Anda di halaman 1dari 14

Makalah Positioning Stase TUL1

RADIOGRAFI PEDIS
PROYEKSI AP, AP OBLIK, DAN LATERAL

Disusun oleh:
dr. Hana Larassati
PPDS Radiologi FKUI-RSCM Semester 2

Sebagai Bagian dari


Program Pendidikan Dokter Spesialis Radiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta 2018

1
Pendahuluan
Pemeriksaan radiografi konvensional hingga saat ini masih menjadi modalitas
utama dalam mendiagnosis fraktur ekstremitas bawah. Pemeriksaan radiografi
konvensional pada ekstremitas bawah menempati urutan ke dua dalam daftar pemeriksaan
radiologis yang paling sering dilakukan, setelah foto polos toraks.1 Selain dinilai baik
untuk mengevaluasi struktur tulang, pemeriksaan radiografi konvensional juga dapat
memberikan informasi mengenai jaringan lunak.
Untuk dapat memperoleh informasi yang maksimal dari pemeriksaan radiografi
konvensional, seorang dokter harus mampu menentukan teknik pemeriksaan dan proyeksi
yang tepat sesuai dengan kelainan dan informasi yang ingin diperoleh. Beberapa pusat
pelayanan kesehatan sudah memiliki standar sendiri mengenai proyeksi untuk bagian-
bagian tubuh dan kondisi klinis tertentu. Namun, tetap penting untuk mengetahui dasar
pemilihan proyeksi-proyeksi tersebut, kelebihan, kekurangan, serta teknik pengerjaannya.

Anatomi
Pedis terdiri atas 26 tulang yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:2,3
1. Phalang, terdiri atas 14 tulang
2. Metatarsal, terdiri atas 5 tulang
3. Tarsal, terdiri atas 7 tulang, yaitu calcaneus, talus, navicular, 3 cuneiform, dan
cuboid.
Berdasarkan fungsinya dibagi menjadi tiga bagian (Gambar 1), yaitu:3
1. Forefoot (metatarsal dan phalang)
2. Midfoot (cuneiform, navicular, dan cuboid)
3. Hindfoot (talus dan calcaneus).

2
Gambar 1 Anatomi pedis, dorsal (A), dan lateral (B)4

3
Talus berartikulasi dengan tibia, navicular, dan calcaneus. Calcaneus berartikulasi
dengan talus dan cuboid, dan dengan navicular pada talocalcaneonavicular joint. Cuboid
berartikulasi dengan metatarsal IV dan V. Penting untuk menilai artikulasi antar tulang-
tulang tarsal pada kasus flat feet, yang dapat diakibatkan oleh koalisi tulang-tulang tarsal.3
Koalisi tulang-tulang tarsal paling sering terjadi pada talus dan calcaneus atau calcaneus
dan navicular.5 Tiap tulang cuneiform beratikulasi dengan tulang metatarsalnya masing-
masing. Disrupsi garis yang dibentuk cuneiform dengan metatarsal terjadi pada fraktur
Lisfranc.3
Calcaneus merupakan tulang tarsal terbesar. Calcaneus memiliki prosesus pada
bagian medial yaitu sustentacalum tali, yang berartikulasi dengan talus.3
Tulang-tulang pedis tersusun dalam bentuk dua arkus longitudinal. Arkus medial
terdiri dari calcaneus, talus, navicular, tiga cuneiform, dan tiga metatarsal medial. Apex
dari arkus ini adalah talus. Arkus lateral terdiri dari calcaneus, cuboid dan dua metatarsal
lateral.3

Radiografi Pedis
Pemeriksaan radiografi konvensional rutin pedis dilakukan dalam dua proyeksi,
anteroposterior (AP) dan AP oblik. Terdapat pula proyeksi tambahan yaitu proyeksi
lateral.6,7
Anteroposterior (AP)
Radiografi pedis dalam proyeksi AP memperlihatkan tulang-tulang phalang,
metatarsal, cuneiform, cuboid, dan navicular.4 Untuk memastikan sendi tarsal dan sendi
tarsometatarsal dapat terlihat, dilakukanradiografi pedis AP dengan posisi sisi plantar
sejajar dengan kaset, dan tabung sinar X diposisikan dengan sudut 15 derajat ke arah
kranial (Gambar 2). Alternatif lain yaitu dengan cara melakukan elevasi pedis 15 derajat
dan mengarahkan sinar X secara vertikal. Angulasi tersebut mengkompensasi inklinasi
arkus longitudinal dan mengoptimalkan pencitraan tulang-tulang tarsal.8
Pada radiografi pedis AP tulang talus, calcaneus, dan tibia bagian distal mengalami
superimposi antara satu sama lain sehingga tidak tervisualisasi secara optimal (Gambar
3).4
First intermetatarsal angle merupakan gambaran anatomis penting yang dapat
terlihat pada radiografi pedis AP. Sudut ini dibentuk oleh perpotongan dua garis yang
melalui sumbu longitudinal metatarsal pertama dan ke dua, dan pada keadaan normal

4
besarnya antara 5 – 15 derajat. Angulasi pada deformitas forefoot dapat dihitung dari
baseline ini (Gambar 4).4

Gambar 2 Posisi kaki pada radiografi pedis AP6

5
Gambar 3 Radiografi pedis proyeksi AP dan proyeksi anatomisnya4

Gambar 4 First intermetatarsal angle4

6
AP Oblik
Radiografi pedis dalam proyeksi AP oblik memperlihatkan tulang-tulang phalang,
metatarsal, dan sendi intermetatarsal. Selain itu juga terlihat cuboid, cuneiform lateral,
navicular, bagian anterior talus dan calcaneus, dan sendi midtarsal.4 Proyeksi ini
memungkinkan penilaian sususan metatarsal dengan barisan distal tarsus.8
Pada proyeksi AP oblik, kaki dirotasi ke arah medial hingga membentuk sudut 30 –
45 derajat dengan kaset.4 Sinar X diarahkan secara vertikal melalui sendi cuboid-navicular
(Gambar 5). Proyeksi ini harus dapat memperlihatkan sendi intertarsal dan sendi
tarsometatarsal.8 Phalang dan metatarsal biasanya tampak dengan garis batas kortikal yang
tajam dan jelas. Perhatikan adanya tulang sesamoid yang mengalami superimposi dengan
metatarsal (Gambar 6).4

Gambar 5 Posisi kaki pada radiografi pedis proyeksi AP oblik6

7
Gambar 6 Radiografi pedis proyeksi AP oblik dan proyeksi anatomisnya4

Lateral
Proyeksi lateral merupakan proyeksi tambahan dalam radiografi pedis yang sering
berguna untuk mengevalusi benda asing, menunjukkan fraktur atau dislokasi tarsal, atau
fraktur dan atau dislokasi metatarsal.8 Proyeksi ini memperlihatkan calcaneus dan talus,
sendi subtalar, dan sendi talonavicular dan calcaneocuboid.4 Sendi tarsal transversal
(Chopart) dan sendi tarsometatarsal (Lisfranc) yang memisahkan midfoot dengan hindfoot
dapat terlihat dengan jelas pada proyeksi ini (Gambar 8).4
Dari posisi proyeksi AP kaki dirotasi ke arah eksternal sehingga bagian lateral
menempel pada kaset. Sinar X diarahkan secara vertikal melalui sendi cuneonavicular
(Gambar 7).8

8
Gambar 7 Posisi kaki pada radiografi pedis proyeksi lateral6

9
Gambar 8 Radiografi pedis proyeksi lateral dan proyeksi anatomisnya4

10
Perbandingan Teknik Radiografi Pedis di Departemen Radiologi RSCM dengan
Teknik di Literatur

Proyeksi AP

Gambar 9 Teknik radiografi pedis proyeksi AP di literatur

Gambar 10 Teknik radiografi pedis proyeksi AP di Departemen Radiologi RSCM

Proyeksi AP Oblik

Gambar 11 Teknik radiografi pedis proyeksi AP oblik di literatur

11
Gambar 12 Teknik radiografi pedis proyeksi AP oblik di Departemen Radiologi RSCM

Proyeksi Lateral

Gambar 13 Teknik radiografi pedis proyeksi lateral di literatur (kiri) dan teknik radiografi
pedis proyeksi lateral di Departemen Radiologi RSCM (kanan)

12
Kesimpulan
Menurut literatur, pemeriksaan radiografi konvensional rutin pedis dilakukan dalam
dua proyeksi, anteroposterior (AP) dan AP oblik. Sedangkan proyeksi lateral merupakan
proyeksi tambahan jika diperlukan, misalnya pada kasus-kasus adanya benda asing, atau
kecurigaan fraktur atau dislokasi tarsal dan metatarsal.
Dalam praktiknya di Departemen Radiologi RSCM, terkadang radiografi pedis
hanya dilakukan dalam proyeksi AP dan lateral. Hal ini menjadi sesuatu yang harus
diperhatikan mengingat radiografi pedis proyeksi AP oblik sangat penting untuk menilai
sendi-sendi intertarsal dan tarsometatarsal. Kekurangan proyeksi ini dapat menjadi
hambatan bagi ahli radiologi untuk menilai adanya kelainan pada sendi-sendi tersebut.
Ditinjau dari segi teknik positioning, teknik radiografi pedis proyeksi AP yang
dikerjakan di Departemen Radiologi RSCM belum sesuai dengan teknik yang dijelaskan di
literatur. Pada literatur dijelaskan bahwa untuk memperoleh radiografi pedis proyeksi AP
yang baik sebaiknya tabung sinar X diposisikan dengan sudut 15 derajat ke arah kranial,
atau alternatif lain dengan elevasi kaki dengan sudut sebesar 15 derajat. Angulasi tersebut
mengkompensasi inklinasi arkus longitudinal dan mengoptimalkan pencitraan tulang-
tulang tarsal, dan memastikan sendi-sendi tarsal dan tarsometatarsal dapat terlihat. Dalam
praktik di Departemen Radiologi RSCM, radiografi pedis proyeksi AP dilakukan tanpa
angulasi sinar X ataupun elevasi pedis.

13
Daftar Pustaka

1. Banerjee M, Bouillon B, Shafizadeh S, Paffrath T, Lefering R, Wafaisade A.


Epidemiology of extremity injuries in multiple trauma patients. Injury.
2013;44(8):1015-1021.
2. Frank ED, Long BW, Smith BJ. Merrill’s Atlas of Radiographic Positioning &
Procedures. 12th Edition. Missouri: Mosby; 2016.
3. Ellis H. Clinical Anatomy. 11th Editi. Massachusetts: Blackwell Publishing Ltd;
2006.
4. McKinnis LN. Fundamentals of Musculoskeletal Imaging. 3rd Edition.
Philadelphia: F. A. Davis Company; 2010.
5. McWilliams S. Practical Radiological Anatomy. Boca Raton: CRS Press; 2011.
6. Bontrager KL, Lampignano JP. Textbook of Radiographic Positioning and Related
Anatomy. 8th Edition. Missouri: Mosby; 2014.
7. Rogers LF, West OC. Imaging Skeletal Trauma. 4th Editio. Philadelphia: Elsevier;
2015.
8. Whitley AS, Sloane C, Hoadley G, Moore AD, Alsop CW. Clark’s Positioning in
Radiography. London: Hodder Arnold; 2005.

14

Beri Nilai