Anda di halaman 1dari 3

Konsep Dasar Evaluasi Kegiatan Bimbingan Klasikal

Oleh: Sunawan, Ph.D.

Evaluasi dapat didefinisikan sebagai upaya pembandingan antara atribut


suatu objek dengan patokan atau nilai tertentu (Joni, 2005) sehingga dapat dibuat
suatu keputusan (judgment), ditetapkan nilai (value) dan manfaat (worth) terhadap
objek evaluasi (Arends, 2007). Atribut suatu objek diperoleh dari hasil asesmen,
sedangkan patokan atau nilai tertentu bisa berupa kebaikan, ketepatan, kesesuaian,
keindahan dan lain-lain. Pembandingan antara hasil asesmen dengan patokan inilah
yang selanjutnya dikenal dengan evaluasi. Hasil evaluasi, dengan demikian, adalah
suatu nilai; bisa berupa baik-buruk, indah-jelek, tepat-salah sasaran, lulus-gagal dan
seterusnya. Dalam konteks bimbingan klasikal, evaluasi diarahkan untuk menilai
tingkat ketercapaian tujuan bimbingan klasikal. Agar ketercapaian tersebut dapat
dinilai, maka konselor perlu mengumpulkan data kinerja siswa dalam mengikuti
bimbingan klasikal melalui serangkaian kegiatan asesmen.
Asesmen adalah penggunaan berbagai metode pengukuran untuk memahami
suatu objek (Gregory, 2000). Guna memahami karakteristik seorang siswa A,
misalnya, diperlukan pengenalan akan prestasi belajarnnya, inteligensi, status sosial
ekonomi, identitas diri dan keluarga dan seterusnya. Penggunaan berbagai metode
pengukuran sehingga diperoleh data dan informasi yang lengkap untuk memahami
seorang individu merupakan proses asesmen. Tegasnya, asesmen lazimnya
dilakukan dengan menggunakan berbagai metode pengukuran atau pengenaan
angka pada suatu objek (Gregory, 2000). Hasil dari suatu pengukuran adalah data
hasil ukur yamg biasanya berupa angka, seperti angka dari panjang suatu benda.
Selanjutnya, metode pengukuran dapat dibagi menjadi dua, yakni teknik tes
maupun non-tes.
Tes merupakan teknik yang paling banyak digunakan untuk mengukur tingkat
kinerja siswa dalam mempelajari atau menguasai tujuan-tujuan belajar yang bersifat
kognitif. Gregory (2000) menjelaskan definisi tes mencakup:

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


a. Prosedur yang terstandar
Prosedur pengaplikasian tes psikologi merupakan prosedur yang telah
dibakukan. Kestandaran prosedur tes diantaranya mencakup kompetensi tester,
pelancaran, administrasi. Untuk bisa menjadi seorang tester ada kualifikasi
tertentu yang dipersyaratkan. Pelancaran dan administrasi tes telah ditetapkan
prosedurnya dalam manual tes. Seorang tester tidak diperkenankan melanggar
prosedur tersebut
b. Sampel perilaku
Guna memahami suatu konstruk psikologi, maka perlu diuji sampel perilaku
yang mewakili konstruk psikologi yang hendak dipahami. Pengujian tidak
diarahkan terhadap semua perilaku yang mewakili suatu konstruk psikologis.
Untuk memahami penguasaan anak tentang penjumlahan 1 – 10, seorang guru
tidak perlu membuat soal 1 + 1 sampai 10 + 10, melainkan cukup beberapa soal
yang representatif bagi kemampuan penjumlah 1 – 10.
c. Pengkategorisasian
Hasil tes psikologi pada hakekatnya untuk mengkategorisasikan kedudukan
testee dalam suatu populasi. Tes prestasi belajar matematika, misalnya, hasilnya
sangat berguna untuk mengetahui mana siswa yang menguasai materi pelajaran
yang disampaikan guru dan mana yang tidak menguasai.
d. Norma atau standar yang dijadikan untuk menggolongkan testee
Hasil tes psikolgi tidak bermakna bagi siswa apabila hasil tes tersebut tidak
dibandingkan dengan suatu kriteria. Ada dua jenis norma yang dapat digunakan
untuk menggolongkan testee, yaitu norma yang beracuan pada kriteria dan
norma yang beracuan pada kelompok. Norma beracuan pada kriteria merupakan
norma yang disusun atas dasar ketetapan tertentu, misalnya norma untuk
kelulusan dalam ujian nasional (UN). Norma beracuan kelompok merupakan
norma yang dikembangkan berdasarkan kondisi kelompok, seperti norma untuk
penetapan tingkat IQ. Dalam tes psikologi, norma beracuan kelompok lebih
banyak digunakan daripada norma yang baracuan kriteria.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


e. Mampu memprediksi perilaku non tes
Hasil tes psikologi diharapkan memiliki nilai prediktif terhadap perilaku non
tes. Tanpa memiliki nilai prediktif suatu tes psikologis tidak memiliki arti. Suatu
tes inteligensi, misalnya, harus mampu untuk memprediksi tingkat keberhasilan
siswa dalam belajar.
Konsep tentang tes di atas menegaskan bahwa tes lebih diarahkan untuk
memahami perilaku atau konstruk psikologis tertentu secara objektif. Artinya,
perilaku individu atau konstruk psikologi tertentu dilihat dari kategori-kategori
tertentu sesuai dari hasil perbandingan antara skor yang dicapai oleh individu
dengan norma sebagai pembandingnya. Hal inilah yang membedakan teknik tes
dengan non-tes, di mana teknik non-tes lebih diarahkan untuk mengeksplorasi
karakteristik atau keunikan individu secara subjektif. Hasil pengukuran non-tes
tidak dibandingkan dengan norma-norma tertentu karena fokusnya untuk
mengetahui karakteristik individu dari sisi keunikannya. Terdapat banyak teknik
non-tes yang dapat diaplikasikan dalam evaluasi bimbingan klasikal, seperti angket,
wawancara, skala psikologis, skala penilaian, sosiometri, dan seterusnya (untuk
review lihat Sutoyo, 2011).

Daftar Pustaka
Anastasi, A., & Urbina, S. 1997. Psychological Testing. Diterjemahkan R.H.S.
Imam. Jakarta: PT Prenhallindo.
Anderson, L.W., & Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching,
and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives.
New York, NY: Longman.
Arends, R.I. 2007. Learning to Teach (7th ed.). Diterjemahkan oleh H.P. Soetjipto
& S.M. Soetjipto. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Burdin, P.R., & Byrd, D.M. 1999. Methods for Effective Teaching. Boston: Allyn
and Bacon.
Gregory, 2000. Psychological testing: Principles and Aplications. Boston: Allyn
and Bacon.
Joni, T. R. 2005. Pembelajaran yang Mendidik: Artikulasi Konseptual, Terapan
Kontekstual dan Verifikasi Empirik. Jurnal Ilmu Pendidikan. 12(2), 1-37.
Sutoyo, A. 2011. Pemahaman Individu - Observasi, Checklist, Interviu, Kuesioner,
Sosiometri. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018