Anda di halaman 1dari 12

20

BAB V
PETROLOGI BATUAN SEDIMEN KLASTIKA

Proses pelapukan akan memecah dan memisahkan bebatuan


menjadi bagian yang lebih kecil, kemudian diangkut oleh berbagai media
dan pada akhirnya diendapkan dalam suatu cekungan dengan lingkungan
pengendapan tertentu. Hasil akhir yang berupa endapan ini akan
mengalami proses diagesis atau pembatuan, yang membuat endapan
tersebut mengeras dan padu.
Ada suatu anggapan bahwa endapan atau sedimen adalah sesuatu
benda dalam suatu cairan yang bergerak turun dan berada pada dasar
dimana cairan itu berada. Akan tetapi difinisi ini tidak sesuai lagi bagi
endapan dengan media transportasi angin atau eolian dan endapan yang
terbentuk dan diendapkan pada tempat yang sama (tidak mengalami
transportasi), seperti terumbu koral. Lebih tepatnya, sedimen adalah
suatu akumulasi benda yang berada pada suatu dasar media transportasi
atau pembentuknya. Seperti telah diketahui bahwa media transportasi
dapat berupa cairan, angin, udara, gravitasi atau es.
Berdasarkan asalnya (genesa), batuan sedimen dapat
dikelompokan menjadi 5:
1. sedimen kimia, terbentuk langsung dari penguapan suatu cairan
seperti gypsum, garam dan sebagian batugamping;
2. sedimen organik, disusun oleh sisa kehidupan baik binatang
maupun tetumbuhan, contohnya batugamping cangkang dan
batubara;
3. sedimen sisa, ini merupakan sisa pelapukan, contohnya laterit dan
bouxit;
4. sedimen terigen, dimana partikelnya ditranspor dari tempat lain,
contohnya batulanau, batupasir dan konglomerat;
5. sedimen piroklastika, hasil endapan gunungapi, seperti tuf, pasir
gunungapi dan aglomerat.
Ke lima kelompok sedimen ini dapat digolongkan kembali menjadi 2,
yakni sedimen klastika (allochthonous) dan sedimen non-klastika
(autochthonous). Sedimen klastika mengalami transportasi dari tempat
asalnya ke dalam lingkungan dimana terendapankan. Sedangkan
sedimen non-klastika adalah batuan sedimen yang tidak mengalami
transportasi. Dengan kata lain sedimen non-klastika terbentuk dan
terendapkan di lingkungan yang sama.
Batuan sedimen dibentuk oleh berbagai komponen, yang dapat
digolongkan atas:
1. Terrigenous siliciclatic particles: semua partikel yang berasal dari
daratan, berukuran dari lempung sampai krakal. Umumnya
berkomposisi silikat (kuarsa, feldspar dan mika).
2. Material kimia/biologis: ini berasal dari proses kimia dan biologis
dalam cekungan sediment itu sendiri. Termasuk di dalamnya adalah
hasil ekstraksi air dalam cekungan yang menghasilkan mineral seperti
21

gipsum, kalsit, dan apatit, juga cangkang karbonat dan silika dari
organisme.
3. Material karbonan: terdiri atas sisa tetumbuhan (darat dan laut) dan
binatang serta bitumen yang terkarbonkan.
4. Material authigenic: umumnya mineral yang terbentuk pada waktu
proses diagenesis berlangsung. Jadi mineral ini terbentuk “segera”
setelah terjadi pengendapan batuan.
Batuan sedimen klastika dibentuk oleh 3 unsur, yakni komponen
(fragmen atau kepingan atau butir), matriks dan semen. Komponen
merupakan unsur yang berukuran lebih besar dalam batuan sedimen
(Gambar 5.1), sedangkan matriks mempunyai ukuran lebih kecil dari
0,03mm (Boggs, 1992). Semen merupakan unsur yang berada di antara
komponen dan berfungsi sebagai pengikat komponen dan matriks.
Semen ini terbentuk setelah terjadi pengendapan (post deposition). Pori
adalah ruang kosong yang tidak ditempati oleh butir, matriks maupun
semen.

5.1 Tekstur
Tekstur merupakan pokok bahasan (subyek) yang sangat penting
dalam batuan sedimen. Pemerian secara lengkap dan rinci tekstur batuan
sedimen akan sangat membantu dalam interpretasi lingkungan dan
proses pengendapan serta kondisi batuan asal atau induknya. Pada
hakekatnya tekstur menggambarkan tentang keadaan fisik kepingan
(fragmen) dan hubungan yang terjadi diantara kepingan. Dalam
beberapa hal tertentu, tekstur difinisikan sebagai aspek geometri dari
kepingan suatu batuan. Ada tiga faktor yang sangat penting dalam
tekstur, yakni: besar butir, bentuk butir dan fabrik (hubungan antar
butir). Bentuk butir terdiri atas bentuk butiran itu sendiri, kebundaran
butir dan tekstur permukaan atau rona mikro dari butiran.

matrik
s

semen

pori/rongga

butir
22

Gambar 5.1: Unsur batuan sedimen klastika yang umumnya terdiri atas
butir atau fragmen, matriks, semen dan pori atau
sarang.
5.1.A Ukuran butir
Ukuran butir merupakan salah satu dari ciri batuan sedimen yang
sangat penting. Pada batuan sedimen klastik ukuran butir berkisar dari
ukuran lempung sampai bongkah. Para ahli batuan sedimen pada
umumnya sangat memperhatikan tiga aspek dari ukuran butir (Boggs,
1995):
a. cara mengukur ukuran butir dan bagaimana menyajikannya,
b. metoda analisa data ukuran butir yang umumnya sangat banyak, dan
bagaimana menyajikannya dalam statistik sehingga mempermudah
interpretasinya,
c. asal-muasal yang signifikan dari semua data itu.
Pada tahun 1922, C.K.Wenworth memperkenalkan suatu skala
(sekarang terkenal dengan nama skala Wenworth) yang sekarang dipakai
sebagai standar ukuran butir (Tabel 5.1).
Walaupun sudah ada skala besar butir dari Wentworth tetapi untuk
menggambarkan statistik dengan baik ukuran butir yang begitu beragam
untuk batuan sedimen masih mengalami kesulitan. Hal lebih disebabkan
karena ukuran batuan sedimen magnitut dari setiap kelas berbeda dan
juga lebih disebabkan umumnya ukuran butir merupakan bilangan
pecahan dalam milimeter. Hal ini tentu menyulitkan dalam
penggambaran dalam grafik. Ini dapat dihindari dengan cara memakai
logaritma. Phi (φ) adalah skala logaritma yang didasarkan pada rumus:

φ = -log
 2S

dimana φ adalah ukuran phi dan S merupakan ukuran butir dalam


milimeter. Dalam Tabel 5.1 tampak bahwa peningkatan nilai negatif phi
menunjukkan peningkatan nilai ukuran dalam milimeter. Sebaliknya,
peningkatan nilai positif phi menunjukkan penurunan ukuran dalam
milimeter.
Pada umumnya ukuran butir sedimen akan semakin halus searah
dengan transportasi, sebaliknya akan semakin kasar ke arah asal
sedimen. Ukuran butir juga akan semakin halus sejalan dengan
menurunnya energi. Energi yang lebih kuat akan membawa butir yang
lebih besar, sebaliknya energi yang lebih lemah membawa butir yang
lebih kecil.
Pemilahan atau sortasi butir batuan sedimen adalah kisaran
ukuran butir di sekitar ukuran rata-rata. Di lapangan atau di laboratorium
pemilahan butir dapat diketahui dengan memakai lensa pembesar atau
di bawah mikroskop dengan acuan gambar baku (Gambar 5.2).
23

Menurut Folk (1974), pemilahan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:


1. kisaran ukuran butir sedimen yang memasok lingkungan
pengendapan, misalnya jika ombak menghantam pantai yang
dibentuk oleh sedimen glasial dengan butiran dari lempung sampai
bongkah, maka sedimen pantai juga akan mempunyai pemilahan yang
jelek; atau suatu sungai beraliran putar (turbulen) yang melewati
suatu singkapan batupasir yang mudah lepas dan mempunyai
pemilahan baik, maka endapan gosong sungai akan mempunyai
pemilahan yang baik pula;
2. tipe pengendapan, daerah bean spreading dimana arus bekerja secara
kontinue pada lapisan yang tipis akan terbentuk sedimen
berpemilahan jauh lebih baik dibandingkan pada daerah city-dump
dimana sedimen seperti ditumpahkan ke bawah dan secara cepat
ditimbun dengan sedimen lainnya.

Tabel 5.1: Ukuran butir batuan sedimen berdasarkan skala


Wenworth dan kesebandingan dengan phi (φ).

AYAKAN (standard MILIMETER Phi () KETERANGAN


Amerika)
4096 -12
1024 -10 Bongkah
256 256 -8 (boulder)
64 64 -6 Berangkal
(cobble)
GRAVEL 16 -4 Kerakal
(pebble)
5 4 4 - 2
6 3,36 - 1,75
7 2,83 - 1,5 Kerikil (granule)
8 2,38 - 1,25
10 2,00 2 - 1,0
12 1,68 - 0,75
14 1,41 - 0,5 Pasir sangat
kasar
16 1,19 - 0,25 (very coarse
sand)
18 1,00 1 0,0
20 0,84 0,25
25 0,71 0,5 Pasir kasar
30 0,59 0,75 (coarse sand)
PASIR 35 0,50 1/2 1,00
(SAND)
40 0,42 1,25
45 0,35 1,5 Pasir sedang
50 0,30 1,75 (medium sand)
60 0,25 1/4 2,0
70 0,210 2,25
80 0,177 2,5 Pasir halus
100 0,149 2,75 (fine sand)
120 0,125 1/8 3,0
140 0,105 3,25
24

170 0,088 3,5 Pasir sangat


halus
200 0,074 3,75 (very fine sand)
230 0,0625 1/16 4,0
270 0,053 4,25
325 0,044 4,5 Lanau kasar
0,037 4,75 (coarse silt)
LANAU 0,031 1/32 5,0
(SILT)
0,0156 1/64 6,0 Lanau sedang
0,0078 1/128 7,0 Lanau halus
0,0039 1/256 8,0 Lanau sangat
halus
0,0020 9,0
0,00098 10,0
LEMPUNG 0,00049 11,0 Lempung (clay)
(CLAY) 0,00024 12,0
0,00012 13,0
0,00006 14,0

Baik
Jelek

Sangat baik
Sangat jelek

Gambar 5.2: Derajad pemilahan (Boggs, 1995)


25

Gambar 5.3: Hubungan antara bentuk umum (form), kebundaran


(roundness)
dan tekstur permukaan (surface texture).

Gambar 5.4: Derajad kebundaran (Boggs, 1995)

3. sifat arus, arus yang relatif konstan akan menghasilkan pemilahan


yang lebih baik dibandingkan dengan arus yang mempunyai kekuatan
yang berfluktuasi sangat besar dari lemah sampai kuat.

5.1.B Bentuk butir


Bentuk butir (shape) merupakan uraian yang mencakup morfologi
butiran, termasuk bentuk keseluruan (form), kebundaran (roundness) dan
tekstur permukaan dari suatu butiran atau kepingan (fragmen). Bentuk
umum merupakan gambaran keseluruhan dari butir, sehingga akan
menggambarkan secara tiga demensi suatu butiran. Kebundaran
umumnya diukur dari ketajaman bentuk ujung dari suatu butiran,
umumnya hanya digambarkan dalam dua demensi. Sedangkan tektur
permukaan mengacu pada relief permukaan suatu butir, seperti goresan
dan lobang pada permukaan butiran. Perubahan dari bentuk butir ini
26

dapat disebabkan oleh abrasi terjadi pada waktu transportasi atau


pelarutan atau sementasi pada waktu diagenesa. Hubungan antara
bentuk umum, kebundaran dan tekstur permukaan dapat dilihat pada
Gambar 5.3, sedangkan derajad kebundaran pada Gambar 5.4.

5.1.C Fabric
Fabrik merupakan sifat dari sekumpulan butir yang dipengaruhi
oleh orientasi butir dan kemasan atau packing. Kemasan terutama
dipengaruhi oleh ukuran butir, bentuk butir dan derajat kekompakan.
Orientasi butir dan kemasan ini mempengaruhi sifat batuan sedimen
secara keseluruhan seperti berat jenis, kesarangan (porositas) dan
kelulusan (permeabilitas).
Butiran dari batuan sedimen dapat berbentuk kepingan (platy) atau
bulat lonjong (Boggs, 1995). Ke dua bentuk ini mempunyai
kecenterungan orientasi yang berbeda, yang kepingan akan cenderung
terbaring sejajar dengan bidang perlapisan atau permukaan
pengendapan. Sedangkan butiran lonjong, sumbu terpanjangnya
cenderung sejajar dan mengarah ke tempat tertentu. Orientasi butir ini
sangat tergantung dari proses transportasi dan pengendapan, serta
kecepatan arus dan kondisi lainnya di tempat pengendapannya.
Jika suatu butiran batuan sedimen mempunyai bentuk memanjang
dengan salah satu ujungnya tumpul, seperti tetesan air mata, maka
bagian tumpul inilah yang merupakan bagian yang lebih stabil
dibandingkan ujung lainnya. Sehingga ujung tumpul ini akan mengarah
asal arus atau ujung yang lebih runcing ke arah aliran arus. Pasir dapat
membentuk struktur pergentengan (imbrikasi) dengan sumbu
panjangnya membentuk sudut kecil (kurang 20o) dengan arah asal arus
(Boggs, 1995).

5.2 Porositas dan permeabilitas


Seperti telah diterangkan di depan bahwa batuan sedimen klastik
umumnya terdiri atas butir, matriks dan semen. Di samping itu batuan
sedimen sering kali mempunyai lubang atau pori yang tidak ditempati
oleh butir, matriks atau semen. Pori pori ini sangat penting artinya dalam
eksplorasi minyak bumi dan air tanah. Para ahli geologi yang mendalami
minyak bumi (petroleum geologist) dan air tanah (geohydrologist) sangat
sadar pentingnya sifat-sifat pori ini.

5.2.A Difinisi
Kesarangan atau porositas dari suatu batuan adalah perbandingan
antara jumlah total pori dan total volume, mudahnya

Total pori
Kesarangan = ---------------- X 100%
Total volume

Kesarang yang dihasilkan dari rumus ini sering disebut kesarangan


mutlak (absolute porosity). Para ahli geologi yang berkecimpung dalam
27

minyak bumi dan air tanah lebih senang dengan kesarang efektif
(effective porosity), yakni perbandingan antara jumlah pori-pori yang
saling berhubungan dan volume keseluruhan.

5.2.B Jenis Kesarangan


Klasifikasi kesarangan yang ditampilkan dalam Tabel 5.2
menunjukkan bahwa kesarangan dapat dikelompokan menjadi dua:
kesarangan primer yang terbentuk pada waktu proses pengendapan
batuan atau segera setelah pengendapan dan kesarangan sekunder yang
tumbuh setelah proses pengendapan berlangsung. Kesarangan primer
dipengaruhi oleh 5 faktor penting, yakni besar butir, pemilahan, bentuk
butir, kebundaran dan kemasan.

a. Kesarangan antar butir (intergranular)


Kesarangan antar butir adalah ruang (space) yang terdapat di antara
butir-butir dalam batuan sedimen (Gambar 5.5a). Kesarangan jenis ini
sangat penting dalam batuan sedimen dan hadir pada hampir semua
batuan sedimen. Meningkatnya diagenesa batuan biasanya diikuti
menurunnya porositas jenis ini.

b. Kesarangan dalam butir (intragranular)


Dalam batuan karbonat kesarangan hadir dalam butir atau kepingan
batuan. Ini dapat berupa rongga yang ada pada fosil seperti moluska,
koral, briozoa dan fosil renik lainnya seperti foraminifera (Gambar
5.5b). Kesarangan jenis ini akan cepat menurun setelah proses
diagenesis berlangsung.

c. Kesarangan antar kristal (intercrystalline)


Kesarangan antar kristal terbentuk di antara individu kristal (Gambar
5.5c). Porositas jenis ini sering dijumpai pada batuan sedimen
evavorasi, batuan beku dan batuan malihan. Sering juga dijumpai pada
batuan sedimen yang mempunyai pertumbuhan kristal baik seperti
dolomit. Fenestral adalah ruang primer pada kemasan batuan
sedimen lebih besar dari celah pada batuan yang dikuasi butir (grain-
supported). Kesarangan jenis ini sangat umum dijumpai pada batuan
karbonat, tidak saja pada karbonat berukuran pasir, tetapi juga batuan
halus dari endapan lagun atau intertidal. Dehidrasi, litifikasi dan
keluarnya gas kehidupan mengakibatkan perarian (laminae)
mengkerut, sehingga membentuk fenestral di antara perarian.

Tabel 5.2: Klasifikasi kesarangan

JENIS MULAJADI
a. Antar butir (intergranular)
atau
I Primer antar partikel (interparticle) Sedimentasi
b. Dalam butir
28

(intragranular) atau
antar partikel (intraparticle)
c. Antar kristal Sementasi
(intercrystalline)
d. Fenetral Sementasi

II Sekund e. Moldic Pelarutan


er
f. Vuggy Pelarutan
g. Retakan (fragture) Gerakan tektonik,
kompaksi atau
dehidrasi

d. Kesarangan fenestral (Gambar 5.5d)


Umumnya ditemukan pada batuan karbonat dan terbentuk karena
dehidrasi, litifikasi dan pengeluarag gas; sehingga membentuk
rongga mendatar.

e. Kesarangan moldic (Gambar 5.5e)


Mold adalah pori atau rongga yang disebabkan oleh pelarutan butir
atau fragmen, umumnya akibat sementasi. Pelarutan dapat terjadi
secara terpilih, hanya d
a b pada satu jenisc butir. Sehingga kesarangan
moldic ini dapat dibagi a
a a lagi, misalnya aoomoldic, dan pelmoldic atau
biomoldic.

f. Kesarangan vuggy (Gambar 5.5f)


Seperti halnya kesarangan moldic, kesarangan vuggy terbentuk
pada batuan karbonat. Kesarangan ini dibedakan dengan
kesarangan moldic, karena vuggy memotong fabrik pengendapan
e
primer dari batuan. Kesarangan vuggy cenderung lebih besar dari
kesarangan moldic. a

g
f a

Gambar VI.5: Berbagai jenis kesarangan, a. antar butir, b. dalam butir, c. antar
kristal, d. fenetral, e. moldic, f. vuggy, g. retakan dan h.
stromatactis (Selley, 1988).
29

g. Kesarangan retakan (fragture)


Kesarangan jenis ini terbentuk oleh retakan, umumnya dalam
batuan getas (brittle), yang disebabkan oleh beberapa faktor, di
antaranya tektonik.

h. Kesarangan stromatactis
Kesarangan stromatactis banyak ditemukan pada lereng
“gundukan lumpur” (mudmound) Pleozoik di seluruh dunia (Sellet,
1988),dengan panjang sekitar 10 cm dan tinggi 1-3 cm.

5.2.C Kelulusan (permeabilitas)


Pada dasarnya kelulusan adalah kemampuan suatu batuan yang sarang
untuk dilalui cairan atau mudahnya kemampuan batuan untuk
meloloskan suatu cairan. Istilah ini diperkenalkan oleh Henri Darcy pada
tahun 1856. Rumus yang terkenal dengan Rumus Darcy, adalah

Q= K(P1 – P2)A  L

dimana Q = kecepatan aliran


K = kelulusan
P1- P2 = tekanan yang berkurang sepanjang media L
A = luas penampang
keketalan (viskositas) cairan

Kelulusan kuantitatif harus diukur di laboratorium, sedangkan kelulusan


kualitatif (jelek, sedang dan baik) dapat dilihat dilapangan dengan
meneteskan air pada batuan.
30

5.3. KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Secara genetis batuan sedimen berasal dari: kimia, organik, residu,


terigen dan piroklastika. Akan tetapi batuan beberapa pengarang tidak
memasukan batuan yang berasal dari kegiatan gunungapi (piroklastika) ke
dalam batuan sedimen. Sedangkan Boggs (1992) membagi batuan
sedimen berdasarkan unsur pokok yang membentuknya: terigen-
silisiklastik (terrigeneous siliciclastic sediments), kimia/bio-kimia, karbonan
dan autigenik.
1. Unsur terigen-silisiklastik. Proses di daratan baik pada ledakan
gunungapi maupun penyusunan kembali batuan kemudian akan
terlapukan dan menghasilkan kepingan berukuran lempung sampai
brangkal yang terdiri atas satu mineral atau lebih (yang disebut
batuan). Mineral yang dihasilkan biasanya bersusunan silika: kuarsa,
felsfar dan mika. Sedangkan kepingan batuan dapat berupa batuan
sedimen, malihan, beku ataupun gunungapi. Kedua jenis kepingan
yang berasal dari darat ini kemudian diendapkan pada suatu
cekungan. Karena sebagian besar berupa kepingan dari darat dan
umumnya mempunyai komposisi silika maka disebut sedimen
terigen-silisiklastik (terrigeneous siliciclastic sediments). Batuan
sedimen yang terbentuk dari endapan seperti ini adalah
konglomerat, batupasir, batulempung dan serpih (lihat Tabel 5.3).
2. Unsur kimia/biokimia. Dalam suatu cekungan sedimen, proses
kimia dan biokimia dapat membentuk batuan. Proses ekstraksi dari
unsur yang terlarut dalam air cekungan dapat membentuk mineral
seperti kalsit, gipsum dan apatit. Sedangkan sisa kehidupan dapat
berupa cangkang, baik yang bersusunan karbonat maupun silika.
Kemudian mineral dan/atau sisa kehidupan ini dapat membentuk
batuan sedimen yang unsur utamanya berasal dari dalam cekungan
itu sendiri (intrabasinal sedimentary rocks), seperti batugamping,
rijang, garam dan fospor.
3. Unsur karbonan. Residu karbonan dari tetumbuhan darat dan laut,
binatang, bersama dengan bitumen membentuk sedimen karbonan.
Material karbonan lembab dari sisa kayu tetumbuhan merupakan
pembentuk utama dari sebagian besar batubara. Sisa sapropelik
(sapropelic residues) dari spora, polen, pito- dan zooplankton serta
serpihan maseral tetumbuhan dapat membentuk batubara jenis
cannel dan oilshale.
4. Unsur autigenik. Mineral yang terbentuk dari presipitasi larutan
dalam pori-pori batuan sedimen selama proses diagenesa unsur
sekunder atau autigenik, sebagai contoh kuarsa, fedlspar, lempung,
kalsit, gipsum, barit dan hematit. Unsur jenis ini tidak pernah menjadi
unsur utama membentuk batuan sedimen.

Tabel 5.3: Kalsifikasi batuan sedimen (Boggs, 1992)


31

KOMPOSISI KELOMPOK UKURAN UNSUR UTAMA TIPE BATUAN


NAMA BUTIR UTAMA
<50% >2 mm Kepingan batuan Konglomerat dan
KOMPONEN BATUAN breksi
<15% TERIGEN- SILISIKLASTI 1/16-2 mm Mineral silikat dan Batupasir
RESIDU SILISIKLASTI K kepingan batuan
KARBONA K <1/16 mm Mineral silikat Serpih (batulumpur)
N Mineral karbonat, Batuan karbonat
>50% butiran, kepingan (batugamping dan
KOMPONEN BATUAN BERVARIAS cangkang dolomit)
KIMIA- KIMIA I Mineral evaporasi Evaporit
BIOKIMIA -BIOKIMIA (sulfat, klorit) (batugaram,
gipsum, anhidrit)
Calsedoni, opal, Batuan silika (rijang
cangkang silika dan batuan sejenis)
Mineral besi Batubesi (ironstone)
dan formasi besi
Mineral posfat Posforit

BATUAN BERVAREA Unsur siliklastik Sapropelit (oil


KARBONAN SI atau kimia- shale)
biokimia, residu Impure coal
>15% Residu karbonan karbonan
Humic coal
Residu karbonan Cannel coal
Solid hydrocarbon
(bitumen)