Anda di halaman 1dari 20

RENCANA PERANGKAP PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA Negeri 4 Semarang

Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia

Kelas/Semester : X / Genap

Materi Pokok : Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di


Indonesia

Alokasi Waktu : 1 X 45 Menit

A. Kompetensi Inti

KI 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.


KI 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong
royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
KI 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar, Nilai Karakter, Indikator Pencapaian Kompetensi


Indokator Pencapaian
Kompetensi Dasar Nilai Karakter
Kompetensi
3.8. Mengidentifikasi  Mandiri 3.8.1. Mampu menyebutkan
karakteristik kerajaan-kerajaan Islam
kehidupan di pulau Jawa
masyarakat, 3.8.2.Mampu menjelaskan
pemerintahan dan lokasi, sumber, dan
kebudayaan pada keadaan sosial politik
masa kerajaan- kerajaan Demak
kerajaan Islam di 3.8.3.Mampu menjelaskan
Indonesia dan lokasi, sumber, dan
menunjukan contoh keadaan sosial politik
bukti-bukti yang kerajaan Mataram.
masih berlaku pada 3.8.4.Mampu menjelaskan
kehidupan lokasi, sumber, dan
masyarakat Indonesia keadaan sosial politik
masa kini. kerajaan Banten.
4.8 Menyajikan hasil  Gotong-royong 4.8.1 Mampu menyajikan hasil
penalaran dalam diskusi dalam bentuk
bentuk tulisan tentang pertanyaan klu-klu
nilai-nilai dan unsur beserta jawabannya
budaya yang
berkembang pada
masa kerajaan Islam
dan masih
berkelanjutan dalam
kehidupan bangsa
Indonesia pada masa
kini

C. Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik mampu menyebutkan kerajaan-kerajaan Islam di pulau Jawa
2. Peserta didik mampu menjelaskan lokasi, sumber dan kondisi sosial politik
kerajaan-kerajaan Islam di pulau Jawa.
3. Peserta didik mampu membuat pertanyaan dan menganalisi jawaban atas
pertanyaan dalam diskusi tentang kerjaan-kerajaan Islam di pulau Jawa.
D. Materi Pembelajaran
1. Perkembangan Kerajaan Demak.
2. Perkembangan Kerajaan Mataram Islam.
3. Perkembangan Kerajaan Banten.

E. Strategi Pembelajaran
1. Pendekatan pembelajaran : Saintific
2. Model pembelajaran : Course Reviuw Horey
3. Metode pembelajaran : Ceramah, diskusi, tanya-jawab

F. Media Pembelajaran
1. Media : Power Poin
2. Bahan : Kertas, spidol, bulpen, laptop, LCD.

G. Sumber Belajar
1. Penyusun.2017.Buku Guru Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas
X.Jakarta:Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
2. Penyusun.2017.Buku Siswa Sejarah Indonesia Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas
X.Jakarta:Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
3. Hapsari, Ratna dan M. Adil.2016.Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas X
Kelompok Wajib.Jakarta:Erlangga.
H. Langkah Pembelajaran
Langkah Alokasi
Kegiatan pembelajaran
Pembelajaran Waktu
Pendahuluan 1. Guru menyampaikan salam dan berdoa 10 menit
2. Guru mengecek kesiapan peserta didik
dalam kesiapan untuk memulai
pembelajaran
3. Mempresensi peserta didik
4. Apersepsi : menanyakan kembali materi
pada pertemuan sebelumnya
5. Literasi : menanya kepada peserta didik
tentang pengalamannya mengunjungi
tempat/benda peninggalan masa Islam
di pulau Jawa
6. Motivasi : mengaitkan gambaran materi
yang akan dipelajari dengan toleransi
beragama.
7. Menyampaikan tujuan pembelajaran
8. Guru menyampaiakan langkah-langkah
yang akan dilakukan peserta didik pada
pembelajaran
Inti 1. Guru menyampaikan tujuan 20 menit
pembelajaran yang diharapkan yaitu
peserta didik mampu memahami materi
yang dibahas dan diskusi yang akan
dilakukan
2. Guru menjelaskan materi berkaitan
dengan letak, sumber, dan keadaan
sosial politik pada kerajaan-kerajaan
Islam di pulau Jawa
3. Guru membentuk 3 kelompok yang
terdiri dari 4-5 peserta didik dalam satu
kelas, dengan tema pembahasan materi
yang berbeda-beda.
Kelompok 1 : Kerajaan Demak
Kelompok 2 : Kerajaan Mataram Islam
Kelompok 3 : Kerajaan Banten
4. Setiap kelompok akan diberikan 3
potongan kertas berbentuk kotak yang
diberi nomor.
5. Ketiga kotak kertas tersebut, guru
menyuruh peserta didik membuat satu
pertanyaan 3 klu di satu kotak kertas,
pertanyaan yang berkaitan dengan tema
pembahasan tiap kelompok masing-
masing, dan menyimpan jawabannya
yang ditulis di bagian kertas tersebut
juga.
6. Setelah selesa, kotak kertas yang berisi
pertanyaan dikumpulkan oleh guru,
kemudian guru menempelkannya
dipapan tulis.
7. Satu persatu guru menyuruh kelompok
untuk memilih nomor kotak kertas
sampai tiga kali.
8. Kemudian kelompok yang kotaknya
ditunjuk akan membacakan pertanyaan.
9. Kelompok yang menujuk akan
berdiskusi dengan kelompoknya untuk
mencari jawabannya.
10. Kelompok yang bisa menjawab kotak
pertanyaan dari kelompok lain akan
berteriak jargonya masing-masing,
misal Horay atau Merdeka.
11. Kemudian guru memberikan tanda
bintang pada kelompoknya.
12. Guru menghitung hasil tanda bintang
yang didapt dari masing-masing
kelompok
13. Kelompok dengan bintang terbanyak
adalah pemenangnya
14. guru bersama-sama peserta didik
menyimpulkan jawaban-jawaban pada
kotak pertanyaan yang berkatan dengan
materi pembahasan
Penutup 1. Penyimpulan materi dan kegiatan 15 menit
pembelajaran bersama-sama atara guru
dan peserta didik
2. Evalusi pembelajaran lewat lembar
kerja siswa
3. Menyampaikan materi yang akan
dibahas dipertemuan selanjutnya.
4. Memberi salam

I. Penilaian
1. Penilaian Pengetahuan
a. Teknik penilaian : tes tertulis
b. Bentuk penilaian : pilihan ganda
c. Kisi –kisi :

Kompetensi Indikator No. Bentuk


No. Materi Pokok
Dasar Soal Soal Soal
1. 3.8. Perkembangan Mampu 1, 3, 8
Mengidentifikasi Kerajaan- menyebutkan
karakteristik Kerajaan letak
kehidupan Islam di pulau kerajaan-
masyarakat, Jawa kerjaan Islam
pemerintahan di pulau Jawa
2. dan kebudayaan Mampu 2,6 Pilihan
pada masa menyebutkan ganda
kerajaan- nama-nama
kerajaan Islam di yang pernah
Indonesia dan memerintah
menunjukan kerajaan-
contoh bukti- kerajaan Isla
bukti yang masih di pulau Jawa
3. berlaku pada Mampu 4,7,9
kehidupan menjelaskan
masyarakat tentang
Indonesia masa kondisi
kini. politik
kerajaan-
kerajaan
Islam di
pulau Jawa
4. Mampu 5
menjelaskan
tentang
sistem
pemerintahan
kerajaan
Mataram
Islam
5. Mampu 10
menyebutkan
bukti
peninggalan
kerajaan
Banten

d. Lembar Kerja Siswa


LEMBAR KERJA SISWA
Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa

NAMA :
KELAS :
NO. Abs :
Jawablah pertanyaan-pertanyaan pilihan ganda dibawah ini dengan cara menyilang (X)
dengan tepat !
1. Amati gambar peta pulau Jawa !

Di nomor berapakah letak kerajaan Islam pertama di Jawa adalah...


A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
2. Raden Patah merupakan anak dari seorang putri dari Campa, dan mempunyai ayah tiri
yaitu Adipati di Palembang, sedangkan ayah kandungnya adalah seorang raja dari
kerajaan Mataram Kuno yang bernama....
A. Kerthabumi
B. Sultan Agung
C. Prabu Siliwangi
D. Raden Wijaya
E. Hayam Wuruk
3. Persekutuan antara Pajajaran dengan Portugis menyebabkan kekhawatiran akan ekspansi
Portugis di Jawa, hingga akhirnya dibawah pemimpinan Fatahilla, Demak berhasil
merebut pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian oleh Fatahilla Sunda Kelapa diubah
namanya menjadi...
A. Jayakarta
B. Jakarta
C. Batavia
D. Jawa Barat
E. Pasundan
4. Sepeninggal Raden Patah, Kerajaan Demak mengalami perebutan kekuasaan, salah
satunya dilakukan oleh Arya Panangsan dengan Jaka Tingkir, kemudian dimenangkan
oleh Jaka Tingkir. Akibat dari berkuasanya Jaka Tingkir yaitu...
A. Kerajaan Demak menjadi kerajaan maritim
B. Jaka Tingkir menguasai seluruh wilayah semua Jawa
C. Demak mengalami keruntuhan
D. Ibu kota Kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang
E. Tidak tejadi perang saudara lagi didala Kerajaan Demak
5. Perhatikan urutan pembagian wilayah Kerajaan Mataram berikut ini :
(1) Kerajaan, Negara Agung, Mancanegara, Pesisir
(2) Kutanegara, Negara Agung, Mancanegara, Pesisir
(3) Kutanegara, Negara Agung, Dalam negara, Pesisir
(4) Kerajaan, Negara Agung, Luarnegeri, Pesisir
(5) Kutanegara, Negara Agung, Mancanegara, Pegunungan
Manakah nomor yang bernar urutan dari 4 bidang wilayah yang dibuat oleh Sultan
Agung...
A. (5)
B. (4)
C. (3)
D. (2)
E. (1)
6. Manakah nama-nama raja Mataram Islam yang tidak memihak kepada VOC..
A. Ki Ageng Pemanahan, Sultan Agung, Amangkurat I
B. Ki Ageng Pemanahan, Sultan Agung, Pakubuwono I
C. Panembahan Senopati, Sultan Agung, Amangkurat III
D. Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pakubuwono II
E. Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pakubuwono III
7. Perhatikan pernyataan dibawah ini !
(1) Mataram dipecah menjadi 2 wilayah kekuasaan
(2) Mataram dipecah menjadi 3 wilayah kekuasaan
(3) Dilakukan oleh Pakubuwono III, VOC, Mangkubuwono
(4) Terpecah menjadi Kasunanan dan Kasultanan
Dari pernyataan diatas, manakan yang berkaitan dengan perjanjian Giyanti...
A. (1),(2),(3)
B. (1),(2),(4)
C. (1),(3),(4)
D. (1),(2),(4)
E. (2),(3),(4)
8. Setelah Fatahillah mapu mengusai Sunda Kelapa yang merupakan wilayah kekuasaan
Pajajaran, beliau kemudian bersama Malana Hasanudin dari Cirebon yang merupakan
putra dari Syarif Hidayatullah meyerang daerah disekitar Sunda Kelapa, yaitu...
A. Bogor
B. Bekasi
C. Banten
D. Jakarta
E. Tanggerang
9. Pada masa Sultan Maulana Hasanudin memerintah Kerajaan Banten, fondasi Islam
sangat diperhatikan, salah satu tindakan yang dilakukan beliau untuk memperluas
pengauh Islam adalah...
A. Mendirikan pesantren
B. Mendirikan Rumah Sakit
C. Haji
D. Umroh
E. Membuat Kitab
10. Amati gambar bagungan dibawah ini !

Bagunan tersebut dahulu merupakan lokasi istana kerajaanya yaitu bernama...


A. Istana Surosowan
B. Masjid Raya Banten
C. Museum Fatahilla
D. Pelabuhan Sunda Kelapa
E. Mangkunegaran
e. Rubrik penilaian :
Butir Soal Kriteria Jawaban Skor
1 C 1
2 A 1
3 A 1
4 D 1
5 D 1
6 C 1
7 C 1
8 C 1
9 A 1
10 A 1

f. Pedoman penskoran :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑘𝑜𝑟
Nilai = x 100
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (10)

2. Penilaian Keterampilan Sikap


a. Teknik penilaian : observasi
b. Bentuk penilaian : lembar observasi
c. Kisi – kisi :

No. Kompetensi Dasar Indikator Bentuk


1. 4.8.Menyajikan hasil penalaran Mampu membuat
dalam bentuk tulisan pertanyaan yang
tentang nilai-nilai dan berkaitan dengan materi
unsur budaya yang pembahasan
Observasi
2. berkembang pada masa Mampu bekerjasama
kerajaan Islam dan masih dalam menjawab
berkelanjutan dalam pertanyaan didalam
diskusi
3. kehidupan bangsa Mampu mengumpulkan
Indonesia pada masa kini informasi untuk
membuat pertanyaan
dan menjawabnya.
d. Instrumen penilaian
Hasil kerja kelompok dan presentasi hasil diskusi
Indikator Penilaian Jumlah
No. Nama Keatifan menjawab Bertanya Kerjasama
4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1
1. Ninit
2. Nur Latifah
3. Rena
Legina
4. Runi

e. Rubrik Penilaian
Kriteria Indikator penilaian skor Keterangan
Dapat mengaitkan isi materi dengan
kondisi dalam dunia keseharian atau
4 Sangat baik
dalam suatu masalah yang sedang
Keaktifan terjadi di masyarakat
menjawab Mampu menjelaskan isi materi 3 Baik
Kurang tepat dalam memahami isi
2 Kurang baik
materi
Tidak mampu memahami isi materi 1 Tidak baik
Mudah dipahami dan pilihan kata tepat 4 Sangat baik
Mudah dipahami dan pilihan kata tepat
3 Baik
kurang tepat
Bertanya Kurang dapat dipahami dan pilihan
2 Kurang baik
kata kurang tepat
Tidak mudah dipahami dan pilihan kata
1 Tidak baik
kurang tepat
Mampu bekerjasama mencari
informasi dengan baik, membagikan
4 Sangat baik
serta memberi penjelasan kepada
anggota kelompok lain
Mampu mencari informasi materi
Kerjasama
dengan baik dan membagikannya 3 Baik
dengan anggota kelompoknya.
Mampu mencari informasi materi 2 Kurang baik
Bersifat pasif dalam proses
1 Tidak baik
pengumpulan informasi materi

f. Pedoman penskoran :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑘𝑜𝑟
Nilai = x 100
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (16)

g. Rentang Nilai
Tidak baik 55 – 63,7
Kurang baik > 63,7 – 72,4
Baik > 72,4 – 81
Sangat bak > 81 – 100

Semarang, 7 Maret 2018


Mengetahui,
Kepala sekolah Guru Mapel

Drs. Ninit Indah Sari, S.Pd.


NIP. NIM.2016065633
Lampiran

A. Materi
1. Kerajaan Demak
a. Lokasi dan Sumber
Kerajaan Demak berada di wilayah panta utara Jawa Tengah. Para ahli
memperkirakan Demak berdiri tahun 1500. Sementara Majapahit hancur
beberapa waktu sebelumnya. Menurut sumber sejarah lokal di Jawa,
keruntuhan Majapahit terjadi sekitar tahun 1478. Hal ini ditandai dengan
candrasengkala, Sirna Hilang Kertaning Bhumi yang berarti memiliki angka
tahun 1400 Saka. Raja pertama Kerajaan Demak adalah Raden Fatah, yang
bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Fatah memerintah Demak dari
tahun 1500-1518.

Peta wilayah kerajaan Demak


b. Kondisi Sosial Politik
Pada masa pemerintahan Raden Fatah, wilayah kekuasaan Kerajaan
Demak cukup luas, meliputi Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi dan
beberapa daerah di Kalimantan. Daerah-daerah pesisir di Jawa bagian Tengah
dan Timur kemudian ikut mengakui kedaulatan Demak dan mengibarkan panji-
panjinya. Kemajuan yang dialami Demak ini dipengaruhi oleh jatuhnya Malaka
ke tangan Portugis. Karena Malaka sudah dikuasai oleh Portugis, maka para
pedagang yang tidak simpatik dengan kehadiran Portugis di Malaka beralih
haluan menuju pelabuhan-pelabuhan Demak seperti Jepara, Tuban, Sedayu,
Jaratan dan Gresik. Pelabuhanpelabuhan tersebut kemudian berkembang
menjadi pelabuhan transit.
Selain tumbuh sebagai pusat perdagangan, Demak juga tumbuh
menjadi pusat penyebaran agama Islam. Para wali yang merupakan tokoh
penting pada perkembangan Kerajaan Demak ini, memanfaatkan posisinya
untuk lebih menyebarkan Islam kepada penduduk Jawa. Para wali juga
berusaha menyebarkan Islam di luar Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam di
Maluku dilakukan oleh Sunan Giri sedangkan di daerah Kalimantan Timur
dilakukan oleh seorang penghulu dari Kerajaan Demak yang bernama
Tunggang Parangan. Setelah Kerajaan Demak lemah maka muncul Kerajaan
Pajang.
Raden Patah wafat pada tahun 1521, ketika Kerajaan Demak
melakukan penyerangan ke Malakan melawan Portugis. Namun dala
penyerangan tersebut gagal, dan menyebabkan Raden Patah meninggal dunia.
Tahta Kerajaan Demak kemudian digantikan oleh adik kandung Raden Pateh
yaitu Sultan Trenggana. Pada masa pemerintahan belia, Demak mengalai masa
kejayaannya. Wilayah kekuasaanya menjadi luas membentang dari Jawa Timur
sapai Jawa Barat.

Peta wilayah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa


Ekspansi yang dilakukan Demak, meyebabkan kekhawatiran di
kerajaan Pajajaran. Hal tersebut meyebabkan, Prabu Siliwangi selaku raja dari
kerajaan Pajajaran yang menguasai pelabuhan Sunda Kelapa bekerja sama
dengan Portugis, terutama dala perdagangan lada, dan Pajajaran memberikan
hak kepada Portugis untuk mendirikan benteng.
Keadaan tersebut menyebabkan Demak merasa terancam dengan
kedatangan Portugis di pulau Jawa. Sehingga, Demak memutuskan untuk
melaukan penyerangan ke Batavia. Penyerangan tersebut dipimpin oleh
Fatahillah pada tahun 1526, dan dalam penyerangan tersebut dimenangkan oleh
Fatahillah. Hal tersebut menyebabkan Demak menguasai Sunda Kelapa.
Kemudan atas kemenangan tersebut Fatahillah mengubah nama Sunda Kelapa
menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan yang gemilang.
Menurut Babad Tanah Jawa, sepeninggal Trenggana, konflik
perebutan kekuasaan terjadi dikalangan keluarga kerajaan Demak. Pengganti
Sultan Trenggana adalah saudaranya yaitu Pengaran Sedo Lepen. Kemudian
Pangeran Sedo Lepen dibunuh oleh putra Trenggana yaitu Pangeran Prawata.
Konflik selanjutnya terjadi ketika putra Pangeran Sedo Lepen yaitu Arya
Panangsang membunuh Pangeran Prawoto. Hal tesebut membuat Jaka Tingkir
marah akan adanya perebutan kekuasaan, bersama dengan para pemuka agama
di Demak dan bantuan Ki Ageng Pemanahan, Jaka Tingkir mengalahkan Arya
Pangsang, dan membuat Demak jatuh ke tangan Jaka Tingkir.
Atas memerintahnya Jaka Tingkir atas kerajaan Demak, ia kemudian
memindahkan ibukota ke Pajang. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa
kejadian tersebut adalah akhir kerajaan Demak. Kemudian atas jasa Ki Ageng
Pemanahan, Jaka Tingkir menghadiahkan tanah perdikan yang menjadi daerah
otonom di Mataram.
Ketika Jaka Tingkir wafat, tahta Pajang diberikan kepada Aria Pangiri
yatu putra Pangeran Prawoto. Tak teima akan hal tersebut, Benowo selauka ana
kandung Jaka Tingkir kemudian meminta bantuan Panembahan Senopati selau
anak dari Ki Ageng Pemanhan untuk merebut kerjaan Pajang dan berhasil
dimenangkan.
2. Kerajaan Mataram Islam
a. Lokasi dan Sumber
Setelah Kerajaan Demak berakhir, berkembanglah Kerajaan Pajang di
bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Di bawah kekuasaannya, Pajang
berkembang baik. Bahkan berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang
berusaha merebut kekuasaannya. Tokoh yang membantunya mengalahkan
Arya Penangsang di antaranya adalah Ki Ageng Pemanahan (Ki Gede
Pemanahan). la diangkat sebagai bupati (adipati) di Mataram. Kemudian
putranya, Raden Bagus (Danang) Sutawijaya diangkat anak oleh Sultan
Hadiwijaya dan dibesarkan di istana. Sutawijaya dipersaudarakan dengan putra
mahkota, bernama Pangeran Benowo.
Pada tahun 1582, Sultan Hadiwijaya meninggal dunia. Penggantinya,
Pangeran Benowo merupakan raja yang lemah. Sementara Sutawijaya yang
menggantikan Ki Gede Pemanahan justru semakin menguatkan kekuasaannya
sehingga akhirnya Istana Pajang pun jatuh ke tangannya. Sutawijaya segera
memindahkan pusaka Kerajaan Pajang ke Mataram. Sutawijaya sebagai raja
pertama dengan gelar: Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Pusat kerajaan ada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota
Yogyakarta sekarang. Panembahan Senapati digantikan oleh
putranya yang bernama Mas Jolang (1601-1613). Mas Jolang
kemudian digantikan oleh putranya bernama Mas Rangsang atau
lebih dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada
masa pemerintahan Sultan Agung inilah Mataram mencapai
Sultan Agung zaman keemasan.
b. Keadaan Sosial Politik
Dalam bidang politik pemerintahan, Sultan Agung berhasil membawa
Mataram pada puncak kejayaan, dia mampu memperluas wilayah Mataram ke
berbagai daerah yaitu, Surabaya (1615), Lasem, Pasuruhan (1617), dan Tuban
(1620). Di samping berusaha menguasai dan mempersatukan berbagai daerah
di Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari Kepulauan Indonesia.
Kemudian diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia pada tahun
1628 dan 1629.
Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dan digantikan oleh
putranya yang bergelar Amangkurat I. Pada masa pemerintahannya ini,
Mataram mengalami banyak kemunduran. Hal ini dikarenakan, Amangkurat I
lebih memihak kepda VOC. Atas hal tersebut, banyak negara-negara taklukan
Mataram yang melepaskan diri, akibat dari reaksi kerjasama yang dilakukan
Amangkurat I dengan pihak VOC. Amangkurat wafat pada tahun 1677 ketika
mengungsi di Tegalarum.
Tahta Mataram kemudian dipegang oleh putranya Amangkurat II. Tak
jauh juga dengan ayahnya, Amangkurat II juga menjalin kerjasama dengan
VOC. Hal tersebut menyebabkan VOC emnguasai hampir wilayah Mataram,
hingga akhirnya Amngkurat II membuka ibukota baru di Kartasura. Setelah
wafat, digantikan oleh Amangkurat III, beliau lebih menentang VOC. Karena

Kasunanan Surakarta Kasultanan Yogyakarta


penentangan tersebut, ahirnya VOC mengangkat Pakubuwono I sebagai sultah
Kerajaan. Seiring berjalannya waktu, terjadi perebutan kekuasaaan hingga
akhirnya diadakan perjanjian Giyanti, yang membagi Mataram menjadi
Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kasultananan kemudian
terpecah lagi dengan adanya Pakualaman, sedangkan Kasunanan pecah dan
muncul Mangkunegaran.

3. Kerajaan Banten
a. Lokasi dan Sumber
Kerajaan Banten berawal
sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan
Demak memperluas pengaruhnya ke
kawasan pesisir barat Pulau Jawa,
dengan menaklukkan beberapa
kawasan pelabuhan kemudian
menjadikannya sebagai pangkalan
militer serta kawasan perdagangan.
Maulana Hasanuddin, putera Sunan

Peta wilayah kerajaan Banten Gunung Jati berperan dalam


penaklukan tersebut. Setelah
penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin atau lebih sohor dengan sebutan
Fatahillah, mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang
kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kesultanan Banten.
Pada awalnya, kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang
yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan kerajaan di
bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk
perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu
oleh adanya kerja sama Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik, hal
ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas
kekalahan mereka mengusir Portugis dari Malaka tahun 1513. Atas perintah
Sultan Trenggono, Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukan
Pelabuhan Sunda Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan
pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda.
b. Kondisi Sosial Politik
Seiring dengan kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya
Sultan Trenggono, maka Banten melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang
mandiri. Pada 1570 Fatahillah wafat. Ia meninggalkan dua orang putra laki-
laki, yakni Pangeran Yusuf dan Pangeran Arya (Pangeran Jepara). Dinamakan
Pangeran Jepara, karena sejak kecil ia sudah diikutkan kepada bibinya (Ratu
Kalinyamat) di Jepara. Ia kemudian berkuasa di Jepara menggantikan Ratu
Kalinyamat, sedangkan Pangeran Yusuf menggantikan Fatahillah di Banten.
Pangeran Yusuf melanjutkan usaha-usaha perluasan daerah yang
sudah dilakukan ayahandanya. Tahun 1579, daerah-daerah yang masih setia
pada Pajajaran ditaklukkan. Untuk kepentingan ini Pangeran Yusuf
memerintahkan membangun kubu-kubu pertahanan. Tahun 1580, Pangeran
Yusuf meninggal dan digantikan oleh putranya, yang bernama Maulana
Muhammad. Pada 1596, Maulana Muhammad melancarkan serangan ke
Palembang. Pada waktu itu Palembang diperintah oleh Ki Gede ing Suro (1572
- 1627). Ki Gede ing Suro adalah seorang penyiar agama Islam dari Surabaya
dan perintis perkembangan pemerintahan kerajaan Islam di Palembang. Kala
itu Kerajaan Palembang lebih setia kepada Mataram dan sekaligus merupakan
saingan Kerajaan Banten. Itulah sebabnya, Maulana Muhammad melancarkan
serangan ke Palembang. Kerajaan Palembang dapat dikepung dan hampir saja
dapat ditaklukkan. Akan tetapi, Sultan Maulana Muhammad tiba-tiba terkena
tembakan musuh dan meninggal. Oleh karena itu, ia dikenal dengan sebutan
Prabu Seda ing Palembang. Serangan tentara Banten terpaksa dihentikan,
bahkan akhirnya ditarik mundur kembali ke Banten.
Menginjak abad ke-17 Banten mencapai zaman keemasan.
Daerahnya cukup luas. Setelah Sultan Abumufakir meninggal, ia digantikan
oleh putranya bernama Abumaali Achmad. Setelah Abumaali Achmad,
tampillah sultan yang terkenal, yakni Sultan Abdulfattah atau yang lebih
dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah pada tahun 1651
- 1682.
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten terus
mengalami kemajuan. Letak Banten yang strategis mempercepat
perkembangan dan kemajuan ekonomi Banten. Kehidupan sosial budaya juga
mengalami kemajuan. Masyarakat umum hidup dengan rambu-rambu budaya
Islam. Secara politik pemerintahan Banten juga semakin kuat. Perluasan
wilayah kekuasaan terus dilakukan bahkan sampai ke daerah yang pernah
dikuasai Kerajaan Pajajaran. Namunada sebagian masyarakat yang
menyingkir di pedalaman Banten Selatan karena tidak mau memeluk agama
Islam. Mereka tetap mempertahankan agama dan adat istiadat nenek moyang.
Mereka dikenal dengan masyarakat Badui.
Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik
di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha menentang VOC,
kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana
ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et impera. VOC membantu
Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya
kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC
di Banten. Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang kuat.
Hal ini membawa kemunduran Kerajaan Banten.