Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sumber daya alam hutan berupa kayu dan non kayu harus
dimanfaatkan secara rasional agar dapat berkesinambungan. Hasil hutan non
kayu juga memberikan manfaat yang banyak dan besar untuk memenuhi
kepentingan hidup manusia, salah satu hasil hutan non kayu yang mempunyai
arti ekonomis yang cukup berarti untuk meningkatkan penghasilan kesejahteraan
masyarakat adalah tumbuhan rumbia (Metroxylon sagu Rottb).
Indonesia adalah negara agraris dengan jumlah penduduk sebagian besar
bermata pencaharian dibidang pertanian. Sebagai negara yang beriklim tropis Indonesia
memiliki keuntungan secara geografis, dengan hanya memiliki dua musim, yaitu musim
penghujan dan kemarau, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Salah satu
tanaman yang tumbuh subur di Indonesia yaitu tanaman rumbia atau lebih dikenal
dengan tanaman sagu. Tanaman rumbia atau tanaman sagu merupakan jenis tanaman
liar yang biasanya tumbuh subur di daerah pesisir sungai atau daerah berawa. Tanaman
ini tumbuh begitu saja dan masih belum banyak dibudidayakan. Tanaman rumbia
tergolong dalam kelompok tanaman serbaguna (multiple trees); daunnya dapat
dimanfaatkan untuk atap rumah, tangkai daun setelah dibelah dan dianyam dapatdibuat
tikar maupun dinding rumah, isi batang dapat dimanfaatkan untuk makanan ternakatau
dapat diolah menjadi sagu.
Gampong Cot Tufah Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen memiliki
potensi sumber daya alam rumbia yang sangat mendukung untuk melakukan usaha
pengolahan berbagai kerajinan berbahan baku rumbia. Bagi masyarakat Gampong Cot
Tufah, rumbia merupakan komoditi strategis, masyarakat di sana memanfaatkan kulit
pelepah rumbia menjadi tirai, daun rumbia untuk dibuat atap sedangkan batangnya
untuk makanan ternak, walaupun pemanfaatan rumbia secara luas belum dilakukan
secara optimal. Namun demikian, ketersediaan rumbia di Gampong Cot Tufah juga
belum sepenuhnya mencukupi bahan baku untuk kerajinan di Gampong tersebut,
dikarenakan semakin bermunculannya usaha kerajinan yang memanfaatkan bahan
baku rumbia, salah satunya usaha kerajinan tirai. Tirai dari kulit pelepah rumbia yang
dibuat ini sudah tentu menambah penghasilan masyarakat Gampong Cot Tufah.

1
Pemanfaatan kulit pelepah rumbia untuk diolah menjadi suatu produk adalah
satu satu usaha masyarakat Gampong Cot Tufah dalam memanfaatkan hasil produk dari
pertanian yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena pemanfaatan yang benar
merupakan salah satu kunci dalam pengembangan usaha. Demikian pula halnya masalah
kelayakan usaha tirai dari kulit pelepah rumbia di Gampong Cot Tufah Kecamatan
Gandapura Kabupaten Bireuen. Dari hasil observasi awal kesalah satu usaha pengrajin
tirai dari kulit pelepah rumbia di Gampong Cot Tufah yang telah menjalankan usahanya
tersebut kurang lebih selama 10 tahun, diperoleh informasi bahwa umumnya pengrajin
tirai dari kulit pelepah rumbia di Gampong Cot Tufah memanfaatkan kulit pelepah
rumbia untuk produk tirai dengan konsisten sehingga pengrajin tirai dari kulit pelepah
rumbia dapat terus mempertahankan usahanya serta mendapatkan keuntungan yang
maksimal.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik rumusan permasalahan yaitu: bagaimana
pemanfaatan kulit pelepah rumbia sebagai tirai di Gampong Cot Tufah.

1.3. Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian dari pemanfaatan kulit pelepah rumbia adalah :
1. Keuntungan pemanfaatan kulit pelepah rumbia sebagai tirai
2. Kelayakan pemanfaatan kulit pelepah rumbia sebagai tirai

1.4. Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pemanfaatan kulit pelepah
rumbia sebagai bahan baku tirai.
2. Menambahkan nilai guna kulit pelepah rumbia sebagai tirai.
3. Memberikan wawasan kepada masyarakat disekitarnya selain menjadi rusak
lingkungan pelepah kulit rumbia bisa digunakan ebagai tirai.

BAB II
LANDASAN TEORITIS
2
2.1. Mengenal Tanaman Rumbia
Tanaman rumbia atau tanaman sagu termasuk tanaman monokotil dengan ordo
Arcales dan family Palmae, merupakan tanaman liar yang biasanya tumbuh begitu
saja dan kurang mendapat perlakuan dan perhatian, dan masih belum banyak
dibudidayakan. Tanaman rumbia tumbuh secara alami pada daerah rawa berair tawar
dimana tanaman lainnya sulit tumbuh, Di Kalimantan Selatan tanaman sagu
(Metroxylon sagu Rottb) atau lebih dikenal dengan nama rumbia banyak ditemukan
tumbuh subur di pesisir sungai dan sepanjang jalan pada daerah berawa, jenis yang
tumbuh pada umumnya sagu betina karena tidak berduri (Salam, 1990).
2.1.1. Taksonomi :
Kerajaan :Plantae
Divisi: :Magnoliophyta
Kelas :Liliopsida
Ordo :Arecales
Famili :Arecaceae
Genus :Metroxylon
Spesies :Metroxylon sagu

Tanaman Rumbia (Metroxylon sagu) merupakan salah satu komoditi bahan


pangan yang banyak mengandung karbohidrat, sehingga sagu merupakan bahan
makanan pokok untuk beberapa daerah di Indonesia seperti Maluku, Irian Jaya dan
sebagian Sulawesi. Sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan
yang antara lain dapat diolah menjadi bahan makanan seperti bagea, mutiara sagu, kue
kering, mie, biskuit, kerupuk dan laksa

2.1.2. Morfologi
Rumbia dapat memperbanyak diri dengan tunas akar, sehingga tumbuhnya
berumpun dan enyerupai berkelompok. Tumbuhan mudanya menyerupai rumpun
nipah dan dapat dibedakan dari tumbuhnya batang pada sagu. Tinggi antara 10 – 15
m dengan garis tengah 30 – 50 cm. Batang pohon lurus, warna batang coklat muda,
halus atau licin dan berakar serabut setinggi 1m. Tajuk pohon yang masih muda

3
berbentuk lingkaran dan yang sudah tua berbentuk kipas dan tidak teratur, tajuk sering
menipis dan menggugurkan daun pelepah.
Pelepah panjangnya mencapai 10 m letaknya tersusun teratur, pelepah
pada pohon muda berbentuk bulat, sedangkan yang tua beralur dibagian permukaan
atas. Daun terletak seperti sebilah pedang dan meruncing pada bagian ujungnya.
Pinggir-pinggir daun tajam dan membalik ke dalam, Daun muda berbulu halus dan
kedua belahannya mengkilap. Daun-daun berwarna hijau kekuning-kuningan. Bunga
berumah satu, bongkal-bongkal bunga bersatu menjadi bunga. Bunga tidak mempunyai
daun mahkota dan besarnya bongkal bunga antara 6 – 12 mm, sedangkan bunga jantan
tidak berkelopak dan tidak bermahkota.
Buahnya bersisik, berwarna coklat kekuningan, buah berbentuk bulat telur atau
jantung terbalik, bila sudah tua berwarna kuning gading, masa bebuah antara bulan
November – April, tiap batang mempunyai masa berbunga dan berbuah berbeda-
beda (Tong, 1982)
Diperkirakan berasal dari Maluku dan Papua. Tanaman rumbia sebenarnya
terbatas di Asia Tenggara, di Indonesia banyak terdapat di Aceh, Sumatera bagian
barat, Sumatera bagian Timur, Tapanuli, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku dan Irian Jaya. Di Kalimantan Selatan
banyak terdapat di daerah Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai
Selatan, Kabupaten Tapin dan Kabupaten Banjar.
Tanaman rumbia dapat tumbuh baik pada ketinggian tanah antara 0 – 700 m dpl,
dengan curah hujan antara 2000 – 4000 mm/th dan merata sepanjang tahun, suhu
optimum yang diperlukan adalah 240oC – 300oC, walaupun suhu tinggi masih dapat
beradaptasi dan tumbuh. Pada wilayah- wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk
kebun atau hutan sagu yang luas. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman rumbia
adalah tanah liat kuning, coklat atau hitam, berlumpur, bahan organic tinggi dan di
daerah pasang surut air tawar (Departemen Kehutanan, 1999).

2.1.3. Fisiologi
Buah rumbia adalah buah yang banyak mengandung zat kimia dan seperti
tannin yang diduga yang mmpunyai rasa sepat. Tannin tidak hanya pada buah nya saja
4
tetapi ada juga pada kulitnya. Selain itu buah ini juga mengandung karbohidrat.
Karbohidrat disini adalah rasa manis yang ada pada saat buah sudah matang. Selain dari
itu buah rumbia juga mengandung asam. Kandungan asam pada buah ini paling banyak
pada saat buah tersebut belum matang. Senyawa tanin mempunyai manfaat yaitu
sebagai obat anti diare dan juga anti bakar. Tanin tidak hanya menyembuhkan luka
bakar, tetapi dapat memngentikan pendarahan juga sebagai penghenti infeksi sementara.
Kemanpuan tannin untuk membemtuk lapisan pelindung diatas jaringan yang terbuka
menjaga luka dari infeksi.

2.1.4. Ekologi Dan Penyebaran

Rumbia menyukai tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah
bencah lainnya, di lingkungan hutan-hutan dataran rendah sampai pada ketinggian
sekitar 700 m dpl. Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun
atau hutan sagu yang luas. Kini rumbia telah meliar kembali di banyak tempat. Rumbia
menyukai tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya, di
lingkungan hutan-hutan dataran rendah sampai pada ketinggian sekitar 700 m dpl. Pada
wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang
luas.

2.2. Manfaat Rumbia

Pemanfaatan rumbia masih terbatas dalam bentuk pangan tradisional, bahan


makanan pokok dan tambahan. Dengan kemajuan teknologi, rumbia atau sagu dapat
dimanfaatkan dalam berbagai industri seperti bahan untuk industri pangan (tepung sagu,
bahan dasar industri gula), sagu dihasilkan dari empulur, yang merupakan sumber
karbohidrat penting bagi warga kepulauan di bagian timur Nusantara. Sagu dipanen
tatkala kuncup bunga (mayang) telah keluar, namun belum mekar sepenuhnya. Umur
panenan ini bervariasi menurut jenis kultivarnya, yang tercepat kira-kira pada usia
6 tahun.
Tanaman ini menghasilkan beberapa produk kerajinan rakyat; bagian luar batang
rumbia dapat dibuat topi dan keranjang, daun dapat dibuat atap rumah, tangkai daun
dapat dibuat tikar dan dinding rumah. Daun dari pohon yang masih muda merupakan
bahan atap yang baik, pada masa lalu, rumbia bahkan dibudidayakan (dalam kebon-
5
kebon kiray) untuk menghasilkan atap rumbia, dari helai-helai daun ini dapat
dihasilkan semacam tikar yang disebut kajang, kulit pelepah rumbia bisa dihasilkan
tirai.
Tanaman ini berfungsi untuk menstabilkan iklim terutama kalau ditemukan di
areal luas, dapat mengatur banjir di sepanjang sungai, menahan erosi karena
adanya system akar (Tong, 1982).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif.
6
Penelitan deskriftif yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat pecandraan
(deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Peneliti dengan
mengunakan deskriftif memberikan gambaran, merinci dan menganalisa data. Menurut
Bogdan dan Taylor sebagaimana yang telah dikutip oleh ahmad Tanzeh
penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengahasilkan data deskriptif berupa kata-
kata tertulis atau lisan dari sumber informan dan perilaku yang dapat diamati.
Untuk memperoleh data yang lengkap dalam penelitian ini, jenis penelitian
yang peneliti gunakan adalah penelitian lapangan (field research) yaitu suatu
penelitian dengan cara terjun langsung ke tempat penelitian untuk mendapat data yang
berkaitan dengan masalah yang dibahas. Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian
langsung ke Desa Cot Tufah dan mencari data-data yang berkaitan dengan yang akan
peneliti teliti yaitu mengenai Pemanfaatan kulit pelepah rumbia sebagai tirai.

3.2. Data dan Sumber Data


Sumber data adalah tempat, orang atau benda dimana peneliti dapat mengamati,
bertanya atau membaca tentang hal-hal yang berkenaan dengan variabel yang

diteliti. Data dalam penelitian ini adalah semua data atau informasi yang diperoleh
dari para informan yang dianggap paling mengetahui secara rinci dan jelas
mengenai fokus penelitian yang sedang diteliti yaitu mengenai Pemanfaatan kulit
pelepah rumbia sebagai tirai.
Sumber data menurut Suharsimi Arikunto adalah subjek darimana data

diperoleh. Maka sumber data menjelaskan tentang dari mana dan dari siapa data
diperoleh, data apa saja dikumpulkan, bagaimana informan atau subjek tersebut,
dan dengan cara bagaimana data dijaring sehingga validitasnya dapat terjamin.
Sumber data peneliti diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber
data dalam penelitian dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

a. Sumber Data Primer


Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan.
Sumber data primer diperlukan untuk memperoleh data yang akurat terkait penelitian
yang dilakukan oleh peneliti. Dalam penelitian ini sumber data primernya meliputi:
1) Person, yaitu sumber data yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan

7
melalui wawancara. Yang termasuk sumber data ini adalah pihak-pihak yang
terkait. Peneliti melakukan wawancara dengan pihak-pihak tersebut untuk
memperoleh informasi.
2) Place, yaitu sumber data yang diperoleh dari gambaran tentang situasi kondisi
yang langsung berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian. Dalam
hal ini peneliti melihat keadaan atau situasi Desa Cot Tufah Kecamatan
Gandapura Kabupaten Bireuen dimana di desa ini terdapat lahan tanaman
rumbia.
3) Paper, yaitu sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf angka,
gambar atau simbol lain. Data ini berupa para petani desa yang mengolah
pelepah rumbia di Desa Cot Tufah serta data papan monografi desa.

b. Sumber Data Sekunder


Data sekunder adalah sumber yang dapat diperoleh dari bacaan. Atau hasil
pengumpulan dari orang lain dengan maksud tersendiri dan mempunyai kategorisasi
menurut keperluan mereka. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi kamus, buku-
buku tentang hukum Islam dan fiqih yang di dalamnya berkaitan dengan penelitian
ini.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti
untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu pengumpulan data merupakan langkah
yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam
mengumpulkan data agar mendapatkan data yang relevan.
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Prosedur yang digunakan yaitu wawancara,
observasi, dan dokumentasi.
a. Wawancara
Metode wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan
oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan data yang
diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan. Metode ini dipergunakan
untuk memperoleh data secara lisan dari pihak petani Desa Cot Tufah.

8
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan
yang berlangsung satu arah, artinya pertanyaan berasal dari satu pihak yang
mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancarai. Dalam penelitian ini
peneliti melakukan wawancara terhadap beberapa pihak yang berkaitan dengan tema
penelitian.
b. Observasi
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pengamatan langsung atau
observasi sebagai metode pengumpulan data. Menurut Ahmad Tanzeh teknik
observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang

tampak pada objek penelitian. Menurut Guba dan Lincoln yang dikutip Lexy J.
Moleong metode ini dimanfaatkan karena beberapa alasan, yaitu: Pertama, teknik
pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung. Kedua, teknik
pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat
perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Ketiga,
pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan
dengan pengetahuan proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh data.
Keempat, sering terjadi ada keraguan pada peneliti, jangan-jangan pada data yang
dijaringnya ada yang bias. Kelima, teknik pengamatan memungkinkan
peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Keenam, dalam kausa-kausa
tertentu dimana teknik komunikasi lainya tidak memungkinkan pengamatan dapat
menjadi alat yang sangat bermanfaat.

c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah tehnik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-

catatan mengenai data responden. Metode dokumentasi pada penelitian ini digunakan
untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan latar objek penelitian yang
didokumentasikan dan kemungkinan dokumen lain yang diperlukan untuk menunjang
data penelitian yang sesuai dengan pokok masalah.

3.4 Tehnik Analisis Data


Analisis data kualitatif juga disebut teknik analisis non statistik, yaitu teknik
analisis yang digunakan untuk mengolah data- data yang tidak berkaitan langsung
dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif dengan
9
menggunakan proses berfikir untuk mengatasi data-data menyangkut latar belakang
objek. Sifat analisis dalam penelitian kualitatif adalah penguraian apa adanya
fenomena yan terjadi (deskriptif) disertai penafsiran terhadap arti yang terkandung
dibalik yang tampak(interpretif).
Analisis data, menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip Lexy J. Moleong,
mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci secara formal untuk
menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data
dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema yang dikaji itu.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan analisis interpretif dengan
mengandalkan daya imajinasi, intuisi dan daya kreasi penelitian dalam proses
yang disebut refleksi dalam menangkap makna dari objek penelitian. Tujuan
analisis tersebut adalah untuk menemukan makna peristiwa yang ada pada objek
penelitian dan mengnterpretasikan makna dari hal yang diteliti. Data-data yang
nantinya diperoleh dari penelitian tentang pemanfaatan kulit pelepah rumbia sebagai
tirai akan dianalisis dan ditafsirkan kedalam kata-kata atau penjelasan yang bisa
dipahami dengan jelas oleh orang lain, untuk kemudian disajikan secara tertulis dalam
bentuk laporan penelitian.

BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Usaha Tirai Rumbia

10
Usaha Tirai rumbia merupakan industri skala rumah tangga yang bergerak pada
usaha pembuatan tirai dari kulit pelepah rumbia. Usaha ini didirikan pada tahun 2012
oleh Bapak Asnawi yang beralamat di Desa Cot Tufah Kecamatan Gandapura
Kabupaten Bireuen. Latar belakang berdirinya usaha berawal dari pemilik yang
mempunyai keahlian membuat tirai, sehingga dari keahlianya dan dengan tekat yang
kuat untuk berwirausaha maka beliau mencoba untuk mendirikan usaha tirai. Pada awal
usaha ini berdiri Bapak Asnawi dibantu oleh keluarga sebagai sumber modalnya dan
memiliki 4 orang tenaga kerja. Alat-alat produksi yang dimilikinya masih bersifat
tradisional dan hanya mampu memproduksi 5 lembar. Hasil dari produksinya, beliau
sendiri yang mendistribusikan, Hal ini dikarenakan keterbatasan modal yang
dimilikinya. Dengan bertambahnya modal dan semakin dikenalnya usaha tirai oleh
konsumen, maka beliau memperluas usahanya agar produksinya efisien dan semakin
meningkat.

4.2. Proses Produksi

Proses pembuatan tirai dimulai dari menyiapkan bahan baku utama yaitu kulit
pelepah rumbia yang sudah tua agar bisa bertahan lama, kemudian dipotong sesuai
keinginan ukuran, selanjutnya pelepah rumbia dicuci bisa mengunakan pengosok kertas
pasir agar kotoran dan jamur yang menempel bersih. Kulit Pelepah rumbia di belah
menjadi ukuran kecil-kecil kira-kira 2 cm. Proses ini lumayam sulit kita harus teliti
saat membagi pelepah rumbia menjadi ukuran-ukuran kecil agar ukurannya sama.
Penjemuran pelepah rumbia sampai warna pelepah rumbia menjadi kecoklatan. Waktu
yang dibutuhkan untuk penjemuran dapat mencapai empat hari atau lebih tergantung
cuaca. Proses pengerjaan kulit pelepah rumbia yang telah dijemur kemudian diraut
menjadi lebih tipis dan pinggirannya ditumpulkan menggunakan parang. Perautan ini
akan membuat bilah kulit pelepah rumbia mudah untuk dianyam. Selanjutnya
perangkaian tirai bambu, Potongan potongan pelepah rumbia yang telah disiapkan
sebelumnya kemudian di anyam menggunakan tali tambang atau rotan. Khusus
pengerjaan ini menggunakan tali tambang kecil. Penyusunan bilah kulit pelepah rumbia
harus rapi dan tersusun dengan baik agar tirai yang dihasilkan memiliki kualitas yang
baik. Panjang tirai kulit pelepah rumbia dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam
produksi ini dibuat sepanjang 2 meter. Jarak antar tali dapat berupa 30 cm. Makin kecil
jaraknya makin bagus. Jangan lupa untuk mendobel bilah rumbia di setiap sisi terluar
11
tirai rumbia. Rapikan pula pinggiran rumbia menggunakan parang. Tirai rumbia yang
telah jadi dapat diberi finishing berupa pernis maupun cat. Kami biasanya memasarkan
produk ini ke toko toko furniture maupun dibawa berkeliling langsung.

4.3 Analisa Biaya Produksi

Biaya produksi meliputi biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap
merupakan biaya yang dikeluarkan oleh usaha produksi tirai pekepah rumbia dalam
memproduksi tirai namun biaya tersebut tidak dipengaruhi oleh banyak ataupun sedikit
jumlah produksi. Biaya tetap meliputi biaya penyusutan alat dan sewa tempat.Sementara
biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan oleh usaha tirai pelepah rumbia
dalam memproduksi tirai namun biaya tersebut dipengaruhi oleh banyak ataupun
sedikit jumlah produksi. Biaya tidak tetap meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
dan biaya bahan penunjang.

4.3.1 Biaya Tetap (Fixed Cost)


Biaya tetap merupakan biaya yang jumlah totalnya tetap dalam
kisaran volume kegiatan produksi tirai pelepah rumbia. Dalam melakukan proses
produksi pembuatan tirai pelepah Rumbia yang termasuk biaya tetap adalah penyusutan
peralatan yang digunakan, yang dihitung berdasarkan umur ekonomis masing-masing
peralatan. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak
tergantung dari besar kecilnya produksi yang dihasilkan. Faktor-faktor yang menjadi
biaya tetap pada Usaha tirai pelepah rumbia antara lain biaya peralatan, biaya
penyusutan peralatan, dan biaya-biaya lain-lain.

4.3.2 Biaya tidak tetap


Biaya tidak tetap adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding
dengan perubahan kegiatan, dimana sama seperti biaya tetap setiap usaha memiliki
variabel yang berbeda-beda. Faktor-faktor biaya yang menjadi biaya variabel yaitu
biaya tenaga kerja dan biaya bahan baku yang digunakan selama proses produksi. Usaha
tirai kulit pelepah Rumbia Milik Bapak Asnawi melakukan proses produksi 10 kali
selama 1 bulan. Adapun faktor-faktor biaya yang menjadi biaya variabel pada usaha
Usaha tirai pelepah rumbia adalah sebagai berikut :

12
a. Biaya Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan Usaha Produksi Tirai
dari kulit pelepah Rumbia Milik Bapak Asnawi terdiri dari pelepah Rumbia yang
menjadi bahan utama pembuatan tirai.
b. Biaya Tenaga Kerja
Usaha Tirai pelepah Rumbia milik Bapak Asnawi menggunakan 10 orang tenaga
kerja tetap di bagian anyaman dan 3 orang tenaga kerja lepas bagian persediaan
bahan baku pelepah rumbia. Sistem upah tenaga kerja yang diterapkan di usaha tirai
Rumbia adalah sistem harian, yaitu upah yang diberikan per kegiatan produksi.

c. Biaya Lain
Biaya lain-lain merupakan biaya penunjang untuk kegiatan produksi Usaha Tirai
pelepah Rumbia milik Bapak Asnawi. Biaya tersebut terdiri atas biaya bensin,
perawatan mobil dan perawatan bangunan.

4.3.3 Biaya Total


Biaya total merupakan penjumlahan dari biaya tetap (Fixed Cost) dan biaya tidak tetap
(variabel Cost) pada usaha tirai pelepah rumbia milik Bapak Asnawi yang dikeluarkan
dalam satu tahun. Penjumlahan Biaya tersebut dapat dilihat sebagai berikut (Soekartawi,
2006):
TC = TFC+TVC
Ket :
TC : Biaya Total
TFC : Biaya Tetap
TVC : Biaya Tidak tetap

Tabel Rata-rata biaya yang dikeluarkan dalam satu tahun


No Uraian Biaya/Bulan Biaya/Tahun
1 Biaya Bahan Baku 8.327.500
2 Biaya Tenaga Kerja 27.672.500
3 Baiya Lain-lain - -
Jumlah Biaya - 36.000.000

13
4.3.4 Analisis Pendapatan Pada Usaha Tirai Pelepah Rumbia

Hasil produksi yang dihasilkan pada usaha pengolahan bahan baku


pelepah rumbia adalah tirai rumbia sebagai satu-satunya produk yang diproduksi. Total
pendapatan pada usaha tirai pelepah rumbia merupakan hasil perkalian antara jumlah
total produk dengan Harga/produk. Gambaran mengenai Pendapatan pada usaha tirai
pelepah rumbia Bapak Asnawi dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

Tabel 1. Rata-rata Total Pendapatan pada usaha tirai pelepah rumbia Bapak
Asnawi dalam satu Tahun.

No Uraian Jumlah
1 Produksi tirai/Produksi (Lembar) 50.000
2 Harga jual/Lembar (Rp) 120.000
3 Pendapatan/Produksi (Rp) 350.000
4 Pendapatan/Bulan (Rp) 10.500.000
5 Pendapatan/Tahun (Rp) 126.000.000
Sumber : data Primer (diolah), 2019

4.3.5 Analisis Kelayakan Usaha (B/C Rasio)


Analisa imbangan antara keuntungan dengan total biaya merupakan suatu
pengujian kelayakan pada suatu jenis usaha. Kriteria yang digunakan dalam
analisis ini adalah apabila nilai B/C > 0 maka usaha tersebut dikatakan untung dan
layak untuk dijalankan, karena besarnya pendapatan lebih besar dari biaya yang
dikeluarkan, begitu juga sebaliknya perhitungan hasil analisa pendapatan atas biaya
(B/C) dapat dilihat sebagai berikut:
Analisis Kelayakan Usaha= B/C …………………….. (Soekartawi, 2011)

Keterangan:

B = Total Pendapatan
C = Total Biaya Produksi

Dimana kriteria yang digunakan dalam analisis ini adalah:

B/C > 1, maka usaha dikatakan untuk dan layak dijalankan


B/C = 1, maka usaha dikatakan impas atau tidak memiliki laba dan rugi

14
B/C < 1, maka usaha dikatakan rugi atau tidak layak dijalankan

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada usaha Tirai pelepah Rumbia milik Bapak
Asnawi di atas penulis menarik beberapa kesimpulan yaitu Rata-rata pendapatan pada
Usaha tirai pelepah Rumbia milik Bapak Asnawi adalah Rp.126.000.000/tahun dengan
biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp. 36.000.000/tahun. Biaya produksi
tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 8.327.500 dan biaya tidak tetap
sebesar Rp.27.672.500. Dari hasil analisa data, didapatkan bahwa keuntungan yang
15
diperoleh pada tirai pelepah Rumbia milik Bapak Asnawi sebesar Rp.
90.000.000/tahun. Berdasarkan perhitungan kelayakan usaha (B/C), yaitu perbandingan
total pendapatan dengan total biaya produksi yang lebih besar dari satu, yaitu
memiliki angka perbandingan 3,05, atau 3,05 > 0, maka dapat disimpulkan
bahwa usaha tirai pelepah Rumbia milik Bapak Asnawi ini dapat dikatakan
menguntungkan dan layak dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA

Astiko, A. 20011. Managemen Strategi. Malang. UNMER-Malang.

Chandra, Gregorius. 20011. Pemasaran Global. Yogyakarta.

Darmayani. 2014. Strategi Pemasaran Kerajinan Buah Kering Untuk Meningkatkan


Nilai Ekspor Pada Ud. Indo Nature, Lombok–NTB”. Fakultas Ilmu Administrasi
Universitas Brawijaya Malang.

Fatriani, 2010. Analisis Pendapatan dan Pemasaran Atap Rumbia (Metroxylon sagu
Rottb) di Desa Jambu Hulu Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu
Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian

16
Amuntai Tidore.
Heyne, K. 2012. Tumbuhan Berguna Indonesia I, Badan LitBang Dep.Kehutanan,
Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

Kotler dan Keller. 2007. Manajemen Pemasaran. Jilid 2. Penerbit PT. Indeks.
Jakarta.

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta. Prehalindo

Lupiyoadi. 2006. Manajemen Pemasaran Jasa (Edisi 2). Penerbit Salemba


Empat. Jakarta.

Mahardhika. 2014. Strategi Pemasaran Produk Kerajinan Anyaman Enceng Gondok Di


Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jurnal Sekolah
Tinggi Ilmu Pertanian Amuntai. Malang.

Rangkuti, F. 2006. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT.


Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Salam, W.A, 2008. Sagu Tanaman Alternatif untuk Memanfaatkan


Lahan Rawa Pasang Surut Sebagai Lumbung Pangan. Buletin Pertanian Th IV
(19).

Soekartawi. 2006. Analisis Usaha Tani. Jakarta : UI Press

Stanton. 2007. Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.

Supranto dan Nandan. 2007. Statistika Untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi Revisi.
Rineka Cipta. Jakarta.

Swatha dan Handoko. 2008. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty. Yogyakarta.

Tjiptono. 2008. Manajemen Pelayanan Jasa. Penerbit Andi. Yogykarta.

Yudoseputro, Wiyoso. 2010. Seni Kerajinan Indonesia, Direktorat Pendidikan


Menengah Kejuruan, Dirjen P&K.

FOTO KEGIATAN OBSERVASI LAPANGAN

17
18
19
20