Anda di halaman 1dari 16

Prosedur Perencanaan Kegiatan Bimbingan Klasikal

Oleh: Sunawan, Ph.D.

a. Menetapkan Topik Kegiatan Bimbingan Klasikal


Topik kegiatan bimbingan klasikal diangkat dari hasil asesmen kebutuhan
dengan mempertimbangkan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik
(Ditjen PMPTK, 2007). Hasil asesmen kebutuhan dan Standar Kompetensi
Kemandirian Peserta Didik merupakan dua sumber pertimbangan yang perlu dibuat
secara simultan dalam rangka menetapkan topik bimbingan klasikal. Artinya, topik
bimbingan klasikal merupakan jawaban atas kebutuhan siswa dan sekaligus upaya
untuk memfasilitasi siswa untuk mencapai kompetensi kemandirian yang
merupakan tujuan besar dari pelayanan bimbingan konseling di sekolah. Proses
penyusunan topik dapat dijelaskan dalam contoh yang disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Contoh pemilihan topik


Data asesmen 1) Sulit menyesuaikan diri Topik bimbingan
kebutuhan dengan lingkungan/ situasi klasikal:
baru (70%; DCM*))
2) Mudah merasa Begaul Sehat dengan
tersinggung dan marah (65%; Penuh Toleransi
DCM)
3) Tidak toleran dalam
pergaulan (45%; DCM)
4) Mudah berprasangka
buruk dengan teman (50%;
DCM)
Standar Kompetensi Mengekspresikan perasaan
Kemandirian Peserta dengan cara-cara yang bebas,
Didik**) terbuka dan tidak
menimbulkan konflik
Keterangan:
*) Data dari DCM hanya gambaran umum untuk memudahkan penyampaian
konsep **) SKKPD pada siswa SMA

Tabel 1 menunjukkan bagaimana data atau hasil asesmen kebutuhan dengan


Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik saling terkait guna menentukan
topik bimbingan klasikal. Dengan pertimbangan hasil asesmen kebutuhan dan
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
Standar Komeptensi Kemandirian Peserta Didik pada tabel 1, maka lingkup dari
topik “Bergaul Sehat dengan Penuh Toleransi” mencakup: 1) Urgensi dan strategi
memahami orang lain (empati); dan 2) Menghargai perbedaan.
b. Menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) Bimbingan Klasikal
Format RPL Bimbingan Klasikal secara spesifik telah disajikan dalam
Panduan Operasional Penyelengaraan Bimbingan Konseling (lihat Ditjen GTIK,
2016(a)(b)(c)). Sebagai pengingat, kotak 1 menunjukkan format RPL Bimbingan
Klasikal.

Kotak 1. Format RPL bimbingan klasikal


RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN ………………….
KEGIATAN BIMBINGAN KLASIKAL
SEMESTER …….. TAHUN PELAJARAN ……….
A Topik Layanan
B Bidang Layanan
C Fungsi Layanan
D Tujuan Umum
E Tujuan Khusus
F Sasaran Layanan
G Materi Layanan
H Waktu (menit)
I Sumber
J Metode/Teknik
K Media/Alat
L Pelaksanaan
M Evaluasi
1. Evaluasi Proses
2. Evaluasi Hasil
.…………., ………………….
Mengetahui: Guru BK/Konselor,
Kepala Sekolah,

……………………………… …………………………………..

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Apabila Kotak 1 dicermati lebih lanjut maka dapat komponen dalam RPL
bimbingan klasikal dapat dikategorikan ke dalam dua hal, yakni komponen inti dan
komponen penunjang. Mengikuti lingkup perencanaan kurikulum, maka komponen
inti dalam RPL bimbingan kelompok meliputi: 1) tujuan (umum dan khusus); 2)
materi, termasuk sumber atau refensi yang dirujuk; 3) metode/teknik, termasuk
tahapan pelaksanaan; 4) media/alat; dan 5) evaluasi (proses dan hasil). Ketika
kelima komponen ini dapat diisi oleh konselor maka sebenarnya konselor telah
memiliki konsep yang utuh tentang kegiatan bimbingan klasikal yang hendak
dilaksanakan. Oleh karena itu, perubahan format apapun tentang RPL bimbingan
klasikal akan selalu ada kelima komponen tersebut. Kompetensi konselor yang
bagus dan memadai untuk menyusun kelima komponen perencanaan ini membuat
dia tidak akan bingung dalam membuat perencanaan bimbingan klasikal apabila
terjadi perubahan format atau kurikulum pelayanan bimbingan konseling.
Selanjutnya yang penting untuk diisi adalah komponen pendukung yang
menegaskan teknik pelaksanaan. Dalam Pedoman Operasional Penyelenggaraan
Bimbingan Konseling (Ditjen GTIK, 2016(a)(b)(c)) disebutkan bahwa komponen
penunjang ini meliputi: 1) topik; 2) bidang layanan; 3) fungsi layanan; 4) sasaran;
dan 5) waktu. Topik dibuat dengan mempertimbangkan hasil asesmen kebutuhan
dan Standar Kompetensi Peserta Didik (Ditjen PMPTK, 2007). Bidang dan fungsi
layanan diisi dengan bidang dan fungsi layanan yang relevan dengan topik yang
akan disampaikan dalam kegiatan bimbingan klasikal. Sasaran diisi dengan kelas
yang akan diberi kegiatan bimbingan klasikal. Waktu diisi dengan tanggal dan
durasi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan bimbingan klasikal.
Pokok bahasan selanjutnya mengkaji tentang komponen inti dari RPL.
Melalui pembehasan ini lima komponen ini RPL diharapkan para konselor mampu
membuat perencanaan bimbingan klasikal yang memadai, dan sekaligus
menyelenggarakan kegiatan bimbingan klasikal secara inovatif dan menjawab
kebutuhan siswa.
1) Merancang tujuan bimbingan klasikal
Tujuan bimbingan klasikal (instructional objectives) dapat didefinisikan
sebagai intensi konselor yang terkait dengan pertumbuhan atau perubahan pada
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
siswa yang diharapkan dari bimbingan klasikal (Arends, 2007). Tujuan merupakan
komponen yang paling mendasar dalam perencanaan kurikulum bimbingan klasikal
karena dia memandu arah yang hendak dicapai dari kegiatan bimbingan klasikal.
Setidaknya terdapat tiga format pernyataan tujuan instruksional yang popular saat
ini, yakni format Mager untuk tujuan behavioral dan format Gronlund yang tidak
terlalu spesifik dibandingkan dengan tujuan behavioral, serta format taksonomi
yang lebih memperhatikan proses berpikir siswa (lihat Arends, 2007; Burden &
Byrd, 1999). Namun, karena dalam format RPL dalam Pedoman Operasional
Penyelenggaraan Bimbingan Konseling (Ditjen GTIK, 2016(a)(b)(c)), yang
membedakan tujuan menjadi tujuan umum dan khusus, lebih cenderung
menggunakan format taksonomi, maka pembahasan ini diarahkan untuk
memaparkan format menyatakan tujuan bimbingan klasikal dengan format
taksonomi.

Topik: Bergaul Sehat dengan Penuh Toleransi

Tujuan Khusus: Siswa mampu mendemonstrasikan perilaku menghargai


perbedaan (toleransi) dalam pergaulan sehari-hari

Kata Kerja: Kata Benda: Perilaku


Mendemonstrasikan menghargai perbedaan
(toleransi) dalam pergaulan
sehari-hari

Dimensi Proses Kognitif:


Mendemonstrasikan

Gambar 1 Mengklasifikasi tujuan dari taksonomi

Dalam merumuskan tujuan dalam format taksnomi terdapat tiga komponen


yang diperlukan, yakni: subjek, kata kerja, dan kata benda. Subjek adalah individu
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
yang menjadi sasaran dalam kegiatan bimbingan klasikal; dalam hal ini adalah
siswa. Kata kerja mendiskripsikan proses kognitif atau afektif atau psikomotor yang
diharapkan terjadi pada siswa sebagai sasaran kegiatan bimbingan klasikal. Kata
benda digunakan untuk memaparkan objek atau informasi yang hendak dipelajari
siswa dalam kegiatan bimbingan klasikal. Gambar 1 menunjukkan contoh
pernyataan tujuan.
Agar dalam merumuskan proses kognitif, afektif maupun psikomotor dapat
didiskripsikan secara akurat, maka kata kerja yang digunakan disesuaikan dengan
sistem taksonomi tertentu. Taksonomi merupakan adalah sistem klasifikasi atau
sarana yang membantu menata dan menunjukkan hubungan-hubungan di antara
berbagai objek dan ide (Arends, 2007). Sebagian besar tujuan yang disasar dalam
pembelajaran maupun bimbingan klasikal adalah ranah kognitif. Anderson dan
Krathwohl (2001) merevisi taksonomi kognitif Bloom ke dalam klasifikasi sebagai
berikut:
a) Mengingat (remember) adalah mengambil informasi yang relevan dari
memori jangka panjang (long term memory).
b) Memahami (understanding/comprehension) adalah mengkonstruksikan
makna dari berbagai pesan yang dibahas dalam kegiatan instruksional atau
bimbingan klasikal.
c) Menerapkan (apply) adalah melaksanakan atau menggunakan suatu
prosedur.
d) Menganalisis (analyze) adalah menguraikan materi menjadi bagian-bagian
konstituen atau menentukan pola hubungan satu bagian dengan bagian yang
lain.
e) Mengevaluasi (evaluate) adalah membuat penilaian (judgement)
berdasarkan suatu kriteria tertentu.
f) Menciptakan (create) adalah menyatukan berbagai elemen untuk
membentuk suatu pola atau struktur tertentu.
Setiap klasifikasi proses kognitif di atas memiliki sub-proses kognitif. Kotak
2 menunjukkan jenis-jenis sub-proses kognitif dan contoh bentuk kata kerjanya.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Kotak 2a. Daftar kata kerja ranah kognitif

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Kotak 2b. Lanjutan daftar kata kerja ranah kognitif

Di samping ranah kognitif, terdapat pula ranah afektif dan psikomotor yang
terkadang dapat dijadikan tujuan dalam bimbingan klasikal. Contoh bentuk kata
kerja dari ranah afektif dan psikomotor disajikan dalam Kotak 3. Adapun taksonomi
konsep Bloom (dalam Arends, 2007) dalam ranah afektif dan psikomotor adalah
sebagai berikut:
a) Ranah afektif, meliputi:
(1) Menerima (receiving) adalah menyadari atau memperhatikan sesuatu di
lingkungan.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


(2) Merespon (responding) adalah menunjukkan (perform) perilaku baru
sebagai bentuk hasil dari pengalaman dan respon terhadap pengalaman.
(3) Menghargai (valuing) adalah menunjukkan keterlibatan multak atau
komitmen yang tinggi terhadap pengalaman tertentu.
(4) Organisasi (organization) adalah mengintegrasikan nilai baru dan
memberikan nilai tersebut tempat yang layak dalam sistem prioritas.
(5) Karakterisasi menurut nilai (characterization by value) adalah bertindak
secara konsisten menurut nilainya dan memiliki komitmen yang tinggi
terhadap pengalaman yang telah dipelajari.

Kotak 3 Ranah afektif dan psikomotor serta contoh kata kerjanya

b) Ranah psikomotif, meliputi:


(1) Meniru adalah tindakan yang terjadi di luar kesadaran atau kehendak
sebagai respon terhadap stimulus tertentu.
(2) Manipulasi adalah pola gerakan bawaan yang terbentuk dari kombinasi
bermacam-macam gerak reflex.
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
(3) Presisi adalah penerjemahan stimulus yang diterima melalui indera
(sense) menjadi gerakan yang tepat sebagaimana yang diinginkan.
(4) Artikulasi adalah pengembangan gerakan-gerakan yang lebih kompleks
yang memenuhi tingkat efisiensi tertentu.
(5) Naturalisasi adalah kemampuan untuk berkomunikasi melalui garakan
tubuh.
Kotak 4. Daftar kata kerja ranah psikomotorik

Penyusunan tujuan bimbingan klasikal dilaksanakan dalam tiga tahapan,


yakni: 1) merumuskan tujuan umum; 2) melakukan analisis instruksional; dan 3)
merumuskan tujuan khusus. Tahap pertama, perumusan tujuan umum. Tujuan
umum dirumuskan secara tidak terlalu spesifik atau presisi dalam membimbing atau
menuntut konselor dalam penyiapan bimbingan klasikal atau mengukur perubahan
yang diharapkan. Di samping itu, tujuan umum diharapkan berada pada level
taksonomi yang tertinggi, dan selanjutnya tujuan khusus berada pada taksonomi di
bawahnya. Oleh karena itu, secara umum, jumlah pernyataaan tujuan khusus

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


biasanya lebih banyak atau minimal sama dengan jumlah pernyataan tujuan umum.
Sebaliknya, apabila jumlah tujuan umum lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah tujuan khusus, maka hal itu mengindikasikan terdapat kekeliruan dalam
merumuskan tujuan bimbingan kelompok. Hal ini dikarenakan dalam
merencanakan tujuan konselor gagal dalam menerjemahkan tujuan umum ke dalam
tujuan-tujuan bimbingan klasikal yang lebih spesifik dan bersifat memandu arah
perubahan pada diri siswa yang diharapkan dari kegiatan bimbingan klasikal.
Tahap kedua, melakukan analisis instruksional. Kegiatan analisis
instruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus
yang tersusun secara logis dan sistematis. Melalui analisis instruksional, tujuan
umum diterjemahkan dalam unit-unit tujuan khusus yang tersusun secara logis dan
sistematis sehingga memandu konselor dalam mencapai arah perubahan pada diri
siswa yang diharapkan. Manfaat melakukan analisis instruksional adalah: 1)
mengindentifikasi semua kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik,
2) menentukan urutan pelaksanaan bimbingan klasikal; dan 3) menentukan titik
awal proses bimbingan klasikal. Terdapat empat macam struktur dalam membuat
analisis instruksional, yaitu struktur hirarkis, prosedural, pengelompokkan dan
kombinasi. Berikut ini penjelasan setiap jenis struktur tersebut.
a) Struktur hirarkikal adalah kedudukan dua perilaku yang menunjukkan bahwa
salah satu perilaku hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai yang lain. Contoh:

Mengidentifikasi ciri-ciri individu yang percaya


diri

Menjelaskan definisi kepercayaan diri

b) Struktur prosedural adalah kedudukan beberapa perilaku yang menunjukkan


satu seri urutan penampilan perilaku, tetapi tidak ada yang menjadi persyaratan
bagi yang lain. Contoh teknik pesan saya (I-messages), “Saya merasa
diperlakukan tidak adil (perasaan) karena teman-teman kelompok belajar

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


meminta saya mengerjakan sebagian besar tugas (perilaku) sebab saya berpikir
kita bisa membagi tugas secara lebih proporsional (konsekuensi).” Berikut ini
bentuk strukturnya:

Menyebutkan Menyebutkan Menyebutkan


perasaan Perilaku Konsekuensi

c) Struktur kelompok merupakan struktur yang tidak seperti prosedural dan


hirarkis tetapi masih dalam satu kesatuan/kelompok. Contoh struktur dari
materi penetapan arah karir.

Memutuskan rencana karir

Mengidentifikasi potensi diri Menangkap informasi dunia kerja

d) Struktur kombinasi merupakan struktur yang tersusun atas kombinasi dari


ketiga jenis struktur sebelumnya.

Tahap ketiga, merumuskan tujuan khusus. Tujuan khusus dirumuskan untuk


mengklarifikasi dan memperjelas apa yang hendak atau diharapkan akan dipelajari
siswa dari kegiatan bimbingan klasikal. Tujuan khusus dirumuskan secara
sistematis sesuai dengan hasil analisis instruksional. Kotak 5 menunjukkan contoh
mengembangkan tujuan umum, analisis instruksional, dan tujuan khusus.
2) Menetapkan materi bimbingan klasikal
Guna mencapai tujuan bimbingan klasikal, maka konselor perlu merancang
dan menyusun materi atau bahan ajar. Pada hakekatnya materi bimbingan klasikal
merupakan konten yang dipelajari dan dibahas selama bimbingan klasikal agar
siswa dapat belajar dan mengalami proses kognitif, afektif atau psikomotor yang
diharapkan.
Dasar penyusunan bahan ajar adalah tujuan bimbingan klasikal, khususnya
tujuan khusus. Artinya, sebelum menetapkan bahan ajar, konselor terlebih dahulu
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
menetapkan topik-topik bimbingan klasikal sesuai dengan tujuan khusus yang telah
ditetapkan sebelumnya. Sederhananya, setiap tujuan khusus setidaknya menjadi
satu topik atau pokok bahasan dalam materi atau bahan ajar. Setelah topik atau
pokok bahasan ditetapkan, maka konselor perlu memutuskan format bahan ajak
yang akan dipakai.
Terdapat tujuh urutan (sequence) dalam mengembangkan materi bimbingan
klasikal, yaitu:
a) Sekuens kronologis adalah pengaturan urutan bahan ajar berdasarkan urutan
waktu. Bentuk sekuen ini banyak diterapkan dalam menyusun bahan ajar untuk
mata pelajaran sejarah, seperti dalam menyajikan materi tentang sejarah
kemerdekaan Republik Indonesia yang mana pokok bahasannya diurutkan
dengan runtutan waktu.
b) Sekuens kausal adalah pengaturan urutan bahan ajar yang dimulai dari sebab
(pendahulu) dari suatu peristiwa tertentu menuju ke dampak (kemudian).
Sebagai contoh, untuk mengajarkan perilaku asertif maka urutan bahan
didahului dengan pokok bahasan “Bentuk perilaku asertif” lalu diikuti pokok
bahasan “manfaat atau keuntungan berperilaku asertif”
c) Sekuens struktural adalah pengaturan urutan bahan ajar berdasarkan atas alur
struktur tertentu. Contoh: untuk mengajarkan konsep keterbukaan dan
kesadaran diri dari perspektif Johari Window, maka pokok bahasan bimbingan
klasikal diurutkan sesuai dengan struktur teori Johari Window yang dimulai
dengan (1) area keterbukaan, (2) area buta, (3) area tersembuyi, dan (4) area
yang tidak dikehaui.
d) Sekuens logis dan psikologis. Sekuens logis adalah pengaturan urutan bahan
ajar yang dimulai dari bagian terkecil menuju keseluruhan, sedangkan sekuens
psikologis adalah pengaturan urutan bahan ajar yang dimulai dari keseluruhan
menuju bagian yang kecil. Contohnya dalam mengajarkan keterampilan asertif;
dalam sekuens logis, pokok bahasan dimulai dengan pokok bahasan tentang
unsur-unsur keterampilan asertif kemudian diakhiri dengan pembahasan
tentang bentuk utuh keterampilan asertif. Sementara dalam sekuens psikologis,
pengajaran keterampilan asertif dimulai dengan bentuk utuh keterampilan
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
asertif kemudian diikuti dengan pembahasan setiap komponen atau unsur dari
keterampilan asertif.
e) Sekuens spiral adalah pengaturan urutan bahan ajar yang dimulai dari topik
yang populer dan sederhana kemudian dilanjutkan pada topik yang lebih dalam
dan kompleks. Contoh, untuk mengajarkan siswa mengembangkan konsep diri
positif, maka pokok bahasan diawali dengan pembahasan profil siswa dengan
konsep diri positif dan negatif, kemudian analisis dan refleksi konsep diri yang
berkembang, dan dilanjutkan dengan strategi pengembangan konsep diri positif.
f) Rangkaian dari belakang (bacward chaining) adalah pengaturan urutan sekuens
bahan ajar yang dimulai dari langkah terakhir dan menuju ke awal/bagian
depan. Sebagai contoh, untuk mengajarkan peningkatan kepercayaan diri maka
siswa diajak untuk mendemonstrasikan scenario tentang kepercayaan diri yang
kuat dan lemah
g) Sekuens berdasarkan hirarki belajar adalah pengurutan sekuens bahan ajar yang
dimulai dari bahan yang membutuhkan pemikiran/belajar yang sederhana
(misal pengetahuan) menuju kepada bahan yang membutuhkan bahan/belajar
yang lebih kompleks (misal evaluasi). Sebagai contoh, untuk mengajarkan
siswa meningkatkan kepercayaan diri, maka pembahasan pertama mengenai
sosiodrama tentang penerapan strategi pengembangan kepercayaan diri,
kemudian secara berturut-turut diikuti dengan pembahasan tentang strategi
peningkatan kepercaaan diri, pentingnya kepercayaan diri, dan diakhiri dengan
pembahasan tentang konsep dasar kepercayaan diri.

Terdapat beberapa sumber yang dapat digunakan untuk mengembangkan


materi bimbingan klasikal, yaitu:
a) Buku teks, bermanfaat untuk membantu perencanaan bimbingan klasikal dengan:
(a) memberikan suatu organisasi atau struktur dari suatu bahasan, (b)
memberikan pokok bahasan yang dapat berguna untuk menentukan isi bahasan,
(c) memberikan kegiatan dan strategi pengajaran yang dianjurkan, dan (d)
memberikan informasi mengenai bacaan lanjut, media, dan sumber pemngajaran
lain.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


b) Bahan-bahan sumber (resource materials), seperti koran, buku suplementer,
jurnal, pamflet, brosur, dan lain-lain. Bahan-bahan ini memberikan informasi
faktual yang bermanfaat untuk meningkatkan relevansi dan kesalingterkaitan
antara materi bimbingan klasikal dengan kehidupan sehari-hari.
c) Buku kerja, suatu buku yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menjawab pertanyaan. Biasanya suplemen dari buku teks. Buku kerja sangat
bermanfaat bagi siswa untuk memfasilitasi mereka mendalami materi bimbingan
klasikal.
d) Sekolah, yakni perpustakaan sekolah. Pusat referensi akademik dan non-
akademik yang dapat dimanfaatkan konselor untuk mengembangkan materi dan
mendorong siswa melakukan pendalaman terhadap materi bimbingan klasikal.
e) Komunitas, meliputi studi lapangan (field trip), mengunjungi pembicara dari
masyarakat (resource speakers), bahan instruksional dan sumber dari komunitas,
seperti musium, poliklinik, dan lain-lain
f) Bahan yang gratis atau murah yang tersedia di masyarakat (internet), seperti
pamflet, brisur, film, dan lain-lain.
g) Materi yang dibuat sendiri (sebelumnya)
3) Merancang metode dan tahapan bimbingan klasikal
Perencanaan metide dan tahapan bimbingan klasikal memberi panduan
kepada konselor dalam menyelenggarakan dan mengorganisir proses bimbingan
klasikal. Perencanaan metode dan tahapan bimbingan klasikal secara khusus akan
dibahas dalam Kegiatan Belajar atau Modul 2 (KB 2).
4) Menetapkan media bimbingan klasikal
Media memiliki peran penting dalam kegiatan bimbingan klasikal karena
media merupakan penjembatan bagi kesenjangan (gap) komunikasi antara konselor
dengan siswa dalam melaksanakan bimbingan klasikal. Pembahasan mengenai
media akan dibahas dalam Kegiatan Belajar atau Modul 3 (KB 3).
5) Merancang metode evaluasi
Evaluasi dalam RPL dilakukan untuk menilai tingkat ketercapaian tujuan
bimbingan klasikal. Isu evaluasi dalam RPL secara khusus dikaji dalam pokok
bahasan berikutnya dari Kegiatan Belajar 1.
Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018
Kotak 5 Contoh Pengembangan Tujuan
1. Topik yang direkomendasikan dari asesmen kebutuhan (lihat Tabel 1):
“Bergaul Sehat dengan Penuh Toleransi”
2. Tujuan umum:
“Siswa mampu mengembangkan toleransi dalam pergaulannya”
3. Analisis instruksional:

Mengembangkan toleransi

Menelaah penggunaan toleransi

Mewujudkan sikap toleran Menerapkan perilaku


toleransi

Mengidentifikasi manfaat toleransi

Mendefinisikan toleransi

4. Tujuan khusus:
a. Siswa mampu menjelaskan definisi toleransi
b. Siswa mampu mengidentifikasi manfaat toleransi dalam pergaulan
c. Siswa mampu menerapkan strategi pengembangan toleransi
d. Siswa mampu menelaah penerapan toleransi dalam pergaulan nyata
5. Sub pokok bahasan:
a. Definisi Toleransi
b. Manfaat Toleransi dalam Pergaulan
c. Strategi Pengembangan Toleransi
d. Penerapan Toleransi dalam Pergaulan Nyata

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018


Daftar Pustaka
Anderson, L.W., & Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching,
and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives.
New York, NY: Longman.
Arends, R.I. 2007. Learning to Teach (7th ed.). Diterjemahkan oleh H.P. Soetjipto
& S.M. Soetjipto. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Burdin, P.R., & Byrd, D.M. 1999. Methods for Effective Teaching. Boston: Allyn
and Bacon.
Ditjen GTIK. 2016(a). Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan
Konseling di Sekolah Menengah Atas (SMA). Jakarta: Ditjen GTIK
Kemendikbud RI.
Ditjen GTIK. 2016(b). Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan
Konseling di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jakarta: Ditjen GTIK
Kemendikbud RI.
Ditjen GTIK. 2016(a). Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan
Konseling di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Ditjen GTIK
Kemendikbud RI.
Ditjen PMPTK. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling
dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Ditjen PMPTK Depkdiknas RI.
Permendikbud RI Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Sukmadinata, N.S. 2004. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Bandung
Penerbit Remaja Rosdakarya.

Hak cipta © Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018