Anda di halaman 1dari 2

akarta, CNN Indonesia -- Lima tahun yang lalu, kala Donald Trump, yang belum menjadi Presiden

AS, bersiap pergi ke Moskow untuk ajang Miss Universe, mencuit lewat akun Twitter-nya. Dia
bertanya-tanya apakah dia akan pergi menemui Vladimir Putin, yang kala itu telah menjadi Presiden
Rusia.

"Jika iya," tulisnya di akun Twitter-nya. "Apakah dia akan menjadi sahabat baruku?"

Kini mantan presenter acara televisi The Apprentice itu bertemu dengan Putin, eks-agen intelijen
Rusia, KGB di Helsinki, dalam pertemuan perdana mereka. Pertanyaan serupa dilontarkan dunia
internasional.

Konflik di Suriah, dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016, serta Ukraina
tampaknya bakal dibahas dalam pertemuan perdana Trump-Putin.

Namun, yang menjadi pusat perhatian adalah hubungan antara kedua pria, pemimpin dua negara
adi kuasa di dunia, Amerika Serikat dan Rusia.

Adapun Trump telah lama mengumbar kekagumannya pada cara kepemimpinan Putin, di saat
badan intelijen AS menyelidiki keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS 2018, yang berhasil mendorong
miliader kontroversial tersebut masuk ke dalam Gedung Putih.

Dilansir kantor berita AFP, dalam sifat dan sikap, kedua presiden negara besar di dunia itu sangat
berbeda.

Jika Trump terkenal dengan cara pidato yang spontan berapi-api dan sering berselisih paham
dengan penasihatnya sendiri, Putin selalu tampil tenang dengan air muka yang datar dan hampir
jarang mengekspresikan emosinya.

Putin tetap mengikuti perkembangan lewat informasi dari file-file laporan intelijen yang tebal, serta
ringkasan berita media massa. Sebaliknya, tim penasihat Trump kesulitan untuk menyuruh Trump
membaca, bahkan untuk sebuah laporan briefing singkat.

Di saat Presiden AS tersebut mempopulerkan opininya lewat media sosial, lawannya di Kremlin,
bahkan tidak punya ponsel dan bergantung pada media untuk menyatakan pendapatnya.

Meski begitu, perbedaan mereka tampaknya tak bakal mengganggu hubungan kedua Presiden.

"Putin sudah membuktikan bahwa ia terampil dalam membaca karakter dan pikiran orang," kata
Alina Polyakova, peneliti kebijakan luar negeri dari Brookings Institution, Washington, seperti
dilansir AFP.