Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA ANALISA

KUALITATIF KARBOHIDRAT

Disusun Oleh :

Nama : Diah Ayu Ratnasari

NIM : P1337420615035

Kelompok : VIII

Asisten : Wulan Damar Sekar Utami

Jurusan Keperawatan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

2016
Lembar Pengesahan

LAPORAN KEGIATAN PRAKTIKUM MATA KULIAH BIOKIMIA ANALISIS


KUALITATIF KARBOHIDRAT

SENIN, 18 APRIL 2016

Asisten Praktikan

WULAN DAMAR SEKAR UTAMI DIAH AYU RATNASARI

NIM : 24020113120005 NIM : P1337420615035


ACARA 1
ANALISA KUALITATIF KARBOHIDRAT

I. Tujuan

Mampu mengidentifikasi karbohidrat baik secara umum maupun untuk karbohidrat


yang memiliki gugus pereduksi dengan reaksi warna.

II. Dasar teori

2.1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, yang
menyediakan 4 kalori (kilojoule) energi pangan per gram. Karbohidrat juga
mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan,
misalnya, rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat
berguna untuk mencegah timbulnya ketois, pemecahan tubuh protein yang
berlebihan, kehilangan mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak
dan protein. (Winarno FG, 2004).

2.1.1. Pengertian Karbohidrat

Karbohidrat adalah polimer aldehid atau polihidroksi keton dan meliputi


kondensat polimer-polimernya yang terbentuk. Nama karbohidrat digunakan
pada senyawa-senyawa tersebut mengingat rumus empirisnya yang berupa
CnH2nOn yaitu mendekati Cn(H2O)n yaitu karbon yang mengalami hidroksi.
(Elizabeth, 2010)

Karbohidrat atau Hidrat Arang adalah suatu zat gizi yang fungsi
utamanya sebagai penghasil energi, dimana setiap gramnya menghasilkan 4
kalori. Walaupun lemak menghasilkan enersi lebih besar, namun karbohidrat
lebih banyak di konsumsi sehari-hari sebagai bahan makanan pokok,
terutama pada negara sedang berkembang. Di negara sedang berkembang
karbohidrat dikonsumsi sekitar 70-80% dari total kalori, bahkan pada daerah-
daerah miskin bisa mencapai 90%. Sedangkan pada negara maju karbohidrat
dikonsumsi hanya sekitar 40-60%. Hal ini disebabkan sumber bahan
makanan yang mengandung karbohidrat lebih murah harganya
dibandingkan sumber bahan makanan kaya lemak maupun protein.
Karbohidrat banyak ditemukan pada serealia (beras, gandum, jagung,
kentang dan sebagainya), serta pada biji-bijian yang tersebar luas di alam. .
(Elizabeth, 2010)
2.1.2 Klasifikasi

a) Monosakarida

Monosakarida merupakan bahasa dari bahasa Yunani monos berarti


“tunggal” dan sacchar berarti gula. Umumnya memiliki rumus molekul yang
merupakan kelipatan CH2O (Campbell, 2002).

Monosakarida adalah karbohidrat yang tidak dapat terhidrolisis lagi menjadi


satuan yang lebih kecil lagi. Monosakarida adalah senyawa tak berwarna dan
kebanyakan mempunyai rasa manis dan berbentuk kristal (Sastrohamidjojo,
2005).

Menurut (Sastrohamidjojo, 2005) gugus karbonilnya, monosakarida dibagi


menjadi :
· Aldosa : monosakarida yang mempunyai gugus fungsi aldehid (alkanal)
· Ketosa : monosakarida yang mempunyai gugus fungsi keton (alkanon)
Monosakarida yang penting :
- Glukosa : terdapat pada buah
- Fruktosa : terdapat pada buah dan madu
- Galaktosa : tidak ditemukan secara alami

b) Disakarida

Oligosakarida atau disakarida merupakan senyawa berisi dua atau lebih gula
sederhana yang dihubungkan oleh pembentukan asetal antara gugus aldehida
atau gugus keton dengan gugus hidroksil. Bila dua gula digabungkan diperoleh
disakarida, bila tiga diperoleh trisakarida dan seterusnya ikatan penggabungan
bersama – sama gula ini disebut ikatan glikosida. Seperti halnya monosakarida,
senyawa ini larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, dan praktis tak larut
dalam eter dan pelarut organik non-polar. Disakarida terhidrolisis
menghasilkan dua molekul monosakarida, yang mungkin dapat sama atau
berbeda (Sastrohamidjojo, 2005).

Disakarida yang penting (Sastrohamidjojo, 2005):

- Maltosa : terdapat pada biji-bijian

- Sukrosa : terdapat pada gula tebu, dan gula bit

- Laktosa : terdapat pada susu

c) Polisakarida

Polisakarida adalah makromolekul, polimer dengan beberapa ratus sampai


beberapa ribu monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik.
Beberapa di antara polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau
cadangan, yang nantinya ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk
menyediakan gula bagi sel. Polisakarida lain berfungsi sebagai materi
pembangun (penyusun) untuk struktur yang melindungi sel atau keseluruhan
organisme. Arsitektur dan fungsi suatu polisakarida ditentukan oleh monomer
gulanya dan oleh posisi ikatan glikosidiknya (Campbell, 2002).

Polisakarida yang penting (Campbell, 2002) :

- Amilum : terdapat sebagai simpanan energi pada hewan

- Selulosa : terdapat sebagai simpanan energy pada tumbuhan

- Glikogen : terdapat pada serat tumbuhan

a)Amilum dengan air dingin akan membentuk suspensi dan bila dipanaskan
akan terbentuk pembesaran berupa pasta dan bila didinginkan akan membentuk
koloid yang kental semacam gel. Suspensi amilum akan memberi warna biru
dengan larutan iodium. Hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan
adanya amilum dlam suatu bahan. Hidrolisis sempurna amilum oleh asam atau
enzim akan menghasilkan glukosa.

b)Glikogen mempunyai struktur empiris yang serupa dengan amilum pada


tumbuhan. Pada proses hidrolisis, glikogen juga menghasilkan glukosa karena
baik amilum maupun glikogen tersusun dari sejumlah satuan glukosa. Glikogen
dalam air akan membentuk koloid dan memberi warna merah dengan larutan
iodium. Pembentukan glikogen dari glukosa dalam sel tubuh diatur oleh
hormon insulin dan prosesnya disebut glikogenesis. Sebaliknya, proses
hidrolisis glikogen menjadi glukosa disebut glikogenolisis.

Sifat kimia karbohidrat berhubungan erat dengan gugus fungsi yang terdapat
yang terdapat pada molekulnya, yaitu gugus –OH, gugus aldehida dan gugus
keton.

2.2. Sifat Karbohidrat

Karbohidrat bertindak sebagai cadangan energi, juga menyimpan bahan


bakar, dan zat antara metabolisme. Ribosa dan gula deoksiribosa membentuk
kerangka struktural darimateri genetik, RNA dan DNA .Polisakarida seperti
selulosa adalah elemen struktural dalam dinding sel bakteri dan tumbuhan.
Karbohidrat terkait dengan protein dan lipid yang memainkan peran penting
dalam interaksi sel.Karbohidrat adalah senyawa organik, mereka adalah aldehida
atauketon dengan banyak gugus hidroksil (Budisma, 2015).

2.2.1 Sifat Kimia Karbohidrat

Sifat-sifat kimia karbohidrat menurut Noorhidayati (2010) antara lain:

1. Banyaknya isomer ruang suatu karbohidrat adalah 2n dengan n menyatakan


jumlah atom C simetri.
2. Karbohidrat dapat mereduksi hidroksida-hidroksida logam dan karbohidrat itu
sendiri akan tereduksi.
3. Oksidasi pada karbohidrat menghasilkan asam.
4. Karbohidrat pada umumnya dapat diragikan menjadi ethanol dan CO2 gas.

2.2.2 Sifat-sifat Fisika Karbohidrat

Sifat-sifat fisik karbohidrat menurut ada yang berupa zat padat pada suhu
kamar, ada yang berupa hablur, tidak berwarna (misal: sukrosa dan glukosa), zat
pada amorf atau pati dan basa serat/selulosa. Sebagian besar karbohidrat
mempunyai sifat dapat memutar bidang polarisasi cahaya. Sebagai patokan dapat
dilihat gugus OH pada atom C kedua sebelum terakhir. Apabila OH terletak
disebelah kanan berarti memutar bidang polarisasi ke kanan dan diberi awalan d
(dekstro) dan apabila OH ke kiri diberi awalan l (Levo) berarti memutar bidang
polarisasi ke kiri (Norhayati, 2010).

2.3 Uji Karbohidrat

Ada beberapa uji karbohidrat yang dapat dilakukan menurut (Winarno,2004), sebagai
berikut :

 Uji molisch
Uji ini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat
membentuk cincin furfural yang berwarna ungu. Reaksi positif ditandai
dengan munculnya cincin ungu di purmukaan antara lapisan asam dan
lapisan sampel Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu
α-naphthol yang terlarut dalam etanol. Setelah pencampuran atau
homogenisasi, H2SO4 pekat perlahan-lahan dituangkan melalui dinding
tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan atau hanya
membentuk lapisan (Winarno,2004).

 Uji Benedict

Uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat)


pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa
disakarida seperti laktosa dan maltosa. Pada uji Benedict, pereaksi ini akan
bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan
alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula
pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka
fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa
dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict( Winarno,2004).
 Uji Fehling

Dalam pereaksi ini ion Cu²+ direduksi menjadi ion Cu+ yang
dalam suasana basa akan diendapkan menjadi Cu2O. Fehling II berfungsi
untuk mencegah Cu²+ mengendap dalam suasana alkalis. Larutan fehling
merupakan larutan alkalin yang mengandung tembaga (II) yang
mengoksidasi aldosa menjadi aldonat dan dalam prosesnya akan tereduksi
menjadi tembaga (I), yaitu Cu2O yang berwarna merah bata dan
mengendap(Winarno,2004).

Gula pereduksi merupakan golongan gula (karbohidrat) yang


dapat mereduksi senyawa-senyawa penerima elektron, contohnya adalah
glukosa dan fruktosa. Hal ini dibuktikan dengan adanya endapan warna
merah dan kuning pada campuran fruktosa dan glukosa. Pada campuran
glukosa, endapan yang terbentuk berwarna kuning hal ini dikarena pengaruh
dari konsentrasi larutan glukosa yang kita uji. Sedangkan pada larutan
fruktosa juga begitus eharusnya endapan yang terbentuk berwarn amerah
bata hal ini dikarenakan pengaruh dari konsentrasi larutan glukosa yang kita
uji (Winarno,2004).

 Uji Osazon

Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aladehida atau keton


bebas membentuk hidrazon atau osazon bila dipanaskan bersama
fenilhidrazin berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan
titik lebur yang spesifik. Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih
dan terbentuk kembali bila didinginkan. Namun, sukros tidak membentuk
osazon karena gugus aldehida atau keton yang terikat pada monomernya
sudah tidak bebas. Sebaliknya, osazon monosakarida tidak larut dalam air
mendidih(Winarno,2004).

 Uji Seliwanoff

Dilakukan untuk membuktikan adanya kentosa (fruktosa). Larutan


uji dicampurkan dengan pereaksi Seliwanoff kemudian dipanaskan.
Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah
orange. (membedakan gugus fungsi dari glukosa)

Reaksi (KH (ketosa) + H2SO4 à furfural à + resorsinol à warna merah.

Reaksi ini dapat digunakan baik untuk larutan aldosa maupun


ketosa, yaitu dengan menambahkan larutan fenilhidrazin, lalu dipanaskan
hingga terbentuk kristal berwarna kuning yang dinamakan hidrazon
(osazon) (Winarno,2004).
3.1 Metode

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
1. Taung reaksi
2. Pipet tetes
3. Rak tabung
4. Korek api
5. Bunsen
6. Penjepit

3.1.2. Bahan
1. Sukrosa
2. Reagen Molisch
3. Asam Sulfat Pekat
4. Glukosa
5. Reagen Benedict
6. Maltosa
7. Laktosa
8. Reagen Fehling A dan B
9. Fruktosa
10. Asam Asetat Glasial
11. Fenilhidrazin
12. Na-asetat Padat
13. Reagen Selliwanoff

1.2 Cara Kerja


1.2.1 Uji Molisch
1. Dua tabung reaksi disediakan.
2. Tabung pertama diisi 1 cc sukrosa, ditambah 2 tetes 15% α-naphtol
dalam 95% etil alkohol (reagen Molisch).
3. Tabung reaksi kedua disiapkan kemudian diisi 1 cc asam sulfat
pekat, miringkat tabung pada sudut 45o.
4. Larutan pada tabung pertama dimasukkan kedalam tabung kedua
sampai larutan gula tabung pertama berada diatas asam tanpa
pencampuran.
5. Perubahan warna dan terjadinya endapan diamati dan dicatat.
1.2.2 Uji Benedict
1. 0,5 cc larutan glukosa 20% (8 tetes) ditambah 1 cc reagen Benedict.
2. Campuran larutan dipanaskan diatas api selama 1 menit.
3. Diperhatikan perubahan warna yang terjadi dan ditulis dibuku catatan.
1.2.3 Uji Fehling
1. Ditetesi 0,5 cc (8 tetes) Larutan glukosa, maltosa, dan laktosa)
masing-masing dimasukkan dalam tabung berbeda.
2. Ditambahkan 1 cc reagen Fehling A dan 1 cc Fehling B.
3. Tabung dipanaskan sampai reaksi warna spesifik terjadi.
4. Perubahan reaksi yang terjadi diamati.

1.2.4 Pembentukan Osazon


1. Disiapkan dua tabung reaksi.
2. Tabung pertama diisi 1 cc larutan glukosa dan tabung kedua diisi
1 cc larutan fruktosa dengan menggunakan pipet tetes.
3. 1 tetes asam asetat glasial Ditambahkan pada tabung pertama
dan tabung kedua.
4. 2 tetes fenilhidrazin Ditambahkan pada tabung pertama dan
tabung kedua.
5. 0,1 gram Na-asetat pada Ditambahkan t pada tabung pertama
dan tabung kedua.
6. Tabung pertama dipanaskan dan kedua pada alat pemanis
dengan tabung reaksi tersebut dijepitkan, kemudian sedikit
digerakkan pada alat pemanas hingga mendidih.
7. Kedua tabung dibiarkan mendingin.
8. Amati endapan yang terbentuk, kristal diamati menggunakan
mikroskop dan dicatat dibuku catatan.

1.2.5 Uji Seliwanoff


1. Tabung reaksi disiapkan.
2. 1 cc reagen Selliwanoff ditambahkan.
3. 1 cc larutan sampel ditambahkan.
4. Tabung reaksi dipanaskan diatas pemanas
5. Didihkan selama 30 detik, jika reaksi positif akan terbentuk
perubahan warna merah dan catat pada buku catatan.
IV. Hasil Pengamatan
PERCOBAAN HASIL GAMBAR
Uji Molisch  Tabung 1 = 1 cc tabung 1 sukrosa
sukrosa warna awal
1cc sukrosa putih bening
ditambah 2 tetes
molisch menjadi
2 tets molisch putih pekat.
 Tabung 2
(1cc𝐻2 𝑆𝑂4, tabung
Tabung 1 2 dicampur
Doc. Pribadi,2016
ketabung 1 dan
tidak diaduk
Tabung 2 (𝐻2 𝑆𝑂4) hasilnya endapan
ungu
Hasilnya positif sesuai
Pengamatan dengan teori

Doc. Pribadi,2016
Uji Benedict  0.5 cc glukosa Hasil reaksinya
ditambah 1 cc
0.5 cc glukosa benedict warna
awal biru berubah
menjadi merah
1 cc benedict keclokatan
Hasinya positif sesuai
dengan teori.
Pemanasan 1 menit

Pengamatan

Doc. Pribadi,2016
Uji Fehling  Laktosa : warna putih
yang atasnya ada warna
0.5cc glukosa,maltosa, biru menjadi merah
laktosa bata.
 Glukosa : warna awal
putih biru berubah
1 cc fehling A orange.
 Maltosa : warna awal
putih biru menjadi
1 cc fehling B tosca, maltosa hasil
percobaan negatif
karena gagal

Dipanaskan lalu
pengamatan
Doc. Pribadi,2016

Uji Osazon  Glukosa : warna


berubah menjadi kuning
Tabung bening sesuai menurut
teori hasilnya positif.
 Terdapat butiran naik
1 cc larutan gula (glukosa, turun saat dipanaskan Doc. Pribadi,2016
fruktosa)  Fruktosa : warna
berubah menjadi kuning
keruh positif sesuai
1 tetes asam asetat glasial menurut teori.
 Pengamatan Fruktosa di
mikroskop dengan
2 tetes fenihidrazin perbesaran 100x

0.1 g Na-asetat padat Doc. Pribadi,2016

dipanaskan sampai
mendidih

amati endapan di
mikroskop

hasil dari percobaan

Uji Fruktosa (selliwanof) Warna pertama coklat


berubah menjadi orange,
Tabung hasil negatif karena
mengalami perpanjangan
panas.
1cc reagen selliwanof

1cc larutan fruktosa

Dipanaskan didihkan Doc. Pribadi,2016

Pengamatan
V. Pembahasan

Praktikum Biokimia, acara ke IV yang berjudul Analisa Kualitatif vitamin


dilaksanakan pada tangga 9 MEI 2016,Tempat : Universitas Diponegoro
Semarang, Laboraterium Biokimia, Jurusan Biologi Fakultas Sains dan
Matematika. Tujuan Untuk mengidentifikasi karbohidrat secara umum maupun
untuk karbohidrat yang memiliki gugus pereduksi dengan reaksi warna.
Pertama dilakukan uji Molisch dengan alat yang digunakan antara lain
tabung reaksi, pipet tetes, rak tabung. Bahan yang digunakan uji Molisch antara
lain sukrosa, reagen Molisch, asam sulfat pekat. Kedua, uji Benedict alat yang
digunakan tabung reaksi, pipet tetes, rak tabung, bunsen, dan korek api. Bahan
yang digunakan glukosa, reagen Benedict. Ketiga uji Fehling, alat dan bahan yang
digunakan antara lain tabung reaksi, alat pemanas, penjepit, glukosa, maltosa,
laktosa, reagen Fehling A dan B. Keempat uji Osazon, alat dan bahan yang
digunakan tabung reaksi, alat pemanas, larutan gula (glukosa, fruktosa), asam asetat
glasial, fenilhidrazin, dan Na-asetat padat. Kelima uji Seliwanoff, alat dan bahan
yang digunakan tabung reaksi, rak tabung alat pemanas, penjepit larutan fruktosa
20%, reagen selliwanoff (0,5% resorsinol dalam N HCl).

5.1. Uji Molisch


Tujuan untuk mengidentifikasi adanya karbohidrat pada larutan sukrosa.
Menurut Winarno (2004), mengatakan tujuan uji Molisch untuk mengidentifikasi
sampel pada larutan gula seperti glukosa, maltosa, dan sukrosa yang mengandung
karbohidrat. Selain itu menurut Sumardjo (2008), uji Molisch bertujuan untuk
mengetahui bentuk endapan pada larutan gula yang digunakan.
Prinsipnya bahan yang mengandung monosakarida bila direaksikan dengan
H2SO4 pekat akan terhidrolisis membentuk furfural. Senyawa furfural adalah
organik siklik dengan lima atom karbon sebagai penyusun utama kerangkanya.
Menurut Sumardjo (2008), mengatakan bahwa senyawa furfural ini akan
membentuk persenyawaan dengan naftol ditandai dengan terbentuknya warna
violet (cincin). Oleh karena H2SO4 dapat menghidrolisis oligosakarida dan
polisakarida. Teteskan 1 cc (16 tetes) sukrosa. Ditambahkan 2 tetes Molisch pada
tabung pertama. Tabung kedua ditetesi dengan H2SO4. Diamati sampai terjadi
perubahan warna yang terjadi.
Fungsi bahan antara lain sukrosa merupakan golongan oligosakarida yang
berfungsi sebagai sampel atau zat yang akan diidentifikasi adanya kandungan
karbohidrat pada larutan gula tersebut menurut Campbell, 2002. Reagen molisch
berfungsi untuk membentuk senyawa kompleks berwarna. . Menurut Sudarmadji
(2010), reagen Molisch berfungsi membentuk cincin berwarna ungu pada larutan
gula pereduksi. Menurut Sumardjo (2008), asam sulfat pekat ditambahkan pada
uji Molisch berfungsi untuk menghidrolisis ikatan ikatan pada sakarida agar
menghasilkan senyawa furfural. Asam sulfat pekat ditambahkan fungsinya untuk
gula pereduksi membentuk furfural kemudian dikombinasikan dengan α-naftol
untuk membentuk produk berwarna.
Fungsi perlakuan tabung reaksi yang berisi larutan sukrosa dan reagen
Molisch dimiringkan 45o untuk membentuk terjadinya endapan berbentuk cincin
berwarna ungu. Menurut Sudarmadji (2010), fungsi perlakuan tabung reaksi yang
berisi larutan gula dan reagen Molisch dimiringkan 45o untuk mempercepat
terjadinya endapan berbentuk cincin dan perubahan warna menjadi ungu. Hasilnya
positif karena terdapat endapan berwarna ungu membentuk seperti cincin . Reaksi
pada percobaan uji Molisch menurut Sumardjo (2006) . menyatakan bahwa reaksi
dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat membentuk cincin furfural yang berwarna
ungu. Apabila suatu larutan uji menunjukkan adanya cincin berwarna ungu, maka
larutan uji tersebut positif mengandung karbohidrat. Warna ungu kemerah-merahan
menyatakan reaksi positif, sedangka warna hijau adalah negatif.
5.2. Uji Benedict
Cara kerja pada uji yang kedua menggunakan reagen benedict : 0.5 cc
glukosa ditambah 1cc benedict lalu panaskan diatas bunsen amati perubahan warna
yang terjadi hasilnya warna awal biru berubah menjadi merah keclokatan. Hasinya
positif . Prinsip dari uji benedict adalah larutan CuSO4 dalam suasana alkali akan
direaksikan dengan gula pereduksi sehingga CuO tereduksi menjadi Cu2O
berwarna merah bata. Prinsip dari uji benedict menurut Naufa (2015), mengatakan
bahwa larutan CuSO4 dalam suasana alkali akan direaksikan oleh gula yang
mempunyai gugus aldehida sehingga cupri oksida (CuO) tereduksi menjadi Cu2O
yang berwarna merah bata. Tujuan dari uji benedict untuk mengidentifikasi adanya
perubahan warna yang terjadi pada sampel gula yang digunakanSumardjo (2008).
Glukosa merupakan golongan dari monosakarida. Fungsi reagen benedict sebagai
pereagen untuk membentuk terjadinya perubahan warna merah bata. Fungsi reagen
benedict menurut Winarno (1984) adalah untuk mengetahui adanya kandungan
gula (karbohidrat) dengan terbentuknya warna merah bata.Menurut Winarno (1984)
fungsi perlakuan tabung reaksi yang berisi glukosa dan reagen benedict dipanaskan
diatas api selama 1 menit dan digoyang-goyangkan berfungsi untuk mempercepat
laju reaksi terjadinya perubahan warna yaitu merah kecoklatan,tabung reaksi
dipanaskan dan digoyang-goyangkan diatas mempercepat terjadinya perubahan
warna pada larutan sampel yang digunakan.
5.3. Uji Fehling
Uji Fehling ini bertujuan untuk uji generik untuk monosakarida. Menurut
Kleiner, (2006), hal ini akan memberikan hasil positif untuk monosakarida “aldosa”
(karena gugus aledehida dapat dioksidasi) tetapi juga untuk monosakarisa “ketosa”,
karena mereka diubah menjadi aldosa oleh basa dalam reagen tersebut, dan
kemudian memberikan hasil positif.Prinsip uji fehling adalah Pengujian secara
kualitatif ini berdasarkan keberadaan gugus aldehida atau keton yang bebas.
Pereaksi Fehling terdiri atas dua larutan, yaitu larutan Fehling A dan larutan
Fehling B. Cara kerja 0.5cc glukosa,maltosa, laktosa. Cara kerja tambahkan larutan
gula (glukosa, maltosa, dan laktosa) 0,5 cc pada 3 tabung reaksi yang berbeda.
Tambahkan 1 cc Fehling A dan Fehling B pada 3 tabung reaksi yang berbeda.
Kemudian 3 tabung reaksi dipanaskan secara bergantian. Amati 3 tabung reaksi
tersebut sampai terjadi perubahan warna.
Menurut Sudarmadji (1986) fungsi (glukosa, maltosa, dan laktosa) yang
digunakan dalam uji fehling sebagai sampel atau zat yang akan diidentifikasi
adanya kandungan karbohidrat pada larutan gula . Menurut Kleiner (2006) glukosa
merupakan golongan monosakarida, sedangkan maltosa dan laktosa merupakan
golongan oligosakarida. Monosakarida atau gula sederhana, terdiri dari hanya satu
unit polihidroksi aldehida atau keton, misalnya glukosa . Maltosa dan laktosa
merupakan golongan oligosakarida. Fungsi dari Fehling A (larutan gula dan reagen
fehling A) dan B (larutan gula dan fehling B) adalah sebagai pereaksi dalam uji
Fehling dengan mengidentifikasi adanya sifat pereduksi dalam karbohidrat.
Menurut Sudarmadji (1986) fungsi dari reagen Fehling A dan B sebagai pereaksi
untuk mengidentifikasi sifat dan terjadinya perubahan warna dalam larutan gula
yang digunakan.
Hasil uji fehling pada tabung pertama sesuai dengan teori laktosa warna
awal putih ada diatasnya dan ada warna biru menjadi merah bata. Tabung kedua
glukosa warna awal putih biru berubah menjadi orange seuai dengan teori tetapi
hasil percobaan yang ketiga tidak sesuai dengan teori hasilnya negatif.
5.4. Uji Osazon
Pada percobaan keempat akan menguji karbohidrat mengunakan hasil
endapan kristal yang terjadi. Uji osazon bertujuan untuk mengidentifikasi
bermacam-macam karbohidrat, perubahan warna dan terdapat endapan
kristal (Sumardjo ,2006). Prinsipnya adalah semua karbohidrat yang
mempunyai gugus aldehida atau keton bebas akan membentuk hidrazon
atau osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazin berlebih. Prinsip Uji
osazon karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atau keton bebas akan
membentuk osazon saat dipanaskan bersama fenilhidrazin. Osazon yang
dihasilkan ini memiliki bentuk kristal berwarna kuning dan titik lebur yang
berbeda bagi setiap karbohidrat (Sumardjo ,2006).
Fungsi Perlakuan yaitu fungsi pemanasan dan digoyang-goyangkan
menurut Sumardjo (2006) berfungsi agar sampel yang diujikan dapat
berubah warna menjadi kuning bening pada glukosa dan kuning keruh pada
fruktosa. Adanya partikel-partikel yang naik-turun pada saat dipanaskan.
Tabung reaksi yang berisi glukosa dan fruktosa dibiarkan mendingin
berfungsi untuk mengetahui adanya endapan yang mengkristal pada tabung
reaksi. Menurut Sumardjo(2006), endapan kristal dimikroskop berfungsi
untuk mengetahui bentuk endapan kristal pada uji Osazon yang bentuknya
seperti serabut-serabut . Asam asetat glasial berfungsi menghidrolisis reaksi
pentosa. Menurut Sumardjo (2006), asam asetat glasial fungsinya
memberikan endapan dan warna kuning keruh. Fenilhidrazin berfungsi
memberikan endapan adanya kristal kuning pada tabung reaksi yang berisi
larutan gula. . Menurut Soemardjo (2006) fungsi fenilhidrazin adalah
membentuk endapan kristal didasar tabung reaksi dan warna kuning keruh.
Na-Asetat padat fungsinya menjaga kestabilan dan keseimbangan pada
fenilhidrazin agar tidak mudah rusak. Menurut Sumardjo (2006)
mengatakan bahwa Na-Asetat padat berfungsi untuk menjaga larutan
fenilhidrazin agar tidak cepat rusak.
Cara kerja : 1cc (larutan gula,fruktosa,laktosa) ditambah 1 tetes asam
asetat glasial ditambah 2 tetes fenilhidrazin kemudian ditambah 0.19 Na-
asetat padat kemuadian amati endapan kristal yang terjadi. Hasil percobaan
yang keempat positif karena glukosa menjadi kuning bening dan terdapat
butiran atau endapan naik turun saat dipanaskan hasil ini juga sama sengan
fruktosa). Menurut Sumardjo(2009), Kristal berwarna kuning yang larut
dalam air dan terbentuk apabila monosakarida atau disakarida pereduksi
dengan fenilhidrazin. Terdapat endapan yang berbentuk kristal dan positif

5.5. Uji Seliwanoff


Pada percobaan yang kelima menggunakan reagen seliwanoff untuk
membuktikan adanya ketosa pada fruktosa, Menurut Harold (2003),uji
Selliwanoff bertujuan untuk mengidentifikasi adanya ketosa pada larutan gula
dan terjadi perubahan warna.
Prinsip uji Selliwanoff berdasarkan dengan terjadinya perubahan warna
merah pada lrutan gula yang digunakan. Hal ini menurut Sumardjo (2009)
mengatakan terjadinya laju reaksi pada senyawa orgnik pada larutan gula
dengan ditandai terjadi perubahan warna.
Cara kerja : masukkan 1cc reagent seliwanoff ditambah 1cc senyawa
fruktosa lalu dipanaskan samapai berubah warna. Hasilnya dalam percobaan
warna pertama coklat berubah menjadi orange, tidak sesuai hasilnya negatif,
karena saat memanaskan sampai meletup-letup keatas tabung reaksi.
mendidihkan dan menggoyang-goyangkan tabung reaksi yang berisi fruktosa
dan reagen Seliwanoff berfungsi untuk mempercepat laju reaksi pembentukan
senyawa kompleks berwarna. Menurut Girindra (2008), mengatakan
mendidihkan dan menggoyang-goyangkan tabung reaksi yang berisi fruktosa
dan reagen Seliwanoff berfungsi untuk mempercepat laju reaksi ketika
dehidrasi dan kondensasi dalam pembentukan senyawa kompleks berwarna.
Fungsi perlakuan mendidihkan dan menggoyang-goyangkan tabung reaksi
yang berisi fruktosa dan reagen Seliwanoff berfungsi untuk mempercepat laju
reaksi pembentukan senyawa kompleks berwarna. Menurut Girindra (2008),
mengatakan mendidihkan dan menggoyang-goyangkan tabung reaksi yang
berisi fruktosa dan reagen Seliwanoff berfungsi untuk mempercepat laju reaksi
ketika dehidrasi dan kondensasi dalam pembentukan senyawa kompleks
berwarna.
Hasil pada percobaan uji fruktosa mendapatkan hasil positif karena terjadi
perubahan warna. Warna awal cokelat menjadi orange. Hal ini mungkin terjadi
kesalahan pada saat meneteskan larutan fruktosa ataupun reagen Selliwanoff.
Seharusnya terjadi perubahan warna merah, akan tetapi pada percobaan uji
fruktosa didapatkan perubahan warna orange. Selain itu, terjadinya kesalahan
bisa disebabkan saat pengambilan larutan ataupun reagen dengan
menggunakan pipet yang sudah terpakai dengan pengambilan larutan lain.
Menurut Sumardjo (2009) mengatakan saat mengambil larutan atau reagen
dengan pipet yang sama, dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam
percobaan, karena dapat mengakibatkan sedikit perbedaan reaksi warna yang
terjadi. Seharusnya fruktosa yang diuji berubah menjadi warna merah akan
tetapi pada praktikum ini didapatkan hasil perubahan warna orange. Sumardjo
(2009), mengatakan bahwa reaksi spesifik dengan ketosa ditunjukkan hasil
reaksi berwarna merah.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan uji karbohidrat (molisch, benedict, osazon,
fehling dan seliwanoff) dapat disimpulkan bahwa uji Molisch terjadi perubahan
warna menjadi ungu dan senyawa membentuk seperti cincin dan hasilnya positif.
Uji Benedict terjadi perubahan warna menjadi merah kecokelatan dan reaksinya
hasil positif.Uji Fehling terjadi perubahan warna orange dan merah bata, hasil
reaksinya sesuai, positif. Sedangkan uji fehling maltosa yang terjadi perubahan
warna biru tosca hasilnya negatif. Uji Osazon pada glukosa warna berubah menjadi
kuning bening hasilnya positif dan terdapat endapan kristal putih hal ini sama
dengan larutan fruktosa. Uji Selliwanoff terjadi perubahan warna orange positif.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Djaeni Sediaoetama.1989. Ilmu Gizi.Jakarta: Penerbit Dian Rakyat


Fessenden dan Fessenden, 1992, Kimia Organik, Edisi ketiga, Erlangga : Jakarta.
K. Murray, Robert, dkk. 2003. Biokimia Harper. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Maggy Thenawidjaja, penerjemah.
Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry.

Poedjiadi, Anna. 2009. Dasar - Dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Universitas


Indonesia.
Sudarmadji, Slamet. 2010. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta:
Yogyakarta Liberty.
Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC.
_______. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran.Jakarta: EGC.
Tim Dosen Kimia, 2005, Kimia Dasar II, Universitas Hasanuddin : Makassar.

Winarno, F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.