Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Pelanggaran Kontrak Karya oleh PT Newmont Nusa Tenggara


( HUKUM DAGANG )

Oleh : Ririn Nisfuanna ( 068 )


Maya Mardiana ( 069 )
Burhan Habibi ( 071 )
Rafica ( 073 )
Novan Aris ( 076 )

Kelas : Hukum – B

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIDIYAH MALANG
2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
PT Newmont Nusa Tengggara (PT NNT) sebagai perusahaan yang bergerak di
bidang pertambangan pun mempunyai kewajiban dalam melakukan tanggung jawab sosial
dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam pasal 74 ayat 1 UU No 40 tahun 2007.
Program CSR tersebut diimplementasikan dalam kegiatan community development yang
bergerak di berbagai bidang mulai dari pendidikan, kesehatan, usaha ekonomi masyarakat,
pertanian, kelautan dan pariwisata serta sosial budaya dan agama. Dalam tataran konsep,
pelaksanaan community development PT NNT diharapkan dapat selalu berlandaskan
delapan prinsip dasar yakni kesejahteraan, kemandirian, keterpaduan, keberlanjutan,
keterbukaan, partisipatif, akuntabilitas dan keadilan sehingga visi dari community
development yakni "Masyarakat yang sehat, cerdas, mandiri, sejahtera dan religius" dapat
diwujudkan. Melihat visi, misi dan prinsip dasar yang melandasi pelaksanaan program CSR
PT NNT bagi saya pribadi memunculkan ekspektasi yang luar biasa besar terutama
mengenai kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Sumbawa Barat atau minimal pada
masyarakat yang berada di area lingkar tambang. Namun pada tataran praktis, segala hal
yang disusun sedemikian rapi dalam rencana strategis terlihat sedikit kurang memuaskan
(jika tidak mau dikatakan buruk).

Dari hasil perbincangan dengan masyarakat di sekitar area lingkar tambang (terlepas
dari apapun motif mereka menyampaikan ini) diperoleh informasi bahwa CSR yang
dilakukan oleh PT NNT masih berada dalam tataran charity dan karikatif, pembangunan
infrastruktur banyak namun tidak ada pendampingan dan keberlanjutan, masih terkesan
"menggugurkan kewajiban untuk melaksanakan CSR", belum diimplementasikan dalam
program yang terencana, sesuai kebutuhan masyarakat dan berkelanjutan. Masyarakatpun
berteriak "Pernahkah Newmont berpikiran untuk membiayai sekolah anak-anak cerdas di
lingkar tambang mulai dari SD hingga perguruan tinggi? Pernahkan Newmont berpikir untuk
memberikan penyuluhan mengenai usaha kecil yang menguntungkan kemudian memberi
modal dan melakukan pendampingan sampai masyarakat mandiri?" Jeritan masyarakat yang
tidak bisa diabaikan begitu saja melainkan harus dijadikan bahan evaluasi, saran dalam
penyusunan program sehingga ke depannya lebih tepat sasaran, tepat waktu dan tepat guna.
Dari penglihatan saya sendiri masih menyaksikan kondisi masyarakat yang begitu senjang
dengan kehidupan karyawan di dalam townsite (kompleks tempat tinggal karyawan di daerah
bukaan tambang) mulai dari kondisi rumah, penampilan dan yang utama adalah dari segi
kemandirian. Yang mengkhawatirkan adalah pekerjaan mereka sebagai penambang liar
rumahan, tidak menghasilkan in come sedemikian banyak namun bisa jadi mencemari
lingkungan karena menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya tanpa prosedur.

B. Rumusan Masalah

1. Divestasi PT Newmont
2. Ketentuan Kontrak Karya
3. Penyelesaian Sengketa PT Newmont
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DIVESTASI PT NEWMONT

Istilah divestasi berasal dari terjemahan bahasa Inggris, yaitu divestment.


Pengertian divestasi ditemukan dalam Pasal 1 Angka 13 Peraturan Pemerintah Nomor
1 Tahun 2008 Tentang Investasi Pemerintah dan Pasal 1 Angka 1 Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 183/PM.05/2008 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Divestasi
terhadap Investasi Pemerintah. Divestasi adalah: “Penjualan surat berharga dan/atau
kepemilikan pemerintah baik sebagian atau keseluruhan kepada pihak lain.”
Dalam definisi ini, divestasi dikonstruksikan sebagai jual-beli. Subjeknya adalah
pemerintah dengan pihak lainnya. Pihak lainnya berupa orang atau badan hukum. Hal
yang menjadi objek jual-belinya, yaitu surat berharga dan aset pemerintah.
Pada dasarnya divestasi bukanlah terminologi hukum melainkan terminologi ekonomi
yang menyebutkan bahwa divestasi (divestment) adalah penyertaan/pelepasan sebuah
investasi, seperti saham oleh pemilik saham lama, tindakan penarikan kembali
peneyrtaan modal yang dilakukan perusahaan model ventura dari perusahaan
pasangan usahanya, divestasi model ventura dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Definisi lain tentang divestasi dikemukakan oleh Sally Wehmeir, yaitu:


“The act ot selling the shares you have bought in company or taking money away ave
invested.”
(Divestasi merupakan ketentuan yang mengatur tentang penjualan saham yang
dimiliki oleh perusahaan atau cara mendapatkan uang dari investasi yang dimiliki
oleh seseorang).
Ahli lain yang menganalisis tentang pengertian divestasi adalah Miriam Flickinger.
Divestasi didefinisikan
“As a firm’s decision to dispose of a significant portion of its ases, can increase the
strength of a firm by changing its ase structure and its resource allocation patterns.
Dalam definisi ini, divestasi dikonstruksikan sebagai keputusan perusahaan untuk
meningkatkan nilai penting aset yang dimiliki perusahaan. Tujuannya dapat
meningkatkan kekuatan perusahaan dalam mengubah struktur aset dan pengalokasian
sumber daya.
Dipandang dari teori organisasi industrial, insentif perusahaan multinasional
melakukan divestasi (exit) adalah karena laba rendah, rugi yang disebabkan oleh
biaya tinggi, menurunnya permintaan secara permanen, atau masuknya pemain baru
yang agresif. Sebaliknya, asset specifity, misalnya investasi raksasa yang tidak mudah
dipindahkan karena lokasi pertambangan yang terpencil, menjadi disinsentif untuk
divestasi. Sedangkan menurut Perspektif daur hidup produk memandang divestasi
sebagai salah satu pilihan strategis untuk keluar dari industri yang menurun sehingga
Divestasi diartikan sebagai salah satu jalan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Pada dasarnya, divestasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah semata-mata,
tetapi juga oleh badan hukum, terutama badan hukum asing yang menanamkan
investasinya di bidang pertambangan. Biasanya modal yang dimiliki oleh badan
hukum asing terdiri dari 80% (delapan puluh persen) modal asing dan 20% (dua puluh
persen) modal domestik.
Divestasi saham adalah pelepasan, pembebasan dan pengurangan modal. Disebut juga
divestment yaitu kebijakan terhadap perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki oleh
investor asing untuk secara bertahap tapi pasti mengalihkan saham-sahamnya itu
kepada mitra bisnis lokal atau proses yang mengakibatkan pengalihan saham dari
peserta asing kepada peserta nasional. Istilah lain untuk kebijakan yang di Indonesia
disebut Indonesiasi saham. Dapat pula berarti tindakan perusahaan memecah
konsentrasi atau penumpukan modal sahamnya sebagai akibat dari larangan
monopoli.

Sengketa divestasi saham PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) diantisipasi


cepat oleh 3 Pemerintah Daerah (Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten
Sumbawa Barat, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa) dengan membentuk PT.
Daerah Maju Bersaing (PTDMB) dengan rencana untuk bisa mengakuisisi saham
divestasi tersebut pada bulan Mei 2009.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTB pada saat itu, Heriadi Rahmat
menyatakan PTDMB yang akan mengelola 10% saham divestasi PT. Newmont Nusa
Tenggara (PTNNT) dimana empat persennya dimiliki Provinsi NTB, empat persen
dimiliki Kabupaten Sumbawa Barat dan dua persen lagi menjadi milik Kabupaten
Sumbawa. Hasil keputusan abitrase menyebutkan 3% saham Newmont pada tahun
2006 dan 7% saham Newmon pada tahun 2007 menjadi milik Pemerintah Daerah
senilai US$ 282 juta.

Juli 2009 : Manajemen PT Daerah Maju Bersaing (DMB) dan mitranya PT Multi
Capital milik Grup Bakrie menyepakati pembentukan perusahaan bersama bernama
PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Penandatanganan kesepakatan kerjasama tersebut
dilakukan pukul 13.10 WITA, Kamis, 23 Juli 2009 di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Multi Capital bersedia mendanai pembelian 10% saham PT Newmont Nusa Tenggara
(NNT) jatah konsorsium Pemerintah Daerah. Sementara pihak DMB yang menjadi
BUMD bentukan Pemerintah Daerah bersedia untuk membagi hasil dividen atas
sahamnya di NNT dengan porsi 75% untuk Multi Capital sedangkan 25% sisanya
untuk DMB.

Kalau melihat komposisi kepemilikan saham PTMDB ini tentunya Pemerintah


Daerah sangat dirugikan karena hanya bisa menjadi pemegang saham minoritas
padahal seharusnya bisa memiliki posisi yang lebih kuat untuk bisa menjadi
mayoritas. Karena kekuatan pendanaan jugalah yang menyebabkan Pemerintah
Daerah pada akhirnya tidak berdaya dan menerima saja atas kondisi ini dengan
harapan bisa menerima sejumlah saham sesuai proporsi kepemilikannya pada
PTMDB tanpa perlu mengeluarkan dana untuk mengakuisisi karena pendanaan akan
di support secara penuh oleh grup Bakrie.

Pendanaan atas akuisisi 24% saham divestasi PTNNT tersebut PTMDB melakukan
perjanjian hutang dengan induknya PTMC yaitu PT. Bumi Resources (PTBR) sebesar
US$.850 juta (¬Rp.7,650 triliun). Sebagian hutang ini yaitu sebesar US$.300 juta
(Rp.2,7 triliun) telah dilunasi dengan pendanaan dari Credit Suisee yang kemungkinan
besar dengan menjaminkan saham PTNNT yang dimilikinya kepada Credit Suisee.

Sedangkan sisanya sebesar US$.550 juta (Rp. 4,959 triliun) pihak PTMDB
menerbitkan ‘Mandatory Conversion Notes’ (MCN). MCN adalah surat hutang yang
bisa dikonversikan ke dalam saham sesuai‘term and conditions’ -nya. Sehingga
komposisi hutang PTMDB menjadi sebesar ¬US$.300 juta kepada Credit Suisee dan
sebesar US$.550 juta berupa MCN. Jadi konsorsium Pemerintah Daerah melalui
PTMDB yang mendapatkan 24% saham PTNNT melalui pembiayaan hutang kepada
PTBR yang notabene adalah induk dari PTMC.

April 2011, Walaupun harus mendapatkan ijin dari DPR RI, pemerintah
berniat membeli saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) sebesar tujuh persen
melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP). Namun, Pemerintah Daerah tetap meminta
jatah itu dan memicu beberapa aksi demo di Nusa Tenggara Barat (NTB). Menteri
Keuangan (Menkeu), Agus Martowardojo saat itu menjelaskan mengenai tuntutan
daerah yang menginginkan jatah tujuh persen saham Newmont yang ingin dibeli
pemerintah tersebut. Menkeu mengungkapkan, pemerintah pusat akan menyampaikan
kepada Pemda NTB bahwa pemda telah memiliki 24 persen, sedangkan pemerintah
pusat hanya tujuh persen.

2.2 KETENTUAN KONTRAK KARYA

Kontrak karya merupakan kontrak yang dikenal di dalam pertambangan


umum. Istilah kontrak karya merupakan terjemahan bahasa inggris yaitu work of contract.
Ismail Suny mengartiak kontrak korya sebagai kerja sama modal asing dalam bentuk kontrak
karya (contract of work) terjadi apabila penanaman modal asing membenttuk satu badan
hukum hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan kerjasama dengan satu badan
hukum yang mempergunakan modal nasional.

HS Salim mendifinisikan kontrak karya adalah suattu perjankain yang dibuat anatar
Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau merupakan patungan
antara badan hukum asing dengan badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan
eksplorasi maupun eksploitasi dalam bidang ppertambangan umum, sesuai dengan jangka
waktu yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Dari rumusan kontrak karya yang disebutkan SH. Salim dapat dikemukakan unsur-unsur
yang melekat dalam kontrak karya yaitu:

1. Adanya kontraktual yaitu perjanjian yang dibuat oleh para pihak.


2. Adanya subyek hukum yaitu Pemerintah Indonesia/pemerintah daerah
(provinsi/kabupaten/kota) dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau gabunagn antara
pihak asing dan pihak Indonesia.

3. Adanya abyek yaitu eksploitasi dan eksplorasi.

4. Dalam bidang pertambangan umum; dan

5. Adanya jangka waktu di dalam kontrak.

Kontrak Karya dapat dikategorikan sebagai perjanjian innomirat, yaitu perjanjian yang
pengaturannya tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPER), Karena
Kontrak Karya adalah perjanjian yang bersifat khusus sehingga ketentuannya hanya secara
umum bermuara pada pasal 1338 BW (asas kebebasan berkontrak).

Sekalipun demikian, perjanjian Kontrak Karya tetap tunduk pada ketentuan perikatan
sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPER. Kontrak Karya adalah perjanjian yang
bersifat dinamis dimana terdapat butir-butir yang dapat direnegosiasi antara lain: luas
wilayah, tenaga kerja, royalti, masa kontrak, pajak, pengembangan wilayah usaha setempat,
divestasi, serta kepemilikan saham.

Sistem kontrak karya dalam dunia pertambangan Indonesia telah dikenal sejak masa
penjajahan Hindia belanda, khususnya ketika mineral dan logam mulai menjadi komuditas
yang menggiusrkan. Melalui Indische Mijnwet 1899 (Wet Pertambangan), Hindia Belanda
mendekralasikan penguasaan mereka atas mineral dan logam di perut bumi nusantara yang
pengaturannya terus diperbaiki pada tahun 1910, 1918 dan dilengkapi Mijnordonnantie
(Ordonansi Pertambangan) pada tahun 1910.

Pada awal kemerdekaan indonesia hingga akhir kekuasaan Orde Lama , sistem kontrak
pertambangan tidak berkembang, bahkan kebijakan Soekarno menasionalisasi modal asing
sehingga membatalkan semua kontrak pertambangan yang perbah ada.

Konrak karya dalam bidang pertambangan umum mengalami perkembangan yang cukup
signifikan pada masa kepemimpinan Soeharto dengan diundangkannya Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang No 11 tahun
1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.
Bahkan dalam Pasal 8 Undang-Undang No 11 Tahun 1967 menyatakan dengan tegas bahwa
penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan atas suatu kerjasama dengan
pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peeraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Hal ini dimaksudkan juga agar dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya di
Indonesia.

Selain itu, dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Bab IV
tentang Bentuk Badan Usaha dan Kedudukan pada Pasal 5 ayat 2 berbunyi:

“Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasar hukum Indonesia
dan berkedudukan didalam wilayah negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh
undang-undang.”

Sedangkan, dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Bab
IV tentang Bentuk Badan Usaha dan Kedudukan pada Pasal 5 ayat 3 berbunyi:

Penanaman modal dalam negeri dan asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk
perseroan terbatas dilakukan dengan :

a. mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas;

b. membeli saham; dan

c. melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

2.3 PENYELESAIAN SENGKETA Newmont

Fakta Hukum

• Divestasi direncanakan bertahap dan dilakukan selama 5 tahun, yang semestinya jatuh
pada tahun 2006-2010. Singkat kata divestasi Newmont gagal dilakukan pada masa awal
periode tersebut

• Perselisihan terjadi setelah Pemerintah RI menjatuhkan status default (lalai) kepada


Newmont, 11 Februari 2008, karena tidak kunjung menjual 3% sahamnya untuk periode 2006
dan 7% saham periode 2007.
Dalam sengketa tersebut Pemerintah Indonesia mengajukan dua tuntutan, yaitu meminta
panel arbitrase agar memutuskan bahwa pemerintah bisa melakukan terminasi kontrak karya
Newmont dengan alasan karena perusahaan melakukan kelalaian alias default.

apabila terjadi Wanprestasi maka pihak yang melakukan wanprestasi dapat dikenakan sanksi
berupa :

1. Penggantian biaya, rugi, dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan pasal 1243
BW

2. Pembatalan perjanjian pasal 1266 BW

3. Berdasar pada pasal tersebut disyaratkan bahwa apabila salah satu pihak wanprestasi
maka pihak yang dirugikan dapat menempuh jalur hukum dengan meminta pembatalan
kepada hakim.

4. Pengalihan resiko pasal 1237 BW dalam sengketa ini PT Newmont Nusa Tenggara
harus mengganti biaya-biaya yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah untuk kepentingan
arbitrase dan harus dibayar dalam tempo 30 hari sesudah tanggal putusan arbitrase.
Perusahaan tambang yang berkantor pusat di Denver, Colorado itu wajib membayar biaya
yang telah dikeluarkan pemerintah untuk proses arbitrase sebesar AS$ 1,8 juta.

Perselisihan terjadi setelah Pemerintah RI menjatuhkan status default (lalai) kepada


Newmont, 11 Februari 2008, karena tidak kunjung menjual 3% sahamnya untuk periode 2006
dan 7% saham periode 2007. . Pemerintah Indonesia mempermasalahkan kelalaian PT
Newmont yang gagal melaksanakan kewajiban divestasi dan menyatakan bahwa dapat
diakhirinya kontrak karya.

Sesuai Kontrak Karya tahun 1986 yang ditandatangani Pemerintah RI dan PT. NNT, ada
kesepakatan untuk mendivestasikan mayoritas saham Newmont kepada bangsa Indonesia
(dalam kontrak disebut sebagai Indonesian Participant) setelah 5 tahun masa operasi
tambang. Divestasi direncanakan bertahap dan dilakukan selama 5 tahun, yang semestinya
jatuh pada tahun 2006-2010. Singkat kata divestasi Newmont gagal dilakukan pada masa
awal periode tersebut. Maka akhirnya Pemerintah menggugat Newmont ke arbitrase
internasional pada 3 Maret 2008 dan Di hari yang sama, Newmont juga mengajukan gugatan
atas pemerintah. Pada 11 Juli 2008
1.Ada kontrak karya pertambangan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT
Newmont Nusa Tenggara.

2. Mereka menyepakati klausula kontrak yang ada, hal itu dibuktikan dengan
penandatanganan persetujuan pelaksanaan kontrak oleh para pihak

3. Newmont telah melakukan eksplorasi di lokasi yang menjadi salah satu obyek
perjanjian;

4. Newmont tidak melaksanakan kewajiban yang telah disepakati bersama untuk


mendivestasikan sahamnya sesuai besaran yang telah diperjanjikan;

5. Dalam jangka waktu tertentu Newmont tidak ada iktikad baik untuk melaksanakan
kewajibannya.

Berdasarkan hal tersebut, secara terang menunjukan bahwa kesalahan berada pada pihak
Newmont NNT, sebab terdapat point dalam klausula perjanjian yang menyebutkan bahwa
Newmont berkewajiban mendivestasikan saham pertambangan dan itu tidak dilaksanakan
oleh Newmont. Sehingga secara hukum Newmont dianggap telah melakukan breanch of
contract (pelanggaran terhadap kontrak).

Menurut undang – undang no 25 tahun 2007 tentang penanaman modal

Pasal 32

(1) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan
penanam modal, para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa tersebut melalui
musyawarah dan mufakat.

(2) Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai,
penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternative
penyelesaian sengketa atau pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

(3) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan
penanam modal dalam negeri, para pihak dapat menyelesaikan sengketa tersebut melalui
arbitrase berdasarkan kesepakatan para pihak, dan jika penyelesaian sengketa melalui
arbitrase tidak disepakati, penyelesaian sengketa tersebut akan dilakukan di pengadilan.

(4) Dalam hal terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara Pemerintah dengan
penanam modal asing, para pihak akan menyelesaikan sengketa tersebut melalui arbitrase
internasional yang harus disepakati oleh para pihak.
LAMPIRAN.

HASIL PRESENTASI

Pertanyaan Audiens : upaya hukum yang ditempuh pemerintah apakah melalui gugatan atau
menyelesaikan melalui arbitrase– harus bertitik tolak pada kontrak
karya ?

Jawaban Presentator: apabila dalam kontrak karya disebutkan penyelesaian sengketa


melalui arbitrase meliputi semua sengketa (any disputes), termasuk
soal ganti rugi, maka gugatan KLH ini memang harus dibawa ke
UNCITRAL.
Namun, apabila di dalam kontrak karya hanya disebutkan jenis
sengketa tertentu maka menurutnya penyelesaian melalui arbitrase
hanya terbatas persengketaan yang berkaitan dengan investasi
semata.
Berdasarkan penelusuran hukumonline, Pasal 30 UU No.23/1997
mengatur tentang penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar
pengadilan. Upaya penyelesaian sengketa diluar pengadilan dapat
ditempuh untuk mencapai kesepakatan mengenai ganti rugi. Namun,
penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan tidak
berlaku pada tindak pidana lingkungan hidup.

Pertanyaan Audiens : Siapa Diuntungkan Divestasi Saham Asing Pertambangan?

Jawaban Presentator : PT Newmont Nusa Tenggara dengan lebih dulu mengajukan gugatan
penyelesaian divestasi melalui jalur arbitrase, Senin (3/3). Untuk
pertama kalinya dalam sejarah pengelolaan pertambangan
Indonesia, pemerintah menggugat perusahaan pertambangan asing.
Ketegangan antara pemerintah dan PT Newmont Nusa Tenggara
(NNT) memuncak dengan keluarnya surat lalai oleh Direktorat
Jenderal Mineral Batu Bara dan Panas Bumi pada 11 Februari 2008.
Surat itu membuat perwakilan pemegang saham asing NNT di
Tokyo, konsorsium yang dipimpin oleh Sumitomo corporation,
ataupun Denver, bergantian terbang dari markas mereka ke Jakarta.
NNT mengoperasikan pertambangan emas dan tembaga Batu Hijau
di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB. Kontrak karya PT NNT
diteken tahun 1986. Dengan demikian, kewajiban divestasi saham
asing mulai muncul tahun 2006 hingga akhir 2010. Dengan
perhitungan 20 persen saham sudah dimiliki oleh swasta nasional
Indonesia, sisa saham yang harus didivestasikan sebesar 31 persen.
Kisruh divestasi ini mengulangi kekacauan divestasi saham PT
Kaltim Prima Coal (KPC) enam tahun lalu. Dalam kasus NNT
ataupun KPC, pemerintah pusat tidak berminat membeli saham yang
didivestasikan.
Sesuai dengan pasal 24 ayat 2 kontrak karya, jika pemerintah tidak
menerima penawaran saham, kesempatan berikutnya jatuh pada
warga negara Indonesia atau perusahaan Indonesia yang
dikendalikan warga negara Indonesia. Namun, dengan berlakunya
otonomi daerah, tidak hanya pemerintah pusat yang berhak membeli
saham asing perusahaan tambang, pemerintah daerah (pemda) pun
memiliki kesempatan yang sama.