Anda di halaman 1dari 9

Critical Review David Easton

Bab VI,VII,VIII Kerangka Kerja Analisis Sistem Politik

Ciri-ciri sistem politik yang membedakannya dari sistem sosial lainnya , dan juga
sistem mekanik dan biologis, ialah bahwa ia tidak berdaya dalam menghadapi gangguan-
gangguan yang mungkin menghadangnya, Proses-proses dan struktur sistem politik tidak
bisa diserang oleh berbagai pengaruh yang aneh-aneh . karena hakikat sistem tersebut
,anggota-anggota suatu sistem politik mempunyai keuntungan, tetapi mereka tidak selalu
bisa mengambil kesempatan, menanggapi tekanan yang demikian untuk dapat
meyakinkan kelangsungan suatu sistem dari membuat dan melaksanakan keputusan-
keputusan yang mengikat.

Sistem-sistem politik melalui reaksinya sendiri menanggapi berbagai tekanan


sehingga mampu bertahan walau dalam suatu perubahan dunia yang maha cepat dan ia
menampilkan masalah pokok untuk diselidiki secara teoritis.

Menurut Easton sebagaimana teori sistem pada umumnya bahwa sistem


politik tidak bisa steril dari pangaruh yang menggangu berjalannya sistem politik
tersebut, gangguan itu datangnya bisa dari dalam atau dari luar sistem politik. Dalam
ketiga bab ini (VI, VII dan VIII) Easton menjelaskan bagaimana sebuah sistem politik
bisa bertahan atau tidak bisa bertahan, ketika menghadapi pengaruh, gangguan dan
tekanan, sehingga keberlangsungan alokasi nilai-nilai otoritatif dari sistem politik dapat
terus berjalan atau berhenti sama sekali. Bagi Easton sumber tekanan yang
mempengaruhi berkerjanya sebuah sistem politik tidak harus berupa tekanan-tekanan
politik yang besifat dramatis seperti revolusi sosial, perang atau bencana alam, tapi
terkadang sumber tekanan tersebut muncul dari kehidupan politik yang terjadi setiap hari
yang bekerja secara konstan. Tekanan terhadap sistem politik akhirnya bisa menimbulkan
berbagai ketegangan-ketegangan, dari adanya ketegangan yang muncul, sistem politik
dituntut harus bisa bertahan dengan cara menyakinkan para anggotanya (masyarakat)
untuk tetap terikat terdapat alokasi nilai-nilai otoritatif.
Seperti yang sudah diterangkan diatas tentang adanya tekanan yang dapat
mempengaruhi bekerjanya sistem politik, Easton menjelaskan bahwa tekanan itu bisa
datang dari dua arah, yaitu tekanan yang datang dari dalam dan tekanan yang datang dari
luar sistem politik. Tekanan dari dalam ialah tekanan yang muncul dari adanya
hubungan-hubungan yang saling kontradiktif antar anggota sistem politik, dengan adanya
kontradiksi tersebut otomatis jalanya sistem politik bisa terganggu dan apabila dibiarkan
berlarut-larut bisa mengancam stabilitas sistem politik yang sudah berjalan, menurut
Easton dalam sistem politik yang sudah mapan, penyelesaian kontradiksi sudah diatur
dalam mekanisme menajemen konflik, tapi apabila mekanisme tersebut tidak bisa
mencari solusi dari pertentangan yang ada, kekerasan dengan alat pemaksa dari sistem
politik tidak bisa dihindarkan, karena menurut Easton sistem politik mempunyai
kekuasaan yang legal sebagai alat paksaa untuk menjaga alokasi nilai otoritatif untuk para
anggotanya. Biasanya di negara-negara otoriter dengan adanya alat paksa yaitu dengan
pemberian sanksi berupa kekerasan fisik, menjadi alat legalitas untuk menghentikan
kontradiksi antara pihak oposisi dengan pemerintah di dalam sistem politiknya,
mekanisme pendekatan dialogis seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang
demokrasinya sudah maju cenderung tidak digunakan, pendekatan dengan kekerasan fisik
menjadi pilihan untuk menjaga keberlangsungan sistem politik dinegaranya. Sedangkan
tekanan dari luar menurut Easton merupakan pengaruh-pengaruh dari lingkunganya,
sistem politik bisa mengalami kejatuhan secara keseluruhan, apabila anggota masyarakat
tidak bisa menyelesaikan kemelut yang luar biasa dalam sistem politik.

Easton menyatakan pengaruh dari adanya tekanan terhadap sistem politik


mengakibatkan sistem politik menjadi terbagi pada dua hal. Pertama, sistem politik
tersebut telah berubah, tapi terus berlangsung dengan wajah yang lain dan Kedua, sistem
politik tersebut lenyap sama sekali. Sistem politik telah berubah ialah sistem politik
tersebut menunjukan keterlangsungan walupun telah mengalami perubahan, sedangkan
yang kedua, sistem politik itu dikatakan lenyap sama sekali, apabila sistem politik
tersebut telah hilang sama sekali serta alokasi nilai otoritatif tidak bisa ladi dihasilkan
oleh sistem tersebut. Dengan adanya fenomena berubah dan lenyapnya sistem politik,
akibat pengaruh serta tekanan (internal dan eksternal), Easton menyimpulakan bahwa
sistem politik tidaklah mungkin dapat menghindari atau mengisolasi dari pengaruh dan
tekanan dari dalam serta luar dirinya, walaupun ada beberapa sistem politik dalam jangka
waktu tertentu mampu stabil dari berbagai pengaruh dan tekanan, tapi menurutnya dalam
tingkat tertentu sistem politik tersebut tidak akan mampu menghindari dari kerusakan-
kerusakan akibat perubahan-perubahan internal maupun eksternalnya. Intinya menurut
Easton dalam sebuah sistem politik, jika sistem itu ingin terus berlanjut (hidup) maka ia
harus bisa berubah dan beradaptasi dengan fluktuasi lingkunganya. Sebuah sistem politik
tidak bisa terus berupaya menutup diri dan berusaha meminimalisir kontradiksi
didalamnya apalagi jalan dengan kekerasan.

Easton membandingakan perubahan sistem politik antara Amerika dan Inggris,


untuk mengilustrasikan bahwa sistem politik dimanapun pasti akan senantiasa mengalami
perubahan, menurutnya perubahan sistem politik di Amerika dapat digambarkan sebagai
sistem yang tetap tidak berubah selama beberapa tahun, karena sistem politik
Amerika sudah ditata sedemikian rupa untuk dapat diproses selamanya, perubahan
penting yang berlangsung di dalam sistem politik tersebut tidaklah bententangan dengan
prinsip kontinuitas. Menurut penulis sistem politik yang sudah ditata atau dirancang di
Amerika menunjukan fleksibelitas dan akomodatifnya sistem politik tersebut, ketika
merespon pengaruh dan perubahan sekecil apapun yang terjadi dilingkunganya, sehingga
perubahan yang terjadi dalam sistem politik Amerika berlangsung tetap, karena sifat
perubahan sistem politiknya tidak mengalami lompatan-lompatan ekstrem. Ini sangat
berbeda dengan perubahan sistem di Inggris yang melewati tahapan-tahapan perubahanya
secara radikal, sehingga bentuk asli sistem politik Inggris telah tergantikan dengan sistem
politik baru yang berbeda sama sekali dengan sebelumnya. Tapi Easton tidak
menyebutkan bahwa sistem politik Inggris telah lenyap seketika, baginya sistem politik
Inggris masih bisa dimasukan ke dalam kategori berlangsung terus menerus, walaupun
telah terjadi perubahan-perubahan besar, karena menurut Easton kita masih dapat
melacak hubungan seperangkat sistem yang ada sebelumnya secara historis dan
perubahan itu terjadi dalam rangka menyesuaikan diri dengan perkembangan
masyarakatya.
Dengan dua ilustrasi perubahan sistem politik tersebut, Easton ingin menunjukan
bahwa sistem politik pasti akan mengalami perubahan-perubahan karena pengaruh
lingkunganya, walaupun sebuah sistem politik nampak stabil, perubahan dan adaptasi dari
sistem politik karena adanya pengaruh serta tekanan lingkunganya menjadi keniscayaan
sistem politik untuk terus menjaga kelangsungan hidupnya.

Kemudian Easton menjelaskan bahwa selain mengikuti pengaruh serta tekanan


supaya sistem politik bisa terus persistensi, sistem politik sebenarnya bisa juga
melakukan perawatan diri dengan mengatur diri sendiri, mengacu pada usaha
mempertahankan pola-pola hubungan antar anggota sistem politik, biasanya konsep
pemeliharaan sistem politik sangat berkaitan dengan penciptaan stabilitas, tapi usaha
perawatan diri sistem politik ini, menurut Easton dalam jangka waktu kedepan sistem
tersebut akan menemukan kesulitan-kesulitan berat dalam menghadapi kehidupanya.
Karena dalam sistem tradisional yang sangat tertutup sekalipun relasi dengan budaya luar
merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari, sudah menjadi keniscayaan bahwa sebuah
sistem akan bisa tetap eksis bila ia mampu menyerap perubahan yang terjadi baik di
dalam dan di luar dirinya.

Suatu sistem akan dapat bertahan apabila para anggotanya mampu mengambil
tindakan untuk mengatasi segala tekanan, karena hakikatnya, tekanan tersebut sangat
membahayakan kelangsungan suatu sistem politik yang akan mengakibatkan kerusakan
total, apabila tekanan tersebut dibiarkan terus berlangsung, dalam teori sistem politik
Easton menyebutkan perlu adanya pengaturan tekanan, sehingga sistem politik
mempunyai kemampuan untuk bereaksi kembali secara konstruktif sehingga dapat
menanggulangi ganguan-ganguan yang menimpanya.

Easton menjelaskan bahwa berbagai pengaruh serta tekanan yang mendekat pada
suatu sistem politik baik itu yang berasal dari lingkungan dan di dalam sistem itu sendiri,
akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup sistem tersebut, semua perubahan
sosial menurutnya terjadi karena adanya faktor internal serta eskternal yang berinteraksi
denganya. Tapi yang menarik kemudian apa yang ditulisnya bahwa perubahan dalam
sistem tradisional tersebut mampu menyerap tuntutan, tekanan dan pengaruh diluar
sistemnya, untuk kemudian sepenuhnya diakomodir ke dalam sistem politiknya, karena
menurutnya tahapan dari masyarakat yang menganut nilai-nilai tradisional ke nilai-nilai
yang lebih maju, mengharuskan adanya proses pergantian total nilai-nilai yang dianut.
Sehingga tidak jarang sistem kesukuan yang kuno akan terhenti perkembanganya.

Tidak pernah ada suatu situasi sosial dimana terjadi pola-pola interaksi tidak
mengalami perubahan sama sekali, walaupun terkadang kita sering mengasumsikan
sebuah sistem politik terkadang mengalami stabilitas ketika berinteraksi dengan
lingkunganya, tapi menurut Easton stabilitas pada suatu sistem tidak berarti sistem politik
tersebut stagnan dalam proses perubahanya, pendekatan stabilitas dalam sistem politik
digunakan oleh sistem tersebut supaya perubahan tidak terjadi, tapi dibawah keadaan-
keadaan stabil tersebut sebenarnya proses interaksi antara lingkungan dan suatu sistem
terus berlangsung. Easton juga menjelaskan perbedaan antara sistem stabil dengan sistem
tidak stabil. Sistem stabil menurutnya apabila proses perubahan tidak terasa, sedangkan
sistem tidak stabil bila sistem tersebut berubah dengan sangat cepat sehingga para
anggotanya menyadari sistem politiknya telah mengalami perubahan.

Secara empiris kita dapat membuktikan bahwa tidak ada sistem dimana
lingkungannnya tetap utuh tanpa mengalamki perubahan. Bahkan sistem-sitem
tradisional yang secara relatif statis dan sistem masyarakat kesukuan di masa silam kini
gtelah mengalami pergeseran yang sangat besar sehubungan dengan terjadinya perubahan
dalam berbagai parameter seperti kebudayaan dan ekonomi.

Kedua suatu sistem bisa tetap utuh apabila dapat melindungi diri dari setiap
tekanan dari lingkungannya maupun tekanan-tekanan internal yang menghadang struktur
dan proses nya. Pola-pola tingkah laku yang membentuk sistem politik akan memiliki
kekedapan terhadap perubahan, atau setiap komponen sistem yang akan mampu
mengatasi tekanan perubahan sehingga dapat menghindari segala impact yang
diciptakannya.

Easton menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara sistem politik dengan sistem
sosial lainya, karena baginya setiap sistem sosial dan politik saling terangkai satu dengan
lainya, begitu juga dengan sistem politik ia tidak bisa berdiri sendiri ketika melakukan
interaksi sosialnya, ada berbagai macam sistem sosial yang mempengaruhi sistem politik
tersebut. Bentuk interaksi antara sistem sosial menurut Easton berbentuk transaksi-
transaksi atau pertukaran-pertukaran yang mempunyai pengaruh timbal balik.Sedangkan
mekanisme kerja sistem politik menurut Easton ada kaitanya dengan bentuk transaksi-
transaksi antara sistem sosial dengan sistem politik, dalam skema gambarnya Easton
menggambarkan bahwa sistem politik terbentuk dari input dan output. Proses
terbentuknya suatu input merupakan hasil dari interaksi antara lingkungan intra dan
ekstra sosialnya, interaksi tersebut merupakan respon terhadap output yang dihasilkanya
oleh sistem politik. Melalui tuntutan dan dukungan sebuah rangkaian perubahan-
perubahan dalam lingkungan akan disalurkan, digambarkan dan diringkas. Respon yang
diberikan berupa tuntutan dan dukungan. Dari tuntutan dan dukungan tersebut kemudian
diinternalisasi ke dalam sistem politik untuk kemudian dihasilkan menjadi output yang
baru, siklus ini akan terus berputar kembali sepanjang sistem politik tersebut mampu
bertahan dalam menjaga kelangsungan hidupnya.

Easton kemudian menjelaskan bahwa input menjadi salah satu bagian terpenting
dalam mekanisme atau cara kerja sistem politik, tanpa input kita akan sulit
menggambarkan bagaimana perilaku berbagai sektor masyarakat mempengaruhi apa
yang terjadi dalam sektor politik, input akan menyediakan variabel ringkas yang
menghimpun serta menunjukan hal-hal yang ada di dalam lingkungan yang berkaitan
dengan tekanan politik. Bagi Easton input dianggap sebagai faktor internal atau eksternal
bagi sistem politik, input berada pada perbatasan, dan menjadi jembatan yang akan
menghubungkan sistem politik dengan semua sistem intra dan ekstra sosial lainya, dari
persfektif analisa Easton ini input mempunyai peran yang sangat penting dalam
menjelaskan mekanisme sistem politik, input menjadi pemberi masukan berupa tekanan
atau pengaruh yang akan berusaha mendorong perubahan pada sistem politik, supaya
sistem tersebut menjadi responsif pada perkembangan zaman disekitarnya. Dengan
adanya input berupa tekanan atau pengaruh akan menimbulkan perubahan pada sistem
politik, dalam menanggapi input tersebut sistem politik dapat punah atau terserap oleh
lingkunganya.
Dalam Bab VIII Easton menjelaskan bahwa munculnya tekanan-tekanan dari
anggota sistem politik, ketika pihak yang berwenang dalam sistem politik tersebut tidak
mampu menghadapi atau memenuhi tututan dalam proporsi-proporsi tertentu, apalagi
tuntutan tersebut dirintangi dan dihalangi oleh para penyelenggara sistem, maka pada
tingkatan tertentu anggota sistem politik bisa meluapkan kekecewaan mereka dengan aksi
kekerasan dan separatis. Sehingga dukungan para anggota terhadap sistem politik akan
berkurang, bahkan akan muncul dukungan untuk merusak sistem politik tersebut. Tapi
menurut Easton tidak berarti semua tuntutan yang muncul dari para anggotanya itu harus
diakomodir oleh sistem politik, sebagian harus tetap tidak dipenuhi, tergantung jumlah
kuantitas dan kualitas dukungan anggota terhadap kelangsungan sistem politik tersebut.
Bila dukungan anggota terhadap sistem politik itu masih besar maka sistem politik akan
selektif menampung tuntutan yang akan diproses menjadi output.

Menurut Easton apabila kita ingin melacak kemunculan awal tuntutan dari para
anggota sistem politik, kita akan menemukan bahwa semua itu diawali oleh bentuk-
bentuk keinginan sosial, harapan, pilihan, pengharapan atau kehendak para anggota
sistem politik, tapi karena para penyelenggara kekuasaan tidak responsif dan peka
terhadap keinginan anggota sistem, lambat laun segala keinginan tersebut menjelma
menjadi berbagai tuntutan. Pesan-pesan tuntutan tersebut harus mengalir sepanjang
saluran-saluran yang formal menuju sistem, baik melalui kata-kata, media massa,
koresponden atau semacamnya. Pada zaman demokrasi modern saat ini menurut Easton
saluran-saluran tersebut bisa berbentuk kelompok-kelompok kepentingan, partai politik,
tokoh pemikir atau media massa. Para angota sistem politik yang mempunyai akses pada
saluran-saluran sistem tersebut kita menyebutnya sebagai pengendali struktural.

Seperti yang sudah dijelaskan penulis diatas tadi bahwa Easton menerangkan
bahwa tidak semua tuntutan dapat diinternalisasi kedalam sistem politik untuk menjadi
output, karena sistem politik harus selektif dalam mempertimbangkan jumlah dukungan
para anggota pada sistem tersebut, maka menurut Easton pada setiap sistem yang kita
temui akan terdapat rintangan kebudayaan tertentu, sebuah upaya mendorong
pengendalian yang akan membantu menjaga sejumlah tuntutan agar tetap selalu
terkendali.
Dalam bab ini juga Easton menjelaskan ada tiga bentuk penting tanggapan
terhadap dukungan. Pertama, pengaturan struktural terhadap dukungan, suatu tanggapan
yang memaksa sistem politik untuk mengubah sasaran-sasaran dan strukturanya sebagai
alat mempertahankan nilai-nilai otoritatif, Kedua, dukungan yang menyebar, sistem
politik yang berusaha mempertahankan dukungan yang diperoleh, karena tidak ada
sistem politik yang berlangsung lama, maka untuk mempertahankan sistem politik supaya
dapat bertahan lama, sistem tersebut harus membangun dukungan dari anggotanya.
Ketiga, Output sebagai mekanisme regulatif, sistem politik berusaha menampung segala
tuntutan dari para anggotanya untuk kemudian menjadi output, sehingga sistem politik
berhasil mencerminkan kepuasaan yang dirasakan oleh para anggotanya. Kemudian
Easton dalam bukunya tersebut menjelaskan pengertian output dalam sistem politik,
output didefinisikan sebagai alur berbagai transaksi yang bergerak dari sistem menuju
lingkunganya, dalam pengertian ini output ditunjukan dalam status sistem legal,
keputusan-keputusan administratif, tindakan-tindakan, undang-undang dan kebijakan-
kebijakan dari pihak penguasa politik. Menurutnya output yang dihasilkan oleh suatu
sistem politik cenderung memenuhi tuntutan dari anggota yang akan memberikan
dukungan yang besar terhadap sistem politik, sehingga memungkinkan sistem poltik
tersebut akan bertahan lama. Sedangkan umpam balik didefinisikan Easton sebagai
kapasitas anggota dan lingkunganya untukmenanggapi dan bereaksi terhadap output yang
dihasilkan oleh sistem politik, sehingga mampu untuk mencoba merubah berbagai
kondisi dimana ia berada. Easton juga menjelaskan isi sebuah umpan balik, menurutnya
umpan balik tersebut akan membawa impikasi pada penguasa sistem politik, sang
penguasa akan mengetahui sejauh mana output yang dihasilkanya mempengaruhi
penarikan dukungan para anggota sistem politik tersebut, baik yang terpencar ataupun
terpusat. Implikasi berikutnya dengan adanya output yang dihasilkan dapat mengetahui
derajat dukungan para anggotanya atau derajat pemberontakan terhadap sistem politik

Daftar Pustaka
Stephen. L wasby, political science. The dicipline and its dimensions

Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu politik, PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, 2008

Sjamsuddin Haris dkk, Pemikiran Politik Indonesia, Pusat Studi Sosial Politik Universitas Nasional,
2010

Anda mungkin juga menyukai