan Budidaya Perairan
3. Ir. Firman, M.Si Selaku Pembimbing I
4. Ir. Zulkhasyni, M.Si Pembimbing II
5. Semua Pihak yang turut membantu dalam Penyelesaian Proposal Praktek
Kerja Lapangan ini.
Penulis menyadari bahwa proposal ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, segalakritik serta saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati.
Semoga proposal ini berguna dan bermanfaat bagi generasi penerus dan
seluruh kalangan masyarakat.

Bengkulu, Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENHGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Rumusan Masalah
1.4 Batasan Masalah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
2.2 Habitat Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
2.3 Padat Tebar
2.4 Pembesaran Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
2.5 Pakan
2.6 Budidaya Sistem Akuaponik
BAB III METODOLOGI PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1 Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Prosedur Kerja Dalam Praktek Kerja Lapangan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perkembangan budidaya perikanan saat ini sangatlah pesat, karena usaha


pada bidang budidaya perikanan sangat menjajikan, namun di balik itu terdapat
permasalahan yang sering dijumpai diantaranya adalah keterbatasnya sumber air
dan akumulasi limbah limbah dari ikan yang dibudidayakan itu sendiri yang
dapat mengganggu pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang
dibudidayakan (Eriza, 1996).
Sistem budidaya ramah lingkungan seperti teknologi bioflok dapat
diaplikasikan sebagai pakan alternatif bagi larva ikan mas. Teknologi bioflok
adalah sistem budidaya efisien karena nutrien dapat terus diproduksi dan
digunakan kembali (Emerenciano et al., 2013) serta dapat meningkatkan kualitas
air (Ekasari, 2009). Bioflok merupakan komunitas mikroba yang terdiri atas
bakteria, protozoa dan zooplankton yang berkumpul menjadi suatu gumpalan
(flok) (Rangka dan Gunarto, 2 2012) dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan
(Azim dan Little, 2008) bagi larva ikan mas. Mikroorganisme dalam bioflok
memiliki dua peran penting yaitu dapat menjaga kualitas air, dengan mengubah
kandungan nitrogen menjadi protein bakteri dan dapat dimanfaatkan sebagai
sumber nutrisi sehingga dapat mengurangi konversi biaya pakan (Emerenciano et
al., 2013). Menurut Ju et al., (2008), bioflok yang didominasi oleh bakteri dan
mikroalga hijau memiliki kandungan protein 38 dan 42%. Bioflok mengandung
sejumlah asam amino methionine, vitamin, mineral dan enzim yang dapat
membantu proses pencernaan pakan (Rangka dan Gunarto, 2012) bagi larva ikan
mas yang organ pencernaannya masih mengalami perkembangan (Wang et al.,
2009).
Kekurangan Sistem Biofloc (Suprapto, 2007)

 Tidak bisa diterapkan pada tambak yang bocor/rembes karena tidak


ada/sedikit pergantian air
 Memerlukan peralatan/aerator cukup banyak sebagai suply oksigen
 Aerasi harus hidup terus (24 jam/hari)
 Pengamatan harus lebih jeli dan sering muncul kasus Nitrit dan Amonia
 Bila aerasi kurang, maka akan terjadi pengendapan bahan organik. Resiko
munculnya H2S lebih tinggi karena pH airnya lebih rendah.
 Kurang cocok untuk tanah yang mudah teraduk (erosi). Jadi dasar harus
benar-benar kompak (dasar berbatu / sirtu, semen atau plastik HDPE)
 Bila terlalu pekat, maka dapat menyebabkan kematian bertahap karena krisis
oksigen (BOD tinggi).
 Untuk itu volume Suspended Solid dari floc harus selalu diukur.Bila telah
mencapai batas tertentu, floc harus dikurangi dengan cara konsumsi pakan
diturunkan.
Untuk mengatasi masalah keterbatasan sumber air dan akumulasi limbah
dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satu diantaranya adalah
menggunakan sistem akuaponik. Akuaponik ini sebenarnya bukanlah teknologi
baru, budidaya sistem akuaponik sudah ada pada zaman Suku Aztec, pada saat
itu Suku Aztec menerapkan sistem pertanian chinampa yang merupakan asal dari
budidaya sistem akuaponik (Sani Berlin. 2016).
Sistem akuaponik adalah teknologi teknologi integrasi budidaya tanaman
dan ikan, dimana tanaman memanfaatkan limbah buangan dari ikan sebagai
pupuk sedangkan ikan sendiri mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan air
dalam kondisi bersih, hal ini dikarenakan ikan yang dibudidaya akan
menghasilkan fases dan urin (amonik) yang dibutuhkan tanaman sebagai unsur
hara untuk pertumbuhannya. Sehingga dengan sistem akuaponik ini antara ikan
dan tanaman sama-sama saling mendapatkan keuntungan. Commented [WU1]: Kombinasi biflok dan akuaponik
Budidaya sistem akuaponik telah banyak dilakukan salah satu contohnya
budidaya ikan lele (Clarias sp.) dengan menggunakan tanaman Kankung
(Ipomoea Reptans), penanaman Kankung sangat mudah dilakukan bahkan tidak
memerlukan keahlian yang khusus dan juga kelebihan Ikan Lele bahwa
pertumbuhan Ikan Lele (Clarias sp.) lebih cepat dibandingkan dengan jenis ikan
lainnya, serta teknik pemeliharannya lebih mudah dan sederhana (Taufiq Yunus
Hasim et al, 2014)
Oleh karena itu penulis tertarik untuk mencoba melakukan teknik
“Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp) Dengan Menggunakan Sistem Bioflok Dan
Akuaponik. Karena menjadi salah satu alternatif untuk kegiatan budidaya pada
lahan terbatas dan kurangnya sumber air, sehingga produksi yang dihasilkan
maksimal.

1.2 TUJUAN
Adapun tujuan dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah untuk
mengetahui laju pertumbuhan dalam pembesaran ikan lele (Clarias sp) dengan
sistem bioflok dan akuaponik, mengetahui cara yang baik budidaya ikan lele
(Clarias sp) dengan sistem bioflok dan akuaponik.
1.3 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah dengan melihat
bagaimana laju pertumbuhan berat dan panjang dalam budidaya Ikan Lele
(Clarias sp) dengan sistem dan bioflok akuaponik menggunakan tanaman
kankung (Ipomoea Reptans).
1.4 Batasan Masalah
Berdasarkan masalah yang ada, Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini
memiliki batasan masalah untuk mengetahui mengenai berapa percepatan
perkembangan berat dan panjang ikan dalam budidaya Ikan Lele (Clarias sp)
dengan sistem bioflok dan akuaponik menggunakan tanaman kangkung
(Ipomoea Reptans).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele


Menurut Warisno dan kres (2019), lele (Clarias sp) diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phillum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Telestei
Ordo : Ostariophusi
Sub Ordo : Siluridae
Suku : Clariidae
Genus :Clarias
Spesies : Clarias Sp

Menurut (Darseno.2010), lele (Clarias sp) sebenarnya merupakan lele hasil


persilangan antara induk betina Dumbo generasi kedua (F2) dan induk jantan lele
Dumbo generasi keenam (F6). Induk jantan F6 merupakan koleksi dari Balai
BBPBAT Sukabumi.Sedangkan induk betina F2 merupakan koleksi dari Balai
Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Induk tersebut
berasal dari keturunan kedua lele dumbo diintrokduksi ke indonesia pada tahun
1985.
Lele (Clarias sp) memiliki kulit yang licin, berlendir dan tidak memiliki
sisik.Badan lele (Clarias sp) berbentuk memanjang dengan kepala pipih dibawah
(depresed).Mulut mulut berada diujung atau terminal dengan empat pasang
sungut, sirip ekor membundar tidak bergabung dengan sirip anal.Serta meiliki
empat pasang sungut seprti kumis di dekat mulutnya, fungsi sungut ini sebagai
alat peraba saat mencari makan.Lele(Clarias sp) memiliki tiga buah sirip tunggal
yaitu sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur. Selain itu juga lele (Clarias sp)
memiliki senjata berupa sepasang patil yang berada didepan sirip dada (Suyanto,
2007)
2.2 Kebiasaan dan Habitat Ikan Lele (Clarias sp)
Habitat lele (Clarias sp) semua perairan tawar yang tidak terlalu deras atau
perairan yang tenang seperti danau, waduk, rawa, telaga serta genangan-genangan
kecil merupakan lingkungan hidup ikan lele (Suyanto, 2007)
Lele (Clarias sp) dapat hidup dalam kondisi apapun, namun meurut
Darseno (2010), bahwa kondisi air yang ideal untuk budidaya lele agar dapat
tumbuh optimal adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Kondisi air yang ideal untuk budidaya lele

No. Parameter Kondisisi air ideal


1 Suhu 25-27 ̊C
2 DO >3 ppm (MG0/1)
3 Ph 6,5-8
4 Nitrit >0,1 ppm (mg/1)
5 Karbondioksida <15 ppm (mg/1)

2.3 Padat Tebar


Padat tebar ialah banyaknya jumlah ikan yang akan ditebar dalam satuan
luas. Menurut Darseno (2010), bahwa dalam budidaya ikan lele ada namanya
padat tebar rendah dan padat tebar tinggi, padat tebar rendah berkisar antara 150-
200 ekor/m² dibutuhkan waktu dua bulan untuk mencapai ukuran konsumsi,
sedangakan padat penebaran tinggi sebanyak 200-350 ekor/m² dibutuhkan waktu
pemeliharaan selama tiga bulan untuk mencapai ukuran konsumsi.
Menurut Warisno dan Kres (2009), padat penebaran bibit lele (Clarias sp)
yang ber-ukuran 5-8 cm adalah berkisar antara 100-200 ekor/m².akan tetapi bila
ukuran bibit lele (Clarias sp) telah mencapai ukuran 8-12 cm jumlah benih yang
di tebar sebanyak 30-50 ekor//m² (Khairuman dan Khairul Amri,2008).
2.4 Pembesaran Ikan Lele (Clarias sp)
Menurut jangkaru (2004), pembesaran ikan merupakan bagian dari usaha
budidaya ikan.Pembesaran adalah suatu usaha pemeliharaan ikan yang dimulai
dari ikan lepas dederan dan berakhir sampai mencapai ukuran konsumsi atau
ukuran untuk pasar.Sedangkan Susatnto dan Amri (2002) mengartikan,
pembesaran ikan merupakan kegiatan untuk menghasilkan ikan yang siap
konsumsi.Produk akhirnya berupa ikan konsumsi, meskipun ukuran ikan yang
konsumsi bisa saja berbeda sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pembesaran ikan dalam kegiatan budidaya perairan bertujuan untuk
menghasilkan ikan ukuran konsumsi. Dalam kegiatan pembesaran, ikan didorong
untuk tumbuh secara maksimum hingga mencapai ukuran pasar (maketable size)
melalui penyediaan lingkungan media hidup ikan yang optimal, dan pemberian
pakan yang tepat jumlah, mutu, cara, dan waktu serta pengendalian hama dan
penyakit. Selain pertumbuhan individu, pembesaran penting untuk menekan
tingkat kematian ikan dalam wadah produksi, supaya produksi biomassa ikan
dapat dicapai setinggi mungkin.Ukuran (W) individu dikali dengan jumlah
populasi (N) menghasilkan produksi (P) biomassa.(Susanto dan Amri (2002).
2.5 Pakan
Pakan merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan budidaya
ikan.Ikan lele memakan pakan alami maupun pakan buatan, pakan alami seperti
binatang renik yaitu kutu air. (Daphnia), cacing, larva (jentik-jentik serangga),
dan siput kecil, selain makanan alami untuk mempercepatkan pertumbuhan lele
perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet (Suyanto, 2007).
Pemberian pakan dilakukan harus dengan waktu dan jumlah yang tepat.
Dosis pemberian pakan ikan lele sebanyak 2-5 % dari biomassa, pemberian pakan
harus dilakukan secara bertahap, frekuensi pemeberian pakan ikan lele sangatlah
bervariasi, namun paling umum dilakukan para pembudidaya adalah 3 kali sehari
(Adidaya dan Prasetya,2015).
2.6 Budidaya Sistem Bioflok
Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengatasi
masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pengolahan
limbah domestic secara konvensional (Avnimelech,2007;De Schryver etal., 2008
dalam Ekasari,2008). Bioflok merupakan istilah bahsasa slang dari istilah bahasa
baku “Activated Sludge” (Lumpur Akti) yang diadopsi dari proses pengolahan
biologis air limbah (biological waste water treatment),yaitu pemanfaatan bakteri
pembentuk pembentuk flok (flocs farming bacteria) untuk pengolahan limbah
dengan meningkatkan C/N. Salah satu bakteria yang dapat membentuk bioflok
adalah genera Bacillus (Aiyushirota, 2009). Bioflok dapat digunakan sebagai
sumber pakan alami berprotein tinggi, yakni 37-38% (Purnomo,2012), sehingga
berpotensi sebagai pakan alternatif bagi ikan.
Bioflok (Bioflocs technology) memanfaatkan sistem heterotrofik yang
merupakan salah satu teknologi yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas air
dan meningkatkan efisiean pemanfaatan nutrien. Teknologi ini didasarkan pada
koversi nitrogen anorganik terutama amoniak oleh bekteri heterotrof menjadi
biomassa mikroba yang kemudian dapat dikonsumsi oleh organisme budidaya
(Crab et al. 2007; Ekasari 2009).Selain itu teknologi BFT juga dapat
menyediakan pakan tambahan berprotein karena BFT dilakukan dengan
menambahkan sumber karbon organik ke dalam media budidaya untuk
merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof dan meningkatkan C/N rasio (Crab et
al. 2007).
Nitrogen yang dihasilkan akan mengalami proses secara bilogis oleh
bakteri heterotrofik yang menyerap amonium menjadi biomasa bakteri dengan
adanya bahan organic (pardiansyah, 2014).
2.7 Budidaya Sistem Akuaponik
Akuaponik adalah sistem budidaya yang saling menguntungkan antara
tanaman dan ikan. Sistem budidaya akuaponik menggabungkan pertanian
hidroponik dengan akuakultur, limbah ikan bertindak sebagai pupuk alami untuk
tanaman dan untuk ikan menguntungkan karena tanaman memanfaatkan amoina
dan senyawa nitrogen dari air sehingga aman untuk ikan (Steel, 2011)
Kualitas air memegang peranan penting dalam kegiatan budidaya, limbah
yang dihasilkan dari proses budidaya memiliki dampak negatif bagi hewan
akuatik. Amoina merupakan salah satu limbah yang berasal dari sisa metabolism
ikan yang terlarut dalam air berupa fases dan sisa makanan ikan yang tidak
termakan dan mengendap di dasar kolam budidaya (Emilia et al, 2014).
Untuk memperbaiki kualitas air dan menghilangkan zat percemar seperti
amoina dibutuhkan teknologi yang murah dan efisien, salah satu inovasi teknologi
yang dapat diterapkan yaitu budidaya ikan yang terintegrasi dengan tanaman
melalui sistem akuaponik (Said et al, 2016)
Pada kegiatan budidaya dengan sistem tanpa pergantian air, bakteria
memiliki peranan penting dalam menghilangkan partikel amoina melalui proses
nitrifikasi (Ratannanda, 2011).
BAB III

METODOLOGI PRAKTEK KERJA LAPANGAN

5.1 Waktu dan Tempat


Praktek kerja lapangan (PKL) ini akan dilaksanakan selama dua bulan dari
September-November 2019 yang berlokasi di Laboratorium Fakultas Pertanian
Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH , kota Bengkulu.
5.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanakan PKL ini
adalah :
Alat
 Aerator untuk menambahkan oksigen.
 Termometer, PH meter, DO meter, mistar, timbangan, digunakan selama
proses pengamatan.
 Ember sebagai wadah tanaman
 Alat tulis seperti pena, buku, mistar,dan lain-lain digunakan sebagai alat untuk
mencatat waktu proses pengamatan.
 Kamera digunakan sebagai alat untuk melakukan dokumentasi
Bahan
 Kolam semen sebagai wadah pemeliharaan ikan
 Bibit ikan lele ukuran 8-12 cm sebanyak 250 ekor dengan berat 10-15
gram/ekor.
 Prebiotik, sebagai bibit bakteri yang akan menguraikan limbah organic sisa
pakan.
 Molase, sebagai sumber carbon (N).
 Pakan yang digunakan adalah pellet dengan kandungan protein 32%.
 Air yang digunakan adalah sebagai media budidaya
 Arang dan bata bekas digunakan sebagai media tanaman
5.3 Cara Kerja
1. Persiapan Wadah Pemeliharaan
Wadah yang digunakan dalam kegiatan Praktek kerja lapangan(PKL)
ini berupa kolam semen.Kolam semenyang digunakan dengan ukuran 2x1
dengan ketinggian 0,6 meter dengan tinggi air 0,4 meter.Pembuatan wadah
dilakukan 3 hari sebelum penebaran benih.
2. Pengisian Air
Setelah wadah yang akan digunakan siap untuk dipakai selanjutnya
kolam diisi air dengan ketinggian air 0.4 meter. Kemudian dipasang aerator
sebagai penambahan oksigen dalam kolam.
3. Pemasangan Alat Untuk Akuaponik
Wadah tanaman yang digunakan berupa Ember dipasang diatas kolam
pembesaran.Mesin pompa air dipasang dalam kolam pembesaran untuk
resirkulasi air dari kolam pembesaran ke saluran akuaponik.Wadah
pembeesaran berada didalam ruangan sehingga memerlukan lampu sebagai
sumber cahaya untuk tanaman.Lampu dipasang disetiap sudut kolam.
4. Penebaran Benih
Setelah air kolam sudah siap untuk digunakan Benih ikan lele ditebar
dengan ukuran 8-12 cm dengan berat 10-15 gram sebnayak 250 ekor.
Penebaran benih dilakukan dengan cara benih masih didalam kantong plastik
didiamkan mengapung di permukaan air kolam kurang lebih 10 menit.
Setelah itu buka kantong plastik dan masukkan air kolam ke kantong. Hal ini
dilakukan dengan tujuan untuk proses adaptasi. Setelah 5 menit baru benih
bisa dilepaskan ke kolam. Waktu pelepesan benih ke kolam sebaiknya
dilakukan pada pagi hari atau sore hari karena saat itu suhu air tidak begitu
panas sehingga ikan mudah beradaptasi.
5. Pemberian Pakan
Pemberian pakan berupa pellet dilakukan dengan frekuwensi 3 kali
sehari. Yakni pagi pukul 08.00 WIB.Siang pada pukul 13.00 WIB, dan sore
pada pukul 06.00 WIB.Dengan dosis sebanyak 5% dari berat Biomassa ikan
selama kegiatan.
6. Pemberian Molase
Molase merupakan produk sampingan dari industri pengelolaan gula
tebu atau gula bit yang masih mengandung gula dan asam-asam organik.
 Prosedur Pemanfaatan Sumber Karbon

FR (%) x Biomassa (gr)



Persamaan 1

Persamaan 1 x Kandungan protein (%)

Persamaan 2
Persamaan 2 x 16 % (Jumlah N dalam pakan)

Persamaan 3

Persamaan 3 x 90 % (Jumlah N terbuang ke perairan)

Persamaan 4

Persamaan 4 x rasio C/N yang ditentukan

Persamaan 5
Persamaan 5 x Kandungan C organik dalam sumber (%)
karbon
Persamaan
Jumlah karbon yang harus ditambahkan

7. Penanaman Kankung
Benih kankung yang bisa diperoleh ditoko pertanian dengan kualitas
yang baik.Benih kankung dapat ditanam langsung dapat ditanam lansung
tanpa disemai terlebih dahulu, letakkan dua untuk tiga butir benih pada media
tanam tersebut dan tanam keadaan basah.

8. Pengukuran Kualitas Air


Parameter yang diamati dalam pembesaran ini adalah : suhu, pH dan
DO.
9. Pemgambilan Sampel
kan dengan cara sampling yaitu dengan mengambil 5% dari 250 ekor
ikan lele yang dipelihara, yang dilakukan dengan acak dalam jangka waktu 7
hari sekali.
5.4 Pengamatan

Pembagian data yang diamati pada Praktek Kerja Lapangan (PKL)


meliputi: pertambahan berat,pertambahan panjang mutlak, konversi pakan,
efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup. Pengukuran pertambhan berat dan
panjang mutlak dilakukan tujuh (14) hari sekali, sedangkan pengukuran efisiensi
pakan, konversi pakan, dan kelangsungan hdiup dilakukan pada akhir praktek
kerja lapangan.

1. Pertambahan Berat
Untuk mengetahui pertambahan berat mutlak pada ikan uji yang
dihitung dengan menggunakan rumus, Yulfiperius (2014):
Keterangan:
G=∆W=Wt-Wo

G : Pertumbuhkan berat ikan uji

Wt : Berat akhir (gram)

Wo : Berat awal ikan (gram)

2. Pertambahan Panjang Mutlak


Menurut Effendi (1978), panjang mutlak yang dihitung dengan
menggunakan rumus:
Lm=Lt-Lo
Keterangan:
Lm : Pertumbuhan panjang mutlak ikan uji (cm)
Lt : Panjang akhir ikan uji (cm)
Lo : Panjang awal uji (cm)
3. Konversi Pakan
Untuk mengetahui nilai konversi pakan dapat diketahui dengan rumus
sebagai berikut, Yulfiperius (2014):
KP = F
Bt – Bo
Keterangan:
KP : Konversi pakan

Bt : Biomassa ikan pada akhir percobaan (gram)

Bo : Biomassa pada ikan pada awal percobaan (gram)

F : Jumlah pakan yang dikonsumsi selama percobaan (gram)

4. Efisiensi Pakan
Untuk mengetahui nilai efisiensi pakan dapat digunakan rumus sebagai
berikut, Takeuci dalam Yulfiperius (2014):
FE =( Bt+Bd ) -Bo x 100
F
Keterangan:

FE : Ffisiensi Pakan (%)

Bt : Biomassa pada iikan uji (gram)

Bo : Biomassa awal ikan uji (gram)

F : Jumlah pakan yang diberikan (gram)


bD : Biomassa ikan yang mati selama penelitian (gram)

5. Kelangsungan Hidup (Survival Rate)

Kelangsungan hidup yaitu presentase jumlah biota yang hidup dalam


kurun waktu tertentu. Untuk menghitung kelangsungan hidup ikan dapat
dihitung menggunakan rumus, Yulfiperius (2014):

SR =Nt x 100
No
Keterangan:

Nt : Jumlah ikan hidup pada akhir pemeliharaan (ekor)


NO : Jumlah ikan hidup pada awal pemeliharaan (ekor)
SR : Kelangsungan hidup ikan uji
6. Kualitas Air
Kualitas air yang diamati dalam pelaksanakan penelitaan ini adalah :
oksigen, suhu, dan Ph. Suhu diamati setiap hari pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB
dan 17.00 WIB, pengukuran Ph, dan oksigen terlarut dilakukan pada awal,
tengah, dan akhir pemeliharaan.
a) DO (Oksigen Terlarut)

DO (Disolved Oxygen) jumlah mg/L gas oksigen gas yang terlarut


dalam air untuk mengetahui nilai DO di gunakan metode Titrasi sebagai
berikut (haryadi : et al, 1992)

V Na2s2o3 x N Na2s2o3 x 8 1000


DO (ppm) = V sampel

b) pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan
tingkat kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. pH adalah ukuran
logaritmik dari konsentrasi ion hidrogen dari larutan. Nilai pH merupakan
negatif logaritma dari konsentrasi ion hidrogen.(Sorensen 1868-1939).
c) Suhu
Suhu merpakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur
proses kehidupan dan penyerapan organisme (Nybakken 1992 dalam
sembiring, 2008).
d) TSS ( Padatan Tersuspensi Total )
Padatan dengan caratersuspensi total adalah bahan tersuspensi dan
tidak terlarut dalam air. Untuk menentukan TSS dapat dilakukan dengan cara
Gravimentik dengan perhitungan yaitu :
Rumus (haryadi : et al, 2019) :
Total Suspended Solid
(mg/L= ( A – B ) X 1000
ml sampel
Keterangan :

A :Bobot setelah saringan


B :Bobot sebelum saringan
e) TDS ( Padatan Terlarut Toral )
Padatan tersuspensi total adalah bahan-bahan terlarut dalam air yang
tidak tersaring dengan kertas milipore dengan ukuran pori-pori 0,45 µm.
untuk mengukur nilai TDS dapat digunakan metoda gravimetrik dengan
rumus : (Haryati : et al, 1992)
TDS ( mg/L = 1000
ml sampel
Keterangan :

R = berat (mg) mangkuk dan residu


D = berat (mg) mangkuk
DAFTAR PUSTAKA

Adijaya dan Prasetya.2015.Panduan Praktis Pakan Ikan Lele.Jakarta:Penebar


Swandaya.Hlm 64-65.

Anugraha Wiguna.2012. Pembesaran Ikan. https//www.slideshere.net/parie/


pembesaran-ikan.Diakses tanggal 27mei 2017.

Darseno.2010.Buku Pintar Budidaya Dan Bisnis Lele. Jakarta:Agromedia


Pustaka.

Emilia, R. (2014). Efektifitas Sistem Akuaponik Dalam Mereduksi Konsentrasi

Erizal, J. (1996). Pemanfaatan waduk untuk budidaya ikan dan tantangan


pengembangannya. FAE, 14(2), 1-2.

Khairuhman dan Khairul Amri.2008.Peluang Usaha Dan Teknik Budidaya Lele


Clarias sp. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama. Hlm 53-58.

Ratannanda, R (2011). Untuk Mereduksi Limbah Budidaya. Skripsi.Retrieved from


https://core.ac.uk/download/pdf/32378047.pdf

S.Berlin.(2016). Akuaponik Untuk Hobi dan Bisnis.Jakarta:Kata Pena. Hlm 1.

Said, T. (2016). No Title. JURNALTRP.Retrieved from http://jurnal.umrah.ac.id/wp-


content/uploads/gravity_forms/1-
ec61c9b232a03a96d0947c6478e525e/2016/08JURNALTRP.pdf

Steel, S. (2011). Introduction to Village Aquapocs.ECOLIFE Foundatian,324


State,25.

Suyanto, R. (2007). Download Buku Ebook cara yang baik budidaya ikan lelee.pdf.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Taupi Yunus Hasim dan Rully Tuiyo, (2014). Pengaruh-Padat-Penebaran-Berbeda-
Terdahap-Pertumbuhan-Benih-Ikan-Lele-Sangkurian-Di-Balai-Benih-Ikan-
Kota-Gorontalo.pdf. Gorontal. Retrieved from Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan. Volume 2,Nomor3.

Warisno dan Kres.2009, Meraup Untung Dari Bertenak Lele Clarias sp.
Yogyakarta:Lily Publisher. Hlm 46-66.

Amoina Pada Sistem Budidaya Ikan. E-Jurnal Rekayasa Dan Teknologi Budidaya
Perairan, III No 1(ISSN:2302-3600).
Daftar Pustaka :

Indonesianaquaculture.

www.aiyushirota.com. Konsep Budidaya Udang Sistem Bakteri Heterotroph dengan


Bioflocs.

Suprapto. 2007. Pemahaman Bio-Floc Technology : Teknik Budidaya alternatif.


Disampaikan dalam Seminar Temu Akhir Tahun 2007.

Hal-hal yang perlu Diperhatikan dalam Sistem Biofloc

 Bahan organik harus cukup (TOC > 100 mgC/L) dan selalu teraduk
 Nitrogen disintesis menjadi mikrobial protein dan dapat dimakan langsung
oleh udang dan ikan
 Perlu disuplay C organik (molase, tepung terigu, tepung tapioka) secara
kontinue atau sesuai dgn amonia dalam air
 Oksigen harus cukup serta alkalinitas dan pH harus terus dijaga