Anda di halaman 1dari 11

TEORI DAN KRITIK ARSITEKTUR

Dosen Pengampu : Sutriani, S.T, M.T

OLEH :

SULFIA

60100117049

KELAS: VA

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2019
SKETSA DIAGRAM PERANCANGAN PRIBADI

 Pada tahap awal perancangan yaitu latar belakang suatu perancangan di lakukan di mana
biasanya muncul karena adanya kebutuhan.
 Tahap kedua yaitu proses analisa. Pada tahap ini, dibutuhkan data eksisting tapak dimana
bangunan akan di rancang untuk mengetahui potensi apa yang dapat dimanfaatkan di
dalam tapak tersebut. Setelah itu akan dilakukan analisa data dan analisa masalah
masalah apa yang ada pada tapak tersebut (analisa iklim, kebisingan, view, dsb).
kemudian dilakukan studi banding dan studi literature terhadap desain bangunan yang
akan di rancang. Pada tahap ini juga dilakukan analisa kegiatan-kegiatan yang dilakukan
oleh pengguna bangunan serta ruang-ruang yang dibutuhkan.
 Tahap ketiga adalah solusi desain. Pada tahap ini dituangkan ide dan gagasan sebagai
solusi terhadap permasalahan permasalahan yang ada pada tapak dan besaran ruang yang
dibutuhkan, sesuai dengan analisa pada tahap sebelumnya.
 Setelah itu skematik desain, dimana bangunan mulai dirancang sesuai dengan konsep
perancangan secara 2D (gambar kerja).
 Tahap akhir yaitu hasil rancangan dimana dibuatkan bentuk 3D sebagai contoh model
desain apabila terbangun.
SKETSA DIAGRAM PERANCANGAN

Synectics

Menggunakan pandangan mendesain black box, dapat kita anggap sebagai umpan balik
(feedback) output black box menjadi input black box dengan menggunakan tipe-tipe analogi
(persamaan) yang dipilih secara maksimal dipilih secara seksama sebagai instrument untuk
mengalih bentukkan output menjadi input.
Kesimpulan utama yang dapat kita tarik mengenai metode-metode desain black box
adalah sebagai berikut :
 Output seorang desainer ditentukan oleh input-input yang baru diterima dari masalah dan
juga oleh input-input lainnya yang diterima dari masalah-masalah dan pengalaman-
pengalaman sebelumnya.
 Outputnya dapat dipercepat, tapi menjadi lebih serampangan, dengan persetujuan untuk
mengendurkan hambatan-hambatan social untuk suatu selang waktu.
 Kapasitasnya untuk menghasilkan output-output yang relevan bagi masalah tergantung
pada diberikannya waktu untuk mengasimilasi dan memanipulasi, di dalam dirinya
sendiri, perumpamaan-perumpamaan yang menggambarkanrkan struktur masalah sebagai
sebuah keseluruhan.
 Kendali yang cerdik atas bentuk-bentuk struktur masalah yang di umpan ke dalam black
box manusiawi mungkin meningkatkan kesempatan memperoleh output yang relevan
bagi masalah desain.
Desain Sebagai Glass Box

Mayoritas metode-metode desain berkenan dengan pemikiran yang dieksternalisasikan


dan karena itu di dasarkan pada asumsi-asumsi rasional daripada mistis. Proses desain
diasumsikan dapat dijelaskan secara menyeluruh, meskipun para desainer yang telah berpraktek
mungkin tidak sanggup memberi dalih yang meyakinkan untuk segala keputusan yang mereka
ambil. Para penemu sebagian metode-metode desain sistematis yang diuraikan disini nampaknya
menyiratkan bahwa seorang desainer punya pengetahuan penuh akan apa yang sedang ia lakukan
dan mengapa ia melakukan itu. Karakteristik untuk metode-metode glass box adalah sebagai
berikut:
 Sasaran, variabel dan kriteria ditetapkan sebelumnya
 Analisa diselesaikan, atau sekurangnya dicoba, sebelum pemecahan-pemecahan dicari.
 Evaluasi sebagian besar linguistis dan logis (sebagai kebalikan dari eksperimental)
 Strategi ditetapkan sebelumnya; semua ini biasanya berurutan tapi mungkin mencakup
operasi-operasi yang parallel, operasi-operasi yang bersyarat dan pemutaran ulang
(recycling).

Linearitas

Bagaimana prospek mencapai linearitas dalam masalah desain yang sama sekali baru,
sebagai kebalikan dari masalah desain yang repetitive? Nampaknya ada dua jalur penyerangan
yang memberi harapan.
 Pendekatan pertama adalah merubah masalahnya menjadi masalah desain sistem
pengaliran (atau desain perakitan) dengan pertama-tama mendesain komponen-
komponen yang distandardisasi yang dapat saling ditukar, satu komponen untuk tiap
fungsi utama.
 Pendekatan kedua terhadap linearitas muncul dalam strategi-strategi adaptif. Feature
Bersama metode-metode ini adalah penambahan kegiatan-kegiatan riset ini adalah untuk
memperluas atau meramalkan, dengan pengukuran ilmiah sebagai lawan dari berlogika
ditempat duduk, ruang gerak desainer, bila sub masalah yang kritis ingin dipecahkan.
Kegiatan-kegiatan riset dapat dianggap sebagai tahap-tahap peramal atau penduga yang
menentukan daerah pilihan output yang layak dari masing-masing tahap dalam suatu proses glass
box sebelum tahap itu dilaksanakan.

Konsep Desain Bangunan Frank Lloyd Wright

Baik pada eksterior maupun interior design-nya, Frank L.Wright banyak bermain dengan
unsur bidang dan garis dengan jenis arsitektur “Hangat” terlihat dari desain yang menyeluruh
dari bentuk rumah, interior hingga perabot yang paling kecil seperti meja kursi, bentuk lampu
dan sebagainya. Kekuatan utama arsitektur Frank L.Wright adalah “Craftmanship”
atau “Pertukangan” yang jenius, serta detail hingga ke bagian terkecil (perabot).

Pada desain denah bangunan, Frank L.Wright menggunakan prinsip “Arsitektur Organis”
dengan bagian-bagian yang tumbuh dan menjalar dari sebuah rumah, dimana setiap
bagian diibaratkan seperti organ tubuh yang saling membutuhkan satu sama lain.

Fungsi harus dibarengi dengan Estetika, dimana estetika ini menjadi jiwa dari sebuah
ruang arsitektur. Mengutamakan prinsip “Keselarasan” sehingga membuat bangunan “Frank
L.Wright” terlihat konsisten dari bentuk terbesar hingga ke bentuk terkecilnya. Seperti
Penggunaan bentuk geometri yang selaras membuahkan bangunan dengan detail ornamentasi
yang selaras dengan konsep keseluruhannya.
Falling Water karya Frank Lloyd Wright

Lokasi : Mill Run, Pennsylvania

Dibangun : 1936-1939

Langgam : Arsitektur Modern

Pemilik : Edgar J. Kaufmanntahun 1963 diserahkan sebagai museum untuk Western


Pennysylvania Conservacy sebagai penghargaan atas karya F.L. Wright.

Falling Water, rumah peristirahatan keluarga Kaufmann yang harmonis dengan alam

Konsep utama bangunan : Rumah peristirahatan yang berkolerasi,menyatu,dan selaras dengan


alam
Falling Water dari atas di musim semi (Sumber: fallingwater.org)

Bangunan ini berdiri di hamparan hutan Oak dan Maple, menyatukan sisi kemanusiaan
dengan alam secara harmonis dan menyatakan keberadaannya sebagai bagian dari alam. Dinding
dan atap memiliki banyak bukaan sebagai aplikasi dari konsep hemat energi dan pemanfaatan
faktor alam untuk pencahayaan dan sirkulasi udara di rumah. Rumah ini begitu harmonis dengan
alam sehingga bangunan ini ditetapkan sebagai National Historic Landmark di tahun 1966 dan
“Place of a Lifetime” oleh National Geographic Traveler.

Konsep Tapak: Mengoptimalkan keindahan dan potensi alam sekitar

Keindahan hutan sekitar Falling Water di musim panas

Sketsa konsep desain Falling Water karya Frank Lloyd Wright


Konsep tapak Falling Water (Sumber: towermax.deviantart.com)

Falling Water mengoptimalkan keasrian dan potensi alam sekitarnya untuk kenyamanan
fungsi bangunan, sehingga mendapat penghargaan sebagai “The Best all-time work American
Architecture” oleh American Institute of Architects di tahun 1991.

Konsep bahan : Memanfaatkan bahan alami dari lingkungan sekitar secara bijak

Pintu masuk Falling Water


Bebatuan alam dari tapak sebagai bagian dari struktur bangunan (sumber: fallingwater.org)

Kesederhanaan sudah tampak mulai dari pintu masuk utama yang ditandai sebuah tiang
batu. Bagian interior didominasi bahan kayu dan menonjolkan bebatuan asli berukuran
besar dengan sesedikit mungkin merubah struktur asli tebing sungai.

Konsep struktur : Dominasi sistem kantilever beton bertulang yang dibangun di atas bebatuan

Gambar tampak atas dan potongan Falling Water karya F.L. Wright

Falling Water terdiri dari tiga lantai yang masing-masing mempunyai teras kantilever.
Sistem kantilever paling fenomenal terletak pada ruang keluarga yang melayang di puncak air
terjun dari aliran sungai di Bukit Bear Run sebagai gemericiknya, seolah-olah sebagai
perpanjangan imajinasi dari tapak
istem kantilever pada ruang keluarga Falling Water

Kolom terbuat dari sandstone hasil sedimen dari kuarsa dan pasir yang menyatu dengan dasar
tapak bangunan.

Konsep interior : Keseluruhan elemen interior merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan
desain

Ruang keluarga Falling Water dengan perapian (Sumber: pinterest.com)

Desain interior dipusatkan pada bagian perapian sebagai ‘point of interest’ dari ruang
keluarga, ruang yang dianggap paling penting dalam sebuah rumah.
Denah lantai dasar Falling Water karya F.L. Wright (sumber : friv5games.biz)

Keseluruhan ruang berkonsep ruang terbuka. Dari semua ruang bisa terlihat keasrian
alam, terdengar gemericik air terjun, dan keindahan cahaya matahari menembus ruang. Konsep
ruang terbuka ini menciptakan aliran ruang dan interaksi sosial yang bebas. Ada tiga area duduk,
sebuah kantor, dan sebuah ruang makan dengan dua teras.