Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

APENDISITIS

DOSEN PEMBIMBING :
Lutfi Wahyuni.,S.kep.Ns.,M.kes

DISUSUN OLEH :

1. Marlen Viona Leangwatu (201701013)


2. Dwi Elma Miftakhul Jannah (201701017)
3. Laily Nurrohmah (201701019)
4. Nimatul Muyassaroh (201701023)
5. Yuninda Anggun Safitri (201701043)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES )


BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO
S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah agama.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Asuhan Keperawatan Apendisitis. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya.Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari
Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Mojokerto,03 Maret 2019

Penyusun

...........................................
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................2

DAFTAR ISI.....................................................................................................................3

BAB I................................................................................................................................5

LAPORAN PENDAHULUAN..........................................................................................5

APENDISITIS...................................................................................................................5

A. KONSEP DASAR APENDIKSITIS.......................................................................5

B. ETIOLOGI.............................................................................................................5

C. PATOFISIOLOGI..................................................................................................6

D. MANISFESTASI KLINIS......................................................................................8

E. PENATALAKSAAN...............................................................................................8

F. KOMPLIKASI.......................................................................................................9

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG.......................................................................10

BAB II.............................................................................................................................11

ASUHAN KEPERAWATAN APENDISITIS...................................................................11

A. PENGKAJIAN.....................................................................................................11

B. RIWAYAT KESEHATAN.....................................................................................11

C. KEBUTUHAN BIO-PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL............................................................12

D. PEMERIKSAAN FISIK...............................................................................................14

E. DATA PENUNJANG..................................................................................................15

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN.....................................................................................15

G. ANALISA DATA........................................................................................................16

H. INTERVENSI KEPERAWATAN......................................................................17

BAB III............................................................................................................................20

PENUTUP.......................................................................................................................20

KESIMPULAN............................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................21
BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

APENDISITIS
A. Konsep Dasar Apendiksitis
Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
( apendiks ). Usus buntu sebenarnya adalah sekum(caecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan
peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi
yang umumnya berbahaya. ( Wim de Jong et al, 2010).Apendisitis merupakan inflamasi akut
pada apendisitis verniformis dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen
darurat. (Brunner&Suddarth, 2014).
Peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ, dimana patogenis
utamanya diduga karena obstruksi pada lumen yang disebabkan oleh fekalit (feses keras yang
terutama disebabkan oleh serat).
Usus buntu atau apendis merupakan bagian usus yang terletak dalam pencernaan. Untuk
fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara pasti, namun usus buntu ini terkadang banyak
sekali sel-sel yang berfungsi untuk mempertahankan atau imunitas tubuh. Dan bila bagian
usus ini mengalami infeksi akan sangat terasa sakit yang luar biasa bagi penderitanya
(Saydam Gozali, 2011).

B. Etiologi
Penyebab terjadinya apendisitis dapat terjadi karena adanya makanan keras yang masuk
ke dalam usus buntu dan tidak bisa keluar lagi. Setelah isi usus tercemar dan usus meradang
timbulah kuman-kuman yang dapat memperparah keadaan tadi (Saydam Gozali, 2011).
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. berbagai hal sebagai faktor pencetusnya:
a. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus
disamping hyperplasia jaringan limfe, tumor apendiks dan cacing askaris.
b. Penyebab lain penyebab apendiks karena parasit seperti E. hystolitica.
c. Penelitian Epidemiologi mengatakan peran kebiasaan makan makanan yang rendah
serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan
menarik bagian intrasekal, yang berakibat timbulnya tekanan intrasekal dan terjadi
penyumbatan sehingga meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon (R
Tsamsuhidajat & Wim De jong, 2010).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu:
a. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena:
1. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
2. Adanya fekolit dalam lumen appendiks
3. Adanya benda asing seperti biji-bijian
4. Striktur lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b.Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus..
c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja
dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa
tersebut.
d. Tergantung pada bentuk apendiks:
1) Appendiks yang terlalu panjang
2) Massa appendiks yang pendek
3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4) Kelainan katup di pangkal appendiks

C. Patofisiologi
Apendisitis dapat terjadi karena berbagai macam penyebab, antara lain obstruksi oleh
fecalith, a gallstone, tumor, atau bahkan oleh cacing (Oxyurus vermicularis), akan tetapi
paling sering disebabkan obstruksi oleh fecalith. Hasil observasi epidemiologi
juga menyebutkan bahwa obstruksi fecalith adalah penyebab terbesar. Pada fase awal
appendicitis mukosa mengalami inflamasi terlebih dahulu.Kemudian inflamasi ini akan
meluas ke lapisan submukosa, termasuk juga lapisan muskularis dan lapisan serosa.
Terbentuk pula eksudat fibrinopurulen pada permukaan serosa dan menyebar ke dinding
peritoneal terdekat, sehingga menyebabkan peritonitis. Pada fase ini glandula mukosa yang
nekrosis masuk ke dalam lumen usus, sehingga menyebabkan terjadinya nanah atau pus di
dalam lumen. Akhirnya, pembuluh-pembuluh kapiler yang mensuplai darah ke appendiks
mengalami trombose dan appendiks yang infark tersebut menjadi nekrosis atau gangrenous.
Setelah mengalami nekrosis, appendiks dapat mengalami perforasi, sehingga kandungan yang
terdapat dalam lumen appendiks,seperti pus dapat menyebar di cavitas peritoneal dan
menimbulkan peritonitis.
Apendiks terinflamsi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat.
Kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor maupun benda asing. Proses
inflamasi ini meningkatkan tekanan intraluminal dapat menimbulkan nyeri abdomen atas atau
menyebar bebas secara progresif dalam beberapa jam, terlokalisasi dikuadran kanan bawah
dari abdomen, akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus.

D. Manisfestasi Klinis
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang di dasari dengan radang mendadak
umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang
peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis adalah:
a. Nyeri visceral epigastrium.
b. Nafsu makan menurun.
c. Dalam beberapa jam nyeri pindah ke kanan bawah ke titik Mc Burney.
d. Kadang tidak terjadi nyeri tapi konstipasi.
e. Pada anak biasanya rewel, nafsu makan turun karena focus pada nyerinya, muntah-
muntah, lemah, latergik, pada bayi 80-90% apendisitis terjadi perforasi
(Tsamsuhidajat & Wong de jong, 2010).
Manisfestasi klinis lainya adalah:
a. Nyeri dikuadran kanan bawah disertai dengan demam ringan, dan terkadang muntah
kehilangan nafsu makan kerap dijumpai konstipasi dapat terjadi.
b. Pada tiik Mc Burney (terletak diantara pertengahan umbilicus dan spina anterior
ileum), terasa nyeri tekan local dan kekakuan otot bagian bawah rektus kanan.
c. Nyeri pantul dapat dijumpai lokasi apendiks menentukan kekuatan nyeri tekan,
spasme otot dan adanya diare atau konstipasi.
d. Jika apendiks pecah, nyeri lebih menyebar abdomen menjadi lebih terdistensi akibat
ileus paralitik dan kondisi memburuk. (Brunner&Suddarth, 2014).

E. Penatalaksaan
a. Penatalaksanaan Medis
1. Pembedahan (konvensional atau laparaskopi) apabila diagnose apendisitis
telah ditegakan dan harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko perforasi.
2. Berikan obat antibiotik dan cairan IV sampai tindakan pemebedahan
dilakukan.
3. Agen analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan.
4. Operasi (apendiktomi), bila diagnosa telah ditegakan yang harus dilakukan
adalah operasi membuang apendiks (apendiktomi). Penundaan
apendiktomidengan cara pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan
perforasi. Pada abses apendiks dilakukan drainage. (Brunner&Suddarth,
2014).
b. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Tujuan keperawatan mencakup upaya meredakan nyeri, mencegah defisit
volume cairan, mengatasi ansietas, mengurangi risiko infeksi yang disebabkan
oleh gangguan potensial atau aktual pada saluran gastrointestinal,
mempertahankan integritas kulit dan mencapai nutris yang optimal.
2. Sebelum operasi, siapkan pasien untuk menjalani pembedahan, mulai jalur
Intra Vena berikan antibiotik, dan masukan selang nasogastrik (bila terbukti
ada ileus paralitik), jangan berikan laksatif.
3. Setelah operasi, posisikan pasien fowler tinggi, berikan analgetik narkotik
sesuai program, berikan cairan oral apabila dapat ditoleransi.
4. Jika drain terpasang di area insisi, pantau secara ketat adanya tanda-tanda
obstruksi usus halus, hemoragi sekunder atau abses sekunder.
(Brunner&Suddarth, 2014).
c. Penatalaksaan Keperawatan
Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendiktomi. Keterlambatan dalam
tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi. Teknik laparoskopi sudah terbukti
menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan angka
kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat peningkatan kejadian abses intra
abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk diagnosa dan
terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita. (Rahayuningsih dan
Dermawan, 2010).

F. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan penanganan. Faktor keterlambatan
dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga medis. Faktor penderita dapat berasal dari
pengetahuan dan biaya. Faktor tenaga medis dapat berupa kesalahan dalam mendiagnosa,
keterlambatan mengangani maslah dan keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit dan
penangggulangan. Hal ini dapat memacu meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas.
Proporsi yang sering adalah terjadi pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% lebih
sering terjadi pada anak kecil dibawah usia 2 tahun dan 40-75%% terjadi pada orang tua.
Pada anak-anak dinding apendiks masih sangat tips, omentum lebh pendek, dan belum
berkembang secara sempurna sehingga mudah terjadi apendisitis.

Komplikasi menurut (Brunner&Suddarth, 2014):


a. Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menyebabkan peritonitis
pembentukan abses (tertampungnya materi purulen), atau flebilitis portal.
b. Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala yang muncul
antara lain: Demam 37,7’C, nyeri tekan atau nyeri abdomen.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hitung jenis leukosit dengan hasil leukositosis.
b. Pemeriksaan urin dengan hasil sedimen dapat normal atau terdapat leukosit
dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada
ureter atau vesika.
c. leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap
mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan
terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal.
Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urin
rutin penting untuk melihat apakah terdapat infeksi pada ginjal.
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Apendikogram
Apendikogram dilakukan dengan cara pemberian kontras BaS04 serbuk halus
yang diencerkan dengan perbandingan 1:3 secara peroral dan diminum
sebelum pemeriksaan kurang lebih 8-10 jam untuk anak-anak atau 10-12 jam
untuk dewasa, hasil dibaca oleh dokter spesialis radiologi.
b. Ultrasonografi (USG)
USG dapat membantu mendeteksi adanya kantong nanah. Abses subdiafragma
harus dibedakan dengan abses hati, pneumonia basal, atau efusi pleura
(Penfold,2000
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN APENDISITIS

Kasus :
Nn. N usia 15 tahun datang ke poli bedah RSU Dr. Soekandar Mojosari pada tanggal 25
febuari 2018 pukul 09.40 WIB. Saat dilakukan pengkajian klien mengatakan demam sejak 2
hari yang lalu, lemas, pusing dan di perut bagian kanan bawah terasa nyeri semakin
bertambah sakit ketika bergerak dan nyeri timbul sewaktu-waktu. Nyeri seperti diremas-
remas. Nyeri perut kanan saat ditekan. Skala nyeri 6. Rencana tindakan apendiktomy pada
tanggal 27 febuari 2018. Pemeriksaan tanda-tanda vital klien didapat TD: 100/70mmHg,
nadi: 96 x/menit, Suhu: 37,6 C, RR: 20x/menit.

A. PENGKAJIAN
Nama : Nn. N
Umur : 15 tahun
Alamat : PUNGGING
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pelajar
MRS : 25 Januari 2016 pukul 09.40 WIB
No. RM : 9847XX
Diagnosa Medis : Apendisitis

1. Keluhan Utama saat MRS


Klien mengeluh nyeri pada perut bagian kuadran kanan bawah.
2. Keluhan Utama saat pengkajian
Pada saat pengkajian, klien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah, klien
mengatakan sekarang merasa cemas dan takut dengan tindakan oprasi apendiktomi
yang akan dijalaninya.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke poli bedah RSU Dr. Soekandar Mojosari pada tanggal 25 febuari
2016 pukul 09.40 WIB. Di poli bedah RSU Dr. Soekandar Mojosari klien mengatakan
sudah mengalami nyeri sekitar 1 minggu yang lalu. Klien dilakukan pemeriksaan oleh
dokter dan klien di diagnosa terkena apendiksitis. Dokter menyarankan agar klien
direncanakan rawat inap untuk persiapan operasi apendiks. klien mengatakan demam
sejak 2 hari yang lalu, lemas, pusing dan di perut bagian kanan bawah terasa nyeri
semakin bertambah sakit ketika bergerak dan nyeri timbul sewaktu-waktu. Nyeri
seperti diremas-remas. Nyeri perut kanan saat ditekan. Skala nyeri 6. Pemeriksaan
tanda-tanda vital klien didapat TD: 100/70mmHg, nadi: 96 x/menit, Suhu: 37,60C,
RR: 20x/menit.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan belum pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya dan belum
pernah melakukan operasi apapun.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak ada keluarga yang mempunyai penyakit yang sama.

B. KEBUTUHAN BIO-PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL
1. Oksigenasi/Bernapas
Sebelum sakit dan saat pengkajian pasien mengatakan tidak mengalami gangguan
baik saat menarik napas atau menghembuskan napas. RR= 20 x/m tanpa
menggunakan alat bantu nafas.
2. Eliminasi
Sebelum sakit : klien mengatakan BAB dan BAK normal
Saat pengkajian : klien mengatakan BAB lunak agak encer 2 kali sehari.
3. Makan dan Minum
Sebelum sakit : klien mengatakan biasa makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk dan
minum 8-10 gelas air putih sehari. Tidak ada pantangan makanan apapun.
Saat pengkajian : klien mengatakan tidak nafsu makan, makan hanya 1/2 porsi dari
yang disediakan RS dan minum hanya 4 gelas sehari
4. Istirahat tidur
Sebelum sakit : klien mengatakan biasa tidur malam dari jam 22.00 WIB – 04.00 WIB
tidak ada gangguan tidur. Klien jarang tidur siang.
Saat pengkajian : klien mengatakan mengalami gangguan tidur, yang terkadang
merasa nyeri saat tidur malam. Klien tidak bisa tidur karena memikirkan rencana
operasi yang akan dilakukan. Klien tampak lingkaran hitam pada mata
5. Gerak dan aktifitas
Sebelum sakit : klien mengatakan dapat beraktifitas dengan baik
Saat pengkajian : klien mengatakan gerak aktifitasnya terbatas akibat nyeri yang
dideritanya. Bertambah sakit jika bergerak dan hanya berbaring di tempat tidur.
6. Personal Hygiene
Sebelum sakit : klien mengatakan biasa mandi 2x sehari pagi dan sore
Saat pengkajian : klien mengatakan hanya di lap 2x sehari oleh keluarganya
7. Berpakaian
Sebelum sakit : klien mengatakan biasa memilih dan memakai baju sendiri
Saat pengkajian : klien mengatakan saat memakai baju dan celana klien dibantu
keluarganya ataupun melepas pakaian karena tangannya sebelah kanan terpasang
infus
8. Pengaturan suhu tubuh
Sebelum sakit : klien mengatakan suhu tubuhnya normal
Saat pengkajian : klien mengeluh tubuhnya panas dan suhu tubuh pasien 37,6’C
9. Rasa aman dan Nyaman
Sebelum Sakit : klien mengatakan tidak mengalami gangguan rasa aman dan nyaman
Saat pengkajian : klien mengatakan masih memikirkan keadaannya, merasa cemas
akan penyakit dan tindakan operasi yang akan dijalaninya. klien tampak cemas,
gelisah, sedikit berkeringat, klien tampak tidak nyaman dengan nyeri perut bagian
bawah kanan yang dialaminya, seperti diremas-remas, bertambah sakit jika kaki
digerakkan dan pasien mengatakan tidak nyaman dengan kondisinya.
10. Interaksi Sosial
Saat pengkajian pasien mengatakan interaksi dengan keluarga ataupun tenaga
kesehatan lainnya baik baik saja.
11. Prestasi dan produktifitas
Sebelum sakit : klien mengatakan dapat bersekolah kelas 3 SMP.
Saat pengkajian : klien mengatakan tidak dapat bersekolah lagi karena nyeri/sakit
yang dialaminya.
12. Rekreasi
Sebelum sakit : klien mengatakan melakukan rekreasi bersama keluarga kadang-
kadang
Saat sakit : klien mengatakan tidak dapat berekreasi seperti biasanya. Klien tidak
dapat bersekolah dan hanya menonton tv saja.
13. Ibadah Saat pengkajian pasien mengatakan tidak dapat beribadah karena sakit.

C. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum : Cukup

2. Kesadaran : Compos Mentis

3. Suhu : 37,6oC

4. Nadi : 80 x/ mnt

5. RR : 20 x/ mnt

6. TD : 100/70 mmHg
Keadaan Fisik Head to Toe
1. Kepala : Bentuk mesochepal, kulit kepala bersih, pertumbuhan rambut normal, warna
rambut hitam, tidak ada lesi atau benjolan, klien tampak gelisah, ekspresi wajah
tegang.

2. Mata : Bentuk simetris, pupil isokor, konjungtiva merah muda, Sklera unikterik,
pergerakan mata terkoordinasi, terdapat lingkar hitam pada mata

3. Hidung : Bentuk hidung simetris, tidak terdapat nyeri tekan, tidak terdapat lumen,
penciuman baik, mukosa hidung lembab, tidak ada pernafasan cuping hidung.

4. Mulut : Bentuk mulut simetris, mukosa bibir lembab, gigi bersih rapih, dan lidah
bersih, tidak ada stomatitis, meringis kesakitan.

5. Telinga : Bentuk telinga simetris, tidak terdapat nyeri tekan dan pendengaran baik.

6. Leher : Tidak ada pembengkakan, tidak ada nyeri tekan .

7. Thorax : Bentuk dada simetris, tidak ada retraksi otot/dinding dada, terdengar suara
Redup pada area jantung, sonor pada area paru, suara paru vesikuler.
8. Abdomen : Pemeriksaan fisik abdomen dilakukan dengan empat tahap inspeksi,
auskultasi, palpasi dan perkusi. Inspeksi didapat abdomen klien bersih. Auskultasi
abdomen klien didapat bising usus klien aktif di empat kuadran dengan frekuensi 12
kali/ menit.Palpasi yang dilakukan yaitu pemeriksaan pada area kanan bawah terdapat
nyeri tekan dan nyeri saat membungkuk/setiap gerak. Perkusi yang dilakukan terdapat
bunyi timpani. Klien sering memegangi perutnya yang sakit. Kulit teraba panas.

9. Genitalia : Jenis kelamin perempuan kelainan tidak terkaji

10. Anus : Tidak ada tanda tanda peradangan, kebersihannya cukup

11. Ekstremitas :
Atas : Tangan kanan terpasang IVFD RL 20 tpm
Bawah : Tidak terdapat luka, edema, ataupun sianosis pada kuku.
PEMERIKSAAN FISIK KHUSUS APENDIKSITIS
1. Nyeri tekan (+) Mc. Burney.

Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc. Burney
dan ini

merupakan tanda kunci diagnosis.

2. Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum.

Rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan
bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan
penekanan perlahan dan dalam di titik Mc. Burney.

3. Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietal.

4. Rovsing sign (+) adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila dilakukan
penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri
lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.

5. Psoas sign (+) terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan
yang terjadi pada apendiks.

6. Obturator sign (+) adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan
kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan
peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium (Departemen Bedah UGM,
2010)

D. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium
2. Terapi
a. Ceftriaxone 3 x 1 gram

b. IVFD RL 20 tpm

c. Ranitidin 2x50mg

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
2. Hipertermi berhubungan dengan infeksi/proses penyakit pada apendiks.

3. Kurang pengetahuan (tentang penyakit & pengobatan) berhubungan dengan kurang


informasi tentang penyakit dan prosedur tindakan.

4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur operasi

F. ANALISA DATA
NO. DATA ETIOLOGI DIAGNOSA
1. DS : Peradangan pada Nyeri akut
Klien mengeluh nyeri jaringan berhubungan
P :nyeri saat dibuat bergerak dengan agen cidera
Q : nyeri seperti di remas- Secresi mucus berlebih biologis
remas pada lumen apendik
R : perut bagian kanan bawah
S : nyeri skala 6 Apendic teregang
T : nyeri timbul sewaktu Spasme dinding
-waktu apendik
DO :
1.Klien Tampak meringis Nyeri akut
menahan nyeri dan terlihat
memegang perut bagian
kanan bawah. Pemeriksaan
tanda-tanda vital klien
didapat TD: 100/70mmHg,
nadi: 96 x/menit, Suhu:
37,60C, RR: 20x/menit

2. DS : invasi & multiplikasi Ansietas


Klien mengatakan appendicitis berhubungan
takut/merasa khawatir tentang operasi dengan kurang
kondisi yang dialaminya pengetahuan tentang
sekarang dengan rencana ansietas prosedur operasi
tindakan operasi yang
dijadwalkan tanggal 27
januari 2016.
Klien menyatakan cemas bila
mengingat penyakitnya.
DO :
TTV:
TD: 100/70 mmHg, N: 96
x/menit RR:20 x/menit.
klien tampak gelisah dan
ekspresi wajah tegang.
3. DS : Peradangan pada Hipertermi
Klien mengatakan demam / jaringan berhubungan
panas sejak 2 hari yang lalu Kerusakan kontrol suhu dengan
dan klien mengatakan terhadap inflamasi infeksi/proses
badannya meriang. Febris penyakit pada
DO : hipertermi apendiks.
Kulit teraba panas.Suhu:
37,60C, RR: 20x/menit.
G. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO. DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1. Nyeri akut setelah dilakukan a. Monitor nyeri, a. Melihat tingkat
berhungan tindakan lokasi, karakteristik, nyeri yang
dengan agen keperawatan pada dan integritas nyeri didapatkan sebagai
cidera biologis Nn. N selama 2x24 dengan skala (0-10) pendoman
jam diharapkan 1x/hari intervensi
nyeri akan b. Monitor tanda-tanda selanjutnya.
berkurang/hilang vital 1x/hari b. Perubahan tanda-
kriteria :Klien tidak c. Ajarkan teknik tanda vital
mengeluh nyeri lagi relaksasi: napas dalam merupakan indi-
pada saat d. Lakukan masase kator terjadinya
beraktivitas, nyeri pada daerah nyeri nyeri.
turun dari 6 menjadi e. Ajarkan teknik c. Teknik relaksasi
4 klien dapat kompres hangat (napas dalam) dapat
bergerak dengan f. Berikan posisi klien mening-katkan sup-
leluasa, tanda-tanda yang nyaman: duduk lain O2 ke jaringan
vital dalam batas g. Kaji pengalaman sehingga nyeri
normal. klien mengatasi nyeri berkurang.
d. Dapat
mengurangi nye-ri
e. Cara untuk
mengurangi nyeri.
f. Cara/respon
untuk mengurangi
nyeri
g. Mengetahui
pengalaman klien
dalam mengatasi
nyeri

2. Ansietas setelah dilakukan 1.Monitor tingkat Dengan mengetahui


berhubungan tindakan kecemasan klien tentang lingkup ke-
dengan kurang keperawatan pada 1x/hari. cemasan klien akan
pengetahuan Nn. N selama 2x24 2. Beri kesempatan memudahkan pe-
tentang jam diharapkan klien untuk nentuan intervensi
prosedur ansietas akan mengungkapkan se-lanjutnya.
operasi teratasidengan keluhannya. 2. Dengan
kriteria: Klien 3. Beri informasi mendengarkan
mengerti tentang tentang perawatan yang keluhan, klien akan
penyakit atau diper-lukan selama merasa diperhatikan
kondisi yang dirawat dan dapat
dialaminya. Klien 4. Ciptakan lingkungan mengurangi
kooperatif dalam yang nyaman dan kecemasannya.
perawatan dan tenang 3. Pemberian
pengobatan. informasi yang
Ekspresi wajah tidak adekuat dapat
tegang menurunkan
kecemasan klien
dan dapat
melakukan pera-
watan dengan baik.
4. Agar klien tidak
me-rasa bosan
dalam menghadapi
perawatan.
3. Hipertermi setelah dilakukan 1. Observasi TTV 1. Untuk
berhubungan tindakan terutama suhu mengetahui
dengan keperawatan pada perkembangan suhu
infeksi/proses Nn. N selama 2x24 2. Berikan kompres tubuh klien
penyakit pada jam diharapkan hangat 2. Membantu
apendiks. hipertermi akan 3. Anjurkan menghilangkan
teratasi dengan menggunakan pakaian panas secara
kriteria: Pasientidak tipis konduksi
demam, suhu 4. Batasi aktivitas fisik 3. Untuk membantu
tubuhpasien 5. Anjurkan banyak penguapan
dalambatas minum 4. Aktivitas dapat
normal(36,8 – 6. Kolaborasi dalam
37,30C.), kulitpasien pemberian antibiotic: meningkatkan
tidakteraba hangat, ceftriaxone 1gr. metabolism
kulitpasien tidak 5. Minum/cairan
kemerahan dapat membantu
mengatur suhu
tubuh
6. Antibiotic
berguna untuk
membunuh kuman
penyebab infeksi
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendix vermicularis dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering pada anak – anak maupun dewasa. apendisitis
akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling ditemukan pada anak – anak dan dewasa.
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Gejala awalnya hanya rewel dan tidak mau
makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Dalam beberapa jam kemudian
akan timbul muntah-muntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena gejala yang tidak
khas tadi, apendisitis sering diketahui setelah terjadi perforasi. Riwayat perjalanan penyakit
pasien dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang paling penting dalam mendiagnosis
apendisitis.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2014, Keperawatan Medikal Bedah: Jakarta: EGC.

Saydam, Gouzali, 2011. Memahami Berbagai Penyakit (Penyakit pernafasan dan Gangguan
Pencernaan): Bandung: Alfabeta.

Tsamsuhidajat & Wim De jong.2010,Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3, Jakarta: EGC.

Dermawan, Deden & Titik Rahayuningsih. 2010, Keparawatan Medikal Bedah (Sistem
Pencernaan): Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Arisandi, Defa, 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Apendisitis. Pontianak:
Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak.