Anda di halaman 1dari 5

2.1.

Etiologi

Lebih dari dua per tiga kasus Sindroma Guillain-Barré ini didahului

dengan infeksi pencernaan atau saluran nafas atas yang terjadi kira-kira 3 hingga

4 minggu sebelum terjadinya onset penyakit.1

Mikroorganisme penyebab penyakit ini belum pernah ditemukan pada

penderita dan bukan merupakan penyakit yang menular juga tidak diturunkan

secara herediter. Penyakit ini merupakan proses autoimun, namun sekitar

setengah dari seluruh kasus terjadi setelah infeksi virus (Citomegalovirus, Ebstein

Barr Virus, enterovirus, Human Immunodefficiency Virus), Infeksi bakteri

(Campilobacter Jejuni, Mycoplasma Pneumonie), serta pasca pembedahan dan

Vaksinasi.1

2.2.Patofisologi

Mekanisme terjadinya Sindroma Guillain-Barré ini adalah adanya

kemiripan molekul antara ganglion dengan agen infeksius atau molecular

mimicry. Organisme infeksi seperti Campylobacter.jejuni, mengekspresikan

lipooligosakarida pada dinding bakteri yang hampir sama dengan yang ada pada

ganglion saraf. Akibatnya, antibodi yang awalnya terbentuk untuk menyerang

dinding bakteri patogen juga menyerang ganglion saraf. Hal ini akan

menyebabkan kerusakan pada ganglion dan axonal, yang nantinya akan terjadi

proses demielinisasi.1

Proses mediasi melalui sel T juga diyakini berperan dalam patogenesis

penyakit ini. Sel T menyebabkan terjadinya respon inflamasi pada saaf melalui

aktivasi marker sel T (IL-2, interferon-α) di dalam serum. Teori ini diperkuat

1
dengan adanya penelitian yang menemukan terjadinya proses demielisasi dan

blok konduksi saraf pada tikus yang disuntikkan serum penderita SGB.2

Gambar 1. Patofisiologi Sindroma Guillain Barre4

Gambar 2. Kerusakan Saraf pada Sindroma Guillain-Barré3

2
2.3.Klasifikasi Sindroma Guillain-Barré

a. AIDP- Associated Infection

AIDP atau Acute Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy

merupakan subtipe penyakit yang paling sering terjadi, dimana dari

seluruh kasus Sindroma Guillain Barre, 85-90% merupakan subtipe

AIDP. Subtipe ini dikarakteristikkan dengan adanya demielinisasi,

infiltrasi limfosit, dan macrophage-mediated clearance pada mielinnya.

Gambaran klinis pasien berupa kelemahan motorik yang bersifat

asending, dengan hipo atau areflexia.3

Citomegalovirus merupakan penyebab dari infeksi saluran nafas

atas, yang paling sering berhubungan dengan Sindroma Guillain-Barré.

Perkembangan AIDP lebih sering terjadi pada saraf kranial dan saraf

sensorik dari pada saraf motorik. Respon imun akan menyebabkan AIDP

ini menyerang sel Schwan atau selubung mielin yang akan menyebabkan

demielinisasi yang merupakan karakteristik AIDP.5

b. AMAN-associated infection

Acute motor axonal neuropathy (AMAN ) lebih sering terjadi di

Jepang dan China, yang mengenai dewasa muda. Infeksi oleh C.jejuni

adalah penyebab dari gastroenteritis bakterial yang menyebabkan

terjadinya AMAN (Acute Motor Axonal Neuropathy). Gambaran klinis

pasien dengan subtipe ini hampir sama dengan subtipe AIDP, namun

refleks tendon masih dapat ditemukan. Sama halnya dengan AIDP,

proses penyakit ini diakibatkan oleh gangguan komplementer dan IgG.

Proses patologi yang terjadi melibatkan ikatan antibodi dengan antigen

3
ganglion pada membran sel akson, invasi makrofag, serta kerusakan dan

inflamasi akson.1

c. MFS (Miller-Fisher syndrom)-associated infection

MFS adalah varian dari Sindroma Guillain-Barré dan dilaporkan

tejadi 5% dari Sindroma Guillain-Barré. Sindrom atau gejala yang

terdapat pada Miller Fisher ini adalah ataxia, ophtalmoplegia (gangguan

pada pergerakan bola mata), dan arefleksia (kehilangan reflek

neurologikal). Ataxia akan tampak pada saat berjalan dan pada batang

tubuh, yang akan menyebabkan penurunan gerakan ekstrimitas. Kekuatan

motorik biasanya jarang terganggu.3,5

Tabel. 1 Jenis Sindroma Guillain Barre6

4
DAFTAR PUSTAKA

1. Walling A, Dickson G. 2013. Guillain-Barré Syndrome. In American Family


Physician. 87(3): p191-93.
2. Amato A, RussellJ. Neuromuscular Disorder. 2008. The McGraw-Hill
Companies, Inc: United States of America.’
3. Hemal T, Jigar V, Nilima P, Parva J. 2016. Guillain Barre Syndrome (GBS) :
Review. In: European journal of pharmaceutical and medical research. 3(2):
p366-371.
4. Yuki N, Hartung H. 2012. Guillain-Barré Syndrome. In: English J Med,
366(24) : p2298.
5. Pithadia A, Kakadia N. 2010. Guillain-Barré syndrome. In: Pharmalocical
Report, 62: p220-222.
6. Khadilkar S, Yadav R, Patel B. 2018. Neuromuscular Disorder. Springer
Nature Singapore Pte Ltd. Singapura.
7.

Anda mungkin juga menyukai