Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PEMBAHASAN

NO. FAKTOR FAKTA OPINI


1. Faktor Presipitasi Klien terakhir masuk pada tanggal - Delusi dapat didefinisikan
26 November 2019 dibawa oleh sebagai keyakinan salah
pegawai dinsos dikarenakan 2 yang telah diyakini yang
minggu yang lalu sebelum klien dipegang oleh individu yang
MRS klien hanya diberi jajan berkaitan dengan budaya
setelah membantu petugas dinsos seseorang (Amerika Asosiasi
akibatnya klien tidak bisa membeli Psikiatri, 2013).
rokok lalu klien berbicara ngelantur - Gangguan psikotik, dikaitkan
dan tidak realistik. Klien berbicara dengan kelebihan aktivitas
sendiri, marah-marah saat diajak dopamin di otak dan
bicara. Hal ini disebabkan klien kemungkinan besar
menganggap dirinya konglomerat mengalami penurunan fungsi
dan teman-temannya tidak selevel transport dopamine
dengan dirinya. (Moriarty, et al 2019)
- Delusi dapat disebabkan oleh
penyakit kejiwaan sendiri
atau disebabkan oleh kondisi
medis, obat-obatan, atau obat
yang berkaitan dengan zat
adiktif (Moriarty, et al 2019)
2. Faktor - Klien mengatakan rutin - Sekitar 60% pasien dengan
Predisposisi berobat di RSJ sejak 1 tahun delusi memiliki
yang lalu, klien mengaku kecenduerungan untuk
melihat bapak-bapak mengalami kekambuhan
memperkosa seseorang dan (Moriarty, et al 2019)
melihat adegan percobaan - Perempuan dua kali lebih
bunuh diri, sejak saat itu klien besar kemungkinan besar
sering keluar masuk RSJ. mengalami waham
- Klien mengatakan pernah dibandingkan pria (Moriarty,
melihat ayah tirinya et al 2019)
memeperkosa orang dan akan
melakukan percobaan
pembunuhan. Klien juga
mengataka sering dipukul oleh
ayah tirinya saat SD.

Pada table di atas telah dijabarkan bahwa terdapat factor presipitasi dan predisposisi yang
bisa mencetuskan sebuah masalah delusi/waham. Data-data yang telah didapat berdasarkan
pengkajian yang telah dilakukan oleh penulis didapatkan hasil bahwa Ny. E mengalami waham
kebesaran. Sejalan dengan pendapat (Direja, 2011) yang mengatakan bahwa waham kebesaran
adalah keyakinan secara berlebihan dimana dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan
yang berbeda dengan orang lain. Diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan
keyakinan. “Dibuktikan dengan pernyataan klien yang mengatakan dirinya sebagai orang terkaya
di dunia dan memiliki 50 bank di amerika dan jerman”.
Waham yang tidak ditindaklanjuti dengan baik mungkin bisa jadi berbahaya dalam
berbagai macam hal, waham tidak hanya menyebabkan stress psikologis dan kecemasan tetapi
juga konsekuensi berbahaya dalam kehidupan dirinya dan orang lain disekitar mereka (Paolini ,
Moretti, & Compton, 2016).
Menurut strategi klinis yang diusulkan oleh pendiri sebuah praktik dermatologi-psikiatri
di University of California San Francisco menguraikan pendekatan 5 fase untuk delusi. Fase 1
adalah persiapan sebelum kunjungan. Batas ditetapkan pada waktu dan emosi, dan rencana
dibuat untuk mempertahankan kontrol pembicaraan. Fase 2 melibatkan membangun hubungan
positif. Tim medis harus memasuki ruangan dengan senyum dan kehangatan, agar
memungkinkan pasien untuk berbicara tanpa gangguan. Tim medis bertanya tentang efek dari
kondisi pada pasien, suasana hati, dan interaksi sosial. Dalam mendiskusikan penyebab yang
mendasarinya, tim medis memberikan kesempatan pada pasien untuk mengutarakan keluhan dan
pengalaman yang dialaminya. Fase 3 melakukan pemeriksaan menyeluruh, Tujuannya yaitu
untuk mendeteksi faktor yang dapat menyebabkan kekambuhan. Fase 4 adalah terapi antipsikotik
dengan berfokus pada pengurangan gejala dan membantu pasien menerima penjelasan biologis
atau tidak diketahui penyebab gejala mereka. Fase terakhir (fase 5) adalah mempertahankan
terapi selama 3-4 bulan.
Di atas semua itu, penting untuk tim medis agar tidak menyetujui atau berdebat dengan
khayalan pasien itu sendiri, karena jika mendukung khayalan tersebut akan membuat pasien
menguatkan delusi tersebut. Perawat harus memberikan orientasi realita yang sesuai dengan
kenyataan yang ada, salah satunya dengan terapi aktivitas kelompok orientasi realita. Selain itu
pengobatan dengan antipsikotik dosis rendah adalah intervensi yang paling efektif. Ini adalah
satu-satunya terapi yang terbukti mengubah yang mendasarinya perjalanan penyakit dan
memberikan penyembuhan. Kecuali dalam kasus kontraindikasi medis, terapi dengan
antipsikotik harus menjadi tujuan akhir. Penerimaan pasien dan kemanjuran farmakoterapi dapat
ditambah dengan terapi perilaku kognitif. Dorong pasien untuk menerima penjelasan yang tidak
lengkap, dan fokus pada kontrol gejala melalui keterampilan koping yang positif. Ini mungkin
lebih efektif setelah terapi antipsikotik dimulai.