Anda di halaman 1dari 55

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan di dunia maupun di

Indonesia. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh kuman

Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB paru merupakan penyakit menular

langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberkulosis.

Penyakit TB paru banyak menyerang kelompok usia kerja produktifdari kelompok

dengan sosial ekonomi danpendidikan rendah. Sebagian besar kuman TB menyerang

paru, namun dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Indonesia merupakan negara

yang termasuk sebagai 5 besar dari 22 negara di dunia dengan beban TB. Kontribusi

TB di Indonesia sebesar 5,8%. Saat ini timbul kedaruratan baru dalam

penanggulangan TB, yaitu TB Resisten Obat (Multi Drug Resistance/ MDR). 1

Menurut perkiraan WHO pada tahun 1999, jumlah kasus TB baru di Indonesia

adalah 583.000 orang per tahun dan menyebabkan kematian sekitar 140.000 orang

per tahun. World Health Organization memperkirakan bahwa TB merupakan penyakit

infeksi yang paling banyak menyebabkan kematian pada anak dan orang dewasa.

Kematian akibat TB lebih banyak daripada kematian akibat malaria dan AIDS. Pada

wanita, kematian akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan,

persalinan, dan nifas. Jumlah seluruh kasus TB anak dari tujuh Rumah Sakit Pusat

Pendidikan di Indonesia selama 5 tahun (1998−2002) adalah 1086 penyandang TB

dengan angka kematian yang bervariasi dari 0% hingga 14,1%. Kelompok usia

1
terbanyak adalah 12−60 bulan (42,9%), sedangkan untuk bayi <12 bulan didapatkan

16,5%.1

Penyebaran kuman Mycobacterium tuberkulosis terjadi melalui udara yang

menyebar melalui partikel percik renik (droplet nuclei) saat pasien tuberkulosis

batuk, berbicara, berteriak, menyanyi maupun bersin. Percik renik berukuran antara

1-5 mikron dan dapat bertahan di udara selama beberapa jam. Infeksi terjadi bila

seseorang menghirup percikan yang mengandung kuman TB melalui mulut atau

hidung, saluran pernafasan atas, brongkus hingga mencapai alveoli. Dalam 24 jam

percik renik dapat turun sejauh 3 meter. 2

Pencegahan dan pengendalian infeksi TB (PPI TB ) adalah upaya

meminimalkan resiko terjadinya infeksi TB. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

TB bagi petugas kesehatan sangatlah penting untuk mencegah tersebarnya kuman TB,

mengurangi penularan TB dan melindungi petugas kesehatan, pengunjung dan pasien

dari penularan TB. PPI TB merupakan bagian dari kegiatan PPI secara umum di

fasilitas pelayanan kesehatan. 2

Prinsip pencegahan infeksi adalah suatu upaya untuk mencegah resiko

penularan TB pada waktu kegiatan penemuan pasien TB, penegakan diagnosis dini

dan pengobatan secepatnya. Semua fasilitas kesehatan perlu menerapkan upaya PPI

TB untuk menastikan dilaksanakannya deteksi dini, pemberian OAT secepat mungkin

dan mencegah orang lain terinfeksi.2

Pendekatan keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan

jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di

wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Puskesmas tidak hanya

2
menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung, melainkan juga keluar

gedung dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya.3

Keluarga sebagai fokus dalam pendekatan pelaksanaan program Indonesia

Sehat, karena menurut Friedman (1998), terdapat lima fungsi keluarga, 1. Fungsi

afektif (The Affective Function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk

mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan

dengan orang lain,2 Fungsi sosialisasi yaitu proses perkembangan dan perubahan

yang dilalui individu yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam

lingkungan sosialnya, 3. Fungsi reproduksi (The Reproduction Function) adalah

fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga, 4.

Fungsi ekonomi (The Economic Function) yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi

kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan

individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.5. Fungsi

perawatan atau pemeliharaan kesehatan (The Health Care Function) adalah untuk

mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki

produktivitas yang tinggi.3

Pendekatan keluarga yang dimaksud merupakan pengembangan dari

kunjungan rumah oleh Puskesmas dan perluasan dari upaya Perawatan Kesehatan

Masyarakat (Perkesmas), yang meliputi kegiatan berikut; 1. Kunjungan keluarga

untuk pendataan/pengumpulan data Profil Kesehatan Keluarga dan peremajaan

(updating) pangkalan datanya; 2. Kunjungan keluarga dalam rangka promosi

kesehatan sebagai upaya promotif dan preventif; 3. Kunjungan keluarga untuk

menidaklanjuti pelayanan kesehatan dalam gedung; 4. Pemanfaatan data dan

3
informasi dari Profil Kesehatan Keluarga untuk pengorganisasian/ pemberdayaan

masyarakat dan manajemen Puskesmas.3

Keberhasilan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga diukur

dengan Indeks Keluarga Sehat, yang merupakan komposit dari 12 indikator. Semakin

banyak indikator yang dapat dipenuhi oleh suatu keluarga, maka status keluarga

tersebut akan mengarah kepada Keluarga Sehat. Sementara itu, semakin banyak

keluarga yang mencapai status Keluarga Sehat, maka akan semakin dekat tercapainya

Indonesia Sehat. Salah satu dari 12 indikator tersebut adalah Penderita tuberkulosis

paru mendapatkan pengobatan sesuai standar. Oleh karena itu dalam program

keluarga binaan kali ini kami mencoba melakukan pembinaan pada salah satu

keluarga yang di mana dalam keluarga tersebut terdapat kasus tuberkulosis. Program

keluarga binaan kali ini bertujuan mengidentifikasi masalah klinis pada pasien dan

keluarga serta faktor-faktor yang berpengaruh, menyelesaikan masalah klinis pada

pasien dan keluarga, dan mengubah perilaku kesehatan pasien dan keluarga serta

mangajak partisipasi seluruh anggota keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan

terutama dalam pencegahan dan penatalaksanaan tuberkulosis. 3

1.2. Tujuan Penulisan


- Mengindentifikasi masalah kesehatan pada keluarga yang menderita penyakit

tuberkulosis
- Menentukan solusi untuk menangani masalah kesehatan yang ditemukan pada

pasien dan keluarganya

4
- Memberikan pengetahuan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit

tuberkulosis, penyebab, cara penularan, cara pencegahan dan pentingnya

pengobatan pada penyakit tuberkulosis


1.3. Manfaat Penulisan
- Dapat menjadikan masukan pada masyarakat, petugas Puskesmas dan

khususnya sebagai upaya untuk mencegah berkembangnya penyakit

Tuberkulosis di Indonesia
- Sebagai bahan pembelajaran dan menambah pengetahuan penulis dalam

menganalisa dan memberikan solusi pada permasalahan yang dihadapi oleh

keluarga binaan penulis.


1.4. Metode Kegiatan

Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah pembinaan langsung keluarga

binaan yang berobat ke puskesmas Air Dingin, keluarga dikunjungi beberapa kali dalam 1

bulan. Pembinaan ini meliputi penatalaksanaan yang komprehensif yaitu promotif, preventif,

kuratif dan rehabilitatif terhadap masalah TB Paru di keluarga tersebut.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi

Tuberkulosisadalah penyakit infeksiusyang disebabkan oleh infeksi dari bakteri

Mycobakterium tuberculosis.Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat

juga mengenai organ tubuh lainnya termasuk meningen, ginjal, tulang, dan nodus

limfe. TB paru ini bersifat menahun dan secara khas ditandai oleh pembentukan

5
granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. TB paru dapat menular melalui

udara, ketika seseorang dengan TB aktif pada paru batuk, bersin atau bicara.4

2.2. Klasifikasi

Klasifikasi TB menurut Depkes (2007) yaitu:4

Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:

 Tuberkulosis paru: Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang

jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada

hilus.

 Tuberkulosis ekstra paru: Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain

selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar

lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-

lain.

Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada:

1. Tuberkulosis paru BTA positif

 Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.

 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada

menunjukkan gambaran tuberkulosis.

 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman Tb positif.

 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS

pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan

setelah pemberian antibiotika non OAT.

6
2. Tuberkulosis paru BTA negatif

Kriteria diagnostik Tb paru BTA negatif:

 Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.

 Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.

 Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

 Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan

sebelumnya:

 Kasus baru: pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah

menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).

 Kasus kambuh (relaps): pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat

pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh tetapi kambuh lagi.

 Kasus setelah putus berobat: pasien yang telah berobat dan putus berobat 2

bulan atau lebih dengan BTA positif.

 Kasus setelah gagal: pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau

kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

 Kasus lain: semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas, dalam

kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan

masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. 5(Hasan H, 2010)

2.3. Etiologi

7
TB disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Bakteri ini berbentuk

batang lurus atau sedikit melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Ukuran

panjang sekitar 1 – 4 µm dan lebar 0,3 – 0,6 µm. Bakteri ini dapat menyebar melalui

udara. Bakteri MTB dapat terhirup jika terjadi kontak dengan penderita tuberculosis

atau melalui udara yang sudah dicemari penyakit TBC melalui batuk.5

Setelah memasuki tubuh, bakteri masih belum aktif melainkan akan “tidur”

selama beberapa waktu. Periode ini disebut masa inkubasi. Karena bakteri tidak aktif,

maka tidak akan ada gejala dan tidak pula menular. Jika pasien mengikuti tes

bakteri MTB, hasilnya akan positif meskipun tidak ada tanda-tanda sama sekali.6

Dari sepuluh orang yang terinfeksi bakteri MTB, hanya satu orang yang

biasanya akan berkembang menjadi terjangkit penyakit TB. Bakteri akan menyerang

tubuh ketika sistem kekebalan tidak mampu melawannya, atau bakteri tersebut

menunggu hingga sistem kekebalan melemah (misalnya pada orang lanjut usia, atau

pada penderita HIV). Jadi, masa inkubasi akan berbeda pada setiap orang.5,6,7

2.4. Gejala

Saat masa inkubasi TBC, penderita biasanya tidak menunjukkan gejala apapun

dan penyakit belum menular. Ketika tuberkulosis sudah berkembang, gejala-gejala

pun mulai terlihat.5

Tergantung pada organ mana yang diserang, gejala TBC bisa berupa batuk yang

berlangsung 2 minggu atau lebih, dahak atau batuk darah, sesak napas, demam atau

8
meriang, berkeringat di malam hari tanpa ada aktivitas fisik, penurunan berat badan,

kehilangan nafsu makan, lelah dan lemah.5,6

2.5. Pemeriksaan Fisik


Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur

paru.Pada awal perkembangan penyakit umumnya sulit untuk ditemukan kelainan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan:


Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris, namun kadang terdapat

retraksi rongga dada, difragma dan mediatinum.


Palpasi : Fremitus biasanya meningkat
Perkusi : Tergantung dari beratnya TB, bisa dari pekak sampai redup
Auskultasi : Suara nafas bronchial, amforik, suara nafas lemah, ronkhi basah
2.6. Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi

Pemeriksaan bakteriologis pada spesimen berupa sputum, cairan pleura,cairan serebro

spinalis, bilasan lambung, bronkoalveolar lavage, urin, ataujaringan biopsi berperan besar

dalam menegakkan diagnosis TB. Pemeriksaanhapusan sputum harus dilakukan pada pasien

yang suspek tuberkulosis untukmenemukan basil tahan asam. Pemeriksaan dilakukan 3 kali

yaitu sputum sewaktu/pagi/sewaktu (SPS) dengan pewarnaan Ziehl-Nielsen atau Kinyoun

Gabbet,kemudian diinterpretasikan berdasarkan skala IUATLD atau bronkhorst. Hasil

pemeriksaan dinyatakan positif jika ditemukan BTA (+) sedikitnya 2 dari 3 spesimen. Jika

hanya 1 spesimen yang positif, maka perlu dilakukan pemeriksaan foto toraks atau sputum

SPS ulang.5

Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakan dengan

pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun

pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi

sebagai berikut:

9
 Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPShasilnya BTA positif. Pada kasus ini

pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB

paru BTA positif


 Ketiga specimen dahak hasilnya tetap negative setelah 3 spesimen dahak

SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya negative dan tidak ada

perbaikan setelah pemberian antibiotic non OAT.


 Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang

memerlukan penangan khusus (seperti: pneumotoraks, pleuritis

eksudativa, efusi perikarditis atau efusi pleural) dan pasien yang

mengalami hemoptosis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau

aspergiloma).

Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi aktif akan tampak bayangan

berawan di segmen apical dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus

bawah, ditemukan kavitas atau bayangan bercak milier. Pada lesi TB inaktif tampak

gambaran fibrotic, kalsifikasi dan penebalan pleura.5

2.7. Diagnosis

10
11
Gambar 2.1: Algoritma diagnosis TB Paru pada (dikutip dari Pedoman Nasional

Pengendalian Tuberkulosis8)

Diagnosis TB ditegakkan jika terdapat paling sedikit satu specimenkonfirmasi M.

tuberculosis atau sesuai dengan gambaran histologi TB ataubukti klinis dan radiologis sesuai

TB.6

2.8. Program Penanggulangan

Strategi Directly Observed Treatment Short course (DOTS) mulai diterapkan oleh

Program Nasional Pengendalian Tuberkulosis pada tahun 1995 dan dilaksanakan di

Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di

seluruh fasilitas pelayanan kesehatan terutama Puskesmas. Hingga tahun 2011, tercatat 98%

Puskesmas yang terlibat dalam program Pengendalian TB dengan strategi DOTS, sementara

di rumah sakit umum dan Balai Besar/Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BB/BKPM)

mencapai sekitar 50%.9

Program penanggulangan TB Nasional memiliki target sebagai berikut:

a. Mulai tahun 2005 menemukan pasien baru TB BTA positif palingsedikit 70%

dari perkiraan pasien baru TB BTA positif.


b. Menyembuhkan paling sedikit 85% dari semua pasien baru TB BTA positif

yang diobati.

Kenaikan angka penemuan semua kasus TB sebesar 5% dari capaian tahun

sebelumnya. Sementara itu Millenium Development Goals (MDGs) menargetkan angka

insidens dan kematian akibat TB pada tahun 2015 dapat diturunkan sebesar 50% dibanding

tahun 1990.9 Menurut Kemenkes RI 2011 didalam Strategi Nasional Pengendalian TB di

Indonesia 2010-2014, ada dua pendekatan utama yang digunakan dalam PAL (practical

approach to lung health) yang berhubungan dengan penanggulangan TB yaitu:

a. Standardisasi diagnosis dan pengobatan pada gangguan respirasi

12
b. Koordinasi diantara para petugas kesehatan.

Pendekatan ini sangat membantu dalam upaya peningkatan penemuan kasus TB

melalui strategi DOTS.

2.9. Pengobatan
1. Tujuan pengobatan TB
Berdasarkan PDPI (2011) pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk10:
a. Menyembuhkan pasien dan mengembalikan kualitas hidup sertaproduktivitas
b. Mencegah kematian akibat TB aktif atau efek lanjutannya
c. Mencegah kekambuhan
d. Mengurangi penularan kepada orang lain
e. Mencegah resistensi obat dan penularannya.
2. Obat Anti Tuberkulosis
Obat- obatan yang digunakan untuk mengatasi TB terdiri atas beberapa lini yaitu

obat lini pertama (isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, streptomisin), obat lini

kedua (kanamisin, kapreomisin, amikasin, kuinolon, sikloserin, etionamid, para -

amino salisilat, dan obat- obatan lain yang efektivitasnya belum jelas seperti makrolid,

amoksisilin + asam klavulanat, linezolid, clofazimin. 10 Di United State streptomisin

termasuk pada lini kedua.4


Pengobatan TB diberikan melalui 2 fase yaitu fase intensif selama2-3 bulan dan

fase lanjutan selama 4 bulan.10 Berdasarkan Standar 8 International Standards for

Tuberculosis Care, semua pasien yang belum pernah diobati dan tidak ada risiko

resistensi obat harus menerima panduan pengobatan lini pertama yang disepakati

WHO dengan menggunakan obat yang bioavailabilitasnya telah diketahui. Fase inisial

harus terdiri atas isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Fase lanjutan

terdiri atas isoniazid dan rifampisin yang diberikan selama 4 bulan. Dosis obat anti TB

yang digunakan harus sesuai dengan rekomendasi WHO. 11 Kombinasi dosis tetap yang

terdiri atas kombinasi 2 obat (isoniazid dan rifampisin), 3 obat (isoniazid, rifampisin,

dan pirazinamid), dan 4 obat (isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol) sangat

direkomendasikan.8WHO menyarankan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT)

13
dalam kombinasi dosis tetap (KDT) untuk mengurangi risiko timbulnyaTB resisten

obat. Pemberian KDT dinilai mampu meningkatkan kepatuhan pasien dalam meminum

obat karena jumlah butir obat yang diminum lebih sedikit dan bisa meminimalisir

kesalahan dokter dalam meresepkan obat karena dibuat berdasarkan berat badan. 9
a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:

 Pasien baru TB paru BTA positif.


 Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
 Pasien TB ekstra paru

Tabel 2.1.

Tabel 2.2.

b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati

sebelumnya:

 Pasien kambuh
14
 Pasien gagal
 Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

Tabel 2.3.

3. Efek Samping Obat


Tabel 2.4. Efek samping OAT dan penatalaksanaannya

4.

4.

4.

4.

4.

4.

4.

4.

Hasil Pengobatan
Definisi kasus hasil pengobatan.10
a. Sembuh: pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dengan

hasil pemeriksaan sputum negatif pada akhir pengobatan dan pada satu pemeriksaan

15
sebelumnya.Pada rontgen toraks, gambaran radiologi serial (minimal 2 bulan) tetap

sama/ ada perbaikan.5


b. Pengobatan lengkap: pasien yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap

tetapi tidak atau belum memiliki hasil pemeriksaan sputum atau kultur pada akhir

pengobatan.
c. Gagal pengobatan: pasien yang hasil pemeriksaan sputumya (BTA atau kultur)

positif pada bulan kelima atau lebih dalam masa pengobatan.


d. Meninggal: pasien yang meninggal dalam masa pengobatan dengan penyebab

apapun.
e. Putus berobat: pengobatan terputus dalam waktu dua bulan berturut-turut atau lebih
f. Pindah: pasien pindah berobat ke unit yang berbeda (pencatatan dan pelaporan) dan

hasil akhir pengobatan belum diketahui.


g. Pengobatan sukses / berhasil: jumlah pasien yang sembuh ditambahpengobatan

lengkap.
2.10. Komplikasi10

Pada pasien tuberculosis dapat terjadi beberapa komplikasi baik sebelum

pengobatan atau dalam masa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan.

Beberapa komplikasi yang akan timbul adalah:

1. Batuk darah
2. Pneumotoraks
3. Luluh paru (destroyed lung)
4. Gagal nafas
5. Gagal jantung
6. Efusi pleura

BAB 3

KELUARGA BINAAN

3.1. Laporan Keluarga Binaan

16
Nama Kepala Keluarga : Tn. Batdrianto

Alamat : Palam Ria Indah Gurun Lawas Blok D no 14, RT/RW

004/005, Kelurahan Gurun Laweh nan XX, Kecamatan

Lubuk Begalung, Kota Padang

1. Latar Belakang Sosial – Ekonomi – Demografi – Lingkungan Keluarga


a. Status perkawinan : Menikah
b. Jumlah anak :4
c. Status ekonomi keluarga : Menengah ke atas
d. Kondisi Rumah :

 Rumah permanen dua lantai, berukuran ± 6 x 16 m2, terdiri dari ruang

tamu, 4 kamar tidur, dapur, dan 3 buah kamar mandi. Rumah ini dihuni oleh

8 orang anggota keluarga.

 Ventilasi dan pencahayaan cukup. Jendela dan pintu ruang tamu sering

terbuka terutama kamar tidur pasien. Penerangan rumah dengan listrik.

 Lantai keramik, disapu 1 kali sehari, dipel 1 minggu sekali. Barang

rumah tangga tersusun cukup rapi. Ruang tamu cukup tertata rapi.

 Sumber air bersih: sumur. Sumber air minum dari air sumur yang

dimasak dan air galon.

 Septic tank ada, berjarak 5 meter dari rumah. Limbah rumah tangga

disalurkan ke selokan di belakang rumah.

 Sampah dikumpulkan ke tempat pembuangan sampah.

 Pekarangan tidak ada. Pasien menjemur pakaian di pagar depan

rumah.

Kesan: higiene dan sanitasi lingkungan cukup baik.

17
e. Kondisi Lingkungan Keluarga

 Keluarga pasien tinggal di pemukiman yang padat. Jarak rumah pasien

dengan rumah tetangga tidak ada. Akses ke rumah pasien dengan

menggunakan mobil. Jarak rumah ke jalan raya ± 500 meter. Jarak

rumah ke puskesmas ± 2 km.

2. Keluhan Utama
Pasien sudah didiagnosis menderita tuberkulosis paru dan sudah menjalankan

pengobatan OAT kategori 1 fase intensif selama 2 bulan dan sekarang menjalani

pengobatan OAT kategori 1 fase lanjutan bulan ke-1


3. Riwayat Penyakit Sekarang
- Pasien sudah didiagnosis menderita tuberkulosis paru oleh Sp. PD melalui foto

rontgent thorak dan sudah menjalankan pengobatan OAT kategori 1 fase

intensif selama 2 bulan dan sekarang menjalani pengobatan OAT kategori 1

fase lanjutan bulan ke-1.


- Batuk sejak 4 bulan lalu, tidak berdahak, tidak berdarah, setelah mendapatkan

OAT batuk berkurang, dan saat ini keluhan batuk tidak ada.
- Sesak nafas kadang muncul saat aktivitas berat, sesak menghilang saat

beristirahat.

- Nafsu makan menurun ada, namun kini nafsu makan pasien telah membaik.

- Demam ada sejak 4 bulan lalu, tidak tinggi, hilang timbul, tidak disertai

keringat dingin dan tidak mengigil. Saat ini demam tidak ada.
- Keringat malam hari ada sejak 4 bulan lalu. Saat ini keringat malam sudah tidak

ada
- Penurunan berat badan ada ±6 kg dalam 2 bulan .
- Mual dan muntah tidak ada.
- Tubuh tampak kuning tidak ada.
- Gatal yang berlebihan pada kulit tidak ada.
- Gangguan pendengaran atau penglihatan tidak ada.

18
- Riwayat kontak dengan penderita dan tetangga yang batuk lebih dari 2 minggu

tidak ada.
- BAK dan BAB pasien dalam batas normal.
4. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis kooperatif
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 78 x/menit
Nafas : 18 x/menit
Suhu : 36,7o C
Status Gizi
BB : 45 kg
TB :160 cm
BMI : 17, 5 (gizi kurang)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
THT : Serumen (+)
Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening
Paru :I : Normochest, pergerakan dinding dada simetris kiri
dan kanan saat statis dan dinamis
Pa : Fremitus kiri = kanan
Pe : Sonor
A : Vesikuler, Rh -/-, Wheezing -/-
Jantung :I : Iktus terlihat 1 jari medial LMCS RIC V
Pa : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Pe : Batas jantung normal
A : Irama teratur, bising tidak ada
Abdomen :I : Tidak tampak membuncit
Pa : Supel, hepar – lien tidak teraba
Pe : Timpani
A : Bising usus (+) normal
Punggung : Tidak ditemukan kelainan
Anggota gerak : Akral hangat, refilling kapiler < 2 detik, edema tidak ada
5. Diagnosis Kerja : TB paru dalam pengobatan OAT fase lanjutan

3.2 Data Demografi Keluarga


Tabel 3.1. Anggota keluarga yang tinggal serumah

No Nama Kedudukan Gender Umur Pendidikan Pekerjaan


dalam
keluarga

19
1 Tn. Suami Laki-laki 61th SMA Wiraswasta
Batdrianto
2 Ny. Istri Perempuan 59 Th SMA IRT
Rosnibar
3 Shintani Anak Perempuan 30 Th Tidak Tidak
Widia Sekolah Bekerja
Sakti
4 Ny. Anak Perempuan 27 Th D3 PNS
Lusianda
Nike Sari
7 Gebi Anak Perempuan 22 Th SMA Mahasiswa
Mustika
8 Tari Sang Anak Perempuan 21 Th D3 Belum
Suci Bekerja
9 Danis Cucu Laki-laki 3,5 - -
Rayyan bulan
Altair

Tabel 3.2. Evaluasi keluarga menggunakan indikator pendataan keluarga sehat :

No Indikator Ya / Tidak
1. Keluarga mengikuti program KB Tidak
2. Ibu bersalin di Faskes Ya
3. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap Ya
4. Bayi mendapat ASI ekslusif Ya
5. Balita mendapat pemantauan pertumbuhan ya
6. Penderita TB mendapat pengobatan sesuai standar Ya
7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan teratur -
8. Penderita gangguan jiwa mendapat pengobatan teratur -
9. Anggota keluarga tidak ada yang merokok Tidak
10. Keluarga sudah menjadi anggota JKN Ya

20
11. Keluarga memiliki akses sarana air bersih Ya
12. Keluarga memiliki akses jamban sehat Ya
(-) Tidak ada penderita dikeluarga

3.3 Genogram

Keterangan:
: Perempuan
: Laki-Laki
: Pasien
: Serumah
3.4 Eco-map

Kesehatan Individu

a. Nama / Jenis Kelamin / Umur: Tn. Batdrianto / Laki-laki / 61 tahun

Pekerjaan / Pendidikan : Wiraswasta / SMA

21
Hubungan dengan pasien : Ayah kandung

Riwayat kebiasaan :

- Ayah pasien seorang perokok aktif, merokok 1 bungkus sehari,

jarang berolahraga.

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung, dan keganasan tidak ada.

b. Nama / Jenis Kelamin / Umur: Ny. Rosnibar /Perempuan / 59 tahun

Pekerjaan / Pendidikan : Ibu Rumah Tangga/ SMA

Hubungan dengan Pasien :Ibu kandung

Riwayat kebiasaan :

- Ibu pasien seorang Ibu rumah tangga, jarang berolahraga dan mudah

cemas akan kondisi keluarga

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat batuk- batuk lama disangkal.

- Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung, dan keganasan tidak ada.

c. Nama / Jenis Kelamin / Umur: Shintani Widia Sakti / Perempuan / 30

tahun

Pekerjaan / Pendidikan : Tidak bekerja / tidak sekolah

Hubungan dengan Pasien : Kakak kandung

Riwayat kebiasaan :

22
- Aktivitas harian terbatas

Riwayat penyakit dahulu :

- Kakak pasien seorang penderita retardasi mental sejak lahir akibat

asfiksia neonatorum, sehingga aktivitas sehari – hari dibantu oleh

keluarga.

- Riwayat batuk- batuk lama disangkal

- Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung, dan keganasan tidak ada.

d. Nama / Jenis Kelamin / Umur: Ny. Lusianda Nike Sari/ Perempuan / 27

tahun

Pekerjaan / Pendidikan :PNS/ D3

Hubungan dengan Pasien :Kakak kandung

Riwayat kebiasaan :

- Kakak pasien seorang pegawai kantor pajak, aktivitas harian biasa dan

memberikan ASI eksklusif.

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat batuk- batuk lama disangkal

- Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung, dan keganasan tidak ada

e. Nama / Jenis Kelamin / Umur: Gebi Mustika/ Perempuan / 22 tahun

Pekerjaan / Pendidikan : Mahasiswa/ SMA

Hubungan dengan Pasien :Kakak kandung

Riwayat kebiasaan :
23
- Kakak pasien seorang mahasiswa, aktivitas harian biasa.

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat batuk- batuk lama disangkal

- Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung, dan keganasan tidak ada.

f. Nama / Jenis Kelamin / Umur: Danis Rayyan Altair / Laki-laki / 3.5 bulan

Pekerjaan / Pendidikan :Belum sekolah

Hubungan dengan Pasien :Keponakan

Riwayat kebiasaan :

- Keponakan pasien dengan status gizi normal, pertumbuhan dan

perkembangan baik.

Riwayat penyakit dahulu :

- Tidak ada kelainan kongenital

- Tidak pernah sakit seperti pasien

- Tidak ada penyakit menular lainnya

Riwayat imunisasi:

- Lengkap

24
APGAR SCORE KELUARGA

Skoring:

- Hampir selalu : 2 poin


- Kadang-kadang : 1 poin
- Hampir : 0 poin

Tabel 3.3. APGAR Tari Sang Suci (Pasien)

APGAR Sering/selalu Kadang- Jarang/tidak


kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke √
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya √


membahas dan membagi masalah
dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya √
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya √
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya √


dan saya membagi waktu bersama-
sama

Rekomendasi nilai APGAR Tari Sang Suci untuk keluarga: 9 poin

25
Tabel 3.4. APGAR Ny. Rosnibar (Ibu)

APGAR Sering/selalu Kadang- Jarang/tidak


kadang
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke √
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya √


membahas dan membagi masalah
dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya √
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya √
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya √


dan saya membagi waktu bersama-
sama

Rekomendasi nilai APGAR Ny. Rosnibar untuk keluarga: 10 poin

3.5 SCREEM

Social (+): interaksi dengan tetangga baik,

26
keluarga ikut kegiatan sosial yang
diadakan masyarakat setempat bila
tidak berhalangan hadir
(-): -
(+): keluarga mengikuti semua
budaya, tatakrama yang ada tanpa
Culture adanya paksaan dari siapapun dan
keluarga menyadari penuh mengenai
etika dan sopan santun
(-): -
(+): Keluarga ini beragama Islam dan
selalu menjalankan ibadah wajib
Religious
sesuai waktunya.
(-): -
(+): Berasal dari golongan ekonomi
menengah ke atas. Penghasilan
Economic keluarga berasal dari orangtua pasien
yakni ± Rp 5.000.000/bulan
(-): -
(+): Kepala keluarga dan pasien
Educational
adalah tamatan SMA.
(-): -
(+): Anggota keluarga bisa
Medical mendapatkan pelayanan kesehatan
yang memadai.
(-): -

3.6 Family Lifeline

Year Life Event

1985 Orang tua pasien menikah


1988 Anak pertama lahir
1991 Anak kedua lahir
1996 Anak ketiga lahir

27
1997 Anak keempat lahir (pasien)
2018 Cucu pertama lahir

3.7 Fungsi-fungsi dalam keluarga


Tabel 3.5. Fungsi-fungsi dalam keluarga

Fungsi Keluarga Penilaian Kesimpulan pembina


untuk fungsi keluarga
yang bersangkutan
Biologis: a. menilai fungsi Keluarga masih belum
Adalah sikap dan
biologis keluarga mengetahui masalah
perilaku keluarga selama
berjalan dengan baik / biologisnya dengan baik,
ini dalam menghadapi
tidak belum memahami
risiko masalah biologis,
b. mengidentifikasi bagaimana mengatasi atau
pencegahan, cara
kelemahan / disfungsi mencegah masalah
mengatasinya dan
biologis dalam tersebut sehingga keluarga
beradaptasi dengan
keluarga juga tidak tahu bagaimana
masalah biologis
c. menjelaskan dampak dampak yang ditimbulkan
(masalah fisik
disfungsi biologis kedepannya dari masalah
jasmaniah)
terhadap keluarga. yang mereka hadapi saat
ini.
Namun setelah diberikan
penjelasan, keluarga mau
merubah pola pikir dan
perilaku mengenai
penyakitnya.
Untuk permasalahan
kesehatan dalam keluarga,
keluarga binaan
menyikapinya dengan

28
berobat ke Puskesmas air
Dingin dan juga ke
praktek swasta. Untuk
kasus TB, pasien rutin
mengambil obat di
Puskesmas Air Dingin.
Psikologis: a. mengidentifikasi Keluarga mampu
Adalah sikap dan
sikap dan perilaku membangun hubungan
perilaku keluarga selama
keluarga dalam antar anggota keluarga,
ini dalam membangun
membangun hubungan memelihara kepuasan
hubungan psikologis
psikologis internal anggota keluarga, dan bisa
internal antar anggota
antar anggota keluarga. menyelesaikan masalah
keluarga. Termasuk
b. mengidentifikasi dengan baik apabila
dalam hal memelihara
cara keluarga dalam hal terjadi perbedaan
kepuasan psikologis
memelihara
kepuasan pendapat diantaranya.
seluruh anggota keluarga Di lingkungan sekitar
psikologis seluruh
dan manajemen keluarga pasien, pasien sedikit
anggota keluarga
dalam mengahadapi merasa rendah diri karena
c. identifikasi dan
masalah psikologis pasien malu menggunakan
menilai manajemen
masker, namun keluarga
keluarga dalam
memberikan dukungan
menghadapi masalah
dan motivasi kepada
psikologis.
pasien agar tetap
menggunakan masker
dalam aktivitas sehari-
hari.
Sosial : a. menilai sikap dan Keluarga bisa berbaur
Adalah sikap dan
perilaku keluarga dengan baik di tengah
perilaku keluarga selama
selama ini dalam masyarakat. Pendidikan
ini dalam
mempersiapkan formal orang tua

29
mempersiapkan anggota anggota keluarga untuk mencapai SMA serta tidak
keluarga untuk terjun ke terjun ke tangah mempunyai/mengikuti
tengah masyarakat. masyarakat. pendidikan informal.
Termasuk didalamnya b. membuat daftar Akan tetapi, anak pertama
pendidikan formal dan pendidikan formal dan menderita retardasi mental
informal untuk dapat informal (termasuk sejak lahir sehingga tidak
mandiri kegiatan organisasi) bisa bersosialisasi dengan
yang didapat anggota lingkungan sekitar, anak
keluarga untuk dapat kedua bekerja di kantor
mandiri ditengah perpajakan, dan anak
masyarakat. ketiga sedang menjalani
pendidikan strata I di
perguruan tinggi.
Ekonomi dan a. menilai sikap dan Keluarga cukup mampu
perilaku keluarga memenuhi kebutuhan
pemenuhan kebutuhan:
Adalah sikap dan selama ini dalam usaha harian dan berusaha untuk
perilaku keluarga selama pemenuhan kebutuhan melingkapi kebutuhan
ini dalam usaha primer, sekunder dan primer dan sekunder yang
pemenuhan kebutuhan tertier. berasal dari orangtua dan
primer, sekunder dan kakak kedua pasien.
b. menilai gaya hidup Keluarga mengkonsumsi
tertier
dan prioritas makanan seimbang namun
penggunaan uang kurang olahraga.

3.8 Data Risiko Internal Keluarga


Tabel 3.6 Perilaku kesehatan keluarga

30
Perilaku Sikap dan perilaku Kesimpulan pembina
keluarga yang untuk perilaku
menggambarkan keluarga
perilaku tersebut
Kebersihan pribadi dan Pasien merupakan Secara umum,
lingkungan seorang tamatan D3, kebersihan pribadi pasien
Apakah tampilan
tampilan individual rapi dan keluarga sudah
individual dan
dan lingkungan cukup cukup baik.
lingkungan bersih dan
bersih. Keseharian
terawat, bagaimana
pasien di rumah
kebiasaan perawatan
membantu pekerjaan
kebersihannya
rumah tangga.
Pintu dan jendela kamar
pasien sering dibuka
sehingga cahaya
matahari dapat masuk
dan sirkulasi udara
bagus.
Pencegahan spesifik Keluarga mau Perhatian pasien dan
Termasuk perilaku
mengikuti program keluarga terhadap
imunisasi anggota
kesehatan oleh pencegahan penularan
keluarga, ANC, gerakan
pemerintah dan penyakit dinilai baik.
pencegahan penyakit lain
memiliki
yang telah dianjurkan
keingintahuan
(baik penyakit menular
tentang bagaimana
maupun tidak menular)
perjalanan dari
penyakit TB yang
dialami pasien, dan
pencegahannya,
selain itu keluarga

31
juga pedulian
terhadap pencegahan
penyakit menular
lainnya.
Gizi Keluarga Setiap hari ibu pasien Pasien dan keluarganya
Pengaturan makanan
memasak dengan menu mengkonsumsi makanan
keluarga, mulai cara
yang berbeda, dimulai seimbang walaupun
pengadaan, kuantitas dan
dari makanan pokok kurang konsumsi buah-
kualitas makanan serta
dan sayuran. Pasien buahan dan sayur-
perilaku terhadap diet
tidak rutin sayuran.
yang dianjurkan bagi Pasien dianjurkan untuk
mengkonsumsi buah-
penyakit tertentu pada meningkatkan status
buahan dan sayuran.
anggota keluarga gizinya dengan
Pasien mengonsumsi
mengonsumsi makanan
susu setiap hari. Status
tinggi protein setiap hari
Gizi pasien tergolong
disertai konsumsi buah
gizi kurang
dan sayur

Latihan Pasien dan keluarga Menganjurkan olahraga


jasmani/aktifitas fisik jarang melakukan minimal tiga kali
Kegiatan keseharian
olahraga meskipun seminggu ± 30 menit.
untuk menggambarkan
ketika sedang libur
apakah sedentary life
bekerja.
cukup atau teratur dalam
latihan jasmani. Physical
exercise tidak selalu
harus berupa olahraga
seperti sepak bola,
badminton, dsb
Penggunaan pelayanan Pasien rutin berobat ke Dalam penggunaan
kesehatan puskesmas untuk pelayanan kesehatan dinilai

32
Perilaku keluarga apakah mengambil obat TB. cukup baik.
datang ke posyandu, Bayi yang ada di rumah
puskesmas, dsb untuk pasien rutin dibawa ke
preventif atau hanya Posyandu
kuratif, atau kuratif ke
pengobatan
komplimenter dan
alternatif (sebutkan
jenisnya dan berapa
keseringannya)
Kebiasaan / perilaku Pasien memiliki Pasien dianjurkan untuk
lainnya yang buruk kebiasaan sering tidak bergadang. Apabila
untuk kesehatan bergadang hampir ada kesibukan, maka
Misalnya merokok,
setiap malam hari. dianjurkan diselesaikan
minum alkohol, Ayah pasien seorang
sebelum tidur, atau
bergadang, dsb. Sebutkan perokok aktif, merokok
bangun lebih awal.
keseringannya dan 1 bungkus per hari. Ayah pasien dianjurkan
banyaknya setiap kali dan untuk berhenti merokok.
jenis yang dikonsumsi

3.9 Data Sarana Pelayanan Kesehatan dan Lingkungan Keluarga


Tabel 3.7 Faktor pelayanan kesehatan

Faktor Keterangan Kesimpulan pembina


untuk faktor
pelayanan kesehatan
Pusat pelayanan Puskesmas dan praktek Keluarga rutin
kesehatan yang dokter swasta menggunakan fasilitas
digunakan oleh keluarga kesehatan sesuai dengan
kebutuhannya.
Cara mencapai pusat Menggunakan motor Keluarga bisa mencapai

33
pelayanan kesehatan tempat pelayanan
tersebut kesehatan tanpa ada
kendala kendaraan
Tarif pelayanan  Sangat mahal Pasien menggunakan
kesehatan tersebut  Mahal BPJS. Sebaiknya karena
 Terjangkau
dirasakan  Murah pasien telah memiliki
 Gratis BPJS, pasien dapat
memanfaatkan fasilitas
BPJS yang ada untuk
berobat.
Kualitas pelayanan  Sangat baik Baik
kesehatan tersebut  Baik
 Biasa
dirasakan  Tidak memuaskan
 Buruk

Tabel 3.8 Lingkungan tempat tinggal

Kepemilikan rumah : milik sendiri


Daerah perumahan : padat dan bersih
Karakteristik rumah dan lingkungan Kesimpulan pembina untuk
lingkungan tempat tinggal
Luas rumah : 8 x 16 m2 Cukup
Jumlah orang dalam satu rumah :7 orang Tidak terlalu ramai
Luas halaman rumah : 2 m2 Halaman rumah kurang luas.

Bertingkat
Lantai rumah : keramik
Dinding rumah : tembok
Penerangan didalam rumah Jendela kamar sering dibuka
Jendela: jumlah cukup
Listrik : ada
Ventilasi Kelembaban udara baik

34
Kelembapan rumah : tidak lembab
Bantuan ventilasi di dalam rumah : ada
Bila ada yaitu : kipas angin
Kebersihan dalam rumah Bersih
Tata letak barang dalam rumah Baik
Kamar mandi : ada Cukup bersih
Jamban : terpisah kamar mandi
Didalam rumah
Permanen
Saluran pembuangan dengan sumber air bersih
: dekat

3.10 Pengkajian Masalah Kesehatan


A. Masalah internal

1. Pasien menderita TB yang baru diketahui bulan Desember tahun 2017 dan rutin

berobat dan kontrol ke Puskesmas.

2. Pasien jarang menggunakan masker sehingga meningkatkan risiko penularan

kuman TB pada anggota keluarga yang lain.

3. Ayah pasien seorang perokok aktif di dalam rumah yang dapat menurunkan

fungsi pertahanan dalam saluran pernafasan anggota keluarga sehingga mudah

terserang penyakit.

4. Pasien tidak ada olahraga rutin.

5. Pasien seorang lulusan D3 yang sedang mencari pekerjaan tetap, hal ini

menambah beban pasien sehari-hari.

B. Masalah eksternal

35
1. Pasien merasa rendah diri setelah mengetahui menderita TB dan merasa malu

jika diketahui oleh teman-temannya sehingga pasien tidak mau memakai masker.

Hal ini meningkatkan risiko penularan kuman TB pada teman – temannya yang

lain.

3.11 Faktor-faktor yang berperan dalam penyelesaian masalah kesehatan


1. Faktor pendukung
- Pasien memiliki kartu BPJS.
- Akses ke pelayanan kesehatan terjangkau dan transportasi yang

dimiliki mendukung.
- Keluarga pasien mendukung penuh pasien untuk berobat rutin

karena pengobatan penyakitnya yang lama.


- Pasien memiliki ekonomi yang cukup baik untuk menyelesaikan

masalah kesehatannya.

2. Faktor penghambat
- Pengetahuan pasien dan keluarga mengenai penyakit, tatalaksana,

pencegahan, dan komplikasi mengenai TB masih kurang.


- Pengetahuan keluarga pasien masih kurang tentang pentingnya

berolahraga.

- Kebiasaan merokok pada Ayah pasien yang sulit sekali untuk

dirubah, walaupun telah memiliki pengetahuan bahaya merokok.

- Pasien kurang mau terbuka mengenai keluhan penyakitnya

3.12 Rencana pembinaan kesehatan


Melalui pendekatan komprehensif dan holistic
Preventif
 Jangan buang dahak sembarangan bila batuk, dahak sebaiknya langsung

dibuang ke lubang WC dan segera disiram.


 Menutup mulut ketika batuk atau bersin

36
 Meningkatkan daya tahan tubuh dengan diet seimbang dan olah raga

teratur 2-3x/ minggu selama 30 menit.


 Menggunakan alat-alat makan seperti sendok, garpu, dan gelas yang telah

dibersihkan untuk menghindari penularan dalam satu keluarga. Tidak

menggunakan peralatan yang telah digunakan penderita sebelum dicuci

bersih kembali.
 Menjaga sirkulasi udara tetap lancar serta menjaga pencahayaan rumah

tetap baik. Antara lain dengan membuka jendela supaya aliran udara lebih

lancar.
 Istirahat cukup dengan tidur sekurangnya 6 jam sehari.
 Menganjurkan kepada anggota keluarga yang lain untuk turut serta

memeriksakan diri untuk deteksi dini.


 Menjaga kesehatan dan kebersihan diri dengan menerapkan perilaku

bersih dan sehat (PHBS) seperti mencuci tangan dengan sabun,

menggunakan jamban sehat, berolahraga setiap hari, dan tidak merokok di

dalam rumah.
 Menggunakan masker setiap berkontak dengan anak-anak atau anggota

keluarga lain.
 Mengkonsumsi diet tinggi kalori tinggi protein setiap hari, serta

mengkonsumsi buah dan sayur yang beranekaragam.

Promotif :
 Mengedukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menunjuk seorang

yang dipercaya sebagai Pendamping Makan Obat (PMO), dan peranan

PMO dalam memastikan pasien meminum obatnya (menyukseskan

pengobatan pasien),dan mengingatkan pasien untuk kontrol rutin ke

37
puskesmas, dan mengingatkan jadwal periksa dahak pada waktu yang

ditentukan.
 Memberikan pengertian dan pengetahuan pada pasien maupun keluarga

mengenai penyakitnya bahwa penyakit ini merupakan penyakit menular

yang disebabkan oleh bakteri.


 Memberikan edukasi pada pasien bahwa penyakitnya menular melalui

droplet dahak sehingga pasien harus berhati-hati saat akan membuang

dahak atau batuk dan penggunaan masker.


 Mengedukasi pasien bahwa pengobatan yang dilakukan tidak boleh

terputus demi kesembuhan pasien.


 Mengedukasi pasien bahwa penting untuk melakukan evaluasi pengobatan

untuk memantau keberhasilan pengobatan.


 Mengedukasi pasien mengenai komplikasi yang mungkin terjadi jika

pasien tidak berobat seperti efusi pleura.


 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pentingnya kontrol secara

teratur, menambah obat TB dan minum obat secara teratur (pengobatan

yang rutin), serta menjelaskan dan mengedukasi kepada pasien jangka

waktu pengobatan yang lama 6 bulan) yang membutuhkan kesabaran

dalam berobat dan tetap meneruskan minum obat sampai 6 bulan

walaupun gejala sudah berkurang.


 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga (PMO) tentang efek samping

obat yang mungkin dapat timbul selama pengobatan.


 Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya tentang pentingnya

melakukan tes mantoux kepada anak-anak yang tinggal serumah dengan

pasien, dan memberikan INH profilaks bila tes mantoux nya (-).

38
 Menyarankan kepada keluarga yang tinggal serumah dengan pasien (untuk

dewasa), dan belum terinfeksi TB untuk menjaga daya tahan tubuh dengan

istirahat cukup, makan makanan bergizi, dan olahraga secara teratur.


 Menjelaskan kepada pasien pentingnya pemberantasan TB, sehingga jika

ada keluarga atau tetangga yang batuk > 2 minggu agar memeriksakan diri

ke dokter, Puskesmas atau Rumah Sakit.


 Menjelaskan kepada pasien untuk mengkonsumsi diet tinggi kalori tinggi

protein setiap hari, serta mengkonsumsi buah dan sayur yang

beranekaragam.
 Mengedukasi pasien mengenai etika batuk sehingga pasien tidak mem

buang dahak sembarangan bila dan menutup mulut ketika batuk atau

bersin.
Kuratif :
 OAT Kategori I 2KDT (1x3 tab) per oral
 Vitamin B kompleks (1 x 1tab) per oral

Rehabilitatif

 Kontrol teratur ke puskesmas dan rutin minum obat yang didapat dari

Puskesmas.
 Jika ada gejala seperti batuk darah segera kunjungi pusat pelayanan

kesehatan.
 Jika ada gejala efek samping obat seperti kulit dan selaput lendir

menguning, gangguan telinga, ataupun penglihatan, segera datang ke

puskesmas atau rumah sakit.

3.13 Mapping kegiatan


Tabel 3. 9 Jadwal kegiatan (disertai bukti foto/video pada saat home visit)

Turun Hari/Tanggal Kegiatan Intervensi

39
I Rabu/ - Kunjungan awal ke - Perkenalan Dokter Muda ke
04-04-2018
keluarga binaan bersama seluruh anggota keluarga
petugas puskesmas yang sedang berada di
- Perkenalan dengan
rumah.
keluarga - Menyampaikan maksud dan
tujuan dari keluarga binaan.

II Kamis / Identifikasi masalah yang - Edukasi serta memperbaiki


12-04-2018
terdapat pada keluarga paradigma pasien dan
binaan. keluarga mengenai penyakit
- Penerimaan pasien dan
TB (perjalanan penyakit,
keluarga terhadap
penyebab, gejala,
penyakit TB masih
pengobatan, pencegahan
kurang
penularan, dan komplikasi,
- Penggunaan masker yang
serta efek samping obat)
masih kurang
- Memberikan dukungan
- Kebiasaan Ayah
kepada pasien dan keluarga
merokok di rumah
- Kebiasaan jarang pasien bahwa penyakit ini
olahraga dapat disembuhkan jika
- Kebiasaan bergadang
berobat teratur dan pola
hampir setiap malam
hidup sehat.
- Susah makan jika tidak
- Edukasi penggunaan masker
diingatkan
saat batuk agar tidak
- Ibu terlalu berlebihan
menularkan kuman TB ke
menyikapi kondisi
anggota keluarga lainnya.
penyakit pasien
Serta diedukasi cara batuk
yang benar agar tidak
menularkan ke anggota
keluarga dan lingkungan
sekitarnya.
- Edukasi tentang pentingnya

40
berhenti merokok pada ayah
pasien serta menganjurkan
pentingnya periksa dahak
apabila terdapat gejala
batuk lama/berdarah.
- Edukasi pasien dan keluarga
mengenai pentingnya
berolahraga serta
menganjurkan pasien serta
keluarga untuk berolahraga
rutin 2-3 kali seminggu.
- Edukasi pasien bahwa
kebiasaan bergadang tidak
baik untuk kesehatan serta
imunitas pasien
- Edukasi mengenai pola
makan gizi seimbang serta
makan teratur
III Selasa / - Diskusi dengan keluarga - Memeriksa perkembangan
17-04-2018
pasien terkait masalah- penyakit pasien, meliputi
masalah-masalah yang keluhan sekarang, apakah
ditemukan terdapat efek samping obat
ataupun komplikasi
penyakitnya.
- Menjelaskan kepada pasien
untuk tetap rutin
mengkonsumsi obatnya.
- Menilai apakah intervensi
yang diberikan telah
dilaksanakan pasien dengan
benar. Didapatkan bahwa
pasien berobat teratur, mulai

41
memperbaiki pola
makannya, minum susu
setiap sebelum tidur, makan
sayur dan buah setuap hari,
namun kebiasaan bergadang
masih belum bisa diubah
serta masih jarang
berolahraga.
- Ayah pasien sudah tidak
merokok di dalam rumah
IV Rabu / - Follow up dari intervensi - Meyakinkan kembali
18-04-2018
yang diberikan, apakah kepada pasien tentang
telah sesuai dengan yang pentingnya istirahat cukup
diharapkan atau tidak. (tidak bergadang) serta
- Pamitan pada pasien dan
olahraga teratur sehingga
keluarga
pasien berupaya untuk
mengubah kebiasaan
tersebut.
- Menyarankan keluarga agar
tetap melakukan hal-hal
yang sudah disarankan
sebelumnya.
- Berpamitan dengan
keluarga binaan dan
mengucapkan terima kasih
atas kesediaan keluarga.

42
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Daftar masalah:

1. Pasien menderita TB yang baru diketahui bulan Desember tahun 2017.

2. Pasien jarang menggunakan masker.

3. Pasien dan keluarga tidak ada olahraga rutin.

4. Pasien merasa rendah diri apabila diketahui menderita TB oleh teman kerjanya

sehingga pasien tidak mau memakai masker kerika bekerja.

43
5. Pengetahuan pasien dan keluarga mengenai penyakit, tatalaksana,

pencegahan, dan komplikasi mengenai TB masih kurang.

6. Kebiasaan merokok pada ayah pasien masih ada.

7. Kebiasaan pasien bergadang hampir setiap malam

8. Kebiasaan pasien susah makan jika tidak diingatkan

Intervensi:

1. Memberikan OAT kepada pasien dan teratur kontrol ke Puskesmas.

2. Edukasi penggunaan masker saat batuk agar tidak menularkan kuman TB ke

anggota keluarga lainnya. Serta diedukasi cara batuk yang benar agar tidak

menularkan ke anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya.

3. Edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya berolahraga serta

menganjurkan pasien serta keluarga untuk berolahraga rutin 2-3 kali

seminggu.

4. Memberikan dukungan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa penyakit

ini dapat disembuhkan jika berobat teratur dan pola hidup sehat.

5. Edukasi serta memperbaiki paradigma pasien dan keluarga mengenai

penyakit TB (perjalanan penyakit, penyebab, gejala, pengobatan,

pencegahan penularan, dan komplikasi, serta efek samping obat).

6. Edukasi tentang pentingnya berhenti merokok pada ayah pasien serta

menganjurkan pentingnya periksa dahak apabila terdapat gejala batuk

lama/berdarah.

44
7. Edukasi pasien bahwa kebiasaan bergadang tidak baik untuk kesehatan serta

imunitas pasien

8. Edukasi mengenai pola makan gizi seimbang serta makan teratur

9. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang solusi dari masalah yang

telah teridentifikasi pada pertemuan sebelumnya

10. Melakukan tanya jawab mengenai solusi yang akan diberikan.

11. Meminta kesediaan keluarga untuk dapat melakukan solusi yang sudah

direncanakan.

4.2 Saran
1. Melakukan skrining TB terhadap keluarga pasien (riwayat kontak dengan

pasien).
2. Pihak puskesmas mengadakan penyuluhan berkala mengenai penyakit TB

paru karena masih banyak masyarakat yang belum tahu mengenai

penyakit TB paru.
3. Mengaktifkankader TB untukmenjadipengawasminumobat.
4. Melakukan homevisite pada pasien TB yang memiliki anak balita di

dalam rumah

45
DOKUMENTASI KELUARGA BINAAN
Foto 1. Kunjungan ke rumah pasien

46
47
48
49
50
Foto 2. Kondisi Rumah pasien

51
52
53
54
DAFTAR PUSTAKA

1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter

Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tungkat Pertama.


2. Modul PPM TB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia

(PAPDI). 2017. Perhimpunan Respirologi dan Penyakit Kritis Indonesia.


3. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Dunduh

dihttp://www.depkes.go.id/article/view/17070700004/program-indonesia-

sehat-dengan-pendekatan-keluarga.html. pada 09 Februari 2018.


4. CDC, 2011. The Difference Between Latent TB Infection and TB Disease. TB

Elimination.
5. Hasan H, 2010. Tuberkulosis Paru. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru

2010.Surabaya: Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair – RSUD Dr.Soetomo.


6. Kementrian Kesehatan RI, 2013. Riset Kesehatan Dasar.
7. Kementrian Kesehatan RI, 2013. Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak
8. Kementrian Kesehatan RI, 2013. Tata Laksana Tuberkulosis. Pedoman Nasional

Pelayanan Kedokteran.
9. Kementrian Kesehatan RI, 2011. Strategi Nsasional Pengendalian TB Di Indonesia

2010- 2014.
10. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan

Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter ParuIndonesia.


11. TB CARE I, 2014. International Standards for Tuberculosis Care, 3rd Edition.

55

Anda mungkin juga menyukai