Anda di halaman 1dari 14

RENCANA KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

MANAJEMEN PERKANDANGAN DAN PENANGANAN


LIMBAH SAPI PEDAGING DI PT KARIYANA GITA UTAMA
CICURUG SUKABUMI JAWA BARAT

NURAISYAH

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TERNAK


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2020
Judul : Manajemen Perkandangan dan Penanganan Limbah
Sapi Pedaging di PT Kariyana Gita Utama Cicurug Sukabumi
Jawa Barat.
Nama : Nuraisyah
NIM : J3I117018
Program Studi : Teknologi dan Manajemen Ternak

Disetujui Oleh

Fariz Am Kurniawan, SPt, MSi


Pembimbing

Diketahui Oleh

Yuni Resti, SPt, MSc


Ketua Program Studi
ii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan Proposal
Praktik Kerja Lapangan dengan judul “Tatalaksana Penanganan Kesehatan dan Limbah
Sapi Pedaging di PT Kariyana Gita Utama Cicurug Sukabumi Jawa Barat”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ketua Program Studi Teknologi dan
Manajemen Ternak dan dosen pembimbing yang memberikan pengarahan sehingga
penulis dapat menyelesaikan proposal kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini, Penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada pimpinan PT Kariyana Gita Utama yang telah
memberikan kesempatan untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan.

Bogor, Januari 2020

Nuraisyah
iii

DAFTAR ISI

1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
2 TINJAUAN PUSTAKA 2
2.1 Sapi Pedaging 2
2.2 Sistem Perkandangan 2
2.3 Manajemen Pemeliharaan 3
2.4 Manajemen Kesehatan 3
2.5 Penanganan Limbah 3
2.6 Pemasaran 4
3 METODE 4
3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan 4
3.2 Metode Pelaksanaan 4
3.2.1 Keadaan Umum 4
3.2.2 Sarana Produksi 5
3.2.3 Sistem Perkandangan 5
3.2.4 Sistem Pemeliharaan 5
3.2.5 Manajemen Kesehatan 5
3.2.6 Penanganan Limbah 5
3.2.7 Pemasaran 5
DAFTAR PUSTAKA 6
LAMPIRAN 7
DAFTRA LAMPIRAN 8
1. Kegiatan PKL 8
2. Tata Tertib Pelaksanaan PKL 8
3. Matriks Jadwal Kegiatan PKL Tahun 2019-2020 8
1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan daging sapi di dalam negeri dinilai belum mampu dipenuhi oleh
pengusaha peternakan di Indonesia sebagai produsen lokal. Produksi daging sapi di
Indonesia tahun 2018 sebesar 403 668 ton dengan total kebutuhan mencapai 663 290
ton. Pemenuhan kebutuhan daging sapi di dalam negeri baru 60.9% yang mampu
dipenuhi peternak lokal (DPKH 2018). Berdasarkan data tersebut, usaha sapi pedaging
ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkan.
Sapi pedaging merupakan jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan utama adalah
unruk memproduksi daging. Selama proses pemeliharaan sapi pedaging, peternak
harus memperhatikan aspek-aspek terkait pemeliharaan sapi pedaging agar usaha
tersebut berhasil. Salah satu aspek yang terkait dalam proses pemeliharaan adalah
perkandangan dan penanganan limbahnya. Kandang merupakan salah satu faktor
lingkungan hidup ternak. Kandang harus memberikan jaminan untuk hidup yang sehat
dan nyaman sesuai dengan tuntutan hidup ternak. Fungsi kandang menurut Sukmawati
et al (2010) yaitu melindungi ternak dari perubahan cuaca dan iklim yang ekstrim
(panas, hujan, dan angin), mencegah dan melindungi ternak dari penyakit, menjaga
keamanan ternak dari pencurian, memudahkan pengelolaan ternak dalam proses
produksi seperti pemberian pakan, minum, pengelolaan limbah dan perkawinan, serat
meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Limbah peternakan merupakan sisa buangan dari
suatu usaha peternakan yang meliputi usaha pemeliharaan ternak, rumah potong
hewan, pengolahan produk dan lain sebagainya. Limbah tersebut berupa limbah padat
dan limbah cair seperti feses, urine, sisa pakan, darah, tulang, dan isi rumen (Sihombing
2002).
Kariyana Gita Utama (KGU) merupakan perusahaan berbentuk PT (perseroan
terbatas) yang bergerak pada bidang peternakan, khususnya sapi potong. PT. Kariyana
Gita Utama merupakan perusahaan pelopor dibidang penggemukan sapi dengan sistem
feedlot di Indonesia. Dalam menjalankan usaha penggemukan sapi potong ini,
perusahaan mendatangkan sapi-sapi bakalan dewasa dari berbagai sumber. Sumber
sapi bakalan impor diperoleh dari Australia, sedangkan sumber sapi bakalan lokal
diperoleh dari peternak di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa
Tenggara Timur. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan adalah untuk mengetahui
manajemen perkandangan dan penanganan limbah di PT. Kariyana Gita Utama.

1.2 Tujuan

Tujuan Praktik Kerja Lapangan yang dilaksanakan adalah mengaplikasikan


keterampilan dan ilmu yang diperoleh selama kuliah, menambah wawasan dan
informasi serta pengetahuan baru yang tidak didapatkan melalui dunia perkuliahan,
2

mendekatkan diri dengan lapangan kerja. Kegiatan PKL juga bertujuan untuk
menambah kepercayaan diri, keberanian, tanggung jawab dalam melaksanakan tugas
yang dipercayakan oleh instansi atau perusahaan kepada mahasiswa. Selain itu
mahasiswa juga dapat mengetahui kegiatan manajemen perkandangan dan penanganan
limbah yang diterapkan di PT Kariyana Gita Utama.

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi Pedaging

Sapi pedaging merupakan sapi yang dipelihara dengan tujuan utama sebagai
penghasil daging. Sapi potong biasa disebut sebagai sapi tipe pedaging. Sapi pedaging
memilki ciri tubuh besar, kualitas daging maksimum dan mudah dipasarkan, laju
pertumbuhan cepat, jumlah karkas tinggi dan kualitas daging baik (Salim 2013). Sapi
pada umumnya digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sapi lokal (Bos
sondaicus/Bos javanicus), sapi Zebu (Bos indicus), dan sapi Eropa (Bos taurus).
Bangsa-bangsa sapi yang ada saat ini berasal dari ketiga kelompok sapi tersebut dan
terdapat bangsa-bangsa sapi baru hasil persilangan antar bangsa yang merupakan
bangsa ketiga sapi tersebut (Fikar dan Ruhyadi 2012).
Indonesia merupakan negara beriklim tropis, sehingga sapi pedaging yang
dipelihara merupakan jenis bangsa sapi tropis ataupun persilangan. Salah satu jenis sapi
pedaging yang biasa digemukan di Indonesia yaitu Brahman Cross (BX). Sapi
Brahman Cross berasal dari Australia yang merupakan keturunan sapi Zebu (Bos
indicus). Keunggulan sapi Brahman Cross diantaranya tahan terhadap panas dan tahan
terhadap endoparasit dan ektoparasit seperti caplak sehingga sapi ini mudah dipelihara
(Fikar dan Ruhyadi 2012). Sapi yang digemukan sebaiknya berjenis kelamin jantan,
hal ini dikarenakan pertumbuhannya lebih cepat dibanding sapi betina. Selain sapi
berjenis kelamin jantan, sapi kebiri juga baik untuk penggemukan.
Jenis sapi yang dipelihara oleh PT. Kariyana Gita Utama adalah sapi yang
didatangkan dari Australia yaitu jenis sapi Australian Commercial Cross (ACC),
Shorthorn Cross (SX), dan Brahman Cross (BX), seperti Brangus dan Charolais.
Sedangkan sapi lokal yang dipelihara merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan
Sumba Ongole (SO).

2.2 Sistem Perkandangan

Kandang merupakan tempat tinggal ternak sepanjang waktu, sehingga


pembangunan kandang sebagai salah satu faktor lingkungan hidup ternak, harus bisa
menjamin hidup yang sehat dan nyaman. Fungsi kandang menurut Sukmawati et al
(2010) yaitu melindungi ternak dari perubahan cuaca dan iklim yang ekstrim (panas,
hujan, dan angin), mencegah dan melindungi ternak dari penyakit, menjaga keamanan
3

ternak dari pencurian, memudahkan pengelolaan ternak dalam proses produksi seperti
pemberian pakan, minum, pengelolaan limbah dan perkawinan, serat meningkatkan
efisiensi tenaga kerja.

2.3 Manajemen Pemeliharaan

Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi dan mempercepat penyebaran


ternak besar oleh peternak adalah dengan cara pemeliharaan ternak tersebut.
Pemeliharaan ternak yang baik sangat mempengaruhi perkembangbiakan serta
terjaminnya kesehatan ternak (Hernowo 2006).
Berdasarkan Sensus Pertanian (1993), pemeliharaan ternak besar khususnya sapi
oleh peternak rakyat dikategorikan dalam 3 cara yaitu pemeliharaan intensif dimana
ternak dikandangkan, pemeliharaan semi-intensif dimana ternak dikandangkan dan
dilepas, serta pemeliharaan ekstensif dimana ternak dilepas sama sekali. Pemeliharaan
intensif paling sering digunakan di Indonesia, yaitu pemeliharaan sepenuhnya
dilakukan didalam kandang.

2.4 Manajemen Kesehatan

Aspek penting dalam peternakan adalah kesehatan ternak. Guna meminimalisir


kerugian yang diakibatkan oleh turunnya produktifitas, biaya pengobatan, dan risiko
kematian ternak. Karena itu perlu dilakukannya pengendalian penyakit seperti menjaga
kebersihan kandang beserta peralatannya, memandikan sapi, memisahkan sapi yang
sakit, mengusahakan lantai kandang selalu kering, serta memeriksa kesehatan sapi
secara teratur (Hadi 2009).
Peningkatan pelayanan kesehatan hewan sangat diperlukan untuk meningkatkan
produktifitas ternak, menjaga penyebaran penyakit hewan, penyebaran penyakit
zoonosis, melindungi masyarakat dari bahaya makanan asal hewan yang berbahaya,
memenuhi kepuasan peternak terhadap pelayanan kesehatan hewan, meningkatkan
produktifitas ternak, pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan,
penyebaran penyakit zoonosis (Anwar 2009).
Walaupun usaha-usaha pencegahan penyakit dilakukan secara terus menerus,
adakalanya kita menemukan kondisi sapi yang tidak sehat. Sebagai peternak kita
seharusnya mengetahui jenis-jenis penyakit pada ternak sapi di Indonesia, penyebab,
ciri-ciri, dan upaya pengobatannya. Menurut Abidin (2002) kontak dengan para ahli
seperti dokter hewan adalah langkah yang tepat dibanding melakukan pengobatan
sendiri.
2.5 Penanganan Limbah

Setiap usaha penggemukan sapi potong harus membuat unit pengolahan limbah
perusahaan (padat, cair dan gas) yang sesuai dengan kapasitas produksi limbah yang
dihasilkan (Direktorat Jenderal Peternakan 2000).
Limbah peternakan merupakan sisa buangan dari suatu usaha peternakan yang
meliputi usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk dan lain
4

sebagainya. Limbah tersebut berupa limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine,
sisa pakan, darah, tulang, dan isi rumen (Sihombing 2002). Menurut Haryati (2006)
limbah peternakan merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan biogas, sementara perkembangan atau pertumbuhan industry peternakan
menimbulkan masalah bagi lingkungan, karena menumpuknya limbah peternakan.
Kotoran ternak sejauh ini masih dianggap sebagai limbah yang mampu
mencemari lingkungan kandang. Dengan mengolah kotoran sapi, setidaknya ada dua
keuntungan yang bisa didapatkan yaitu bisa mengurangi resiko pencemaran lingkungan
dan memperoleh produk yang bernilai dari pemanfaatan kotoran ternak.

2.6 Pemasaran

Pemasaran adalah proses merencanakan dan melakukan konsep, memberi harga,


melakukan promosi dan mendistribusikan ide, barang, dan jasa untuk menciptakan
pertukaran yang memenuhi tujuan individu dan organisasi.
Menurut Siregar (2010), beberapa hari sebelum penggemukan selesai, peternak
sebaiknya telah mengetahui sasaran pasar serta harga sapi yang akan di pasarkan.
Penaksiran harga biasanya dilihat dari bobot badan dan harga sapi yang sedang berlaku
di pasaran.

3 METODE

3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan selama 12 minggu pada tanggal 13


Januari 2020 sampai dengan 3 April 2020. Lokasi yang dipilih sebagai tempat
pelaksanaan PKL yaitu PT Kariyana Gita Utama, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

3.2 Metode Pelaksanaan

Metode yang akan digunakan dalam melaksanakan Praktik Kerja Lapangan


adalah dengan praktik langsung di lapangan dan mengikuti seluruh aktivitas kerja
sesuai peraturan yang telah ditetapkan oleh PT Kariyana Gita Utama. Data yang akan
dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari diskusi
dengan pembimbing lapangan sedangkan data sekunder diperoleh dari data hasil
pencatatan perusahaan.
3.2.1 Keadaan Umum
Mengumpulkan data dan informasi mengenai keadaan umum instansi seperti
lokasi dan tata letak, sejarah dan perkembangan, visi dan misi instansi, struktur
organisasi, ketenagakerjaan serta faktor lain yang menunjang kegiatan usaha
peternakan sapi potong.
5

3.2.2 Sarana Produksi


Pengumpulan data sarana produksi perusahaan yaitu meliputi luas lahan dan
penggunaannya, sumber air dan penggunaannya, sumber listrik dan penggunaannya,
jumlah populasi dan komposisi sapi pedaging, peralatan produksi, serta gudang pakan.
Data-data tersebut didapat dari data sekunder atau berdiskusi dengan pembimbing
lapang.

3.2.3 Sistem Perkandangan


Mengumpulkan data dan informasi mengenai sistem perkandangan meliputi
ukuran kandang, macam-macam kandang sapi potong, fasilitas kandang, peralatan
kandang, kapasitas kandang dan bahan kandang (atap, lantai, dan dinding). Data-data
tersebut didapat dari data sekunder atau berdiskusi dengan pembimbing lapang.

3.2.4 Sistem Pemeliharaan


Mengumpulkan data dan informasi tentang pemeliharan dapi pedaging meliputi
persiapan kandang, penanganan sapi dating, pemberian pakan dan minum, serta
penanganan lainnya. Data-data tersebut didapat dari data sekunder atau berdiskusi
dengan pembimbing lapang.

3.2.5 Manajemen Kesehatan


Mengumpulkan data dan informasi tentang manajemen kesehatan sapi pedanging
meliputi tindakan pencegahan penyakit, sanitasi kandang dan lingkungan, pemberian
vitamin, perlakuan pengontrolan kesehatan, penanganan sapi sakit dan jenis obat yang
diberikan. Data-data tersebut didapat dari data sekunder atau berdiskusi langsung
dengan pembimbing lapang.

3.2.6 Penanganan Limbah


Data yang dikumpulkan terkait dengan penangana limbah yaitu cara penanganan
limbah, cara pengolahan limbah, jenis limbah yang dihasilkan, dan harganya. Data-
data tersebut didapat dari data sekunder atau berdiskusi langsung dengan pembimbing
lapang.

3.2.7 Pemasaran
Mengumpulkan data dan informasi tentang pemasaran seperti bentuk, jumlah,
dan harga produk yang dihasilkan dan rantai tataniaga. Data-data tersebut didapat dari
data sekunder atau berdiskusi dengan pembimbing lapang.
6

DAFTAR PUSTAKA

Anwar M. 2009. Analisis Kepuasan Peternak terhadap Pelayanan Kesehatan Hewan di


Kabupaten Siak Provinsi Riau. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
[BPS] (Badan Pusat Statistik). 1993. Sensus Pertanian. Jakarta (ID): Badan Pusat
Statistik.
[DPKH] (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan). 2018. Statistik
Peternakan Dan Kesehatan Hewan 2018. Jakarta (ID): Kementrian Pertanian.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2000. Pedoman Budidaya Sapi Potong yang Baik.
Jakarta (ID): Kementrian Pertanian.
Fikar S, Ruhyadi D. 2012. Penggemukan Sapi. Jakarta (ID): PT Agro Media Pustaka
pertanian.
Hadi. P. 2009. Problem Dan Usaha Pengembangan Usaha Sapi Potong Di Indonesia.
[Jurnal] Litbang Pertanian.
Haryati, T. 2006. Limbah Perternakan Menjadi Sumber Alternatif. Bogor (ID): Balai
Penelitian Ternak.
Hernowo B. 2006. Prospek Pengembangan Usaha Peternakan Sapi Potong di
Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. [Skripsi]. Program Studi Sosial Ekonomi
Peternakan. Fakultas Peternakan. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Muctar A. B. 2009. Mewaspadai Penyakit Hewan Berbahaya pada Hewan dan Ternak.
Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Salim E. 2013. Sukses Bisnis Dan Beternak Sapi Pedaging. Yogyakarta (ID): Lily
Publisher.
Saparinto C. dan Yulianto, P. 2011. Pembesaran Sapi Potong secara Intensif.
Cetakan ke-2. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Sihombing D. T. H. 2002.Teknik Pengolahan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan.
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian. Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Siregar S. B. 2010. Penggemukan Sapi. Cetakan ke-3. Bogor (ID): Penebar Swadaya.
Sukamwati F, M Kaharudin. 2010. Perkandangan sapi potong. Nusa Tenggara Barat
(ID): Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan Depertemen Pertanian.
7

LAMPIRAN
8

DAFTRA LAMPIRAN

Lampiran 1. Kegiatan PKL


1. Membantu pelaksanaan kegiatan pada perusahaan atau instansi yang ditempati
dalam mengelola usahanya di bawah pembimbing lapangan.
2. Melaksanakan kegiatan harian teknik-teknik usaha bidang peternakan meliputi
budidaya, processing, dan pengolahn produk.
3. Menganalisis dan menjabarkan kegiatan yang dilakukan, kemudian
dibandingkan denga teori yang didapatkan pada saat perkuliahan.
4. Mengumpulkan data dan bahan untuk pembuatan laporan.
5. Membuat jurnal harian dan jurnal periodik yang ditandatangani oleh
pembimbing lapangan.

Lampiran 2. Tata Tertib Pelaksanaan PKL


1. Melaksanakan kegiatan sesuai peraturan perusahaan tempat PKL:
a. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan yang ditugaskan
b. Tidak melakukan kegiatan yang tidak diperbolehkan
c. Melaksanakan kegiatan sesuai jam kerja yang ditentukan
d. Melaksanakan kegiayn khusu yang harus diselesaikan meskipun diluar
jam kerja
2. Meminta izin apabila akan keluar farm dan melaporkan apabila sudah kembali.
3. Tidak menggunakan, megambil barang, benda atau merusak meski tampak
tidak berharga tanpa seizin pihak perusahaan.
4. Berpakaian sopan sesuai yang ditentukan perusahaan.
5. Khusus pria rambut dipotong rapi.
6. Membawa perlengkapan pribadi.

Lampiran 3. Matriks Jadwal Kegiatan PKL Tahun 2019-2020

Desember Januari Februari Maret April


Kegiatan 2019 2020 2020 2020 2020
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pembuatan
Proposal PKL
Pengumpulan
Proposal PKL
Pelaksanaan
PKL
Penyusunan
Laporan PKL
9