Anda di halaman 1dari 50

PEDOMAN

PELAYANAN UNIT KAMAR OPERASI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TAMANSARI


2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala rahmat yang telah dikaruniakan sehingga Pedoman Pelayanan Unit
kamar operasi Rumah Sakit Umum Daerah Taman Sari ini dapat selesai
disusun.
Pedoman pelayanan unit kamar operasi ini dibuat untuk memenuhi
kebutuhan akan pedoman kerja bagi petugas rumah sakit terutama tenaga
keperawatan yang bekerja di Unit Kamar Operasi. Pedoman ini sangat
penting untuk membantu sistematika kerja perawat di unit kamar operasi
sehingga pada akhirnya diharapkan secara khusus dapat mengurangi atau
menurunkan angka kematian, kecacatan dan infeksi seminimal mungkin serta
meningkatkan mutu pelayanan di kamar operasi pada umumnya.
Tidak lupa penyusun sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya
atas bantuan semua pihak dalam menyelesaikan Pedoman Pelayanan unit
kamar operasi Rumah Sakit Umum Daerah Taman Sari.

Jakarta, Maret 2019

dr. Herni Lestyaningsih, MARS


NIP. 19750316200604202018

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................... 1


Daftar Isi .............................................................................................. 2

BAB I PENDAHULUAN ................................................................ 3


A. Latar Belakang ................................................................ 3
B. Tujuan Pedoman ............................................................ 3
C. Referensi dan Landasan .................................................. 4
D. Continus Improvement .................................................... 4
E. Falsafah .......................................................................... 5
F. Ruang Lingkup................................................................. 5
BAB II STRUKTUR ORGANISASI DAN URAIAN TUGAS ............. 7
A. Struktur Organisasi .......................................................... 7
B. Uraian Tugas .................................................................. 7
BAB III PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI .............................. 17
A. Pelayanan Bedah ............................................................ 17
B. Pelayanan Anestesi ........................................................ 17
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN ............................................ 19
BAB V PELAYANAN CSSD ............................................................. 25
BAB VI KETENAGAAN .................................................................... 27
BAB VII SARANA DAN PRASARANA ............................................... 29
BAB VIII PATIENT, STAFF SAFETY, INFECTION PREVENTION AND
CONTROL DI UNIT KAMAR OPERASI ............................... 36
BAB IX STAFF DEVELOPMENT ....................................................... 39
BAB X PENGENDALIAN MUTU ....................................................... 44
BAB XI PENUTUP ............................................................................. 49

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kamar Operasi merupakan unit dan bagian integral dari pelayanan
RSUD TAMAN SARI. Di dalamnya tindakan pembedahan baik diagnostik
maupun terapi, baik elektif maupun cito yang membutuhkan keadaan steril
(suci hama) dapat dilakukan. Selain itu, Kamar Operasi RSUD Taman Sari
merupakan bagian pendukung penting dalam program RSUD yang kerap
dipergunakan untuk mendukung upaya kepada masyarakat. Unit Kamar
Operasi secara organisasi berada dibawah Pelayanan Medis. Termasuk di
dalam unit ini adalah CSSD (Central Sterilization & Supply Department)
sebagai pusat penyedia bahan habis pakai steril, dan pusat sterilisasi seluruh
alat medik di RSUD.
Sebagai rumah sakit yang senantiasa mengupayakan standar tertinggi
dalam pemberian pelayanan, maka RSUD merasa perlu menyusun suatu
pedoman, agar dapat dijadikan acuan dalam segala proses pengelolaan
kamar operasi, baik dalam penyusunan kebijakan, prosedur, maupun
operasional sehari-hari di unit kamar bedah.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan Umum
Sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan, prosedur dan segala
proses baik pengelolaan maupun pelayanan di unit kamar operasi
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan pelayanan pembedahan ( terapi / diagnostik ) secara
holistik termasuk diantaranya aspek psikologis pasien.
b. Mengutamakan keselamatan baik pasien maupun staf dalam setiap
aktivitas yang berlangsung di unit kamar bedah, dengan mengikuti
pedoman keselamatan kerja dan keselamatan pasien di RSUD
Taman Sari.
c. Mencegah dan mengendalikan infeksi dalam tindakan operasi baik
bagi klien maupun petugas kamar bedah, dengan mengikuti
pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di RSUD Taman
Sari.
d. Menyediakan alat/bahan steril untuk seluruh unit di rumah sakit
e. Memberikan pelayanan bedah dan anestesi sesuai dengan standar
profesi, etik kedokteran, tuntutan masyarakat dan perkembangan
teknologi.

3
f. Meningkatkan angka harapan hidup dan mengurangi angka
kecacatan
g. Meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan (asisten anesthesi,
instrumen, asisten bedah dan sirkuler ) dan pelayanan medik baik
bedah maupun anestesi sesuai dengan standar profesi.
h. Memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik serta menjaga
kesterilan alat dan ruangan dalam upaya pencegahan infeksi
nososkomial
i. empersiapkan pasien untuk siap dialaksanakan operasi dan
mencegah komplikasi
j. Mengutamakan ketelitian selama kegiatan operasi demi
keselamatan pasien
k. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui
pendidikan formal dan nonformal
l. Memastikan lokasi operasi dengan tepat

C. REFERENSI & LANDASAN


1. Undang Undang RI No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
2. Pedoman Pelayanan Pusat Sterilisasi (CSSD) di Rumah Sakit, Depkes
RI 2002
3. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit (2008) Depkes RI
4. Undang – Undang No. 29 Tahun 2009 tentang Praktek Kedokteran
5. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 779/Menkes /SK/VIII/2008
tanggal 19 Agustus 2008 tentang Standar Pelayanan Anestesiologi
dan Reanimasi Rumah Sakit.
6. Undang-undang praktek kedokteran No. 29 Tahun 2004 pasal 51
tentang Layanan Anestesia harus sesuai dengan kebutuhan pasien
7. Undang-undang praktek kedokteran No. 29 Tahun 2004 pasal 44
tentang Standar Pelayanan Anestesia
8. Permenkes Nomor 519/MENKES/PER/III/2011 tentang pedoman
penyelenggaraan pelayanan anestesiologi dan terapi intesif di rumah
sakit

D. CONTINOUS IMPROVEMENT
Merupakan tindak lanjut (rekomendasi dan pelaksanaan rekomendasi)
dari hasil pengolahan data pada tahap evaluasi, Wujudnya dapat berupa
1. Disusunnya suatu kebijakan dan/atau prosedur baru, lengkap beserta
sosialisasi yang cukup mengenai kebijakan dan/atau prosedur baru

4
tersebut
2. Direvisinya suatu kebijakan dan/atau prosedur lengkap beserta
sosialisasi yang cukup mengenai revisi dari kebijakan dan/atau
prosedur tersebut
3. Disusunnya suatu program kerja tahunan
4. Penambahan tenaga baik kuantitas maupun kualitas
5. Penambahan /penggantian medical equipment maupun equipment
lain.
E. FALSAFAH
1. Visi Ruang OK
Menjadi Menjadi Unit Kamar Operasi pilihan bagi pasien yang
memerlukan pembedahan dengan pelayanan berdasar keselamatan
pasien
2. Misi Ruang OK
a. Memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan tanggap kepada
seluruh pasien yang menjalani pembedahan dengan standar mutu
yang optimal
b. Membina dan menjaga lingkungan kerja yang baik dan sehat
dengan berkomunikasi secara terbuka untuk mengembangkan
profesi.
c. Memberikan pelayanan tindakan operasi dengan mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
d. Bekerjasama secara efektif dalam tim kerja dengan semua unit
terkait.

F. RUANG LINGKUP
1. Perencanaan
a. Identifikasi resiko keamanan untuk pedoman kamar operasi rumah
sakit
b. Penyusunan Pedoman Kamar Operasi
c. Pengorganisasian Kamar Bedah
d. Pengkoordinasian dengan unit / bagian lain, seperti :
1) Komite Medik
2) Komite Keperawatan
3) Dokter Operator : Dokter Spesialis Bedah, Dokter Spesialis
Anestesi, Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, Dokter
Spesialis Mata
4) Tim PPI

5
5) Tim K3RS
e. Penyusunan Panduan Pelayanan Anestesi
f. Penyusunan Panduan Pelayanan Bedah
g. Penyusunan Berbagai Kebijakan dan Prosedur
h. Penyusunan Berbagai Program Ruang OK
2. Tindakan
a. Pelayanan bedah
b. Pelayanan anestesi dan sedasi
c. Pelayanan keperawatan Unit Kamar Operasi
d. Pelayanan CSSD

6
BAB II

A. STRUKTUR ORGANISASI

Dr. Herni Lastyaningsih, MARS


Direktur

Dr. Titta G.S Achmad Abdu Dodi, SKM,MAP


Kepala Seksi Pelayanan Medis Kepala Seksi Keperawatan Medis

Dr. Ajeng Pramesti Ns. Melda Lamtiur S, S.Kep


Kasatpel Ruang Khusus Ka. Sat. Pel. Keperawatan

Dr. Better Versi N, Sp. OG Danu Haryanto, Amd. Kep


Kepala Unit Ruang Operasi Kepala Unit Kamar Operasi

Perawat Unit
Operator Bedah Operator Anastesi Kamar Operasi Penata Anastesi

David Alex, AMK


1. Nuraya, Amd. Kep
1. Dr. Better VN. Sp. OG 1. Dr. Eva O, Sp. An
2. A. Rifaie. Amd. Kep
2. Dr. Gunawan W, 2. Dr. Lilyana, Sp. An
3. Ria W. Amd. Kep
Sp.OG
3. Dr. Shiera, Sp. B
4. Dr. Andy, Sp. B
5. Dr. Faraby, Sp. M

B. URAIAN TUGAS
1. Kepala Ruang Unit Kamar Operasi
a. Wewenang
1) Mengelola pelayanan dan asuhan keperawatan di kamar bedah
2) Memberikan delegasi dan tugas pada perawat pelaksana dalam
memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan pada pasien
yang di bedah
3) Mengatur ketenagaan yang berada di unitnya
4) Mengawasi dan mengatur pelayanan dan asuhan keperawatan
di kamar bedah
5) Mengawasi penggunaan fasilitas, peralatan rumah sakit baik
medis maupun non medis di kamar bedah.
b. Uraian tugas
1) Merencanakan penyelenggaraan pelayanan dan asuhan
keperawatan di kamar bedah sesuai kebutuhan Rumah Sakit

7
2) Mengimplementasikan sistem asuhan keperawatan yang di
anut.
3) Mengelola pelyanan dan asuhan kperawatn pada pasien kamar
bedah.
4) Merencanakan dan menempatkan staff keperawatan yang dapat
memenuhi kebutuhan dan kepentingan pasien/keluarga dan
sesuai dengan kualifikasi perawat
5) Mengarahkan dan melakukan supervisi terhadap aktivitas
pelayana pembedahan damn asuhan keperawatan di kamar
bedah untuk menjamin mutu pelayanan yang diberikan kepada
pasien dan keluarga
6) Mendelegasikan tugas kepada perawat bedah dan perawat
anestesi dalam memberikan pelayanan pembedahan dan
asuhan keperawatan pada pasien bedah
7) Mengaywasi dan memelihara lingkungan dan suasana yang
kondusif agar terasa aman dan nyaman dalam pelayanan kamar
bedah baik bagi pasien maupun petugas kamakr bedah.
8) Melakukan pengawasan terhadap perencanaan kerja,
pelaksanaan kerja, hiingga dokumentasi asuhan pasien bedah
dalam rekam medik pasien.
9) Merencanakan, mengawasi, mengevaluasi, pemakaian dan
pengadaan fasilitas dan peralatan di mkamar bedah.
10) Melaksanakan pengendalian dan pengawasan terhadap
pengguna SDM serta peralatan dan fasilitas kamar bedah
11) Memonitor pemasukan dan pengeluaran barang di kamar bedah
serta melaksanakn inventaris
12) Melakukan pengawasan terhadap displin kerja dan waktu kerja.
13) Membimbing, mendampingi, mengawasi, mengendalikan dan
menilai secara terbuka semua prilaku staf sesuai dengan peran
fungsinya.
14) Bekerja sama dengan perawat senior mengevaluasi kinerja
staff, serta mengidentifikasi tingkat kompetensi staff.
15) Mengembangkan suasana pembelajaran di kamar bedah bagi
staft keperawatan,kerja sama dengan dokter bedah dan staft
senior, prningkatan keterampilan.
16) Memperhatikan tingkat kesehatan dan kesejahteraan staft,
sehingga tercapai iklim kerja yang kondusift.
17) Berkerja sama secara sinergi dengan departemen lain di rumah

8
sakit untuk memajukan pertumbuhan dan pengebangan
pelayanan kesehatan.
18) Berpartisipasi dalam pertemuan struktural dan fungsional serta
membantu kepanitiaan yang berkaitan visi dan misi rumah sakit.
19) Mengikuti dan berpartisipasi dalam pengembangan dan
pengendalian mutu pelayanan keperawatan.
20) Bertanggung jawab dan terhadap pelayanan keperawatan di
kamar bedah
c. Kualifikasi
1) D3/S1 keperawatan
2) Mempunyai pengalaman minimal 5 tahun sebagai perawat
kamar bedah di rs, pengalaman 2 tahun sebagai penanggung
jawab shift
3) Memiliki sertifikat manajemen
4) Menyetujui dan sanggup berkerja sesuai dengan visi dan misi
RSUD Taman Sari
5) Sehat fisik,mental dan spiritual
6) Mempunyai staft kepemimpinan, karakter, intergritas, dan
pengambilan keputusan yang baik.
7) Dapat memecahkan masalah dan mempunyai kemampuan
yang baik untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja.
8) Percaya diri dan mempunyai ide-ide yang kreatif.
9) Dapat menjadi contoh yang baik bagi seluruh staft dan
melaksanakan pekerjaan.

2. Perawat Pelaksana
a. Uraian tugas dan wewenang
1) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan kelancaran
suatu prosedur operasi
2) Memberikan pelayanan langsung kepada pasien sesuai dengan
fungsi yang diberikan kepadanya (fungsi yang di berikan :
perawat asisten, perawat instrument, perawat sirkuler)
3) Menerima dan menjalankan tugas-tugas yang di berikan
(termasuk wajib on call)
4) Mengawasi keamanan dan kenyamanan pasien selama pasien
berada di kamar operasi.
5) Menciptakan suasana kerja yang sehat dan menyenangkan.
6) Harus dapat bekerja sana dengan semua staff yang berada

9
dalam satu tim.
7) Dapat berkomunikasi dengan baik dengan semua staf yang ada
di kamar operasi.
8) Bertanggung jawab terhadap setiap bahan pemeriksaan yang di
keluarkan dari tubuh pasien yang menjadi tanggung jawabnya
9) Bertanggung jawab terhadap kebersihan dan kerapihan tempat
tugasnya.
10) Bertanggung jawab terhadap semua pemakaian alkes dan obat-
obatan yang di pakai oleh pasien operasi.dan mencatat semua
pengambilan dari lemari alkes dan obat di kamar operasi
dengan benar serta di tulis secara teliti dan benar pada formulir
pemakaian alkes/obat-obatan sebelum di input oleh petugas
administrasi
11) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan alkes dan obat-
obatan , alat penunjang medis, instrument yang di pakai dan
lain-lain.
12) Berpartisipasi dalam semua kegiatan keperawatan
13) Mengembangkan potensi profesional pada diri sendiri maupun
rekan-rekan sekerja
14) Menerima dan menjalankan tugas-tugas yang di berikan
(termasuk wajib on call.)
b. Kualifikasi
1) Pendidikan: minimal D3 Keperawatan.
2) Lebih di utamakan yang berpengalaman minimal 3 tahun dan
bersertifikat kamar bedah
3) Menyetujui dan sanggup bekerja sesuai dengan visi dan misi
Rumah Sakit Umum Taman Sari
4) Mampu bekerja sama dalam Tim
5) Di utamakan kejujuran, keterampilan dan ketelitian

3. Tim Anestesi
a. Dokter Spesialis Anestesi
1) Tugas Pokok
a) Melaksanakan koordinasi kegiatan medis rawat inap di
instalasi anestesiologi dan terapi intensif
b) Bertanggung jawab atas semua kegiatan di Instalasi
anestesiologi dan terapi intensif

10
c) Perencanaan kebutuhan tenaga, sarana, dan prasarana
kegiatan di Instalasi anestesiologi dan terapi intensif
d) Pengkoordinasian kegiatan, pembinaan, dan upaya
pengembangan Sumber daya manusia di instalasi
anestesiologi dan terapi intensif
e) Pemantauan, pengawasan, dan evaluasi penggunaan
fasilitas serta pelaksanaan kegiatan di instalasi anestesiologi
dan terapi intensif.
2) Uraian Tugas
 Menyusun program kerja instalasi sebagai salah satu bahan
masukan untuk menyusun program kerja rumah sakit.
 Mengembangkan, menerapkan, dan menjaga regulasi
 Melakukan pengawasan administrative
 Menjalankan program pengendalian mutu yang dibutuhkan
 Memonitor dan evaluasi pelayanan anastesi, sedasi moderat
dan dalam
 Membuat usulan kebutuhan tenaga, sarana dan prasarana,
pemeliharaan sarana dan prasarana untuk menunjang
kegiatan pelaksanaan tugas di instalasi anestesiologi dan
terapi intensif
 Menyusun usulan rencana peningkatan kemampuan tenaga
medis dan paramedis
 Menyusun usulan rencana pemenuhan jumlah tenaga medis,
paramedis maupun non medis sesuai dengan kebutuhan
instalasi anestesiologi dan terapi intensif
 Membagi tugas kepada anggota instalasi anestesiologi dan
terapi intensif agar kegiatan di instalasi anestesiologi dan
terapi intensif berjalan lancar
 Memimpin, mengerahkan, dan menggerakkan sumber daya
manusia di instalasi anestesiologi dan terapi intensif
 Membina anggota instalasi anestesiologi dan terapi intensif
agar kegiatan sesuai dengan petunjuk dan peraturan yang
berlaku
 Memberi motivasi, semangat, dan dorongan kepada anggota
instalasi anestesiologi dan terapi intensif agar guna
meningkatkan dedikasi loyalitas, dan disiplin kerja
 Mengadakan koordinasi dan kerjasama serta memelihara
hubungan kerja yang harmonis dengan bidang dan semua
11
instalasi untuk menunjang tercapainya tugas dan fungsi dari
instalasi anestesiologi dan terapi intensif
 Memberikan usulan dan saran baik diminta maupun tidak
diminta kepada atasan sebagai bahan masukan ke pimpinan
rumah sakit
 Melaksanakan kegiatan atau tugas lain diberikan sesuai
dengan petunjuk atau pengarahan atasan
 Memberi peringatan kepada anggota instalasi anestesiologi
dan terapi intensif bila melakukan pelanggaran peraturan
yang berlaku
 Membuat pedoman tertulis yang dapat dipakai sebagai
pedoman kerja
 Melaksanakan pemantauan kelancaran penggunaan
peralatan medis agar pelayanan kepada pasien berjalan
lancar
 Melakukan evaluasi praanestesia pada pasien yang akan
mendapatkan pelayanan anestesia, analgesia, dan sedasi
 Menentukan rencana anestesia, analgesia, dan sedasi bagi
pasien yang akan menjalani pembedahan, prosedur medis,
atau trauma
 Memberikan pelayanan anestesia, analgesia, dan sedasi
yang aman, efektif, berperikemanusiaan, dan memuaskan
bagi pasien yang menjalani pembedahan, prosedur medis,
atau trauma yang menyebabkan rasa nyeri, kecemasan, dan
stress psikis lain
 Memberikan pelayanan perawatan pada pasien sakit kritis
khususnya di ruang rawat intensif
 Memberikan pelayanan medis yang menunjang fungsi vital
tubuh terutama jalan nafas, pernafasan, kardiovaskular, dan
kesadaran pasien yang mengalami gangguan atau ancaman
nyawa karena menjalani prosedur pembedahan, prosedur
medis, trauma, atau penyakit lainnya.
 Memberikan pelayanan terapi intensif dan resusitasi
(bantuan hidup dasar, lanjutan, dan jangka panjang) pada
kegawatan mengancam nyawa dimanapun pasien berada
(Instalasi Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Pulih
Anestesia, dan Ruang rawat intensif)

12
 Menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa dan
metabolisme tubuh pasien yang mengalami gangguan atau
ancaman nyawa karena menjalani pembedahan, prosedur
medis, trauma, atau penyakit lainnya
 Memberikan pelayanan penanggulangan nyeri akut di rumah
sakit (nyeri akibat pembedahan, trauma, maupun nyeri
persalinan)
 Memberikan pelayanan penanggulangan nyeri kronis dan
nyeri membandel (nyeri kanker atau penyakit kronis)
 Memberikan bantuan terapi inhalasi
 Menjawab konsultasi perioperatif atau anestesiologi
 Memberikan pelayanan pengelolaan akhir kehidupan
(penghentian atau penundaan bantuan hidup)
b. Penata Anestesi
1) Uraian tugas dan wewenang
a) Sebelum pembedahan:
 Persiapan administrasi pasien
 Melakukan serah terima pasien yang akan menjalani
anestesia dengan perawat yang mengantar pasien
 Memasukkan pasien yang akan menjalani anestesia ke
dalam kamar operasi
 Pengkajian keperawatan pra anestesia
 Pemeriksaan dan Penilalan status fisik klien
 Pemeriksaan tanda-tanda vital
 Persiapan mesin anestesia secara menyeluruh setiap kali
akan digunakan dan memastikan bahwa mesin dan
monitor dalam keadaan baik dan siap pakai
 Pengontrolan persediaan obat-obatan dan cairan setiap
hari untuk memastikan bahwa semua obat-obatan baik
obat anestesia maupun obat emergensi tersedia sesuai
standar rumah sakit
 Memastikan tersedianya sarana prasarana anestesia
berdasarkan jadwal, waktu, dan jenis operasi

 Mengenal dan mengetahui kondisi pasien yang akan di


lakukan pembiusan dan memberitahu dokter anestesi.
 Menyiapkan kelengkapan alat dan mesin anestesi serta
formulir anestesi

13
 Menyiapkan kelengkapan meja operasi
 Pengikat meja operasi
 Tatakan tangan
 Kunci aksesoris meja operasi
 Pembatas anestesi (Booh)
 Bantal kepala dan donat
 Tiang infus
 Menyiapkan mesin suction, selang penghisap dan
suction cateter.
 Mengatur meja operasi
 Memperkenalkan diri kepada pasien dan memasang
infus bila perlu
 Menilai kembali kesiapan mesin anestesi dan monitor
pasien
 Memberikan anestesi sesuai program anestesi
 Mengukur dan mencatat tanda-tanda vital pasien
 Menjaga pasien dari bahaya jatuh
 Memindahkan pasien ke meja operasi dan memasang
sabuk pengaman pasien
 Menyiapkan obat-obat anestesi dan membantu dokter
anestesi dalam melakukan pembiusan.
 Saat pembedahan :
 Mempertahankan jalan nafas (kepala ekstensi,menghisap
lendir,mempertahankan ett).
 Memenuhi keseimbangan O2 dan CO2 dengan cara
memantau flow meter gas
 Mempertahaankan keseimbangan cairan
 Mengukur dan mencatat tanda-tanda vital.
 Memberikan obat sesuai dengan program pengobatan.
 Melaporkan hasil pemantauan kepada dokter anestesi
 Menjaga pasien dari bahaya jatuh
 Melakukan resusitasi jantung pada henti jantung
b) Selama Pembedahan
 Pemantauan peralatan dan obat-obatan sesuai dengan
perencanaan teknik anestesia
 Pemantauan keadaan umum pasien secara menyeluruh
dengan baik dan benar

14
 Pendokumentasian semua tindakan yang dilakukan agar
seluruh tindakan tercatat baik dan benar
c) Setelah pembedahan :
 Mempertahankan jalan nafas
 Mengukur tanda-tanda vital
 Memantau tingkat kesadaran dan reflek pasien
 Mencatat dan memantau perkembangan pasca oprasi
 Menilai respon pasien terhadap obat bius
 Memindahkan pasien ke ruang rr bila kondisi sudah stabil
atas ijin dokter anestesi
 Melengkapi catatan dan perkembangan pasien sebelum
saat dan sesudah oprasi
 Merapihkan alat-alat anestesi agar dapat dipakai kembali
 Membantu merapihkan kamar oprasi
 Aktif mengikuti training yang ada
 Berpartisipasi dalam semua kegiatan keperawatan
 Mengebangkan potensi profesional pada diri sendiri
maupun rekan kerja
 Menerima dan menjalankan tugas – tugas yang di
berikan
 Mengeluarkan pasien dari kamar operasi
 Melakukan serah terima pasien dengan perawat ruangan
yang menjemput pasien
 Merencanakan tindakan keperawatan pasca tindakan
anestesia
 Pelaksanaan tindakan dalam manajemen nyeri sesuai
instruksi dokter spesialis anestesiologi
 Pemantauan kondisi pasien pasca pemasangan kateter
epidural
 Pemantauan kondisi pasien pasca pemberian obat
anestetika regional
 Pemantauan kondisi pasien pasca pemberian obat
anestetika umum
 Evaluasi hasil kondisi pasien pasca pemasangan kateter
epidural
 Evaluasi hasil pemasangan kateter epidural dan
pengobatan anestesia regional

15
 Evaluasi hasil pemasangan kateter epidural dan
pengobatan anestesia umum
 Pelaksanaan tindakan dalam mengatasi kondisi gawat
 Pendokumentasian pemakaian obat-obatan dan alat
kesehatan yang dipakai
 Pemeliharaan peralatan agar siap untuk dipakai pada
tindakan anestesia selanjutnya
 Pelayanan oleh Penata Anestesi di luar kompetensi
hanya boleh dikerjakan bila dokter spesialis anestesiologi
sudah memberikan mandat pelimpahan wewenang
2) Kualifikasi
a) Pendidikan: minimal D3 Keperawatan
b) Mengikuti pelatihan dan pendidikan Anestesi
c) Lebih di utamakan yang berpengalaman minimal 3 tahun
dan bersertifikat kamar bedah
d) Menyetujui dan sanggup bekerja sesuai dengan visi dan misi
Rumah Sakit Umum Taman Sari
e) Mampu bekerja sama dalam Tim
f) Di utamakan kejujuran, keterampilan dan ketelitian.

16
BAB III
PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI

A. PELAYANAN BEDAH
1. Pelayanan Operasi Bedah Umum
Pelayanan kedokteran bedah yang bersifat umum, tidak spesifik,
walaupun demikian umumnya operasi berfokus kepada organ
abdominal seperti esofagus, lambung, usus kecil, colon, hati,
pankreas, kantung empedu, saluran empedu dan kadang kelenjar
tiroid. Selain itu bedah umum juga menangani penyakit yang
melibatkan kulit, payudara dan hernia.
2. Pelayanan Operasi Obstetrik & Gynecology
Pelayanan bedah yang berhubungan dengan operasi di bagian
kandungan. Operasi Obsgin meliputi SC (Sectio Caesarian),
Histerektomi dan lain sebagainya
3. Pelayanan Operasi Mata
Pelayanan bedah yang dilakukan pada mata dan adnexanya. Operasi
mata meliputi operasi katarak dan lain sebagainya

B. PELAYANAN ANESTESI
1. Pelayanan Anestesi Umum
Pelayanan anestesi yang menyebabkan turun dan hilangnya
kesadaran pasien dengan menggunakan obat obatan anestesi umum
yang sifatnya reversibel. Obat anestesi umum diberikan oleh dokter
anestesi demi kepentingan jalannya operasi yang membutuhkan
kondisi pasien teranestesi umum. Obat anestesi umum dapat diberikan
berupa gas, suntikan intravena ataupun kombinasi kedua duanya.
2. Pelayanan Anestesi Regional
Pelayanan anestesi dimana anestesi hanya melibatkan satu bagian
besar tubuh, seperti anggota gerak. Teknik anestesi regional dibagi
menjadi dua, yaitu teknik sentral dan teknik periferal. Teknik sentral
sering disebut neuroaxial blok (anestesia epidural dan anestesi spinal).
Teknik periferal bisa dibagi menjadi dua yaitu blok pleksus contohnya
blok plexus brakhialis dan blok satu cabang syaraf.
3. Pelayanan Anestesi Lokal
Pelayanan anestesi yang bersifat lokal, meliputi semua teknik yang
menyebabkan hilangnya sensasi nyeri pada satu bagian tubuh tanpa
mempengaruhi kesadaran pasien. Dengan anestesi lokal, pasien dapat

17
menjalani operasi dan prosedur dental dengan nyeri yang berkurang
atau tanpa kesakitan
4. Pelayanan Sedasi
Pelayanan kesehatan yang menggunakan obat obatan sedatif yang
diberikan kepada pasien. Biasanya untuk memfasilitasi prosedur
kesehatan dengan anestesi lokal seperti RSI (Rapid Sequence
Intubation), bedah minor dan lain sebagainya.

BAB IV

18
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. PENJADWALAN OPERASI
Pasien yang akan dioperasi berasal dari Rawat Jalan, Rawat Inap maupun
Instalasi Gawat Darurat. Pasien yang akan dioperasi harus menjalani
beberapa persiapan diantaranya pemeriksaan penunjang dan lain-lain
yang dianggap perlu. Setelah persiapan operasi selesai dan layak
dinyatakan untuk operasi maka petugas menjadwalkan pasien ke instalasi
kamar operasi dengan menggunakan telepon dan form penjadwalan
operasi, hal ini berlaku untuk pasien elektif di daftarkan di kamar operasi
sentral dan yang cito di daftarkan di kamar operasi emergency. Petugas
instalasi kamar operasi sentral maupun emergency kemudian mencatat di
buku penjadwalan. Apabila ada pembatalan operasi maka petugas
ruangan harus segera memberitahukan ke kamar operasi.

B. PENERIMAAN DAN PENYERAHAN PASIEN (SIGN IN)


Dalam hal ini mencakup :
1. Memeriksa kembali identitas pasien
2. Memeriksa kelengkapan rekam medis pasien
3. Surat persetujuan operasi dari pasien/keluarga
4. Pemeriksaan laboratorium, rongten, EKG, dll
5. Memeriksa gigi palsu, kontak lensa, perhiasan, cat kuku, peniti, jepit
rambut, lipstik, dll
6. Mengganti baju pasien dan memberi selimut
7. Menilai keadaan umum pasien/tanda-tanda vital
8. Pastikan pasien dalam keadaan puasa
9. Menerima dan menyerahkan pasien oleh petugas dilengkapi oleh form
khusus.

C. PERSIAPAN OPERASI
1. Sebelum operasi pasien harus dipersiapkan mentalnya
2. Pemeriksaan penunjang dan yang dianggap perlu juga dipersiapkan
3. Cek kebersihan kamar operasi, bebas dari debu
4. Mengecek suhu dan kelengkapan serta fungsi peralatan yang akan
digunakan saat operasi
5. Menyiapkan formulir-formulir yang akan digunakan

D. KERJASAMA ANTAR DISIPLIN

19
1. Pre Operasi
a. Dokter Operator menjelaskan kepeda pasien tentang tindakan yang
akan dilakukan, beserta manfaat dan resiko yang mungkin terjadi.
b. Melakukan proses Sign In
c. Komunikasikan ke pasien untuk memberi penjelasan mengenai
tindakan,tenaga, situasi dan peralatan yang ada dikamar operasi
d. Memberi dukungan mental
e. Mengenalkan pasien kepada tim operasi
f. Memasang sabuk pengaman agar pasien tidak jatuh dari meja
operasi dan tidak mengganggu jalannya operasi
g. Memasang alat-alat pemantau hemodinamik antara lain infus,
kateter, alat monitoring, dll
h. Membantu pelaksanaan pembiusan
i. Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis tindakan operasinya
j. Melakukan tehnik aseptik pada lapangan operasi
k. Melakukan drapping (memasang duk steril)
2. Durante Operasi
a. Pembedahan dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan
dari ahli anestesi
b. Melakukan proses Time Out, dimana semua tim memperkenalkan
diri, dokter operator menjelaskan tentang pasien dan prosedurnya
termasuk resiko yang mungkin terjadi
c. Semua anggota tim bekerjasama sesuai dengan peran dan
fungsinya
d. Melakukan pemeriksaan kelengkapan instrumen dan alat lain agar
tidak tertinggal dalam tubuh pasien sebelum luka ditutup.
3. Post Operasi
a. Melakukan Sign Out
b. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan pemeriksaan
c. Menutup luka
d. Dokter Operator menjelaskan bahwa operasi telah selesai dan
mengungkapkan temuan-temuan yang ada selama proses
pembedahan.
e. Pasien dipindahkan keruang pemulihan
f. Mengawasi kondisi pasien selama masa pemulihan
g. Mempertahankan jalan nafas dengan posisi ekstensi kepala
h. Mengukur tanda-tanda vital
i. Mengukur dan mencatat produksi urine

20
j. Mengukur cairan masuk dan keluar
k. Mengawasi tingkat kesadaran pasien berdasarkan kriteria pulih
sadar
l. Mengawasi adanya perdarahan pada luka

E. PELAYANAN ANESTESI
1. Pra anestesi
a. Dokter anestesi melakukan anamnesis dan pemeriksaan pasien
sebelum tindakan anestesi sebelum operasi
b. Dokter anestesi mempelajari hasil-hasil pemeriksaan dan konsultasi
yang diperlukan untuk melakukan anestesi
c. Mendiskusikan dan menjelaskan tindakan anestesi yang akan
dilakukan kepada pasien dan keluarga
d. Memastikan bahwa pasien dan keluarga telah mengerti dan
menandatangani persetujuan tindakan
e. Mempersiapkan dan memastikan kelengkapan alat-alat anestesi
dan obat-obat yang akan dipergunakan
f. Mengidentifikasi pasien sebelum pemberian premedikasi
g. Memberikan obat premedikasi sesuai program anestesi dan
mencatat nama obat, dosis obat, cara dan waktu pemberian,
tandatangan dan nama jelas perawat yang memberikan.
2. Durante Anestesi
a. Tindakan pemantauan selama anestesia dimulai sebelum
induksi anestesi dilakukan dan pencatatan tanda – tanda
vital selama 5 menit untuk sedasi sedang dan dalam,
sedangkan untuk sedasi ringan dilakukan setiap 15 menit
b. Tindakan pemantauan selama anestesi dilakukan pada
semua tindakan anestesi, seperti aneatesi umum, anestesi
regional, monitored anestesi care, dan tindakan anestesi
diluar unit kamar operasi
c. Tindakan pemantauan standart, meliputi pemantauan jalan
nafas, ventilasi, oksigenasi, kardiovaskuler. Untuk operasi
pada kondisi khusus dilakukan pemantauan end Tidal CO2
d. Pemantauan adekuatnya jalan nafas dan ventilasi selama
anestesi
e. Pemantauan adekuat tidaknya oksigenasi selama anestesi
f. Pemantauan adekuat tidaknya fungsi sirkulasi pasien :
 Pemantauan tekanan darah aterial dan denyut jantung

21
bila memungkinkan selama 5 menit.
 Pemantauan EKG secara kontinue dari mulai sebelum
induksi anestesi.
 Setiap pasien yang mendapat anestesi, selain dari
metode pemantauan dengan perabaan denyut nadi atau
auskultasi bunyi jantung.
g. Pemantauan suhu tubuh selama anestesi, bila perubahan
suhu tubuh pasien diperlukan, atau diantisipasi akan terjadi,
suhu tubuh pasien sebaiknya dipantau selama anestesi
h. Pemantauan dan pencatatan jenis, jumlah dan waktu
pemberian semua obat dan bahan yang digunakan.
i. Pemantauan dan pencatatan jenis, jumlah dan waktu
pemberian cairan intravena mencakup darah dan produk
darah serta jumlah urine yang keluar.
j. Setiap perubahan dan perkembangan kondisi pasien selama
pemantauan anestesi dan waktunya dicatat dalam catatan
anestesi. Dokter anestesi yang bertanggung jawab
melakukan verifikasi dan dicatat dalam rekam medis pasien.
3. Pasca Anestesi
a. Observasi tanda-tanda vital pasien mencakup tekanan
darah, nadi, RR, saturasi O2, dll
b. Observasi perdarahan, kesadaran, cairan, drain, urin,
kontraksi dan keluhan pasien kemudian didokumentasikan
c. Hasil pemantauan pulih sadar harus didokumentasikan dalam
rekam medis pasien dan pasien dapat dipindahkan keluar dari
ruang pemulihan (discharge) dengan menggunakan kriteria berikut :
 Pasien dewasa (usia ≥ 14 tahun) dengan skor Aldrete yaitu :
1) Nilai 9 boleh pulang ke rumah dengan persetujuan dokter
yang memberikan sedasi.
2) Nilai 6-8 ke ruang perawatan bila nilai pernafasan 2 dan
tanpa nilai 0.
3) Nilai 5 ke ICU/IMC.
 Pasien anak (usia < 14 tahun) dengan skor Steward yaitu :
1) Nilai ≥ 5 ke ruang perawatan biasa tanpa nilai 0
2) Nilai < 5 ke ruang intensif
d. Pendamping Pasien Pada keadaan tertentu seperti pasien
dengan kondisi kejiwaan atau emosional yang tidak stabil
dan pasien anak yang tidak dapat mengikuti instruksi Dokter

22
(tidak kooperatif) maka pasien tersebut dapat diijinkan
ditemani oleh keluarganya pada saat menjalani pembiusan.
e. Tidak diperkenankan keluarga pasien mendampingi pasien
selama tindakan, kecuali permintaan operator pada saat
durante operasi ditemukan sesuatu dan perlu penjelasan
kepada keluarga pasien.
f. Saat mendampingi pasien di instalasi kamar operasi maka
diberlakukan ketentuan sebagai berikut:
 Ijin mendampingi pasien di instalasi kamar operasi hanya
diberikan kepada 1 orang yang mewakili keluarga.
 Pendamping harus mengikuti peraturan yang ada di instalasi
kamar operasi termasuk pakaian dan aksesoris khusus.
 Pendamping tidak boleh mengganggu jalannya prosedur
Anestesi dan proses pembedahan.

F. LAPORAN OPERASI DAN ANESTESI


1. Operator mengisi dengan lengkap dan jelas format laporan
pembedahan termasuk tahapan pembedahan dan instruksi
pasca pembedahan
2. Dokter anastesi mengisi dengan lengkap dan jelas catatan
anestesi selama pembedahan dan instruksi pengawasan efek
anestesi pasca pembedahan
3. Penulisan harus jelas dan lengkap tidak memakai singkatan
kecuali yang disetujui Rumah sakit, dan identitas pasien
memakai stiker.
4. Format dan catatan kamar operasi, laporan pembedahan kamar
operasi, catatan anestesi dimasukkan dalam status pasien.

G. ALUR PELAYANAN UNIT KAMAR OPERASI


1. Alur Pelayanan unit kamar operasi untuk Pasien adalah
prosedur pelayanan untuk seluruh pasien yang dilakukan
tindakan di unit kamar operasi baik pasien yang berasal dari
ruang rawat inap, rawat jalan maupun pasien instalasi gawat
darurat. Prosedur ini dimulai dari Penerimaan Pasien,
Persiapan Pasien, Proses Sign In, sampai pasien diantar ke
kamar operasi dan selanjutnya pasien dipindahkan ke ruang
rawat inap/pulang. Hal ini diatur dalam Standar Prosedur
Operasional selengkapnya.

23
2. Alur Pelayanan unit kamar operasi untuk Petugas adalah
prosedur pelayanan untuk petugas-petugas yang masuk ke unit
kamar operasi diantaranya, dokter operator, dokter anestesi,
perawat kamar operasi, perawat anestesi, petugas farmasi,
administrasi unit kamar operasi. Petugas harus masuk melalui
pintu khusus petugas. Petugas harus melepas sepatu,
mengganti baju khusus, memakai alas kaki khusus, dll. Hal ini
diatur dalam Standar Prosedur Operasional selengkapnya.
3. Alur Pelayanan Barang di unit kamar operasi, yang termasuk
kategori barang unit kamar operasi adalah alat kesehatan, obat,
instrumen, linen, barang umum.
4. Alur Pelayanan unit kamar operasi untuk Pengunjung dan
Keluarga pasien, yang dimaksud adalah tamu unit kamar
operasi serta petugas diluar unit kamar operasi. Tamu unit
kamar operasi atau petugas diluar unit kamar operasi apabila
memasuki unit kamar operasi harus mengikuti prosedur petugas
unit kamar operasi, dimana hal ini diatur dalam Standar
Prosedur Operasional selangkapnya.

24
BAB V
PELAYANAN CENTRAL STERILIZATION SUPPLY DEPARTEMENT
(CSSD)

A. PELAYANAN STERILISASI
1. Instalasi Sterilisasi adalah salah satu unit penunjang di RSUD
Tamansari yang mempunyai tugas sebagai pengelola sterilisasi
dirumah sakit, serta melaksanakan kegiatan sterilisasi untuk
menunjang kelancaran pelayanan.
2. Pelayanan Sterilisasi Rumah Sakit adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang
memproses semua bahan, peralatan dan perlengkapan yang
dibutuhkan untuk pelayanan medic di rumah sakit, mulai dari
perencanaan, pengadaan, pencucian, pemberian tanda, proses
sterilisasi, penyimpanan dan penyaluran.
3. Pusat Pelayanan Sterilisasi adalah CSSD (Central Sterile Supply
Department) merupakan salah satu mata rantai untuk pengendalian
infeksi dan berperan dalam menurunkan angka infeksi nosocomial dan
mewujudkan keselamatan pasien ( Patient safety).
4. Sentralisasi adalah sistim yang mencerminkan kegiatan yang di
lakukan terpusat, dalam satu atap manajemen agar kualitas yang di
capai dapat terstandarisasi, tidak ada duplikasi pelayanan sterilisasi
sehingga terjadi efisiensi cost bagi rumah sakit.
5. Sterilisasi adalah suatu proses penanganan alat atau bahan yang tidak
steril menjadi steril dengan menghancurkan semua bentuk kehidupan
mikroba termasuk endospora melalui metode sterilisasi.
6. Steril adalah kondisi bebas dari semua mikroorganisme termasuk
spora.
7. Barang steril sekali pakai ( single use) adalah barang / alat kesehatan
yang di sediakan dan di produksi untuk sekali pakai atau habis di
gunakan sekali pakai dalam satu kemasan.
8. Barang steril yang dapat diulang (re-use) adalah barang / alat
kesehatan sesudah di gunakan dapat diulang pakai setelah melalui
proses pencucian, dekontaminasi, pengemasan / labeling dan di
sterilkan dengan mesin sterilisator yang sesuai ( suhu tinggi atau suhu
rendah).
9. Dekontaminasi adalah proses pembersihan peralatan dan barang / alat
kesehatan kotor yang mungkin terkontaminasi oleh mikroba secara

25
fisika atau kimia dengan menggunakan desinfektan atau deterjen di
mulai dari mengelompokkan, merendam, mencuci, membilas sampai
mengeringkan.
10. Desinfektan adalah bahan kimia yang di pergunakan untuk mencegah
terjadinya infeksi atau pencemaran dan mempunyai karakteristik dapat
mensterilkan.
11. Pengemasan adalah kegiatan pembungkus barang / alat kesehatan
yang akan di sterilkan dengan bahan pengemas yang sesuai dengan
jenis dan ukuran.
12. Labelling adalah kegiatan pemberian label / etiket yang di lakukan
terhadap masing-masing bungkus / kemasan dari barang/ alat
kesehatan yang akan melalui proses sterilisasi.

26
BAB VI
KETENAGAAN

Kualifikasi dokter atau petugas lain yang bertanggung jawab terhadap


pasien yang menerima tindakan sedasi sangat penting. Pemahaman berbagai
cara memberikan sedasi terkait pasien dan jenis tindakan yang diberikan,
akan menaikkan toleransi pasien terhadap rasa tidak nyaman, rasa sakit dan
atau risiko komplikasi. Komplikasi terkait pemberian sedasi terutama
gangguan jantung dan paru. Sertifikasi dalam bantuan hidup lanjut sangat
penting. Sebagai tambahan, pengetahuan tentang farmakologi zat sedasi
yang digunakan, termasuk zat reversal, mengurangi risiko terjadi kejadian
yang tidak diharapkan

A. DOKTER FUNGSIONAL
1. Dokter Operator
a. Dokter spesialis bedah umum
b. Dokter spesialis obstetri-ginekologi
c. Dokter spesialis mata
2. Dokter Anestesi
Dokter anestesi yang bertanggung jawab memberikan sedasi harus
kompeten dan berwenang dalam hal:
a. Teknik dan berbagai macam cara sedasi.
b. Farmakologi obat sedasi dan penggunaaan zat reversal (antidote-
nya).
c. Memonitor pasien.
d. Bertindak jika ada komplikasi

B. PERAWAT
1. Kepala ruang Unit Kamar Operasi
Memantau seluruh staf dalam penerapan dan pelaksanaan peraturan /
etik yang berlaku dikamar bedah dan CSSD. Mengatur pelayanan
pembedahan sesuai dengan kebutuhan tim dan kemampuan tenaga
kamar bedah dan CSSD. Tugas lainnya tertuang dalam uraian tugas
dan wewenang koordinator keperawatan
2. Perawat Unit Kamar Operasi
Perawat asistensi dan instrumentasi bertugas untuk membantu dan
memfasilitasi operator dalam jalannya pembedahan. Sementara itu
perawat sirkulasi berperan sebagai penyedia instrumen / alkes

27
bilamana dibutuhkan. Membantu penyiapan peralatan kamar operasi.

3. Perawat Anestesi
Membantu dokter anaesthesi untuk melakukan pembiusan/anaesthesi.
Seperti menyiapkan obat-obat bius dan membantu ahli anesthesi
dalam proses pembiusan. Memantau dan mencatat tentang
perkembangan pasien peri-operatif. Memindahkan pasien ke RR bila
kondisi stabil dan atas ijin ahli anesthesi. Melengkapi catatan
perkembangan pasien sebelum, selama dan sesudah pembiusan.
Perawat Anestesi dapat melakukan pemantauan dibawah supervisi
secara terus menerus terhadap parameter fisiologis pasien dan
memberi bantuan dalam hal tindakan resusitasi. Orang yang
bertanggung jawab melakukan pemonitoran, harus kompeten dalam:
a. pemonitoran yang diperlukan.
b. bertindak jika ada komplikasi
c. penggunaaan zat reversal (anti-dot)
d. kriteria pemulihan

4. Petugas CSSD
Melakukan tugas pencucian, pengeringan, pengemasan, pensterilan,
penyimpanan serta distribusi alat alat kesehatan. Menjamin sterilitas
alat kesehatan tersebut

C. ANALISA KETENAGAAN
Analisa kebutuhan ketenagaan dilakukan oleh supervisor Pelayanan
Medik Khusus bersama dengan Koordinator Kamar Bedah setiap setahun
sekali, dengan menggunakan metode yang ditetapkan oleh Human
Resource Department (HRD), yang mana saat ini menggunakan metode
WISN (Work Indicator Staff Need) (SK Menkes No 81/2004).

28
BAB VII
SARANA DAN PRASARANA

A. RANCANG BANGUN UNIT KAMAR OPERASI

1. Ruangan Kamar Bedah


Ruangan OK RSUD terdiri dari :
a. Ruang Pra Operasi (Ruang Persiapan)
b. Ruang OK I
c. Ruang OK II (OK Mata)
d. RUANG PEMULIHAN Recovery Room)
e. Ruang Dokter
f. Ruang Janitor
g. Ruang Spool-Hoek
h. Ruang Ganti
i. Ruangan CSSD

2. ZONA Daerah OK
a. Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal). Zona ini terdiri dari area
resepsionis (ruang administrasi dan pendaftaran), ruang tunggu
keluarga pasien, janitor dan ruang utilitas kotor. Zona ini
mempunyai jumlah partikel debu per m3 > 3.520.000 partikel
dengan dia. 0,5 μm (ISO 8 - ISO 14644 - 1 cleanroom standard
tahun 1999).
b. Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter) Zona ini
terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, pantri petugas.
Ruang transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian dokter dan
perawat) merupakan area transisi antara zona 1 dengan zona2.
Zona ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3

29
3.520.000 partikel dengan dia. 0,5 μm (ISO 8 - ISO 14644 – 1
cleanroom standards tahun 1999).
c. Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
Zona ini meliputi kompleks kamar bedah, yang terdiri dari ruang
persiapan (preparation), peralatan/instrumen steril, ruang induksi,
area scrub up, ruang pemulihan (recovery), ruang resusitasi
neonatus,ruang linen, ruang pelaporan bedah, ruang penyimpanan
perlengkapan bedah, ruang penyimpanan peralatan anastesi,
implant orthopedi dan emergensi serta koridor - koridor di dalam
kompleks kamar bedah. Zona ini mempunyai jumlah maksimal
partikel debu per m3 adalah 352.000 partikel dengan dia. 0,5 μm
(ISO 8 - ISO 14644 – 1 cleanroom standards tahun 1999).
Lampiran 7
d. Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter,
Medium Filter, Hepa Filter Tekanan Positif) Zona ini adalah kamar
bedah dengan tekanan udara positif. Zona ini mempunyai jumlah
maksimal partikel debu per m3 adalah 35.200 partikel dengan dia.
0,5μm (ISO 7-ISO 14644-1 cleanroom standards tahun 1999).
e. Area Nuklei Steril. Area ini terletak dibawah area aliran udara ke
bawah (laminair air flow) dimana bedah dilakukan. Area ini
mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah 3.520
partikel dengan dia. 0,5 μm (ISO 5 s/d ISO 6-ISO 14644-1
cleanroom standards tahun 1999).

3. Tata ruang CSSD


Untuk mengantisipasi terjadinya kontaminasi di ruangan CSSD maka
dilakukan pemisahan ruangan agar kegiatan operasional dan proses
sterilisasi di CSSD akan menjadi lebih baik.
Ruang CSSD pada dasarnya terbagi menjadi 3 ruang :
 Ruang kotor / ruang dekontaminasi
 Ruang packing : packing kassa, packing linen, packing alat dan
packing alkes.
 Ruang penyimpanan / ruang steril
a. Ruang Kotor / ruang dekontaminasi
Merupakan ruang dimana dikumpulkannya barang-barang kotor
dari unit-unit perawatan dan unit lain yang menggunakan jasa
CSSD serta kamar operasi untuk dilakukan
dekontaminasi,pencucian dan desinfeksi serta pengeringan

30
sebelum dilakukan pengemasan.
Kegiatan yang dilakukan di ruang dekontaminasi adalah :
1) Dekontaminasi
2) Pencucian
3) Desinfeksi
4) Pengeringan
5) Pencucian dengan Washer desinfektor
6) Monitoring alat post pencucian :
Keutuhan apakah ada kerusakan alat saat proses
pencucian, hasil pencucian, jumlah alat.
b. Ruang pengemasan / ruang packing
Merupakan ruang untuk pengemasan semua alat dan bahan yang
akan disterilkan,pada prinsipnya ruangan ini harus bersih,tetapi
yang terpenting adalah antara ruang packing linen,packing
kassa,packing instrument dan packing alkes harus dipisahkan
untuk menghindari terjadinya kontaminasi debu kassa ke linen dan
instrumen.
Macam-macam pembungkus :
1) Linen
2) Kontainer
3) Pouches
4) Linen-Pouches
5) Linen-kontainer
6) Kertas-pouches
Hal-hal yang harus diperhatikan bagi staff CSSD :
 Kontrol ceklist alat sebelum di bungkus.
Ada petugas Quality control untuk mengontrol jumlah,
keutuhan alat dan konsumable yang dibungkus harus sama
dengan lembar ceklist alat. Petugas packing dan petugas
Quality control harus tanda tangan pada kertas ceklis yang
akan ditempel pada pembungkus setelah alat disterilkan
sebelum dikirim ke unit-unit yang membutuhkan alat steril.
 Monitor indicator sterilisasi
Tidak lupa pula monitor indicator sterilisasi baik external
maupun internal harus selalu ada pada setiap packing alat
yang akan disterilkan.
c. Ruang Sterilisasi
Ruang steril terdiri dari Ruang sterilisasi suhu tinggi yang berisi

31
Mesin sterilizer
d. Ruang Penyimpanan / Ruang Steril
Merupakan ruang penyimpanan barang dan bahan habis pakai
steril sebelum didistribusikan ke unit-unit lain yang membutuhkan.
Sistem yang dipakai yaitu system FIFO (FIRST IN FIRST OUT )
agar perputaran alat teratur.
Syarat-syarat ruang penyimpanan :
1) Harus bertekanan positif
2) Lantai dari epoxy dan tidak bersudut
3) Temperatur ruangan antara 18-22 derajad celcius
4) Kelembaban udara 35-75 %
5) Jumlah koloni max 200 kol
6) Jumlah partikel udara < 0,15 mg/m3
Tata ruang CSSD sebaiknya berada di dekat dengan konsumen
terbesar yaitu kamar operasi untuk menghindari terjadinya
kontaminasi dari alat-alat kamar operasi apabila jaraknya terlalu
berjauhan.

13. Spesifikasi Ruangan Ok RSUD Taman Sari


a. Dinding
Dinding yang water proof dengan pertemuan dinding yang
melengkung. Tinggi ruangan ± 3.0 m
b. Lantai
 Area steril ( area merah ) : Vynnil
 Area Sub steril (area kuning) : Vynnil
 Publik area ( hijau ) : Keramik
c. Pintu
Ruang OK 1, antara Hall OT dan pra operasi : Bahan Rangka
Aluminium dengan menggunakan door closer
d. Pencahayaan
 Ruang operasi : 300 – 500 lux
 Meja operasi : 10.000 – 20.000 lux
e. Penghawaan
Ruang operasi memiliki :
 Tekanan positif (minimum perbedaan 0.1 m.bar)
 Temperatur 19 – 22 derajat celcius
 Kelembaban 45 – 60 %
Keterangan :

32
Temperatur udara berkisar 19 – 21 ° C dan terjaga
kestabilannya. Temperatur 19°C adalah pada saat ruangan
tidak ada kegiatan ( ruangan kosong ) dan temperatur 21°C
adalah pada saat sedang di lakukan kegiatan pembedahan,
dimana selain untuk keperluan petugas, udara dingin dengan
kelembaban ± 60 % diperlukan juga untuk peralatan medis.
f. Kebisingan
Ruang Operasi : 45 db
g. Mikrobiologi
Lantai dan dinding : 0-5 CFU/cm2
Udara : 10 CFU / 1000 L udara
h. Kelistrikan
PLN : 195 volt
Emergency power : Genset (200 kva)
i. Gas medis
OK RSUD Tamansari menggunakan gas medis sentral yaitu :
Jenis Gas Tekanan
Tabung Oxygen ( O2 ) 4 Bar
Tabung Nitrous Oxide ( N2O ) 4 Bar
Air

14. Standar Instrumen OK RSUD Taman Sari


a. Set BEDAH UMUM
1) Set Basic Mayor
 Set Hernia
 Set Appendik
 Set Eksterpasi
 Set Minor
b. Set Bedah Obgyn
1) Set SC
2) Set curetage
c. Set Bedah Mata
d. Set Anestesi

15. Standar Linen Unit Kamar Operasi


a. Stock Linen OK
1) Sarung Meja Mayo / hijau/ 120 x175
2) Baju / L / hijau

33
3) Baju / M / hijau
4) Baju / XL / hijau
5) Baju / XXL / Hijau
6) Baju/XXXL/ Hijau
7) Celana/ L
8) Celana/ M
9) Celana/ XL
10) Celana/ XXL
11) Celana/ XXXL
12) Duk Samping/ hijau / 100 x 100
13) Duk Atas / hijau / 240 x 150
14) Duk Bolong / hijau / persegi / 90 x 120
15) Duk Double / hijau / 200 x 200
16) Duk pembukus / hijau / 200 x 150
17) Duk alas meja Oprasi 220 x 120
18) Hand Towel / Biru
19) Jas Operasi / hijau-biru / linen-parasit
20) baju pasien /biru
21) Kimono lengan panjang / biru
22) selimut pasien / biru
23) sarung bantal / biru

16. Paket Linen steril OK


Set Linen
NO NAMA LINEN UKURAN
1) Doek Atas 240 x 150 cm
2) Doek samping 100 x 100 cm
3) Doek Double 200 x 200 cm
4) Sarung Meja Mayo 120 x 175 cm
5) Jas operasi
6) Handuk / lap tangan

17. Alkes Dan Bahan Habis Pakai


Persediaan alkes dan bahan habis pakai di unit Kamar operasi
dikelola secara berkala untuk menjamin ketersediannya baik jumlah
maupun kualitasnya sehingga pelayanan dapat berlangsung dengan
baik. Berkoordinasi dengan bagian farmasi.

34
18. Pemeliharaan Fasilitas Dan Peralatan
a. Fasilitas
Pemeliharaan fasilitas merupakan proses pembersihan dan
perbaikan ruangan beserta alat – alat yang ada di setiap ruangan.
Untuk pembersihan ruangan dilakukan teratur sesuai dengan SOP
dan jadwal yaitu :
 Pembersihan Rutin / harian
 Pembersihan mingguan
 Pembersihan sewaktu
 Bongkar Besar setiap bulan
 Pembersihan ruangan setelah operasi kotor / infeksius
 uji kultur mikrobiologi dan uji partikel di lakukan setiap 6
bulan sekali.
b. Peralatan
Pemeliharaan peralatan merupakan proses pembersihan,
perbaikan dan permintaan alat dan instrumen. Di Unit Kamar
Operasi RSUD Taman Sari bekerjasama dengan bagian Unit
Maintenance. Dalam pelaksanaanya dibuat program, SOP dan
analisa evaluasi sesuai kebutuhan.

35
BAB VIII
PATIENT & STAFF SAFETY, INFECTION PREVENTION & CONTROL DI
UNIT KAMAR OPERASI

A. IDENTIFIKASI RESIKO KESELAMATAN


Resiko adalah potensi terjadinya kerugian yang dapat timbul dari
proses kegiatan saat sekarang atau kejadian di masa datang.
Resiko di Kamar Bedah meliputi :
1. Resiko Keselamatan Pasien
a. Salah pasien (saat melakukan prosedur terhadap pasien)
b. Salah prosedur (saat melakukan prosedur terhadap pasien)
c. Salah sisi (saat melakukan prosedur terhadap pasien)
d. Kesalahan pemberian obat (dosis, rute, obat)
e. Kesalahan pemberian darah / produk darah
f. Kesalahan pengambilan darah atau spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis
g. Pasien jatuh
h. Infeksi nosokomial karena kesalahan teknik aseptik saat prosedur
2. Resiko Keselamatan Staf (Staff Safety)
a. Tertusuk jarum suntik atau teriris benda tajam
b. Terpapar cairan tubuh pasien (bahan infeksius)
c. Terpapar bahan kimia baik cair maupun terhirup gas medis
d. Terpapar infeksi terutama air-borne

B. MANAJEMEN RESIKO DI UNIT KAMAR OPERASI


Manajemen resiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasikan,
mengevaluasi dan memprioritaskan resiko untuk mengurangi resiko
cedera dan kerugian pada pasien, karyawan rumah sakit, pengunjung dan
organisasi sendiri upaya mengurangi resiko tersebut
1. Manajemen Keselamatan Pasien
a. Melakukan identifikasi pasien sesuai standar yang berlaku
b. Melakukan pengkajian 4 tepat (tepat jenis, tepat pasien, tepat
dosis, tepat rute) baik obat, darah maupun produk darah lain
sebelum diberikan kepada pasien
c. Melakukan time out sesuai standar yang berlaku
d. Melakukan pengkajian resiko pasien jatuh dan edukasi pasien &
keluarga
e. Membudidayakan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan

36
tindakan

C. MANAJEMEN KESELAMATAN PETUGAS


1. Menerapkan universal precaution dalam setiap tindakan
2. Selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (sarung tangan, masker, alat
pelindung mata/muka) pada saat melakukan prosedur
3. Spuit dan benda tajam lainnya diletakan dalam wadah tahan tusuk.
Jangan menutup, membengkokan atau mematahkan benda tajam
secara manual
4. Permukaan meja, lantai harus didekontaminasi dengan desinfektan
kimiawi setelah ada tumpahan bahan infeksius
5. Pengadaan, penyimpanan, pemakaian dan pembuangan B3 dengan
sesuai prosedur
6. Monitoring paparan radiasi dengan personal monitor
7. Prosedur penanganan needle stick injury dan cairan tubuh lainnya
8. Pelatihan Pencegahan & pengendalian Infeksi RS
9. Penanaman budaya safety
10. Memberikan pendidikan untuk setiap prosedur dan bahan berbahaya
yang baru

D. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


Unit OK menerapkan kebijakan dan prosedur pencegahan dan
pengendalian infeksi sesuai dengan kebijakan rumah sakit, dengan selalu
berkoordinasi dengan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
RSUD Taman Sari Beberapa aktivitas dasar sehubungan dengan
pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi :
1. Pembudayaan cuci tangan sesuai ketentuan
2. Penggunaan alat pelindung diri sesuai kebijakan RSUD

E. PENANGANAN LIMBAH
1. Pengelolaan Bahan Kotor dan Bersih
Yang dimaksud dengan bahan kotor adalah Instrumen, bahan linen,
limbah padat, limbah cair, yang telah digunakan pembedahan dan
akan dibawa ke tempat pencucian / laundry, CSSD dan sanitasi.
Bahan – bahan tersebut dikeluarkan melalui koridor belakang kamar
bedah. Dan dilakukan serah terima langsung dengan petugas CSSD di
ruang serah terima, Pemilahan bahan kotor meliputi :
 Instrumen

37
Instrument kotor yang telah digunakan di pisah ( instrumen
tajam, instrumen packing pisah, peralatan penunjang
misalnya cauter, bor, dll ) kemudian di masukan ke dalam
kom dan langsung di dekontaminasi. Kemudian dibawa
dengan menggunakan trolley ke ruang serah terima untuk
diserah terimakan ke petugas CSSD
 Bahan Linen
Linen oprasi yang telah dipakai dipisahkan yang bersih dan
yang kotor, sebelum di masukan ke ember kotor dipisahkan
dulu satu – satu untuk menghindari ada peralatan atau
kotoran kertas / plastik yang tertinggal. Kemudian dibawa ke
ruang serah terima untuk diserahterimakan dengan petugas
CSSD

2. Pengelolaan limbah padat


Limbah seperti kasa, kapas, plester, spuite, jarum, potongan organ
tubuh dan segala bahan yang telah digunakan dikatakan limbah padat
infeksius. Cara pembuangannya:
a. Limbah yang tidak terkontaminasi darah, cairan tubuh, dll. Dikemas
dalam kantong plastik warna hitam.
b. Limbah yang terkontaminasi ( infeksius ) dikemas dalam kantong
plastik warna kuning
c. Limbah tajam dibuang langsung ke kontainer tahan tusuk
d. Limbah jaringan tubuh diserahkan ke ruangan atau dikembalikan ke
unit Laboratorium
e. Semua limbah kecuali jaringan tubuh dibawa lewat koridor
belakang kemudian diserahterimakan dengan petugas CSSD, dan
langsung dimusnahkan.

3. Pengelolaan Limbah Cair


Yang di maksud limbah cair disini adalah cairan dari suction, sisa
cairan desinfektan, air bekas cuci tangan, cairan bekas operasi.
Cairan-cairan tersebut langsung di salurkan ke IPAL.

38
BAB IX
STAFF DEVELOPMENT

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menciptakan SDM yang memilki sikap profesionalisme dan berkualitas.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan pelayanan pembedahan yang optimal sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
b. SDM Unit Kamar Bedah mampu mengidentifikasi kondisi-kondisi
life threatening dengan baik.
c. Dokter dan perawat Kamar Bedah mampu memberikan
penanganan awal sesuai standar pelayanan dan standar profesi
yang berlaku secara universal.
d. Seluruh SDM Kamar Bedah dapat memberikan pelayanan kepada
pasien secara cepat, tepat, ramah dan professional.

B. SASARAN PENCAPAIAN
1. Seluruh Dokter bedah memiliki sertifikat ATLS, ACLS dan/atau PPGD
kerjasama dengan SMF
2. Seluruh Perawat unit Kamar Operasi memiliki sertifikat BTCLS
dan/atau PPGD
3. Seluruh perawat unit Kamar Bedah memiliki keterampilan
subspesialisasi
4. Seluruh perawat mampu mengoperasionalkan alat eletromedik

C. KEGIATAN ORIENTASI
1. Kegiatan orientasi dilakukan pada seluruh staf yang baru masuk
kamar bedah meliputi :
a. Orientasi seluruh lingkungan kmar bedah
b. Memberitahu alur masuk dan keluar pasien
c. Penyimpanan alat steril
d. Cara Pengambilan alat dan pendistribusian
e. Pelaksanaan monitoring hasil sterilisasi
2. Jadwal Orientasi :
Tabel Orientasi Umum SDM kamar bedah
Nama : _______________________________________
NIP : _______________________________________

39
Tgl. Masuk Kerja : ______________________________________

Nama &TTD
Minggu Kegiatan Tgl &Paraf
pembimbing
- Mengetahui jam
I
kerja
- Mengetahui
area steri dan
on steril
- Mengenali Staf
kamar bedah

- Mengetahui tata
II letak ruang dan
fungsinya
-Mengetahui
tempat
penyimpanan
instrumen bedah
- Mengetahui alur
masuk keluarnya
pasien

-Mengetahui
/mampu
menyiapkan dan
mengisi (
III
formulir lab,
laporan operasi,
registrasi ranap
dan rajal
- Mengetahui
dan mampu
cara
penggunaan
(suction,

40
diathermi,
meja operasi,
lampu operasi,
monitor pasien

- Mengetahui
jadwal
operasi dan
IV
menyiapkan
persiapan
instrumen
- Menerima
pasien yang
akan dilakukan
tindakan
pembedahan
- Mengumpulkan
dan
menyiapkan
bahan
pemeriksaan

D. RAPAT
1. Rapat Rutin
Rapat Rutin diselenggarakan pada :
Waktu : Setiap Rabu di Minggu ke-2 Setiap Bulan
Jam : 11.00 s.d selesai
Tempat : Unit Kamar Operasi
Peserta : Tim kamar bedah
Materi :
a. Evaluasi kinerja Bagian Kamar bedah
b. Evaluasi SDM Bagian Kamar bedah
c. Evaluasi terhadap materi dan pelaksanaan pelayanan Kamar
Bedah
d. Perencanaan dan upaya peningkatan kinerja SDM Kamar bedah
e. Rekomendasi dan usulan untuk peningkatan kinerja pelayanan
Kamar bedah
f. Kelengkapan Rapat : Undangan, daftar hadir, notulen rapat,

41
laporan/rekomendasi/usulan kepada pimpinan

2. Rapat Insidentil
Rapat Insidentil diselenggarakan pada :
Waktu :Sewaktu-waktu bila ada masalah atau sesuatu hal
yang perlu dibahas dan diselesaikan segera.
Jam : Sesuai undangan
Tempat : Sesuai undangan
Peserta : Kepala Ruang Unit Kamar Operasi , perawat
ruang ok, penata anestesi
Materi : Sesuai dengan masalah yang perlu dibahas.
Kelengkapan rapat :Undangan, daftar hadir, notulen rapat,
laporan/rekomendasi /usulan kepada pimpinan
dan Dokumentasi.

E. PELAPORAN
1. Pengertian
Pelaporan merupakan sistim atau metode yang dilakukan untuk
melaporkan segala bentuk kegiatan dokumentasi yang ada terkait
dengan pemberian pelayanan di Kamar Beda
2. Jenis Laporan
Laporan di buat oleh Penanggung Jawab Kamar bedah, Jenis laporan
yang dikerjakan terdiri dari :
a. Laporan Harian
Laporan ini dibuat secara tertulis oleh Penanggung Jawab shift
setiap hari dan pada setiap shift mengenai : Jumlah Operasi ,
Jumlah ketenagaan sesuai dengan jumlah tindakan pagi,siang dan
malam
b. aporan Bulanan
c. Laporan bulanan dibuat oleh dalam bentuk tertulis setiap bulannya
dan diserahkan kepada Kepala Departemen Pelayanan Medik ,
paling telat setiap tanggal 10 bulan berjalan. Adapun hal-hal yang
dilaporkan adalah
 Jumlah tindakan pembedahan Ranap dan Rajal
 Masalah dan Tindakan Evaluasi
 Rencana Kamar Bedah
d. Laporan TahunanLaporan yang dibuat oleh kepala ruangan Kamar
bedah bentuk tertulis setiap tahun dan diserahkan kepada Kepala

42
Departemen Pelayanan Medik adapun hal-hal yang dilaporkan
adalah :
 Evaluasi Program kerja yang sudah berjalan
 Rencana tahunan yang akan datang
 Masalah dan Tindakan Evaluasinya

43
BAB X
PENGENDALIAN MUTU

A. MONITORING
1. Monitoring dilakukan untuk memantau performa dan mutu pelayanan
ruang OK. Untuk itu, maka ditetapkan beberapa indikator sebagai
berikut :
a. Waktu tunggu operasi elektif
b. Tidak dilakukannya penandaan lokasi operasi
c. Kesalahan prosedur operasi
d. Kesalahan lokasi operasi
e. Kesalahan diagnose pre dan post operasi
f. Ketidaklengkapan asesmen pre anestesi
g. Ketidaklengkapan laporan operasi
h. Ketidaklengkapan laporan anestesi
i. Insiden tertinggalnya instrumen / kasa/ bedan lain saat operasi
j. Keterlambatan waktu mulai operasi lebih > 30 menit
k. Angka kelengkapan pengisian surgical checklist dikamar operasi.
2. Monitoring dilakukan dengan mengintegrasikan pengumpulan data
dalam aktivitas sehari-hari, kemudian rekapitulasi dilakukan setiap
bulan. Selain daripada pengumpulan data tersebut, monitoring
dilakukan juga dengan cara melakukan pengawasan pelaksanaan
SPO di lapangan, Pengawasan di lapangan, seperti :
a. Kinerja / Performance & disiplin SDM
b. Kinerja / Performance alat medik & teknologi

B. KEJADIAN YANG TIDAK DIINGINKAN


1. Pelaksanaan Tindakan Operasi Tidak Tepat Waktu/Tidak Tepat Jadwal
a. Standar : < 5%
b. Dimensi mutu : Efektifitas Waktu Pelayanan
c. Tujuan : Tergambarnya ketepatan penanganan antrian pelayanan
bedah
d. Definisi operasional : Ketepatan Waktu adalah pelaksanaan
tindakan operasi yang sesuai dengan jam yang telah
diatur/ditentukan dan dijanjikan kepada pasien/keluarga pasien
e. Frequensi pengumpulan data : 1 bulan
f. Periode analisa : 3 bulan
g. Numerator : Jumlah kumulatif tindakan operasi yang terlaksana

44
sesuai dengan jam yang sudah direncanakan dalam satu bulan.
h. Denominator : Jumlah pasien yang dioperasi dalam bulan tersebut
i. Sumber data : Rekam medis
j. Penanggung jawab Pengumpul Data : Koordinator Kamar Operasi
2. Kejadian Kematian di meja operasi
a. Standar : <1%
b. Dimensi mutu : keselamatan, efektivitas
c. Tujuan : tergambarkannya efektivitas pelayanan bedah sentral dan
anestesi dan kepedulian terhadap keselamatan pasien
d. Definisi operasional : kematian di meja operasi adalah kematian
yang terjadi di atas meja operasi pada saat operasi berlangsung
yang diakibatkan oleh tindakan anestesi maupun tindakan
pembedahan
e. Frequensi pengumpulan data : tiap bulan dan sentinel event
f. Periode analisis : tiap bulan dan sentinel event
g. Numerator : jumlah pasien yang meninggal di meja operasi dalam
satu bulan
h. Denominator : jumlah pasien yang dilakukan tindakan pembedahan
dalam satu bulan
i. Sumber data : rekam medis, laporan keselamatan pasien
j. Penanggung jawab Pengumpul Data : Koordinator Kamar Operasi.

3. Kejadian salah tindakan pada operasi


a. Standar : < 1%
b. Dimensi Mutu : Keselamatan pasien
c. Tujuan : Tergambarkannya ketelitian dalam pelaksanaan operasi
dan kesesuaiannya tindakan operasi dengan rencana yang telah
ditetapkan
d. Definisi Operasional : Kejadian salah tindakan pada operasi adalah
kejadian dimana pasien mengalami tindakan operasi yang tidak
sesuai dengan yang direncanakan, meliputi salah orang, salah sisi,
salah prosedur
e. Frekuensi Pengumpulan Data : 1 bulan dan atau bila ada sentinel
event
f. Periode Analisa : 1 bulan dan atau bila ada sentinel event
g. Numerator : Jumlah pasien yang dioperasi dalam waktu satu bulan
dikurangi jumlah pasien yang mengalami salah tindakan operasi
dalam waktu satu bulan

45
h. Denominator : Jumlah pasien yang dioperasi dalam waktu satu
bulan
i. Sumber Data : Rekam medik, laporan insiden
j. Penanggung jawab Pengumpul Data : Koordinator Kamar Bedah

4. Kejadian tertinggalnya benda asing di dalam tubuh pasien setelah


operasi
a. Standar : ≤ 1%
b. Dimensi mutu : keselamatan pasien
c. Tujuan : tergambarkannya ketelitian dan kecermatan dokter bedah
dalam melaksanakan tindakan operasi
d. Definisi operasional : kejadian tertinggalnya benda asing adalah
kejadian dimana benda asing seperti kapas, gunting, peralatan
operasi dalam tubuh pasien akibat suatu tindakan pembedahan
e. Frequensi pengumpulan data : 1 bulan dan sentinel event
f. Periode analisis : 1 bulan atau sentinel event
g. Numerator : jumlah pasien yang dioperasi dalam waktu satu bulan
dikurangi jumlah pasien yang mengalami tertinggalnya benda asing
dalam tubuh akibat operasi dalam satu bulan
h. Denominator : jumlah pasien yang dioperasi dalam waktu satu
bulan
i. Sumber data : rekam medis, laporan keselamatan pasien
j. Penanggung jawab Pengumpul Data: Koordinator Kamar Bedah

5. Kejadian pembatalan operasi di kamar bedah


a. Standar : ≤ 5 %
b. Dimensi Mutu : Efisiensi, kesinambungan pelayanan
c. Tujuan : Tergambarnya perencanaan tindakan yang sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi terakhir pasien, tergambarnya proses
persiapan operasi yang sesuai standar.
d. Definisi Operasional : Kejadian pembatalan operasi di kamar bedah
adalah operasi terencana di kamar bedah yang mengalami
pembatalan karena sebab apapun.
e. Frekuensi Pengumpulan Data : 1 bulan
f. Periode Analisa : 3 bulan
g. Numerator : Jumlah seluruh operasi terencana yang terlaksana
dikurangi dengan jumlah seluruh operasi yang batal (dikelompokan
menurut bidang dan alasan penundaan) di Kamar Bedah

46
h. Denominator : Jumlah seluruh operasi terencana di Kamar Bedah
(dikelompokan menurut bidang dan alasan penundaan)
i. Sumber Data : Catatan Log Kamar Bedah
j. Penanggung jawab Pengumpul Data : Koordinator Kamar Bedah.
6. Komplikasi anestesi karena salah penempatan endotracheal tube
a. Standar : ≤ 1 %
b. Dimensi mutu : keselamatan pasien
c. Tujuan : tergambarkannya kecermatan tindakan anestesi dan
monitoring pasien selama proses pembedahan berlangsung
d. Definisi operasional : komplikasi anestesi adalah kejadian yang
tidak diharapkan sebagai akibat komplikasi anestesi antaralain
karena overdosis, reaksi anestesi dan salah penempatan
endotracheal tube
e. Frequensi pengumpulan data : 1 bulan dan atau bila ada sentinel
event
f. Periode analisis : 1 bulan dan atau bila ada sentinel event
g. Numerator : jumlah pasien yang mengalami komplikasi anestesi
dalam satu bulan
h. Denominator : jumlah pasien yang dioperasi dalam waktu satu
bulan
i. Sumber Data : Rekam medik, laporan insiden
j. Penanggung jawab Pengumpul Data : Koordinator Kamar Operasi

C. EVALUASI
Pada prinsipnya merupakan upaya pengolahan data hasil monitoring yang
dilakukan manajemen unit kamar bedah bersama jajaran manajemen unit
dan atasan struktural secara berkala, ditentukan oleh Kepala Bagian
Pelayanan & Penunjang Medik.
1. Evaluasi Data Indikator Klinis
Data indikator hasil monitoring dikumpulkan, disajikan dalam bentuk
grafik, kemudian dibandingkan dari bulan ke bulan dan dari tahun ke
tahun. Data dibandingkan dengan standar atau nilai yang
diharapkan dari setiap indikator / parameter yang diukur. Analisa
dilakukan untuk mencari penyebab dari penyimpangan yang
ditemukan dari proses pengumpulan data.
2. Evaluasi Kinerja SDM
Selain melakukan analisa data indikator yang diukur, analisa juga
dilakukan terhadap data subyektif hasil pengawasan (Observasi)

47
pelaksanaan SPO di lapangan.
3. Evaluasi Insiden report
Setiap insiden, terutama yang berhubungan dengan pelayanan
pasien di OK, baik yang terkait dengan profesi medik maupun
keperawatan, kepuasan pelanggan, maupun keselamatan pasien /
staf dikumpulkan dan dicatat oleh Koordinator Pengawasan Mutu &
Keselamatan Pasien (KPMKP).

48
BAB XI
PENUTUP

Kemajuan teknologi saat ini, menurut para pemberi pelayanan


kesehatan agar memberikan pelayanan yang bermutu. Oleh karena itu, dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, peningkatan mutu
kualitas layanan merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Rumah
sakit umum Taman Sari sebagai salah satu penyedia pelayanan kesehatan
yang mempunyai fungsi rujukan harus dapat memberikan pelayanan yang
profesional dan berkualitas. Sejalan dengan upaya tersebut, agar para tenaga
kesehatan di kamar operasi dapat memberikan pelayanan prima bagi para
pasiennya, diperlukan adanya suatu pedoman pelayanan kamar bedah yang
dapat digunakan sebagi acuan dalam setiap tindakan yang dilakukan.

Menyetujui,
Rumah Sakit Umum Daerah Tamansari
Direktur

dr. Herni Lestyaningsih, MARS


NIP. 19750316200604202018

49