Anda di halaman 1dari 13

27

BAB VI
PETROLOGI BATUAN KARBONAT

Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mengandung


mineral karbonat lebih dari 50%. Sedangkan mineral karbonat adalah
mineral mengandung CO3 dan satu atau lebih kation Ca, Mg, Fe, dan
Mn. Pada umumnya, mineral karbonat adalah kalsit (CaCO3) dan
dolomit (CaMg (Co3)2). Batuan karbonat umumnya terdiri atas
batugamping (kalsit sebagai mineral utama) dan batudolomit
(dolostone). Umur batuan ini sangat bervareasi mulai dari pra-
Kambrium sampai Kuarter. Batuan karbonat pra-Kambrium dan
Paleosen umumnya dikuasai oleh batudolomit. Di alam batuan
karbonat menempati 1/5 – 1/4 dari seluruh catatan stratigrafi dunia.
Sekitar 40 % dari minyak bumi dan gas dunia diambil dari batuan
karbonat. Reservoar karbonat di Timur Tengah merupakan salah satu
contoh reservoar karbonat dengan produksi migas yang besar.
Sedimen karbonat, yang dijumpai di dunia, kebanyakan
terbentuk pada lingkungan laut dangkal dan beberapa di antaranya
terbentuk di daerah teresterestrial, tetapi laut dangkal tropis.
Indonesia merupakan daerah yang mempunyai sedimen karbonat
melimpah.

6.1 PEMBENTUKAN SEDIMEN KARBONAT


Meskipun tidak semua, kebanyakan sedimen karbonat adalah
hasil dari proses kimia atau biologi yang hidup pada lingkungan laut
bersih, hangat dan dangkal. Secara umum, beberapa faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan akumulasi maksimum sedimen
karbonat adalah lingkungan yang mempunyai:
(a) kedalaman cukup, tidak terlalu dalam atau terlalu dangkal,
(b) hangat, tidak terlalu panas atau terlalu dingin
(c) kadar garam yang cukup, tidak terlalu tawar dan terlalu asin,
(d) jernih, tidak terlalu banyak sedimen klastik darat, dan
(e) makanan cukup, tetapi tidak terlalu banyak.
Berikut ini akan dibicarakan tiga faktor utama yang mengontrol
produktivitas sedimen karbonat: letak geografis dan iklim, cahaya dan
salinitas.

6.1.A Letak Geografis dan Iklim


Secara umum tata letak geografis dan iklim dapat mengontrol
laju pertumbuhan kehidupan penghasil sedimen karbonat. Daerah
yang mempunyai latitud tinggi mempunyai suhu dingin yang tentu saja
menghambat pertumbuhan kehidupan yang memerlukan kehangatan
28

untuk hidup. Sedangkan daerah yang mempunyai latitud rendah


(tropis dan subtropis) mempunyai suhu keseharian hangat. Di daerah
ini berbagai kehidupan yang memproduksi sedimen karbonat akan
tumbuh lebih baik.

6.1.B Penetrasi Cahaya


Penetrasi cahaya mengontrol distribusi organisme penghasil
karbonat yang membutuhkan cahaya untuk fotosintesis. Penetrasi
cahaya dipengaruhi oleh kedalaman air, latitud, dan kejernihan air.
Radiasi cahaya menembus air, ini diserap dengan cepat pada bagian
atas laut. Setiap perubahan kedalaman 30-50 m, intessitas cahaya
berkurang 1% dari level cahaya permukaan. Batas kedalaman
pertumbuhan koral secara geografis bervariasi, pertumbuhan koral
aktif di Carribbean berkisar dari 40 sampai 60 m, sedangkan didaerah
Indo-Pasifik hanya 15 sampai 90 m.
Material klastik yang diangkut dari darat dan dikirim ke paparan
atau cekungan melalui transportasi sungai dan/atau angin juga akan
mempengaruhi penetrasi cahaya. Masuknya sedimen silisiklastik
menghasilkan partikel halus, lempung dan lanau tersuspensi, yang
dapat menurunkan kejernihan (transparansi) air dan fotosintesa. Hal
ini tentu akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan ganggang
karbonat, yang merupakan penghasil utama sedimen karbonat.

6.1.C Salinitas (kadar garam)


Perbedaan dan kelimpahan biota menunjukkan semua faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan kalkareus. Pada kondisi laut terbuka
yang normal, perubahan salinitas dapat mengakibatkan hilangnya
sejumlah jenis fauna yang tidak tahan terhadap perubahan salinitas
ini. Peningkatan salinitas menurunkan keanekaragaman biota dan
salinitas di atas 40% kebanyakan invertebrata menghilang, meskipun
ganggang kalkareous tetap akan memproduksi sedimen terhadap
waktu.

6.2 KOMPOSISI

6.2.A Komposisi Kimia


Unsur kimia utama batugamping dikuasai oleh kalsium,
magnesium, karbon dan oksigen. Kalium sebagai kation utama (Ca+2)
dan magnesium (Mg+2); Fe, Mn dan Zn umumnya sebagai kation yang
berjumlah sedikit. Anion yang utama adalah CO32-, namun anion seperti
SO42- , OH-, F- dan Cl- dapat juga hadir dalam jumlah yang terbatas.
Unsur/elemen jejak (trace elemen) yang biasa dijumpai pada batuan
karbonat meliputi B, Ba, P, Mg, Ni, Cu, Fe, Zn, Mn, V, Na, U, Sr, Pb, K.
Konsentrasi elemen jejak tersebut tidak hanya dikontrol oleh
minerologi batuan, tetapi juga dikontrol oleh jenis dan kelimpahan
relatif butiran cangkang fosil dalam batuan. Banyak organisme
29

menghimpun dan menggabungkan elemen jejak tersebut ke dalam


struktur cangkangnya.

6.2.B Komposisi Mineral


Mineral penyusun batuan karbonat terbagi dalam tiga kelompok
utama: kelompok kalsit, kelompok dolomit dan kelompok aragonit
(Tabel 6.1). Di antara mineral karbonat dalam Tabel 6.1, hanya kalsit,
dolomit dan aragonit yang merupakan mineral utama dalam
batugamping dan dolomit (batudolomit). Aragonit bahkan merupakan
penyusun utama batuan karbonat yang berumur Kenozoikum dan
karbonat moderen. Siderit dan ankerit sering sebagai semen dan
konkresi dalam beberapa batuan sedimen, tetapi jarang sebagai
penyusun utama dalam batuan karbonat. Mineral karbonat lain dalam
Tabel 6.1 jarang dijumpai dalam batuan karbonat.

Tabel 6.1: Mineral yang umum dijumpai pada batuan karbonat


(disederhanakan dari Boggs, 1992)

MINERAL SISTEM KOMPOSIS KETERANGAN


KRISTAL I KIMIA
KELOMPOK KALSIT
Kalsit Rombohedr CaCo3 Menguasai batugamping pada
al batugamping,khususnya yang lebih
tua dari Tersier
Magnesit -“- MgCo3 Tidak umum pada batuan sedimen,
tetapi terbentuk pada endapan
evaporasi
Rodosit -“- MnCo3 Tidak umum di batuan sedimen,
dapat terjadi di sedimen yang kaya
akan Mn berasosiasi dengan Fe-silikat
Siderit -“- FeCo3 Terbentuk sebagai semen dan
konkresi pada serpih dan batupasir,
umum pada endapan batubesi
(ironstone) juga pada batuan
karbonat teralterasi oleh larutan kaya
Fe
Smitsonit -“- ZnCo3 Tidak umum pada batuan sedimen,
hadir berasosiasi dengan bijih Zn
dalam batugamping
KELOMPOK DOLOMIT
Dolomit -“- CaMg(Co3)2 Menguasai batudolomit, umumnya
juga berasosiasi dengan kalsit dan
mineral evavorasi
Ankerit -“- Ca(Mg,Fe,Mn Jauh lebih jarang dari pada dolomit,
) (Co3)2 terbentuk di sedimen kaya Fe,
sebagai sedimen butiran atau
konkresi
KELOMPOK ARAGONIT
Aragonit Ortorombik CaCo3 Umum dijumpai pada sedimen
karbonat Resen, cepat peralterasi
menjadi kalsit
30

Kerusit -“- PbCo3 Terbentuk pada supergene lead ores


Strontianit -“- SrCo3 Terbentuk pada urat-urat pada
batugamping
Witerit -“- BaCo3 Terbentuk dalam urat-urat yang
berasosiasi dengan galena
Pengenalan tiga mineral utama batuan karbonat (kalsit, aragonit
dan dolomit) menjadi hal yang sangat penting dalam mempelajari
komposisi batuan karbonat. Akan tetapi, pengenalan itu sering
mengalami kesulitan, baik secara kasatmata (mata telanjang) maupun
dengan bantuan mikroskop. Pengenalan mineral karbonat akan jauh
lebih mudah dilakukan dengan bantuan teknik staining dan etching.
Sebagai contoh, dengan teknik staining aragonit akan tampak hitam
dengan larutan Fiegl (Ag2SO4+MnSO4), kalsit menunjukkan warna
merah bila bereaksi dengan larutan alizarin merah. Untuk lebih rinci
tentang teknik staining dan etching ini dapat baca pada Tucker (1988).

6.2.C. Butiran
Komponen penyusun batuan karbonat moderen umumnya dibagi
ke dalam dua bagian dasar (lihat Gambar 6.1): butiran (grain) dan
lumpur (mud). Butiran adalah kerangka pada kebanyakan batuan
karbonat yang terdiri dari endapan cangkang organisme (skeletal) dan
endapan partikel dan agregat anorganik. Sehingga, butiran biasanya
dibagi menjadi dua kelompok butiran, yaitu cangkang dan
noncangkang. Boggs (1992) menyebut butiran noncangkang ini
dengan sebutan litoklas atau klastika batuan. Butiran batuan karbonat
dapat berukuran dari ukuran pasir sampai dengan brangkal. Bentuk
butiran karbonat juga sangat bervareasi, mulai menyudut sampai
membulat.
Lumpur gamping (lime mud) adalah batuan karbonat dengan
butiran sangat halus, termasuk butiran dan endapan kristalin yang ke
duanya berukuran sangat halus. Karbonat ini setara dengan serpih
dan/atau batulempung pada endapan klastika. Lumpur gamping (lime
mud) laut terbentuk dari kehidupan bentonik yang mati dan meluruh,
detritusnya berasal dari partiel karbonat yang lebih besar, akumulasi
biota plantonik, dan pengendapan langsung dari air laut. Beberapa
proses yang dipercaya dapat menghasilkan lumpur gamping, di
antaranya adalah aktivitas angin, ombak dan pasang-surut dapat
memecahan cangkang kehidupan menjadi serpihan renik. Aktivitas
binatang laut pemakan biota laut penghasil karbonat, dapat merusak
cangkang koral menjadi bagian yang sangat halus.
Sedimen karbonat ini kemudian mengalami proses pembatuan
sehingga menjadi batuan karbonat. Saat ini di lingkungan laut,
beberapa sedimen karbonat membatu menjadi batugamping pada
atau hanya sedikit di bawah dasar laut. Sebagai contoh dari proses ini
adalah “beachrocks (pembatuan sedimen pantai) yang biasanya
tersemen oleh aragonit dan Mg-kalsit berupa serabut atau seperti
31

jarum. Dalam karbonat purba, semen aragonit dan Mg-kalsit jarang


dapat terekam dengan baik. Hal ini disebabkan oleh ketidaksatabilan
aragonit dan Mg-kalsit, yang dengan mudah berubah menjadi kalsit.

6.2.C.a. Butiran cangkang (skeletal grain)


Butiran cangkang pada batuan karbonat berasal dari sisa-sisa
organisme penghasil material karbonat. Organisme membentuk
cangkang untuk menopang dan melindungi jaringan (tissue) lunak dan
dalam aktivitas hidupnya. Secara organik mereka membentuk mineral
karbonat yang mana mineraloginya bervariasi.

Bi

Bo

Bi

Bi
Bi
Bo

Gambar 6.1: Foto mikroskupis dari batugamping, Formasi


Tampakura, Sulawesi Tenggara; Bo (butir
organik atau cangkang berasal dari
cangkang foram dan moluska) dan Bi (butir
inorganik berupa lumpur karbonat, sering
disebut peloid).

Butiran cangkang merupakan butiran yang sangat dominan pada


batuan karbonat Panerozoikum. Butiran ini dapat berupa cangkang
utuh dan/atau pecahan bagian dari suatu organisme dengan bentuk
menyudut sampai membulat. Sebagian besar cangkang itu dibentuk
oleh aragonit, kalsit atau Magnesian-kalsit. Komposisi ini dapat
berubah karena proses diagenesa yang dialami, sehingga sebagian
mineral berubah menjadi mineral lain. Contohnya, aragonit akan
berubah menjadi kalsit pada proses diagenesa.
32

III.2.C.b. Butiran karbonat Non-Cangkang


Butiran non-cangkang adalah partikel-partikel yang berasal dari
proses fisika, kimia ataupun secara biologi dan butiran ini bukan
bagian struktur organik. Berdasarkan ciri-cirinya ada beberapa tipe
butiran non-cangkang, sebagai berikut:

Litoklas
Litoklas (lithoclast), adalah fragmen sedimen pada batuan karbonat
yang merupakan hasil erosi, kemudian tertransportasi dan diendapkan
dalam cekungan karbonat. Disini ada dua jenis lithocklast, yaitu
intraklas dan ekstraklas. Ekstraklas, sering juga disebut limeclast ,
berasal dari luar cekungan karbonat, sedangkan intraklas berasal dari
dalam cekungan itu sendiri.
(1) Intraklast adalah kepingan batugamping atau pengerasan sedimen
yang berasal dari dalam cekungan pengendapan itu sendiri.
Kepingan ini dapat berupa beachrock, hardgrounds, atau
stromatolite yang semi-terkonsolidasi. Intraklasts mengandung
partikel-partikel yang seumur dengan batuan induknya (host rock)
dan beberapa fabrik diagenetik dijumpai dalam interklast yang
berkaitan dengan lingkungan pengendapan sedimen induknya.
Interklast sangat sering dijumpai dalam karbonat. Mereka dapat
terbentuk akibat erosi dalam laut yang terletak pada alur pasang-
surut, pantai, muka terumbu dan dataran pasang-surut (tidal flat).
Menurut Boggs (1992), ada dua proses utama penyebab
terbentuknya intraklas adalah:
1. erosi terhadap endapan pantai baru saja membatu (lithified
beach-rock) di dalam zona intertidal dan supratidal;
2. penghancuran dari telo (desication) pada supratidal, khususnya
lumpur gamping yang menghasilkan klastika lumpur gamping.
(2) Ekstraklast adalah kepingan batugamping yang berasal dari
batugamping yang telah membatu dan terletak diluar cekungan,
kemudian tererosi dan diangkut masuk ke dalam cekungan
pengendapan. Kalau intraklas dapat memberikan informasi tentang
kondisi cekungan dimana batugamping itu diendapkan, ekstraklas
tidak dapat. Yang diberikan oleh ekstraklas adalah informasi
tentang batuan asalnya, yang mungkin jauh lebih tua.

Coated grain (ooid, oncoid and cortoid)


Butiran terbungkus (coated grain) adalah butiran karbonat terdiri atas
inti (nuleus) yang dikelilingi oleh lapisan pembungkus yang disebut
korteks (cortex). Butiran terbungkus ini dibagi dalam ooid, onkolit dan
kortoid.

Ooids
Ooids adalah butiran terbungkus berukuran pasir, berbentuk
bundar sampai oval dan pembungkusnya konsentris disekitar nukleus
33

butiran (Gambar VI-2). Pembungkus (coating) terdiri atas lapisan yang


bervareasi ketebalannya (3-15 mikron). Intinya (nucleus). Nukleus
mungkin berupa kepingan cangkang, peloid, ooid yang lebih kecil, atau
butiran lain seperti kuarsa dan feldspar. Pada umumnya ooid
berukuran lanau-pasir atau 0,1-2 mm, yang paling umum adalah 0,5-1
mm (Boggs, 1992). Ooid yang berukuran >2 mm disebut pisoid.
Batuan yang dibentuk oleh ooid berukuran <2 mm disebut oolit,
sedangkan batuan yang terbentuk oleh pisoid (>2 mm) disebut
pisolit.

Gambar 6.2: Komponen bukan cangkang pada sedimen karbonat.

Dari data yang terbatas, pertumbuhan individu ooids


menunjukan mungkin sangat perlahan, data yang diperoleh di Bahama
menunjukan laju akumulasi hampir 1 m/1000 tahun (Boggs, 1992).
Akumulasi ooids berkembang baik pada platform dangkal di tropis-
subtropis, dalam air bergerak, biasanya kedalaman berkisar 0 dan 4
meter dan butiran digerakkan oleh arus tidal, arus angin, dan
gelombang. Pergerakan air mengeluarkan CO2 dari larutan dalam air
laut dan meningkatkan pengendapan caCO3. Disini kebanyakan ooids
yang terbentuk adalah aragonit ooids, dan sedikit terjadi Mg-kalsit
ooids. Aragonit ooids cenderung membentuk orentasi kristal
tangensial, sedangkan Mg-kalsit ooids membentuk struktur radial.
34

Aragonit ooids menempati daerah energi tinggi, sedangkan Mg-kalsit


ooids cenderung lebih terkonsentrasi dalam lingkungan energi rendah.
Boleh jadi, energi hidroulik mengontrol mineralogi.

Gambar 6.3: Oolit dari Formasi Tampakura berumur Paleogen, di


Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan lapisan pembungkus (cortex), ooid primer dapat dibagi


menjadi:
1. Ooid dengan struktur tangensial ,
2. Ooid dengan struktur radial dan
3. Ooid mikritik atau mikrosparit.

Onkoid (Oncoid)
Onkoid adalah butiran terbungkus oleh lapisan yang lebih tidak
beraturan dari pada ooid. Pada umumnya onkoid berukuran <2 mm-
>10 mm. Onkoid dapat terbentuk baik di lingkungan pengendapan laut
maupun di darat.

Peloid dan pelet


Istilah peloid digunakan untuk menggambarkan semua butiran
yang dibentuk pada aggregat karbonat kriptokristalin berukuran 20-60
µ m, dengan mengabaikan asal pembentukannya (Gambar 6.2). Hal ini
diperlukan karena sering asal aggregat ini tidak jelas, tetapi untuk
butiran dengan asalnya dari faecal origin, digunakan istilah pelet.
Peloid adalah ciri khusus pada lingkungan lagun, dan beberapa
lingkungan inner-shelf dangkal.
35

III.3.C Lumpur Karbonat


Lumpur karbonat (carbonate mud) adalah batuan karbonat yang
berbutir sangat halus (<63 mikron), yang biasanya diidentifikasi
mengunakan mikroskop. Di bawah pengamatan mikroskop elektron,
lumpur karbonat laut moderen dapat dilihat kandungan kristal aragonit
berbentuk jarum, butiran cangkang yang kelihatannya sangat halus
atau kepingan cangkang yang sangat kecil, seperti coccoliths.
Kebanyakan lumpur aragonit yang berbentuk jarum berasal dari
serpihan ganggang kalkareous yang mati, seperti Penicillus. Lumpur
lainnya, yang mana berbentuk butiran-nano berbentuk membundar
tanggung, adalah tidak jelas dari tanda-tanda organik. Ini mungkin
diendapkan dari air laut.

6.4. CLASIFIKASI BATUAN KARBONAT

Klasifikasi batuan karbonat mempunyai banyak ragamnya.


Sampai saat ini belum ada satu klasifikasi yang dapat memuaskan
semua fihak, seperti halnya pada batuan klastika (seperti batupasir
misalnya). Beberapa klasifikasi yang akan disajikan di bawah ini
merupakan klasifikasi yang lebih umum dipakai oleh para ahli geologi.
Secara konvensional batuan karbonat juga diklasifikasikan
menurut ukuran butiranya, seperti klasifikasi sedimen klastik
berdasarkan skala ukuran butir Wentworth. Batuan karbonat dengan
ukuran butir >2 mm dinamakan kalsirudit (disebut konglomerat pada
sedimen non-karbonat), 63 mikron - 2 mm disebut kalkarenit (disebut
batupasir pada sedimen non-karbonat), dan yang ukuran butirnya <63
mikron dinamakan kalsilutit (setara dengan batulempung). Namun
klasifikasi yang berdasarkan pemerian (discription) ini sudah lama
ditinggalkan. Para ahli geologi lebih senang dengan klasifikasi yang
berdasarkan asal (genetic) batuan atau paling tidak mengarahkan ke
sana. Hal ini disebabkan, dengan klasifikasi asal itu dapat
diinterpretasikan proses pengendapan, termasuk bagaimana dan
dimana proses sedimentasi batuan berlangsung.
Pada 1962 ada dua klasifikasi yang terkenal yang diusulkan oleh
R.L.Folk (Tabel 6.2) dan R.J.Dunham (Tabel 6.3). Klasifikasi Dunham
(1962) belakangan dimodifikasi oleh Embry dan Klovan (1972) seperti
Gambar 6.4.

6.5. DIAGENESA

Setelah proses pengendapan berakhir, sedimen karbonat


mengalami proses diagenesa yang dapat menyebabkan perubahan
kimiawi dan mineralogi untuk selanjutnya mengeras menjadi batuan
36

karbonat. Sedimen karbonat umumnya lebih rentan terhadap


pelarutan (dissolution), rekristalisasi dan replacement dibandingkan
mineral-mineral silikat. Sebagai contoh, lumpur aragonit dengan
mudah teralterasi (terubah) seluruh menjadi kalsit selama proses awal
diagenesa dan pembenan. Pada tahap berikutnya, kalsit mungkin
digantikan seluruhnya atau sebagian oleh dolomit pada proses
dolomitisasi.
27

Gambar 6.4: Klasifikasi batuan karbonat berdasarkan Dunham


(1962) yang dimodifikasi oleh Embry dan Klovan
(1972).
27

6.5.A. Regim Diagenesa Karbonat


Secara umum tahapan diagenesa pada sedimen karbonat seperti
pada sedimen klastik, yaitu eodiagenesis pada pembebanan dangkal,
mesodiagenesis pada pembebanan dalam, dan telodiagenesis jika
terjadi pengangkat dan uproofing. Jadi, diagenesis menempati tiga
atau realm utama atau regim (Gambar 6.5), yaitu laut (marine),
meteorik (meteoric), dan regim bawah permukaan (subsurface).

6.5.B. Regim Laut


Meliputi dasar laut dan bawah permukaan laut sangat dangkal.
Lingkungan diagenetik ini dicirikan oleh temperatur dan salinitas air
laut yang normal. Proses diagenetik dasar pada lingkungan seperti ini
meliputi bioturbasi sedimen, modifikasi kerang karbonat dan butiran
lainnya oleh pemboran organisme, dan sementasi butiran dalam
daerah air panas, terutama pada terumbu, beting pasir tepi platform,
dan endapan karbonat pantai.

6.5.C. Regim Meteorik


Regim ini terjadi dengan dua cara, yaitu: (1) oleh turunnya muka
laut relatif, dan (2) oleh cepatnya pengisian seimen pada cekungan
karbonat dangkal. Batuan karbonat yang lebih tua dapat juga masuk
dalam regim ini oleh tahapan akhir pengangkatan atau uproofing
kompleks karbonat dengan pembebanan yang lebih dalam
(teladiagenesis). Regim meteorik dicirikan oleh hadirnya air tawar ;
yang meliputi zona tidak jenuh (pori-pori sedimen tidak terisi dengan
air) diatas water table, dan zona jenuh air dibawah water table. Air
meteorik umumnya sangat tinggi dimuati dengan CO2, sehingga
secara kimiawi sangat agresif. Karenanya aragonit dan kalsit
magnesium tinggi lebih muda larut daripada kalsit, mereka larut
dengan mudah dalam air korosVIe. Sebaliknya, pelarutan (dissolution)
aragonit dan kalsit magnesium tinggi dapat menjenuhi air dalam
kalsium karbonat berkenan dengan kalsit, yang menyebabkan aragonit
kalsitdiendapkan. Proses dissolution - reprecipitation menyebabkan
aragonit dan kalsit kalsium tinggi kurang stabil sehingga digantikan
oleh kalsit yang lebih stabil.

6.5.D. Regim Bawah Permukaan


Setelah periode awal diatas, sedimen karbonat secara berangsur
terbebani kedalam dan dalam regim ini terjadi peningkatan tekanan,
temperatur tinggi, dan perubahan fluida dalam pori-pori. Dibawah
kondisi ini, sedimen karbonat mengalami kompaksi fisik, kompaksi
kimiawi, dan perubahan tambahan kimiawi/mineralogi yang meliputi
dissolution, sementasi, neomorphism, dan replcement. Sipat-sipat
aksak perubahan yang dialami selama diagenesa bawah permukaan
dalam tergantung pada kondisi khusus lingkungan pembebanannya,
seperti temperatur, komposisi fluida pori, dan pH.
28

Gambar 6.5: Proses diagenesis pada batugamping yang sangat


berhubungan dengan lingkungannya menurut Moore
(1989)