Anda di halaman 1dari 16

IJARAH

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


FIQIH II

Oleh :
Maslamatin Miladiyah D71209148
M. Bahrul Ulum D71209151
Ribut Maysaroh D71209155

Dosen Pembimbing :
Drs. Husni M. Saleh, M. Ag

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Pada hakekatnya manusia tidak hanya berhubungan dengan Tuhan
yang menciptakan, tetapi juga berhubungan dengan manusia dan alam
sekitarnya. Karena jika ditinjau lebih dalam dan teliti rahasia dan hikmah dari
ibadah kepada-Nya tersebut bukan berarti tidak ada hubungannya sama sekali
dengan manusia sebagai pengabdi sesamanya dalam arti lain.
Dalam kehidupan manusia, kebutuhan yang diperlukan bukan hanya
kebutuhan rohani saja, manusia juga membutuhkan jasmani seperti makan,
minum, pakaian, tempat tinggal dsb. Dari pemahaman tersebut maka
dibutuhkan ilmu yang berhubungan dengan sesama manusia untuk
mendapatkan alat-alat yang dibutuhkan jasmaniah dengan cara yang sebaik-
baiknya sesuai dengan ajaran agama dan tuntunan agama. Termasuk dalam
masalah ini antara lain sewa-menyewa dan upah mengupah.
Maka dalam makalah ini dijabarkan bab tentang ijarah yang bertujuan
untuk menghindari kesewenang-wenangan dalam bersyarikat. Jadi, jelaslah
bahwa agama Islam itu bukan saja mengatur hubungan antara manusia dengan
Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia.

Rumusan Masalah
Apa yang dimakasud dengan ijarah?
Apa saja syarat ijarah?
Bagaimana sifat dan hukum ijarah itu?

Tujuan
Menjelaskan pengertian ijarah.
Menyebutkan macam-macam syarat ijarah.
Menjelaskan sifat dan hukum ijarah.
IJARAH

Pengertian Ijarah
Menurut etimologi, ijarah adalah : menjual manfaat . demikian pula
artinya menurut etimologi syarat . untuk lebih jelasnya, dibawah ini
dikemukakan beberapa definisi ijarah menurut pendapat beberapa ulama
fiqih.
Ulama hanafiah
Artinya akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti.1
Ulama Asy-Syafi’iya
Artinya akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud
tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan
penganti tertentu.2
Ulama Malikiah dan Hanabilah
Artinya: Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam
waktu tertentu dengan pengganti.
Ada yang menerjemahkan sebagai upah mengupah. Menurut
penulis keduanya benar, sebab penulis membagi ijarah menjadi dua
bagian, yaitu ijarah atas jasa dan ijarah atas benda. Landasan syara’Jumhr
ulama berpendapat bahwa ijarah disyariatkan berdasarkan AL-Qur’an,
AS-sunah, dan Ijma’

Dasar Hukum Ijarah


Landasan Al-Qur’an:
&bÎ*sù z`÷è|Êö‘r& ö/ä3s9 £`èdqè?$t«sù £`èdu‘qã_é÷ 4
Artinya:

Jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka


berikanlah kepada mereka upahnya,

1 Alauddin Al-Kasani, Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartib Asy-Syara’i, juz IV, hal 174
2 Muhammad Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj, juz II hal 332

3
ôMs9$s% $yJßg1y‘÷nÎ) ÏMt/r'¯»t‘ çnö‘Éfø«tGó‘$# ( ‘cÎ)
u‘ö‘yz Ç`tB |Nö‘yfø«tGó‘$# ‘‘Èqs)ø9$# ßûüÏBF{$# ÇËÏÈ
tA$s% þ‘ÎoTÎ) ߑ‘Í‘é& ÷br& y7ysÅ3Ré& ‘y‘÷nÎ) ¢ÓtLuZö/
$# Èû÷ütG»yd #‘n?tã br& ‘ÎTt‘ã_ù's? zÓÍ_»yJrO 8kyfÏm (
÷bÎ*sù |MôJyJø?r& #\‘ô±tã ô`ÏJsù x8ϑZÏã ( !$tBur
ߑ‘Í‘é& ÷br& ¨,ä©r& ‘‘ø‘n=tã 4 þ‘ÎTߑÉftFy‘ bÎ) uä!
$x© ª!$# ‘ÆÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇËÐÈ
Artinya:
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku
ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena
Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil
untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat
dipercaya". Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya Aku
bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari
kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja
denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh
tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka
Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah
akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik".
Landasan Sunnah:
&æmq%|‘|ã §#ÎÖ ‘ &û# q@';% æny‘'_# o‘'ìÏÙEw##'qæÞ'ãç
Artinya:
“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering”
çnt‘'_t# '@tJ'êt‘'?tù #·‘'‘É_t# t‘t_''yL'‘# Ï`oB
Artinya:
“Barang siapa yang meminta untuk menjadi buruh, maka
beritahukanlah upanya”
Landasan ijma’nya
Mengenai disyari’atkan ijarah, semua umat bersepakat,
dan tak seorang pun ulama yang membantah kesepakatan
(ijma) ini, sekalipun ada beberapa orang yang berbeda
pendapat, akan tetapi hal itu tidak dianggap.3
Rukun ijarah
Menurut ulama Hanafiah, rukun Ijarah adalah ijab
dan qobul, antara lain dengan menggunakan kalimat: al-
ijarah, al-isti’jar, al-iktira, dan al-ikra. Adapun menurut
jumhur ulama, rukun Ijarah ada empat, yaitu:
Aqid (orang yang berakad)
Shighat (akad)
Ujrah (upah)
Manfaat
Sifat dan Hukum Ijarah
Sifat Ijarah
Menurut ulama hanafiyah, ijarah adalah akad lazim yang
didasarkan pada firman Allah SWT:
,yang boleh dibatalkan, pembatalan tersebut dikaitkan pada asalnya
bukan didasarkan pada pemenuhan akad.
Hukum Ijarah
Hukum ijarah sahih adalah tetapnya kemamfaatan bagi
penyewa, dan tetapnya upah bagi pekerja atau orang yang
menyewakan ma’qud ‘alaih sebab ijarah termasuk jual beli pertukaran
hanya saja dengan kemamfaatan.4
Hukum ijarah rusak, menurut ulama hanafiyah, jika penyewa
telah mendapatkan manfaat tetapi orang yang menyewakan atau yang
bekerja dibayar lebih kecil dari kesepakatan pada waktu akad, ini bila
kerusakan tersebut terjadi pada syarat. Akan tetapi, jika kerusakan
disebabkan penyewa tidakmemberi tahukan jenis pekerjaan
perjanjiannya upah harus diberikan semestinya.

3 Sayyid Sabiq, Fiqh sunnah,hal 10


4 Al-Kasani, Op.Cit, juz IV, hal 201

5
Pembagian dan Hukum Ijarah
Ijarah terbagi dua, yaitu ijarah terhadap benda atau sewa-menyewa
dan ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah.
Hukum Sewa-menyewa
Dibolehkan ijarah atas barang mubah, seperti rumah kamar,
dan lain-lain, tetapi, dilarang ijarah terhadap benda-benda yang
diharamkan.
Ketetapan hokum akad dalam ijarah
Cara memanpaatkan barang sewaan.
Perbaikan barang sewaan.
Kewajiban penyewa setelah hais masa sewa
Hukum upah-mengupah
Upah mengupah atau ijrah ‘ala al’a’mal yakni jual beli jasa,
biasanya berlaku dalam beberapa hal seperti menjahitkan pakaian,
membangun rumah dan lain-lain. Ijarah ‘alal-a’mal terbagi dua yaitu:
Ijarah khusus
Ijarah yang dilakukan oleh seorang pekerja. Hukumnya,
orang yang bekerjatidak boleh bekerja selain dengan orang yang
telah memberikan upah.
Ijarah musytarik
Ijarah yang dilakukan secara bersama-sama atau melalui
kerja sama. Hukumnya dibolehkan bekerja sama dengan orang lain

Syarat Ijarah
Syarat ijarah terdiri dari empat macam, sebagaimana
syarat dari jual beli, yaitu al-inqad (terjadinya akad), syarat
an-nafadz (syarat pelaksanaan akad), syarat syah dan
syarat lazim.
Syarat terjadinya akad
Syarat in-inqad (terjdinya akad) berkaitan dengan
aqid, zat akad dan tempat akad.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam jual beli,
menurut ulama hanafiah, aqid (orang yang melakukan
akad) disyaratkan harus berakal dan mumayyis
(minimal 7 tahun), serta tidak diisyaratkan harus baligh.
Akan tetapi, jika bukan barang miliknya sendiri, akad
ijarah anak mumayyis, dipandang sah bila diizinkan
oleh walinya.
Ulama malikiah berpendapat bahwa tamyiz
merupakan salah satu syarat dari ijarah, sedangkan
baligh adalah syarat penyerahan. Dengan demikian,
akad anak mumayyiz sah, tetapi bergantung atas
keridhoan walinya.
Ulama hanabilah dan syafiiah mensyaratkan
orang yang akad harus mukallaf, yaitu baligh dan
berakal, sedangkan anak yang mumyyiz belum
dkatagorikan ahli akad.
Syarat pelaksanaan
Agar ijarah terlaksana, barang harus dimiliki oleh
aqid, atau ia memeliki kekuasaan penuh untuk akad
(ahliah). Dengan demikian, ijarah al-fudhul (ijarah yang
dilakukan oleh orang yang tidak emiliki kekuasaan atau
tidak diizinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadikan
adanya ijarah.
Syarat Syah ijarah
Keabsahan ijarah sangat berkaitan dengan aqid,
ma’qua ‘alaih, ujrah, dan zat akad, yaitu:
adanya keridhoan dari kedua pihak yang akad. Syarat
ini didasarkan pada firman Allah SWT:
yg‘‘r'¯»t‘ ‘úïÏ%©!$# (#qãYtB#uä ‘w (#þqè=à2ù's?$
Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷‘t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& ‘cqä3s?
¸ot‘»pgÏB `tã <Ú#t‘s? öNä3ZÏiB 4

7
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang
batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An-
Nisa’: 29)
Ijarah dapat dikategorikan dengan jual beli
sebab mengandung pertukaran harta. Syarat ini
berkaitan dengan aqid.
Ma’qud ‘alaih bermanfaat dengan jelas
Adanya kejelasan pada ma’qud alaih (barang)
menghilangkan pertentangan dantara aqid diantara
cara untuk mengetahui ma’qud alaih dengan
menjelaskan manfaatnya, pembatasan waktu, atau
menjelaskan jenis pekerjaan jika ijarah atas
pekerjaan atau jasa seseorang.
Ma’qud alaih (barang) harus dapat memenuhi secara
syara’
Dipandang tidak sah menyewa hewan untuk
berbicara dengan anaknya, sebab hal itu sangat
mustahil atau dipandang tidak sah.
kemanfaatan benda dibolehkan menurut syara’
Pemanfaatan barang harus digunakan untuk
perkara yang dibolehkan syara’, seperti
menyewaakan rumah untuk ditempati perampok dan
lain-lain.
Para ulama sepakat melarang ijarah, baik
benda maupun orang untuk pebuatan maksiat atau
dosa.
tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan
kepadanya
Diantara contohnya adalah menyewa orang
untuk shalat fardhu, puasa, dan lain sebagainya. Juga
dilarang menyewa istri sendiri untuk melayaninya,
karena itu merupakan kewajiban istri.
tidak mengambil manfaat dari diri orang yang disewa
Tidak menyewakan diri untuk perbuatan
ketaatan sebab manfaat dari ketaatan tersebut
adalah untuk dirinya. Juga tidak mengambil manfaat
dari sisa hasil pekerjaannya, seperti menggiling
gandum dan mengambil bubuk atau tepungnya
untuk dirii sendiri. Hal itu didasarkan pada hadist
riwayat Daruquthni bahwa Rasulullah SAW. Melarang
untuk mengambil bekas gilingan gandum. Ulama
syafi’iah menyepakatinya
Ulama hanabilah dan malikiah
membolehkannya jika ukurannya jelas sebab hadist
diatas dipandang tidak shahih.
Manfaat ma’qud tidak sesuai dengan keadaan yang
umum
Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan
jemuran atu tempat berlindung sebab tidak sesuai
dengan manfaat pohoon yang dimahsud dalam
ijarah.
syarat barang sewaan (ma’qud ‘alaih)
Diantara syarat barang sewaan adalah dapat
dipegang atau dapat dikuasaai. Hal itu didasarkan pada
hadist Rasulullah SAW. Yang melarang menjual barang
yang tidak dapat dipegang atau dikuasai, sebagaimana
dalam jual beli.

9
Syarat Ujrah (upah)
Berupa harta tetap yang telah diketahui
Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat dari ijarah,
seperti upa menyewa rumah untuk ditempati dengan
menempati rumah tersebut.
syarat yang kembali pada rukun akad
Akad harus terhindar dari syarat-syarat yang
tidak diperlukan dalam akad atau syarat yang merusak
akad, seperti menyewakan rumah dengan syarat
ditempati oleh pemilliknya selama sebulan, kemudian
diberikan kepada penyewa.
Syarat kelaziman
Syarat kelaziman terdiri dari dua hal nerikut ini:
Ma’qud alaih harus terhindar dari cacat
jika terdapat cacat pada ma’qud alaih penyewa
boleh memilih antara meneruskan dengan
membayar penuh atau membatalkannya.
Tidak ada uzur yang dapat membatalkan akad
Ulama hanafiah berpendapat bahwa ijarah
batal karena adanya uzur sebab kebutuhan atau
manfaat akan hilang apabila ada uzur. Uzur yang
dimaksud adalah sesuatu yang baru yang
menyebabkan kemadharatan bagi akad.

Menurut jumhur ulama ijarah adalah akad lazim


seperti jual beli. Oleh karena itu tidak akan batal tanpa ada
sebab yang membatalkannya. Menurut ulama Syafi’iyah,
jika tidak ada uzur, tapi masih bisa memngkinkan diganti
dengan barang yang lain ijarah tidak batal, tapi diganti
dengan yang lain. Ijarah dapat dikatakan batal jika
kemanfaatannya betul-betul hilang , seperti hancurnya
rumah yang disewakan.

Upah dalam Pekerjaan Ibadah.


Upah dalam perbuatan ibadah seperti shalat, puasa, haji dan membaca
Al-Qur’an diperselisihkan kebolehannya oleh para ulama’ karena berbeda
dalam cara pandang pekerjaan-pekerjaan ini.5
Imam Hanafi bependapat bahwa ijarah dalam perbuatan ibadah seperti
menyewa orang lain untuk mengerjakannya yang pahalanya dihadiahkan
kepada orang-orang tertentu,seperti untuk arwah ibu dan ayah dari orang yang
menyewa. Sedangkan adzan, iqamat, dan menjadi imam, haram hukumnya
mengambil upah dari pekerjaan tersebut. Seperti sabda Rasulullah SAW :
‫لَنْاُكُلْواِبِه‬
َ ‫ن َو‬
َ ‫عوا ْالُقْرا‬
ُ ‫ِإْقَر‬
“Bacalah darimu Al-Qur’an dan jangan kamu (cari) makan dengan jalan itu.”
‫جًرا‬
ْ ‫ن َا‬
ِ ‫ن الَذا‬
َ ‫خْذِم‬
ُ ‫لَتْا‬
َ ‫ت ُمَؤّذًنا َف‬
َ ‫خْذ‬
َ ‫ن اّت‬
ِ ‫َوِإ‬
“Jika kamu mengangkat seorang menjadi mu’adzin maka janganlah kamu
pungut dari adzan itu suatu upah.”
Ibadah seperti adzan, iqamat, shalat, haji, puasa, membaca Al-Qur’an
dan dzikir tergolong perbuatan untuk taqarrub kepada Allah, karenanya tidak
boleh mengambil upah untuk pekerjaan itu selain dari Allah. Firman Allah
SWT :
(282:‫ت )البقرة‬
ْ ‫سَب‬
َ ‫عَلْيَهاَمااْكَت‬
َ ‫ت َو‬
ْ ‫سَب‬
َ ‫َلَهاَماَك‬
“Mereka mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang ia kerjakan. ” (Al-Baqarah:282)
Dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqh Sunnah, para
ulama’ memfatwakan tentang kebolehan mengambil upah yang dianggap
sebagai perbuatan baik, seperti para pengajar Al-Qur’an, guru-guru di sekolah
dan yang lainnya dibolehkan mengambil upah karena mereka membutuhkan
tunjangan untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya,
mengingat mereka tidak sempat melakukan pekerjaan lain seperti dagang,
bertani dan yang lainnya dan waktunya tersita untuk mengajarkan Al-Qur’an.

5 Hendi Suhendi, Fiqh Mu’amalah, PT. Raja Grafindo Persada, 2008, hal. 118

11
Menurut Madzhab Hambali bahwa pengambilan upah dari pekerjaan
adzan, qamat, mengajaarkan Al-Qur’an, fiqh, hadits, badal haji dan puasa
qadha adalah diharamkan bagi pelakunya untuk mengambil upah tersebut.
Namun, diperbolehkan mengambil upah tersebut jika termasuk mashalih,
seperti mengajarkan Al-Qur’an, hadits, fiqh, dan haram mengambil upah yang
termasuk taqarrub seperti membaca Al-Qur’an, shalat, dan lainnya.
Madzhab Maliki, Syafi’i dan Ibnu Hazm membolehkan mengambil
upah sebagai imbalan mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu karena ini
termasuk jenis imbalan perbuatan yang diketahui dan dengan tenaga yang
diketahui pula.
Ibnu Hazm mengatakan bahwa pengambilan upah sebagai imbalan
mengajarkan Al-Qur’an dan pengajaran ilmu, baik secara bulanan maupun
sekaligus karena nash yang melarang tidak ada.
Abu Hanifah dan Ahmad melarang pengambilan upah dari tilawah Al-
Qur’an dan mengajarkannya bila kaitan pembacaan dan pengajarannya
dengan taat atau ibadah. Sementara Maliki baerpendapat boleh mengambil
imbalan dari pembacaan dan pengajaran Al-Qur’an, adzan dan badal haji.
Imam Syafi’i berpendapat bahwa pengambilan upah dari pengajaran
berhitung, khat, bahasa, sastra, fiqh, hadits, membangun masjid, menggali
kuburan, memandikan jenazah, dan membangun madrasah adalah boleh.
Abu Hanifah berpendapat bahwa pengambilan upah menggali kuburan
dan membawa jenazah boleh, namun pengambilan upah memandikan jenazah
tidak boleh.6

Pembayaran Upah dan Sewa.


Jika ijarah itu suatu pekerjaan, maka kewajiban pembayaran upahnya
pada waktu berakhirnya pekerjaan. Bila tidak ada pekerjaan lain, jika akad
sudah berlangsung dan tidak disyaratkan mengenai pembayaran dan tidak ada
ketentuan penangguhannya, menurut Abu Hanifah wajib diserahkan upahnya
secara berangsur sesuai dengan manfaat yang diterimanya. Menurut Imam

6 Ibid, hal 119


Syafi’i dan Ahmad sesungguhnya ia berhak dengan akad itu sendiri. Jika
mu’jir menyerahkan zat benda yang disewa kepada musta’jir,ia berhak
menerima bayarannya karena penyewa sudah menerima kegunaan.
Hak menerima upah bagi musta’jir adalah sebagai berikut:
Ketika pekerjaan selesai dikerjakan, beralasan kepada hadits yang
diriwayatkan Ibnu Majah. Rasulallah SAW bersabda:
“Berikanlah upah sebelum keringat pekerja itu kering.”
Jika menyewa barang, uang sewaan dibayar ketika akad sewa,kecuali bila
dalam akad ditentukan lain, manfaat barang yang diijarahkan mengalir
selama penyewaan berlangsung.

Menyewakan Barang Sewaan.


Musta’jir dibolehkan menyewakan lagi barang sewaan kepada orang
lain dengan syarat penggunaan barang itu sesuai dengan penggunaan yang
dijanjikan ketika akad, seperti penyewaan seekor kerbau, ketika akad
dinyatakan bahwa kerbau itu disewa untuk membajak disawah, kemudian
kerbau tersebut disewakan lagi dan timbul musta’jir kedua, maka kerbau
itupun harus digunakan untuk membajak pula. Tetapi harga penyewaan yang
kaeadua ini bebas, dalam artian boleh lebih besar, lebih kecil atau seimbang.
Bila benda yang disewa rusak, maka yang bertanggung jawab adalah
pemilik barang dengan syarat kerusakan itu bukan akibat keleleian penyewa.
Namun, jika dari kerusakan itu disebabkan oleh kelalaian penyewa maka yang
bertanggung jawab adalah penyewa benda tersebut. Misalnya menyewa mobil,
lalu mobil tersebut hilang akibat keleleian penyewa yang tidak menyimpannya
di tempat yang layak.

Pembatalan dan Berakhirnya Ijarah.


Ijarah merupakan akad lazim, yaitu akad yang tidak membolehkan
adanya fasakh pada salah satu pihak, karena ijarah merupakan akad
pertukaran, kecuali bila didapati hal-hal yang mewajibkan fasakh.
Ijarah akan menjadi fasakh bila terjadi hal-hal sebagai berikut:

13
Terjadi cacat pada barang sewaan yang terjadi pada tangan penyewa.
Rusaknya barang yang disewakan, seperti rumah menjadi runtuh.
Rusaknya barang yang diupahkan, seperti baju yang diupahkan untuk
dijahitkan.
Terpenuhinya manfaat yang diakadkan, berakhirnya masa yang telah
ditentukan dan selesainya pekerjaan.
Menurut Hanafiyah, boleh fasakh ijarah dari salah satu pihak, seperti yang
menyewa toko untuk dagang, kemudian dagangannya ada yang mencuri,
maka ia dibolehkan memfasakhkan sewaan itu.7

Pengembalian Sewaan.
Jika ijarah telah berakhir, maka penyewa wajib mengembalikan barang
sewaannya. Jika barang itu dipindahkan, ia wajib menyerahkannya kepada
pemiliknya. Dan jika bentuk barang sewaan adalah benda tetap (i’qar), ia
wajib menyerahkan kepada pemiliknya dalam keadaan kosong, jika barang
sewaan itu tanah, ia wajib menyerahkan kepada pemiliknya dalam keadaan
kosong dari tanaman, kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya.

7 Ibid, hal 120


BAB III
KESIMPULAN

Menurut etimologi, ijarah adalah : menjual manfaat . demikian pula


artinya menurut etimologi syarat . Mengenai disyari’atkan ijarah, semua
umat bersepakat, dan tak seorang pun ulama yang membantah
kesepakatan (ijma) ini, sekalipun ada beberapa orang yang
berbeda pendapat, akan tetapi hal itu tidak dianggap. Adapun
menurut jumhur ulama, rukun Ijarah ada empat, yaitu:
Aqid (orang yang berakad)
Shighat (akad)
Ujrah (upah)
Manfaat

15
DAFTAR PUSTAKA

Karim, Helmi, 1993.Fiqh Muamalah. Jakarta: PT Grafindo Persada.


Mas’ud, Ibnu, 2007, Fiqh Madzhab Syafi’i, Bandung: CV. Pustaka Setia.
Suhendi, Hendi, 2002. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suparta, 1992. Materi Pokok Fiqh I. Universitas Terbuka.
Syafe’i, Rachmat.2004. Fiqh Muamalah. Bandung: CV Pustaka Setia.