Anda di halaman 1dari 91

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

S DENGAN ABSES
MANUS DI RUANG FLAMBOYAN B
RSUD Dr.KANUDJOSO DJATIWIBOWO BALIKPAPAN
TAHUN 2019
Dosen Pembimbing :

Ns. Siti Nuryanti, S.Kep, M.Pd

Rus Andraini, A.Kp, M.PH

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3

1. Bella Febrianti (P07220117044) 6. Reischa Delfi O (P07220117069)


2. Hanifah Fauziah A (P07220117050) 7. Samudra Nur K (P07220117071)
3. Hary Handhika P (P07220117051) 8. Sundari Rizky Y (P07220117074)
4. Jessyca Dumanauw (P07220117055) 9. Nelvia Ivanka (P07220117061)
5. Novia Puspita Sari (P07220117064) 10. Rusdiyati (P07220116114)
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALTIM

PRODI D-III KEPERAWATAN BALIKPAPAN

TAHUN 2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah seminar kasus KMB II dengan judul “Asuhan Keperawatan
pada klien dengan Abses Manus Sinistra” di ruangan Flamboyan B dr.Kanudjoso
Djatiwibowo Balikpapan Kalimantan Timur dan kami berterima kasih kepada :

1. Direktur Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Kalimantan


Timur
2. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr.Kanudjoso Djatiwibowo
Balikpapan
3. Kepala ruangan dan Clinical Instructure di lahan praktik Rumah sakit
Umum Daerah dr.Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan
4. Ketua jurusan D-III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Kalimantan Timur
5. Ketua Prodi Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan
Kalimantan Timur
6. Penanggung jawab D-III Keperawatan Kelas Balikpapan
7. Dosen pembimbing praktek KMB II
8. Dosen Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur dan staff
9. Rekan Keperawatan angkatan baik sekelompok maupun yang lain

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Kami menyadari bahwa dalam seminar kasus ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan seminar kasus yang kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.

Semoga seminar kasus ini dapat dipahami bagi siapapun yang membaca
nya, sekiranya tugas yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun yang membacanya. Sebelumnya kami memohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran
yang membangun demi perbaikan seminar kasus ini .

Balikpapan

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................1
DAFTAR ISI.................................................................................................................2
HALAMAN PERSETUJUAN.....................................................................................4
BAB I............................................................................................................................5
PENDAHULUAN........................................................................................................5
A. Latar Belakang.......................................................................................................5
B. Rumusan Masalah..................................................................................................6
C. Tujuan....................................................................................................................6
D. Sistematika penulisan.............................................................................................7
BAB II..........................................................................................................................8
PEMBAHASAN...........................................................................................................8
A. Konsep Dasar Penyakit..........................................................................................8
1. Definisi...............................................................................................................8
2. Anatomi Fisiologi...............................................................................................8
3. Etiologi.............................................................................................................12
4. Manifestasi Klinis............................................................................................13
5. Patofisiologis....................................................................................................14
6. Pathway............................................................................................................16
7. Pemeriksaan Penunjang....................................................................................17
8. Penatalaksanaan...............................................................................................17
9. Komplikasi.......................................................................................................17
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.....................................................................18
1. Pengkajian........................................................................................................18
2. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul...................................................18
3. Intervensi..........................................................................................................19
BAB III.......................................................................................................................22
TINJAUAN KASUS..................................................................................................22
BAB IV.......................................................................................................................95
PENUTUP..................................................................................................................95
A. Kesimpulan..........................................................................................................95
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................96
HALAMAN PERSETUJUAN

Judul kasus : Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn.S Dengan Abses Manus
Sinistra Di Ruang Flamboyan B RSUD Kanudjoso Djatiwibowo
Balikpapan Tahun 2019

Kelompok : Kelompok 3 (Mhs SMT V JALUR UMUM REGULER)

Prodi : D-III Keperawatan Samarinda Kelas Balikpapan

Laporan kasus ini telah dipersetujui untuk diseminarkan di hadapan Pembimbing


CI RSKD BALIKPAPAN dan Dosen pembimbing Politeknik Kesehatan
Kementrian Kesehatan Kalimantan Timur Jurusan Keperaawatan

Prodi D-III Keperawatan Kelas Balikpapan

Pada Tanggal Oktober 2019

Menyetujui,

CI Flamboyan B RSKD Balikpapan Dosen Pembimbing

( ) ( )

NIP. NIP.
Mengetahui ,

Penanggung Jawab

D-III Keperawatan Kelas Balikpapan

Ns. Grace Carol S, M.Kep.,Sp.Kep.Mat

NIP.195708121979092001

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sepanjang sejarah manusia, jutaan orang dilaporkan meninggal
dunia akibat infeksi bakteri. Infeksi dapat menular dari satu orang ke orang
lain atau dari hewan ke manusia. Secara umum disebabkan oleh empat
kelompok besar hama penyakit yaitu bakteri, jamur, virus, dan parasite
(Jawetz et al, 2001). Di Negara berkembang angka kematiannya mencapai
39,5 juta, lebih dari 25% disebabkan oleh penyakit infeksi dan parasite.

Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil


yang telah mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena
adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena
adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum suntik).
Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah
infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
(Siregar, 2004).
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat
suatu infeksi bakteri.Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat,
maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan
rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi.

Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam


melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan
bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang
membentuk nanah, yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan
nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong. Jaringan pada
akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses;
hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi
lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam, maka infeksi bisa menyebar
di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada
lokasi abses.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses adalah


suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena
adanya benda asing (misalnya luka peluru maupun jarum suntik) dan
mengandung nanah yang merupakan campuran dari jaringan nekrotik,
bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim
autolitik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas maka
rumusan masalah diatas adalah Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Tn.
S Dengan Abses Manus Sinistra Di Ruang Flamboyan B RSUD
Dr.Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan Tahun 2019

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kasus
Tn. S dengan Abses Manus Sinistra secara rinci dan mendalam yang
ditekankan pada aspek Abses Manus Sinistra Di Ruang Flamboyan B
RSUD Dr.Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan Tahun 2019
2. Tujuan Khusus
a. Mengkaji klien Tn. S Abses Manus Sinistra Di Ruang Flamboyan
B RSUD Dr.Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan Tahun 2019
b. Menegakkan diagnosis keperawatan klien Tn. S Abses Manus
Sinistra Di Ruang Flamboyan B RSUD Dr.Kanudjoso
Djatiwibowo Balikpapan Tahun 2019
c. Menyusun perencanaan keperawatan klien Tn. S Abses Manus
Sinistra Di Ruang Flamboyan B RSUD Dr.Kanudjoso
Djatiwibowo Balikpapan Tahun 2019
d. Melaksanakan intervensi keperawatan Tn. S Abses Manus
Sinistra Di Ruang Flamboyan B RSUD Dr.Kanudjoso
Djatiwibowo Balikpapan Tahun 2019
e. Mengevaluasi klien Tn. S Abses Manus Sinistra Di Ruang
Flamboyan B RSUD Dr.Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan
Tahun 2019

D. Sistematika penulisan
BAB I Pendahuluan :
Terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Dan Sistematika
Penulisan
BAB II Tinjauan Teori :
Terdiri dari Pengertian, Anatomi Fisiologi, Etiologi, Patofisiologi,
Pathway, Tanda Dan Gejala, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan
Medis, Komplikasi dan Konsep Dasar Keperawatan.
BAB III Penutup :
Terdiri dari Kesimpulan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi
Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil
yang telah mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena
adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena
adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum
suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk
mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain.
Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong
berisi nanah. (Siregar, 2004)
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai
akibat dari infeksi yang melibatkan organisme piogenik, nanah
merupakan suatu campuran dari jaringan nekrotik, bakteri, dan sel
darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik.
(Morison, 2003)
Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik “mata”, yang
kemudian pecah, rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena
fibrosis, meninggalkan jaringan parut yang kecil. (Underwood, 2000)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa abses adalah
terbentuknya kantong berisi nanah pada jaringan kutis dan subkutis
akibat infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri/parasit atau karena
adanya benda asing.
2. Anatomi Fisiologi
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar
tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit
beratnya sekitar 16% berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 –
3,6kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit
bervariasi mulai 0,5 - 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis
kelamin. Kulit tipis seperti : kelopak mata, penis, labium minus dan
kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal seperti pada
telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong.

Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, yaitu :

a. Lapisan luar adalah epidermis yang merupakan Lapisan epitel


berasal dari ectoderm
b. Lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau
korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas
sampai yang terdalam), yaitu :

a. Stratum Korneum (lapisan tanduk)


Merupakan lapisan epidermis paling atas, terdiri atas
beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak mengalami
proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit
mengandung air. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas
dan berganti.
b. Stratum Lusidum (lapisan bening)
Disebut juga lapisan barrier terletak dibawah lapisan tanduk
dengan lapisan berbutir. Lapisan bening terdiri dari protoplasma
sel-sel jernih yg kecil - kecil, tipis, dan bersifat translusen sehingga
dapat dilewati sinar (tembus cahaya). Lapisan ini sangat tampak
jelas pada telapak tangan dan telapak kaki.
c. Stratum Granulosum (lapisan berbutir)
Tersusun oleh sel-sel keratonosit berbentuk kumparan yang
mengandung butir - butir di dalam protoplsmanya, berbutir kasar
dan berinti mengkerut. Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit
telapak tangan dan telapak kaki.

d. Stratum Spinosum (lapisan bertaju)


Disebut juga lapisisan malphigi terdiri atas sel-sel yang
saling berhubungan dengan perantaraan jembatan-jembatan
protoplasma berbentuk kubus. Jika selsel lapisan saling berlepasan,
maka seakan-akan selnya bertaju. Setiap sel berisi filamen-filamen
kecil yang terdiri atas serabut protein. Sel-sel pada lapisan taju
normal, tersusun menjadi beberapa baris.
e. Stratum Basale /Stratum Germinativum (lapisan benih)
Merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu
baris sel torak (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap
permukaan dermis. Alas selsel torak ini bergerigi dan bersatu
dengan lamina basalis di bawahnya. Lamina basalis yaitu struktur
halus yang membatasi epidermis dengan dermis. Terdapat aktifitas
mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel
epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari
untuk migrasi kepermukaan, hal ini tergantung letak, usia dan
faktor lain. Merupakan satu lapis sel yg mengandung melanosit.

Epidermis mempunyai fungsi sebagai berikut, yaitu :

a. Proteksi barrier
b. Organisasi sel
c. Sintesis vitamin D dan sitokin
d. Pembelahan dan mobilisasi sel
e. Pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans).

Dermis merupakan bagian yang paling penting di kulit yang


sering dianggap sebagai “True Skin” karena 95% dermis membentuk
ketebalan kulit. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis
dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi,
yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Kulit jangat atau
dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan kandung
rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit atau kelenjar minyak,
pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, dan otot penegak rambut
(muskulus arektor pili).

Lapisan Dermis terdiri dua lapisan, yaitu :

a. Lapisan papiler, tipis mengandung jaringan ikat jarang.


b. Lapisan retikuler, tebal terdiri dari jaringan ikat padat

Subkutis merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis


yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang
menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya.
Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan
keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis
untuk regenerasi.
Subkutis/hipodermis mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Melekat ke struktur dasar
b. Isolasi panas
c. Cadangan kalori
d. Kontrol bentuk tubuh
e. Mechanical shock absorber.

Suplai darah dan nutrisi untuk kulit diperoleh dari arteri yang
membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis
dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil
meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis tiap papilla
dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Pada epidermis
tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis
melalui membran epidermis pembuluh darah kulit.
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh,
yaitu :
a. Memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan
b. Sebagai barier infeksi
c. Mengontrol suhu tubuh (termoregulasi)
d. Sensasi
e. Eskresi
f. Metabolisme.

Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan


dan elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi
mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu
fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran
saraf seperti pada daerah bibir, putting dan ujung jari. Kulit berperan
pada pengaturan suhu & keseimbangan cairan elektrolit. Termoregulasi
dikontrol oleh hipothalamus. Temperatur perifer mengalami proses
keseimbangan melalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan
mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi
pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi
pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan
melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat
meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun,
pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan
mempertahankan panas.

3. Etiologi
Menurut Siregar (2004) suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan
abses melalui beberapa cara :

a. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari


tusukan jarum yang tidak steril
b. Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
c. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh
manusia dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa
menyebabkan terbentuknya abses.

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

a. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya


infeksi
b. Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
c. Terdapat gangguan sistem kekebalan
d. Bakteri tersering penyebab abses adalah Staphylococus Aureus

4. Manifestasi Klinis
Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk paru-
paru, mulut, rektum, dan otot. Abses yang sering ditemukan di dalam
kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika timbul di wajah.

Menurut Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung


kepada lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf.
Gejalanya bisa berupa:

a. Nyeri
b. Nyeri tekan
c. Teraba hangat
d. Pembengkakan
e. Kemerahan
f. Demam

Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya


tampak sebagai benjolan. Adapun lokasi abses antara lain ketiak,
telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat
benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses
di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih
tumbuh lebih besar. Paling sering, abses akan menimbulkan Nyeri
tekan dengan massa yang berwarna merah, hangat pada permukaan
abses, dan lembut.
5. Patofisiologis
Jika bakteri masuk ke dalam jaringan yang sehat, maka akan
terjadi suatu infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan
rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah
putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi,
bergerak kedalam rongga tersebut, dan setelah menelan bakteri, sel
darah putih akan mati, sel darah putih yang mati inilah yang
membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut.

Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya


akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan
menjadi dinding pembatas. Abses dalam hal inimerupakan mekanisme
tubuh mencegah penyebaran infeksi lanjut. Jika suatu abses pecah di
dalam tubuh, maka infeksi bias menyebar kedalam tubuh maupun
dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses.

Leukositosis secara umum merupakan peningkatan jumlah


leukosit dalam darah. Leukosit terdiri atas enam sel, yaitu netrofil
polimorfonuklear, basophil polimorfonuklear, monosit, limfosit, dan
sel plasma. Leukosit merupakan sel darah yang berperan dalam tubuh
untuk menangkal berbagai agen-agen infeksi, seperti virus dan bakteri.

Dalam proses infeksi, peningkatan sel-sel leukosit akan terjadi


karena tubuh mencoba mengompensasi kerusakan jaringan akibat
infeksi tersebut. Sel-sel polimorfonuklear dari leukosit (granulosit)
yang dilepaskan dari sumsum tulang normalnya memiliki masa hidup
empat sampai delapan jam dalam sirkulasi darah dan empat sampai
lima hari berikutnya dalam jaringan yang membutuhkan. Dalam
infeksi yang lebih berat, granulosit akan bekerja lebih cepat di jaringan
yang terinfeksi dan masa hidup dari granulosit akan menurun drastis.

Oleh karena itu, selama infeksi terjadi akan terjadi mekanisme


yang mendorong pembuatan leukosit untuk meningkatkan jumlah
leukosit guna menyokong penanggulangan infeksi. Peningkatan dari
sel-sel leukosit inilah yang disebut dengan leukositosis dan hal ini
menjadi salah satu indikasi terjadinya infeksi.

Jika ada agen infeksi masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan


peradangan, makrofag, yang berasal dari monosit, di jaringan yang
terinfeksi akan menjadi lini pertahanan pertama melawan agen infeksi
tersebut selama beberapa jam. Makrofag kemudian akan dibantu oleh
netrofil yang menginfiltrasi jaringan yang terinfeksi sebagai lini
pertahanan kedua.

Lalu kemudian menyusul monosit yang juga menginfiltrasi


jaringan dengan membengkak dan berubah menjadi makrofag sebagai
lini pertahanan ketiga. Lini pertahanan keempat adalah peningkatan
hebat produksi granulosit dan monosit oleh sumsum tulang dan terjadi
leukositosis. Hal ini disebabkan oleh rangsangan-rangsangan yang
berasal dari makrofag yang berada di jaringan yang terinfeksi. Hal ini
menunjukkan bahwa jika terjadi leukositosis, infeksi yang telah terjadi
sudah cukup parah.

6. Pathway
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium : Peningkatan jumlah sel darah putih.
b. Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dilakukan pemeriksaan
rontgen, USG, CT Scan, atau MRI.

8. Penatalaksanaan
Menurut Morison (2003), Abses luka biasanya tidak
membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik. Namun
demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan intervensi bedah,
debridement dan kuretase. Suatu abses harus diamati dengan teliti
untuk mengidentifikasi penyebabnya, terutama apabila disebabkan
oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus diambil. Apabila
tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu dipotong dan
diambil absesnya, bersamaan dengan pemberian obat analgetik dan
antibiotik. Drainase abses dengan menggunakan pembedahan
diindikasikan apabila abses telah berkembang dari peradangan serosa
yang keras menjadi tahap nanah yang lebih lunak. Drain dibuat
dengan tujuan mengeluarkan cairan abses yang senantiasa diproduksi
bakteri. Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area
yang kritis, tindakan pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan
sebagai tindakan terakhir yang perlu dilakukan. Memberikan kompres
hangat dan meninggikan posisi anggota gerak dapat dilakukan untuk
membantu penanganan abses kulit.

9. Komplikasi
Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses ke
jaringan sekitar atau jaringan yang jauh dan kematian jaringan
setempat yang ekstensif (gangren). Pada sebagian besar bagian tubuh,
abses jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tindakan
medis secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan
adanya abses. Suatu abses dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal.
Meskipun jarang, apabila abses tersebut mendesak struktur yang vital,
misalnya abses leher dalam yang dapat menekan trakea. (Siregar,
2004)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Identitas
Abses bisa menyerang siapa saja dan dari golongan usia
berapa saja, namun yang paling sering diserang adalah bayi dan
anak-anak.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Nyeri, panas, bengkak, dan kemerahan pada area abses.
2) Riwayat kesehatan sekarang
a) Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali,
sedangkan abses dalam seringkali sulit ditemukan.

b) Riwayat trauma, seperti tertusuk jarum yang tidak steril


atau terkena peluru, dll.
c) Riwayat infeksi (suhu tinggi) sebelumnya yang secara
cepat menunjukkan rasa sakit diikuti adanya eksudat tetapi
tidak bisa dikeluarkan.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit menular dan kronis, seperti TBC dan
diabetes mellitus.
4) Pemeriksaan fisik

2. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul


a. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi atau insisi
pembedahan
b. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
c. Kerusakan Intergritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan.
d. Resiko Infeksi berhubungan dengan luka terbuka
3. Intervensi
a. Nyeri berhubungan dengan reaksi peradangan/insisi pembedahan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.
Kriteria Hasil :
- Klien mengungkapkan secara verbal rasa nyerinya berkurang
- Klien dapat rileks, klien mampu mendemonstrasikan
keterampilan relaksasi dan aktivitas sesuai dengan
kemampuannya
- TTV dalam batas normal ; TD : 120 / 80 mmHg, Nadi : 80 x /
menit, pernapasan : 20 x / menit.

Intervensi:

1) Observasi Tanda – tanda Vital


Rasional : Sebagai data awal untuk melihat keadaan umum
klien
2) Kaji skala, lokasi, dan karakteristik nyeri.
Rasional : Sebagai data dasar mengetahui seberapa hebat nyeri
yang dirasakan klien sehingga mempermudah intervensi
selanjutnya
3) Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
Rasional : Reaksi non verbal menandakan nyeri yang
dirasakan klien hebat
4) Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi.
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien
dengan non farmakologis
5) Kolaborasikan obat analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Mempercepat penyembuhan terhadap nyeri
b. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
hipertermi dapat teratasi.
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal (36 0 C – 37 0C).
Intervensi :

1) Observasi TTV, terutama suhu tubuh klien.


Rasional : Untuk data awal dan memudahkan intervensi
2) Anjurkan klien untuk banyak minum, minimal 8 gelas / hari.
Rasional : Untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan tubuh
dari demam
3) Lakukan kompres hangat.
Rasional : Membantu vasodilatasi pembuluh darah sehingga
mempercepat hilangnya demam
4) Kolaborasi dalam pemberian antipiretik.
Rasional : Mempercepat penurunan demam

c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan


Tujuan : Dapat tercapainya proses penyembuhan luka tepat waktu.
Kriteria hasil :
- Luka bersih, tidak bau
- Tidak ada pus/secret
- Edema disekitar luka berkurang.

Intervensi :
1) Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.
Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses
penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan
selanjutnya.
2) Rawat luka dengan baik dan benar dengan teknik aseptic
Rasional : Merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga
kontaminasi luka.
3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti biotik.
Rasional : Menghilangkan infeksi penyebab kerusakan
jaringan.

d. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka terbuka


Tujuan : Penyebaran infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil : Klien bebas tanda dan gejala penyebaran infeksi
Intervensi :

1) Observasi tanda-tanda infeksi


Rasional : Deteksi dini terhadap infeksi
2) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dan antiseptic
Rasional : Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan
penyebaran bakteri
3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotic
Rasional : Menghilangkan infeksi penyebab kerusakan
jaringan.
BAB III

TINJAUAN KASUS

FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tanggal MRS : 8 Oktober 2019

Tanggal Pengkajian : 8 Oktober 2019

Jam Pengkajian : 13. 30 WITA

Jam Masuk : 13. 00 WITA

No. RM : xx.xx.xx

Diagnosa Masuk : Abses Manus (S) + DM Type II, Riwayat penyakit Morbus
Hansen

IDENTITAS

1. Nama Pasien : Tn. S Penanggung jawab biaya : Paman


2. Tanggal lahir : 8 Agustus 1979 Nama : Tn. M
3. Suku Bangsa : Jawa Alamat : xxxx
4. Agama : Islam
5. Pendidikan : SLTA
6. Pekerjaan : Swasta
7. Alamat : xxxx
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

1. Keluhan Utama : Nyeri pada punggung tangan

2. Keluhan Penyakit Sekarang :


Pasien mengatakan nyeri di tangan kiri, kurang lebih 1 minggu, 3 hari sebelum
di rujuk merasakan bengkak di tangannya dan tampak kemerahan, setelah itu
hari selasa, 08 Oktober 2019 pasien dirujuk dari puskesmas pukul 09.00 pagi
ke Poli Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo, setelah dari poli pasien langsung
menuju ruang rawat inap ruang Flamboyan B kamar 7 pada pukul 13.00
WITA

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

1. Pernah dirawat  ya tidak kapan: Mei


diagnosa: DM Tipe II


2. Riwayat penyakit kronik dan menular ya tidak
jenis: Morbus Hensen
Riwayat kontrol : 1 Bulan Sekali
Riwayat penggunaan obat : Metformin 500 mg 3x1

3. Riwayat alergi ya  tidak jenis: -


4. Riwayat operasi ya tidak kapan: Mei 2019

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


ya tidak

GENOGRAM

= Pasien
= Laki-Laki
= Perempuan
= Laki-laki meninggal
= Perempuan meninggal

PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN

Perilaku sebelum sakit yang mempengaruhi kesehatan

Alkohol ya Tidak 

Keterangan

Merokok ya Tidak 

Keterangan

Obat ya Tidak 

Keterangan
Olahraga ya  Tidak

Keterangan

OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum :
Posisi pasien : Supinasi

Alat medis/ invasif yang terpasang : Vemplon

Tanda klinis yang mencolok : ( - ) sianosis ( - ) perdarahan

Sakit ringan  Sakit sedang Sakit berat

2. Kesadaran:
Kualitatif :

 Compos Mentis Apatis Somnolen Sopor Koma

Kuantitatif : GCS : E4 M6 V5

Tabel 1: Skor Pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale)

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

3. Pemeriksaan Tanda Tanda Vital


S : 36.5 C N:101x/menit TD : 140/80 mmHg RR : 20x/menit

Tekanan sistolik + (2 x tekanan diastolik)


MAP : = 87 mmHg

4. Kenyamanan/nyeri
Nyeri ya  Tidak

P : Provokatif dan palliatif: Pasien mengatakan nyeri karena luka pada


punggung tangan kiri

Q : Quality dan Quantitas:Pasien mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk

R : Regio :Pasien mengatakan nyeri daerah punggung tangan kiri

S : Severity:Skala nyeri 4

T : Time :Pasien mengatakan nyeri hilang timbul

Masalah Keperawatan : NYERI AKUT B.D AGEN PENCEDERA


FISIOLOGIS

5. Status Fungsional/Aktivitas dan Mobilisasi Barthel Indeks


No Fungsi Skor Uraian Nilai
Skor

1. Mengendalikan 0 Tak terkendali/tak teratur (perlu


rangsang defekasi pencahar)
(BAB) 1 Kadang-kadang tak terkendali

2 Mandiri 2
2. Mengendalikan 0 Tak terkendali/pakai kateter
rangsang berkemih 1 Kadang-kadang tak terkendali (1 x 24
(BAK) jam)

2 Mandiri 2

3. Membersihkan diri 0 Butuh pertolongan orang lain


(cuci muka, sisir 1 Mandiri 1
rambut, sikat gigi)

4. Penggunaan jamban, 0 Tergantung pertolongan orang lain


masuk dan keluar 1 Perlu pertolongan pada beberapa
(melepaskan, kegiatan tetapi dapat mengerjakan
memakai celana, sendiri kegiatan yang lain
membersihkan,
2 Mandiri 2
menyiram)

5. Makan 0 Tidak mampu

1 Perlu ditolong memotong makanan

2 Mandiri 2

6. Berubah sikap dari 0 Tidak mampu


berbaring ke duduk 1 Perlu banyak bantuan untuk bisa duduk
(2 orang)

2 Bantuan (2 orang)

3 Mandiri 3

7. Berpindah/berjalan 0 Tidak mampu

1 Bisa (pindah) dengan kursi roda

2 Berjalan dengan bantuan 1 orang

3 Mandiri 3

8. Memakai baju 0 Tidak mampu


1 Sebagian dibantu (misalnya
mengancing baju)

2 Mandiri 2

9. Naik turun tangga 0 Tidak mampu

1 Butuh pertolongan

2 Mandiri 2

10. Mandi 0 Tergantung orang lain

1 Mandiri 1

Total skor 20

Kategori tingkat ketergantungan pasien: Mandiri


Keterangan:
20 = Mandiri

12 – 19 = Ketergantungan ringan

9 – 11 = Ketergantungan sedang

5–8 = Ketergantungan berat

0–4 = Ketergantungan total

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

6. Pemeriksaan Kepala
Finger print di tengah frontal : (  ) Terhidrasi ( ) Dehidrasi

Kulit kepala (  ) Bersih ( ) Luka

Rambut :

Penyebaran : Merata

Warna : Hitam
Mudah patah : Tidak Mudah Patah

Bercabang : Tidak Bercabang

Cerah / kusam : Cerah

Mata:

Sklera : (  ) Putih ( ) Ikterik

Konjungtiva : (  ) Merah muda ( ) Anemia

Palpebra : (  ) Tidak ada edema ( ) Edema

Kornea : (  ) Jernih ( ) Keruh

Reflek cahaya : ()+ ( )-

Pupil : (  ) Isokor ( ) anisokor ( )


diameter

Visus : .............. OS ...........OD

Kelainan : Tidak Ada Kelainan

Hidung :

Pernafasan Cuping hidung: ( ) Ada (  ) Tidak ada

Posisi septum nasi: (  ) Ditengah ( ) Deviasi

Lubang hidung : Bersih

Ketajaman penciuman : Dapat Membedakan Bau Teh Dan Kopi

Kelainan : Tidak Ada Kelainan

Rongga Mulut :

Bibir : Warna
Gigi geligi :

Lidah : Warna pink

Mukosa: (  ) Lembab ( ) Kering ( )


Stomatitis

Tonsil: Ukuran .......................................................................

Uvula: Letak (  ) Simetris Ditengah ( ) Deviasi

Telinga:

Daun/pina telinga : Sedang

Kanalis telinga : Terdapat Serumen

Membran Timpani Cahaya politser

Ketajaman pendengaran : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

Tes weber :-
Tes Rinne :-
Tes Swabach :-

Telinga kiri .........................................

Telinga kanan ….................................

Kesimpulan

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

7. Pemeriksaan Leher
Kelenjar getah bening : ( ) Teraba
(  ) Tidak teraba

Tiroid : (  ) Teraba ( ) Tidak teraba


Posisi trakea : (  ) Letak di tengah ( ) Deviasi ke
arah

JVP : Tidak dilakukan pemeriksaan

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

8. Pemeriksaan Thorak : Sistem Pernafasan


a. Inspeksi
Bentuk dada  simetris asimetris barrel chest

Funnel chest Pigeons chest

Frekuensi: 20 x/menit

Irama nafas : teratur tidak teratur

Pola pernafasan : Dispnoe Kusmaul


Cheyne Stokes

Bradipnae Takipnea
Hyperventilasi

Pernafasan cuping hidung : Ada Tidak

Otot bantu pernafasan : Ada Tidak

Usaha nafas : Posisi duduk menunduk

Alat bantu nafas: Ya Tidak

b. Palpasi
Vocal premitus : anterior dada Tidak dilakukan pemeriksaan Posterior
dada Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekspansi paru : anterior dada Tidak dilakukan pemeriksaan Posterior


dada Tidak dilakukan pemeriksaan

Kelainan : Tidak ada kelainan saat inspeksi


Krepitasi Deviasi trakea Trakeostomy

c. Perkusi : Sonor Redup Pekak Hipersonor/timpani


Batas Paru Hepar : ICS 4 Sampai ICS ke 6

d. Auskultasi:
Suara Nafas : Vesikuler Bronko vesikuler Rales

Ronki Wheezing Suara nafas tambahan

Suara Ucapan: Jelas

e. Penggunaan WSD : TIDAK ADA TERPASANG WSD


1. Jenis :-
2. Jumlah Cairan : -
3. Undulasi :-
4. Tekanan :-
Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

9. Pemeriksaan Jantung : Sistem Kardiovaskuler


a. Keluhan: Nyeri dada Ada Tidak
b. Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
CRT : < 3 detik

Sianosis : Tidak tampak sianosis

Ujung jari: Jari tabuh

c. Palpasi : ictus cordis teraba


Akral (  ) hangat ( ) panas ( ) dingin

( ) Kering ( ) basah

d. Perkusi:
Batas Atas : N=ICS II
Batas Bawah : N=ICS V

Batas Kanan : N=ICS IV Mid Sternalis Dextra Batas Kiri : N=ICS V


Mid Clavikula sinistra

e. Auskultasi :
BJ II – Aorta : Sela

BJ II – Pulmunal :

BJ I – Trikuspidalis :

BJ I – Mitral :

Bunyi jantung tambahan : tidak terdapat bunyi jantung tambahan

Kelainan : tidak ada kelainan

f. CVP :
g. CTR :
h. ECG & Interpretasinya : Lain-lain :
Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

10. Pemeriksaan Sistem Pencernaan dan Status Nutrisi


BB

BB : 54 kg TB : 165 cm IMT = 19,83 kg m2 Kategori : Normal

(TB m)2

Parameter Skor

Apakah pasien mengalami penurunan BB yang tidak diinginkan


dalam 6 bulan terakhir ?
a.Tidak ada penurunan berat badan 0

b. Tidak yakin.. tidak tahu/ terasa baju lebih longgar

c.Jika ya, berapa penurunan BB tersebut:

1 – 5 kg

6 – 10 kg

11 – 15 kg

> 15 kg

Apakah asupan makanan berkurang karena tidak nafsu makan

a.Ya

b. Tidak 0

Total Skor

Keterangan: Bila skor > 2 dan atau pasien dengan diagnosis/kondisi khusus
dilakukan pengkajian lebih lanjut oleh Dietisien, Bila skor < 2, skrining ulang
7 hari.

BAB : 1 x hari terakhir tanggal : 7 oktober 2019

Konsistensi : keras lunak cair lendir/darah

Diet : padat lunak cair

Jenis diet : Diet DM

Nafsu makan : baik menurun frekuensi : 3 x/hari

Porsi makan : habis tidak

Abdomen
Inspeksi :

Bentuk : Datar

Bayangan vena : Tidak Terlihat

Benjolan / massa : Tidak ada massa atau benjolan

Luka operasi : ada tidak

Auskultasi : Peristaltik : 10 x/menit

Palpasi : tegang kembung ascites

Nyeri tekan : ya tidak Titik Mc Burney: Tidak ada nyeri tekan

Massa : Tidak ada massa

Hepar : tidak ada nyeri tekan

Perkusi:

Pemeriksaan ascites: undulasi: Sfiting Dullnes:

Ginjal : nyeri ketuk ada tidak

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

11. Sistem Persyarafan


a. Memori : Panjang Pendek
b. Perhatian : Dapat mengulang Tidak dapat mengulang
c. Bahasa : Baik Tidak (ket: Bahasa dengan Bahasa
Indonesia)
d. Kognisi : Baik Tidak
e. Orientasi : Orang Tempat Waktu
f. Saraf sensori : Nyeri tusuk Suhu Sentuhan
g. Saraf koordinasi (cerebral) : Ya Tidak
Tingkat kekuatan reflek:
h. Refleks Fisiologis Patella 0 1 2 3 4 0 = tidak ada
reflek
Achiles 0 1 2 3 4 1 = hipoaktif

Bisep 0 1 2 3 4 2 = normal

Trisep 0 1 2 3 4 3 = hiperaktif

Brakioradialis 0 1 2 3 4 4 =hiperaktif
dengan klonus terus menerus

i. Refleks patologis: babinsky brudzinsky kernig


j. Keluhan pusing : Tidak Ya
k. Istirahat tidur: 6 – 7 jam/hari
Gangguan tidur: TIDAK ADA GANGGUAN

l. Pemeriksaan saraf kranial


N1 : Normal Tidak

Ket: pasien memejamkan mata, disuruh membedakan bau yang dirasakan


(kopi, teh,dll)

N2 : Normal Tidak

Ket: periksa lapang pandang Baik

N3 : Normal Tidak

Ket: Tes putaran bola mata, menggerakan konjungtiva, refleks pupil dan
inspeksi kelopak mata mampu dilakukan dengan baik
N4 : Normal Tidak

Ket: Tes putaran bola mata, menggerakan konjungtiva, refleks pupil dan
inspeksi kelopak mata mampu dilakukan dengan baik

N5 : Normal Tidak

Ket: menggerakan rahang kesemua sisi, pasien memejamkan mata, sentuh


dengan kapas pada dahi atau pipi. menyentuh permukaan kornea dengan
kapas.

N6 : Normal Tidak

Ket: Tes putaran bola mata, menggerakan konjungtiva, refleks pupil dan
inspeksi kelopak mata mampu dilakukan dengan baik.

N7 : Normal Tidak

Ket: Klien mampu senyum, bersiul, mengngkat alis mata, menutup


kelopak mata dengan tahanan, menjulurkan lida untuk membedakan gula
dan garam.

N8 : Normal Tidak

Ket: Pendengaran baik

N9 : Normal Tidak

Ket: membedakan rasa manis dan asam

N10 : Normal Tidak

Ket: pasien menelan saliva, disuruh mengucap ah…

N11 : Normal Tidak


Ket: suruh pasien untuk menggerakan bahu dan lakukan tahanan sambil
pasien melawan tahanan tersebut.

N12 : Normal Tidak

Ket: pasien disuruh menjulurkan lidah dan menggerakan dari sisi ke sisi.

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

12. Sistem Perkemihan


a. Kebersihan : Bersih Kotor
b. Keluhan kencing : TIDAK ADA KELUHAN
c. Kemampuan berkemih Spontan Alat bantu,
sebutkan:
Jenis :-

Ukuran :-

Hari ke :-

d. Produksi urine : 2.000 ml/hari Warna : Kuning Bau: Khas


e. Kandung kemis: Membesar ya tidak
Nyeri tekan ya tidak

f. Balance cairan:
Intake Output

Minum peroral : 2500 Urine (0,5 – 1 : 2000


ml/hr ml/kg/BB/jam) ml/hr

Cairan infus : - ml/hr Drain : - ml/hr

Obat IV : 20 IWL (10 – 15 : 35 ml/hr


ml/hr ml/kg/BB/24 jam)

NGT : - ml/hr Diare : - ml/hr

Makanan (1 kalori = : 238 Muntah : - ml/hr


0,14 ml/hari) ml/hr

Perdarahan : - ml/hr

Feses (1x = 20 ml/hari) : 20 ml/hr

Total : 2758 Total : 2055


ml/hr ml/hr

Balance cairan/hari perawatan:

Intake – Output – IWL = 2758 ml/hr – 2055 ml/hr – 35 ml/hr = 660 ml/hr

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

13. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen


a. Pergerakan sendi : Bebas Terbatas
b. Kekuatan otot: 5 5

5 5

c. Kelainan ekstremitas: ya tidak


d. Kelainan tulang belakang : ya tidak
e. Fraktur : ya tidak
f. Traksi / spalk / gips : ya tidak
g. Kompartemen syndrome : ya tidak
h. Kulit : ikterik sianosis kemerahan
hiperpigmentasi
i. Turgor: baik kurang jelek
j. Luka : Tidak ada
Luas luka Panjang 5 cm Diameter ..................cm

Derajat luka :

Warna dasar luka : Kemerahan

Tipe eksudat/cairan luka : Pus


Goa : ada, ukuran ...................................................

Tepi luka : Akut

Jaringan granulasi : .............................................%

Warna kulit sekitar luka : Ungu

Edema sekitar luka : Ada

Tanda-tanda infeksi : Tida Ya

Lokasi: beri tanda X

k. Edema eksktremitas: ada bagian tangan kiri


l. Pitting edema : +/- grade : ........................................................
Ekstremitas atas:

RU +1 +2 +3 +4 LU +1 +2 +3 +4 Penilaiain Edema:

RL +1 +2 +3 +4 LL +1 +2 +3 +4

+1 : kedalaman 1 – 3 mm, waktu kembali 3 detik

Ekstremitas bawah:

+2 : kedalaman 3 – 5 mm, waktu kembali 5 detik

RU +1 +2 +3 +4 LU +1 +2 +3 +4

+3 : kedalaman 5 – 7 mm, waktu kembali 7 detik

RL +1 +2 +3 +4 LL +1 +2 +3 +4

+4 : kedalaman > 7 mm, waktu kembali 7 detik

Orther: ..............................................................

m.Ekskoriasis : ya tidak
n. Psoriasis : ya tidak
o. Urtikaria : ya tidak
p. Lain-lain:

Penilaian risiko decubitus:

Aspek KRITERIA YANG DINILAI NIL


yang 1 2 3 4 AI
dinilai

Persepsi Terbatas Sangat Keterbatasa Tidak Ada 4


Sensori Sepenuhn Terbatas n Ringan Gangguan
ya

Kelembab Terus Sangat Kadang- Jarang 4


an Menerus Lembab kadang Basah
Basah Basah

Aktivitas Bedfast Chairfast Kadang- Lebih 3


kadang Sering
Jalan Jalan

Mobilisasi Immobile Sangat Keterbatasa Tidak Ada 4


Sepenuhn Terbatas n Ringan Keterbatasa
ya n

Nutrisi Sangat Kemungkin Adekuat Sangat 3


Buruk an Tidak Baik
Adekuat

Gesekan & Bermasala Potensial Tidak 3


Pergeseran h Bermasalah Menimbulk
an Masalah

Note: Pasien dengan nilai total < 16 maka dapat 21


dikatakan bahwa pasien beresiko mengalami
TOTAL
dekubitus (Pressure ulcers)
NILAI
(15 or 16 = low risk, 13 or 14 = moderate risk, 12 or
less = high risk)

Kategori pasien : low risk

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

14. Sistem Endokrin


Pembesaran kelenjar tyroid: ya tidak

Pembesaran kelenjar getah bening : ya tidak

Pankreas: Trias DM: ya tidak

Hipoglikemia: ya tidak NilaiGDA:

Hiperglikemia: ya tidak NilaiGDA: 288


mg/dL

Kondisi kaki DM:

- Luka ganggren ya tidak


- Jenis luka : Akut
- Lama luka : 1 bulan
- Warna : kemerahan
- Luas luka : 5 cm
- Kedalaman : 2 cm
- Kulit Kaki : kemerahan
- Kuku Kaki : bersih
- Telapak Kaki : terdapat luka lubang kemerahan
- Jari Kaki : lengkap
- Infeksi : ya tidak
- Riwayat luka sebelumnya : ya tidak
Tahun : 2019
Jenis luka : Ganggren

Lokasi : telapak kaki kanan

- Riwayat amputasi sebelumnya : ya tidak


Jika Ya

Tahun :-

Lokasi :-

Lain-lain: -

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

15. Seksualitas dan Reproduksi


a. Genetalia :
Pria : masalah prostat/kelainan: ada/tidak *

Masalah Keperawatan : KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA


DALAM DARAH b.d GANGGUAN GLUKOSA DARAH PUASA

16. Keamanan Lingkungan


Penilaian risiko pasien jatuh dengan skala morse (pasien dewasa)

Faktor Risiko Skala Skor

Hasil Standar

Riwayat jatuh Ya 25
yang baru atau 3 Tidak 0 0
bulan terakhir

Diagnosa Ya 15 15
sekunder lebih Tidak 0
dari 1 diagnosa

Menggunakan alat Berpegangan pada benda-benda 30


bantu sekitar
Kruk, tongkat, walker 15

Menggunakan IV Bedrest/dibantu perawat 0


dan cateter Ya 20 20

Kemampuan Tidak 0 0
berjalan Gangguan (pincang/diseret) 20

Status mental Lemah 10

Normal/bedrest/imobilisasi 0 0

Tidak sadar akan 15


kemampuan/post op 24 jam

Orientasi sesuai kemampuan diri 0

Total skor 35

Kesimpulan : Kategori pasien : SEDANG

Risiko = > 45

Sedang = 25 – 44

Rendah = 0 – 24

Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL

a. Persepsi klien terhadap penyakitnya


Cobaan Tuhan Hukuman Lainnya

b. Ekspresi klien terhadap penyakitnya = menerima penyakitnya


Murung/diam Gelisah Tegang Marah/menangis

c. Reaksi saat interaksi Kooperatif Tidak kooperatif Curiga


d. Gangguan Konsep Diri ya Tidak
Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

PERSONAL HYGIENE & KEBIASAAN

a. Mandi : 2 x/hari f. Ganti pakaian : 1 x/hari


b. Keramas : 1x/hari g. Sikat Gigi : 2 x/hari
c. Memotong kuku : 1 minggu sekali
d. Merokok: ya Tidak
e. Alkohol: ya Tidak
Masalah Keperawatan : TIDAK ADA MASALAH KEPERAWATAN

PENGKAJIAN SPIRITUAL

Kebiasaan beribadah

a. Sebelum sakit: Sering Kadang-kadang Tidak


pernah
b. Selama sakit: Sering Kadang-kadang Tidak
pernah

PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium, Radiologi, EKG, USG)

Tanggal Jenis Hasil


pemeriksaan

08 Darah Lengkap Hemoglobin : 11.2 g/dl


Oktober
Leukosit : 11.49 10ᶟ/µl
2019
Hematokrit : 34.0%

Trombosit :482 10ᶟ/µl


Eritrosit : 4.52

Glukosa Sewaktu : 288mg/dL

09 Kimia Darah Glukosa Darah Puasa : 294 mg/dL


Oktober
2019

10 Kimia Darah Glukosa Darah Puasa : 214 mg/dL


Oktober
2019

11 Kimia Darah Glukosa Darah Puasa : 186 mg/dL


Oktober
2019

OBAT YANG DITERIMA

Pre Operasi Post


Operasi

Nama Obat Dosis Nama Obat Dosis

1. Ceftriaxone 2x1 1. Metroplidazole 500 mg 3x 1

2. Loutus 3 x 4 unit 2. Ketorolac 30 g 3 x 1

3.Apidra 0 – 0 – 10unit 3. Loutus 3 x 4 unit


4. 4. Apidra 0 – 0 – 10 unit

Data Fokus

1. Data Subyektif :
Pre Operasi
- Pasien mengatakan nyeri karena luka pada daerah pungggung tangan
sebelah kiri, nyeri seperti ditusuk-tusuk. Nyeri timbul ketika
digerakkan, hilang timbul, pasien mengatakan skala nyeri 4
- Pasien mengeluh lelah dan lesu
- Pasien mengatakan cepat haus
Post Operasi
- Pasien mengatakan nyeri pada daerah luka post op yaitu puggung
tangan kiri, nyeri seperti ditusuk-tusuk dan berdenyut, nyeri hilang
timbul skala nyeri 4.
- Pasien mengeluh lelah dan lesu
- Pasien mengatakan cepat haus
- Pasien mengatakan belum mandi dari awal masuk
- Pasien mengatakan takut jika perban luka basah

2. Data Obyektif :
Pre Operasi
- Pasien tampak meringis
- Pasien tampak gelisah
- Tampak luka pada daerah punggung tangan sebelah kiri
- Pasien tampak bersifat protektif pada daerah luka
- Jenis luka akut
- Luas luka 5 cm
- Warna dasar luka kemerahan
- Tipe eksudat : Pus
- Tampak bengkak pada daerah sekitar luka
- Bibir pasien tampak kering
- Tanda – tanda vital :
TD : 140/80 mmHg

N : 101 x/menit

S : 36,5ᵒC

RR : 20 x/menit

- Laboratorium :
GDS (8/10/2019): 288 mg/dl
Leukosit (8/10/2019) : 11,49 10ᶟ/µl (H)
Post Operasi
- Pasien tampak meringis
- Pasien tampak gelisah
- Tampak luka post op pada daerah punggung tangan sebelah kiri
- Pasien tampak bersifat protektif pada daerah luka
- Luas luka 5 cm
- Warna dasar luka merah muda
- Tepi luka jelas
- Luka berbau
- Pasien tampak lusuh
- Pasien sedikit berbau
- Bibir pasien tampak kering
- Minat perawatan diri pasien kurang
- Pasien tampak sendiri tanpa keluarga
- Tanda – tanda vital :
TD : 130/80 mmHg
N : 89 x/menit
S : 36,5ᵒC
RR : 18 x/menit
- Laboratorium :
(09/10/2019) GDP : 294 mg/dl
(10/10/2019) GDP : 214 mg/dl
(11/10/2019) GDP : 186 mg/dl

ANALISA DATA PRE OPERASI


Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 40 Ruangan : Flamboyan B

N Data (DO & DS) Masalah Penyebab


o.
1Ds : Nyeri Agen
. Pasien mengatakan nyeri karena luka Akut Pencedera
pada daerah punggung tangan kiri seperti Fisiologi
ditusuk-tusuk, nyeri jika digerakan
( hilang timbul )
Do :
 Pasien tampak meringis
 Skala nyeri 4/10
 Pasien tampak gelisah
 Pasien tampak bersifat protektif
terhadap daerah nyeri
 Tanda-tanda vital :
TD : 140/80 mmHg
N : 101 x/menit
S : 36,5ᵒC
RR : 20 x/menit

2. Ds : -
Do :
 Terdapat kerusakan jaringan kulit Gangguan Neuropati
Integritas Perifer
 Terdapat nyeri
Kulit
 Terdapat Pus
 Tampak bengkak
 Warna daerah luka merah

3. Ds :
 Pasien mengatakan mudah lelah
dan lesu. Ketidaksta Gangguan
 Pasien mengatakan cepat haus bilan Glukosa Darah
Do : Kadar Puasa
 Bibir pasien tampak kering Glukosa
 Hasil Laboratorium : Darah
GDS (8/10/2019): 288 mg/dl

Ds : -
4. Do :
 Tampak luka di daerah punggung
tangan Penyakit
 Jenis luka akut Resiko Kronis
 Luas luka 5 cm Infeksi
 Warna dasar luka kemerahan
 Tipe eksudat : Pus
 Tampak bengkak pada daerah
sekitar luka
 Tanda-tanda vital :
TD : 140/80 mmHg
N : 101 x/menit
S : 36,5ᵒC
RR : 20 x/menit
Leu : 11.49 10ᶟ/µl (H)
ANALISA DATA POST OPERASI
Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 40 thn Ruangan : Flamboyan


B

N Data (DO & DS) Ma Penyebab


o. sal
ah
1. Ds : Pasien mengatakan nyeri pada Ny Agen
luka operasi didaerah punggung tangan eri Pencedera Fisik
kiri, nyeri seperti ditusuk-tusuk dan Ak
berdenyut, nyeri terasa hilang tibul ut
Do :
 Pasien tampak meringis
 Skala nyeri 4/10
 Pasien tampak gelisah
 Pasien tampak bersifat protektif
terhadap daerah nyeri
 Tanda-tanda vital :
TD : 130/80 mmHg
N : 89 x/menit
S : 36,5ᵒC
RR : 18 x/menit

Ds : -
Do :
 Terdapat kerusakan jaringan Neuropati
2. kulit Perifer
 Terdapat nyeri
Ga
 Terdapat perdarahan
ng
 Tampak bengkak gua
n
Int
egr
Ds : itas
 Pasien mengatakan mudah Ku
3. lelah dan lesu. lit Gangguan
 Pasien mengatakan cepat haus Glukosa Darah
Puasa
Do :
 Bibir pasien tampak kering
 Hasil Laboratorium :
(09/10/2019)
GDP : 294 mg/dl (10/10/2019)
GDP : 214 mg/dl
(11/10/2019) Ket
GDP : 186 mg/dl ida
kst
abi
Ds : lan
 Pasien mengatakan belum Ka
mandi dari awal masuk dar
 Pasien mengatakan takut jika Gl
4. perban luka basah uk
Do : osa
 Pasien tampak lusuh Da Penurunan
 Pasien sedikit berbau rah motivasi /
 Minat perawatan diri pasien minat
kurang
 Pasien tampak sendiri tanpa
keluarga

Ds : -
Do :
 Tampak luka post op pada
daerah punggung tangan
sebelah kiri
5.
 Luas luka 5 cm
 Warna dasar luka merah muda
 Tepi luka jelas Efek Tindakan
 Terdapat bau pada luka De Invasif
 Tipe eksudat : darah fisi
t
Per
aw
ata
n
Dir
i
Re
sik
o
Inf
eks
i
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
N Diagnosa Keperawatan Tanggal Tanggal
o ditemukan Teratasi
.
Pre Operasi
1 Nyeri Akut b.d Agen
08 Oktober 2019 09 Oktober
. Pencedera Fisiologi 2019
Gangguan Integritas Kulit
08 Oktober 2019
2 b.d Neuropati Perifer 09 Oktober
2019
. Ketidakstabilan Kadar
08 Oktober 2019
Glukosa Darah b.d
09 Oktober
3 Gangguan Glukosa Darah
2019
. Puasa 08 Oktober 2019
Resiko Infeksi b.d Penyakit
Kronis 09 Oktober
2019
4
09 Oktober 2019
. Post Operasi
Nyeri Akut b.d Agen
09 Oktober 2019
Pencedera Fisik 11 Oktober
2019
Gangguan Integritas Kulit
1 09 Oktober 2019
b.d Neuropati Perifer
.
11 Oktober
Ketidakstabilan Kadar
2019
Glukosa Darah b.d 09 Oktober 2019
2
Gangguan Glukosa Darah
. 11 Oktober
Puasa 09 Oktober 2019 2019
Defisit Perawatan Diri b.d
3
Penurunan Motivasi/Minat
.
10 Oktober
Resiko Infeksi d.d Efek
2019
Tindakan Invasif

4
.
5
.

PERENCANAAN PRE OPERASI


Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin :Laki - laki
Umur : 40 th Ruangan :Flamboyan B

No Hari/Tgl Diagnose Tujuan & Rencana Tindakan


/Jam Keperaw Kriteria Hasil
atan
1. Selasa, Nyeri Setelah dilakukan 1.1 Melakukan BHSP
1.2 Lakukan pengkajian
08 Akut b.d tindakan keperawatan
nyeri secara
Oktober agen selama 1 x 4 jam nyeri
komprehensif
2019 penceder dapat berkurang,
1.3 Observasi reaksi
12.00 a dengan kriteria hasil :
nonverbal dari
WITA fisiologis a. Mampu
ketidaknyaman
(inflamas mengontrol nyeri 1.4 Monitor tanda –tanda
i) (tahu penyebab vital
1.5 Ajarkan tentang
nyeri, mampu
teknik non
menggunakan
farmakologi
teknik non
1.6 Anjurkan pasien
farmakologi)
untuk meningkatkan
b. Melaporkan bahwa
istirahat
nyeri berkurang
1.7 Kolaborasi dengan
dengan
dokter dalam
menggunakan
pemberian obat-
manajemen nyeri
obatan.
c. Mampu mengenali
nyeri (skala 1-2,
intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)
d. Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
2.1 Kaji atau catat ukuran,
warna, keadaan luka /
2. Setelah dilakukan
kondisi sekitar luka.
intervensi selama 1 x
2.2 Jaga kebersihan kulit
Selasa, 24 jam, diharapkan agar tetap bersih dan
08 Kerusakan integritas kering
2.3 Lakukan perawatan
Oktober Ganggua kulit dapat teratasi,
luka dan hygiene
2019 n dengan kriteria hasil:
2.4 Berikan prioritas
12.00 Integritas a. Integritas kulit
untuk meningkatkan
WITA Kulit b.d yang baik bisa
kenyamanan dan
neuropati dipertahankan
kehangatan pasien
perifer (sensasi, elastisitas, 2.5 Kolaborasi dengan
temperatur, hirasi, dokter dalam
pigmentasi) pemberian obat-
obatan

3.1 Memantau kadar


glukosa darah, seperti
yang ditunjukkan
3. Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3.2 Monitor tanda – tanda
selama 1 x 24 Jam, hipoglikemi
kadar glukosa dalam
3.3 Anjurkan istirahat
Selasa, darah stabil dengan
ketika kadar glukosa
08 kriteria hasil:
darah adalah > 250
Oktober Ketidakst a. Kepatuhan
mg/dl
2019 abilan Perilaku : diet
12.00 kadar sehat 3.4 Memfasilitasi
b. Dapat mengontrol kepatuhan terhadap
WITA glukosa
kadar glukosa diet dan latihan
darah b.d
darah
gangguan
c. Dapat mengontrol 3.5 Kolaborasi insulin
glukosa
stres
darah d. Dapat
puasa memanajemen dan
mencegah penyakit
semakin parah
e. Nilai GDP dan
GDS dalam batas
normal (menurut
who ideal : 80 –
144 mg/dl)
GDP : 70 – 100
mg/dl

4.1 Cuci tangan setiap


Setelah dilakukan
4. sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan
melakukan tindakan
selama 1 x 24 jam
keperawatan
diharapkan infeksi 4.2 Observasi luka (lokasi,
pada pasien tidak warna, granulasi, dan
meluas dengan kriteria jaringan nekrotik)
4.3 Monitor tanda dan
hasil :
Selasa,
gejala infeksi sistemik
a. Tidak terjadi
08
dan local
penyebaran infeksi
Oktober 4.4 Inspeksi kondisi
pada abses
2019 Resiko luka/insisi bedah
b. Menunjukkan
4.5 Anjurkan pasien untuk
12.00 Infeksi
kemampuan untuk
meningkatkan istirahat
WITA d.d
mencegah 4.6 Berikan posisi yang
penyakit
timbulnya infeksi mengurangi tekanan
kronis c. Leukosit dalam
pada luka
batas normal 4.7 Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian obat-
obatan.

PERENCANAAN POST OPERASI


Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin :Laki - laki

Umur : 40 th Ruangan :Flamboyan B


No Hari/Tg Diagnose Tujuan & Rencana Tindakan
l/Jam Keperawa Kriteria Hasil
tan
1. Rabu, Nyeri Setelah dilakukan tindakan 1.1 Lakukan pengkajian
09 Akut b.d keperawatan selama 1 x 4 nyeri secara
Oktober agen jam nyeri dapat berkurang, komprehensif
1.2 Observasi reaksi
2019 pencedera dengan kriteria hasil :
nonverbal dari
13.00 fisik a. Mampu mengontrol
ketidaknyaman
WITA nyeri (tahu penyebab
1.3 Monitor tanda –tanda
nyeri, mampu
vital
menggunakan teknik 1.4 Ajarkan tentang teknik
non farmakologi) non farmakologi
b. Melaporkan bahwa 1.5 Anjurkan pasien untuk
nyeri berkurang meningkatkan istirahat
dengan menggunakan 1.6 Kolaborasi dengan
manajemen nyeri dokter dalam
c. Mampu mengenali
pemberian obat
nyeri (skala,
analgetik.
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri) 1.7 Mengevaluasi
d. Menyatakan rasa keefektifan kontrol
nyaman setelah nyeri nyeri
berkurang

Setelah dilakukan 2.1 Kaji atau catat ukuran,


2. intervensi selama 3 x 24 warna, keadaan luka /
jam, diharapkan kondisi sekitar luka.
2.2 Jaga kebersihan kulit
Rabu, Gangguan Kerusakan integritas kulit
agar tetap bersih dan
09 Integritas dapat teratasi, dengan kering
2.3 Lakukan perawatan
Oktober Kulit b.d kriteria hasil:
luka dan hygiene
2019 neuropati a. Integritas kulit yang
2.4 Berikan prioritas
13.00 perifer baik bisa
untuk meningkatkan
WITA dipertahankan
kenyamanan dan
(sensasi, elastisitas,
kehangatan pasien
temperatur, hirasi, 2.5 Kolaborasi dengan
pigmentasi) dokter dalam
pemberian obat-obatan

3.1 Memantau kadar


glukosa darah, seperti
yang ditunjukkan
3. Setelah dilakukan tindakan
3.2 Monitor tanda – tanda
keperawatan selama 1 x 24
hipoglikemi
Jam, kadar glukosa dalam
Ketidakst darah stabil dengan 3.3 Anjurkan istirahat
Rabu, abilan kriteria hasil: ketika kadar glukosa
09 kadar a. Kepatuhan Perilaku : darah adalah > 250
Oktober glukosa diet sehat mg/dl
b. Dapat mengontrol
2019 darah b.d
kadar glukosa darah 3.4 Memfasilitasi
13.00 gangguan
c. Dapat mengontrol kepatuhan terhadap
WITA glukosa
stress diet dan latihan
darah d. Dapat memanajemen
puasa dan mencegah 3.5 Kolaborasi insulin
penyakit semakin
parah
e. Nilai GDP dan GDS
dalam batas normal
(menurut who ideal :
80 – 144 mg/dl)
GDP : 70 – 100 mg/dl

Setelah dilakukan tindakan


4.
keperawatan selama 1 x 24
jam diharapkan pasien 4.1 Monitor kemampuan
dapat memeliharan klien untuk perawatan
kebersihan diri secara diri yang mandiri
mandiri dengan kriteria
4.2 Monitor kebutuhan
hasil :
Rabu, Defisit klien untuk alat-alat
a. Mampu untuk
09 Perawatan bantu kebersihan diri,
mempertahankan
Oktober Diri b.d berpakaian,
kebersihan dan
2019 penurunan berhias,toileting, dan
penampilan yang rapi
13.00 motivasi/ makan
secara mandiri dengan
WITA minat
atau tanpa alat bantu 4.3 Memantau integritas
b. Mampu untuk kulit klien
merawat mulut dan
4.4 Memberikan bantuan
gigi secara mandiri
sampai pasien
dengan atau tanpa alat
sepenuhnya dapat
bantu
c. Mengungkapkan mengamsumsikan
secara verbal perawatan diri
kepuasan tentang
kebersihan tubuh dan
hygiene oral

5.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24
jam diharapkan pasien 5.1 Cuci tangan setiap
tidak mengalami infeksi sebelum dan sesudah
dengan kriteria hasil : melakukan tindakan
a. Luka membaik : kulit keperawatan
5.2 Observasi luka (lokasi,
kemerahan, cairan
warna, granulasi, dan
Rabu, Resiko eksudat (-), dehisiensi jaringan nekrotik)
09 Infeksi (-), luas luka 5.3 Monitor tanda dan
Oktober d.d efek menyempit, gejala infeksi sistemik
2019 tindakan kedalaman luka di dan local
5.4 Inspeksi kondisi
13.00 infasif batas epidermis
b. Tidak terjadi tanda – luka/insisi bedah
WITA 5.5 Anjurkan pasien untuk
tanda infeksi
c. Klien berpartisipasi istirahat
5.6 Berikan posisi yang
dalam mengendalikan
mengurangi tekanan
infeksi
d. Leukosit dalam batas pada luka
5.7 Kolaborasi dengan
normal
dokter dalam
pemberian obat
antibiotic bila perlu.
PELAKSANAAN TINDAKAN PRE OPERASI
Nama Pasien : Tn.S Jenis Kelamin :Laki - laki

Umur : 40 th Ruangan :Flamboyan B

N Hari/Tgl/ Tindakan Evaluasi Para


o Jam Keperawatan f
1 Selasa, 1.1 Melakuan BHSP 1.1 Telah dilakukan Hani
08 tindakan sesuai fah
Oktober SOP dengan hasil : dan
2019 DS : Har
13.00  Pasien y
WITA mengatakan mau
berkenalan
dengan bersedia
dimintai data
tentang pasien.
DO :
 Pasien tampak
4.1 Mencuci tangan setiap kooperatif dan
pasien tampak
sebelum dan sesudah
berbaring
melakukan tindakan
keperawatan
1.2 Melakukan pengkajian Telah dilakukan
nyeri secara tindakan sesuai SOP
komprehensif dengan hasil :
14.00
1.3 Mengobservasi reaksi Rus
WITA DS :
nonverbal dari diya
 Pasien mengatakan
ketidaknyaman ti
nyeri karena luka
1.4 Memonitor tanda –
pada daerah dan
tanda vital punggung tangan
2.1 Mengkaji atau catat Hani
seperti ditusuk-
ukuran, warna, tusuk dengan skala fah

keadaan luka / kondisi nyeri 4, nyeri


sekitar luka. hilang timbul dan
2.2 Menjaga kebersihan muncul jika
kulit agar tetap bersih digerakan.
dan kering
4.2 Mengobservasi luka DO :
(lokasi, warna,  Pasien tampak
granulasi, dan jaringan
meringis
nekrotik)
4.3 Memonitor tanda dan  Pasien tampak

gejala infeksi sistemik gelisah


 Pasien tampak
dan local
4.4 Menginspeksi kondisi bersifat protektif
 TTV :
luka/insisi bedah TD : 140/80 mmHg
N : 101 x/menit
S : 36,5
R : 20 x/menit
 Tampak luka
bagian punggung
tangan kiri
4.1 Mencuci tangan setiap  Jenis luka akut
 Luas luka 5cm
sebelum dan sesudah  Warna dasar luka
melakukan tindakan merah muda
keperawatan  Tipe eksudat darah
 Leukosit : 11,40
1.4 Menggunakan tehnik (High)
komunikasi terapeutik
untuk mengetahui Telah dilakukan
pengalaman nyeri tindakan sesuai SOP
pasien dengan hasil :
1.5 Mengajarkan tentang DS :
teknik non  Pasien mengatakan
farmakologi mengerti setelah
1.6 Menganjurkan pasien diajarkan relaksasi
untuk meningkatkan nafas dalam
 Pasien mengatakan
istirahat
nyeri berkurang
1.7 Mengkolaborasi
dengan dokter dalam setelah melakukan Rus
pemberian obat teknik relaksasi diya
nafas dalam
analgetik.  Pasien mengatakan ti
18.00
3.5 Mengkolaborasi
WITA nyeri sudah mulai dan
pemberian insulin
berkurang Har
4.7 Mengkolaborasi
DO :
dengan dokter dalam y
pemberian obat  Pasien masih
antibiotic bila perlu. tampak meringis
 Pasien sudah tidak
bersifat protektif

3.2 Monitor tanda – tanda


hipoglikemi

3.3 Anjurkan istirahat


ketika kadar glukosa
darah adalah > 250
mg/dl

4.4 Dorong istirahat


4.5 Berikan posisi yang
Telah dilakukan
mengurangi tekanan
tindakan sesuai SOP
pada luka
dengan hasil :
DS : -
1.2 Lakukan pengkajian DO :
nyeri secara  Tidak ada tanda-
komprehensif tanda hipoglikemi

1.3 Memonitor tanda –


tanda vital
3.1 Memantau kadar
glukosa darah, seperti
yang ditunjukkan
Hani
Telah dilakukan fah
tindakan sesuai SOP
dengan hasil :
19.00
WITA
DS :
 Pasien mengatakan
nyeri sudah mulai
1.3 Memonitor tanda – berkurang dengan
tanda vital skala nyeri 3
1.7 Mengkolaborasi DO :
dengan dokter dalam  TTV :
pemberian obat TD : 130/70 mmHg
N : 95 x/menit
analgetik. S : 36,6
4.7 Mengkolaborasi R : 20 x/menit Bell
dengan dokter dalam  GDS : 288 mg/dL
a
(High)
pemberian obat
dan
antibiotic bila perlu
Jess
Telah dilakukan
yca
tindakan sesuai SOP

22.00 dengan hasil :


WITA DS :
 Pasien mengatakan
nyeri sudah
berkurang skala
2/10
DO :
 TTV :
TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/menit
S : 36,5
R : 20 x/menit

Har
y
Rabu, 09
Oktober
2019
06.00
WITA

PELAKSANAAN TINDAKAN POST OPERASI


Nama Pasien : Tn.S Jenis Kelamin :Laki - laki

Umur : 40 th Ruangan :Flamboyan B

N Hari/Tg Tindakan Evaluasi Para


o l/Jam Keperawatan f
1 Rabu, 09 5.1 Mencuci tangan Ds :
.  P:
Oktober 2019 setiap sebelum dan
Pasien mengatakan
14.00 WITA sesudah melakukan nyeri dirasa akibat
operasi
tindakan keperawatan
1.1 Melakukan  Q:
Pasien mengatakan
pengkajian nyeri nyeri dirasa seperti
secara secara ditusuk-tusuk
 R:
komprehensif Pasien mengatakan
1.2 Mengobservasi reaksi nyeri dirasakan di
nonverbal dari punggung tangan
kiri
ketidaknyamanan  S :
1.3 Memonitor Tanda- Pasien mengatakan
tanda vital skala nyeri 4/10
2.1 Mengkaji atau  T:
Pasien mengtakan
Mencatat ukuran, nyeri dirasakan
warna, keadaan hilang timbul
 Pasien mengatakan
luka/kondisi sekitar awalnya luka
luka tersebut hanya
berukuran kecil,
namun lama
kelamaan lukanya
menyebar
Do :
 Pasien tampak
gelisah akibat
nyeri yg dirasakan
 Luas luka 5 cm
 Warna dasar luka
merah muda
 Kondisi sekitar
luka tampak
kemerahan
 Tanda – tanda vital
TD : 130/80
mmHg
N : 89 x / menit
S : 36.5
RR : 18 x/menit
Ds :
18.00 WITA  Pasien mengatakan
2 paham dengan
. 5.1 Mencuci tangan
tujuan tehnik nafas
setiap sebelum dan dalam dan cara
melakukannya
sesudah melakukan
Do :
tindakan keperawatan  Pemberian obat
1.4 Mengajarkan pasien analgesik dan
antibiotic
tentang tehnik non
 Insulin 4 Unit
farmakologi (Nafas
Dalam)
1.6 Mengkolaborasikan
dengan dokter dalam
pemberian obat
analgetik
3.5 Mengkolaborasi
Pemberian insulin
5.7 Mengkolaborasikan
dengan dokter dalam
pemberian obat
antibiotik

5.1 Mencuci tangan


Ds :
setiap seelum dan  Pasien mengatakan
sesudah melakukan susah untuk
3 melakukan
. tindakan keperawatan perawatan diri
4.1 Memonitor dikarenakan
20.00 WITA kemampuan klien adanya luka
operasi
untuk perawatan diri  Pasien mengatakan
yang mandiri perlu bantuan serta
4.2 Memonitor kebutuhan alat-alat untuk
kebersihan diri.
klien untuk alat-alat  Pasien
bantu kebersihan diri. mengaatakan
5.6 Membatasi posisi bersedia untuk
agar menghindari dibantu mmebatasi
pergerakannya
tekanan pada luka
Do :
 Pasien tampak
susah melakukan
aktivitas karena
post operasi
punggung tangan
sebelah kiri
 Bantalan untuk
1.5 Menganjurkan pasien tangan pasien sdh
untuk meningkatkan terpasang

Istirahat
1.7 Mengevaluasi
keefektifan control DS :
 Pasien mengakatan
nyeri faham dengan
3.5 Mengkolaborasi anjuran yang
4 disampaikan
pemberian Insulin
.  Pasien mengatakan
5.5 Mendorong istirahat
nyeri masih dirasa
dan belum
berkurang,pasien
mengatakan skala
22.10 WITA nyeri 4
5.1 Mencuci tangan DO :
 Pasien masih
setiap sebelum dan tampak gelisah
sesudah melakukan akibat nyeri
 Pasien tampak
tindakan keperawatan mengerti dan
1.1 Melakukan mulai beristirahat
pengkajian nyeri  Injeksi Sub Cutan
Insulin 10 Unit
secara komperehensif
1.3 Memonitor Tanda-
DS :
tanda vital  P:
1.6 Mengkolaborasikan Pasien mengatakan
nyeri dirasa akibat
dengan dokter dalam
operasi
5
pemberian obat  Q:
. analgetik Pasien mengatakan
3.1 Memantau kadar nyeri dirasa seperti
ditusuk-tusuk
glukosa darah
Kamis, 10 3.5 Kolaborasi  R:
Pasien mengatakan
Oktober 2019 pemberian insulin
nyeri dirasakan di
06.00 WITA 5.7 Mengkolaborasikan punggung tangan
kiri
dengan dokter dalam
 S :
pemberian obat Pasien mengatakan
antibiotic skala nyeri 4
 T:
Pasien mengtakan
nyeri dirasakan
hilang timbul
DO :
 Injeksi intravena
5.1 Mencuci tangan obat analgetik dan
antibiotic
setiap sebelum dan
 Injeksi insulin 4
sesudah melakukan unit
tindakan keperawatan  Tanda – tanda vital
1.2 Mengobesrvasi reaksi TD : 130/80
mmHg
nonverbal dari N : 84 x/menit
ketidaknyamanan RR : 20 x/ menit
2.2 Menjaga kebersihan S : 37.4 c
 GDP : 294 mg/dl
kulit agar kulit tetap
bersih dan kering
4.4 Memberikan bantuan
Ds :
sampai pasien  Pasien mengatakan
sepenuhnya dapat merasa nyaman
setelah dibantu
mengasumsikan untuk perawatan
perawatan diri diri
6
. 3.3 Menganjurkan  Pasien mengatakan
paham dengan
istirahat ketika kadar anjuran perawat
glikosa darah > 250 Do :
 Pasien masih
mg/dl tampak gelisah
kibat nyeri yang
06.55 WITA dirasakan
5.1 Mencuci tangan
 Kulit pasien
setiap sebelum dan tampak bersih
 Pasien tampak
sesudah mealakukan
tindakan keperawatan segar
5.2 Mengobservasi
luka(lokasi, warna,
granulasi, dan
jaringan nekrotik)
5.3 Memonitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan local
5.4 Inspeksi Kondisi
luka/insisi bedah
2.3 Melakukan perawatan
luka dan hyghine
1.7 Mengevaluasi
keefektifan control Ds :
 Pasien mengatakan
nyeri
sedikit merasa
nyaman setelah
dilakukan
5.1 Mencuci tangan
perawatan luka
setiap sebeum dan  Pasien mengatakan
sesudah melakukan nyeri sudah
berkurang
tindakan keperawatan  Pasien mengatakan
1.6 Mengkolaborasikan skala nyeri 3
dengan dokter dalam Do :
 Lokasi luka di
10.00 WITA pemberian obat punggung tangan
analgetik kiri
3.5 Melakukan  Luas luka <5 cm
 Luka tampak
pemberian insulin berwarna merah
5.7 Mengkolaborasikan  Tidak tampak
terlihat infeksi
dengan dokter dalam
sistemik dan local
pemberian obat
antibiotic

DS : -
5.1 Mencuci tangan
DO :
setiap sebelum dan
 Injeksi intravena
sesudah melakukan obat analgetik
dan antibiotic
tindakan keperawatan
 Injeksi insulin 4
unit
1.7 Mengevaluasi
 Tanda – tanda
keefektifan control vital
TD : 130/80
nyeri
mmHg
N : 84 x/menit
4.3 Memantau intergritas RR : 20 x/ menit
kulit klien S : 37.4 c

12.00 WITA

Ds :
 pasien
mengatakan nyeri
berkurang
 Pasien
mengatakan skala
nyeri 2
 Pasien
5.1 Mencuci tangan mengatakan
setiap sebelum dan sering melakukan
tehnik nafas
sesudah melakukan dalam utk
tindakan keperawatan mengontrol nyeri
Do :
 Pasien sudah
1.2 Mengobservasi reaksi
tampak mulai
14.00 WITA
nonverbal dari nyaman karna
nyeri sudah mulai
ketidaknyamanan
berkurang
 Integritas kulit
2.2 Menjaga kebersihan pasien tampak
kulit paien agar tetap bersih
bersih dan kering
Ds :
4.4 Memberikan bantuan  Pasien
mengatakan
sampai pasien mersasa nyaman
sepenunya dapat setelah dibantu
untuk perawatan
mengasumsikan diri
perawatan diri Do :
 Pasien tampak
nyaman setelah
nyeri berkurang
 Kulit pasien
tampak bersih
 Pasien juga
5.1 Mencuci tangan tampak lebih
setiap sebelum dan segar

16.30 WITA sesudah melakukan


tindakan keperawatan

1.2 Mengobservasi reaksi


nonverbal dari
ketidaknyamanan

1.7 Mengevaluasi Ds :
kefektifan control  Pasien
mengatakan nyeri
nyeri
sudah sangat
berkurang
1.6 Mengkolaborasikan  Pasien juga
dengan dokter dalam mengatakan
sudah merasa
pemberian obat nyaman akibat
analgetik nyeri sudah
3.5 Melakukan berkurang
Do :
pemberian insulin  Injeksi intravena
5.7 Mengkolaborasikan obat analgetik
dan antibiotic
dengan dokter dalam
 Injeksi Sub Cutan
18.00 WITA pemberian obat Insulin 4 unit
antibiotic
5.1 Mencuci tangan stiap
dan sesudah
melakukan tindakan
keperawatan

4.3 Memantau intergritas


kulit pasien

5.3 Memoitor tanda dan Ds : -


gejala infeksi sistemik
Do :
dan local  Integritas kulit
pasien tampak
besih
 Tidak tampak
tanda dan gela
infeksi sistemik

1.3 Memonitor Tanda-


Tanda vital
19.45 WITA
4.1 Memonitor keampuan
klien untuk perawatan Ds :
 Pasien
diri yang mandiri
mengatakan
masih belum bisa
5.5 Menganjurkan pasien untuk perawatan
untuk meningkatkan diri karna
tangannya habis
istirahat operasi
 Pasien
mengatakan
paham dengan
yang dianjurkan
perawat
Do :
 Tanda – tanda
vital
TD : 120/70
21. 40 WITA
mmHg
N : 78x/Menit
RR : 20x/menit
S : 36.8 c
 Minat pasien
untuk
melakuakan
perawatan diri
berkurang karena
post operasi

Ds : -
Do :
 GDP Pasien : 189
g/dl

5.1 Mencuci tangan


setiap sebelum dan
sesudah alakukan
tindakan keerawatan
Ds : -
a. Memantau kadar Do :
 Injeksi obat
Glukosa darah
intravena
Jumat, 11 Analgetik dan
antiboiotik
Oktober 2019  Injeksi sub cutan
05.00 WITA dengan insulin 4
unit
5.1 Mencuci tangan
setiap sebelum dan
sesudah alakukan
tindakan keerawatan
06.10 WITA 1.6 Mengkolaborasikan
dengan dokter dalam
pemberian obat
analgetik
3.5 Melakukan
pemberian insulin
5.7 Mengkolaborasikan
Ds :
dengan dokter dalam  pasien mengta
merasa nyaman
pemberian obat
setelah dibantu
antibiotic untuk
peraawatan diri
Do :
 Pasien tampak
merasa nyaman
setelah
melakukan
5.1 Mencuci tanga setiap
kegiatan
sebel dan sesudah keperawatan .
 Kulit pasien
2.2 Menjaga kebersihan tampak berssih
kulit pasien Agar tetp
07.00 WITA
bersih
Ds. : -
4.4 Memberikan bantuan Do :
 Lokasi luka di
sampai pasien punggung tangan
sepenuhnya dapat kiri
 Luas luka <5 cm
mangasumsikan  Luka tampak
perawatan diri berwarna merah
 Tidak tampak
terlihat infeksi
sistemik.
 Tanda – tanda
vital
TD : 120/70
5.1 Mencuci tangan mmHg
setiap sebelum dan N : 78x/Menit
09.00 WITA RR : 20x/menit
sesudah dinas S : 36.8 c
1.3 Memonitor Tanda-
tanda vital

2.1 Mengkaji catau


mencatat ukuran Ds : -
Do :
,warna,/sendidi setiap  Injeksi obat
luka intravena
Analgetik dan
2.3 Melakukan antiboiotik
 Injeksi sub cutan
perawatan luka dan dengan insulin 4
hygiene unit
 Kulit pasien
tampak bersih
5.3 Memonitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan local

11.50 WITA

5.1 Mencuci tangan stiap


sebelum dan sesudah
melakukan tindakan
keperawtan

2.2 Menjaga kebersihan


kulit agar tetap bersih

3.5 Kolaborasi pemberian


insulin

4.3 Memantau Intergritas


kulit pasien
EVALUASI PRE OPERASI

(CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN)


Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 40 th Ruangan : Flamboyan B

N Hari/Tgl/Jam Dx. Kep. Evaluasi (S O A P)


o.
1. Selasa, 08 Nyeri Akut S:
Oktober 2019
 Pasien mengatakan nyeri
14.00 WITA
karena luka pada daerah
punggung tangan seperti
ditusuk-tusuk dengan skala
nyeri 4, nyeri hilang timbul
dan muncul jika digerakan.
O:
 Pasien tampak meringis
 Pasien tampak gelisah
 Pasien tampak bersifat
protektif
 TTV :
TD : 140/80 mmHg
N : 101 x/menit
S : 36,5
R : 20 x/menit
 Tampak luka bagian punggung
tangan kiri
 Jenis luka akut
 Luas luka 5cm
 Warna dasar luka merah muda
 Tipe eksudat darah
 Leukosit : 11,40 (High)
A:
Masalah Keperawatan Nyeri Akut
Belum Teratasi
P :
Lanjutkan Intervensi
1.4 Gunakan tehnik komunikasi
terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
1.5 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
1.6 Anjurkan pasien untuk
meningkatkan istirahat
1.7 Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat
analgetik.

S:
2. 18.00 WITA Nyeri Akut
 Pasien mengatakan mengerti
setelah diajarkan relaksasi nafas
dalam
 Pasien mengatakan nyeri
berkurang setelah melakukan
teknik relaksasi nafas dalam
 Pasien mengatakan nyeri sudah
mulai berkurang 3/10
O:
 Pasien masih tampak meringis
 Pasien sudah tidak bersifat
protektif
A:
Masalah Keperawatan Nyeri Akut
Sebagian Teratasi
P:
Lanjutkan Intervensi
1.2 Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif
1.3 Monitor tanda –tanda vital

3. 22.00 WITA Nyeri Akut S:


 Pasien mengatakan nyeri sudah
mulai berkurang dengan skala
nyeri 3/10
O:
 TTV :
TD : 130/70 mmHg
N : 95 x/menit
S : 36,6
R : 20 x/menit
A:
Masalah Keperawatan Nyeri Akut
Sebagian Teratasi
P:
Lanjutkan Intervensi
1.3 Monitor tanda – tanda vital
1.7 Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat analgetik
Rabu, 09 Nyeri Akut
4. Oktober 2019 S:
06.00 WITA
 Pasien mengatakan nyeri sudah
berkurang skala 2/10
O:
 TTV :
TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/menit
S : 36,5
R : 20 x/menit
A:
Masalah Keperawatan Nyeri Akut
Teratasi
P:
Pertahankan Intervensi
1.3 Monitor tanda – tanda vital
1.7 Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat
analgetik
Rabu, 09 Gangguan
5. Oktober 2019 Integritas
14.00 WITA Kulit S:-
O:
 Terdapat kerusakan jaringan
kulit
 Terdapat nyeri
 Terdapat Pus
 Tampak bengkak
 Warna daerah luka merah

A:
Masalah Keperawatan Gangguan
Integritas Kulit Belum Teratasi
P:
Lanjutkan Intervensi
2.1 Kaji atau catat ukuran, warna,
keadaan luka / kondisi sekitar
luka.
2.2 Jaga kebersihan kulit agar
tetap bersih dan kering
2.3 Lakukan perawatan luka dan
hygiene
2.4 Berikan prioritas untuk
meningkatkan kenyamanan
dan kehangatan pasien
2.5 Kolaborasi dengan dokter
Rabu, 09
6. Oktober 2019 Resiko dalam pemberian obat-obatan
14.00 WITA Infeksi
S:-
O:
 Tampak luka di daerah
punggung tangan
 Jenis luka akut
 Luas luka 5 cm
 Warna dasar luka kemerahan
 Tipe eksudat : Pus
 Tampak bengkak pada daerah
sekitar luka
 Tanda-tanda vital :
TD : mmHg
N : x/menit
S : ᵒC
RR : x/menit
A:
Masalah Keperawatan Resiko
Infeksi Belum Teratasi
P:
Lanjutkan Intervensi
4.1 Cuci tangan setiap sebelum
dan sesudah melakukan
tindakan keperawatan
4.2 Observasi luka (lokasi, warna,
granulasi, dan jaringan
nekrotik)
4.3 Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan local
4.4 Inspeksi kondisi luka/insisi
bedah
4.5 Anjurkan pasien untuk
meningkatkan istirahat
4.6 Berikan posisi yang
mengurangi tekanan pada luka
4.7 Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat-obatan.
Rabu, 09
7. Oktober 2019
22.00 WITA Ketidakstab
S:
ilan kadar
glukosa  Pasien mengatakan mudah
darah lelah dan lesu.
 Pasien mengatakan cepat haus
O:
 Bibir pasien tampak kering
 Hasil Laboratorium :
(09/10/2019)
GDP : 294 mg/dl
A:
Masalah Keperawatan
Ketidakstabilan Kadar Glukosa
Darah Belum Teratasi
P:
Lanjutkan Intervensi
3.1 Memantau kadar glukosa
darah, seperti yang
ditunjukkan
3.2 Monitor tanda – tanda
hipoglikemi

3.3 Anjurkan istirahat ketika kadar


glukosa darah adalah > 250
mg/dl

3.4 Memfasilitasi kepatuhan


terhadap diet dan latihan

3.5 Kolaborasi insulin


EVALUASI POST OPERASI

(CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN)


Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 40 th Ruangan : Flamboyan B

N Hari/Tgl/Jam Dx. Kep. Evaluasi (S O A P)


o.
1. Rabu , 09 oktober Nyeri Akut b.d S :
2019 Agen Pencedera  P : Pasien mengatakan nyeri dirasa
14.00 wita akibat operasi
Fisik  Q : Pasien mengatakan nyeri dirasa
seperti ditusuk-tusuk
 R : Pasien mengatakan nyeri
dirasakan di punggung tangan kiri
 S : Pasien mengatakan skala nyeri
4
 T : Pasien mengtakan nyeri
dirasakan hilang timbul
 Pasien mengatakan awalnya luka
tersebut hanya berukuran kecil,
namun lama kelamaan lukanya
menyebar
O:
 Pasien tampak gelisah akibat nyeri
yg dirasakan
 Luas luka 5 cm
 Warna dasar luka merah muda
 Kondisi sekitar luka tampak
kemerahan
 TD : 130/80 mmHg
 N : 89 x / menit
 S : 36.5
 RR : 18 x/menit
A: Masalah Keperawatan Nyeri Akut
belum teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi

1.4 Ajarkan tentang teknik non


farmakologi
1.5 Anjurkan pasien untuk
meningkatkan istirahat
1.6 Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian obat analgetik.

1.7 Mengevaluasi keefektifan kontrol


nyeri
18.00 wita
2. Nyeri Akut b.d
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat
dari infeksi yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu
campuran dari jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah
mati yang dicairkan oleh enzim autolitik. (Morison, 2003)

Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik “mata”, yang


kemudian pecah, rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis,
meninggalkan jaringan parut yang kecil. (Underwood, 2000)

DAFTAR PUSTAKA
Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa
Inggris : kurt J.
Lessebacher. Et. Al : editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13.
jakarta : EGC. 1999.
Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta.
Edisi 2. Jakarta:EGC,2004.
Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-
Bedah Bruner and Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa
Indonesia :Monica Ester. Edisi 8 jakarta : EGC,2001.
NANDA, 2005
NIC, 2005
NOC, 2005

Anda mungkin juga menyukai