Anda di halaman 1dari 8

RESUME

ALIRAN KONSTRUKTIVISME

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Pendidikan Matematika
Dosen Pengampu : Dr. Nelly Fitriani, M.Pd

Disusun Oleh :
NURHASAN NIM.
KENI EVILIASANI NIM. 19102003

MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
IKIP SILIWANGI
BANDUNG
2019
A. Definisi Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki


anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia
itu sendiri. Manusia menkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi
mereka dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan mereka. Suatu
pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk
menghadapi dan memecahkan persoalan yang sesuai (Suparno, 2008:28).
Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu
saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri
oleh tiap-tiap orang. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi
merupkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dan dalam proses
itulah keaktivan dan kesungguhan seseorang dalam mengejar ilmu akan sangat
berperan.

Berbicara tentang konstruktivisme tidak dapat lepas dari peran Piaget.


J. Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme
dalam proses belajar. Menurut Wadsworth (1989) dalam Suparno (2008), teori
perkembangan intelektual Piaget dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang
biologi. Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Seperti setiap
organisme selalu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat
mempertahankan dan memperkembangkan hidup, demikian juga struktur
pemikiran manusia. Berhadapan dengan pengalaman, tantangan, gejala dan
skema pengetahuan yang telah dipunyai seseorang ditantang untuk
menanggapinya. Dan dalam menanggapi pengalaman-pengalaman baru itu
skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula berubah
total. Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik
pengalaman fisis maupun pengalaman mental.
Berkenaan dengan asal-usul konstruktivisme, menurut Von Glasersfeld (1988)
dalam Paul Suparno (2008), pengertian konstruktif kognitif muncul pada abad
ini dalam tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan
oleh Jean Piaget. Namun sebenarnya gagasan pokok konstruktivisme sudah
dimulai oleh Gimbatissta Vico, epistemology dari Italia. Dialah cikal bakal
konstruktivisme. Pada tahun 1970, Vico dalam De Antiquissima Italorum
Sapientia mengungkapkan filsafatnya dengan berkata, “Tuhan adalah pencipta
alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia menjelaskan bahwa
“mengetahui” berarti ‘mengetahui bagaimana membuat sesuatu.’ Bagi Vico
pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang dibentuk. Lain
halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan itu harus
menunjuk kepada kenyataan luar. Namun menurut banyak pengamat, Vico
tidak membuktikan teorinya (Suparno: 2008). Sekian lama gagasannya tidak
dikenal orang dan seakan hilang. Kemudian Jean Piagetlah yang mencoba
meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar.
Gagasan Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan
Vico.

Konstruktivisme yang dikembangkan Jean Piaget dalam bidang


pendidikan dikenal dengan nama kontruktivisme kognitif atau personal
contructivisme. Jean Piaget menyakini bahwa belajar akan lebih berhasil
apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Aliran
konstruktivisme adalah satu aliran filsafat yang menekankan bahwa
pengetahuan adalah kontruksi (bentukan). Pengetahuan bukanlah suatu tiruan
dari kenyataan (realitas), pengetahuan merupakan akibat dari suatu konstruksi
kognitif melalui kegiatan seseorang. Seseorang dapat membentuk skema,
kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk
pengetahuan. Proses pembentukan ini berjalan terus menerus dan setiap kali
akan mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru
(Suparno, 2000: 123)

Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif tersendiri yang


kemudian dinamakan skema (schema). Skema adalah suatu struktur mental
atau kognitif yang memungkinkan seseorang secara intelektual beradaptasi
dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skema adalah hasil kesimpulan
atau bentukan mental, konstruksi hipotesis, seperti intelektual, kreativitas,
kemampuan dan naluri. Skema dapat terbentuk karena pengalaman, proses
penyempurnaan skema melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi
adalah mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam
suatu pola yang sudah ada dalam pikiran, atau penyerapan informasi baru
dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah membentuk skema baru yang
sesuai dengan rangsangan baru, atau menyusun kembali struktur pikiran
karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai
tempat. Asimilasi dan akomodasi terbentuk berkat pengalaman siswa (Pannen
dkk, 2001: 94)

B. Konstruktivisme menurut para tokoh


1. Konstruktivisme Menurut J. Piaget
Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa kecakapan
kognitif atau intelektual anak dan orang dewasa mengalami kemajuan
melalui empat tahap (dalam Hudojo, 2003), yaitu sensori-motor (lahir
sampai 2 tahun); pra-operasional (2 sampai 7 tahun): operasi konkret (7
sampai 11 atau 12 tahun), dan operasi formal (lebih dari 11 atau 12 tahun).
Dalam pandangan Piaget pengetahuan didapat dari pengalaman, dan
perkembangan mental siswa bergantung pada keaktifannya berinteraksi
dengan lingkungan (Slavin, 2000).
Pada tahap pra-operasional karakteristiknya merupakan gerakan- gerakan
sebagai akibat langsung. Pada tahap operasi konkret siswa didalam
berpikirnya tidak didasarkan pada keputusan yang logis melainkan
didasarkan kepada keputusan yang dapat dilihat seketika. Pada tahap
operasi konkret ditandai dengan siswa mulai berpikir matematis logis
berdasar pada manipulasi fisik dari obyek-obyek. Pada tahap operasi
formal siswa dapat memberikan alasan-alasan dengan menggunakan
simbol-simbol atau ide daripada obyek-obyek yang berkaitan dengan
benda-benda di dalam cara berpikirnya. (Hudojo, 2003).
Piaget meyakini bahwa kecenderungan siswa berinteraksi dengan
lingkungan adalah bawaan sejak lahir. Siswa memproses dan mengatur
informasi dalam benaknya dalam bentuk skema (scheme). Hudojo (2003:
59) menyatakan skema adalah pola tingkah laku yang dapat berulang
kembali. Slavin (2000: 30) menyatakan siswa mendemonstrasikan pola
tingkah laku dan pemikiran yang disebut skema. Jadi mengacu pada kedua
pendapat Hudojo dan Slavin, skema adalah pola tingkah laku dan
pemikiran yang dapat berulang kembali. Dengan demikian, skema adalah
struktur kognitif yang digunakan oleh siswa untuk menyesuaikan dengan
lingkungan dan mengorganisasikannya. Penguasaan terhadap suatu skema
baru mengindikasikan adanya perubahan di dalam struktur mental siswa.
Adaptasi berkaitan dengan penyesuaian skema yang sudah dimiliki siswa
ketika berinteraksi dengan lingkungan. Menurut Piaget adaptasi adalah
suatu proses penyesuaian skema dalam merespon lingkungan melalui
asimilasi atau akomodasi. Asimilasi adalah proses menyerap pengalaman
baru berdasar pada skema yang sudah dimiliki dan akomodasi adalah
proses menyerap pengalaman baru dengan cara memodifikasi skema yang
sudah ada atau bahkan membentuk skema yang benar-benar baru (Hudojo,
2003: 60).
Perkembangan struktur mental siswa bergantung pada proses asimilasi dan
akomodasi. Masuknya skema baru dalam struktur mental siswa terutama
tergantung pada proses akomodasi dalam menyerap pengalaman-
pengalaman baru dengan cara siswa sendiri. Melalui adaptasi ini siswa
memperoleh pengalaman-pengalaman matematika yang baru berdasarkan
pengalaman-pengalaman matematika yang telah dimilikinya
2. Konstruktivisme Menurut Von Glasersfeld
Von Glasersfeld berpendapat bahwa pengetahuan dan realitas tidak
memiliki nilai mutlak, dan pengetahuan diperoleh secara aktif dan
dikonstruksi melalui indera atau melalui komunikasi. von Glasersfeld
(1984) mengemukakan bahwa konstruktivisme radikal untuk tidak
diinterpretasikan sebagai gambaran dari realitas secara mutlak tetapi
sebagai model pengetahuan (model of knowing) dan kemungkinan
memperoleh pengetahuan dalam kognisi dengan cara mengkonstruksi
pengetahuan berdasar pengalaman sendiri. Dalam pembelajaran,
konstruktivisme radikal tergolong konstruktivisme individu, sebagaimana
konstruktivisme kognitif yang dikemukakan Piaget.
Berkaitan dengan pembelajaran, von Glasersfeld (dalam Yackel, Cobb,
Wood, dan Merkel; 2002) menyatakan pandangannya sebagai berikut. Jika
mempercayai bahwa pengetahuan harus dikonstruksi oleh setiap individu
yang belajar, maka pembelajaran menjadi sangat berbeda dengan
pembelajaran tradisional yang meyakini pengetahuan ada di kepala guru
dan guru harus mencari cara untuk mentransfer pengetahuan tersebut
kepada siswa. Pembelajaran menurut konstruktivisme radikal memandang
bahwa pengetahuan harus dikonstruksi oleh individu. Jadi berdasar
informasi yang masuk ke diri siswa, siswa aktif belajar mengkonstruksi
pengetahuan berdasar pengalaman sendiri. Hal ini, pada awal penyerapan
pengetahuan, dimungkinkan terjadinya perbedaan konsepsi antar siswa
terhadap hasil pengamatan.
Apa yang disampaikan guru belum tentu diterima siswa sebagaimana apa
yang diharapkan guru. Tugas guru utamanya bukan mentransfer
pengetahuan tetapi memfasilitasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa
memiliki kesempatan aktif belajar dengan cara mengkonstruksi
pengetahuan berdasar pengalaman siswa sendiri. Dalam kegiatan
pembelajaran guru perlu mempertimbang adanya perbedaan tingkat
konsepsi siswa terhadap apa yang yang diamati. Dalam memahami suatu
konsep sering terjadi konflik kognitif disebabkan oleh adanya
problematika perbedaan tingkat konsepsi akibat beragamnya pengalaman
siswa. Dalam hal seperti ini, guru perlu membuat kesepakatan-kesepakatan
konseptual misalnya melalui diskusi kelas
3. Konstruktivisme Menurut Vygotsky
Psikolog Rusia Lev Semionovich (meninggal tahun 1934), berkaitan
dengan perkembangan intelektual siswa mengemukakan dua ide. Pertama
bahwa perkembangan intelektual siswa dapat dipahami hanya dalam
konteks budaya dan sejarah pengalaman siswa (van der Veer dan Valsiner
dalam Slavin, 2000) dan mempercayai bahwa perkembangan intelektual
bergantung pada sistem tanda (sign sistem) yang individu berkembang
dengannya (Ratner dalam Slavin, 2000: 43). Sistem tanda adalah simbol-
simbol yang secara budaya diciptakan untuk membantu orang berpikir,
berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya budaya bahasa,
sistem tulisan dan sistem perhitungan.
4 Prinsip Pembelajaran menurut Vygotsky
- pembelajaran sosial (social leaning)
- (zone of proximal development)
- masa magang kognitif (cognitif apprenticeship)
- pembelajaran termediasi (mediated learning)

C. Karakteristik Konstruktivisme dalam Pembelajaran


1. Siswa aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah
ada.
2. Siswa membina sendiri pengetahuan
3. Proses pembinaan pengetahuan pada siswa melalui proses saling
mempengaruhi antara pembelajaran yang terdahulu dengan pembelajaran
yang terbaru
4. Membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang sudah ada
5. Ketidak-seimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama
6. Bahan pengajaran dikaitkan dengan pengalaman siswa untuk menarik
minat belajarnya

Ada beberapa ciri-ciri dalam pembelajaran model konstruktivisme, yaitu:


1. Mencari tahu dan menghargai titik pandang/pendapat siswa
2. Pembelajaran dilakukan atas dasar pengetahuan awal siswa
3. Memunculkan masalah yang relevan dengan siswa .
4. Menyusun pembelajaran yang menantang dugaan siswa
5. Menilai hasil pembelajaran dalam konteks pembelajaran sehari-hari
6. Siswa lebih aktif dalam proses belajar karena fokus belajar mereka pada
proses pengintegrasian pengetahuan baru yang diperoleh dengan
pengalaman/pengetahuan lama yang mereka miliki
7. Setiap pandangan sangat dihargai dan diperlukan. Siswa didorong untuk
menemukan berbagai kemungkinan dan mensintesiskan secara terintegrasi
8. Proses belajar harus mendorong adanya kerjasama, tapi bukan untuk
bersaing. Proses belajar melalui kerjasama memungkinkan siswa untuk
mengingat pelajaran lebih lama
9. Kontrol kecepatan, dan fokus pembelajaran ada pada siswa
10. Pendekatan konstruktivis memberikan pengalaman belajar yang tidak
terlepas dengan apa yang dialami langsung oleh siswa

Selanjutnya ada empat komponen dalam pembelajaran konstruktivisme,


yaitu:

1. Pengetahuan Awal (Prerequisite),


2. Fakta Dan Masalah,
3. Sistematika Berfikir,
4. Kemauan Dan Keberanian